THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 33 : Keraguan dan Keputusan


__ADS_3

"Sekarang kau bisa mengatakannya, Nona." Penasihat Ugo mempersilahkan kepada pihak rombongan makhluk bayangan untuk menyampaikan proposal mereka. Selain itu Ugo juga menyelipkan pesan bahwa waktu yang dimiliki mereka tidaklah banyak, jadi dimohon untuk menyampaikannya langsung kepada intinya saja.


"Yang Mulia, dengan ini Tuanku mengirimkan proposal untuk menggabungkan wilayah Kerajaan Baratajaya di bawah kekuasaan Kekaisaran Menara Kembar. Untuk melihat lebih lanjut bentuk perjanjiannya bisa dilihat di lembar yang aku berikan ini." Lily mengeluarkan sulur panjang dari dalam lengan jubahnya, kemudian mengantarkan lembar perkamen tersebut ke arah sang raja.


Pada awalnya, baik itu sang raja maupun Penasihat Ugo, marah begitu mendengar perkataan yang dilontarkan Lily. Namun, setelah beberapa waktu berlalu dan keduanya selesai membaca isi perjanjiannya, sang raja menghela napas kasar lalu memasang ekspresi rumit di wajah. Seolah-olah beban berat tiba-tiba saja muncul di dalam pikirannya. Di satu sisi dia tidak bisa mengingkari kalau tawaran itu sangatlah menguntungkan bagi keberlangsungan hidup Kerajaan Baratajaya, mengingat bahaya besar yang ada di depan, mereka bahkan tidak yakin akan bisa selamat jika tanpa bantuan dari Lily dan kawan-kawannya. Namun, di sisi yang lain, sang raja masih belum rela Kerajaan Baratajaya yang mana sudah berdiri ribuan tahun ini harus jatuh ke tangan seorang kaisar dari timur yang bahkan belum pernah dia temui langsung. Meskipun kini rombongan Lily di matanya adalah para penyelamat dan dapat dipercaya, sang raja masih memiliki kekhawatiran kecil pada seperti apa karakter tuan mereka.


Tidak ada yang bisa sang raja katakan saat ini, dia terus merenung dan menatap kosong di kehampaan. Berada di sampingnya, Ugo yang melihat gelagat sang raja pun langsung peka dan mencoba memberikan tanggapan untuk mewakili sang raja.


"Nona Lily, Yang Mulia membutuhkan waktu untuk mempertimbangkan proposal—"

__ADS_1


"Aku menyetujuinya."


"Yang Mulia?"


Ugo jatuh dalam keadaan linglung. Dia bertanya-tanya, apakah sang raja benar-benar mengerti dengan baik isi dari proposal kerja samanya?


Proses pengesahan dari perjanjian di antara kedua belah pihak berjalan dengan cungkup singkat. Seperti biasanya, sang raja menggunakan stempel emas kerajaan dan mengecapnya di atas lembar proposal tersebut. Berakhirlah pembicaraan di antara kedua kubu, Lily dan kawan-kawannya tidak ingin berlama-lama langsung pamit undur diri dari tempat itu. Lagipula sudah saatnya mereka bergerak dan mengambil tindakan. Waktu mereka tidaklah banyak, mereka perlu sesegera mungkin mempersiapkan langkah berikutnya, sesuai dengan rencana awal.


"Berakhir dengan menerima tawaran dari pihak kaisar itu, bukankah kali ini Yang Mulia terlalu terburu-buru? Setidaknya kita perlu untuk mencoba memberikan perlawanan terlebih dahulu, aku percaya kerajaan kita bukanlah sesuatu yang mudah untuk ditindas," kata Ugo.

__ADS_1


"Masih belum terlambat, jika Yang Mulia menginginkanku untuk menemui Nona Lily dan membatalkannya."


"Aku mengerti kamu mengkhawatirkan masa depanku dan anggota keluarga kerajaan lainnya. Namun, seharusnya kamu lebih mengerti situasi saat ini dibandingkan aku, Ugo. Sebelumnya, mengenai bahaya invasi dari Kekaisaran Binatang Buas, aku masih berpikir untuk bisa menanganinya, tapi bagaimana dengan sekarang? Yang kita bicarakan ancaman dari kekuatan Kuil Suci. Mereka berada di luar jangkauan kekuatan kerajaan kita, sangat jauh di atas. Di masa lalu, kekuatan mereka bahkan melebihi gabungan dari tiga sampai lima kerajaan seperti kita. Jika informasi mengenai benua barat yang menjadi target perluasan orang-orang dari kuil suci itu benar adanya, menurutmu seberapa mengerikannya kekuatan mereka di masa yang akan datang?"


"Aku tidak ingin sejarah yang sudah lama dibangun, runtuh hanya karena keserakahanku. Dan lagi, aku tidak ingin menjadi raja terakhir sekaligus raja yang tercatat sebagai yang terburuk karena tidak bisa menyelamatkan nyawa banyak rakyatnya." Sang raja tersenyum dengan wajah penuh ketidakberdayaan.


"Tapi, Yang Mulia, kita masih bisa memikirkan cara yang lain...."


"Keputusanku sudah bulat, Ugo. Kali ini aku ingin kau menghormati keputusanku, bukan sebagai teman, tapi seorang raja."

__ADS_1


__ADS_2