
Sinar matahari mulai menampakkan dirinya, cahayanya memasuki ke ruangan kamar, melalui sebuah celah jendela - jendela.
Cahaya yang masuk itu, membuat diriku terbangun dari tidur yang tidak begitu nyenyak, pasalnya aku hanya tertidur di atas sebuah meja sebagai sandaran kepala.
Aku berkedip beberapa kali, agar pandangan ku menjadi lebih jelas, di dalam pandangan ku, aku dapat melihat seorang wanita yang lagi berdiam diri sambil memandang ke arah luar kamar.
Wanita Tersebut adalah Suri Cruise, yang sempat mengalami luka parah sekujur tubuhnya, menyadari diriku yang telah terbangun, dia pun langsung berbalik kearah ku. Dia menatap diriku dengan kedua mata, yang memiliki warna berbeda, menurut aku kombinasi antara Putih dan Merah sangatlah cocok.
Karena dia tidak mengeluarkan suara, maka aku ber inisiatif melakukan pembicaraan terlebih dahulu.
"Tampaknya luka mu, sudah mulai membaik." Aku berbicara.
"Iya, sudah agak mendingan." sambil merapikan rambutnya yang agak berantakan akibat baru bangun, dan dia mulai duduk di atas kasur.
Aku baru menyadari bahwa perempuan itu telah pergi, yang aku maksud adalah Maria Cruise saudara perempuan dari Suri Cruise
"Hem.. ini memang bukan urusan aku, tapi aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"
"Tidak ada yang berubah, aku akan melakukan apa yang akan aku lakukan sejak awal." Suri berbicara dengan sambil menyentuh mata kanannya.
Melihat dia melakukan itu dengan raut wajah seperti merasa kehilangan. Aku berpikir dia sangatlah keberatan dengan matanya yang di ganti tersebut, aku sedikit merasa bersalah, karena melakukan seenaknya.
"Hem, apa kamu masih marah karena mengganti mata mu seenaknya, kalau begitu aku akan minta maaf."
"Tidak perlu, ini bukanlah sesuatu yang membuat aku marah, lagipula kamu melakukannya karena terpaksa, dan aku begini karena mata ini milik seseorang yang sangat berharga bagi ku, jadi aku sedikit memikirkannya."
"Seperti itu kah, pantas saja kau sangat marah dengan si Mata Merah tersebut."
"Iya." Hanya dengan satu kata yang keluar dari mulut Suri, tampaknya dia tidak ingin melanjutkan percakapan tentang si ******** itu.
Apa dia merasa sedih atau bersalah, yang pasti aku tidak bisa menebak dengan benar perasaanya, hanya dengan raut wajahnya saja, tapi apapun itu yang dia rasakan, itu bukanlah sesuatu yang perlu aku ketahui.
Aku pun mencoba mengubah topik pembicaraan, ketika aku hendak berbicara dia pun langsung menyalip diriku, kata - kata yang keluar dari mulutnya membuat aku sedikit terkejut.
"Apa, kau butuh bantuan ku." Aku tidak menyangka dia dengan sikap egoisnya meminta bantuan dari orang lain.
"Ya, aku tahu, kamu telah banyak menolong ku, tapi kali ini aku sangat butuh, jika kamu setuju, aku siap melakukan apapun buat mu."
"Apa kamu yakin, memberikan imbalan seperti itu kepada pria mesum seperti aku, dan lagi pasti aku akan melakukan sesuatu terhadap mu, apa kamu merasa tidak keberatan."
__ADS_1
Dia sedikit tersentak mendengar apa yang aku katakan, tapi karena sesuatu yang lebih penting dari tubuhnya, membuat dirinya memberanikan diri untuk menjawabnya.
"Aku tidak keberatan." Dengan mantap tampa keraguan dia mengatakannya.
Membuat diriku berpikir bahwa, itu adalah sesuatu yang lebih penting dari dirinya.
"Baiklah. Aku akan membantu, jadi perihal apa itu?"
tanya ku.
"Ini sesuatu ada hubungannya dengan tujuan aku sejak awal, yaitu aku ingin menyusup kedalam penjara bawah tanah, yang keberadaannya di bawah Istana Gubernur Kota ini."
Mendengar perkataannya dengan gampang membuat diriku merasa kalau dia itu aneh, karena menyusup ketempat yang di jaga ketat bukan perkara yang gampang.
"Kamu sangat gampang berucap ya, apakah kamu tidak berpikir bahwa, hanya kita berdua akan mustahil untuk melakukannya."
"Aku tidak mengatakan hanya kita berdua saja."
"Maksud mu, apakah ada yang lain?"
"Ya, jelas ada, aku juga bukan orang gila, yang memaksakan melakukan penyusupan hanya dua orang."
"Hem.. Sebenarnya itu belum pasti."
"Belum pasti?" Bingung dengan ke tidak konsisten ucapannya.
"Maksud aku, bahwa aku hanya melakukan penyebaran rumor, tentang adanya kaum Kegelapan yang ditahan di Kota ini, disini aku berharap ada kaum Kegelapan yang mendengar rumor itu, dan mereka mulai menyerang Kota ini, disinilah kesempatan kita untuk ikut dalam penyusupan tersebut."
"Haha...hahha...hahah, kamu sangat lucu, menaruh harapan ke sesuatu yang belum pasti, dan itu memiliki peluang yang sangat sedikit. Yah.. tapi kamu sangat beruntung, bahwa ada bangsa Kegelapan yang mendengar rumor tersebut dan sempat meyusup ke Kota ini."
Mendengar itu, matanya semangkin melebar karena terkejut,
"Apakah itu benar?"
"Ya, tapi dia tidak berhasil menyusup dan ketahuan."
Matanya dan tubuhnya mulai lemas mengatahui harapannya tidak berhasil.
"Uda jangan bersedih, dia memang ketahuan, tapi dia tidak ditangkap, aku berhasil menyelamatkannya, dan juga menurut aku dia akan kembali lagi."
__ADS_1
"Begitu kah, ternyata kamu memang memiliki hati yang baik."
"Kamu salah, aku menyelamatkan nya karena dia seorang wanita cantik, bagaimana mungkin seorang laki-laki diam saja, ketika ada wanita yang disiksa, jadi aku bukanlah orang baik, seperti yang kamu pikirkan."
Berhenti sebentar memakan buah berwarna merah, dan aku menambahkan.
"Karena aku akan membantu, jadi aku ingin kamu menjawab pertanyaan aku dengan jujur, aku ingin tahu, siapa yang ingin kamu bebaskan di penjara itu?"
"Ya tidak ada guna menyembunyikannya, baiklah, akan aku jawab. Aku ingin menyelamatkan seseorang yang sangat penting dengan aku, dan sekaligus pemilik mata ini."
"Tunggu sebentar, kamu bilang bahwa pemilik mata itu berada di penjara bawah tanah?"
"Iya,"
"Apakah dirimu melihatnya, dia di jebloskan ke penjara tersebut?"
"Aku tidak melihatnya."
"Terus kenapa kamu bisa yakin kalau dia berada disitu."
"Itu, karena dalam kondisi seperti itu, dia tidak akan bisa lolos, sebabnya waktu itu kami sudah terkepung oleh pengendali Element dari berbagai kerajaan. Aku lolos akibat dia mengorbankan dirinya ditangkap. Jadi aku berasumsi kalau dia ditangkap dan dipenjarakan di Kota ini, juga selama penyelidikan ku, penjara di kota ini, yang memenjarakan kaum kegelapan."
"Jadi memang ada yang dipenjara, kenapa kamu tidak berpikir kalau dia telah tewas?"
"Itu tidak mungkin, pasalnya pengendali kegelapan sangat berarti jika masih hidup, dan apa lagi dia pemilik mata iblis ini, jadi kalau dia tewas itu kemungkinan sangat kecil."
"Aku tidak mengerti, kenapa mereka tidak membunuhnya?"
"Aku juga tidak begitu tahu, mengenai tujuan mereka berbuat seperti itu."
Ketika aku mendengar apa yang disampaikan nya, aku merasa ada sesuatu yang lebih buruk terjadi, dan pembantaian bangsa kegelapan itu, bukan hanya sekedar berdasarkan mereka membenci Bangsa kegelapan saja, tapi ada yang lebih rumit yang terjadi.
"Ya, tapi kamu lagi-lagi beruntung, orang yang kamu cari berhasil meloloskan diri, dan...
"Apa! itu tidak mungkin, bagaimana bisa dia lolos?" Dengan suara yang kencang, dia memotong apa yang aku katakan, dengan menarik kerah baju ku.
"Wow,, kamu jangan berteriak di dekat wajah ku, lepaskan dulu, kenapa kamu begitu marah, bukan kah kamu senang kalau dia masih hidup? dan lagi kenapa memotong pembicaraan aku, sebelum aku menyelesaikannya."
"Ma..af aku hanya sedikit emosi, ketika mendengar seperti itu." Dia melepaskan cengkeramannya dan mundur dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah, apa yang aku katakan itu, yang aku dengar dari bedebah itu, jadi aku pun tidak yakin akan kebenarannya."