
Ketika di tengah perjalanan Mavis dan para pelayannya berpencar menjadi tiga grup untuk melaksanakan tugas yang sudah direncanakan, di saat yang bersamaan, berada di benua bagian utara, kebisingan melanda salah satu kerajaan berafiliasi tingkat dua. Tepatnya berlokasi di ibu kota Kerajaan Sunghuan.
Suara jeritan dan dentuman akibat puing-puing rumah yang berjatuhan terdengar beriringan. Seekor banteng besar tengah mengamuk, menggunakan kapak raksasa di tangannya, menebas para prajurit manusia yang terlihat pucat dan diam tak berdaya. Pada dasarnya para prajurit itu telah kehilangan kepercayaan diri, setelah sebelumnya melihat banyak jendral mereka yang telah maju dan gugur begitu saja tanpa bisa menggores sedikit luka pada monster bertanduk dua itu.
Masing-masing dari mereka menggigil, tangan mereka serasa kaku dan gemetar membawa pedang. Melihat percikan darah teman mereka yang tubuhnya hancur dan terbelah dihantam kapak milik banteng itu. Sungguh ironis, salah satu prajurit terakhir di tempat itu jatuh ke tanah dan menoleh ke arah belakang dengan wajah jelek. Hanya setelah itu dia menemukan pemandangan yang begitu mencengangkan, tumpukan mayat berzirah seperti miliknya memenuhi tempat di sepanjang jalan.
Berkobar api sejauh mata memandang, pemukiman itu telah hancur sehancur-hancurnya.
"To-tolong se-lamatkan a-ku ...." Prajurit itu merangkak menjauh dari sosok mengerikan itu. Dengan tubuh penuh ketidakberdayaan dia dengan bodohnya masih mencoba mencari seseorang yang dapat membantunya melarikan diri. Namun sayangnya tak berselang lama setelah dia beranjak, banteng itu dengan senyuman bengis mengayunkan kapaknya dan menebas kepala prajurit itu.
"Mereka sangat lemah, entah apa yang dipikirkan Tuan Leon sehingga terus memperingatkan kami untuk berhati-hati dengan ras manusia." Banteng itu mendengus kesal seraya melemparkan kapaknya melayang ke atas, berputar di udara, lalu meraihnya kembali dan memikul senjata berat itu di pundaknya.
"Tuan Leon pasti memiliki alasannya sendiri, lagipula ras manusia telah menerima banyak manfaat dengan tetap tinggal di benua utama setelah bencana perang terakhir kalinya. Banyak dari mereka mungkin memang lemah, tapi menurut informasi yang kudapatkan dari anak buahku, sebagian dari para manusia yang menempati benua bagian tengah sangatlah kuat. Dan juga, tidak menutup kemungkinan di benua utara ini juga muncul sosok kuat lainnya." Sepasang serigala berwarna hitam gelap, dengan tubuh lebih besar dari pada yang lainnya, terlihat datang berama dengan kawanannya. Salah satu dari mereka yang berada pada baris terdepan, mengomentari perkataan si banteng yang tengah melihat remeh para prajurit yang telah tumbang di atas tanah.
__ADS_1
Banteng itu hanya mendecih dan menoleh ke arah sumber suara.
"Oh, Alpha dan Beta. Kalian rupanya, sepasang kekasih yang telah menua dan kehilangan keberanian." Banteng itu pun terkekeh, salah satu tangan yang lain memegangi perut karena saking tidak kuat menahan tawa.
"Bedebah sialan!" Serigala bertubuh besar lainnya menggeram dan memperlihatkan deretan gigi tajamnya, wajahnya pun mengerut kesal.
"Beta, tenangkan dirimu," kata Serigala jantan di sebelahnya. "Taurus, semua pilihan ada padamu. Kuharap kau tidak menyalahkan kami karena tidak memperingatimu tentang apa yang dikatakan Tuan Leon."
Setibanya kawanan serigala itu di dalam aula besar yang terlihat sangat kacau, mereka langsung memposisikan diri. Kedua pasang serigala besar maju dan mengisi barisan dengan para ketua binatang buas lainnya, sementara para anak buahnya menetap dibelakang dengan para keroco lainnya.
Barisan para jendral binatang buas itu belum sepenuhnya terisi, masih terhitung enam dari sepuluh pemimpin yang seharusnya hadir. Mengesampingkan Alpha dan Beta yang merupakan satu kepemimpinan kelompok serigala, di antaranya yang baru terlihat adalah ketua ular, ketua rubah, ketua kucing, ketua beruang, dan ketua laba-laba. Sementara sisanya seperti ketua banteng masih tertinggal di belakang dan belum menampakan batang hidungnya.
"Berpikir bahwa dia salah satu bagian dari kita, Taurus benar-benar tidak memberikan wajah pada Tuan Leon. Dia bahkan tidak bergegas datang setelah tugasnya selesai di ladang." Serigala bernama Beta lagi-lagi menggerutu ketika melihat barisan di sampingnya, dia menghela napas berat dan masih tidak habis pikir. "Sampai saat ini aku tidak tau mengapa Tuan Leon memberikan kepercayaan padanya. Yah, terlepas dari fakta dia telah banyak menyumbang banyak kontribusi pada kita."
__ADS_1
"Tuan Leon pasti memiliki pendapatnya sendiri," kata Alpha seraya membuang senyuman kepada Beta dan mencoba menenangkan pasangannya itu.
"Tidak bisakah sekali saja kamu mendukung perkataanku?" Beta pun mengernyit dan melipat kedua tangan di depan dadanya. Sementara Alpha hanya tersenyum dan tidak bisa berkata-kata melihat keseriusan sang kekasih.
Sampai pada saat kemunculan sosok besar yang berjalan membelah masa dan mengambil posisi duduk di atas kursi singgasana raja, baik itu Beta dan yang lainnya menjadi tenang dan fokus melihat ke arah kedatangannya. Tampak sosok itu tersenyum bangga ketika mengedarkan pandangannya melihat ke arah seluruh penjuru ruangan.
Tak luput dari pengelihatannya barisan para jendral kepercayaannya yang telah kembali tanpa membawa luka yang berarti. Yah, meski pada awalnya dia merasa sedikit terganggu dengan aktivitas para prajurit hewan yang lamban, masih menarik keluar mayat para petinggi yang sebelumnya terbunuh di aula ruangan itu, dalam hal ini tidak termasuk sang mantan raja yang telah dibawa dan ditahan di dalam penjara bawah tanah.
"Sangat baik! Kalian telah berjuang sangat keras menakhlukan para musuh kuat dan berhasil kembali dengan selamat!" Raja Macan itu tertawa dengan sangat keras, menggema dan tanpa sadar membuat gemetar para binatang buas yang berada di barisan belakang. Tak sedikit dari mereka berkeringat dan menutup telinga karena saking tak kuat menahan aura menindas yang dilepaskan oleh sang raja.
"Salam, Tuan."
Tak lama setelahnya para prajurit binatang buas serempak mengambil posisi setengah bersujud, tanpa terkecuali dengan para ketua yang berada di barisan lini terdepan. Pada dasarnya mereka semua memberikan penghormatan kepada sang raja.
__ADS_1