
Suara erangan terdengar dari gang tempat mereka berada, sekejap membuat penghuni pasar yang menangkap samar suara itu berhenti dan menoleh ke arah sumber suara. Masing-masing dari mereka pun mulai menerka, terjadi keributan lagi? Mungkinkah itu perampokan yang sudah direncanakan oleh para bandit pasar? Beberapa penghuni pasar baik itu para penjual, pembeli, ataupun para kurir yang lewat, mereka menghela napas seakan mengasihi kemalangan orang itu. Tak lama mereka kembali melanjutkan aktifitasnya masing-masing.
"Bos, mengapa kau menyerang Bulg? Apa kau lupa? Dia salah satu dari kelompok kami!" Luka pada akhirnya angkat bicara karena sudah tidak bisa menahan lagi melihat salah satu kawannya itu menjerit kesakitan. Dia berbicara kepada pimpinannya itu dengan suara meninggi, mencoba menyadarkannya.
Di sisi lain Mavis masih mengamati dengan tenang bagaimana satu sayatan pedang milik Hawk bisa meracuni tubuh anak buahnya itu. Namanya Bulg, dia saat ini mulai mengerang dan menjerit kesakitan, tangannya yang terkena sayatan terlebih dahulu berubah warna menjadi kemerahan. Kulitnya tampak seakan terbakar dari dalam! Dalam hati, Mavis benar-benar terketuk kagum karena baru pertama kalinya ini dia melihat reaksi dari racun yang sangat aneh, berbeda dengan apa yang dia ketahui di kehidupan sebelumnya.
"Baiklah cukup, Merlin kau bisa berikan penawarnya sekarang."
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Dengan pembawaan tenang, Merlin berjalan menuju bandit Bulg yang saat ini dalam keadaan jatuh tersungkur ke tanah sembari menahan rasa sakit yang teramat sangat. Setibanya, Merlin segera menyuntikan penawar itu ke tubuh Bulg. Sesudahnya, dia pun berjalan kembali mendekat ke sisi Mavis.
Melihat kondisi bandit itu perlahan mulai membaik, Mavis pun tersenyum dan menoleh ke arah Merlin, "Kerja bagus, terimakasih Merlin."
"Tuan terlalu banyak memujiku," kata Merlin dengan nada datar. Meski di permukaan dia terlihat tidak acuh, tapi kebenarannya adalah dia sangat senang mendapat pujian dari tuannya itu.
Setelah melihat Merlin mengambil kontribusi sendiri, baik itu Luna, Isabella, dan Bellatrik buru-buru berjalan mendekat dengan mata berbinar. Mereka pada dasarnya tidak terima karena hanya Merlin yang mendapat pujian, padahal mereka bertiga juga membantu dia membuat penawarnya.
"Kalian ini...."
__ADS_1
Mavis kehilangan kata-katanya untuk beberapa saat.
Namun, tak lama Mavis menghela napas sebelum pada akhirnya melanjutkan perkataannya, "Baiklah, karena kalian juga sudah banyak membantu Merlin, kerja bagus untuk kalian!"
Mereka pun bersuka cita dan tak bisa berhenti tersenyum dari balik jubah hitam yang mereka kenakan itu. Mavis sendiri tak ingin ambil pusing dan segera memfokuskan kembali pandangannya ke arah bandit Bulg yang saat ini sudah kembali dalam kondisi normalnya. Bandit itu masih duduk terdiam seraya memandang ke arah kawanan bandit lainnya dengan tatapan tidak percaya. Sebelumnya, dia pikir hanya kematian yang akan segera dia dapatkan. Terlebih dia tahu betul tentang rahasia racun milik bosnya itu yang sangat mematikan.
Dengan banyak keringat yang jatuh dan membanjiri dada bidangnya, Bulg perlahan bangkit dan mulai menangis layaknya seorang anak kecil. Segera dia berlari ke arah kawanannya itu dengan penuh syukur. Begitu pula para bandit lainnya yang menyambut Bulg dan memeluknya. Pada dasarnya tidak ada satupun di antara mereka yang berpikiran Bulg akan selamat.
Sungguh tontonan yang sangat memalukan bagi kawanan bandit, Mavis sendiri memilih memalingkan wajahnya. Entah mengapa dia sendiri merasa malu. Dia bahkan sempat mempertanyakan identitas masing-masing dari mereka. Benarkah mereka ini sekawanan bandit yang dirumorkan?
__ADS_1