
Sore Hari -
Dikoridor sekolah, Naruto tampak berjalan dengan wajah yang menyiratkan jika ia tengah memikirkan sesuatu, ia tengah bergelut dengan pikirannya tentang cerita yang disampaikan oleh Tsunade-Sensei beberapa jam yang lalu...,
" Maria Rossfield..., "
Naruto mengumamkan sebuah nama, Maria Rossfield. Seorang Knight yang mendapat julukan sebagai [Shadow The Reaper], seorang Knight berbakat yang tewas setelah mencoba menguasai [Curse Magic] untuk menjadi seorang [Rune Breaker]..., Naruto bergelut dengan pemikirannya, ini aneh, kenapa sekolah menyimpan rapat rahasia ini?, dan penyebab kematiannya juga aneh, jika ia meninggal karena kesalahan dirinya sendiri seharusnya Maria Rossfield tidak menjadi 'hantu gentayangan' dan meneror sekolah...,
Naruto menghela nafas, ini semua entah kenapa seperti kasus Misteri yang susah dipecahkan, Ophis yang sedaritadi memperhatikan Masternya akhirnya berbicara.
' Master, apa ada masalah?. '
Tabya Ophis, Naruto mengeleng pelan, " tidak ada, aku hanya sedang memikirkan cerita dari Tsunade-sensei. " ucap Naruto, Ophis memiringkan kepalanya bingung, Naruto menghela nafas pelan.
" sudahlah, tidak usah dibahas, kita harus pergi keruang Club, Tobio dan Asama-san sudah menunggu kita disana. "
- Ruang Club -
" Ha'i, ini tehmu, Namikaze-kun. "
" ah, terimakasih, Asama-san. "
Miya tersenyum dan menyerahkan secangkir teh pada Naruto yang langsung diterima dengan ramah, Naruto menghirup aroma teh yang membuatnya merasa tenang sebelum ia meniup uap panas yang mengepul dari cangkir teh dan menyesapnya dengan pelan...,
Naruto meletakan cangkir tehnya dan menatap kearah Tobio yang tengah membaca beberapa buku, wajahnya terlihat serius sekali, Miya yang menyadari tatapan Naruto tersenyum tipis.
" ia memang seperti itu jika sedang berurusan dengan hal-hal berbau Misteri, dan setelah ini ia pasti akan..., "
" Baiklah!, aku sudah putus, Kegiatan Club kita semester ini!, kita akan menyelidiki Misteri [Shadow The Reaper]!, kita pecahkan Misteri rumit ini!. "
" ..., mengatakan hal itu, Hah~..., "
Miya menghela nafas berbeda dengan Naruto yang mengerjapkan matanya berkali-kali, tunggu, telinganya tidak salah dengarkan, ia tadi mendengar Tobio bilang menyelidiki?, menyelidiki [Shadow The Reaper]?!..,
" percuma saja, Namikaze-kun. Jika sudah begini maka Tobio, tidak akan mendengarkan siapapun, "
Ucap Miya dengan nada sedikit frustasi, Naruto menatap Miya yang memasang wajah lelah, Naruto memasang wajah Kikuk, sepertinya Miya kerepotan dengan sikap Tobio yang satu ini.
" hahaha~, pasti kau kerepotan, Asama-san. "
" ya... Begitulah. "
Tobio yang tersadar dari dunia sendiri menoleh kesamping ketika ia mendengar suara selain Miya dan ia melihat Naruto yang tengah tersenyum dan melambaikan tangan kearahnya.
" oh!, Naruto, kapan kau datang?. "
" etto, sekitar lima menit yang lalu?. "
" begitu?, ah!, bagaimana menurutmu, Naruto!. Tentang [Shadow The Reaper]?, menarik bukan?..,. "
Tanya Tobio bersemangat, Naruto terdiam sebelum ia menatap Tobio, " menurutku ya... menurutku ada keanehan tentang [Shadow The Reaper] yang diceritakan oleh Tsunade-sensei, seperti ada yang disembunyikan oleh Kouchou.., "
Jawaban tak terduga dari Naruto membuat Tobio dan Miya melirik satu sama lain sebelum menatap kearah Naruto yang sedang memasang wajah berpikir.
" kenapa kau berpikir seperti itu Naruto?. "
Tanya Miya, Naruto membuka matanya dan menatap Tobio dan Miya yang menatapnya penasaran, mereka berdua... apa mereka berdua tertarik pada keanehan yang ia rasakan?.
" Umm, begini, apa kalian tidak merasa aneh, maksudku, untuk apa siswa Knight yang tewas karena kesalahannya sendiri bangkit dari kematiannya dan menebar teror hingga membunuh seorang murid Wizard... aku mungkin tidak terlalu ambil pusing jika itu hanya sekedar penampakan, tapi apa yang kita lihat semalam itu lebih dari sekedar 'arwah penasaran' ini lebih seperti Arwah jahat yang ternodai oleh dendam, dendam yang sangat besar. "
Ucap Naruto membuat Miya dan Tobio terdiam sejenak... apa yang dikatakan Naruto ada benarnya, Maria Rossfield bukan sekedar 'Arwah gentayangan' aura yang dikeluarkan oleh Hantu itu tercemar oleh kebencian, dan dendam yang sangat kelam...,
Miya menoleh kearah Tobio yang juga menatap kearahnya, Tobio mengangguk pelan, dan menatap kearah Naruto, " Naruto, apa menurutmu, ada sesuatu yang tidak boleh kita ketahui tentang kematian, Maria Rossfield?. " tanya Tobio serius, Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap Tobio sebelum ia mengangguk pelan.
" ya... menurutku, banyak sekali hal yang dirahasiakan dari kita, maa... mau tidak mau kita harus mencarinya, ini kegiatan Club kita semester ini bukan?. "
Ucap Naruto, Tobio dan Miya menatap satu sama lain sebelum mengangguk paham.
" baik, jika begitu, Kegiatan kita adalah menguak misteri [Shadow The Reaper], pertama-tama!, kita harus mencari petunjuk-petunjuk tentang profil Maria Rossfield, kita berpencar untuk memgumpulkan petunjuk dan berkumpul lagi disini sore nanti,... "
Ucap Tobio serius, dibalas Anggukan Naruto dan Miya
- Change Scene -
" jadi begitulah, Shaga-chan... apa kau punya Artikel tentang kematian [Maria Rossfield] sepuluh tahun yang lalu?. "
Naruto menatap kearah Shaga yang terdiam sejenak mencerna perkataan Naruto barusan, Shaga membenarkan letak kacamata tebalnya dan menatap Naruto.
" aku rasa Artikel tentang kematian [Maria Rossfield] sepuluh tahun yang lalu tidak disimpan disini, coba kau pergi keclub Jurnalistik, mungkin disana ada Artikel yang kau cari. "
Ucap Shaga sebelum ia mengalihkan pandangannya pada buku ditangannya, Naruto tersenyum tipis, " begitu ya?, terimakasih sudah meluangkan waktumu, Shaga. Dan maaf sudah menganggumu. " ucap Naruto sebelum ia berbalik dan meninggalkan Shaga yang menatap Naruto yang sudah menjauh, Shaga menghela nafas dan kembali membaca buku ditangannya, namun sebuah suara membuat Shaga kembali mengarahkan pandangannya keluar.
" disitu kau rupanya, Namikaze-kun!, "
Shaga melihat seorang perempuan bersurai ungu mengenggam tangan Naruto, mereka mengobrol sejenak sebelum akhirnya Naruto diseret oleh perempuan bersurai ungu itu, Shaga memperhatikan semua itu dengan pandangan sulit diartikan...
" perempuan tadi... siapa?. "
- Naruto Side -
Dikoridor sekolah, Naruto menatap datar Miya yang sedaritari menarik tangannya, " Asama-san, bisa kau lepaskan tanganku?, " tanya Naruto membuat Miya menghentikan langkahnya dan menatap kearah tangannya yang mengenggam tangan Naruto sebelum dengan sedikit panik Miya melepaskan genggamannya, rona merah tipispun melekat dikedua pipi Miya.
" Go-Gomen, Namikaze-kun. "
Ucap Miya pelan, Naruto menghela nafas sebelum menatap Miya dengan pandangan datar, " sudahlah, jadi Asama-san. Kemana kau akan membawaku?. " tanya Naruto, Miya terdiam sebelum ia menatap Naruto dengan pandangan serius.
" ketempat Tobio, ia berkata jika ia mendapatkan sedikit informasi tentang [Maria Rossfield], "
Ucap Miya sambil melanjutkan langkahnya, Naruto terdiam sebelum ia mengangguk, " baiklah, silahkan pimpin jalannya, Fuku-Taichou. " ucap Naruto, Miya mengangguk dan keduanya melanjutkan perjalanan mereka, setelah beberapa saat keduanya kini sampai ditempat yang dimaksud, dihadapan mereka terlihat Tobio Ikuse tengah menunggu mereka dengan pose santai menyender tembok dan memainkan coin perak ditangannya...,
" Yo, Taichou, ada apa kau memanggil kami berdua?. "
Tobio menghentikan kegiatannya dan menoleh kesamping dimana ia melihat Naruto berjalan kearahnya seraya melambaikan tangannya dibelakangnya Miya mengikuti dengan langkah pelan.
" Yo, Naruto, kau datang juga, "
" jadi?, Tobio, informasi apa yang kau dapatkan?. "
Tanya Naruto, Tobio terdiam sebelum ia menunjuk kearah sebuah gedung tua yang ada diseberang gedung Utama Academy, " kita akan pergi kesana, Gedung Asrama perempuan lama, disana mungkin kita bisa menemukan beberapa petunjuk tentang [Maria Rossfield]..., " ucap Tobio, Naruto terdiam sebelum ia mengalihkan pandangannya keluar, gedung Asrama perempuan lama ya..., jika tidak salah gedung Asrama perempuan itu telah ditutup beberapa tahun yang lalu karena suatu kejadian 'mengerikan' yang terjadi disana.
" Asrama perempuan lama kah?, tempat yang bagus untuk menemukan petunjuk tentang [Maria Rossfield], pilihanmu untuk penyelidikan awal sangat tepat, Tobio. "
Ucap Naruto, Tobio tersenyum tipis, " tentu saja, misteri ini membuat semangatku bergejolak!, " ucap Tobio, Miya yang sedaritadi diam mulai angkat bicara.
" kalian, apa kalian yakin ingin masuk ketempat itu?, "
Tanya Miya membuat Naruto dan Tobio menatap kearahnya dengan wajah bingung, " tentu saja kenapa nggak?. " ucap keduanya kompak, Miya menepuk dahinya pelan dan menghela nafas.
" kalian, apa kalian tidak takut?, maksudku kalian tahu rumor buruk ditempat itukan?, "
Tanya Miya, Naruto dan Tobio menatap satu sama lain sebelum keduanya menatap balik Miya dan mengeleng pelan.
" tidak, memang rumor buruk apa yang ada ditempat itu? "
Tanya balik Naruto, Miya menghela nafas, sudah ia duga jika kedua orang pria didepannya ini tidak mengetahui rumor tempat itu...,
" kalian berdua, apa kalian tahu tentang '7 misteri Hirozimon Academy', salah satu dari tujuh misteri itu ada disana, "
Ucap Miya, Naruto melirik Tobio dengan pandangan yang seolah mengatakan, ' kau tahu tentang ini? ', Tobio yang mengetahui arti pandangan Naruto mengangkat bahu tidak tahu, Miya memasabg wajah tak percaya, serius kedua orang tua ini ingin melakukan penyelidikan ditempat itu tanpa tahu bahayanya tempat yang akan mereka datangi!?...
" serius!, kalian berdua tidak tahu tentang '7 Misteri Hirozimon Academy' yang sangat terkenal itu!?, bahkan sangking terkenalnya sampai dibuat sebuah Buku!, "
Ucap Miya sambil menunjukan sebuah buku bersampul hitam dengan judul sampul berwarna putih, Naruto dan Tobio mengambil buku itu dan membaca judulnya...
" 7 Urban Legend Hirozimon Academy?, ditulis berdasarkan kisah nyata?... "
Gumam keduanya, Naruto menatap buku itu sejenak sebelum ia membuka dan membaca buku itu, Naruto mengerutkan dahinya melihat daftar isi disana, Tobio yang penasaran ikut membacanya dan sama halnya dengan Naruto, Tobio juga mengerutkan dahinya sebelum ia menatap kearah Miya dengan serius.
" Miya, apa kau yakin apa yang ditulis disini itu benar adanya?. "
Tanya Tobio, Miya terdiam sebelum ia mengangguk dengan wajah serius, Naruto berkeringat dingin sebelum ia tertawa hambar...
" jika begitu maka kita akan berurusan dengan misteri ke 3 [si gadis cermin, Mrs Mary]... "
.
.
.
Tap
Tap
Tap
Dilorong bangunan Asrama perempuan lama, terlihat Naruto, Miya dan Tobio berjalan dengan pelan, keadaan hening menemani mereka bertiga, Tobio mencondongkan tubuhnya kearah Naruto.
" psst~, Naruto, apa kau sudah menemukan kamarnya?. "
" bisakah kau diam?, kau sudah menanyakan hal yang sama setiap lima menit!, dan jawabanku masih sama, Belum!. "
" tsk, kau lama mencarinya, apa susahnya mencari kamar itu. "
Twich!
Perempatan muncul dipelipis Naruto, " Teme... jika begitu kau saja yang mencarinya!, " ucap Naruto dengan nada satu oktaf.
" maa, maa..., Namikaze-kun, sudahlah, Tobio memang begitu, dan Tobio, bisakah kau tidak mengusik Namikaze-kun?, atau kau mau tinju ini bersarang dimulutmu?..., "
__ADS_1
Ucap Miya dengan nada lembut, sangat lembut namun semua itu berbanding terbalik dengan aura tidak mengenakan yang menyelimuti tubuhnya, Tobio berkeringat dingin dan mengeleng cepat sebelum ia mengalihkan pandangannya kedepan.
Hiks...
Hiks...
Hiks...
Sebuah suara isak terdengar ditelinga Tobio hal itu membuat Tobio menghentikan langkahnya dan menatap sekitar untuk mencari asal suara, Naruto dan Miya yang melihat Tobio menghentikan langkahnya juga ikut berhenti dan menatap Tobio dengan pandangan bingung.
" Tobio, kenapa kau berhenti?. "
Tanya Naruto, Tobio terdiam sebelum ia menatap Naruto dengan pandangan serius, " Naruto, Miya... apa kalian dengar sebuah suara?. " tanya Tobio membuat satu alis Naruto terangkat, sebelum ia mengeleng pelan.
" aku tidak mendengar suara apapun, benarkan Asama-san. "
Ucap Naruto dibalas Anggukan oleh Miya, " benar, aku juga tidak mendengar suara apapun, " ucap Miya, sebelum ia terdiam dan menatap Tobio dengan pandangan menyelidik...,
" Tobi-kun, kau tidak melewatkan jadwal pembersihan telingamu bulan ini kan?... "
Tanya Miya dengan nada berbahaya, Tobio tersentak sebelum ia mengeleng cepat, " ti-tidak, aku tidak melupakannya!, aku berani bersumpah demi nama Dewi Lalatina!, aku sudah mengikuti check-up rutinku bulan ini!..., " ucap Tobio dengan nada panik, Naruto yang melihat hal itu memasang wajah blank, serius... jadwal bulanan pembersihan telinga?, memangnya kau anak kecil?...
Miya menatap Tobio sejenak sebelum ia melunakan ekspresinya dan menghela nafas, " baiklah kalau begitu, kau harus rajin membersihkan telingamu, sepertinya 'hadiah' waktu itu bertambah parah sampai-sampai kau berhalusinasi mendengar suara-suara... " ucap Miya sambil melangkah melanjutkan pencarian mereka, Naruto menghela nafas sebelum ia menepuk pundak Tobio pelan.
" Akhir semester nanti, aku akan membelikanmu sekarung corong telinga... gunakan itu untuk membersihkan telingamu yang... "
Ucap Naruto sambil membuat pose jari telunjuk yang melingkari telinganya, sebelum ia melangkah menyusul Miya, Tobio terdiam sebelum ia mengumpat pelan.
" sialan, dikira gangguan telinga parah kali..., telingaku masih normal hanya saja 'sedikit' mengalami cidera... "
Keluh Tobio yang melangkah menyusul Naruto dan Miya yang sudah melangkah terlebih dahulu, tanpa Tobio sadari sepasang mata memantau kepergiannya...
- change scene -
Diruangan dengan dekorasi Kelas VIP, terlihat tiga orang perempuan super cantik tengah duduk disofa empuk nan nyaman dengan tiga cangkir teh didepan mereka, Senju Kyubi, Otsutsuki Kaguya dan Gabriel... ketiga perempuan yang mendapatkan julukan sebagai [The Great Onee-sama] ini terlihat tengah berbincang-bincang ringan.
" Kaguya, Kyubi, aku dengar 'mereka' kini tengah menambah jadwal waktu mereka berlatih hingga akhir semester dan 'mereka' akan kembali tepat disaat pengecekan [Mana] dilakukan... "
Ucap Gabriel membuka pembicaraan, Kaguya dan Kyubi menatap kearah Gabriel sebelum mereka mengambil cangkir teh mereka dan tersenyum tipis.
" ya, Toneri menambah waktu latihannya dan akan kembali tepat disaat pengecekan [Mana] diakhir semester. "
" begitu juga dengan Arashi, dia sepertinya kembali masuk kedalam [Room of Divine], dan akan keluar setelah 3 bulan... "
Ucap kedua pewaris clan ternama itu, Kaguya dan Kyubi menyesap Teh mereka sebelum meletakannya kembali lalu menatap kearah depan...
" tapi, Gabriel, kau memberikan syarat yang berat hanya untuk sebuah kesempatan kencan denganmu, "
Ucap Kaguya dengan nada datar, Kyubi menambahkan.
" benar, apa yang dikatakan Kagu-chan... menjadi tingkat perak dalam waktu enam bulan itu berat, bahkan untuk orang berbakat sekelas Uchiha Sasuke, yang memegang nilai teringgi disaat ujian masuk dengan Kapasitas [Mana] Perunggu bintang 8... "
Gabriel terdiam sebelum ia tersenyum tipis, " ara, bukankah itu bagus, dengan sedikit motivasi, mereka akan bertambah kuat dan terus bertambah kuat, dengan bertambah kuatnya 'mereka' maka pertahanan kerajaan [Alvarez] akan semakin menguat bukan?, seperti kata pepatah dulu, ' satu batu dapat menjatuhkan dua ekor burung ', Ufufufu~ " ucap Gabriel, Kaguya menghela nafas sebelum ia mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan sebelum menatap Gabriel dengan pandangan datar.
" Nee, Kyu-chan. Bisakah kau mengambil beberapa kue yang ada didapur?. "
Ucap Kaguya tanpa mengalihkan pandangannya, Kyubi mengangguk dan berjalan menuju dapur untuk mengambil kue, tepat setelah kepergian Kyubi, Kaguya menjentikan jarinya dan seketika sebuah lingkaran magic muncul diatas meja dan berputar dengan pelan.
Gabriel menatap lingkaran Magic diatas meja sebelum menatap kearah Kaguya yang menatapnya dengan pandangan datar, " [Soundproof], dengan ini Kyubi tidak akan mendengar pembicaraan kita, sepertinya ada yang ingin kau sampaikan padaku secara pribadi, Kaguya. " ucap Gabriel dengan senyuman ramah dijawahnya, Kaguya terdiam sebelum ia menyenderkan punggungnya kesofa dan bersedekap.
" aku tidak sepolos Kyubi yang bisa termakan dengan alasanmu tadi, Gabriel. Kau pasti memiliki tujuan lain pada 'mereka', jika memang benar, maka aku katakan padamu, jangan libatkan Toneri dalam rencanamu, jika tidak... maka kau akan berurusan denganku. "
Ucap Kaguya serius, Gabriel terdiam sebelum ia tertawa kecil, " ufufufu~, tenang saja aku tidak akan melibatkan siapapun dalam rencanaku, kau tahu aku lebih suka bermain sendiri, tapi jika 'mereka' mau membantu, maka itu lain lagi, aku akan menerima bantuan 'mereka' dengan senang hati. " ucap Gabriel, membuat wajah Kaguya sedikit mengeras,
" ka-kau!...-, "
" ha'i, ini dia kuenya. "
Kaguya berdecih ketika mendengar suara Kyubi, ia menghilangkan lingkaran Magic miliknya sebelum menatap tajam Gabriel.
" urusan kita belum selesai, Gabeiel. "
Ucap Kaguya sambil mengambil cangkir teh miliknya, sementara Gabriel hanya memasang senyuman bersahabat, Kyubi yang baru saja kembali dari dapur mengerutkan dahinya, entah kenapa ia merasakan Atmosfir ruangan ini terasa sedikit berat.
" apa terjadi sesuatu?. "
Tanya Kyubi sambil melangkah dan meletakan nampan berisikan beberapa jenis kue itu diatas meja, Gabriel mengeleng pelan " tidak ada, Kyubi-chan. " ucap Gabriel mengambil salah satu kue dan memakannya secara perlahan, Kyubi menatap Gabriel dengan pandangan bingung sebelum ia mengangkat bahu tidak peduli, sementara Kaguya melirik kearah Gabriel sebelum ia meletakan cangkir tehnya dan mengambil salah satu kue kering lalu memakannya secara perlahan.
Hening~
Ditengah keheningan tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihatkan seorang Ayame Shaga, ketiga orang yang ada didalam mengalihkan pandangan mereka dan menatap bingung Shaga yang berjalan kearah mereka dengan ekspresi sulit ditebak karena wajahnya yang sedikit menunduk.
" Shaga-hime?, apa terjadi sesua-,... "
Perkataan Gabriel tidak bisa diselesaikan karena Shaga mengangkat wajahnya dan semua yang ada disana terkejut ketika melihat linangan air mata mengalir menuruni pipi porselen Shaga.
" Mi-Minna..., Hiks!..., "
" Shaga-hime!, apa yang terjadi padamu!... "
" beraninya dia membuat Shaga-chan menangis, akan aku jadikan dia samsak tinjuku!, "
Shaga mengelap air matanya, dan menatap ketiga Sahabatnya yang mengeluarkan nafsu membunuh yang luar biasa menyesakan.
" hiks, Minna..., ak-aku tidak tahu kenapa tapi hiks, disini sangat sakit..., hiks..., "
Ucap Shaga sambil menunjuk kearah dadanya, Gabriel, Kaguya dan Kyubi terdiam sebelum mereka menatap satu sama lain dengan pandangan intens lalu kembali menatap Shaga yang tidak henti-hentinya menangis, Gabriel bangkit dan berjalan menuju Shaga, menuntun Shaga untuk diduduk disebelahnya.
" Shaga-hime, bisa kau ceritakan pada kami kenapa kau bisa jadi seperti ini, dan siapa yang melakukannya?. "
Gabriel menepuk bahu Shaga dengan lembut membuat Shaga menatap kearah Gabriel disebelahnya, Shaga mengelap air matanya sebelum ia mengangguk pelan.
" jadi begini..., "
Shaga menceritakan apa yang ia alami dari awal sampai Akhir dan mendapatkan tatapan tak percaya dari ketiga Sahabatnya.
" begitulah, aku tidak tahu kenapa tapi disini sangat sakit saat melihat dia dengan perempuan lain, ak-aku... hiks..., "
Shaga kembali mengeluarkan isak tangis, jujur saja, dirinya sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya karena baru kali ini ia merasakan perasaan ini, entah kenapa melihat pemuda itu bersama dengan perempuan lain tiba-tiba ia merasakan hatinya serasa diremas dengan sangat kuat, sakit... sangat sakit rasanya.
Gabriel menatap iba Shaga, ia mengusap pelan punggung Shaga berharap hal itu bisa membantu mengurangi kesedihan Sahabatnya ini, Kaguya dan Kyubi juga menatap prihatin Shaga, baru kali ini mereka melihat sisi lain Shaga, sisi yang mengatakan jika murid Wizard terkuat di Academy ini jugalah seorang gadis yang memiliki sisi rapuh, dan kini sisi rapuh itu kini tengah terluka.
" Shaga, jangan bersedih seperti ini, melihatmu sedih kami juga jadi ikutan sedih, "
" benar apa kata, Kagu-chan. Aku sedih melihatmu menangis, Shaga-chan. "
Ucap Kaguya dan Kyubi berusaha menenangkan Shaga namun percuma Shaga masih tetap menangis, Gabriel yang ada disebelah Shaga mengigit bawah bibirnya, sebegitu sakitnya kah cinta bertepuk sebelah tangan?, apa pemuda itu juga... seperti ini... Gabriel mengeleng pelan, apa yang baru saja ia pikirkan tadi?, pikiran konyol!, untuk apa dirinya memikirkan pemuda tidak berguna itu!...,
Gabriel menatap lembut Shaga sebelum berucap, " Nee, Shaga-hime, apa kau yakin jika perempuan yang kau lihat itu adalah kekasih dari pemuda yang kau cintai itu?, apa kau sudah menanyakan padanya tentang perempuan itu?. " Shaga terdiam mendengar perkataan Gabriel sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah Gabriel dan mengeleng pelan.
" be-belum... ak-aku takut bertanya... aku takut jika ketakutanku menjadi kenyataan... Ak-aku harus bagaimana, Gabriel?. Beritahu aku apa yang harus aku lakukan sekarang?. "
Tanya Shaga dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir dan membasahi pipi putihnya, Gabriel terdiam sebelum ia tersenyum ramah dan dengan pelan ia membawa Shaga kedalam pelukan hangat.
" Shaga, terkadang apa yang kau lihat belum tentu itu yang terjadi, mata bisa menipu tapi fakta tidak akan pernah mengkhianati kebenaran, "
Shaga terpaku mendengar perkataan Gabriel, apa yang dikatakan Gabriel ada benarnya, Gabriel melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Shaga dengan lembut, sebelum tersenyum kecil. " jadi, Shaga. cari tahu ada hubungan apa pemuda yang kau sukai dengan perempuan yang kau ceritakan tadi, hanya dengan begitu kau akan mengetahui kebenarannya... " ucap Gabriel, Shaga terdiam sebelum ia menundukan kepalanya sedikit.
" ta-tapi, bagaimana jika mereka benar-benar se-sepasang ke-ke-kekasih?, apa yang harus aku lakukan saat itu terjadi?. "
Tanya Shaga sedih, Gabriel terdiam sebelum ia tersenyum ramah, " saat itu terjadi, kami akan ada disana untuk menghiburmu, Shaga. " ucap Gabriel, Shaga terdiam dan dengan pelan Shaga menghapus bekas air mata dipipinya, sebelum sebuah senyuman terpatri diwajah manisnya.
" arigatou, Minna..., kalian memang sahabat terbaikku. "
Ucap Shaga membuat ketiga orang yang ada disana tidak bisa untuk tidak tersenyum, Kyubi tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya, " tunggu sebentar, Shaga-chan, akan aku buatkan teh herbal, teh herbal bisa menenangkan suasana hatimu, Shaga-chan. " ucap Kyubi melangkah menuju dapur, Kaguya menatap kearah Shaga dengan pandangan intens.
" nee, Shaga. Menurutku seharusnya kau tidak perlu takut seperti itu, kau memiliki wajah yang sangat cantik, bentuk tubuhmu juga bisa membuat pemuda manapun bertekuk lutut dihadapanmu lantas kenapa kau harus takut, aku yakin pemuda yang kau sukai akan langsung jatuh hati padamu, melihat betapa sempurnanya dirimu, "
Ucap Kaguya sambil menyesap teh miliknya, Shaga terdiam sebelum ia tersenyum miris. " jika dalam penampilan seperti ini aku tidak akan takut untuk menyatakan perasaanku padanya, namun dia hanya mengetahui penampilanku yang..., " Shaga menghentikan perkataannya, Shaga menguncir rapi rambut emasnya, mengambil kacamata baca tebal disakunya lalu mengenakannya dan kini pesona bak bidadari lenyap digantikan dengan image seorang kutu buku...
" ... seperti ini, dengan penampilan seperti ini apa kau masih bisa mengatakan apa yang kau katakan sebelumnya, Kaguya?. "
Tanya Shaga masih dengan senyuman miris diwajahnya, Kaguya mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum ia memasang wajah terkejut, tidak hanya Kaguya saja, Gabriel yang ada disebelah Shaga sudah memutih layaknya tepung dan tak lupa darah yang mengalir disudut bibirnya sangking shocknya.
" ka-kau ingin menyatakan perasaanmu dengan pe-penampilan seperti ini?, Sh-Shaga..., ap-apa kau waras?, dia mana mungkin tertarik padamu jika penampilanmu seperti ini!. "
Ucap kaguya Shock, Shaga tersenyum pahit, " aku sudah menduga kau akan mengatakan itu, memang benar dia tidak akan tertarik namun itu lebih baik daripada menyatakan perasaanku dengan penampilan 'perfect'ku, dan aku juga menyadari jika aku menyatakan perasaanku dengan penampilan 'perfect'ku dia akan terkena banyak masalah, karena statusku dan statusnya disekolah ini tidak bisa disejajarkan..., apa lagi status rahasiaku ini... Hal itu hanya akan membuat dia semakin banyak terkena masalah, " ucap Shaga pelan membuat Gabriel dan Kaguya terdiam, mereka berdua hampir melupakan siapa Ayame Shaga yang sebenarnya, keduanya tersenyum miris, Gabriel menatap kearah Shaga sebelum tersenyum pahit.
" kami hampir lupa tentang statusmu yang sebenarnya, Shaga-hime. Bahwasannya kau adalah-, "
" cukup, Gabriel, jangan diteruskan..., aku tidak menyukainya. "
Perkataan Gabriel dipotong cepat oleh Shaga yang memasang wajah tak suka dengan apa yang akan dikatakan Gabriel, " aku tidak suka status rahasiaku dibicarakan ditempat seperti ini. " ucap Shaga tegas membuat Gabriel langsung mengatup mulutnya...
" ufufufu~, maaf Shaga-hime. Aku hampir saja mengatakannya. "
Shaga menghela nafas dan kembali kepenampilan perfect miliknya, " tidak masalah, Gabriel. Namun lain kali jangan sampai membicarakan statusku ditempat yang bisa didengar orang lain... hal yang sama juga berlaku untukmu, Kaguya. " ucap Shaga menatap datar Kaguya yang hanya bisa mengangguk pelan, tak lama setelah itu, Kyubi datang dengan membawa nampan dengan cangkir teh diatasnya...,
" Ha'i, ini tehmu, Shaga-chan. "
Kyubi meletakan teh diatas meja, Shaga mengucapkan terimakasih sebelum ia mengambil cangkir tehnya, ia meniup pelan uap yang pengepul sebelum ia menyesapnya pelan..., perlahan Shaga dapat merasakan ketenangan batin, setelah cukup puas Shaga meletakan kembali cangkir teh diatas meja sebelum menatap Kyubi dengan senyuman lembut.
" terimakasih, Kyu-chan. Teh herbalnya sangat enak. "
" senang melihatmu kembali kedirimu lagi, Shaga-chan. "
- change scene -
" membosankan..., kapan kita bisa menemukan kamar itu, "
Tobio bersuara dengan nada bosan, alis Naruto dan Miya berkedut mendengar perkataan Tobio, sudah lebih dari dua jam mereka mencari namun tetap tidak bisa menemukan kamar yang mereka cari dan selama itu pula Naruto dan Miya mendengarkan lantunan 'indah' dari Tobio..., Miya yang sudah hampir mencapat batas menahan kesabarannya mencengkram pedang dipinggangnya dengan tangan bergetar...
" ne-nee..., Namikaze-kun, bolehkah jika aku... "
__ADS_1
" aku tahu apa yang ingin kau lakukan, Asama-san. aku juga ingin melakukannya, namun jika kau melakukannya maka Tobio akan menghantui kita, dan jika itu terjadi, maka rumah sakit jiwa akan mendapatkan dua pasien sakit jiwa baru, jadi tahanlah..., "
Ucap Naruto membuat Miya menghela nafas frustasi dan melunakan postur tubuhnya, Naruto melirik kearah Tobio anang menatap datar kedepan sebelum ia menghela nafas dan menghentikan langkahnya dan hal itu membuat Miya dan Tobio juga ikut menghentikan langkahnya.
" Tobio, Asama-san, kita akan berpencar, jika kita mencarinya bersamaan maka akan memakan waktu yang lama... "
Ucap Naruto sambil menoleh kebelakang, Tobio terdiam sebelum ia melirik Miya yang mengangguk kearahnya, Tobio menghela nafas sebelum ia menatap kearah Naruto dengan serius.
" Baiklah, kita akan berpencar... Naruto, kau akan mencari dilantai 3, aku lantai 1 dan Miya, kau dilantai 2, kita akan bertemu lagi didepan pintu masuk, dan jika kalian menemukan sesuatu, berikan tanda, mengerti! "
" Ha'i~ / Ha'i... "
Setelah itu ketiga orang itu berpencar, Naruto melangkah kelantai tiga, Miya lantai dua, dan Tobio lantai satu, ketiganya mencari terus dari kamar kekamar, sampai matahari mulai meninggalkan tahta miliknya, Naruto menghela nafas sepertinya ia belum bisa menemukan kamar yang dicari...,
" yo, Naruto..., bagaimana apa kau menemukan sesuatu?, "
Naruto menatap kedepan dimana ia melihat Tobio yang tengah menunggu dipintu keluar, Naruto berjalan mendekati Tobio dan mengeleng pelan.
" aku tidak menemukan apapun, terlalu banyak kamar yang harus dicek satu persatu, aku baru menyelusuri separuh dari seluruh kamar yang ada, "
Ucap Naruto, Tobio mengangguk pelan, " sayang sekali, aku juga tidak bisa menemukan apapun, aku harap Miya mendapatkan sesuatu, atau kita akan pulang dengan tangan hampa. " ucap Tobio, Naruto mengangguk pelan.
" berharap saja Asama-san menemukan petu-, "
" Kyaaaa!?. "
Sebuah suara membuat Naruto dan Tobio langsung menatap satu sama lain, suara itu kan, suara Miya!?..., keduanya mengangguk sebelum mereka langsung berlari cepat menuju lantai 2..., Naruto dan Tobio berlari mencari asal suara teriakan hingga pandangan mereka terkunci pada sebuah pintu yang terbuka, tanpa banyak waktu lagi mereka mempercepat langkah mereka...,
Sesampainya disana, kedua orang itu melihat Miya tengah berdiri tepat didepan sebuah cermin berukuran cukup besar, Tobio dan Naruto berjalan cepat kearah Miya yang nampaknya membeku ditempat.
Tobio menepuk Bahu Miya yang langsung tersentak dan mengambil satu langkah menjauh dari Tobio..., Tobio menaikan satu alisnya bingung melihat tingkah Miya.
" Miya, ada apa?, kami tadi mendengarmu berteriak apa terjadi sesuatu?. "
Tanya Tobio, Miya terdiam dan menatap Tobio dari atas sampai bawah sebelum tanpa aba-aba Miya langsung menerjang dan memeluk erat Tobio yang tentu saja terkejut mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Miya.
" Mi-Miya... ad-ada apa?, ke-kenapa kau-, "
Tobio menghentikan perkataannya ketika merasakan pakaianhya basah, Miya... menangis?, Tobio terdiam ketika mendengar suara Isak tangis dari Miya sebelum dengan lembut Tobio membalas pelukan Miya.
" usst~, tidak apa, Miya. Kau aman sekarang. "
Ucap Tobio mencoba menenangkan suasana hati Miya yang ketakutan, Miya mengangkat wajahnya dan menatap Tobio yang tersenyum kearahnya, Tobio menghapus lelehan air mata Miya dengan lembut.
" tidak apa, sekarang kau sudah aman, Miya. Aku sudah ada disini untuk melindungimu. "
Ucap Tobio lembut, Miya menatap Tobio sejenak sebelum ia menyembunyikan wajahnya didada bidang Tobio, " ummu, terimakasih, Tobio. " ucap Miya pelan, Tobio tersenyum sebelum ia memeluk Miya dengan lembut.
" tentu saja, sebagai tunanganmu aku tidak bisa membiarkan perempuan yang aku cintai ketakutan seperti ini..., jadi tenanglah, oke. "
Ucap Tobio lembut, Miya terdiam sebelum ia mengeratkan pelukannya, " ummu, Tobio..., aku bersyukur memiliki tunangan sepertimu, aku mencintaimu. " ucap Miya lembut, Tobio tersenyum, Naruto yang melihat kemesraan didepannya memutar matanya bosan...,
' Master apa kau cemburu?, '
Ucap Ophis tiba-tiba lewat Mind Link, Naruto mengerutkan dahinya mendengar perkataan Ophis, " hah?, untuk apa aku cemburu?, " ucap Naruto, Ophis didalam [Library World] melayang pelan diudara...,
' ya, karena sampai sekarang, Master belum memiliki kekasih dan sekarang Master melihat sepasang kekasih tengah bermesraan didepanmu, apa master tidak cemburu..., '
" hah~, Ophis, bukankah sudah aku bilang, aku belum tertarik mencari pasangan hidup, tidak sampai clanku mendapatkan derajat layaknya Clan utama..., "
" uhm?, begitu..., sepertinya tekadmu sudah bulat ya, Master?. '
" tentu saja, seorang pria sejati tidak akan menarik kembali apa yang telah ia ucapkan, "
' Master sekali..., tapi, Master apa kau tidak terkejut. '
Ucap Ophis, Naruto mengerutkan dahinya, " terkejut?, terkejut karena apa?, " tanya Naruto, Ophis memiringkan kepalanya bingung melihat reaksi Masternya.
' bukankah dua orang bernama Tobio Ikuse dan Asama Miya itu tidak pernah akrab lalu kenapa mereka bertunangan jika tidak cocok satu sama lain?, ' tanya Ophis membuat Narutp terdiam sebelum ia menghela nafas.
" apa yang kau katakan, Tobio dan Asama-san tidak pernah bertunangan..., bukan begitu, Tob-, "
Naruto menghentikan perkataannya ketika melihat Tobio mencekik leher Miya dan mengangkatnya tinggi-tinggi, iris mata Naruto melebar ketika melihat Miya kesakitan akibat cekikkan Tobio...
" Tobio!, apa yang kau laku-, "
" katakan padaku, dimana Asama Miya yang Asli. "
" hah?, "
Ucap Tobio datar dan dingin membuat Naruto langsung mengeluarkan pekikan bodoh. " To-Tobio, ap-apa yang kau katakan?, dia Asama Miya?. " ucap Naruto, Tobio terdiam sebelum melirik kearah Naruto dengan pandangan dingin.
" dia..., bukan Miya, Miya yang kukenal tidak akan pernah menanggapi candaanku dengan serius, dan satu hal lagi, sejak kapan aku dan Miya bertunangan?.. "
Ucap Tobio dingin membuat Naruto langsung terdiam, apa yang dikatakan Tobio benar, jadi itu artinya Miya yang ini 'palsu', Tobio kembali menatap Miya 'palsu' didepannya dengan pandangan dingin nan menusuk.
" katakan dimana, Miya..., jika tidak maka aku akan menghancurkan benda berharga milikmu. "
Ucap Tobio dingin, Miya 'palsu' berusaha melepaskan cekikan Tobio namun percuma tenaga Tobio terlalu besar...,
" aku katakan sekali lagi, Dimana Miya atau aku akan benar-benar menghancurkan milikmu yang berharga. "
Ucap Tobio, Miya 'palsu' meringis kesakitan namun pandangan matanya sesekali melirik kearah samping dan hal itu tidak lepas dari pandangan Tobio...,
" tidak mau bicara ya?, baiklah, kalau begitu, kau yang minta..., Naruto!, hancurkan cermin itu!. "
Ucap Tobio membuat Naruto dan Miya 'palsu' tersentak sebelum Naruto mengangguk dan berjalan pelan kearah Cermin besar itu, Miya menatap Naruto dengan mata terbuka lebar.
" be-berhenti!, ap-apa yang ingin ka-kau lakukan!. "
Ucap Miya 'palsu' itu, Naruto tidak mengubris ucapan Miya dan berjalan menuju cermin itu, Naruto melipat lengan pakaiannya sebelum memasang kuda-kuda siap memukul..., Miya membulatkan matanya, dia akan memukul cermin itu!?...,
" He-hentikan!?, ugh!, ja-jangan hancurkan cermin itu!?. "
" Naruto, lakukan!, "
Naruto mengangguk dan membunyikan buku-buku tangannya sebelum ia menyeringai kecil, dan menarik tangan kanannya yang terkepal erat kebelakang...,
" sayonara, cermin..., "
Ucap Naruto sebelum melepaskan pukulan kearah cermin itu, Miya 'palsu' yang melihatnya melebarkan matanya.
" Hentikan!?..., "
Sebuah bayangan putih keluar dari tubuh Miya dan melesat cepat kearah Naruto, Naruto menghentikan pukulannya tepat ketika sebuah bayangan putih berdiri menghalangi pukulan Naruto...,
" aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan 'wadah'ku!. "
Naruto mengedipkan matanya berkali-kali, dihadapannya saat ini terlihat seorang perempuan mungil bersurai hitam panjang dengan pakaian berwarna putih panjang menutupi dirinya dari atas sampai bawah, iris sehitam malam miliknya terlihat sudah berkaca-kaca, seperti dia ketakutan...,
" owh..., jadi ini, [Mrs Mary] itu, tidak seperti Image yang ada dibuku, mengecewakan. "
Gumam Tobio, Naruto tersadar dari dunianya dan menoleh kebelakang seketika keringat dingin langsung memenuhi wajah Naruto, Tobio yang merasa diperhatikan Naruto.
" Naruto?, ada apa?, kenapa kau terlihat seperti ketakutan seperti itu?. "
Tanya Tobio, Naruto tidak menjawab dan hanya menunjuk dengan jari yang gemetar, Tobio menaikan alisnya bingung sebelum ia mengikuti arah tunjukan Naruto dan seketika rona sehat diwajah Tobio lenyap..., Miya, saat ini tengah memasang senyuman manis kearah Tobio, bukan itu yang Tobio takutkan, tapi aura hitam keunguan yang menguar gila dari tubuh Miya Plus tiga Topeng Hannya mengerikan...,
" Mi-Miya..., ak-aku bisa jelaskan-, "
Grep!
" Mi-Miya, ap-apa yang ingin kau lakukan..., he-hentikan!, kau akan mematahkannya!, lenganku patah!, patah!?..., "
Krak!?
" Ghaaaaa!?..., "
.
.
.
" ehem!, perkenalkan, ini adalah Mrs Mary, atau lebih kenal dengan sebutan [Si Gadis Cermin, Mary], "
Miya memperkenalkan Gadis hantu bernama Mary yang saat ini tengah melayang dengan posisi duduk, Naruto yang tengah menatap kasihan Tobio yang tergeletak diatas lantai mengalihkan pandangannya dan menatap Mary sejenak sebelum ia menatap kearah Miya.
" jadi, gadis ini hantu dan salah satu legenda mengerikan Hirozimon Academy?. " Tanya Naruto dengan nada ragu, Miya mengangguk pelan.
" tentu dia adalah Mrs Mary yang asli, dia sudah menghuni Asrama ini selama bertahun-tahun, jika tidak percaya kau bisa menanyakan padanya, Namikaze-kun. "
Ucap Miya, Naruto mengangguk pelan sebelum ia menatap kearah Mary yang melayang bersembunyi dibelakang Miya, " Kau apa kau benar-benar, [Si Gadis Cermin, Mrs Mary]?. " tanya Naruto dengan pandangan menyelidik, Mary terdiam sebelum dengan takut-takut ia mengangguk.
" owh, berarti benar kau Mrs Mary. "
" cepat sekali!?. "
Naruto hanya memasang senyuman lima jarinya membuat Miya menghela nafas, " jadi, dia benar-benar Mrs Mary?, " Naruto menyabet kepalanya kesamping dan melihat Tobio sedang berusaha bangkit dari 'kematian' singkatnya, Naruto menatap iba Tobio, dia benar-benar tahan banting, pikir Naruto.
" ya benar dia adalah Mrs Mary, dan ada satu hal yang harus kalian tahu tentang, Mrs Mary..., dia menjadi arwah penasaran karena dia dibunuh, dan pembunuhnya adalah Makhluk yang sama yang berniat membunuh kita kemarin malam..., "
Ucap Miya membuat Naruto dan Tobio membulatkan mata mereka lebar.
" ja-jangan bilang..., "
Miya mengangguk pelan, " yang membunuh Mrs Mary, tak lain dan tak bukan adalah, [Shadow the Reaper]...
.
.
.
__ADS_1
... [Maria Rossfield] "