
Masih suasana malam yang dingin dan berada di sebuah gua, gua yang dulunya merupakan sarang moster, tetapi kini monster tersebut sudah menghilang.
Wira bertanya kepada temannya yang bertugas untuk melakukan pengintaian, mengenai berapa jumlah moster yang mereka temukan.
Masing-masing dari ke tiga mengatakan moster itu, berjumlah lebih Kurang 50 ribu.
“Jadi totalnya semua adalah 200 ribu, jika jumlah yang di temukan Airi juga sama.” Wira berasumsi.
“Jadi Wira, apa yang kita lakukan, apakah kita akan tetap melanjutkan misi?” tanya Amakawa.
“Amakawa, misi akan tetap di lanjutkan, ini mungkin akan menjadi keuntungan kita, jika tebakan aku benar, para monster itu kemungkinan tujuannya adalah untuk menyerang Kota, jika itu terjadi, fokus para prajurit yang ada di Kota itu pasti ke arah monster, nah pada saat itu, akan lebih muda bagi kita untuk menyusup.”
“Kamu benar Wira, tapi itu bukanlah hal yang mudah, jika kita menyusup pada waktu monster akan menyerang, bagaimana cara kita untuk melewati gerombolan monster tanpa di ketahui, 200 ribu monster bukanlah sedikit, dan lagi itu hanya jumlah kasarnya, bisa saja monster melebihi itu.”
Koasiki menanggapi strategi yang di jabarkan oleh Wira.
“Siki, benar apa yang kamu katakan, tapi yang jelas misi kita tetap akan dilaksanakan, mengenai caranya, aku akan memikirkan nya, yang lebih penting kalian telah melakukan pekerjaan yang baik. Kalina boleh istirahat, serahkan saja pada aku.”
Wira menyuruh mereka untuk beristirahat, karena mereka telah melakukan pekerjaan yang baik, dan istirahat adalah sesuatu yang sangat penting.
Wira pun mulai memanggil Winni yang berada di dekat Airi dan Anya, mengetahui bahwa dia dipanggil, Winni pun mendekati Wira.
“Ada apa, Kapten.” Dengan mengangkat tangannya dalam posisi hormat.
Keletak (suara jitakan kepala).
Wira menjitak pelan ke kepala Winni.
“Sudah aku katakan, kamu tidak perlu memanggil aku Kapten, panggil saja seperti biasa.”
Ketika kepalanya di jitak serta Wira melarangnya untuk memanggilnya Kapten.
Winni hanya menunduk kan kepalanya dan cengengesan.
“Malah cengengesan lagi, apa ada kabar dari Winna?”
“Tidak ada, Kapten.”
Winni masih menggunakan panggilan Kapten.
Wira pun tidak melarangnya, Karena dilarang pun tidak ada gunanya, Winni juga masih tetap memanggilnya Kapten.
Wira hanya mendengus dan menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, suruh mereka kembali.”
“Baik, Kapten”
(“ Biarpun mereka kembar, sifat mereka sangat jauh berbeda”) kata hati Wira. Yang dimaksud dengan kembaran Winni adalah Winna.
Winni dan Winna ada saudara kembar, walaupun mereka kembar identik tapi sifat sangat berbeda. Winni memiliki sifat kekanak-kanakan, sedangkan Winna kebalikannya.
Winni dan Winna memiliki tugas yang sangat penting dalam misi ini, di karena kan spesialisasi mereka adalah teleportasi.
__ADS_1
Tapi kelemahan dari teleportasi mereka adalah, bahwa skill mereka tidak akan aktif jika tidak ada salah satu yang mengaktifkan kekuatannya.
Sederhananya, Winni adalah pintu keluar teleportasi sedangkan Winna pintu masuk.
Jika pintu keluar tidak di aktifkan, maka mereka yang masuk ke teleportasi tidak akan pernah bisa keluar sampai mati.
Skill ini juga bisa di gunakan untuk memenjarakan musuh yang sangat kuat.
****
Kembali ke sisi Nia dan kawan-kawan yang memeriksa sesuatu yang mencurigakan di sekitar gua.
“HATCHIM.”
“HATCHIM.”
“HATCHIM.”
Suara bersin mengumandang di tengah gelapnya malam nan dingin, suara itu keluar dari seorang wanita yang bernama Nia Kazuki, yang berusaha untuk menahan rasa dingin.
“Ih....ih.... Ini lah aku paling malasa dengan suasana dingin seperti ini,” kata Nia.
“Tahan lah, sebentar lagi,” kata Winna.
“Hay kau, tidak seperti kakak mu, kau sungguh lemah,” kata Rondus yang ikut masuk dalam percakapan, dia mengomentari Nia yang kedinginan.
“Hey.. loe otak otot, diam saja.” Nia menanggapi ejekannya Rondus.
“Hem.. dasar lemah.” Rondus mencibir kembali.
“Hey!! Hentikanlah kalian berdua, kita harus mengamati sekitar, jika lengah sedikit saja, bukan hanya kita yang habis, semua akan kena juga, Rondus hentikanlah ejekan mu itu, tidak ada gunanya seperti itu.”
“Kalau aku yan..” Rondus berusaha untuk menyangkal pernyataan yang dikeluarkan oleh Winna, tapi dia malah di potong oleh Winna dengan perkataan.
“Aku telah menerima pesan dari Winni, Wira menyuruh kita untuk kembali.”
“Uhuh, bagus, aku sudah tidak tahan disini.” Nia kegirangan.
Rondus tidak berkomentar, dikarenakan itu perintah langsung dari Wira, jika Wira telah memerintahkan, Rondus pasti akan menurutinya, di karena kan Wira adalah panutannya, dan juga orang yang tidak bisa di kalahkannya. Mangkanya itu Rondus sangat hormat terhadap Wira.
****
Mereka bertiga telah kembali ke dalam gua, dan di sana Wira sedang duduk di perapian, Mereka bertiga menghampiri Wira, dan Winna menanyakan kepada Wira.
“Apakah ada sesuatu yang penting?”
Tapi Wira hanya menjawab.
“Tidak ada, kalian beristirahatlah, biar aku yang berjaga malam hari ini.” Mereka bertiga pun mencari posisi yang nyaman untuk beristirahat malam ini, hanya Nia yang masih menemani kakaknya.
“Nia, kenapa kamu masih di sini?” tanya Wira.
“Aku hanya, khawatir dengan mu, kak.”
__ADS_1
Nia khawatir dengan kakaknya, sebabnya raut wajah kakaknya tampak seperti mengalami kesedihan yang mendalam.
“Nia beristirahat lah, kamu tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang kamu khawatirkan, tapi aku di sini baik-baik saja, aku akan sedih jika kau tidak beristirahat malam ini, jad...”
Wira tidak dapat menyelesaikan perkataannya, karena Nia telah menyela perkataan Wira.
“Ia kak, aku beristirahat, tapi kamu tidak perlu memaksakan diri, dan jika ada sesuatu masalah, tolong cerita lah pada ku.”
“Oke, adik aku tersayang.” Mendengar perkataan yang dikeluarkan kakaknya, Nia pun tersenyum dan meninggalkan Wira sendiri di perapian.
Melihat adiknya yang mengkhawatirkan dirinya membuatnya merasa senang sekaligus sedih.
“Seharusnya, dia lebih mengkhawatirkan dirinya sendiri, apa yang dialaminya di kota itu, bukanlah sesuatu yang mudah, apalagi seseorang yang mempunyai harga diri tinggi, ya apa pun itu dia lebih kuat dari ku.”
Wira Bergumam sambil memandang ke arah kota, dengan wajah sedih, takut, senang.
Bisa di katakan raut wajahnya sangat berbeda seperti biasanya.
****
Hill Shakespeare adalah Jenderal dari kerajaan Es, dia ditugaskan untuk menyelidiki kasus terbunuhnya salah satu Jenderal dari kerajaan es.
Tapi dia tidak dapat menemukan buronan tersebut, dan lagi karena adanya dugaan bahwa kota yang ditempatinya sekarang akan adanya serangan, yang di lakukan oleh gerombolan monster.
Maka dia pun diberikan tugas baru, yaitu, untuk mempertahankan kota.
Dan sekarang dia berada di sebuah kantor yang lagi menerima laporan dari anak buahnya.
Laporan yang di sampaikan oleh, anak buahnya yang berupa tentang mengenai pasukan yang dikirimkannya untuk membantai monster-monster itu telah gagal.
pasukan yang dikirimkannya berjumlah 200 orang dan di pimpin oleh Kapten yang berpengalaman, tetapi dari 200 tersebut hanya satu yang selamat.
Tapi yang selamat itu telah mati, setelah menyampaikan berita.
Jenderal Hill merasa bahwa, para monster sengaja untuk memberikan satu orang yang lolos agar berita mengenai mereka tersampaikan.
Tujuannya tak lain adalah untuk menakut-nakuti manusia, agar manusia tersebut mengalami mental down.
Hill bukanlah Jenderal yang bodoh, dia tahu tujuan para monster tersebut, mangkanya itu dia merahasiakan apa yang terjadi dengan pasukan yang dikirimkannya.
Sekarang pilihannya hanya dua, bertahan di benteng atau menyerang dengan kekuatan penuh, di antara dua pilihan itu yang lebih baik adalah bertahan di benteng.
Jika dia memilih menyerang dengan ke kekuatan penuh, bisa di pastikan kalau pasukannya pasti akan habis, karena para monster memiliki banyak keuntungan dari pada dirinya.
Salah satunya adalah, letak geografis, lawan yang paling berbahaya adalah, lawan yang sangat mengetahui geografis di bandingkan dirimu.
Ke dua, adalah jumlah, karena pihak kapten Hill belum menemukan pasti jumlah mereka, ada yang mengatakan satu juta, lima juta, dan yang paling gawatnya ada yang mengatakan lima puluh juta.
Alasannya satu lagi yang paling mengkhawatirkan adalah, monster itu sendiri, karena memiliki pengalaman yang tak terhitung jumlahnya dalam menghadapi para monster.
Hill berasumsi bahwa, monster yang di hadapinya bukan lah monster sembarangan, sebab monster yang dapat menggunakan taktik seperti ini, dan berhasil mengumpulkan beberapa monster, itu dapat di artikan apa yang dilawannya kali ini sangat lah kuat.
Hill memilah-milah dokumen dan mendapatkan dokumen laporan dari serikat Hunter, setelah membaca, laporan tersebut tidak ada hal yang berguna.
__ADS_1
Karena tidak ada lagi yang harus di urus, dia pun keluar dari kantornya, dan menuju tempat latihan.