
Mematahkan persepsi buruk dari pihak lawan merupakan kesenangan tersendiri bagi Bintang. Ketika semua musuhnya berpikir dia telah berakhir, dia muncul dari kepulan asap seraya mengibaskan salah satu belatinya. Tiupan angin yang tercipta dari senjatanya membuat kabut pasir terhempas, kini sosoknya nampak jelas di pandangan semua orang. Dia terkekeh puas, lalu menyeringai seraya mengejek lawannya.
"Seranganmu sedikit hebat, tapi sayangnya tak cukup kuat untuk memaksaku mengerahkan seluruh kekuatan."
"Omong kosong! Terimalah kematianmu!" kata Hanah seraya melesat menuju Bintang, di memutar sabitnya dengan tangan seakan memainkan senjatanya itu.
Bentrokan kembali terjadi, keduanya bertukar serangan dengan begitu sengit. Berbeda dari pertarungan sebelumnya, kali ini salah satu dari mereka terlihat lebih memimpin. Sejatinya Bintang telah mengerahkan tujuh puluh persen dari kekuatan penuhnya. Di sisi lain Hanah dalam keadaan tertekan dan kehabisan tenaganya. Bintang bermain dengan assassin wanita itu, dia menyayat hampir seluruh kulit dan membuat lawannya itu pada akhirnya jatuh berlutut.
"Ke mana perginya rasa percaya dirimu sebelumnya? Kau mengatakan ingin membunuhku, sekarang lihatlah keadaanmu yang begitu menyedihkan."
"Hanah! Keparat kau!" Taratra yang semula sedang bertukar pukulan dengan Bulan tergerak untuk menolong kawannya itu. Dia melesat cepat dan berniat meluncurkan serangan menyelinap kepada Bintang yang sedang fokus dengan Hanah.
Bulan yang menyadari hal itu secara tak terduga memilih diam, dia jelas tidak ada niatan untuk menghentikan lawannya itu. Si penyihir Aletta yang menyaksikan dari di lini belakang pun menyadari keanehan itu. Pada akhirnya butuh beberapa detik baginya untuk sadar bahwa sikap Bulan semata-mata bukan karena tidak peduli, akan tetapi yang sebenarnya pria itu lebih percaya dengan kemampuan Bintang.
"Ti-tidak! Jangan!" Aletta berteriak keras kepada Taratra untuk segera menghentikan aksinya. Namun sayangnya, semua itu sudah terlambat.
__ADS_1
Nasi telah menjadi bubur, begitu pula dengan Taratra yang tinggal menyisahkan jasadnya di tangan Bintang.
Salah satu belati kesayangan Bintang menancap tepat di jantung sang petarung. Dia menyeringai puas saat menendang tubuh lawannya itu agar terlepas dari senjatanya. Kemudian dia berbalik dan menatap sang assassin wanita yang saat ini sedang terbujur kaku di atas lantai.
"Tidak!"
Tangis Hanah pecah setelah dia bangun dari keterkejutannya. Dia menyeret tubuhnya dengan frustasi menuju jasad Taratra. Dia menangis dengan wajah pucat, dia terlihat sangat kehilangan atas kematian pria itu. Tidak ada yang menyangka, dua petualang berlancana merah yang terlihat saling membenci di permukaan, tapi sejatinya memiliki rasa saling memilikki. Bahkan rekan satu timnya, Aletta dan Merikh—sang suporter, menutup mata seraya menahan tangis melihat kenyataan yang sebenarnya di depan mata mereka.
"Mengapa kau datang! Dasar pria bodoh! Mengapa kamu mempedulikan aku! Bangunlah! Kumohon, bangun ...." Hannah terisak sembari memeluk jasad pria yang dicintainya itu.
"K-kau! Kau benar-benar iblis terkutuk! Dasar ja'lang sialan! Berhenti mempermainkanku! Bunuh aku sekarang jika itu memang yang kamu inginkan!"
"Percayalah, tanpa kau meminta aku masih akan membunuhmu. Jadi, kamu tidak perlu khawatir dan berhentilah menangisinya seolah-olah tidak akan pernah melihatnya lagi dalam waktu yang lama."
"Tidak, Hanah! Cepat pergi dari sana!" kata Aletta dengan wajah cemas.
__ADS_1
Penyihir petualang berlencana ungu itu mengacungkan tongkat sihirnya dan segera mana di sekitarnya berkumpul, kemudian membentuk sebuah tombak angin yang mana semakin lama semakin membesar. Sebuah mantra sihir tingkat tinggi! Panah angin tak bertuan! Dapat membelah apapun yang dilewatinya semudah memotong kue. Mantra itu sejatinya mantra sihir yang kuat dan sulit untuk dikendalikan, prinsipnya menyerap mana di sekitar termasuk mana milik si penggunanya.
Sekali menggunakan sihir itu, sulit untuk membatalkannya.
Selang beberapa saat panah itu pun sudah hampir mencapai batasan dan segera akan melesat menuju target sasarannya. Oleh karenanya saat ini Aletta jatuh dalam kepanikan karena Hanah tidak kunjung pergi dari tempatnya sekarang. Berapa kalipun dia menyuruhnya untuk berpindah, akan tetapi assassin wanita itu masih enggan pergi dan hanya membuang senyum ke padanya.
"Tidak! Cepat pergi, Kak!" Merikh berseru lirih sembari menyuntikkan mantra penyembuhan kepada Nast yang tengah tak sadarkan diri karena luka parah.
Di saat momentum krusial bagi para petualang yang sudah tak berdaya, suara mengejutkan datang dari pria berpakaian serba putih di sisi kiri sang raja. Pria itu menghentakkan tongkat miliknya seraya memasang wajah tak suka.
"Memojokkan para petualang untuk membunuh rekan sendiri dengan mantra tingkat tinggi, kalian memiliki kepribadian yang sangat buruk. Kalian pastilah sekumpulan para pemberontak yang baru-baru ini dirumorkan muncul di benua bagian timur. Tidak kusangka kalian sampai sejauh ini datang ke benua bagian tengah hanya untuk membuat kekacauan dan kerusakan baru."
Pria yang nampak bercahaya itu pun berjalan mendekati Aletta yang sudah memucat. Selanjutnya apa yang terjadi adalah sebuah keanehan. Dia menyentuh punggung Aletta dan mantra yang segera lepas kendali itu lenyap begitu saja.
"Kalian telah banyak ikut campur dalam permainan takdir dan terus menentang kehendak para dewa. Kalian adalah musuh yang harus dihentikan oleh kuil suci kami!" Pria itu kemudian mengangkat tangan kanannya lalu mantra yang sebelumnya lenyap perlahan terbentuk lagi di udara, semakin lama terus membengkak.
__ADS_1
"Untuk kemuliaan langit, aku harus menghentikan kalian di sini!" Pria tercerahkan itu berseru sembari melempar mantra tingkat tinggi itu menuju lokasi Mavis saat ini dan beberapa makhluk panggilan lainnya.