
Malam itu, tepatnya di atas sebuah pijakan padang rumput yang luas, beberapa orang nampak berbaris dalam keadaan sejajar. Mereka memandang jauh ke depan, di mana sebuah benteng bobrok terlihat sedikit bercahaya di tengah kegelapan. Satu di antara dari mereka yang memiliki kemampuan visi yang jauh lebih baik bahkan dapat melihat jelas bagaimana kondisi saat ini di dalam tempat tersebut.
"Bagaimana, apa kau melihat segala sesuatunya dengan sangat jelas?" Seorang wanita dengan wajah sedingin salju segera bertanya kepada pria itu. Mendengar dari nada bicaranya, sebenarnya wanita itu nampak tidak begitu peduli dengan jawaban pria itu nantinya.
"Ada apa denganmu, mengapa tidak menjawab? Apa kamu bisu?"
"Ee..." Pria berjaket lembut itu mengangguk seraya menyunggingkan senyumannya. Dia baru saja berdecak kagum. Matanya masih fokus menyoroti dua sosok dengan kepala menyerupai buaya yang tengah asik berbincang di atas dinding pertahanan benteng tersebut.
Momen ini adalah kali pertamanya pria itu melihat langsung binatang yang bisa bertingkah seperti makhluk berakal yang memiliki kecerdasan, oleh karenanya dia begitu antusias dan bersemangat mendapatkan pengalaman berharga ini. Terlebih, bagi keberadaan sepertinya yang dianugerahi kekuatan menyerupai binatang, khusunya kemampuan pengelihatan yang dia miliki itu persis seperti visi burung hantu. Kedekatannya dengan para binatang bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Dia merasakan lonjakan ketertarikan yang begitu besar dari dalam tubuhnya.
"Kau terlalu banyak membuang-buang waktu, Miguel! Ingatlah tujuan kita datang ke sini bukan semata-mata untuk bermain-main! Cepat jelaskan bagaimana keadaan di sana!"
Becky yang mana memiliki tempramen buruk menghela napas kesal begitu menyadari bahwa rekan satu timnya ini malah asik sendiri dalam dunianya, mengamati para penghuni yang mendiami benteng bobrok tersebut.
__ADS_1
"Tenanglah, ini tidak seperti mereka akan kabur karena kita datang terlambat," kata Violet, mencoba menengahi keduanya. Dalam hati dia sebenarnya berkomentar tentang sikap Becky yang mendesak Miguel, siapapun juga tahu kalau Becky hanya tidak sabaran saja ingin cepat-cepat menghabisi para binatang itu. Becky hanyalah maniak pertempuran.
"Ah ya, maaf!"
Miguel buru-buru memperbaiki posisi berdirinya, terlihat sikapnya agak sedikit kikuk di hadapan Becky. Yah, bagaimanapun jarak di antara keduanya sangatlah jauh. Terlepas dari kesenjangan tingkat kekuatan, dan meskipun saat ini mereka berada di pihak yang sama, melayani tuan yang sama, tapi masih ada batasan yang membuat Miguel harus menghormati Becky bak junior dan senior. Tidak hanya Becky sebenarnya, tapi dia juga menganggap makhluk bayangan lain yang sudah lama mengabdi pada Mavis seperti Samantha, Becca, Scott, dan Violet, dengan cara yang sama.
"Melihat bagaimana struktur banyak bangunan di sana yang sudah lama hancur dan kini digantikan banyak tenda, aku sangat yakin kalau benteng itu sudah lama dipakai oleh para ... emm.. tunggu, bagaimana seharusnya aku memanggil mereka?"
"Cukup panggil mereka binatang buas, tak ada bedanya! Meskipun mereka memiliki kecerdasan dibandingkan binatang biasa, tapi itu tidak terlalu layak," kata Becky dengan nada tidak sabaran.
"Sudah aku bilang, bukan? Waktu yang kita habiskan hanya untuk mengamati barusan menjadi sia-sia. Ayolah, kalian terlalu berhati-hati, mereka itu cuman binatang yang hanya tau caranya menggertak, apa yang perlu ditakutkan? Akan lebih cepat untuk langsung menghampiri mereka dan membunuh!"
Tidak sampai hitungan tiga jari, Becky melesat lebih dulu meninggalkan yang lainnya. Langsung berlari menuju benteng kecil yang terlihat kumuh dan relatif tidak lagi layak dihuni itu.
__ADS_1
Para makhluk bayangan pun saling menatap satu sama lain, kemudian mengangguk, lalu memutuskan untuk pergi menyusul Becky dari belakang. Becca di satu sisi membatin dalam hati, saudarinya itu benar-benar tahu cara membuat kepalanya pusing. Padahal, tuan mereka sudah berpesan untuk tidak bertindak gegabah dan tetap tenang dalam situasi apapun itu. Namun, mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi sifat alami bagi makhluk seperti Becky, tidak ada bedanya dengan Bintang, mereka sangat tidak sabaran dan masih bertingkah kekanakan.
Ketika langit penuh gemerlap yang indah, salah satu buaya yang saat ini tengah menikmati suasana sembari berjaga di atas dinding benteng tiba-tiba saja melebarkan kedua matanya lalu mengerutkan kening. Pasalnya, baru saja sebuah cahaya samar tiba-tiba saja tertangkap di pengelihatannya. Cahaya kecil itu makin lama semakin nampak seakan melesat jauh dari arah luar benteng dan tepat menuju ke arahnya dengan kecepatan tinggi. Makhluk buas itu pun tidak berani bertindak ceroboh, dia menyadari sesuatu hal telah salah dan langsung membunyikan sebuah terompet yang dibawanya, bermaksud memberikan sinyal peringatan kepada semua kawannya tentang bahaya yang akan datang.
Benar saja, para makhluk binatang buas yang banyak didominasi buaya itu serentak keluar dari tenda pemukiman mereka masing-masing dan mulai bergegas untuk menyiapkan semua perlengkapan tempur.
Hal yang berbeda terjadi di sebuah tenda paling besar yang berada di jalur utama. Tenda itu berukuran hampir tiga kalinya dari tenda biasa yang digunakan sekelompok tentara biasa. Di dalam tenda itu, tengah terbaring seekor serigala dengan bulu berwarna silver, ditemani dengan dua wanita ular yang memiliki paras cukup cantik dan pesona yang memikat.
Serigala itu nampaknya agak sedikit mabuk. Hal ini terbukti saat salah satu prajurit buaya yang datang untuk melapor kepadanya, malah mendapatkan amukan dari serigala itu. Saat mendengar bahwa ada serangan yang datang dari luar, serigala itu langsung saja melemparkan gelas minuman ke arah prajurit buaya tersebut. Dia merasa bahwa buaya bodoh itu telah membual dan berpikir bahwa dia hanya ingin menggangu malamnya bersama kedua wanita ular itu.
Berulang kali buaya itu mencoba meyakinkan atasannya itu agar mau bertindak, akan tetapi apa yang didapatkannya justru malah kematian yang tragis. Ya, serigala itu bangkit dari kasurnya dengan kondisi setengah sadar lalu berjalan ke arah buaya itu, lalu dengan satu tebasan lambat dari tangannya, kepala buaya itu terlepas dan jatuh. Darah berwarna kehijauan itu bercucuran keluar seiring dengan tubuhnya yang tersungkur di atas tanah. Buaya itu mati dengan penuh penyesalan.
Serigala itu tertawa bahagia layaknya psikopat di mata para manusia.
__ADS_1
Bahkan jika menyebutkan, setelah selesai berurusan dengan prajurit buaya itu, dia sama sekali tidak terganggu dengan suasana kotor di ruangannya dan tangan yang penuh darah. Serigala itu memilih lanjut bersenang-senang dengan kedua wanita ularnya itu, melanjutkan apa yang belum sepenuhnya tertuntaskan di antara mereka.
"Baiklah Sayang, mari kita bersenang-senang," kata serigala bengis itu sembari tersenyum dengan wajah penuh napsu. Tak butuh lama dia pun segera menerkam kedua wanita ular tersebut di atas ranjangnya. Tanpa tahu bahwa bahaya akan segera mendatanginya, kematiannya tidak akan lama lagi, dia hanya memiliki beberapa menit tersisa.