
"Hei, apa masalah kalian? Mengapa berdiam diri di tengah jalan? Apa kalian sudah bosan hidup, ha?"
Seorang pria berteriak dari atas kendaraan yang dinaikinya. Itu berasal dari arah belakang kelompok Mavis berada saat ini. Pria itu melemparkan tatapan tajam, kerutan pun terlihat di sana. Identitas pria itu pada dasarnya seorang pedagang yang baru saja kembali dari perjalanannya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sikapnya, masih bisa dimaklumi karena dia marah bukan tanpa sebab, itu karena Mavis dan para pelayannya sedang memblokir jalan sehingga kendaraanya tidak bisa lewat.
Keributan itu mengundang pertunjukan kecil bagi para pengunjung di sekitar. Dengan perasaan rumit Mavis pun segera menepi untuk memberikan jalan kepada sang pedagang. Setelah kejadian memalukan itu dia tidak lagi mengatakan sepatah katapun dan buru-buru membawa para makhluk bayangan pergi dan membaur dengan keramaian. Dia begitu malu setengah mati, layaknya seorang udik yang baru pertama kalinya datang ke ibu kota, begitulah gambaran situasi yang baru saja mereka alami.
Tentu saja, Mavis tidak menunjukan ekspresi yang sesungguhnya di permukaan. Dia tetap terlihat tenang dan santai saat melanjutkan perjalanan menuju tempat yang direkomendasikan oleh si pemilik penginapan.
Sekitaran lima belas menit kelompok itu menyusuri pasar, tibalah mereka di penghujung perbatasan pasar dengan kawasan kumuh. Satu hal yang Mavis sadari begitu berbelok ke arah gang yang sepi, bangunan toko yang berjajar di sana hampir semuanya tutup. Kondisi suasana gang itu cukup membuat Mavis tercengang, pasalnya begitu mati dan jalanan serta segala sesuatunya yang terlihat sangat berbeda dengan keadaan di luar gang—itu bahkan lebih buruk dibandingkan wilayah pasar yang ada di kekaisaran. Meski demikian, anehnya sebuah toko masih nampak menjalankan bisnisnya di tempat itu.
Dari kejauhan Mavis bisa melihat barisan kecil tengah memanjang di jalan gang dari dalam toko itu, jika pengelihatannya tidak salah, mereka yang berbaris merupakan anak-anak kecil dan orang tua yang sudah lanjut usia. Mereka seperti barisan kelompok gelandangan, memakai pakaian yang kotor dan juga robek-robek.
"Paman, tolong mengantri."
__ADS_1
Ketika Mavis hendak melewati barisan dari sisi jalan yang luang, seorang anak kecil menarik jubah Mavis dari belakang. Wajah anak itu berubah kesal, cemberut dengan pipinya yang mengembang. Begitu Mavis menoleh dan menatap matanya, anak kecil itu dengan berani menatap sorot mata pria itu tanpa memalingkan wajahnya. Tak lama anak itu kembali bereaksi, dia menunjuk ke arah anak-anak lainnya dan beberapa lansia yang sedang berbaris seraya menunduk.
"Teman-temanku mengantri sejak pagi tadi, Paman tidak boleh berbuat curang!" Selanjutnya anak itu berpindah tempat dan berkecak pinggang di hadapan Mavis.
Tentu hal itu membuat geram seluruh makhluk bayangan, akan tetapi Mavis menahan mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang berlebihan terhadap anak ini. Memang, sikapnya sangat kasar dan tidak sopan, hanya Mavis dapat memaklumi itu karena anak kecil ini hidup di lingkungan yang keras. Satu hal yang membuat Mavis menaruh perhatian pada bocah ini, berbeda dengan anak kecil lainnya, dan bahkan para lansia, hanya dialah yang bersikap berani seperti itu di hadapannya. Meski sebelumnya sosok seperti Bintang yang melemparkan tatapan permusuhan, anak itu masih tetap berdiam diri, memblokir jalan kelompok Mavis. Tubuh bocah itu sebenarnya gemetar, hanya saja dia masih bersikap seolah kuat di permukaan.
Sesaat Mavis pun tiba-tiba tersenyum memandangi bocah itu, lalu terkekeh kecil dan setelahnya mengacak-acak rambut anak itu. Tentu saja anak itu tercengang dengan perubahan sikap Mavis, kini dia benar-benar melihat pria itu dengan cara yang berbeda.
"Mengapa kamu melihatku seperti itu? Apa aku membuat sebuah kesalahan lain?" Mengetahui anak laki-laki itu masih menatapnya secara skeptis, Mavis pun pada akhirnya membuka kembali pembicaraan ringan dengannya.
"Kau—" Bocah itu menjadi salah tingkah setelah tertangkap basah oleh Mavis. Dia pun buru-buru memalingkan wajahnya dan membalik badan untuk berjalan kembali ke dalam barisan.
"Siapa namamu?"
__ADS_1
"Huh, siapapun namaku apa pedulimu?" Anak itu melipat tangannya di dada seraya mendengus kesal. Dia bahkan tidak repot membalik badan mungilnya itu untuk menjawab pertanyaan dari Mavis. Bukankah ini sangat lucu? Apa yang ada dipikirannya kelak jika tau dia sedang berhadapan dengan seorang kaisar muda. Terlebih sikapnya itu sangatlah tidak sopan, bahkan sekarang dia terlalu banyak mengabaikan pertanyaannya.
"Paman, maafkan atas perilaku buruk kakakku ini. Memang sikapnya sangat kasar, akan tetapi sebenarnya dia orang yang baik." Segera seorang anak kecil lainnya muncul dari dalam barisan dan berjalan ke tempat Mavis berada. Bocah perempuan itu memasang wajah jelek, tersenyum yang dipaksakan.
"Kamu adiknya?" Mavis bertanya seraya menaikan salah satu alisnya, sungguh tak percaya. Melihat bagaimana sikap anak perempuan ini tampak lebih dewasa, itu haruslah yang menjadi sang kakak, akan tetapi kenyataannya?
"Siapa namamu?"
"Namaku? Em, sebenarnya aku tidak ingat sama sekali nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku. Hanya saja Kak Romi mulai memanggilku dengan sebutan Elizia sejak kami masih kecil."
"Sejak masih kecil ya? Memangnya sekarang umurmu sendiri berapa?" Mavis tidak bisa untuk tidak tertawa dengan ungkapan gadis kecil itu. Menurut pemahamannya, kedua anak itu haruslah berumur kurang dari sepuluh, lantas mengapa bocah imut itu dengan percaya diri merasa seolah-olah dia sudah beranjak besar?
"Elizia! Mengapa kau memberitahukan nama kita pada mereka! Bukankah sudah berulang kali kukatakan, berhentilah berbicara dengan orang asing!" Pria kecil itu pun berbalik dan melayangkan protes tegas kepada sang adik.
__ADS_1