
"Sepertinya kita kedatangan tamu."
Keosy yang telah menyadari para monster datang.
"Yah, kamu benar penjelasannya kita sambung nanti, kita harus pergi dari pulau ini."
Begitu juga dengan Winna, dia menyadarinya, sebelum para monster mendekat, mereka telah keluar dari gua itu. Winna membawa mereka tempat dimana sebuah kapal bertengger.
Kapal yang memiliki dua layar besar, dengan warna serba hitam. Kapal ini dilindungi oleh sebuah ilusi sehingga tidak ada yang dapat mengetahuinya.
Kapal ini terbuat dari sebuah kayu sangat kuat, dan terdapat sebuah corak emas di bagian sisi samping kananya, di depannya terdapat sebuah oranamen patung berbentuk pedang.
Winna mengajak Keosy ikut di kapal tersebut, tapi ditentang oleh Nia.
"Kita tidak bisa membawa mereka, apa yang kamu pikirkan?"
"Nia, aku juga tahu, kita tidak dapat membawa orang luar, tapi kamu melihat dia, dia telah menjadi teman kita, dan para ketua juga harus tahu."
Apa yang dimaksud Winna, adalah Suri sudah dianggap menjadi teman mereka, sedang kan Keosy tidak dianggap.
Dan tentang permasalahan Suri, itu juga harus di ketahui oleh para ketua. Menurut Winna, Suri tidak memiliki salah terhadap Bangsa Kegelapan, dan apa yang dialami Wira murni kesalahannya, karena dia terlalu bodoh untuk menyusup ke daerah musuh pada waktu itu.
Sebenarnya Nia memiliki pendapat seperti Winna, tapi karena dia baru kehilangan kakaknya, jadi apapun yang menyangkut kakanya, akan salah dimatanya.
Untuk kasus Keosy, karena dia telah membantu mereka jadi dia persilahkan, tapi itu bukanlah alasan utamanya, Winna memiliki sesuatu yang tidak dapat dikatakannya di depan Keosy.
Akhirnya mereka berlayar, dengan Keosy dan Suri mengikuti mereka. Keosy dan Suri bersama sedang memandang indahnya malam di lautan lepas.
Di sinari dengan cahaya bulan purnama yang sangat terang menderang, Keosy yang sedang bertengger di sebuah kayu layar kapal. Sedangkan Suri dia berada di bawah berdiri dengan senderan pagar kapal tersebut.
" Aku ingin tahu, Apakah kau tetap akan memberikan mata itu, jika kamu memberikannya, latihan yang selam ini kau lakukan dan penderitaan suatu kau menahan elemen kegelapan, itu akan menjadi sia-sia kau tahu itu, kan."
Keosy memulai percakapan, dengan sambil mengunyah sebuah apel merah.
"Itu bukanlah Sia-sia, apa salahnya mengembalikan kepada pemiliknya."
Suri membalas pertanyaan Keosy dengan singkat, dengan memejamkan matanya, sambil merasakan angin laut.
"Bukankah pemiliknya telah tidak ada, dan aku rasa si Wira itu tidak keberatan jika kau yang memiliki matanya."
__ADS_1
"Yah, tapi pengguna kegelapan yang murni, itu lebih layak menggunakan mata ini, aku tidak lah cocok."
"Itu pendapat mu, tapi menurutku kau, sangat baik mengendalikan kekuatan itu, walaupun dengan waktu singkat tersebut, itu telah membuktikan bahwa kau adalah lebih baik."
"Hemm.. Keosy jika itu pendapat mu, terima kasih, dan bisakah kamu meninggalkan aku sendirian."
"Baiklah, tapi aku akan mengatakan satu hal. Jika kamu memberikan nyawa mu, aku tidak akan membiarkannya, karena dirimu adalah milik ku."
Keosy pun pergi ketika selesai mengatakan itu, sedangkan Suri mendengar itu, dia hanya mengangkat alisnya.
Keosy Telah berkeliling, kapal tersebut tapi tidak ada satupun yang menarik baginya. Tapi dia melihat seorang wanita bernama Nia. yang sedang melamun mungkin memikirkan sesuatu.
Keosy juga dapat melihat bahwa raut wajahnya penuh dengan kesedihan yang mendalam. Keosy mendekatinya tanpae ragu-ragu.
"Aku berharap, aku tidak mengganggu mu."
Ketika mendengar sapaan suara Keosy, Nia menoleh ke arahnya.
"Hah, seorang elemen es, tidak siapa kamu sebenarnya? Aku tahu, ketika wanita itu membuka antingnya dia perlahan berubah. Dan anting yang kamu pakek sama seperti dia. Jadi aku anggap itu bukan penampilan asli mu."
Keosy hanya tersenyum, dan menjawab.
Keosy mengakuinya, karena tidak ada gunanya menutupi hal itu.
"Bukan hanya aku, semuanya sudah tahu, dan pertama yang menyadarinya adalah, Winna."
"Owh.. Wanita itu, dia memiliki pemikiran yang baik."
"Jadi apakah kamu akan menunjukkan wujud mu?"
"Apakah kalian begitu penasaran?"
Nia hanya mendecakan lidahnya dan diam.
"Hahahah. Aku tidak akan menunjukkannya, jika kamu ingin, kamu bisa memaksa ku melakukannya, dan ini kah, alasan kalian untuk mengijinkan aku menaiki kapal ini."
"Ya, karena kemungkinan kau juga pengguna elemen kegelapan."
"Bagaimana bisa kau berspekulasi seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak, ini hanya firasat saja."
"Firasat kah, sungguh menarik, jadi apa yang kalian lakukan kepadaku, jika kita sampai ke tempat kalian."
"Untuk masalah itu, ketua yang akan memutuskannya."
"Apakah aku masuk ke perangkap kalian, sungguh aneh, aku tidak begitu terancam. Dan aku juga sangat penasaran di mana tempat persembunyian, sampai seluruh dunia tidak dapat menemukan kalian."
Keosy tidak ingin berlama-lama, berbicara dengannya, dia pun meninggalkannya.
****
Neon City ibu kota di Kerajaan Es. Di sebuah istana kerajaan yang sangat megah dan besar, di dalam sebuah ruangan yang sangat besar, ruangan itu adalah sebuah tahtah Raja.
Sudah sangat banyak orang-orang berkumpul, tidak hanya itu, Amodios sebagai raja kerajaan ini juga ikut andil dalam perkumpulan ini.
Amodios yang sedang duduk di kursi tahtanya, dia sedang mendengarkan perkataan atau laporan yang disampaikan oleh pasukan.
Yang memberikan laporan adalah seorang pemuda, dengan bersenjata sebuah pedang biru, dia adalah Rex sang kapten pasukan pengintai, yang bertugas untuk mengintai dan melaporkan kepada sang raja secara langsung.
Rex mengatakan bahwa, para pasukan monster telah menaklukkan Kota Sin City. Dan dia juga melaporkan bahwa, Jenderal Hill juga terbunuh dan mayatnya tidak dapat diambil karena di kota itu sangat berbahaya, karena di penuhi oleh para monster.
Dalam laporan yang membuat mereka terkejut adalah, pasukan itu dipimpin oleh Iblis Diablo. Rex sempat melihat iblis dengan Skill pengintainya.
Rex juga tidak dapat mengintai dengan waktu lama, karena dia takut para Iblis akan mengetahuinya, dan karena itu Rex tidak tahu kalau pengguna elemen kegelapan ada di situ.
Amodios menahan rasa sedih, mendengar Hill yang dianggapnya sebagai kakeknya telah mati, Amodios tidak dapat bersedih di depan anak buahnya.
Seorang Raja sangat tidak pantas seperti itu. Raja harus tampak kuat dan tak terkalahkan, begitu lah yang dia pikirkan.
"Kalian telah mendengar apa yang dilaporkan Rex, aku disini ingin membahas langkah kita selanjutnya. Kalian sebagai Jenderal besar di kerajaan ini. Aku mengharapkan rencana kalian."
Amodios berbicara di hadapan 10 Jenderal besar yang melindungi kerajaan es ini. Para Jenderal itu mulai mengasih pendapat.
"Yang mulia, menurut saya, lebih baik kita serang mereka sekarang juga. Alasannya karena mereka kemungkinan sedang lelah dalam pertarungan sebelumnya, menurutku inilah waktu yang sangat tepat."
Seorang Jenderal yang memiliki perawakan, Seperti umur 48 tahun, yang memiliki postur gagah berani, seperti seorang bar-bar yang gila tarung.
Jenderal ini bernama Asplo Ash, tapi rencana langsung di tentang oleh salah satu Jenderal juga yang bernama Aerio.
__ADS_1
"Saya menolal rencana Jenderal Asplo, Yang Mulia, dengan alasannya, karena disitu bukan hanya ada monster, tapi melainkan ada para Iblis, yang mana kita ketahui mereka memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Jadi menurut aku, jika kita menyerang sekarang sangatlah tidak tepat, kita harus memastikan kekuatan musuh terlebih dahulu."