
Melihat kepergian rombongan Mavis diikuti rasa sukacita yang mendalam bagi Nyonya N'am. Hari ini langit sangat bermurah hati mengirimkan seorang pemuda baik hati yang mau menghabiskan seluruh dagangannya, terlebih setelah wanita paru baya itu tau kalau Mavis dan kawanannya berniat membagikan secara gratis beberapa kue ikan itu kepada para penduduk yang tinggal di daerah kumuh.
Mavis sendiri tentu tidak membual dengan perkataannya, dia benar-benar melangkah pergi menuju gang kumuh di seberang tempatnya sekarang. Para makhluk bayangan yang mengekori Mavis dari belakang pun tidak banyak berkomentar, terlihat mereka membawakan bungkusan-bungkusan yang penuh dengan makanan kering itu dengan sikap tenang.
Memang, di atas permukaan itu seolah mereka mengendurkan penjagaan, akan tetapi sejatinya para makhluk bayangan yang memiliki indra perasa diam-diam mengirimkan sinyal kepada sang tuan melalui sambungan telepati. Mereka langsung mengenali bahwa ada sekelompok manusia yang bersembunyi di sekitar dan hanya menunggu waktu untuk datang menyergap. Seolah tidak masalah dengan itu, Mavis dengan tak acuh memberikan persetujuan kepada para pelayannya untuk bertindak, begitu musuh mulai membuat pergerakan.
Di sisi lain, nampak ketegangan dapat dirasakan olah para perampok yang bersembunyi di atap bangunan. Salah satu orang fokus mengamati situasi kelompok Mavis dan tak lama melaporkan bahwa tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan sejauh ini, pria yang menggunakan bandana merah itu meyakinkan pihak yang berada di seberang sambungan bahwa kelompok itu sama sekali tidak menyadari operasi penyergapan ini.
"Mereka berjalan menuju area yang telah ditentukan, bersiaplah."
Sambungan itu baru saja selesai terputus. Namun, sebelum pria itu bisa bereaksi dan menyadari apa yang terjadi, sesosok wanita tiba-tiba muncul dari arah belakang dan menebas lehernya dengan sepasang belati di tangan. Segera darah segar menggenangi pijakan atap bangunan tiga lantai itu.
"Bagaimana dengan targetnya Bos?" kata salah satu bandit berambut gondrong, dia tersenyum miring ketika bertanya kepada sang ketua kelompok.
"Dia bilang semua masih ada dalam kendali kita. Sepertinya kali ini aku benar-benar telah salah mengenali orang. Kupikir saat pertama kali mengintai di area luar pasar, aku merasakan hawa membunuh datang dari salah seorang di antara mereka. Namun, rupanya mereka tak ada bedanya dengan sekelompok bangsawan lemah yang tersesat bersama para pelayannya. Kekhawatiranku sungguh tak beralasan, kau benar dalam hal ini," kata pria beralis tebal yang mengenakan pakaian serba hitam layaknya pemimpin kelompok itu.
Pria bernama Hawk yang merupakan pemimpin para bandit itu duduk di tengah tumpukan kotak kayu, memblokir sepenuhnya jalan di area gang kumuh itu. Sementara beberapa anak buahnya sudah bersiap pada posisinya masing-masing, ada yang berdiri di atas bangunan, ada yang bersiaga di sekitar sang pemimpin dan beberapa petarung ganas memasang badan di barisan terdepan. Kelompok itu telah siap merampok, mereka sepenuhnya telah menunggu instruksi lebih lanjut dari sang pemimpin bandit.
__ADS_1
Tak berselang lama mereka pun segera mendapati kemunculan kelompok Mavis dengan bayang-bayang yang samar. Pada saat itu mereka sama sekali tidak menyadari adanya perbedaan jumlah pada kelompok itu, yang mana berkat deburan pasir yang tersapu oleh angin dan berakhir mengelabuhi pengelihatan masing-masing dari mereka. Mavis sendiri tertawa kecil, seolah-olah mengasihani kelompok bandit itu. Yah, meski ada atau tidaknya badai pasir kecil ini, bukan berarti mereka bisa menang. Hanya ada pilihan kematian yang ada di tangan mereka, sejak memutuskan untuk berurusan dengan kelompok Mavis.
"Target sudah bergerak menuju tempat ini, kalian semua bersiaplah dalam posisi! Bergerak sesuai komando—"
Suara tembakan.
Sang pemimpin bandit membeku begitu merasakan sakit yang teramat datang dari daerah sekitar perutnya. Dia berhenti berbicara dan terbujur kaku. Tangannya menyentuh bagian luka dan segera wajahnya berubah jelek saat melihat darah segar mulai mengalir dari dalam tubuhnya.
"Suara apa itu?"
"Apa kau mendengarnya?"
"Apa yang terjadi?"
"Bos, apa kau mendengarnya juga? Sebenarnya suara apa—" Bandit berambut gondrong itu segera memasang wajah jelek saat mendapati sang pemimpin dalam keadaan bersimbah darah. Dia panik dan segera memberi perintah kepada yang lain untuk berkumpul di dekat Hawk yang jatuh dengan tangan menutup luka. "Siapa yang berani melakukan hal ini kepada Bos, aku akan menghabisinya dengan tanganku!"
Dari balik celah kerumunan kelompok bandit, pria itu menatap sengit kelompok Mavis yang perlahan muncul di hadapan mereka. Tampak pertama kali sosok pelayan bertubuh pendek dan bertopi layaknya koboi berjalan di depan seraya memainkan senjata mematikan yang ada di tangannya.
__ADS_1
Mengesampingkan mereka yang memiliki kemampuan seperti seorang petualang, kesatria, ataupun ahli bela diri, standar tempur senjata itu benar-benar bisa menimbulkan luka fatal bagi orang biasa hanya dengan sekali tembakannya saja. Banyak yang tidak percaya dengan apa yang Mavis katakan, termasuk dwarf yang saat ini membawa senjata itu. Sampai akhirnya dia bisa mencobanya pada sang pemimpin bandit dan mengkonfirmasi kehebatan senjata itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Hebat!"
"Tuan lihatlah, aku langsung mengenai pemimpinnya!"
Momongan membuka penutup jubah kepalanya seraya berteriak kegirangan. Pada dasarnya dia sedang membanggakan diri dan mencoba meyakinkan Mavis bahwa dia telah mengambil kontribusi besar. Sontak saja perkataan dwarf itu langsung memancing permusuhan dari kelompok bandit. Tatapan mereka memancarkan aura kebencian, akan tetapi di waktu yang bersamaan terlihat pula keraguan menghiasi wajah masing-masing dari mereka. Tentu, mereka tidak sebegitu bodohnya memilih untuk tetap melanjutkan pertarungan secara membabi buta. Melihat sang pemimpin yang dikalahkan dengan mudah, siapapun di antara para bandit itu pasti menyadari bahwa kelompok Mavis bukanlah tandingan mereka.
Memaksakan pergi bertarung? Bukankah itu sama saja seperti mempercepat kematian mereka?
"Siapa sebenarnya kalian?"
"Dan kau ... sialan! Makhluk macam apa kau! Siapa kalian semua! Mengapa kau tiba-tiba menembak Bos kami!" kata si pria berambut gondrong yang saat ini membantu sang pemimpin bandit berdiri.
"Bukankah itu dwarf? Itu benar-benar seperti makhluk kuno yang muncul dalam dungeon akhir-akhir ini!"
"Mengapa bisa ...."
__ADS_1
Bandit-bandit yang malang itu jatuh ke dalam pemikirannya.
"Tidak, tidak, seharusnya akulah yang bertanya. Dari mana datangnya kepercayaan diri dari manusia rendahan seperti kalian? Jika saja bukan karena Tuanku sedang dalam keadaan mood yang bagus sehingga bersikap sedikit lunak, kalian tidak mungkin masih hidup sampai detik ini," kata Luna seraya menurunkan jubah pelindung kepalanya, mengungkapkan penampilan sejatinya yang berasal dari ras goblin.