The Shadow King

The Shadow King
Persiapan Perang


__ADS_3

10 jam sebelum pergerakan invansi para monster, di kediaman sementara Jenderal Hill, duduklah seorang yang sangat gagah, orang itu adalah Jenderal Hill, dan di sampingnya berdirilah gadis yang cantik, dia adalah asisten langsung dari Jenderal Hill.


Jenderal Hill, sedang memikirkan strategi apa yang terbaik dalam mempertahankan kota ini, di bantu oleh Wakilnya yang duduk di depan.


Tiba-tiba suara orang lagi mengetuk pintu terdengar, ketika ketukan ke 3, Hill mempersilahkan masuk orang tersebut.


"Silahkan masuk." perintah Hill, dan terbukalah pintu, kemudian masuklah seorang prajurit pria, yang rentang usia sekitar 25 tahun.


Prajurit itu menghadap kepada Jenderal Hill, dengan berdiri tegap, tidak akan berbicara sebelum di persilahkan.


"Ada apa?" tanya Jenderal Hill, kepada perajurit muda tersebut.


"Jenderal, saya membawa laporan dari para pengintai." Sebuah gulungan di serahkan kepada Jenderal Hill, disini yang bergerak adalah Asisten Jenderal Hill.


Asisten itu langsung menyerahkannya kepada Jenderal Hill, tanpa membuka isinya.


Sebuah gulungan kertas yang tipis berada di tangan Jenderal Hill, dia pun mulai membuka segel tersebut dan membaca isi dari laporan.


Laporan itu berisikan tentang, laporan mengenai pasukan monster yang telah mendekat ke benteng kota, dan jarak mereka sekitar 1 km, tapi para monster masih belum mulai menyerang.


Bukan itu saja, di dalam laporan dikatakan bahwa, para monster tersebut dipecah menjadi 4 bagian, yang empat bagian itu mengarah ke pintu masing-masing kota.


Jenderal Hill ketika membaca laporan tersebut, dia mulai mencari sebuah secarik kertas dan kuas, mulai menulis sesuatu.


Selanjutnya dia menyerahkannya kepada assisten cantik tersebut.


"Kamu panggil orang yang mempunyai nama di daftar kertas ini, suruh mereka menghadap, satu lagi kamu persiapkan senjata ku."


"Baik, Jenderal," kata Assisten cantik itu, sebelum dia pergi, dia menundukan kepalanya.


Jenderal Hill mulai berdiri, dan mengenakan baju besinya, Wakil Jenderal itu juga, mengikuti Jenderal Hill yang keluar dari ruangan.


Tujuan mereka adalah sebuah lapangan kota yang cukup luas, ada 10 ribu pasukan yang ada di kota ini di tambah 100 Hunter.


Para pasuka berkumpul di lapangan tersebut. Di sisi Jenderal Hill, dia tidak langsung menemui pasukan yang berkumpul, tapi melakukan urusan lain.


Jenderal Hill mulai berjalan ke arah sebuah tenda dengan ukuran 8x12 luasnya. Di dalam tenda itu sudah ada empat orang yang menunggu, orang-orang ini adalah para kapten pasukan yang di suruh Hill untuk menghadap kepadanya.


Melihat Jenderal Hill memasuki tenda, ke empat tersebut langsung berdiri, Jenderal Hill menyuruh mereka untuk duduk kembali.


selanjutnya Jenderal Hill yang duduk di depan mereka ber empat, Wakil Jenderal juga mengikutinya.


Di lihat dari cara mereka memandang Jenderal Hill, dapat di ketahui bahwa ke empat orang ini sangat menghormati Jenderal Hill.


Itu bukan lah tampa alasan, mereka adalah orang-orang yang pernah berperang bersama dan di pimpin langsung oleh Jenderal Hill.


Bukan hanya itu saja, bisa di katakan Jenderal Hill adalah guru mereka, walaupun itu secara tidak langsung.


Jenderal Hill mulai memberikan instruksi kepada mereka.


"Maaf terlambat, kalian pasti tahu, bahwa pasukan para monster sudah mendekat, dan mereka juga membagi pasukan mereka, jadi empat kelompok." Ketika selesai berbicara dia mengambil sebuah cangkir yang berisikan sebuah teh hangat dan meminumnya, setelah itu dia melanjutkannya.


"Jadi, sudah pasti, pasukan monster tersebut akan menyerang kota ini dalam empat arah, yang dimana empat arah itu, mengarah ke empat pintu kota ini. Jadi aku memerintahkan kalian untuk, memimpin pertahanan dalam masing-masing gerbang kota."


Ke empat kapten tidak ada menolak perintah langsung dari Jenderal Hill, malah mereka merasa itu sebuah kebanggaan, karena di percaya melakukan tugas yang penting.


Setelah selesai melakukan instruksi kepada mereka ber empat, Jenderal Hill, memerintahkan mereka untuk kembali kepasukan masing-masing dan mulai berjaga ke pos yang telah di berikan.


Karena tidak afa ada lagi hal yang harus di urus di tenda ini, Jenderal Hill memutuskan untuk keluar, dan menuju para pasukan yang sedang berkumpul.


Jenderal Hill, di ikutin wakilnya keluar dari tenda tersebut, mereka menuju ke sebuah lapangan, yang di mana para pasukan telah berkumpul. Tapi sebelum itu dia menuju. ketempat di mana senjatanya di letakan.

__ADS_1


****


Sebuah gerobak yang di dorong oleh 5 kuda pun datang, gerobak itu mengangkut sebuah peti berwarna hitam, peti ini persis seperti peti jenazah, hanya saja ukurannya lebih besar dari peti pada umumnya.


Orang-orang di sekitar mulai bercakap-cakap, karena mereka penasaran peti apa yang dibawa kuda itu, dan ada lagi yang menanyakan siapa yang mati.


Tapi ada satu prajurit yang perawakannya cukup tua, sekitar umur 60 tahun, tapi walaupun dia sudah tua, postur badannya masih tetap gagah tidak kalah dengan perajurit muda.


Prajurit ini yang bernama Andorl mulai memberikan jawaban kepada prajurit lain yang masih bingung mengenai peti mati tersebut.


"Hahahha, aku akan memberi tahukan kepada kalian." tawa yang kuat dari Andorl membuat beberapa prajurit memperhatikannya. ada satu saja.menanggapi pernyataannya.


"Hey, pak tua, kau ribut banget, kalau kau memang tahu, kasih tau kami."


"Cih,, sungguh anak muda yang tidak tahu sopan santun, oke aku akan mengasih tahu kepada kalian, yang masih hijau ini. Apa yang ada di dalam peti itu, merupakan sebuah tombak."


"Hey pak tua, jangan ngawaur kamu, gak kamu lihat itu kudanya menariknya seperti apa, sudah jelas kuda itu keberatan, kalau kamu bilang itu tombak, itu tidak mungkin."


kata seorang prajurit yang tidak percaya dengan apa yang di katakan Andorl.


Memang akan sulit di percaya kalau itu adalah sebuah tombak, sebab tombak mana yang memiliki berat seperti itu, sampai 5 kuda belum cukup baik untuk membawanya.


"Huh... anak muda zaman sekarang, tidak tahu sejarah negaranya sendiri, ya sudah lah, kalau kalian percaya atau tidak, lebih baik kalian tunggu dan lihat saja nanti." Andorl pun meninggalkan pemuda-pemuda tersebut dan kembali ke barisannya.


****


Di sisi Jenderal Hill, mereka sedang berjalan menuju tempat gerobak yang membawa senjatanya, dalam perjalanan, Jenderal Hill berjumpa dengan Assistennya yang menghampirinya setelah selesai melakukan tugasnya, dia langsung melaporkan kepada Jenderal Hill, bahwa semuanya telah selesai di siapkan, setelah itu, Jenderal menyuruhnya untuk berjalan di samping kanannya, yang dimana Wakil Jenderal berada di sebelah kiri.


"Bagus, tapi aku lupa menanyakan sesuatu pada mu. Aku ingin tahu, berapa jumlah Hunter yang ikut dalam mempertahankan kota ini?" Hill bertanya kepada Assistennya.


"Itu hanya 100 orang Jenderal." mendengar apa yang di katakan Asistennya Jenderal Hill menaikan alisnya satu, karena sedikit kesal.


"Hanya 100, aku tidak terkejut, seperti yang aku duga, jadi tidak sampai setengahnya, ya."


"Iya, dalam 100 orang tersebut berapa class yang tertinggi?"


"1 Class A. yang lainnya adalah C, kalau Class yang di bawah C tidak ingin ikut andil dalam pertahanan kota."


"Dan Class A itu, dari Squad mana mereka?"


"Mereka adalah, Squad yang baru saja di angkat, karena telah mengalahkan laba-laba salju, dan mereka juga orang pertama yang telah menemukan makam tersebut."


"Jadi selebritis itu ya, ngomong-ngomong berbicara tentang makam, apakah laporan yang di kirimkan oleh serikat Hunter, apakah itu benar?"


"Saya telah melakukan penyelidikan lanjutan atas instruksi anda Jenderal, tapi itu tidak dapat berlanjut, karena saksi tiba-tiba mati , setelah mengatakan yang ada di laporkan, jadi saya mengambil kesimpulan bahwa, laporan itu 90% benar, Jenderal."


"Jadi dia mati setelah memberikan kesaksian, dan kematiannya tidak di ketahui?"


"Ya, Jenderal."


"90% laporan itu benar, yang di mana laporan tersebut mengatakan bahwa sumber bermunculannya para monster belakangan ini, ber asal dari makam tersebut, makam yang 1000 tahun lamanya, dan baru sekarang muncul, kemungkinan ada orang yang memicu untuk membuka segelnya, dan orang itu kemungkinan orang yang pertamakali yang menemukan makam."


Hanya sebentar mendengar laporan yang di berikan Assistennya Jenderal langsung membuat alisanya yang akurat.


"Seperti yang anda pikirkan Jenderal, kemungkinan Squad tersebut merasa bersalah, dan mereka pun bersedia untuk membantu mempertahankan kota, padahal mereka bukan berasal dari kota ini, melainkan dari Ibu Kota."


"Iya, belum tentu mereka yang melepaskan segelnya. Apakah para Hunter yang tidak ikut dalam pertahanan sudah di data.? Jenderal bertanya kepada Asistennya.


"Ya, Jenderal, semuanya telah di data," kata Asistennya. Kemampuannya dalam melakukan pekerjaan sanga baik.


"Bagus, setelah selesai masalah ini, aku ingin kamu melaporkan ke serikat Hunter, untuk mencabut nya lisensi Hunter mereka."

__ADS_1


"Ya Jenderal, saya akan melaksanakan seperti yang anda perintahkan."


Akhirnya mereka sampai di sebuah lapangan kota, ketika itu terdengar lah sebuah suara merdu langkah kaki kuda.


Kuda tersebut adalah, gerobak yang membawa senjata Jenderal Hill, yang di tutup dengan sebuah peti jenazah berwarna hitam, gerobak itu menghampiri Jenderal Hill, dan berhenti.


Kemudian muncul 5 orang dari pasukan yang sedang berkumpul, dengan postur tegap, mereka ini bukanlah orang biasa, melainkan pasukan elit, yang di miliki Jenderal Hill.


Ke lima itu, menghampiri gerobak tersebut, dan mulai mengangkat peti, ketika di angkat, gerobak tersebut menjadi terlihat seperti kehilangan beban.


Ada alasan khusus kenapa mereka yang di tugasakan mengangkat peti, di karenakan jika orang biasa tidak akan sanggup, hanya yang telah di latih secara khusus yang bisa mengangkatnya.


Walaupun telah dilatih secara khusus, mereka masih terlihat sangat keberatan. Itu menunjukkan bahwa senjata dan peti memiliki berat yang tidak manusiawi, walaupun di dunia ini tidak ada yang manusiawi.


Perajurit tersebut membawa ke hadapan Jenderal Hill, dan mereka meletakkannya, ketika peti tersebut di jatuhkan ke tanah yang bersalju, sebuah suara yang kuat terbentuk serta salju di sekitar berhamburan.


Ke lima itu hormat dengan berlutut kepada Jenderal Hill, Hill menerima hormat mereka, dan menyuruhnya kembali ke barisan.


Setelah itu, Wakil Jenderal berbicara kepada Hill.


"Jenderal, apakah anda, berencana menggunakan senjata ini?" Wakil Jenderal merasa bingung, kenapa Hill menggunakan senjata ini, padahal yang di lawan hanyalah sekolompok monster.


Disini sebagai Wakil Jenderal, dia belum mengetahui, krisis yang akan di alami kota ini, Sesungguhnya Jenderal Hill merasa, Wakilnya belum cocok berada di sampingnya, bukan karena kemampuan bertarung atau kepintarannya, tapi melainkan pengalamannya, bisa di katakan dia terlalu muda untuk menjabat sebagai wakil Jenderal, karena ini permintaan Raja, jadi dia menyetujuinya untuk menempati posis Wakil.


"Ya." jawab singkat, Jenderal Hill, karena tidak ingin memperpanjang percakapan.


"Yang saya ketahui, bahwa senjata itu adalah sebuah pusaka dari keluarga Shakespeare."


"Ya benar." Lagi-lagi Hill menjawab dengan singkat.


"Kalau begitu, Jenderal apakah anda, akan serius dalam pertarungan ini."


"Kalau begitu cara berpikir mu, kamu itu belum pantas untuk berada di samping aku. Jangan pernah menganggap remeh Setiap pertarungan, walaupun pun lawan mu orang bodoh sejalipun, tapi jika kamu mau, mati konyol lakukanlah." Hill berbicara secara blak-blakan, tanpa ada yang di sembunyikan.


Hill memiliki sifat yang suka terus terang jika berbicara, selama ini dia hanya menahan untuk tidak mengatakannya, karena belum ada waktu yang tepat.


Ketika mendengar itu, Wakil Jenderal Thomas Arya, menggigit bibirnya, karena telah melakukan hal bodoh, di depan seorang yang sangat di kaguminya.


Jenderal Hill sudah melangkah meninggalkannya, dan menghampiri peti tersebut, melihat itu, Thomas Arya bergegas mendekati Jenderal Hill.


"Jenderal Hill, maafkan saya karena berkata hal yang bodoh." Thomas Arya memohon perminta maaf dengan menundukkan kepalanya.


Mendengar itu, Jenderal Hill berbalik melihatnya.


"Angkat kepala mu, aku harap kamu tidak akan melakukan lagi." Jenderal Hill, masih memberikan dia kesempatan, Thomas Arya adalah prajurit berbakat, hanya kurang pengalamannya aja dan ego masih tinggi, jika dia mengatasi kekurangannya, dia bisa menjadi perajurit yang kuat.


Sebuah peti, yang memiliki warna hitam, dengan garis-garis emas di pinggir nya, sedangkan di tengah peti tersebut, terdapat gambar lambang keluarga Shakespeare.


Jenderal Hill membuka peti itu, perlahan-lahan, ketika seluruh penutupnya terlepas, tampak lah sebuah tombak yang sangat indah, tombak itu memiliki panjang sekitar meter dengan gagang berwarna hitam.


Di ujung bawah gagang tersebut terukir lah sebuah bentuk naga yang melilit kecil setinggi 30 cm. Sedangkan bilahnya berwarna biru muda transparan dengan panjang 50 cm.


Tombak ini diperkirakan beratnya 1000 Ton lebih, termasuk senjata terberat yang ada di dunia Al-Calen.


Melihat tombaknya yang telah lama tidak dilihat, Hill tersenyum dan membelai, seperti lagi membelai seorang kekasih.


"Sudah lama, aku tidak menggunakan mu, kali ini mungkin terakhir." Selama hari yang damai ini, tidak mungkin bagi Hill untuk memegang tombaknya, dan juga dia berencana akan mewariskannya kepada keturunan Shakespeare lainnya.


Iya, Hill setelah ini akan berencana untuk pengsiun, karena Hill, tidak memiliki usia yang muda lagi. Di mana umur yang di miliki Hill, adalah masa untuk ber istirahat.


Berita untuk pengsiun belum di sampaikannya kepada Raja, jika Raja mengetahuinya, mungkin dia akan menolaknya, Hill adalah seorang Jenderal yang tidak dapat digantikan, walaupun diganti dengan keturunan Shakespeare lainnya masih belum bisa.

__ADS_1


Faktor lain yang membuatnya memutuskan pensiun adalah, di karenakan dia telah gagal menemukan buronan tersebut, yang baru-baru ini di tugaskan kepadanya untuk di tangkap.


Yang dimaksud buronan adalah, Keosy dan Suri Cruise.


__ADS_2