
Berita tentang kematian sang raja telah menyebar dan membuat para prajurit di pihak kerajaan menyerah kepada sang penguasa baru. Di dalam sebuah ruangan besar, sebagai pengganti sementara aula yang sedang dibangun kembali, Mavis duduk di singgasana sementara Mikaela dan Zahard masing-masing dari mereka berdiri di sisi kanan dan kiri Mavis.
Pemandangan itu jelas membuat kebingungan di pikiran para bangsawan yang hadir. Mereka pasti bertanya-tanya mengapa pria tak dikenal itu yang duduk di singgasana, bukan sang putri dari keturunan yang sah. Namun sayangnya, tidak ada dari mereka yang berani bertanya ataupun menyerukan pendapatnya, terlebih para prajurit sudah mengepung mereka dari segala sisi, tidak mungkin bisa melarikan diri dengan selamat. Oleh karenanya mereka hanya bisa diam, menunggu apa yang pemuda itu coba katakan kepada mereka.
"Di sini aku tidak memiliki banyak waktu, jadi aku langsung saja pada intinya. Kalian pasti para bangsawan yang tersisa di kerajaan ini. Kerajaan ini akan jatuh ke tanganku setelah Zahard menyerahkan kehendaknya di hadapan publik. Berpikir bahwa pada pertempuran sebelumnya kalian tidak terlibat dalam membantu raja palsu itu, jadi aku memberikan kalian kesempatan untuk memilih. Pilihannya hanya dua, satu yaitu tunduk pada kekuasanku, atau pilihan kedua adalah menjemput kematian kalian."
Para bangsawan itu pun terkejut setelah mendengarkan pernyataan yang keluar dari mulut Mavis. Mereka tak habis pikir bahwa tahta kerajaan yang seharusnya kembali ke tangan sang putri, malah berakhir di tangan orang luar. Para bangsawan ini jatuh dalam keputusasaan setelah menyadari pengorbanan yang mereka lakukan pada akhirnya sia-sia.
Memang para bangsawan ini merupakan para petinggi kerajaan yang dengan sengaja tidak mendukung sang raja palsu karena mendengar rumor tentang kembalinya sang Putri Zahard, mereka adalah kelompok pendukung yang ingin sang putri mengambil alih tahta kerajaan. Para bangsawan ini sangat berharap dengan kembalinya pewaris dari darah keturunan raja terdahulu itu akan membuat perubahan besar bagi kerajaan, juga membawa kesejahteraan dan keseimbangan kepada rakyatnya.
"Putri, sebenarnya apa yang kamu pikirkan? Mengapa kamu menyerahkan kerajaan ini kepada orang luar?" kata salah seorang bangsawan di antara mereka. Pria itu nampak tak puas di permukaan, ekspresinya terkesan kesal dan juga kecewa.
Begitupula dengan bangsawan lainnya mulai angkat bicara agar sang putri mengurungkan niatannya untuk menyerahkan kedudukan seorang raja kepada Mavis.
"Kami telah memutuskan untuk mendukungmu, tapi apa ini balasannya? Apa kamu pikir raja dan ratu terdahulu akan senang melihat keputusanmu ini? Mohon pikirkan baik-baik, Putri!"
"Mohon pikirkan baik-baik, Putri!" Para bangsawan itu bersujud dan terus memohon kepada Zahard, akan tetapi bocah itu hanya diam tanpa berniat menjelaskan.
__ADS_1
Suasana semakin riuh, pada akhirnya Mavis pun jengah dan segera menginstruksikan kepada beberapa penjaga untuk membawa para bangsawan itu pergi. Menurut Mavis, lebih baik mereka ditahan untuk sementara waktu di balik jeruji besi, sampai masalah dungeon terselesaikan.
Berjalannya waktu, sebuah pengaturan rahasia telah dikeluarkan oleh Mavis untuk seluruh pasukan yang berada di kerajaan. Pada dasarnya para prajurit ini dipecah menjadi beberapa kelompok untuk mencari keberadaan akses masuk ke ruang bawah tanah, karena dungeon itu akan muncul di sana, seperti apa yang telah diprediksikan orang misterius itu.
"Maaf Tuanku, makhluk rendahan ini belum menemukan ruangan yang Tuanku inginkan. Mohon beri hukuman!" Buster mengirimkan sambungan telepati kepada Mavis. Dia benar-benar malu karena tidak bisa menemukan pintu masuk yang tuannya cari menggunakan visi pengelihatannya.
"Tidak masalah, para penjaga pasti akan segera menemukannya," kata Mavis membalas dengan santai.
Sambil menunggu datangnya kabar baik dari para penjaga, Mavis pun berniat melakukan ritual pembangkitan. Dia pun segera menginstruksikan untuk mengosongkan ruangan ini, para prajurit penjaga yang bertugas pun mendapat perintah untuk menjaga pintu di luar. Mavis berpesan untuk melarang siapapun masuk, kecuali petinggi-petinggi yang dia sebutkan namanya, dalam hal ini yang dimaksudkan adalah para makhluk bayangan.
Di ruangan itu makhluk bayangan yang tersisa di sisi Mavis yaitu Mikaela, sementara yang lainnya sedang membantu pencarian ruangan tempat kemunculan dungeon nantinya.
"Bangkitlah!"
Ritual itu berjalan dengan sukses. Berkat kemampuan Mavis yang sudah jauh meningkat, tidak butuh usaha yang besar untuk membangkitkan para jasad itu sekaligus dalam waktu bersamaan.
"Mereka memang luar biasa!"
__ADS_1
Mavis cukup senang melihat statistik dari para makhluk bayangannya yang baru itu. Dalam hati Mavis bersyukur tidak bertemu para petualang ini lebih awal karena akan sangat menyulitkannya. Kekuatan mereka memanglah kuat, jika dibandingkan itu bisa seimbang dengan kekuatan para makhluk bayangan di sisi Mavis saat tiga tahun yang lalu. Kekalahan para petualang itu sejatinya karena makhluk bayangan seperti Mikaela, Bulan, Bintang, dan beberapa lainnya telah tumbuh menjadi semakin kuat.
Saat ini para petualang itu sudah bukan lagi lawan yang sepadan.
"Sambut kami kepada Tuanku." Para makhluk bayangan itu langsung mengambil posisi setengah bersujud, memberi penghormatan kepada Mavis.
Tak lama setelah momen mengharukan itu, terdengar suara ketukan pintu dari luar. Segera sosok tak asing muncul dan masuk ke dalam ruangan itu. Dia langsung menghadap ke arah Mavis dengan posisi hormat dan mulai menyampaikan pesan.
"Lapor, Tuanku. Salah satu kelompok prajurit telah menemukan ruangan tersembunyi di bawah kediaman sang raja." Bintang datang dengan ekspresi bahagia.
"Baiklah, bawa aku ke sana," kata Mavis dengan wajah sumringah.
Mavis bersama dengan para makhluk bayangannya segera berjalan menuju tempat yang dimaksudkan. Begitu juga dengan para prajurit telah ditarik kembali untuk segera berkumpul di titik lokasi tersebut. Beberapa menit kemudian sampailah rombongan itu di dalam kamar sang raja, sebuah ranjang telah tergeser dari posisinya, dan menyingkapkan sebuah tangga yang mengarah ke dasar. Ini pastilah jalan masuk menuju ruangan rahasia yang dimaksudkan!
Mavis pun mengirimkan sambungan telepatinya kepada Buster untuk melihat apakah ada sesuatu yang membahayakan di bawah sana. Untunglah setelah fokus menggunakan visi makhluk bayangan itu, tidak ditemukan sebuah perangkap ataupun keberadaan yang mengancam. Kemudian kelompok Mavis segera menuruni anak tangga dan menyusuri lorong yang gelap, ditemani dengan penerangan seadanya dari obor yang telah disediakan oleh para prajurit ketika di luar tadi.
Buster pun keluar dari bayangan sang tuan, kemudian bersama Ivar, Merlin, dan Bellatrix memimpin jalan di depan, sementara makhluk bayangan lainnya mengekori Mavis dari belakang. Berhubung mereka memiliki kelebihan dalam indra pengelihatannya, jadi mereka dipercaya untuk mengarahkan jalan menuju lokasi yang dimaksudkan.
__ADS_1
"Tuan, kita telah tiba di tempat tujuan. Di depan sana terlihat pintu masuk besar sebuah ruangan, jika visiku tidak salah mengenali itu pastilah ruangan yang sedang kami bicarakan."