
Dentuman keras terdengar diikuti pintu aula besar yang terbuka karena hancur. Serpihan puing melesat ke segala arah, memaksa beberapa sosok kuat bergerak untuk memblokir serangan tersebut agar tidak sampai dan melukai sang raja yang sedang terduduk di atas singgasana. Mereka adalah para ahli yang setia berada di sisi kerajaan dan berfikir bahwa melindungi pria bermahkota tersebut merupakan suatu kewajiban.
Mereka benar-benar tidak bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Meskipun mereka sudah mengetahui bahwa raja yang menduduki tahta saat ini adalah sosok yang tercela karena menggulingkan raja sebelumnya dengan cara kotor, akan tetapi mereka masih tetap mendukungnya. Di mata mereka, Raja Adamson adalah raja yang menguntungkan di mata mereka, tidak peduli dengan apa yang dilakukannya di masa lalu untuk mendapatkan posisinya sekarang.
Beralih pada pemandangan seorang pria berpakaian serba putih, masih berdiri di samping sang raja dengan wajahnya yang tenang. Pria itu menutup mata seolah tidak terusik dengan apa yang baru saja terjadi. Sangat kontras dengan sang raja yang saat ini nampak gemetar dan ketakutan setengah mati.
"Keparat! Berani-beraninya mereka menghancurkan aulaku! Mengapa para prajurit di luar membiarkan para bedebah ini masuk! Kalian, mengapa kalian masih diam saja! Cepat bunuh mereka semua dan gantung kepala mereka di depan pintu gerbang!" kata sang raja dengan mimik wajahnya yang semakin jelek.
Sang raja berteriak seolah dia tidak gentar dan takut, akan tetapi dia tidak bisa menyembunyikan itu dari pandangan orang lain karena dia sendiri menampakan sikapnya yang gelagapan bak orang yang sudah kehilangan kewarasannya.
"Raja, mohon tenanglah. Membereskan para pengkhianat ini bukanlah hal yang sulit, serahkan saja kepada kami." Seorang wanita berjubah ungu berbalik badan, kemudian tersenyum dengan paksa ketika mencoba menenangkan sang raja. Selanjutnya dia kembali mengambil posisi siaga bersama tongkat kayu kecil di genggamannya.
Di aula itu semua wajah terlihat begitu cemas, menantikan sosok seperti apa yang akan datang dari arah luar ruangan. Bahkan pria yang terlihat tercerahkan di samping sang raja itu tanpa sadar mengelap keringat, lalu wajahnya berubah pucat dan perlahan membuka matanya.
"Bersiaplah, kegelapan telah datang," katanya dengan nada gusar.
Seperti yang diperkirakan sang utusan kuil suci itu. Beberapa sosok dari arah luar muncul dan langsung berjalan masuk, diikuti dengan lonjakan aura yang membawa ketakutan bagi para prajurit yang berada di pihak sang raja.
__ADS_1
Salah satu dari mereka maju, itu yang terkecil dari kelompok mereka. Berada di balik jubah serta tudung berwarna hitam, gadis kecil itu memberanikan diri sebelum pada akhirnya berkata lantang kepada sang raja.
"Raja Adamson! Sebagai putri dari keturunan yang sah, aku dengan ini menyatakan kau sebagai pengkhianat kerajaan! Menyerahlah dan terima hukumanmu!"
"Siapa kau! Berani-beraninya berbicara seperti itu kepada raja!" kata salah satu petualang berlencana merah.
Zahard tersenyum, kemudian membuka tudung jubahnya.
"Putri Zahard telah kembali," kata gadis itu dengan nada tegas.
"Tidak mungkin! Dia berbohong! Putri Zahard seharusnya sudah mati bersama Ratu Carsey! Dia seorang penipu! Tangkap dia!" Sang raja menjadi begitu emosional dan menyuruh para penjaga untuk pergi menangkap Zahard.
"Jangan dengarkan dia! Dasar gadis sialan! Habisi dia sekarang! Siapapun yang bisa membawa kepala anak itu, aku akan memberikannya tiga kotak peti berisikan emas!" kata sang raja.
Baik itu para prajurit maupun petualang tidak ada satupun yang tak tergiur begitu mendengarkan hadiah yang ditawarkan oleh sang raja.
"Menyingkirlah, aku yang akan mendapatkannya! Kalian jangan menghalangiku!" kata salah seorang petualang yang menyandang gelar assassin terkuat di kerajaan. Dia melesat cepat meninggalkan kelompoknya, menuju tempat Zahard berada seraya menyilangkan kedua sabit tajam miliknya.
__ADS_1
"Kau yang harus menyingkir, semua peti emas itu adalah milikku!"
Suara benturan tercipta ketika sebuah pukulan melayang dan menghantam sabit sang assassin. Pada saat itu muncullah seorang petarung bertubuh kekar. Pria itu terkekeh puas saat menyadari sang assassin terhempas akibat pukulannya.
"Mati kau!"
Petualang bertubuh besar itu pun kembali melayangkan tinju dengan kekuatan destruktif yang besar, itu langsung mengarah menuju kepala Zahard. Hentakan tangan yang kuat membuat udara di sekitar memaksa para prajurit yang berniat mendekat menjadi mengurungkan niatnya. Sejatinya para prajurit itu kesulitan untuk berdiri di tempat karena tekanan udara memaksa mereka untuk mundur selangkah demi selangkah.
Momentum selanjutnya membuat keheningan untuk beberapa saat. Pasalnya seorang wanita muncul dari belakang Zahard dan langsung memblokir serangan petarung tersebut hanya dengan salah satu tangannya. Sosok dari dalam jubah itu dengan mudahnya menghentikan tinju dari petarung terkuat yang mana notabenenya salah satu petualang berlencana merah. Sangat tidak terduga, sosok misterius itu bahkan memaksa pria berdarah panas itu waspada dan buru-buru mundur untuk memperlebar jarak di antara keduanya.
"Bagaimana bisa dia menghentikan serangan terkuat Taratra hanya dengan satu tangan! Siapa monster di balik jubah itu!" Sang assassin yang baru saja menonton dari samping tidak bisa untuk tidak terkejut. Sebelumnya dia terpental setelah memblokir serangan kecil dari kawannya itu, tapi sosok misterius itu bagaimana bisa memblokir serangan terkuat Taratra semudah membalikan telapak tangan?
Taratra adalah nama panggilan milik petarung pria yang saat ini masih tenggelam dalam pemikirannya, mecoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Dia masih syok dan tidak percaya bahwa dia baru saja merasakan hawa membunuh yang begitu gelap datang dari sosok itu. Seakan bertemu dengan malaikat maut!
"Kalian berdua berhentilah main-main, jangan anggap remeh lawan di hadapan kalian. Pikirkan baik-baik, mereka sangat percaya diri menerobos masuk ke tempat ini, itu membuktikan bahwa mereka memiliki beberapa kemampuan! Kita harus bekerja sama dalam satu tim, jika ingin menang dalam pertempuran ini."
"Benar yang dikatakan Aletta, sebaiknya kita bekerja sama untuk mengalahkan mereka. Kita tidak boleh sembrono atau nyawa sebagai taruhannya," kata seorang pria beratribut paladin, saat itu juga dia memutuskan untuk bertindak dan mengangkat pedang besar dan perisainya. Selanjutnya pria tampan itu berlari menuju lini depan seraya menginstruksikan kepada salah satu rekan timnya yang berada di belakang, "Merikh, berikan aku tambahan buff pertahanan!"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan mulai merapal." Suporter dari grup petualang itu pun menyahuti seraya menghentakkan tongkat stafnya, disusul dengan cahaya hijau yang mulai mengepul di sisi atas tongkat tersebut. Selanjutnya wanita itu melemparkan mantranya menuju sang paladin. Itu pada dasarnya sebuah sihir tingkat menengah, dapat memberikan tambahan lapisan pertahanan kepada objek yang ditargetkan.