
"Bos, bisakah kita bicara sebentar? Sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu," kata Luka.
"Jika tidak ada kaitannya dengan misi, lebih baik kau tidak menggangguku, Luka. Ingatlah, tujuan kita di sini karena Tuan sudah memberi kepercayaan kepada kita untuk menyelesaikan tugas penting ini. Jangan membuat kekacauan yang tidak perlu, karena aku tidak ingin mengecewakan Tuanku."
Luka kehabisan kata-kata, dia pun terdiam sembari mengutuk pria di sampingnya itu dari dalam pikirannya. "Penting kau bilang? Bukankah sekarang ini kau lebih mirip seperti pesuruh? Aku lebih tau karena selama ini aku yang selalu bertindak atas perintahmu, Bos." Kemudian dia menatap sang pimpinan dengan wajah frustasi.
"Ini lebih penting daripada misi itu sendiri!" kata Luka dengan nada sedikit meninggi, dia pun mengubah ekspresinya menjadi lebih serius dari pada sebelumnya. Kali ini dia benar-benar sedang tidak lagi bercanda.
"Baiklah, bicaralah secukupnya," kata Hawk seraya fokus mengintai dua prajurit berzirah yang tengah mabuk.
Saat ini keduanya sedang dalam posisi mengintai dari arah luar kaca. Mengamati dan menunggu momen yang tepat untuk mendapatkan kedua prajurit yang tengah meneguk minumannya di dalam bar itu. Beranjak ke waktu sebelumnya, Luka selalu mengganggu Hawk di sepanjang jalan, mencoba bertanya akan tetapi Hawk selalu menghiraukannya. Namun, beberapa waktu lagi ini akan menjadi penentuan, mengingat lokasi mereka sekarang sudah berada di area terluar pasar, jika dia tidak bisa menangkap kedua prajurit tersebut, dia akan mengecewakan tuannya.
Hawk tidak ingin gagal pada misinya, dia tidak ingin Luka terus menghambat pekerjaannya. Oleh karena itu dia terpaksa mendengarkan apa yang ingin dikatakan lelaki itu. Terlepas apa yang akan disampaikan Luka nantinya, dia sungguh tidak peduli.
"Kalau begitu aku akan mulai." Sesaat Luka menarik napas panjang dan membukatkan tekatnya. "Bos, setelah lama mengikutimu, aku jelas banyak mengenal tentang dirimu. Kau telah menolong kami selamat dari kelaparan, memberikan kami tempat tinggal, menyelamatkan kami dari keputusasaan, dan memperlakukan kami layaknya sebuah keluarga ...."
__ADS_1
"Langsung saja pada intinya."
"Ah ya, maaf aku sedikit meragukan dirimu yang sekarang, Hawk. Maksudku, bukan karena kau tiba-tiba memutuskan untuk melayani anak misterius itu, hanya saja apa kau masih seorang Hawk yang kukenal? Hawk yang masih mempedulikan hidup kami para bandit? Kau bahkan melukai Bulg sebelumnya!"
"Kau mempertanyakan sesuatu yang tidak perlu, Luka. Hawk yang kau kenal masihlah diriku, tidak ada yang berubah. Hanya saja sekarang aku bukan lagi orang yang akan bertanggung jawab atas kalian. Dan soal Bulg, dia cukup beruntung mendapat kepercayaan dari Tuanku. Ingatlah, melayani Tuanku adalah sebuah kehormatan." Hawk sesaat tersenyum ke arah Luka dengan cara yang tak biasa. Namun, tak lama kemudian begitu melihat kedua prajurit keluar dari bangunan bar, Hawk segera pergi dari tempat sebelumnya.
Di sisi lain, Luka masih terdiam ketika Hawk sudah mengambil jarak beberapa langkah di depan. Dia masih mencerna perkataan yang baru saja dilayangkan pimpinan bandit itu. Dia masih tak percaya, dia bertanya-tanya pada diri sendiri. Mungkinkah dia baru saja berhalusinasi? Apa benar baru saja Hawk mengatakan bahwa dengan melayani anak tak dikenal itu adalah sebuah kehormatan baginya? Sejak kapan pria angkuh sepertinya menjadi begitu penurut layaknya seorang bayi?
"Di antara Ratu Ember dan adiknya Putri Juleaha, menurutmu siapa yang lebih mempesona?"
Prajurit itu menjatuhkan kawannya dengan malas. Suara benturan pun terdengar, cukup yakin itu sangat keras dan menyakitkan bagi sang pria gempal, akan tetapi sama sekali dia tidak terlihat khawatir, justru prajurit berkumis itu membuang tatapan kesal.
"Oh sial, ini akan banyak menghabiskan waktu! Lebih baik aku meninggalkannya saja di sini," kata prajurit itu seraya menoleh ke arah sekelilingnya. Setelah mengetahui di tempat itu tidak ada orang lain, selain mereka berdua, prajurit itu pun menghela napas lega. Pada dasarnya dia berniat pergi meninggalkan prajurit gemuk yang saat ini tengah terbaring di atas tanah.
"Jimmy, kau memang temanku yang baik hati. Kau mau ke mana? Oh ya, terimakasih sudah mengajakku minum ale yang sangat enak." Prajurit tambun itu tiba-tiba saja meraih kaki sang kawan dan membuat prajurit bernama Jimmy itu tidak bisa pergi melarikan diri.
__ADS_1
"Lepaskan Fatty! Maksudku, Shane. Biarkan aku pergi sebentar untuk membelikanmu obat pereda mabuk," kata Jimmy dengan senyuman palsu di wajahnya. Setelah beberapa waktu berlalu dan dia merasa bahwa kawannya itu tidak ingin melepaskan cengkramannya yang kuat, dia pun melanjutkan, "Aku janji akan segera kembali setelah mendapatkannya, jadi ayo lepaskan Shane! Sungguh aku tidak akan meninggalkanmu sendiri di sini, bukankah kita ini teman?"
"Kau benar, kita ini teman. Ya, akhirnya aku mempunyai teman!"
"Menjijikan sekali, lepaskan! Sebelum aku menendang bokongmu!"
"Tidak, jangan pergi. Temani saja aku ...."
Terlihat pemandangan menggelikan di antara kedua prajurit itu. Hawk yang sedang bersembunyi di balik dinding pun segera mengisyaratkan kepada Luka untuk bersiap. Telah tiba waktunya untuk mereka beraksi! Luka pun mengangguk dan memajamkan alisnya.
"Oh Dewa, aku terselamatkan! Kalian berdua, kemari dan tolong bantu aku melepaskannya!"
Prajurit itu tersenyum dan menunggu kedatangan dua sosok orang yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Kali ini Jimmy benar-benar percaya diri, merasa bahwa keberuntungan sedang berpihak padanya. Dia begitu percaya diri kalau dua orang itu pasti akan membantunya. Bagaimana tidak? Dengan mengenakan pakaian lengkap khas prajurit seperti ini, siapapun pasti akan menghormati dirinya. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk membuat koneksi dengannya, berharap untuk memperoleh posisi sebagai prajurit baru lewat rekomendasi darinya. Yah kecuali jika dua orang di depan sana hanyalah orang bodoh yang melewatkan kesempatan emas untuk mendapat perhatiannya.
"Hei, kalian ...."
__ADS_1