
Disebuah halaman belakang Clan Namikaze terlihat seorang pemuda bersurai pirang berantakan dengan iris shappire tengah menatap kosong pemandangan orang-orang yang bekerja...
Iris shappire kosong miliknya melirik kesekitar dan yang ia dapati hanyalah sebuah halaman yang mengalami kerusakan parah, kawah berbagai ukuran ada sana-sini, pohon-pohon yang biasanya menghiasi halaman itu rusak parah layaknya dihantam topan, iris shappirenya bergulir dan menatap kesamping dimana ia melihat sebuah lubang besar dan banyak sekali puing-puing bangunan yang berserakan...
Pemuda itu mengalihkan pandangannya dan nenatap kebawah, ia menundukan kepalanya dengan sedih. Ophis yang berada didalam [Library World] menatap sedih pemuda yang menjadi Masternya itu.
'Master... Ini bukan salahmu...'
Mendengar suara dari Ophis membuat pemuda bersurai pirang dengan nama Asli Namikaze Naruto tersenyum miris.
"Tidak, ini salahku... Akulah penyebab semua kekacau-an ini... Dan karena aku juga... Jeanne, Azi Dahaka dan Ikarus..."
Suara Naruto semakin mengecil dan mengecil, Ophis terdiam, ia tahu dengan jelas jika Masternya tengah menyerang dirinya sendiri dengan rasa bersalah, ia merasa jika semua kerusakan yang terjadi adalah kesalahannya, Ophis memejamkan matanya, pikirannya melayang kehari dimana Shaga berhasil menghentikan Naruto yang mengamuk.
-Flashback-
"Hime-sama!?..."
Minato, Kushina dan Pleiades bergegas menuju Naruto dan Shaga yang tergeletak tak sadarkan diri diatas tanah.
Minato mengecek keadaan Shaga sementara Kushina dengan cepat mencabut katana yang menusuk tubuh putranya, darah dengan cepat mengalir deras membasahi tanah.
Kushina menatap panik luka putranya, luka itu sangat dalam hingga menembus tubuh putranya.
"Minato! Pendarahan Naruto tidak bisa dihentikan! Jika begini... Jika begini terus maka Naruto... Naruto bisa..."
Kushina menekan luka putranya dengan kuat berharap darah berhenti mengalir namun kenyataan berkata lain darah malah semakin banyak keluar, air mata mengalir dari iris violet Kushina. Minato yang mendengar hal itu dengan cepat bangkit dan menatap kearah seorang Maid dengan rambut pirang bergaya bor dengan iris biru indah.
"Solution, kau bisa sedikit mengerti dalam bidang pengobatan bukan? Bisa aku serahkan Hime-sama padamu?."
"Baiklah, akan saya lakukan yang terbaik."
Ucap Solution membuat Minato mengangguk pelan dan dengan cepat berpindah memeriksa yang menyadari kehadiran Minato menoleh kesamping dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.
"Minato... Lakukan sesuatu... Naruto... Darahnya tidak mau berhenti..."
Minato yang melihat air mata sang istri merendahkan tubuhnya dan meletakan tangannya dibahu Kushina, iris shappire Minato menatap lembut Kushina.
"Tenanglah, aku akan melakukan sesuatu, aku tidak akan membiarkan pewaris Clan-ku yang selanjutnya mati."
Ucap Minato lembut sebelum mengalihkan pandangannya kearah Naruto yang tergeletak didepannya, ia menatap kearah tubuh Naruto dimana ia melihat 20 luka tusukan yang menembus tubuh putranya, jika ini Manusia Normal sudah jelas ia akan mati tapi Naruto bukanlah Manusia yang bisa dimasukan kedalam kategori manusia normal...
'Tidak ada kata normal untuk putraku setelah melihat apa yang terjadi.'
Batin Minato, ia menatap luka putranya sebelum ia merapalkan mantra sihir, perlahan sebuah lingkaran sihir berwarna hijau lembut muncul diatas tubuh Naruro dan bersinar terang namun...
Pyaaaaar!
Lingkaran sihir yang ada diatas tubuh Naruto entah kenapa tiba-tiba menghilang, Kushina dan Minato terpaku melihat hal itu, mereka berdua tidak mengerti dengan apa yang baru saja terjadi.
"A-Aku coba sekali lagi..."
Minato kembali merapalkan mantra namun hal yang sama terjadj, lingkaran sihir yang baru aktif tiba-tiba lenyap tanpa sebab...
"Mi-Minato... Ap-Apa yang terjadi."
"Ak-Aku juga tidak mengerti, Kushina... Aku sudah yakin mengaktifkan sihir penyembuhan namun entah kenapa sesaat setelah aktif lingkaran itu tiba-tiba lenyap..."
"Ke-kenapa bisa seperti itu?..."
"Aku juga tidak tahu, tapi entah bagaimana tubuh Naruto menolak untuk disembuhkan..."
Ucap Minato dengan frustasi, ia tidak tahu bagaimana bisa tubuh putranya menolak untuk disembuhkan namun mau bagaimanapun ia melakukan sihir penyembuhan tetap saja sesaat setelah diaktifkan lingkaran sihir penyembuhan miliknya lenyap tanpa sebab yang jelas. Kushina shock dengan apa yang dikatakan Minato sebelum ia menatap Naruto yang ada didepannya.
"Tidak... Tidak... Aku tidak ingin melihat putraku satu-satunya mati didepan mataku sendiri... Aku mohon, Minato lakukan sesuatu selamatkan putra kita..."
Ucap Kushina dengan air nata yang mengalir deras membasahi pipinya, Minato mengeraskan wajahnya, kenapa ia menjadi begitu tidak berguna... Ia tidak bisa menghentikan amukan putranya dalam keadaan [Berserk] dan ia juga tidak bisa menyembuhkan putranya dengan kemampuannya?... Ditengah kemarahan karena merasa tidak berguna, sebuah suara masuk ketelinga Minato.
"Mi...Minato-sama..."
Minato menoleh kebelakang dan ia melihat Solution Epsilon memasang wajah pucat dan kehilangan rona sehat, iris matanya terlihat bergetar dengan gelisah.
"... Tubuh, Hime-sama melemah dengan tidak normal, detak jantung dan nadi-nya terus menurun, jika dibiarkan lebih lama Hime-sama bisa..."
Minato melebarkan matanya mendengar perkataan Solution, ia bergerak cepat dan menyentuh tanda kehidupan milik Shaga dan benar apa yang dikatakan Solution denyut nadi Shaga melemah dengan cepat.
"Kalian beri aku ruang, aku akan mencoba menyembuhkan Hime-sama..."
Ucap Minato dengan serius dan tanpa diperintah dua kali para Pleiades langsung menjauh, Minato menatap Shaga dengan serius sebelum ia berkonsentrasi dan merapalkan mantra sihir tingkat tertinggi yang ia kuasai.
[Healing Magic: Cure Heal]
Lingkaran Magic muncul diatas tubuh Shaga dan mengeluarkan sinar lembut yang menyelimuti setiap inchi tubuh Shaga, beberapa saat kemudian lingkaran sihir menghilang dan cahaya mulai meresap kedalam tubuh Shaga.
Minato kembali mengcheck tanda kehidupan Shaga dan seketika iris shappire Minato melebar sempurna.
"Denyut nadi... Masih melemah... Bagaimana mungkin."
Minato bergumam dengan tidak percaya dan kembali melakukan Healing Magoc namun hasilnya tetap sama, tanda kehidupan Shaga masih terus melemah...
"Sebenarnya apa yang terjadi... Kenapa tidak sembuh juga? Apa yang salah dengan kondisi Shaga dan Naruto? Kenapa mereka seolah menolak untuk disembuhkan..."
Minato bergumam dengan pelan, ia meremas kepalanya dengan frustasi, ia yang dijuluki jenius dalam sihir dan Lord termuda dari yang lain dibuat bingung dengan keabnormalan yang terjadi pada tubuh Shaga dan Naruto.
"Nampaknya beban yang diterima keduanya sangat berat ya..."
Minato dan semua yang ada disana secara serentak mengalihkan pandangan mereka kesamping dan ia melihat seorang perempuan bersurai pirang dikuncir panjang, iris dark-pink miliknya menatap kedepan dengan lembut, senyuman tipis terpatri diwajah perempuan itu. Melihat kemunculan dari seorang yang tidak mereka kenal, membuat semua memasang sikap waspada. terlebih orang itu mengenakan pakaian yang bisa diasumsikan sebagai pakai seorang prajurit...
Dress biru gelap dengan gauntlet silver dikedua tangannya, pelindung dada, rantai terlihat dibeberapa bagian tubuhnya, dan tak lupa helm untuk melindungi kepalanya. Dibalik punggung perempuan itu terlihat sebuah tombak dengan bendera disana. Dan tepat disebelah perempuan itu, seorang perempuan bertubuh mungil dengan surai hitam sekelam malam panjang, mengenakan dress gohtic berwarna hitam dengan berenda ungu, iris senada dengan surainya menatap kedepan tanpa emosi sedikitpun.
"Siapa kalian..."
Tanya Minato dengan nada dingin, perempuan cantik itu tersenyum tipis melihat sikap waspada dari Minato.
"Kami? Tidak penting siapa kami, yang jelas kalian harus cepat-cepat melepaskan 'beban' yang ada ditubuh pemuda dan perempuan itu atau jika tidak mereka bisa mati."
Ucap perempuan itu dengan lembut pada awalnya namun menjadi dingin begitu ia mengatakan kalimat 'mati', beberapa dari Pleiades menegang sedikit ketika Iris Dark-Pink menatap semua dengan dingin. Minato terdiam sebelum ia menatap tajam perempuan itu.
"Dari perkataanmu tadi sepertinya kau mengetahui apa yang terjadi pada putra dan calon menantuku... Dan bisa aku asumsikan kau juga tahu cara menyelamatkan mereka dari keadaan mereka."
Ucap Minato dengan datar, perempuan itu tersenyum mendengar balasan dari Minato... Entah kenapa mendengar dan melihat Minato saat ini mengingatkan ia dengan kejadian yang mirip dengan situasi ini dimana ia bertemu dengan seorang pemuda yang langsung dapat menebak tujuannya diawal pertemuan mereka.
'Heh... buah tidak jatuh jauh dari pohonnya ya...'
Perempuan itu melirik kearah Naruto yang masih tergeletak disamping Kushina yang menatap tajam dirinya, dengan senyuman yang tidak luntur ia kembali menatap Minato.
"Jika aku bisa menyembuhkan mereka... Apa yang akan kau lakukan? Apa kau akan memaksaku atau-,"
__ADS_1
Perkataan perempuan itu terhenti ketika ia melihat dengan matanya sendiri, Minato merendahkan tubuhnya dan melakukan dogeza... Kushina dan Pleiades melebarkan mata mereka melihat apa yang dilakukan Minato, bersujud didepan orang asing yang tidak diketahui asal usulnya!? Apa yang ada dikepala kuning pria yang menjadi ketua clan Namikaze itu...
"Mi-Minato apa yang kau-,"
"Aku mohon, jika kau memang benar-benar bisa menyelamatkan nyawa putra dan calon menantuku, tolong selamatkan mereka. Aku akan memberikan apapun padamu, bahkan nyawa-ku yang tidak berguna ini untukmu, tapi sebelum kau mencabut nyawaku, tolong selamatkanlah putra dan calon menantuku."
Semua yang ada disana dibuat membisu mendengar perkataan Minato, bagi pandangan seorang bangsawan apa yang dilakukan oleh Minato adalah sebuah hinaan karena menundukan kepala pada orang yang tidak diketahui status sosialnya, jika ini berada di ibukota sudah jelas Minato akan menjadi bahan hinaan.
Tapi... Bagi seorang ayah, apa yang dilakukan Minato adalah sebuah tanda dari kasih sayang seorang ayah pada anak tersayangnya, dan hal itu dirasakan oleh salah satu dari [Classer Ruler of World], Wild of Ruler... Jeanne.
Jeanne tersenyum menatap Minato sebelum ia dengan pelan menarik tombak yang ada dibelakangnya.
"Pertama, tolong angkat kepala anda."
Ucap Jeanne membuat Minato mengangkat kepalanya dan melihat Jeanne yang tengah mengibaskan tombaknya hingga membuat bendera ditombaknya berkibar dengan anggun sebelum ia menghentakan tombaknya ketanah.
"Aku bersumpah atas nama pemberian Masterku, aku akan mengabulkan permohonanmu."
Ucap Jeanne dengan lembut membuat Minato mengangkat kepalanya dan menatap senyuman yang begitu indah dari Jeanne. Dengan masih tersenyum Jeanne meminta semua orang menjauh dan dengan cepat semua menjauh.
Jeanne menatap kedepan dimana ia melihat dua orang yang tengah tergeletak didepannya, ia menatap lekat pemuda yang mengalami luka fatal pada tubuhnya itu...
'Master... Maafkan aku yang tidak berguna untukmu, aku masih begitu lemah hingga menjadi beban untukmu... Aku...'
'Kau bukan tidak bisa membantuku, kau hanya belum bisa...'
Jeanne tersenyum ketika ia mengingat perkataan dari orang yang ia akui sebagai Masternya, orang yang akan ia berikan semua miliknya untuk orang itu, orang yang ia... Jeanne mengeleng pelan, ini bukan saatnya membawa emosi pribadi... Ia harus mempriotaskan keselamatan dua orang didepannya.
Ophis yang berada tak jauh dari Jeanne menatap kosong Jeanne yang tengah mencoba memakai kembali kekuatan Sakral miliknya.
"Aku tidak tahu resiko apa yang akan kau terima jika kau terus menggunakan kekuatan sakral mu, Jeanne."
Ucap Ophis pelan sebelum ia menoleh dan menatap kearah dua katana yang tergeletak tak jauh dari dirinya, Ophis menatap kedua katana itu sebelum ia berjalan mendekati kedua katana itu, merendahkan tubuhnya, ia mencoba menyentuh kedua katana itu tapi tiba-tiba Aura tipis menampik tangan Ophia membuat ia tidak bisa menyentuh kedua katana itu... Ophis menatap tangannya yang terlihat bekas merah sebelum ia menatap kembali dua katana hitam dan putih itu.
"Begitu... Kalian memilih untuk melakukan-nya ya..."
Ucap Ophis sebelum ia bangkit dan meninggalkan kedua katana yang mulai kembali seperti semula, Ophis menundukan sedikit kepalanya sebelum mengalihkan pandangannya dan menatap Jeanne yang mulai diselimuti aura emas.
"Dasar dua Makhluk Nekat..."
Gumam Ophis pelan entah pada siapa. Perlahan aura emas berkumpul disekitar Jeanne, Minato, Kushina dan para Pleiades dibuat terpukau dengan aura emas yang dikeluarkan oleh Jeanne, aura itu hanya dengan melihat orang akan tahu betapa murninya Aura mana itu, Jeanne memutar tombaknya dengan anggun sebelum suara yang begitu indah bergema dihalaman itu.
[Luminosite Eternelle]
Aura emas bersinar dengan lembut, butiran-butiran cahaya emas berterbangan disekitar Naruto dan Shaga lalu membungkus mereka dengan lembut.
Jeanne menatap kearah keduanya, dan senyuman lembutpun terpatri disana, ia mulai merasakan jika pancaran kehidupan mereka mulai kembali, luka ditubuh Naruto dengan cepat tertutup bagai menonton rekaman ulang dari sebuah video, sementara Shaga terlihat jika tubuhnya mulai terisi oleh rona sehat sebab jantung miliknya telah kembali berdetak dengan normal.
Perlahan aura emas mulai menghilang, Jeanne menghela nafas melihat semua berjalan dengan lancar, ia tersenyum dan kembali meletakan tombak miliknya kepunggungnya. Melihat proses telah selesai Kushina dan Minato tanpa banyak waktu lagi mendekati Naruto dan Shaga untuk mengcheck tanda kehidupan mereka... Dan hasilnya mereka terkejut dengan keadaan Naruto dan Shaga, tanda kehidupan mereka terasa bahkan hampir bisa dikatakan jika mereka pulih total.
"Dengan begini mereka akan baik-baik saja..."
Ucap Jeanne sebelum ia berbalik meninggalkan keluarga besar Namikaze itu. Minato dan Kushina menatap kearah Jeanne yang berjalan menjauh dari mereka.
"Tunggu!..."
Jeanne dan Ophis menghentikan langkah mereka sebelum mereka menoleh kebelakang dan mereka melihat Minato dan Kushina berdiri dengan tergesa-gesa dan membungkukan tubuhnya.
"Terimakasih, saya tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa terimakasih saya, jika ada yang anda inginkan dari kami maka kami akan memberikannya pada anda."
Ucap Minato dengan hormat, ia tidak memperdulikan apa ia seorang bangsawan atau bukan yang jelas ia harus memberikan rasa hormat pada orang yang telah menyelamatkan keluarganya, Jeanne dan Ophis berbalik dan menatap Kushina dan Minato.
"Tidak tolong biarkan kami memberikan kalian imbalan, kami akan merasa sangat hina jika anda tidak menerima imbalan apapun atas usaha anda menyembuhkan anak-ku."
Jeanne terdiam melihat Minato yang nampak begitu gigih membalas budinya, Ophis yang melihat sifat Minato menghela nafas pelan sebelum ia menatap kearah Jeanne.
"Kau sebaiknya meminta imbalan, Jeanne. Orang ini tidak akan pernah menyerah jika tujuannya tidak tercapai seperti orang 'itu'."
Ucap Ophis membuat Jeanne terdiam sebelum ia menghela nafas, seperti kata Ophis, Minato tidak akan menyerah sebelum ia menerima imbalan, sungguh buah yang jatuh tidak jauh dari pohon-nya, menatap Minato yang masih menundukan kepalanya padanya.
"Baiklah, aku akan minta imbalan-ku..."
"Jika begitu apa yang bisa kami berikan untuk anda?."
"Aku ingin... Kalian semua untuk menjaga pemuda bersurai pirang itu, kondisi tubuhnya memang telah pulih tapi tidak dengan mentalnya, aku yakin kau tahu apa maksud-ku."
Ucap Jeanne seraya berbalik dan membuat Minato terdiam berbeda dengan Kushina yang nampaknya memahami apa maksud dari perkataan Jeanne. Kushina menegapkan tubuhnya dan menatap punggung Jeanne dan Ophis.
"Tunggu! Sebelum pergi bisakah kalian katakan nama kalian!..."
Jeanne dan Ophis berhenti sebelum kedua perempuan cantik itu menoleh kebelakang.
"Jeanne... Jeanne D'Arc..."
"Ophis... Hanya Ophis..."
"Terimakasih, Jeanne-sama, Ophis-sama... Kami benar-benar berterimakasih pada kalian."
Ucap Kushina membuat Jeanne tersenyum tipis sebelum ia berbalik dan melambaikan tangan mereka, setelah kepergian kedua orang misterius itu Minato menegapkan tubuhnya, dan berbalik namun sebelum itu ia melirik kearah kemana dua orang tadi pergi, ia sebenarnya sejak awal menaruh curiga dengan dua perempuan itu sebab ia tahu jika kedua perempuan itu adalah perempuan yang sama yang tak sadarkan diri bertepatan dengan Naruto yang mengalami [Berserk]... Minato ingin sekali bertanya pada kedua perempuan itu tentang siapa mereka tapi ia tahan karena ia memproitaskan keselamatan putra san calon menantunya.
'Aku akan bertanya pada Naruto, mungkin ia mengetahui siapa perempuan-perempuan itu... Jeanne D'arc dan Ophis ya... Aku akan mengingat nama mereka.'
"Minato! Apa yang kau lakukan disana! Cepat bantu angkat Naruto!."
"Ha'i! Aku kesana!."
-Jeanne and Ophis Side-
"Ophis..."
"Aku tahu..."
Ophis menatap kearah Jeanne yang duduk menyenderkan tubuhnya kebatang pohon, terlihat wajah kelelahan terpatri diwajahnya, keringat membasahi wajahnya, nafasnya menjadi sangat berat. Ophis berjalan mendekati Jeanne dan merendahkan tubuhnya.
"Kau terlalu ceroboh menggunakan teknik sakralmu sebanyak dua kali tanpa jeda membebani tubuh dan menguras [Mana] murnimu..."
Jeanne tersenyum lemah mendengar perkataan Ophis, ia menatap Ophis, ia melihat tepat dimata hitam kosong Ophis terdapat setitik kesedihan.
"Ophis... Bagaimana keadaan Azi Dahaka dan Ikarus?."
Tanya Jeanne, Ophis terdiam sebelum ia menghela nafas dan menciptakan lingkaran sihir yang langsung mengeluarkan sinar nyaman yang menyelimuti tubuh Jeanne, Ophis tahu menyembuhkan Jeanne adalah suatu hal yang sia-sia tapi Ophis puas jika ia sedikitnya dapat membuat Jeanne tetap sadar.
"Mereka tertidur karena kelelahan, mereka menarik semua kekuatan mereka dari dalam tubuh Master dan menyegel diri mereka sendiri, sekarang butuh waktu untuk membuat mereka sadar..."
"Begitu..."
Jeanne bergumam pelan, Ophis menghilangkan lingkaran sihirnya dan menatap senyuman lemah diwajah Jeanne.
__ADS_1
"Kau juga akan pergi?."
"Aku menyesal, tapi aku harus melakukannya... Aku sudah tidak memiliki kekuatan yang tersisa."
Jeanne tersenyum miris sebelum ia perlahan menatap kearah Ophis, Jeanne terkejut sejenak karena melihat mata berkaca-kaca dari Ophis yang masih mempertahankan ekspresi datarnya, sepertinya Ophis benar-benar sedih. Jeanne tersenyum.
"Ophis... Aku akan tertidur untuk waktu yang cukup lama, karena itu bisakah aku menyerahkan Master dalam pengawasanmu?."
"... Tanpa kau bilang aku pasti akan melakukannya."
"Ya aku tahu..."
Jeanne tersenyum lembut, tubuhnya perlahan mulai mengurai menjadi Partikel cahaya, Ophis menatap hal itu dengan wajah datar namun matanya mengkhianati, air mata mengalir menuruni pipi Ophis.
"Ophis, kau adalah pelayan pertama Master... Jadi aku mengandalkanmu, jaga Master selama kami tidak ada... Sampai jumpa lagi, Chibi-ko"
Ucap Jeanne sebelum ia menghilang sepenuhnya, disaat Akhir Jeanne meneteskan air mata dan memasang senyuman yang begitu lembut. Ophis menatap partikel cahaya milik Jeanne sebelum ia menundukan wajahnya dengan sedih.
"Sampai jumpa lagi, Baka-Onna..."
-Flashback End-
Ophis memejamkan matanya, mengingat perpisahan yang dilakukan oleh para Makhluk yang menghuni tubuh Naruto.
Jeanne, Azi Dahaka dan Ikarus melakukan hibernasi untuk memulihkan kekuatan mereka yang telah mereka gunakan untuk menyelamatkan Master mereka, Namikaze Naruto. Mereka bertiga mengorbankan semua kekuatan mereka demi Master mereka, dan tidur untuk memulihkan kekuatan mereka.
'Master... Jeanne, Azi Dahaka dan Ikarus, mereka mengorbankan semua kekuatan mereka demi menghentikan dirimu yang lepas kendali, mereka melakukan itu karena mereka menyayangimu, Master...'
Naruto yang tengah merenungkan apa yang telah ia lakukan terdiam tidak membalas perkataan Ophis membuat Ophis mengigit bawah bibirnya debgan sedih.
'Master... Aku mohon, jangan salahkan dirimu sendiri... Melihatmu seperti ini membuatku sedih, aku juga yakin Jeanne, Azi Dahaka dan Ikarus akan merasakan hal yang sama jika mereka melihat mu yang seperti ini... Mereka bertiga berjuang demi menyelamatkanmu, apa kau ingin menodai perjuangan mereka dengan sikapmu yang seperti ini!?...'
Naruto terlonjak kaget ketika ia mendengar suara Ophis yang berteriak padanya, Naruto terdiam ketika ia mendengar suara isak tangis dari Ophis... Ophis yang selalu memasang wajah datar dan kosong menangis untuknya...
"Ophis... Maaf aku tidak bermaksud membuatmu sedih."
'Baka... Master Baka..."
Betapa bodoh dirinya, ia sudah membuat Ophis, orang yang selalu menemaninya jauh sebelum ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya, orang yang selalu membantunya dalam setiap pertarungan hidup dan mati, ia begitu bodoh karena membuat orang yang sangat dekat dengannya menangis sedih... Naruto membulatkan tekadnya dan berkata.
"Ophis... Aku berjanji padamu, aku tidak akan bersedih lagi, aku tidak akan menyalahkan diriku lagi, karena itu maafkan aku, dan berhentilah menangis... Aku mohon..."
Ophis menatap kearah sang Master yang meminta maaf dengan sungguh-sungguh, Ophis menyeka air matanya dan mengangguk pelan.
'Umm, aku akan memegang janjimu, Master.'
Ucap Ophis membuat senyuman tipis terpatri diwajahnya Naruto, ia menarik nafas sebelum bangkit dari tempatnya, ia tidak boleh terus bersedih disini, masih banyak hal yang harus ia lakukan terutama...
"Ophis... Maukah kau membantuku?."
'Umm? Tentu saja, sebagai pelayanmu aku akan selalu membantu, Master.'
Naruto tersenyum mendengar jawaban dari Ophis, ia menatap kearah punggung tangannya dimana ia melihat dua buah simbol ditangannya, simbol hewan buas dengan tiga kepala berwarna hitam dipunggung tangan kanan-nya dan dua buah sayap berwarna merah ditangan kirinya... Ia menatap kedua simbol itu sebelum tersenyum lembut. Sebenarnya masih ada satu lagi simbol dipunggungnya, itu adalah simbol unik berwarna merah gelap.
"Azi Dahaka, Jeanne, Ikarus... Aku akan menunggu kalian karena itu, cepat kembalilah."
Ucap Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap langit biru, ia memasang senyuman tipis sebelum ia berjalan memasuki Mansion yang tengah diperbaiki... Naruto berjalan menuju sebuah ruangan khusus dan masuk kedalam dimana didalam ia melihat Minato tengah mengerjakan beberapa berkas yang menumpuk, merasakan seseorang datang Minato mengalihkan pandangannya dan menatap seseorang yang baru Masuk, senyuman tipis terpatri diwajah-nya melhat orang yang baru masuk.
"Ayah... Ada yang ingin aku bicarakan padamu."
-change scene-
"Tobio... Ini sudah waktunya..."
"Heh... Begitu kah?."
Disebuah halaman yang begitu luas terlihat seorang perempuan bersurai ungu panjang tengah menatap seorang pemuda bersurai hitam tampan yang tengah duduk diatas batu besar selagi tangannya mengelus seekor anjing kecil berwarna hitam disebelahnya. Pemuda itu bangkit dan menatap kedepan dimana Matahari bersinar dengan terang sebelum ia berbalik dan menatap perempuan bersurai ungu dengan mata cokelat digaris pandangannya.
"Sudah saatnya kita berkumpul lagi ya?..."
"Benar, liburan hampir selesai..."
"Begitu kah? Aku penasaran sudah seberapa banyak Naruto berkembang..."
"Aku rasa kita akan dibuat terkejut olehnya, ia tidak pernah tidak membuat kita terkejut kau tahu?."
"Ya aku rasa kau benar Miya, ia tidak pernah tidak membuat kita terkejut..."
"Ufufu~ tapi kali ini kita juga akan membuatnya terkejut bukan begitu, Tobio-kun."
"Ya kau benar..."
Ucap Tobio sambil menatap kedepan dimana ia melihat halaman yang luas itu terlihat rusak dengan sangat parah, pohon-pohon banyak sekali yang tertebang dengan begitu halus, ada juga yang diselimuti kegelapan pekat yang seolah-olah mengerogoti pohon-pohon itu...
Tobio menyerangai menatap hal itu...
"Sejauh apa kau sudah berkembang Naruto..."
-change scene-
Disebuah hutan yang lebat, didaerah yang lumayan luas terlihat seorang pemuda bersurai hitam dengan iris senada dengan warna rambutnya tengah duduk bersandar pada pohon dibelakangnya, ia menatap keatas dengan sesuatu yang ditutupi kain dibahunya, menatap langit yang begitu indah sebelum ia tersenyum kecil.
"Sudah saatnya ya... Kita akan bertemu lagi bukan begitu, Naruto-san."
Ucap Pemuda bernama Cao Cao itu, mengangkat tangannya dan mengeluarkan sesuatu dari balik pakaian, itu adalah sebuah kalung dengan bandul sesuatu seperti taring hewan yang terlihat baru beberapa tahun mati, Cao Cao menatap kalung itu sebelum ia menutup matanya dan meremas lembut kalung itu seraya tersenyum tipis.
"Bagaimana keadaanmu disana, Hime..."
Ucap Cao Cao pelan sebelum ia memasukan kembali kalung itu dibalik bajunya dan bangkit menepuk pakaiannya, ia meletakan sesuatu yang ditutupi kain itu di bahunya dan menatap kedepan dimana ia melihat berbagai macam Magical Beast mati dengan lubang tusukan diseluruh tubuh mereka, Cao Cao tersenyum tipis dan berbalik meninggalkan gunungan bangkai Magical Beast.
-change scene-
Sementara itu didaerah pegunungan yang bersuhu dingin, terlihat seorang pemuda tengah bertelanjang dada dan tengah melakukan push up yang cukup-sangat-ekstream, bagaimana tidak ia melakukan push-up dengan kaki keatas dan bertumpuhan dengan dua ibu jarinya, terlebih pemuda bersurai hitam bergaya mangkok itu melakukannya dipinggir jurang yang mana jika jatuh maka akan langsung mati...
"997...998...999...1000!."
Pemuda bernama Rock Lee itu langsung mendorong tubuhnya kebelakang dan berdiri diatas kakinya, terlihat keringat membasahi setiap inchi tubuhnya, Lee bangkit dan menatap kedepan dimana ia melihat matahari sudah mulai tinggi...
Lee mengatur nafasnya yang memburu, setelah tenang ia berkancang pinggang dan menjulurkan tinjunya kedepan...
"Sudah saatnya kita berkumpul... Aku penasaran sejauh apa kau berkembang, Naruto-kun..."
Ucap Lee dengan senyuman membara miliknya, ia sudah tidak sabar untuk berkumpul diajang yang menurutnya akan menjadi titik balik dari hidupnya... Tidak, hidup mereka.
""""Kita akan bertemu lagi Di Academy!? Kita tunjukan pada mereka siapa kita!?.""""
Liburan telah berakhir dan semua murid Academy mulai kembali untuk menuntut ilmu, selama mereka Libur Academy telah menyiapkan sebuah Turnamen antara Divisi, Turnamen yang akan menjadi tempat pemilihan siapa yang pantas maju untuk mewakili Ras Manusia dalam Event Besar 4 Ras... Turnamen itu dinamai...
__ADS_1
[The Great Royal Tournament]