
Neon City adalah nama ibu kota dari kerajaan Es, di kota tersebut terdapat sebuah istana yang megah nan indah, dalam ruangan tahta terdapat berbagai sekumpulan manusia yang lagi sibuk.
Di atas kursi tahta Raja, ada seorang dengan paras yang tidak begitu Tua, dengan rambut biru dan mata biru, dengan otot yang tidak begitu besar.
Pria tersebut adalah Raja dari kerajaan Es yang bernama Amodios lll, pagi - pagi sekali dia telah menerima sebuah kabar yang tidak mengenakkan, berita tersebut berupa tewasnya salah satu Jendral Kerajaan.
Ketika mendengar berita tersebut, Amodios dengan cepat membentuk sebuah rapat dengan para mentrinya, untuk membahas masalah tersebut.
"Kita sudah dengar beritanya, bahwa salah satu Jendral kita telah dibunuh, Jenderal tersebut yang telah kita tugasakan untuk menangkap penyusup yang ada di Kota IceCream." Amodios berbicara sambil mengeluarkan aura dinigin, yang sangat menyakitkan.
Para hadirin yang hadir dalam rapat tersebut, merasakan dampaknya, sampai - sampai membuat mereka terdiam seperti patung, melihat para menteri yang tidak menyuarakan, Amodios pun menambahkan pembicaraannya.
" Masalah ini, adalah sesuatu yang tidak bisa di remehkan, jadi maka dari itu, aku memerintahkan Hill William Shakespeare sebagai penanggung jawab dalam menangani masalah ini." Kemudian Amodios melirik kearah Hill.
"Hill William Shakespeare!"
"Ya, Yang Mulia!" Mendengar namanya dipanggil, dia langsung maju menghadap Amodios dengan berlutut.
"Apakah dirimu bisa menyelesaikan masalah ini?"
"Yang Mulia, pertama saya mengucapkan terima kasih kepada anda, karena telah mempercayakannya kepada saya. Yang Mulia, anda tidak perlu khawatir, saya pasti akan menangkap pelaku tersebut dan menyeret kehadapan anda." Dengan percaya dirinya Hill, meyakinkan bahwa dia akan berhasil melaksanakan perintah Raja.
Hill berbicara dengan percaya diri itu bukanlah suatu omong kosong belaka, pasalnya dia adalah seorang Jenderal besar dan masih berjaya walaupun usianya sudah mulai tua.
Dalam peperangan terakhir melawan bangsa kegelapan, dia telah memperoleh banyak sekali prestasi di medan perang, sampai-sampai dia dijuluki sebagai Dewa Perang.
Mendengar perkataan yang penuh dengan kepercayaan dari Jenderal senior itu, membuat Amodios mengeluarkan senyuman nya, Amodious mulai berbalik mengarah kelainnya.
"Apakah ada keberatan?"
Tanya Amodios kepada seluruh menterinya, tapi mereka hanya diam, tidak berani mengungkapkan suaranya.
"Baiklah, karena kalian semuanya diam, aku anggap semuanya setuju." Amodios ketika selesai berbicara, pada saat itu pula seorang pria, yang berada di belakangnya mulai membisikan sesuatu kepadanya.
Pria tersebut adalah penasehat istana, Amodios mengisyaratkan untuk mengambil alih pembicaraan. Penasehat tersebut mengerti apa yang di maksud Amodios, dia langsung maju ke depan dan berbicara.
"Baiklah semuanya, pertemuan ini sampai disini saja, kalian boleh membubarkan diri."
Ketika selesai berbicara, dia pun keluar mengikuti Amodios.
__ADS_1
****
Amodios berjalan menyusuri koridor istana, dan di belakangnya penasehat istana yang bernama Queiroz Milo, yang memiliki usia 85 tahun.
Queiroz telah menjadi penasehat Kerajaan selama 3 generasi, dan dia termasuk orang terpercaya yang dimiliki Amodios.
Amodios menganggap Queiroz seperti kakeknya sendiri, dia pun memanggil nya dengan sebutan kakek Queiroz.
"Kakek Queiroz, apakah mereka sudah berada di ruangan?"
tanya Amodios.
"Sudah Yang Mulia."
jawab Queiroz.
"Hem, kek, kamu tidak perlu melakukan perhomatan seperti itu."
"Maafkan saya, Yang Mulia, saya tidak berani."
"Hem.. kalau begitu kek, ada ide kenapa mereka ke Kerajaan kita."
"Saya tidak tahu, yang Mulia, tapi saya rasa mereka datang kemari pasti ada hubungannya dengan kejadian baru - baru ini, Yang Mulia."
"Yang Mulia, kita sudah sampai."
Queiroz menunjukkan sebuah ruangan, seketika itu Amodios juga berhenti dan melihat ruangan tersebut.
"Jadi mereka menunggu disini, kalau begitu ayo kita masuk.
Amodios dan Querioz memasuki ruangan, ruangan yang di masukin mereka, adalah sebuah ruangan yang memiliki fungsi untuk menyambut tamu, dari Kerajaan lainnya.
Di dalam ruangan tersebut hanya berisikan beberapa kursi dan satu meja, luas dari ruangan ini, sangat kecil, tapi cukup untuk menampung beberapa utusan dari negara lain.
Ketika menginjakan kaki di ruangan, Amodios melihat dua orang yang memiliki pakaian berwarna putih keseluruhan, dan dibalut dengan sebuah jubah putih, ke dua orang ini, adalah wanita dan pria, yang berasal dari sebuah Gereja yang ada di Ibu kota.
Gereja adalah salah satu, tempat keagamaan yang didirikan oleh Kerajaan Cahaya, di Gereja mereka menyembah yang namanya Dewi/Dewa Cahaya.
Bukan hanya itu, Gereja juga memiliki tujuan lain, yaitu untuk mengawasi setiap negara, yang melakukan suatu tindakan penghianatan terhadap Kerajaan Cahaya.
__ADS_1
Melihat Amodios memasuki ruangan, utusan dari Gereja tersebut melakukan penghormatan dengan membungkuk sedikit.
Melihat itu Amodios langsung menghentikan mereka, dengan mengangkat tangannya kedepan.
"Ada perlu apa, sampai pihak Gereja datang kemari."
"Untuk permulaan, saya sebagai perwakilan Gereja, mengucapkan terima kasih kepada Yang Mulia, yang telah membukakan pintu buat pihak Gereja. Adapun perihal saya datang kemari untuk menyampaikan kepada Yang Mulia, ada sebuah perintah yang datang dari Kerjaaan Cahaya yaitu untuk membawa seorang pria bernama Both Halima."
Seorang wanita yang berbalut dengan pakaian putih, berbicara kepada Amodios, serta memberikan sebuah gulungan, yang berisikan sebuah perintah dari Kerjaan Cahaya.
Amodios mengambilnya, selanjutnya dia membaca isi dari gulungan tersebut, dia pun tidak lupa memberikannya kepada Queiroz.
"Kakek, gimana menurut mu."
"Yang Mulia, ini emang benar dari Kerajaan langsung, tapi saya tidak mengetahui tujuannya."
Amodios berbalik ke arah utusan tersebut, "jadi kenapa kalian menginginkan seorang yang telah sakit seperti itu?"
"Tidak ada tujuan khusus, kami hanya ingin mengobatinya saja."
"Seperti itu kah, sangat aneh kalian repot-repot untuk melakukan semua itu."
"Yang Mulia, ini semua berkat Dewi Cahaya, telah memerintahkan kepada para pengikutnya untuk melakukan kebaikan, jadi ini semua murni karena kebaikan dari Kerajaan Cahaya."
"Lakukan apa yang harus kamu lakukan, apapun terjadi aku pasti tidak bisa menolak."
"Terima kasih Yang Mulia, karena berbaik hati, kalau begitu kami mengundurkan diri dari sini."
Sesaat kemudian, di ruangan ini hanya tinggal berdua saja, melihat utusan tersebut sudah pergi, Amodios menjatuhkan dirinya di sebuah sofa, sambil mengacak-acak rambutnya.
"Kek, sampai kapan kita bisa terbebas dari belenggu mereka, kita bagaikan tikus tak berdaya, kek."
"Yang Mulia, mohon maaf saya tidak bisa memastikannya."
"Hem.. kek kalau begitu tinggalkan aku sendirian."
"Baik Yang Mulia."
Queiroz pun keluar dari ruangan tersebut, hanya tinggal Amodios.
__ADS_1
Amodios dengan pikiran yang menumpuk, membuat dirinya mengalami sakit kepala, belakangan ini Kerajaan telah menerima masalah bertubi-tubi, dan lagi sialnya masalah tersebut belum juga selesai.
Dengan perlahan-lahan dia menutup matanya.