
Dibawah perintah langsung oleh sang raja, Lily beserta kelompoknya mendapatkan izin untuk segera melakukan tindakan penyelidikan. Berbicara soal kemampuan pendeteksi, dalam hal ini mereka menyerahkan tugas penyelidikan kepada Kim, salah satu pelayan bayangan Mavis yang memiliki kemampuan dalam hal mengendalikan pikiran, selain itu dia dapat melihat jauh ke dalam ingatan.
Para eselon atas itu hanya terdiam dan pasrah mengikuti apa yang dikehendaki sang raja, meskipun ada di antara mereka yang merasa tidak suka dan terhina, mereka masih tetap kooperatif saat Kim sedang melakukan pemeriksaan menyeluruh pada masing-masing dari mereka.
Beberapa saat waktu berlalu dan lebih dari setengah orang yang hadir di ruangan itu telah diperiksa, protes pun akhirnya dilayangkan oleh salah satu eselon atas yang merasa pemeriksaan ini tidaklah diperlukan dan hanyalah membuang-buang waktu. Menurutnya tidak ada cukup waktu lagi, mengingat kondisi di luar sana sangatlah genting dan membutuhkan penanganan yang serius sesegera mungkin, jika tidak ingin masalah ini semakin bertambah parah. Eselon atas yang bernama Toban itu pun dengan wajah tersenyum meminta sang raja untuk mengizinkannya agar bisa berpergian meninggalkan ruangan.
Semua orang yang hadir dalam rapat pasti menemukan kejanggalan pada pembawaan dan tingkah yang ditunjukan dari diri pria tersebut. Secara, dia merupakan eselon atas kerajaan yang masuk dalam lingkar generasi paling muda dan selalu berada di bawah pengaruh yang lebih tua. Dia yang biasanya hanyalah eselon yang selalu bertindak pasif dan juga penurut. Siapa sangka, saat ini orang sepertinya itu malah berani mengajukan permintaan kepada sang raja dengan pembawaannya yang tenang, bayangkan, begitu aneh bukan?
Merasakan hal serupa, Samantha pun diam-diam mulai menggunakan kemampuannya dan menyempitkan lagi jangkauan dari kemampuan penerawangannya. Fokusnya kali ini hanya tertuju pada Toban seorang, mengkonfirmasi apakah pria itu sejatinya adalah penyusup yang menyamar atau bukan. Di samping itu, Kim yang juga merasakan hal serupa mulai memiliki inisiatif dengan berjalan mendekati Toban.
"Aku yakin itu dia." Beberapa saat sebelum Kim berhasil menjangkau posisi Toban, Samantha berhasil mengindentifikasi pria tersebut, dia pun mengirimkan pesan melalui telepati kepada seluruh kawannya di ruangan itu. Sigap menanggapi ucapan Samantha, Kim segera melemparkan senjata rahasianya berupa jarum tajam tepat ke arah kening Toban.
"Cih, kalian sungguh merepotkan." Segera Toban mengaktifkan salah satu skill penyelamat dan berubah menjadi awan abu pekat, menghindari serangan yang dilancarkan oleh Kim, kemudian kembali mengambil pijakan beberapa meter dari arah belakangnya.
__ADS_1
"Mustahil!"
Semua orang yang hadir sepakat dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang penasihat Ugo. Mereka semua sama-sama terkejut melihat perubahan yang sangat mendadak ini, tidak ada yang menyangka bahwa orang yang beberapa menit tang lalu berbicara dengan mereka tiba-tiba berubah dan mengambil bentuk menjadi sosok orang lain. Bahkan Ugo sendiri yang merupakan penyihir berlencana merah, gagal menyadarinya.
Kini tubuh pria paruh baya itu perlahan menyusut dan nampak seperti seorang pria usia dua puluh tahunan. Rambutnya putih dan pendek, sorot matanya tajam, dan sebuah tato hitam kecil bergambar wajik terlihat di tengah-tengah keningnya. Sesaat dia tersenyum kecil, lalu mengedarkan pandangannya ke arah para makhluk bayangan yang hadir dengan maksud mengejek.
"Seperti yang diharapkan dari para entitas misterius yang dimaksudkan oleh Tuan Paris." Pria itu semakin memancarkan aura cerah tak terlukiskan, serta kabut mulai terlihat mengitari tubuhnya. Dia terlihat layaknya seorang manusia yang suci dan penuh dengan rahmat dari dewa, akan tetapi di saat yang bersamaan para makhluk bayangan dapat mengetahui jelas bahwa orang itu tak lain hanyalah seorang penista yang sesungguhnya! Aura suci yang memberi penekanam, menandakan bahwa sosok itu tak terhitung banyaknya telah membunuh orang tak bersalah dan melakukan kejahatan keji lainnya. Dia adalah salah satu orang dari kuil suci! Tempat berkumpulnya orang-orang busuk dan tercela.
Pendeta dari kuil suci itu memasang ekspresi menyeringai seraya mengerahkan jemarinya di kehampaan, layaknya seorang yang sedang menarik beberapa benang. Segera, tak butuh waktu lama adegan tak terlukiskan pun terjadi begitu saja, darah segar mulai berhamburan di antara para petinggi kerajaan, membasahi pakaian mereka yang sangat mewah dan terlihat mahal itu.
Teriakan histeris langsung terdengar, para eselon atas kerajaan itu mulai berhamburan dengan kaki yang bergetar, di antaranya bahkan ada yang tidak bisa bergerak atau terhuyung jatuh karena saking syok dan juga ketakutan. Di sisi lain sang raja yang menyaksikan dari atas singgasana ikut bergidik dan tak bisa untuk tidak bangkit berdiri.
Dalam hitungan detik hampir setengah dari eselon atas kerajaan tumbang. Mereka meledak layaknya bom, tidak tau pasti trik licik macam apa yang telah dipersiapkan oleh utusan dari kuil suci itu. Sampai-sampai para makhluk bayangan tidak ada satupun yang menyadarinya.
__ADS_1
"Lindungi Yang Mulia!"
Suasana saat itu sangat riuh dan tak terkendali, sampai suatu ketika momentum tak disangka-sangka itu datang. Tiba-tiba saja terdengar suara lantang dari arah dalam kerumunan para eselon atas kerajaan. Seorang pria paruh baya dengan wajah ditekuk menarik pedang dari sakunya dan mulai berjalan mendekat ke arah sang raja. Nampak dari pandangan para makhluk bayangan, pria itu terlihat jauh berbeda jika dibandingkan eselon atas kerajaan yang lain. Pria itu memiliki keberanian dan juga kesetiaan yang begitu terasa, selain itu penampilannya juga sangat mencolok. Pria itu memakai pakaian yang cenderung lebih biasa dan sederhana, jika saja Mavis hadir di ruangan itu, dia pasti akan merasa senang melihatnya. Mengapa demikian? Pasalnya Mavis memiliki kebiasaan yang tidak jauh berbeda yaitu dia lebih mementingkan kenyamanan dalam hal berpakaian dibandingkan kemegahannya.
"Lord Aragon, untunglah kau selamat!" Sang Raja berkata sembari menarik napas lega begitu mendapati kedatangan salah satu eselon atas kerajaan sekaligus teman yang sangat dia percayai itu. "Bagaimana dengan Dorothy, mengapa kamu tidak muncul bersamanya?"
"Dorothy? Dia selamat dan saat ini masih berada di tengah kerumunan...."
"Tu-tunggu...!"
"Yang Mulia! Sekarang bukan saatnya kau mengkhawatirkan keadaan orang lain, pikirkanlah keselamatanmu terlebih dahulu!" kata Lord Aragon dengan nada begitu tegas, terlihat wajahnya tidak bisa tenang, mengingat situasi saat ini sangatlah kristis.
"Ugo, mengapa juga kamu dari tadi hanya berdiri di tempat seperti patung? Segeralah bawa Yang Mulia pergi dan carilah tempat perlindungan yang aman! Juga, kirimkan pesan kepada para prajurit untuk mengumpulkan seluruh petualang yang berada di sekitar aula pertemuan, sekarang!"
__ADS_1