THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 2 : Senjata Sihir


__ADS_3

"... menurut informasi yang berhasil dikumpulkan oleh departemen penyelidikan kami mengenai kondisi wilayah bagian tengah, besar kemungkinan surat undangan rahasia yang dikirimkan oleh asosiasi petualang ke seluruh penjuru benua benar adanya. Pada dasarnya mereka mengirimkan undangan ke setiap guild petualang besar yang berada di kekaisaran ataupun kerajaan berafiliasi tingkat tiga ke atas. Mengenai alasan di balik itu semua, departemen kami masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut."


"Setelah menyadari siasat buruk yang dimainkan oleh orang-orang dari kuil suci, benar saja asosiasi petualang akhirnya mulai bergerak." Dengan suara pelan Mavis bergumam setelah mendengarkan penjelasan yang dilaporkan oleh Hanes.


"Hanya saja setelah aku mengingat bagaimana pengaruh asosiasi petualang di benua bagian tengah lebih besar dibandingkan yang dimiliki kuil suci, mengapa mereka tidak langsung pergi meratakannya saja? Sebenarnya apa yang menyebabkan asosiasi petualang menjadi tidak percaya diri di hadapan kuil suci? Sampai-sampai harus mengundang para petualang yang tersebar di seluruh penjuru benua untuk mengumpulkan kekuatan bersama."


"Yang Mulia, izinkan aku menyampaikan pendapatku."


Mavis pun mengangguk begitu melihat sosok Reene berjalan maju dari barisan paling terdepan. Tiga tahun telah berlalu dan sekarang pemuda itu terlihat jauh lebih dewasa dengan kumis dan janggut tipis yang dimilikinya. Pembawaannya pun tampak lebih tenang dan berkarisma di permukaan, dia memang layak mewarisi kemampuan sang ayah yang merupakan penasihat kekaisaran sebelumnya.

__ADS_1


"Menurut pandanganku mengenai masalah ini, apa yang sedang mereka coba lakukan yakni memperkecil kerugian ketika mulai berperang melawan pihak kuil suci. Yang Mulia, aku merasa kali ini pihak asosiasi telah benar dalam mengambil keputusan. Dengan berkumpulnya para ahli dari seluruh penjuru daratan benua, itu akan memberikan kekuatan tambahan di sisi mereka. Terlebih dengan adanya beberapa kekuatan semu yang berhasil diakuisisi oleh pihak kuil suci selama tiga tahun belakangan, posisi kedua belah pihak saat ini bisa dikatakan seimbang."


"Memang perkataanmu ada benarnya, kekuatan kuil suci telah banyak mengalami peningkatan."


Setelah beberapa sesaat Mavis pun merenung, menaruh sedikit kekhawatiran pada kerajaan yang menjadi tempat tinggal seluruh keluarganya. Mengirim pergi seluruh petualang sama saja seperti menurunkan setengah dari kekuatan sebuah kerajaan atau kekaisaran. Mavis berharap sang ayah tidak menerima undangan itu dan tidak perlu ikut dalam arus perselisihan antara asosiasi petualang dan pihak kuil suci.


Tak berselang lama kaisar muda ini pun kembali tersadar dan segera menepis semua kegundahannya. Lagipula sejak awal dia sudah bertekad untuk berusaha tetap fokus hanya pada kepentingan kekaisaran miliknya ini. Mavis pun menghela napas berat sebelum pada akhirnya melanjutkan diskusi pertemuan itu, berpindah pada topik selanjutnya, dia mengarahkan pandangannya menuju sosok kerdil yang berpakaian kulit.


Si pak tua dari ras dwarf itu pun maju dari dalam barisan, kemudian memberi gerakan penghormatan sebelum menjawab pertanyaan sang kaisar. "Sesuai dengan permintaan Yang Mulia, kami akan menyelesaikan pesanan itu terhitung dalam kurun waktu yang tersisa, yakni tiga hari dari sekarang," kata Houdabor dengan wajahnya yang datar.

__ADS_1


Terlihat seperti biasanya dia berbicara dengan pembawaan yang sangat kaku dan terkesan tidak menghormati sang kaisar. Namun baik itu Mavis atau pun yang lainnya, tidak ada satupun dari mereka yang berpikiran bahwa Houdabor bertindak tidak sopan. Mereka pada dasarnya telah mengenal kepribadian dwarf itu dengan sangat baik. Meski di permukaan dia terlihat seperti demikian, akan tetapi sebenarnya dia sangat mengagumi sang kaisar dari lubuk hati yang paling terdalam. Dia hanya tidak pandai dalam mengekpresikan diri. Bahkan bila menyebutkan di kalangan rasnya sendiri, Houdabor termasuk salah satu yang sulit dalam hal bergaul.


"Ini kabar baik untuk para prajurit kekaisaran! Setelah produksi pertama selesai, segera distribusikan semuanya kepada para prajurit lini belakang. Aku ingin semua mengganti busur mereka menjadi senjata magis yang canggih itu, dengan tujuan menghemat anggaran pengeluaran karena tidak perlu lagi membuat banyak anak panah," kata Mavis seraya tersenyum puas. Berbeda dengan yang lainnya, tidak ada satupun dari mereka yang benar-benar tau tentang pengembangan senjata magis yang dimaksudkan. Hanya Mavis dan para pengrajin dwarf yang tau. Oleh karenanya mereka hanya bisa pasrah, mengangguk canggung, dan berharap seseorang segera menjelaskan tentang informasi pembuatan senjata itu.


"Yang Mulia harap yakin, departemen penelitian kami akan segera mendistribusikan semuanya begitu selesai pada tahap akhir pengerjaan." Houdabor pun berdiam diri setelah perkataan sebelumnya. Dia memasang wajah yang rumit seakan ada sesuatu yang ingin ditanyakan olehnya, akan tetapi dia masih ragu. Pada akhirnya Mavis pun menangkap gelagat aneh darinya dan memutuskan untuk bertanya.


"Houdabor, apa ada sesuatu yang ingin kamu katakan lagi?"


"Yang Mulia, senjata itu akan dinamakan apa?" kata Houdabor.

__ADS_1


"Pistol sihir." Mavis membalasnya seraya melemparkan tatapan bangga.


Sebenarnya Mavis hanya menggambarkan rancangan secara garis besar mengenai senjata tersebut, seperti bagaimana bentuk dan teknis senjata itu bisa menembakan peluru yang tersimpan di dalamnya. Hanya dia sungguh tak menyangka, sedikit pemahamannya tentang senjata api di dunianya sebelumnya bisa digunakan di tempat ini setelah mengalami banyak penyesuaian. Pistol itu pun tidak lagi diisikan dengan peluru, akan tetapi spirit alam yang berhasil dikumpulkan dan disimpan pada senjata tersebut, menggunakan metode canggih yang diciptakan oleh para pengrajin dwarf.


__ADS_2