
"Ok."
Kami pun berjalan ke gerbang kota, selama perjalanan aku melihat di jalanan sangat ramai prajurit, mungkin ada kejadian tadi pagi mangakanya ramai, para prajurit itu memakai pakaian baja berwarna biru, dengan senjata seperti tombak es, mereka dipimpin oleh seorang pria, mungkin itu jenderal. Pria itu mengenakan kapak es yang sangat besar dipunggung nya, dengan otot-otot yang sangat besar sangat cocok menggunakan senjata kapak yang besar, dia juga ditutupi dengan baju zirah yang tampak sangat berat pria itu bisa digambarkan pria yang tangguh dan tegas.
"Kalian tunggu disini, ya."
ucap ku kepada ke dua kakak beradik tersebut.
"Baik tuan."
Aku berjalan meninggalkan kedua kakak beradik tadi, dan menghampiri prajurit penjaga gerbang.
"Permisi,"
sapa ku
"Ya, ada apa?"
"Aku ingin bertemu dengan kapten penjaga gerbang."
"Dia lagi tidak disini, dan ada perlu apa kamu mencarinya?"
"Begini tuan, kemarin saya tidak memiliki tanda pengenal, jadi kapten mengatakan untuk membawa tanda pengenal ku jika sudah ada."
Sambil memberikan tanda pengenal Hunter ku.
"Baiklah biar aku cek dulu". Sambil melihat-lihat tanda pengenal ku, "ok tanda pengenal mu benar, dan kamu bebas untuk keluar kota dan masuk, tapi untuk hari ini semua orang di kota tidak dibolehkan untuk keluar kota untuk sementara, jadi kamu tidak boleh keluar kota."
"Memang ada apa?"
"Ada seorang penyusup datang ke kota, jadi semua orang harus diperiksa, mangkanya semua orang tidak boleh untuk keluar kota."
'Jadi dia Belum ditemukan.'
"Baiklah kalau begitu, aku permisi."
Aku pun pergi meninggalkan penjaga tersebut, dan menghampiri kakak beradik tersebut.
"Sepertinya lagi ada pelarangan untuk meninggalkan kota bagi semua orang."
"Jadi kita bagaimana tuan?"
Mereka berdua berbisnis sambil berkaca-kaca.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku ini adalah seorang Hunter terkuat, jadi tidak akan ada yang bisa menghalangi aku."
"Tapi tuan, tuan hanya Hunter peringkat F."
"Peringkat itu hanya sebuah peringkat, itu tidak menentukan kekuatan seseorang, kalian percaya aja sama aku."
"Ya tuan," sambil menundukkan kepala mereka "jadi tuan kapan kita ke desa ku?"
"Sepertinya kita tidak perlu ke desa ketempat kalian, kita langsung menuju ketempat dimana orang tua kalian itu di culik."
"Tapi tuan, kita hanya bertiga, jika kita ke desa, kita Bisa meminta bantuan penduduk desa."
"Tidak perlu, aku sendiri aja bisa menyelamatkan orang tua mu, dan lagi apa yang bisa dilakukan penduduk desa, mereka hanya menghalangi ku saja, jadi kalian santai saja."
"Baiklah tuan, kita akan ke hutan salju, disitu kemungkinan orang tua ku dibawa oleh monster itu."
"Oke, kita akan berangkat."
Aku langsung mengangkat mereka di bahu ku, si kakak sebelah kanan, dan adik sebelah kiri, aku pun berlari dengan cepat dengan shadow step.
"Tuan!, A - apa ini, uuoh...uuoh." Mereka menjerit dan ketakutan akibat aku menggendong mereka dengan tiba-tiba, dan berlari dengan cepat.
Dalam sekejap mata kami sudah berada diluar tembok kota.
"Arah mana hutan salju berada?"
Tanya ku, dalam keadaan menggendong mereka dan berlari
"A - apa tuan, aku tidak mendengar nya," kata si kakak
"Uechhh....," Maaf tuan a-- aku tidak sengaja."
Akhirnya si adik muntah, dan mengenakin baju ku.
"A - rghh... Kalian ini."
Aku pun berhenti di suatu tempat acak, dan di dekatnya ada air kolam kecil, dan aku membersihkan bekas muntahan tadi di kolam tersebut, dan mereka hanya terdiam dan menunduk mungkin karena mereka merasa bersalah.
"Aku ingin kalian menceritan kronologi sampai orang tua kalian diculik."
__ADS_1
"Baik tuan, kejadian bermula pada malam hari, saat orang tua ku pergi berburu. Sebenarnya ini salah kami tuan, karena kami ingin memakan daging konon, kami membuat orang tua kami pergi kehutan salju, padahal kami tau hutan salju itu sangat berbahaya, dan tidak sampai situ saja tuan, karena kami penasaran, kami juga mengikuti orang tua kami tuan, dan d - ditengah-tengah perjalanan mengikuti ayah, kami diserang oleh monster laba-laba itu, akibatnya ayah kami datang menyelamatkan kami, karena ayah kami diculik Monster itu kami jadi bisa melarikan diri tuan".
Si kakak menjelaskan sambil menangis - nangis tersedu - sedu.
" Iya itu benar salah kamu, tapi kalian itu masih anak-anak jadi kalian tidak perlu menyalahkan diri sendiri, semoga aja ayah kalian masih hidup, jadi dimana itu hutan salju?"
"Terima kasih tuan, hutan salju ada didepan tuan, dibalik hutan itu."
Sambil menunjukan jarinya ke depan
"Oke, kalau begitu kalian kembali la kerumah kalian, dari sini biar aku saja sendiri."
"Tapi tuan, kami ingin ikut."
"Apa yang bisa kalian perbuat, kalian hanya menghalangi ku saja."
"Tapi-."
"Tidak ada tapi - tapian, jika kalian masih mau ikut, aku tidak akan menyelamatkan ayah kalian, dan juga desa kalian dari sini sudah tidak jauh lagi."
"Baiklah tuan, kami akan mengikuti perintah mu."
"Ya uda sana, pergilah."
Mereka pun pergi, dengan kepala menunduk dengan sedih. Tinggal aku sendiri aku disini.
Saatnya aku berburu kepala laba-laba.
Akupun berlari dengan kencang mengarah ke hutan salju. Selama perjalanan aku melihat beberapa monster di tengah-tengah hutan, aku tidak memiliki waktu mengurus mereka, jadi aku membiarkan mereka berkeliaran sesukanya.
Beberapa saat kemudian aku sampai juga di hutan salju, sekarang aku tau kenapa hutan ini dikatakan hutan salju, karena sejauh aku memandang aku hanya dapat melihat salju, dan pohon-pohon juga ditutupin dengan salju yang tebal dan aku juga merasa bahwa aku pernah berada disini, tapi aku tidak ingat.
"Sekarang, bagaimana aku mencari Monster itu."
Sambil melihat sekeliling dan tidak menemukan satu pun makhluk hidup.
"Aku kok begitu bodoh ya, aku kan mempunyai skill radar."
Skill radar adalah skill yang membuat pengguna mendeteksi makhluk hidup dari kejauhan dan juga bisa mengetahui apakah itu monster atau makhluk lain.
Aku pun memejamkan mata ku, dan melambaikan tangan ku ke arah kanan dan menyebarkan elemen kegelapan keseluruhan penjuru hutan, dengan ini aku bisa mengetahui keberadaan monster tersebut.
Sesaat kemudian aku menyadari, kenapa aku merasa tempat ini sangat familiar, ternyata hutan ini adalah tempat dimana aku terbangun dari tidur ku, tapi aku merasa ada sesuatu yang aneh yaitu salah satu elemen kegelapan yang aku sebarkan telah menghilang tanpa jejak, apakah itu salah satu monster itu atau makhluk lain, yang pasti kalau disini saja aku tidak akan bisa mendapatkan jawabannya.
Sesampai aku disana, aku menemukan sebuah reruntuhan sejarah dan sekelilingnya ada penghalang yang cukup kuat melindungi reruntuhan biar tidak ada yang masuk ke reruntuhan tersebut, reruntuhan ini berbentuk 'Parthenon' dan seluruhnya dibuat dari es.
Aku ingin melangkah masuk, tapi tiba-tiba salah satu elemen ku, telah menemukan keberadaan monster laba-laba, aku pun bergegas pergi dari reruntuhan ini, aku berpikir bahwa memasuki reruntuhan ini bisa ditunda, yang terpenting adalah menyelamatkan manusia dan menaklukan monster.
Sesampainya aku di dekat sarang laba-laba, sarang laba-laba itu terbentuk seperti gua, dan gua tersebut di bentuk dari jaring laba-laba es, dan ada duri-duri dipinggir jaring tersebut.
Aku juga merasakan adanya Manusia didalam gua tersebut, jumlah Manusia tersebut ada 10, yang mana 5 telah mati dan 5 lagi dalam setengah mati, aku tidak yakin yang mana ayah anak-anak itu, tapi yang penting aku akan menyelamatkan mereka semua.
Aku pun mengambil sebuah pedang di dalam dimensi Parsial, pedang ini bukan la pedang hitam yang biasa aku pakai, ini hanya pedang biasa.
"Baiklah mari kita masuk."
Gumam ku, seraya melangkah kaki menuju sarang laba-laba salju.
Setelah aku memasuki kedalam gua tersebut, aku merasakan aura disini sangat mencekam, bagaikan dicekik tangan raksasa di leher, aku terus berjalan dan sampai lah aku ditempat sang laba-laba berada.
Laba-laba tersebut berada di atas jaring laba-laba yang berbentuk es dan keadaan tertidur, dan dibawahnya terdapat 5 Manusia yang masih hidup dan dibawah lantai nya terdapat manusia telah mati, manusia hidup tersebut terlilit jaring laba-laba es menutupi seluruh tubuhnya. Karena ini mereka dalam kondisi setengah mati.
Aku pun melangkah mendekati laba-laba itu, tapi satu langkah aku mendekat, laba-laba itu pun terbangun.
laba-laba tersebut membuka matanya dan bangkit serta mengeluarkan raungan,
"ROARRRRRR."
Raungan yang begitu kuat, sampai membuat area sekitar bergetar kuat.
Tanpa jeda sedikit pun monster itu langsung menyerang aku dengan jarum es nya yang keluar dari badannya dan terbuat dari jaringnya.
Aku pun diserang dengan hujan jarum es, aku pun menangkis semua jarum tersebut dengan pedang yang ku pegang di sebelah tangan kanan ku.
Aku pun berhasil menghalau semua serangannya, tidak ada satu pun yang mengenai ku.
Nampak bahwa serangannya tidak berhasil, Monster tersebut melototi aku dengan mata yang banyak.
Aku tidak tinggal diam menunggu Monster tersebut menyerang diri ku, aku pun langsung maju dengan cepat kearah Monster itu, dalam sekejap aku sampai di depan mukanya, aku pun langsung menyerang nya dengan pedang, dari atas ke bawah.
Aku pikir aku mengenai wajahnya, ternyata pedang ku ditahan dengan mulutnya.
"Cih," aku medecakan lidah ku, Ketika aku mau mencabut pedang ku, tiba-tiba pedang ku pun terputus.
__ADS_1
"KERETAK."
Aku pun langsung melepaskan pegangan pedang tersebut dan melompat kebelakang dengan salto dan mendarat di lantai.
Aku pun langsung mengeluarkan pedang hitam ku dan memegangnya ditangan kanan, aku berpikir bahwa jika aku tidak mengalahkan monster ini, aku tidak akan bisa menyelamatkan mereka, apalagi mereka tidak lagi keadaan yang baik.
Monster tersebut mengeluarkan laba-laba kecil, hingga kini Monster itu tidak beranjak dari singgasana nya.
Aku menyerang laba-laba kecil dengan menggunakan skill Flash Slash, dengan cepat aku menghabisi mereka, dan aku pun langsung menuju Monster besar tersebut aku pun langsung menyerangnya dengan 5 tebasan. Monster tersebut terbelah menjadi 5 bagian.
"Maaf aku tidak bisa bermain dengan mu lebih lama, aku harus memprioritaskan tujuan ku."
Gumam ku, sambil menyarung kan pedang di pinggang ku.
Aku melihat ke limanya yang terbungkus, yang terjatuh di lantai .
dan aku pun menyalurkan kekuatan elemen kegelapan ku kepada mereka, dengan cara aku meletakkan tangan ku di atas nya.
Beberapa saat kemudian bungkusan yang menutupi mereka terbuka, dan aku dapat melihat mereka, keadaannya sangat mengerikan mereka pun memiliki tampilan yang sangat pucat dan sekujur tubuh mereka terdapat luka-luka yang berbetuk lubang jaring dan tampilannya berwana biru dan masih mengeluarkan darah, luka ini diakibatkan oleh duri-duri yang berada di jaring laba-laba tersebut dan warna biru mungkin akibat racun dari duri-duri tersebut.
Aku tidak bisa mengobati mereka, soalnya aku tidak memilik kekuatan penyembuhan kepada elemen lain, kekuatan penyembuhan ku hanya efektif kepada yang memiliki elemen kegelapan yang sama dengan ku.
Dan sialnya aku tidak memiliki ramuan penyembuhan apapun, sepertinya aku menganggap remeh, sehingga aku tidak membeli ramuan penyembuh, yg bisa aku lakukan kepada mereka hanya memperlambat luka mereka dengan cara memasukan mereka ke dimensi parsial ku.
"Huft, tidak ada cara lain."
Gumam ku sambil, memasukkan mereka ke dimensi parsial ku.
Aku pun keluar dari sarang laba-laba ini dan Langsung menuju ke desa tempat anak-anak tadi.
Dalam sekejap aku sampai ke desa tersebut, di pintu masuk aku melihat banyak penduduk yang berkumpul dan aku juga melihat kakak beradik itu.
Ketika melihat ku mereka langsung berlari menghampiri aku.
"Tu- tuan, apakah orang tua ketemu?"
Ucpa si kakak dan adik.
"Maaf a-"
Sebelum aku menjelaskannya, omongan ku langsung dipotong mereka
"Jadi ayah ku telah mati tuan, huaaach..huaaach."
Mereka pun menangis
"Hei... Hei... Kalian kenapa menangis, maksudku aku tidak tau yang mana orang tua mu, aku menemukan lima manusia yang masih hidup, jadi aku membawa mereka sekaligus."
mereka pun berhenti menangis, "jadi tuan ayah kami masih hidup?"
"Kalau memang dia salah satu dari kelima ini, ya dia masih hidup, tapi di sarang laba-laba tersebut ada juga manusia yang mati, jadi itu belum pasti"
"Huaaaaach....huaaaaaaac."
Mendengar itu mereka menjadi menangis lagi.
Aku ingin menenangkan mereka, tapi Seorang pria tua datang menghampiri aku dengan berjalan membungkuk, kira-kira usia pria tua ini 70 tahun.
"Jadi kamu hunter yang disewa oleh Billi dan Billu?"
"Ya, dan kamu?"
"Oh... Maaf kan saya, saya kepala desa di desa ini"
Sambil membungkuk memperkenalkan dirinya.
"Aku Keosy seorang Hunter."
Aku mengikuti nya membungkuk.
"Jadi tuan Keosy, apakah kamu tidak menemukan orang tua mereka?"
"Panggil aja Keosy, antara iya dan tidak, soalnya aku tidak tau rupa orang tua mereka, jadi aku tidak bisa memastikan nya, di dalam sarang monster itu aku menemukan 10 manusia, yang lima telah mati, yang lima lagi masih hidup dan kelimanya aku bawa."
"Oh, begitu, jadi dimana mereka yang ke lima itu?"
"Mereka berada di dimensi parsial."
"Dimensi parsial itu dimana?"
"Susah menjelaskannya, yang penting mereka ini terluka, apabila aku mengeluarkan mereka dan tidak mendapatkan pertolongan segera mereka akan mati, jadi aku tidak bisa mengeluarkannya sekarang, dan aku ingin tanya apakah di desa ini ada yang bisa mengobati orang terluka parah? Apabila ada aku harap kalian segera mencari dan membawanya kemari, sehingga kita bisa mengobatinya."
Bersambung..
__ADS_1