THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 16 : Menerobos Gerbang Utama


__ADS_3

Langit telah menampakan warna yang begitu cerah, sinar matahari yang menghangatkan pun perlahan muncul. Sayangnya, pemandangan bagus itu menandakan awal datangnya malapetaka besar bagi kerajaan berafiliasi enam ini.


Pagi hari kerumunan orang telah memadati tepi sepanjang jalan mulai dari pintu masuk kedua sampai di depan gerbang kawasan tempat tinggal para bangsawan maupun tamu berstatus tinggi. Para warga yang berkumpul merupakan orang-orang yang memiliki kebencian terhadap pihak kerajaan setelah mendengar rumor buruk tentang kudeta yang dilakukan raja yang memerintah sekarang.


Hal lain juga menyebutkan tentang kembalinya sang putri dari keturunan yang sah dalam rangka mengambil kembali posisi tahta yang seharusnya menjadi miliknya. Di antara mereka yang hadir pun terdapat pihak-pihak yang mengambil langkah inisiatif karena tidak senang dengan kinerja pihak keluarga kerajaan dalam menetapkan kebijakan yang selalu merugikan rakyat kecil seperti mereka. Pada dasarnya, pihak-pihak itu berharap banyak pada sang putri untuk membawa kepemimpinan yang lebih baik dan mempedulikan semua rakyatnya.


Di tengah keramaian dan desakan di antara para penonton, seorang anak kecil menarik lengan baju sang ibu saat mendapati kemunculan beberapa sosok di balik jubah berwarna hitam.


"Ibu, lihat! Tuan Putri sudah datang!" Bocah ingusan itu meninju kepalan tangannya ke atas dan berseru keras. Kemudian dia loncat-loncat kegirangan sembari menyuarakan tentang kedatangan sang putri yang telah dinantikan kehadirannya.


"Hidup Putri Zahard!"


"Putri! Kami mencintaimu! Kami mendukungmu!"

__ADS_1


"Tolong selamatkan kami, Putri! Pimpinlah kerajaan ini menuju kedamaian!"


"Gulingkan Raja Adamson!" Bahkan seorang remaja yang berumur kira-kira lima belas tahun dengan berani ikut memprovokasi nama sang raja yang masih menduduki tahta singgasana.


Berjalan menuju bangunan utama mansion kerajaan, suasana berubah menjadi hidup dengan suara riuh dari para pendukung di sisi kelompok Mavis. Halangan demi halangan ketika bertemu dengan prajurit yang berpatroli berhasil diatasi oleh para pendukung. Pada dasarnya kelompok Mavis hanya terus berjalan tanpa melakukan perlawanan sampai tiba di depan segerombolan pasukan inti kerajaan. Ratusan dari mereka mengepung keberadaan Mavis dan kelompoknya, di antara mereka juga terlihat beberapa petualang yang dibayar oleh pihak keluarga kerajaan.


Sampai di sini para pendukung menjadi ragu dan tidak berani berjalan lebih jauh lagi, mereka mematung ketika mengetahui pasukan kerajaan sudah bersiap menghadapi kedatangan mereka. Di hadapkan dengan sebanyak ratusan prajurit beratribut lengkap, Mavis sendiri dapat maklumi para pendukung yang terdiri dari orang biasa itu memiliki mentalnya terganggu dan berpikir lebih baik menyerah dari pada kehilangan nyawa. Oleh sebabnya, Mavis segera memberikan Instruksi kepada salah satu makhluk bayangannya untuk bertindak membereskan para pengganggu itu.


"Mulai dari sini kita akan berpisah sesuai dengan rencana. Kalian dapat menyusul setelah mengatasi masalah di sini." Mavis mengirimkan pesan tersebut kepada para makhluk bayangan yang datang bersamanya melalui sambungan telepati.


Segera tiga sosok maju ke depan dan melesat langsung menyerang barisan depan dari sisi pasukan kerajaan. Sebuah hantaman keras mendarat dan langsung menumbangkan belasan prajurit. Retakan gerbang tercipta akibat benturan dari para prajurit yang terpental. Giraldo di sisi lain sangat tenang sekaligus bingung dengan kekuatannya. Dia hanya mengayunkan tangannya dan setelahnya para prajurit itu dengan mudahnya diterbangkan layaknya layang-layang.


"Tuan, silahkan." Giraldo menggaruk kepalanya seraya memberi jalan kepada Mavis dan yang lain. Sementara itu, baik dari pihak prajurit kerajaan maupun petualang bayaran, mereka semua masih jatuh dalam keputusasaan ketika melihat kekuatan destruktif dari Giraldo. Mereka waspada dengan pergerakan sosok besar di balik jubah hitam itu dan tidak berani mendekat.

__ADS_1


Selama momen itu Mavis pun mengambil inisiatif untuk menerobos dan meninggalkan Giraldo, Luna, dan Isabella di belakang. Begitu para prajurit menyadari pergerakan baru, seorang pemimpin dari barisan terdepan membangunkan yang lain dari lamunan dan mencoba memblokir usaha kelompok Mavis untuk menerobos. Namun, hasilnya dapat dilihat sesudahnya. Giraldo lagi-lagi menerbangkan para prajurit yang mencoba menggagalkan usaha sang tuan untuk menerobos masuk. Bersamaan dengan itu Luna dan Isabella juga tak mau kalah, mereka dengan handal memainkan belati di antara para prajurit, satu persatu tumbang akibat kerusakan yang fatal.


"Sepertinya aku telah berlebihan dalam memandang tinggi pasukan ini. Tidak aku sangka mereka dengan mudahnya terintimidasi hanya dengan kemunculan Giraldo saja." Dalam hati Mavis berpikir ulang tentang rencananya.


Kalau begitu, mereka bertiga sudahlah cukup untuk menangani tempat ini, sementara Akio tidaklah diperlukan untuk membantu. Mavis berpikir Akio lebih baik bergabung dengannya masuk. Dia bisa menjadi bantuan personil ketika melawan para petualang yang sudah menunggu di dalam sana, itu akan menjadi dorongan besar dalam timnya.


"Lihatlah, para prajurit tidak berdaya melawan ketiga sosok itu!" Salah seorang penonton berteriak kegirangan. Pasalnya, setelah melihat adegan saat itu, siapapun dapat berpikir bahwa itu lebih cocok dikatakan sebagai acara pembantaian dibandingkan pengepungan.


Para pendukung pun kembali bersorak menyemangati dari jauh dan merasa harapan mereka perlahan kembali hidup.


"Kelompok di sisi Putri Zahard sangatlah kuat! Petualang bayaran berlencana hijau saja tidak berkutik di hadapan sosok besar itu! Lihat, kepala divisi prajurit saja muntah darah setelah menerima satu pukulannya."


"Dua sosok lainnya menurutku lebih misterius, mereka bergerak cepat membunuh prajurit dari pihak kerajaan."

__ADS_1


"Dengan kekuatan sehebat ini, aku yakin Putri berhasil menggulingkan sang raja!"


"Berjuanglah, Putri!"


__ADS_2