THE LORD OF THE ANOTHER WORLD

THE LORD OF THE ANOTHER WORLD
Chapter 20 : Bergegas Mengakhiri Pertempuran


__ADS_3

"Identitas pria itu sebenarnya adalah utusan dari kuil suci? Pantas saja aku merasakan ada yang janggal dari penampilannya, seperti sesuatu yang tak asing di ingatanku." Mavis jatuh dalam pemikirannya sesaat setelah mendengar pengakuan dari pria yang saat ini berada di sisi sang raja.


Benar saja apa yang dikatakan informan dari grup Hawk, satu sosok yang menyulitkan itu benar-benar muncul, juga ternyata itu adalah salah satu utusan dari kuil suci. Tempat tercela yang berisikan orang-orang berhati busuk! Mereka bertingkah di permukaan dengan mengatasnamakan pengikut para dewa, akan tetapi sejatinya mereka sendirilah yang telah mengkhianatinya. Mavis tau betul itu karena sudah mendengar cerita dari Yennefer saat tiga tahun yang lalu.


Tidak cukup dengan kebencian lama, saat kuil suci mengirimkan utusannya untuk membantai keluarganya, kini kebencian Mavis telah menumpuk dan mencapai puncak terdalamnya.


"Lancang! Beraninya kau menyerang Tuanku! Lihat bagaimana aku akan memberimu pelajaran!"


Ivar melepas jubahnya dan berniat maju untuk memblokir serangan panah angin. Namun, sayangnya langkahnya terhenti ketika Mavis mengangkat tangannya rendah, mengisyarakatkan kepada pelayannya itu untuk berhenti pada niatannya.


"Kau tidak mungkin bisa menahannya dengan akhir yang baik. Serahkan saja kepada Mikaela, kalian teruskan mengawasi pergerakan para petualang, jika Bulan dan Bintang mengalami kesulitan, kalian dapat pergi membantunya," kata Mavis lewat sambungan telepati dua arah.


Panah itu melesat pada kecepatan yang ekstrim, membawa kekuatan destruktif dari mantra sihir tingkat tinggi. Lantai yang dilewati serangan panah itu retak dan pada akhirnya hancur, begitupula atap aula yang berguncang lalu runtuh. Di sisi lain Mikaela pun sepenuhnya telah bersiap. Dia mengaum layaknya singa yang tengah mengamuk, sejatinya dia telah melepaskan hampir lima puluh persen dari kekuatannya untuk memblokir panah sihir itu.


Serangan itu pun datang dan Mikaela segera pergi menepisnya.

__ADS_1


Panah angin itu pun berpindah ke arah lain dan melesat menuju dinding aula. Dentuman keras terjadi saat serangan itu menerobos seluruh dinding yang dilewatinya, membuat lubang besar yang memperlihatkan sisi dari bangunan lainnya.


Puing-puing atap runtuh berjatuhan, sang raja panik dan menutup kepalanya dengan kedua tangan, takut sesuatu jatuh menimpa kepalanya yang berharga. Sementara itu di sisi yang bersebrangan kelompok Mavis masih diam dalam posisinya, sama sekali tidak terganggu. Bagaimanapun juga Mavis bukanlah remaja yang sama seperti dulu, dia sudah jauh berkembang dengan kemampuan individualnya, sama sekali tidak butuh bantuan dari para makhluk bayangannya untuk melindunginya dari sesuatu hal yang remeh seperti tertimpa reruntuhan.


"Tidak mungkin! Dia monster!" Aletta berkeringat dan menutup mulutnya saat mengetahui serangan terkuatnya itu berhasil ditepis dengan mudah. Padahal itu adalah sesuatu yang mustahil dilakukan.


"Kalian segera selesaikan ini, waktu kita tidaklah banyak," kata Mavis melalui sambungan telepati. Sebenarnya, bukan tanpa sebab Mavis memberikan instruksi tersebut, itu karena kelompoknya masih harus mempersiapkan diri menyambut portal dungeon yang akan muncul di sekitaran tempat kediaman raja ini.


Mavis tidak mungkin lupa dengan tujuan utamanya datang ke tempat ini. Mengesampingkan tentang mengambil alih tahta kerajaan ini, dia lebih peduli pada akuisisi dua ras kuno yang akan segera muncul dari balik portal dungeon. Kedua ras kuno itu akan menjadi bagian penting dalam rencana penyatuan benua.


"Tidak!" Aletta berteriak histeris dengan air mata yang mengalir.


Dia depan matanya sendiri satu persatu kawan seperjuangannya dibantai oleh dua sosok tersebut. Perasaannya campur aduk, antara sedih, marah, takut, gelisah, dia tidak bisa berpikir jernih dan jatuh terduduk di lantai karena kakinya lemas.


"Berhenti menangisi mereka yang telah mati! Bukan saatnya untuk kau berduka di tengah pertempuran!" Pria utusan kuil suci itu mengernyit kesal saat menatap Aletta yang kehilangan semangat bertarung.

__ADS_1


"Kalian para utusan kuil suci selalu menyembunyikan tipu muslihat di balik telapak tangan, memainkan trik licik, dan menghasut banyak pihak untuk memusuhi kelompok kami. Tidak berharap kematian akan menjadi sesuatu yang murah, kau harus menerima semua kemurkaan dari para leluhur kelompok kami!"


Mikaela menjadi emosional ketika mengingat kembali cerita lama yang dibicarakan Yennefer tiga tahun yang lalu. Sebenarnya semua awal kehancuran dari permusuhan kedua pihak, ras iblis dan para dewa adalah ulah dari kelompok kuil suci. Mereka memfitnah dan menghasut para dewa untuk memerangi ras iblis. Mereka menjebak kelompok iblis dengan bersaksi bahwa ras tersebut telah membantai banyak manusia dan ras lainnya yang tidak bersalah! Dibandingkan sifat para iblis yang kejam, para utusan kuil suci ini sebenarnya adalah iblis yang sesungguhnya!


Kala itu, meskipun ras iblis memiliki tempramen dan sikap yang buruk, mereka pada dasarnya tidak suka membunuh. Mereka juga hidup di wilayahnya, tanpa menganggu ras-ras yang lainnya.


"Kemunculan kalian adalah awal dari kehancuran benua atas peperangan besar. Kalian para sekumpulan serangga penghasut adalah sumber dari segala bencana!" Mikaela berkata lantang sembari melesat dengan kepalan tinjunya.


"Makhluk yang sangat tercela! Kalian tidak memiliki kualifikasi untuk menghakimi kuil suci kami! Kalian para pemuja iblis adalah keturunan yang disesatkan!" kata sang utusan seraya menarik jemari telunjuknya ke depan, membentuk gerakan seperti seorang penyihir yang tengah merapalkan mantanya.


Selanjutnya sesuatu yang mengejutkan pun muncul di depan mata penyihir yang saat ini masih terbujur dia atas lantai. Dia melihat sendiri utusan kuil suci itu melemparkan serpihan panah es seperti mantra miliknya. Pria itu seakan-akan menyalin semua kemampuan wanita itu dalam merapalkan mantra miliknya, ini sangatlah aneh. Terlebih hujan panah yang datang terasa lebih kuat dan hebat dibandingkan yang biasa dia lakukan. Seakan-akan utusan tersebut telah meningkatkan level sihirnya.


Mavis sendiri saja cukup terkejut dan mengakui bahwa utusan itu memang memiliki kemampuan yang unik. Namun sayangnya dia bertarung dengan Mikaela yang mana kemampuannya masih jauh di atasnya. Lain jika dia melawan makhluk bayangan seperti Ivar, mungkin dia dapat menang dengan mudah.


"Tidak peduli trik macam apa yang akan dilakukan utusan kuil suci itu, pada akhirnya semua hanyalah mainan anak-anak di matanya." Bintang menyuarakan pendapatnya sesaat setelah selesai dengan tugasnya. Berdiri di tengah dua mayat petualang, dia menonton dengan malas pertunjukan Mikaela yang akan bertarung dengan pria itu.

__ADS_1


__ADS_2