
"Jelas ini kesempatan bagus, jika para monster menyerang Kota ini, Automatis para penjaga yang ada disini pasti akan sibuk, dan mereka akan fokus untuk mengusir para monster."
Aku mulai mengambil sebuah apel di atas meja dan memakannya, serta melanjutkan percakapan.
"Ketika perhatian mereka ter alihkan, kita akan mulai menyusup ke penjara bawah tanah. dengan waktu itu, kita di pastikan pasti berhasil, bagaimana menurut mu?"
"Kenapa aku tidak terpikirkan sampai kesitu."
"Yah, aku tidak tahu, tanyalah pada dirimu sendiri, yang lebih penting, bagaimana dengan latihan mu?"
"Aku sudah bisa menguasai elemen kegelapan, dengan setengah kekuatan."
"Hem, baguslah, jadi kita tinggal menunggu monster itu bergerak, jika bantuan yang kamu bilang itu datang, mereka juga pasti akan memanfaatkan ke kacauan di kota ini, jadi kira sekarang tinggal menunggu monster itu menyerang."
"Ya, kalau begitu, aku akan mulai kembali latihan."
Suri pun pergi meninggalkan kamar ku.
Aku pun mulai merebahkan badan, karena terlalu banyak kegiatan yang terjadi belakangan ini, yang masih misteri adalah, bagaiman para monster yang banyak itu tiba-tiba muncul.
"Memikirkannya saja membuat kepala aku sakit," aku bergumam sedikit, dan mulai memejamkan mata.
****
Berbalik ke Nia Kazuki yang dimana mereka telah sampai di Pulau Es, dimana pulau es ini merupakan tempat kerajaan es berdiri.
Nia kazuki dan rombongan mulai mencari tempat untuk berkemah, juga tempat yang cocok untuk mengintai Kota.
Nia Kazuki dan rombongan telah menemukan spot yang baik, tempat itu adalah di sebuah gua yang cukup dalam dan besar.
Walaupun ini adalah sarang monster, tapi mereka tidak khawatir. menurut mereka, tidak ada monster yang bisa menyakiti 10 Jenderal.
"Nia, sepertinya ada yang aneh."
Wira Kazuki yang lagi mempersiapkan api, berbicara kepada adiknya.
"Aneh kak?"
Nia yang bingung, dengan pernyataan wira.
"Apakah kamu tidak menyadarinya, jika tidak, ternyata kamu masih perlu banyak belajar."
"Ya, aku tahu kok, emang aku masih perlu banyak belajar, jadi kak, apanya yang aneh."
__ADS_1
"Ya, apakah tidak aneh, tidak adanya monster yang kita jumpai, dan lebih mencurigakannya lagi, di sini adalah sarang monster, tapi kita tidak menemukan monster sedikit pun, seperti para monster sedang berkumpul di suatu tempat."
"Setelah kamu mengatakannya, kak, itu memang aneh."
"Yah,.. lebih baik kita beristirahat dulu, sambil menunggu tim mengintai kembali, ketika itu, mungkin kita dapat jawabannya."
"Hah ...ya kak, aku juga masih lelah dalam perjalanan panjang."
Mereka pun beristirahat di sebuah gua, dengan ditemani sebuah api unggun untuk menghangatkan tubuh.
Tidak hanya itu, mereka juga menyantap makanan malam, dengan daging rusa yang di masak, dengan cara membakarnya.
Walaupun tampa bumbu, daging itu sudah memiliki rasa yang enak.
Beberapa saat kemudian, ke empat pengintai yang telah melaksanakan tugasnya pun kembali.
"Wira!!!"
Teriak seorang yang bernama Rondus yang juga termasuk dari 10 Jenderal.
Wira yang lagi tertidur, terbangun karena teriakan pria yang bernama Rondus.
Rondus ini memiliki tubuh yang paling besar diantara 10 Jenderal, dan juga sifat yang paling pemarah, tetapi biarpun seperti itu, dia adalah pria yang memiliki loyalitas yang tidak di ragukan lagi.
"Wira, kemari mereka telah kembali, para pengintai."
Wira dan Nia mendengar bahwa para pengintai telah kembali, mereka pun keluar dari gua.
"Rondus kau tidak..."
ketika Wira telah keluar dari gua tersebut, Wira ingin mengatakan kepada Rondus untuk tidak perlu berteriak, tapi tiba-tiba dia tidak jadi melanjutkannya.
Karena sesuatu yang lebih penting terjadi di depannya, salah satu anggota 10 Jenderal terluka, yang ditugaskan untuk pengintaian.
"Hey!!! kenapa kalian belum mengangkat Airi masuk, cepat bawa dia."
Teriak Rondus, untuk menyuruh membawa Airi ke dalam gua, atas instruksi yang di keluarkan oleh Wira.
"Nia, Winna, dan Rondus, untuk berjaga-jaga, kalian periksa di luar, apakah ada yang mengikuti mereka atau tidak, dan kalian harus lapor jika ada yang mencurigakan. Winna tugas mu, kau harus dengan cepat mengaktifkannya teleportasi, jika ada sesuatu yang sangat mendesak, untuk yang lainnya kalian ikut aku ke dalam, paham."
"Ya!!"
Mereka bertiga yang di suruh untuk berjaga, berbicara dengan serentak.
__ADS_1
****
Wira, dan yang lainnya sudah berada dalam gua, Airi telah di biarkan berbaring, dan ditangani oleh Anya, yang spesialis untuk merawat orang yang terluka.
"Anya, bagaimana dengan lukanya, apakah kamu bisa menyembuhkannya?"
Wira menanyakan kepada Anya.
"Ya, lukanya cukup parah, dia beruntung tidak ada organ vital yang terkena, tapi yang sangat di sesalkan tangannya, aku tidak bisa menyambungkannya jika kita tidak menemukan tangannya."
"Iya kamu benar, tapi sukurlah dia selamat, kalau begitu, aku akan meninggalkannya kepada mu."
"Baik."
kata Anya.
Wira pun berbalik, ke arah ke tiga lainya yang telah menunggu.
"Baiklah, kalian bertiga, bisa ceritakan apa yang terjadi."
Disini yang pertamakali berbicara adalah Amakawa.
"Baiklah aku akan mengatakan di luan, pertama untuk masalah apa yang di alami Airi, jelas aku tidak mengetahuinya, emang benar aku lah yang pertama menemukannya. Tapi pada saat itu, dia telah tidak sadarkan diri, dengan berlumuran darah, jadi aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.
Yang ke dua, mengenai laporan aku dalam pengintaian, aku merasa bahwa tempat ini ada sesuatu keanehan, pasalnya ketika aku mengintai ke arah barat, aku menemukan sebuah perkumpulan monster yang sangat banyak, di dalam gerombolan monster itu, mereka melakukan suatu percakapan, karena jarak aku dengan mereka cukup jauh, jadi aku tidak dapat mengetahui apa yang mereka diskusikan. Aku tidak mau mengambil resiko dengan mendekati mereka, hem.. dan satu lagi, selama aku mengarah ke arah barat, aku menemukan beberapa Desa hangus terbakar, dan telah di tinggalkan penghuninya, kemungkinan para monster yang menghancurkan desa itu. Itu saja apa yang bisa aku laporkan."
"Oke Amakawa, ada yang aku tanyakan, ketika kamu menemukan Airi, apakah ada yang mengikutinya atau sesuatu mencurigakan?"
"Tidak ada, aku telah mengedarkan indera ku, sampai maximal, tapi tetap tidak menemukan sesuatu seperti itu."
"Jadi begitu, Amakawa, berarti kamu tidak sampai mengintai Kota dari sebelah Barat."
"Ya, aku tidak berhasil sampai ke kota, karena para monster memblokir jalan, jika aku mendekat sedikit saja aku takut bahwa aku akan ketahuan."
"Baiklah Amakawa, sekarang Haruto, bagaimana dengan mu."
"Itu sama dengan aku. Aku juga menemukan gerombolan monster dari sebelah Utara."
"Begitu, Koasiki."
"Ya, begitu juga dengan aku."
"Hem... Kalian bertiga menemukan sesuatu yang sama, Airi juga pasti menemukan gerombolan monster dari sebelah selatan. Apa yang menyerangnya juga, kemungkinan adalah monster, dilihat dari lukanya, itu mirip dengan serangan monster. Masalahnya adalah, monster seperti apa yang membuatnya sampai terluka parah seperti itu, walaupun monster itu kuat atau banyak, dia pasti bisa melarikan diri tampa harus kehilangan lengannya. Huhh..... Kalian bertiga, kira-kira berapa jumlah monster di delam gerombolan itu."
__ADS_1