
Naruto menatap Shaga yang saat ini tengah dikendalikan oleh Eneas, Magical Beast miliknya Mizuumi no Reijin. Pancaran energi tak kasat mata menyelimuti tubuh Shaga, energi itu terasa lembut namun mengancam disaat yang bersamaan.
Naruto perlahan melangkah kedepan dengan langkah berat... Tubuh Naruto terasa sakit dan lemas, efek dari penggunaan [Magia Erebea: Raiten Taiso] kini mulai terasa... Tubuhnya terasa sangat lemah.
Naruto jatuh ketika ia merasakan satu kakinya terasa mati,"Kuso... Efek dari [Raiten Taiso] begitu membebani tubuhku..." Naruto berusaha bangkit namun percuma ia terlalu banyak kehilangan stamina dan kapasitas [Mana] miliknya hampir terkuras habis.
Eneas atau Shaga menatap kearah Naruto yang berusaha bangkit, dengan gerakan lembut Shaga mengangkat tangannya dan pedar energi tipis menyelimuti telapak tangan Shaga, dan dalam satu kali hentakan sebuah Shockwave menghantam tubuh Naruto menghempaskan Naruto keatas sebelum jatuh membentur lantai dengan kuat.
Naruto tergeletak dilantai, tubuhnya sudah tidak sanggup lagi untuk berdiri, Naruto hanya bisa menatap kearah Shaga yang menatapnya dengan pandangan datar... Naruto menjulurkan tangan-nya berusaha mengapai Shaga namun rasa sakit ditubuhnya membuat kesadarannya semakin pudar dan detik selanjutnya pandangannya berubah hitam sepenuhnya.
.
.
.
"Kau dikalahkan, Huh?."
Naruto menatap kearah langit putih tanpa mengubris suara dari sampingnya dimana disana terlihat 'Naruto' lain yang menatapnya dengan senyuman tipis diwajahnya.
"Yare, Yare... Dengan semua kekuatan hebat yang kau miliki kau masih bisa dikalahkan... Jika begitu apa guna-nya kau berlatih keras?."
Naruto memejamkan matanya sejenak sebelum perlahan ia bangkit dan duduk sebelum ia melirik kearah 'Naruto' yang menatapnya dengan wajah ramah.
"Pertanyaan yang sama aku kembalikan padamu, apa gunanya kau berdiam diri disini sementara dirimu diluar sana diperlakukan dengan tidak manusiawi, kenapa kau tidak melawan?."
'Naruto' terdiam sejenak sebelum ia meletakan pantatnya dan duduk disebelah Naruto yang menatapnya dengan datar. "Banyak yang harus dipikirkan sebelum kau melawan para bangsawan itu, Naruto. Kau tahu didunia ini kekuatan dan status sosial adalah sesuatu yang mutlak, raja didunia ini memiliki hak penuh pada rakyatnya. Dan para bangsawan, mereka mengatur hidup rakyat jelata sesuka hati mereka, menatap rendah keluarga bangsawan dari kasta rendah dan diskriminasi pada mereka yang tak berbakat. Aku tahu kau sudah merasakan dengan jelas bagaimana perlakuan bangsawan elit itu pada bangsawan rendahan seperti clan Namikaze, Naruto." 'Naruto' melirik kearah Naruto yang hanya dapat terdiam mendengar perkataan-nya. Ingatan Naruto langsung melayang mengingat Heiress selanjutnya dari Clan Hyuga yang dengan Arogan berniat menyerangnya dengan Taijutsu yang hanya dimiliki Clan Hyuga, [Juken].
Tidak hanya itu pewaris clan Hyuga itu juga meminta pembatalan pertunangan antara dirinya dengan Hyuga Hinata secara sepihak, melihat itu Naruto tidak bisa menahan dirinya lagi dan melihat Kehormatan Clan Namikaze direndahkan lebih jauh... Naruto dengan cepat melemparkan surai cerai dan akhirnya Naruto mendapatkan tantangan berduel dari Heiress Clan Hyuga itu, tanpa berpikir panjang Narito langsung menyetujuinya... Dan duel mereka akan diadakan beberapa bulan lagi dipuncak Temple of Moon. Naruto menghela nafas para bangsawan memang memuakkan.
"Setelah kau mengatakan itu, aku rasa para bangsawan elit memang sudah keterlaluan dan menyalah gunakan status mereka sebagai bangsawan elit."
"Benarkan?. Maka dari itu sebelum kau berdiri dipuncak maka kau harus menghajar para bangsawan elit agar mereka tidak menggunakan kekuasaan mereka untuk menekanmu dan memaksamu untuk melayani mereka... Kau tidak ingin hal itu terjadikan?."
'Naruto' tersenyum selagi ia mengatakan itu dengan ringan, Narito terdiam sebelum ia mengangguk setuju, akan jadi hal yang merepotkan jika sampai Naruto melayani para bangsawan elit keparat itu...
"Jika begitu, aku rasa langkah awal yang harus aku lakukan adalah memperbaiki kondisi ekonomi Clan Namikaze lalu meningkatkan Pamor Clan Namikaze agar Ayah dapat kembali berjaya seperti dulu."
"Tepat!, dan karena itulah saatnya kau menunjukan pada dunia siapa Namikaze Naruto, gunakan semua kemampuan yang kau miliki untuk membangkitkan Clan Namikaze."
Naruto terdiam sebelum ia melirik kearah 'Naruto' yang tersenyum lebar kearahnya. "Lalu apa yang kau lakukan disini?, berdiam dan melihatku bekerja sendirian?." tanya Naruto, 'Naruto' melunturkan senyuman lebarnya sebelum ia tersenyum miris.
"Aku tidak punya pilihan lain, semenjak kau mengambil ahli tubuhku, aku sudah tidak memiliki hak untuk kembali kedunia nyata, aku akan selama-nya berada disini dan memperhatikan apa yang kau lakukan didunia sana... Karena itu, aku mohon padamu, Naruto. Selamatkan dan buatlah Jaya Clan Namikaze, hanya kau yang bisa melakukan-nya."
'Naruto' tersenyum dan menjulurkan brofist pada Naruto yang menatap kearah 'Naruto' dalam diam sebelum ia tersenyum dan menyambut brofist 'Naruto'.
"Serahkan saja padaku, akan aku buat nama kita, Clan kita dikenal dan dihormati oleh empat ras dibenua Britania."
'Naruto' tersenyum kecil sebelum perlahan tubuhnya bercahaya, cahaya itu perlahan merambat dan menyelimuti tubuh Naruto, cahaya hangat dan nyaman itu membuat Naruto tersentak awalnya sebelum ia perlahan dibuat rileks... Naruto yang rileks tidak menyadari jika 'Naruto' perlahan dipenuhi oleh luka-luka yang cukup parah... Tak lama cahaya itu meredup dan menghilang, Naruto membuka matanya dan seketika iris Shappire miliknya melebar ketika melihat 'Naruto' didepannya telah tergeletak dengan tubuh dipenuhi luka yang cukup parah... Bukannya merasakan sakit 'Naruto' hanya mengulas senyuman tipis.
"Ka-kau... Kenapa kau bisa terluka seperti ini?."
"Tidak apa, aku hanya memindahkan semua luka, kelelahan dan rasa sakitmu ketubuhku... Kau harus dalam kondisi prima sebab diluar, kau harus melawan perempuan berbahaya itu... Kau harus mengalahkannya sebelum kau menyelamatkan Clan Namikaze dari krisis ekonomi. Berjuanglah Naruto, kalahkan Magical Beast itu dan selamatkan Shaga-Hime."
Naruto terkejut mendengar perkataan 'Naruto' memindahkan luka, rasa sakit dan kelelahan ketubuhnya?, apa-apa pemuda ini!, kenapa dia melakukan hal itu!, Naruto berusaha untuk menyentuh 'Naruto' namun saat sedikit lagi jarinya akan menyentuh 'Naruto' tiba-tiba cahaya terang bersinar terang dan membuat kesadaran Naruto menghilang.
.
.
.
Dikamar Naruto, terlihat Jeanne, Maria dan Ophis tengah duduk terdiam dibelakang meja persegi yang biasa digunakan oleh Master dan mereka makan bersama, ketiga perempuan itu tengah terhanyut dalam keheningan... Tidak ada dari mereka bertiga yang berniat membuka pembicaraan. Ophis yang nampaknya ingin mengatakan sesuatu menarik nafas sejenak sebelum ia menatap kearah dua teman sekamarnya.
"Ne, apa menurut kalian apa kita tidak bersikap keterlaluan pada, Master. Kita sudah mendiamkan-nya selama dua hari, dan jujur saja aku tidak sanggup mendiamkan Master lebih lama lagi."
Ucap Ophis dengan pandangan kosong miliknya menatap kedua perempuan didepannya yang terdiam sebelum mereka memasang wajah bersalah.
"Yeah~, aku rasa kita sudah keterlaluan..."
Jeanne berucap dengan nada menyesal, Maria mengangguk membenarkan perkataan Jeanne.
"[Benar, aku rasa kita harus segera meminta maaf pada, Naruto-san]."
Ucap Maria membuat kedua perempuan cantik dan imut itu mengangguk kompak.
Deg!
Ophis dan Jeanne secara bersamaan tiba-tiba tersentak sebelum mereka berdua dengan cepat berdiri dan berjalan menuju jendela, Maria yang melihat keduanya bertingkah aneh menaikan satu alisnya dengan bingung.
"Master dalam bahaya..."
Maria mengerutkan dahinya mendengar gumaman kompak dari Jeanne dan Ophis, Master dalam bahaya?... Itu artinya... Maria melebarkan matanya ketika ia menyadari sesuatu, Master dari Jeanne dan Ophis tidak lain dan tidak bukan adalah Naruto!, dan itu artinya Naruto dalam bahaya!. Jeanne dan Ophis perlahan merubah pakaian mereka.
Jeanne memakai pakaian lengkap berwarna biru gelap dengan sarung tangan logam dan rantai yang menghiasi leher dan dada-nya juga tak lupa helm unik yang melindungi kepalanya, sementara Ophis merubah pakaiannya menjadi pakaian Loli Gpthic berwarna hitam dengan bando berenda berwarna ungu menghiasi surai hitamnya.
Kedua perempuan jadi-jadian itu perlahan berubah menjadi partikel cahaya dan menghilang dari sana meninggalkan Maria yang hanya bisa menatap kepergian Jeanne dan Ophis dengan pandangan berharap.
'[Semoga kau baik-baik saja, Naruto-san]'
.
.
.
Diarena Stadium, terlihat Shaga tengah menatap datar kearah Naruto yang tergeletak tak sadarkan diri disana, Shaga perlahan berjalan kearah Naruto dengan iris Blue Crystal yang terkunci pada Naruto.
Shaga menatap Naruto dengan pandangan kosong sebelum ia mengangkat tangannya dan perlahan tangan iti diselimuti oleh pedar energi tipis, Shaga berniat melepaskan kembali Gelombang kejut kearah kepala Naruto, dari jarak sedekat itu sudah dapat dipastikan kepala Naruto akan langsung terbenam dilantai atau hancur berkeping-keping mengingat Gelombang kejut yang Shaga lepaskan berdaya hancur seperti meriam yang menembakan hola besi besar.
Shaga menjauhkan tangannya kebelakang sebelum dengan cepat ia melesatkan telapak tangannya yang berdaya hancur setara meriam itu dan berniat meremukan kepala Naruto namun ketika Shaga akan melepaskan gelombang kejut sebuah serangan yang mengarah pada lehernya menghentikan niatan-nya dan memaksa Shaga untuk melompat menjauh.
Shaga menegapkan tubuhnya dan menatap datar kedepan dimana ia melihat seorang perempuan cantik bersurai pirang pucat memakai pakaian dress berwarna biru berbalut armor perang yang menutupi tangan dan bagian tubuh-nya tengah berdiri selagi tangannya mengenggam sesuatu yang transparan.
Arthuria Pendragon, perempuan itu ternyata telah tersadar dari pingsan-nya dan kini berdiri membelakangi Naruto, ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, kepalanya terasa pening... Arthuria meringis pelan merasakan nyeri dibagian kepala-nya ketika mencoba mengingat apa yang terjadi... Arthuria perlahan melirik kesekitar dan ia melihat bahwa dirinya kini berada diarena khusus untuk Divisi Wizard... Arthuria juga melihat Kaguya dan Kyubi yang tergeletak cukup jauh darinya, iris Emerlad miliknya bergulir dan menatap kearah Shaga, Arthuria mengeraskan sedikit wajahnya melihar iris blue Shappire dengan pupil emas Vertikal dimata Shaga... Tidak salah lagi.
"Sial keadaan buruk ini terjadi, Segel Shaga telah melemah."
Arthuria bergumam dengan nada pelan yang menyembunyikan rasa frustasi didalamnya, Arthuria bersiaga dengan pedangnya ketika melihat Shaga membuat tangannya diselimuti pedar energi tipis, Arthuria menyipitkan matanya ketika Shaga memukul udara kosong, tunggu dulu itu... Shockwave!.
Trank!
Arthuria melebarkan matanya ketika ia menahan gelombang kejut yang Shaga lepaskan, terlalu kuat bahkan Arthuria sampai dipaksa untuk terseret kebelakang. Arthuria melebarkan matanya ketika Shaga telah berada didepannya dan berniat menghantamkan shockwave kearah kepalanya, tidak ingin terkena shockwave berbahaya Shaga, Arthuria dengan cepat memiringkan kepalanya dan membiarkan telapak tangan Shaga melewati wajahnya.
Wush!
Blaaar!
Shockwave Shaga melesat dan meremukan atap Stadium, Arthuria yang melihat celah mengayunkan pedangnya namun berhasil dihindari oleh Shaga... Kedua perempuan itu saling serang dan menghindar dengan kecepatan tinggi, Shaga berniat mengalahkan Arthuria dengan Shockwave sementara Arthuria ingin mengalahkan Shaga dengan serangan tebasannya.
Arthuria mengayunkan pedangnya kearah perut Shaga namun hak itu terbaca oleh Shaga yang dengan cepat menahan pergelangan tangan Arthuria yang terkejut jika serangan-nya dapat dibaca, Shaga mengabaikan wajah terkejut Arthuria dan dengan cepat Shaga mengarahkan tangannya yang terbebas keperut Arthuria dan dalam satu kali hentakan sebuah Power Wave kuat meremukan Armor Arthuria dan memaksa darah menyembur dari mulut Arthuria.
Kuatnya power Wave menghempaskan Arthuria kebelakang dengan cepat namun sebelum Arthuria membentur dinding sebuah bayangan muncul dan menahan punggung Arthuria hingga Arthuria tidak jadi membentur tembok.
Arthuria yang merasa seseorang menahannya menoleh kebelakang dan ia melihat seorang perempuan cantik dengan iris Dark blue tengah menatap kedepan, surai pirang sebahu dan dikepang panjang pada bagian belakang membuat kecantikan natural terpancar dari perempuan itu.
"Si... Siapa kau?."
Perempuan itu mengalihkan pandangannya kearah Arthuria iris emerlad dan dark blue bertatapan satu sama lain. Sebelum iris Dark Blue miliknya menatap tajam kedepan, Arthuria menatap perempuan yang memapahnya dengan pandangan bingung sebelum sebuah suara mengalihkan pandangan Arthuria.
"Jeanne, Master tengah dalam keadaan kritis, [Mana] miliknya hampir terkuras habis, dan tubuhnya juga sangat lemah, jika dibiarkan Master pasti akan mati."
Arthuria mengalihkan pandangannya kesamping dan ia melihat tepat disebelah Naruto duduk seorang perempuan mungil dengan wajah imut yang melebihi angka maks, terlihat iris gelap miliknya menatap kearah Naruto dengan intens... Tunggu?, sejak kapan Naruto ada disana bukankah ia seharusnya berada ditengah Arena?. Jeanne tanpa menoleh berucap.
"Ophis!, apa kau bisa menyelamatkan Master?."
"Aku bisa menyelamatkannya dari kondisi kritis dengan terus mensuplai dan memperbaiki jalur [Mana] milik Master yang tersumbat, tapi itu membutuhkan waktu."
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?."
"Lima menit, beri aku lima menit dan aku akan menyelamatkan Master."
"Lima menit?, geez... Itu cukup sulit, kau tahu cebol."
"Lakukan saja, ini demi Master."
Arthuria mengerutkan dahinya, Master?... Apa yang kedua perempuan ini katakan?. Jeanne yang tersadar jika ada orang lain menoleh kearah Arthuria yang menatap bingung dirinya dan Ophis. Jeanne menghela nafas lega ketika melihat Arthuria nampak tak paham dengan apa yang terjadi.
"Kau... Apa kau masih bisa bertarung?."
Tanya Jeanne, Arthuria tersadar dari kebingungannya dan menatap Jeanne sebelum mengangguk pelan. Jeanne tersenyum tipis.
"Kalau begitu bantu aku melawan-nya, sejujurnya aku sendiri tidak akan sanggup menahan dia dengan tingkatanku yang sekarang."
Ucap Jeanne selagi Dark Bluenya menatap Shaga yang sedaritadi terdiam didepannya, Arthuria terdiam sejenak, bekerjasama ya?, itu bukan usulan yang buruk.
"Umu, aku akan membantumu."
Arthuria perlahan bangkit dan berdiri dengan tegap, Jeanne tersenyum kecil sebelum ia menyiapkan kuda-kuda, iris dark blue miliknya menatap kedepan dengan intens, ia sepertinya pernah merasakan pancaran energi ini, tapi dimana?. Jeanne menepis firasatnya itu sebelum ia memasang wajah serius.
Jeanne merentangkan tangannya kesamping dan perlahan lingkaran Magic muncul dan mengeluarkan sebuah tombak dengan bendera berkibar, itu adalah harta mulia milik Jeanne.
Jeanne menarik tombak kebanggannya dan memutarnya dengan cepat, Shaga terdiam menatap kearah Jeanne yang kini tengah memasang sikap siap bertarung.
"[Joker...]"
Shaga bersiaga ketika melihat Jeanne dan Arthuria melesat kearahnya dengan cepat, Shaga menghindari tombak Jeanne dengan memiringkan tubuhnya sebelum ia melompat kebelakang ketika Arthuria muncul dari samping dan menghunuskan pedang transparannya. Shaga terdiam sebelum ia dengan cepat menyelimuti kedua tangannya dengan pedar energi tipis dan melesat kearah kedua perempuan pirang itu...
Ophis yang ada dipinggir arena menatap pertarungan sengit antara Arthuria, Jeanne melawan perempuan kenalan Masternya dan juga merupakan seorang penjaga perpustakaan yang jika tidak salah bernama Ayame Shaga... Ketiga perempuan pirang itu saling serang dan menghindar dengan cepat, Ophis mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Masternya yang terbujur didepan-nya.
Ophis membuka Blaze rusak milik Naruto hingga membuat tubuh berkulit tan menggoda itu terekpos keluar, bagian tubuh yang berisi oleh otot yang tak berlebihan membuat tubuh itu begitu mempesona, Ophis meletakan tangan mungilnya diatas perut sedikit berotot Naruto dan menutup matanya lalu memulai berkonsentrasi, pedar cahaya memulai menyelimuti tangan Ophis, cahaya lembut itu perlahan terserap kedalam tubuh Naruto.
Ophis mengerutkan dahinya ketika ia merasakan jika tubuh Masternya yang awalnya lemah dengan cepat menjadi pulih, Ophis membuka matanya dan melihat tubuh Masternya yang perlahan mulai bercahaya lembut, Ophis melebarkan iris matanya ketika melihat luka pada tubuh Masternya menghilang seolah tidak pernah ada luka disana... Apa yang sebenarnya terjadi?. Batin Ophis.
Trank!
Jeanne dan Arthuria mengeraskan wajah mereka, lagi-lagi serangan mereka berhasil dipatahkan oleh Shaga. Kedua perempuan bersurai pirang itu melompat kebelakang ketika Shaga berniat menembakan Shockwave dari tangannya...
Wussh!
Wussh!
Blaaaar!
Blaaaar!
Jeanne dan Arthuria kebelakang menatap dua buah kawah akibat shockwave yang Shaga lakukan, apa-apaan kekuatan Shockwave tadi... Shaga menatap kedepan dimana ia melihat Jeanne dan Arthuria tengah menatapnya dengan tatapan waspada.
__ADS_1
"[Joker...]"
Jeanne menyipitkan matanya ketika Shaga menyebutkan namanya. "kau... Darimana kau mengetahui nama itu." ucap Jeanne dengan nada mengintimidasi, Shaga memiringkan kepalanya sedikit.
"[Joker... Kau... Tidak mengenaliku?.]"
Jeanne mengernyitkan dahinya dengan bingung sebelum ia melebarkan matanya ketika ia mengingat sesuatu, Jeanne perlahan maju kedepan dan menatap kearah Shaga yang juga menatap kearahnya.
"[Eneas?, apakah itu kau?.]"
Arthuria mengerutkan dahinya ketika perempuan yang bernama Jeanne itu berbicara dengan bahasa lain yang tidak dapat ia mengerti. Berbeda dengan Shaga yang mengangguk pelan, sepertinya Shaga memahami bahasa itu.
"[Lama tidak bertemu, Joker. Nampaknya kau telah terlepas dari Segel itu.]"
"[Ya, berkat kau dan keenam yang lain. Aku harus terjebak dalam bola Crystal itu untuk waktu yang lama.]"
"[Kami tidak memiliki pilihan, kau yang memaksa kami untuk melakukannya.]"
"[Lupakan masa lalu, aku sekarang telah terbebas dari Crystal terkutuk itu, dan nampaknya kau juga telah terbebas dari Crystal itu, Eneas.]"
Shaga nampak terdiam sejenak sebelum ia menatap kearah Jeanne yang menatap datar dirinya.
"[Kau... Apa kau masih ingin meneruskan rencana tabumu, Joker.]"
Jeanne terdiam sebelum ia menyeringai tipis, "[tentu saja, aku akan melanjutkan Rencanaku, rencana yang pernah kalian hancurkan waktu itu.]" ucap Jeanne, Shaga terdiam sebelum matanya menatap tajam Jeanne.
"[Kalau begitu, aku akan melenyapkanmu disini, Joker. membiarkanmu menjalankan rencana mu hanya akan mengacaukan tatanan didunia ini.]"
Setelah mengatakan itu, Shaga meledakan energi ditubuhnya hingga membuat gelombang angin yang menerbangkan sekitar, perlahan penampilan Shaga berubah, surai pirang miliknya kini ternodai oleh warna biru yang indah, Armor perang tipis yang membalut sebuah Dress berwarna biru muda yang indah, sebuah Tiara dengan berlian shappire ditengahnya menghiasi kepala Shaga, dari bawah Shaga lingkaran Magic muncul dan mengeluarkan sebuah tongkat berwarna silver dengan sebuah berlian shappire diatas tongkat itu.
Arthuria melebarkan matanya melihat wujud Shaga, wujud itu tidak salah lagi, segel Shaga mulai rusak. Jeanne menyeringai tipis meskipun keringat dingin menuruni pelipisnya.
"Ini gawat, kekuatannya melebihi perkiraanku..."
Gumam Jeanne pelan, Shaga menatap kearah Jeanne sebelum ia dengan cepat menghentakan tongkat miliknya kelantai dan seketika sebuah sulur air muncul dari genangan air yang tercipta akibat pertarungan Shaga dengan Naruto sebelumnya didekat kedua perempuan itu, sulur itu bergerak dengan cepat dan mengikat Arthuria dan Jeanne dengan kuat.
"[Sekarang kalian tidak akan bisa bergerak untuk menghindari seranganku ini...]"
Setelah mengatakan itu, Shaga kembali menghentakan tongkatnya ketanah dan seketika puluhan lingkaran Magic muncul dibelakang Shaga, Jeanne dan Arthuria melebarkan mata mereka melihat lingkaran Magic itu bersinar terang sebelum sedetik kemudian menembakan puluhan magic yang melesat kearah mereka, sadar tidak bisa menghindar mereka berdua memejamkan mata mereka pasrah. ketika sebentar lagi puluhan Magic itu mengenai mereka sebuah suara masuk kedalam telinga mereka.
"Kemarilah Eleanor!, Byakumaru!."
Blaaaaar!
Sebuah ledakan hebat bergema disana, debu membumbung tinggi dan menghalangi pandangan mata, Shaga menatap datar kearah kepulan debu sebelum ia menyipitkan mata ketika ia melihat seseorang berdiri didalam kepulan debu.
Jeanne dan Arthuria yang tak merasakan sakit sama sekali perlahan membuka mata mereka dan dihadapan mereka saat ini terlihat punggung telanjang seorang pemuda yang diselimuti petir ganas, surai pirang panjang miliknya melambai-lambai tertiup angin.
"Apa kalian baik-baik saja."
Jeanne dan Arthuria mendongakan kepala mereka dan keduanya melihat sepasang mata berbeda warna emas dikanan dan shappire dikiri, sebuah senyuman tipis tidak luput dari pandangan mereka...
"Na...Naruto. / Ma...Master."
Ya, dihadapan Naruto saat ini terlihat wujud terkuat dari seorang Namikaze Naruto, [Magia Erebea: Raiten Taiso]. Naruto berbalik dan menonaktikan aura petir miliknya lalu sebuah senyuman tipispun tercipta melihat kedua perempuan cantik itu memasang wajah terkejut.
"Jika kalian bisa terkejut seperti itu, maka kalian baik-baik saja."
Naruto tersenyum sebelum ia dengan cepat memotong sulur air yang mengikat tubuh Jeanne dan Arthuria.
"Master... Dia..."
"Aku sudah tahu, Jeanne. Shaga saat ini sama kuatnya denganku dalam mode ini."
Naruto mengatakan itu selagi iris shappire miliknya menatap kearah Shaga yang menatap datar kearah mereka, Naruto menajamkan matanya.
"Ini buruk... Kesempatan menang kita sangat kecil, aku juga tidak yakin bisa mengalahkannya dalam waktu 3 menit."
"Kalau begitu, kita serang bersama-sama dengan kita bertiga sudah pasti kita akan menang."
Naruto terdiam sebelum melirik kearah Jeanne dan Arthuria sebelum ia mengeleng pelan.
"Percuma saja, kita bertarung bertiga melawannya hanya akan meningkatkan kesempatan menang kita sedikit, kita harus memikirkan rencana yang lebih baik."
Jeanne terdiam mendengar perkataan Naruto, memang benar jika mereka bertiga bertarung maka kesempatan menang mereka hanya naik sedikit, Jeanne mengepalkan tangannya, seandainya ia mendapatkan kekuatan yang lebih besar maka sudah pasti mereka tidak akan berada dalam situasi seperti ini.
Naruto menatap kearah Jeanne yang nampak kesal bukan pada Naruto namun kepada dirinya sendiri, Naruto tersenyum tipis sebelum ia mengelus surai pirang Jeanne... Jeanne yang merasakan sebuah elusan lembut mendongakan kepalanya dan menatap kearah Masternya yang tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bisa diartikan sebagai 'tenang semua baik-baik saja.'. Jeanne yang mengerti arti senyuman itu mengangguk pelan, Naruto menepuk surai itu sebelum Naruto menatap keduanya dengan serius.
"Baiklah, aku punya rencana... Tapi sebelum itu berjanjilah kalian tidak akan menentang rencana ini, apapun yang terjadi. Apa kalian mengerti?."
Jeanne dan Arthuria menatap satu sama lain sebelum keduanya mengangguk pelan, Naruto tersenyum.
"Kalian sudah menyetujuinya. Baiklah... Ini rencana-nya."
Naruto menceritakan rencana-nya pada mereka berdua, awalnya keduanya mengangguk pelan namun ketika sampai pada bagian inti mereka dibuat terkejut...
"Ap-apa!, Master... Apa kau serius."
"Ya aku serius, sangat serius. Tidak ada waktu lagi untuk memikirkan rencana lain."
Ucap Naruto datar membuat Jeanne diam, Naruto menatap kedua perempuan itu sebelum ia berbalik dan mengaktifkan kembali Aura petir miliknya lalu melirik kearah Arthuria.
"Kita jalankan rencananya, Arthuria, aku mengandalkanmu."
Ucap Naruto sebelum ia melesat dengan kecepatan tinggi menuju Shaga, Arthuria mengepalkan tangannya dengan erat, wajahnya mengeras sebelum akhirnya ia berdecih dan mengalihkan pandangannya.
"Tidak ada pilihan lain..."
"Master... aku harap kau berhasil."
Kedua perempuan itu perlahan mulai dikelilingi oleh partikel-partikel cahaya emas, Jeanne dan Arthuria berkonsentrasi.
-Naruto Side-
Shaga menatap datar kedepan dimana ia melihat Naruto melesat dengan kecepatan tinggi, Shaga menyiapkan banyak lingkaran sihir didekatnya dan menembakan beberapa magic kearah Naruto...
Naruto yang melihat serangan datang memfokuskan [Mana] kemata kanannya yang langsung mengeluarkan kilatan berbahaya, Naruto menyiapkan dua katana miliknya dan dengan kecepatan tinggi Naruto memotong serangan Shaga...
Blar!
Blar!
Blar!
Ledakan beruntun bergema diarena itu, Shaga menyiapkan memutar tongkatnya dan menghentakan tongkatnya kelantai ketika Naruto sudah ada didepannya dengan dua katana yang siap menebasnya, tongkat Shaga bersinar terang sebelum mengeluarkan Shield transparan yang membentuk kubah dengan Shaga sebagai pusatnya.
Trank!
Katana Naruto berbenturan dengan Shield Shaga, Naruto melompat menjauh ketika melihat Shaga menciptakan beberapa lingkaran magic disekitarnya dan kembali menembakan magic kearah Naruto membuat magic itu hanya melesat keudara.
Naruto mendongakan kepalanya dan seketika irisnya membulat melihat puluhan magic melesat kearahnya, Naruto mengeraskan wajahnya.
Blaar!
Blaar!
Blaar!
Shaga menatap kearah kepulan debu yang tercipta akibat ledakan dari Magic miliknya, ia menyipitkan matanya ketika debu perlahan menghilang, dan terlihat sebuah pelindung transparan yang terbuat dari [Mana] yang melindungi Naruto, Shaga menajamkan matanya melihat sebuah cahaya terang berwarna merah didada Naruto, itu... Sebuah buku?.
"Terimakasih, Ophis."
'Tidak masalah, Master.'
Naruto tersenyum tipis sebelum menatap kedepan dengan datar, dengan cepat ia membuat kuda-kuda dan kembali melesat memangkas jarak antara dirinya dan Shaga, Naruto menajamkan penglihatannya ketika melihat Shaga kembali menembakan banyak magic kearahnya, dengan lincah Naruto berhasil menghindari beberapa magic sebelum Naruto menghunuskan katana-nya kedepan.
Krak!
Naruto berhasil menusukan Katana oric miliknya hingga membuat perisai [Mana] Shaga retak, tak hanya sampai disana Naruto dengan cepat langsung menusukan katana hitam miliknya.
Krak!
"Hancurlah!."
Naruto mendorong Katana-nya dengan kuat hingga membuat pijakan Naruto amblas kebawah, dorongan kuat Naruto kembuat retakan pada Perisai [Mana] Shaga menyebar dengan cepat sebelum akhirnya hancur berkeping-keping... Melihat Perisai-nya hancur membuat Shaga melebarkan sedikit matanya. Naruto yang melihat Shaga terkejut segera melepaskan Katana Oric miliknya dan menjulurkan tangannya yang perlahan memunculkan bola energi yang terbuat dari energi petir didalam tubuhnya.
"Kena kau!."
[Kililp Astrape: Thousand Lighting Bolts]
Naruto menghantamkan bola petir itu dengan telak ketubuh Shaga, tegangan setara sambaran petir itu menyengat tubuh Shaga... Kedua remaja Academy itu terkunci dalam percikan petir akibat Teknik Naruto yang ia ambil dari Ruin Iskhur. Naruto mengeraskan wajahnya ketika melihat Shaga masih bisa bertahan dari serangannya.
"[Kau pikir... Be-begini saja sudah bisa mengalahkanku?, manusia!, kau terlalu meremehkanku!.]"
Naruto mengertakan giginya sebelum ia merasakan sensasi kuat dari belakangnya, dan detik itu juga Naruto melunakan ekspresinya dan menyeringai lebar kearah Shaga.
"Aku tahu kau bisa bertahan, karena itulah aku menyiapkan serangan penghabisan!... Arthuria!, Jeanne!... Sekarang!."
Shaga yang tidak mengerti perkataan Naruto menatap bingung Naruto, sebelum ia tiba-tiba merasakan firasat buruk dan benar saja ketika Shaga menoleh kebelakang Naruto ia melihat dua perempuan pirang tengah diselimuti oleh [Mana] murni yang begitu melimpah, [Mana] itu mengelilingi kedua gadis pirang itu... Iris Shaga melebar sempurna... Jangan bilang jika manusia ini ingin mati bersama-nya?!.
"[Kau!, apa kau waras!, kau ingin mati bersamaku!.]"
Naruto mengerutkan dahinya sebelum ia mengeluarkan senyuman remeh. "Tidak akan ada yang mati, aku hanya akan membuatmu mengembalikan, Shaga!." Naruto mengobarkan aura petirnya dan itu membuat percikan petir yang menyelimuti mereka berdua semakin mengila!.
Arthuria dan Jeanne membuka mata mereka dan menatap kearah Naruto yang tengah mengunci Shaga dalam percikan petir besar, Arthuria menatap kearah Shaga dan Naruto dengan pandangan sulit diartikan, sebelum wajah itu berubah menjadi serius.
'Tidak ada waktu untuk ragu...'
Arthuria mengeratkan pegangan pedang miliknya, sementara Jeanne yang ada disebelah Arthuria hanya bisa menatap Khawatir kearah Masternya, ia memejamkan matanya sebelum wajah itu berubah menjadi serius.
[Excalibur]!
[La Puecelle]!.
Kedua Kinpatsu bishoujo itu melepaskan [Mana] mereka dalam bentuk kekuatan Dashyat yang menerjang apapun didepannya, Shaga yang melihat kekuatan Dashyat yang menerjang kearah dirinya berusaha memberontak.
"Percuma, selama kau terkunci dalam Mantra Magic [Kililp Astrape] kau tidak akan bisa bergerak!."
Naruto mengatakan itu selagi ia merentangan tangan kirinya kebelakang dimana dua kekuatan dashyat melaju dengan kecepatan tinggi!... Tangan kiri Naruto perlahan berubah menjadi hitam. Shaga membulatkan matanya melihat tangan kiri Naruto, Magic itu...
"[Magia Erebea... Begitu... Joker!.]"
Tangan kiri Naruto beradu dengan dua serangan kuat itu, namun bukan-nya hancur justru dua kekuatan itu terserap kedalam tangan-nya... Dan dengan cepat Naruto mengeratkan tangan kirinya.
[Complexio]
Blaaaaar!
__ADS_1
Ledakan hebat ******* Naruto dan Shaga, Arthuria dan Jeanne menutup mata mereka menahan daya kejut dari ledakan hebat itu, debu menutupi pandangan sebelum menghilang dan memperlihatkan sesuatu yang mengejutkan...
Jeanne dan Arthuria melebarkan mata mereka ketika melihat apa yang ada digaris pandangan mereka, penampilan Naruto telah berubah drastis, Naruto kini diselimuti oleh Armor emas yang menutupi tubuhnya, desain mewah nan berkelas khas seorang kaisar tersirat dari Armor itu, ditambah surai pirang panjang yang jatuh sampai menyentuh tanah menambah kegagahan dari seorang Namikaze Naruto, tak lupa aura petir ganas yang sesekali memercikan petir ganas.
[Magia Erebea: Tengoku Kishi]
Naruto menatap kearah Shaga yang saat ini tengah tergeletak tak jauh dari-nya, iris Blue Crystal miliknya menatap terkejut Naruto... Pancaran kekuatan yang ia rasakan dari Naruto saat ini sangat mengerikan... Shaga berjengit kaget ketika Naruto berjalan mendekatinya dengan langkah pelan, suara gemercik logam beradu terdengar bagaikan melodi kematian... Shaga yang panik segera bangkit dan menghentakan tongkatnya kelantai, puluhan lingkaran sihirpun muncul dan bersinar dengan terang lalu sedetik kemudian lingkaran sihir itu menembakan puluhan sihir kearah Naruto yang hanya menatap hal itu dengan datar.
Naruto tanpa menghentikan langkahnya langsung mengangkat tangannya kedepan dan seketika sebuah pedar energi tipis muncul menahan semua tembakan Magic itu... Semua yang melihat hal itu terkejut bukan main, semua serangan itu ditahan dengan begitu mudahnya... Naruto menghilangkan pedar energi miliknya dan menatap Shaga dengan [Belial Eye] yang berkilat dengan menakutkan.
Shaga yang melihat Naruto semakin mendekat berusaha menyerangnya kembali namun ketika Shaga akan menyerang kembali, Naruto merentangkan tangannya kedepan dan seketika tubuh Shaga berubah menjadi kaku layaknya patung, Shaga menatap kebawah dan ia terkejut melihat tubuhnya telah terikat oleh rantai yang entah muncul dari mana.
[Gleipnir]
Shaga pucat pasi ketika Naruto sudah ada didepannya dan menatapnya dengan mata dingin nan menakutkan... Naruto menatap Shaga sejenak sebelum ia membuat kuda-kuda dan dengan cepat menyatuhkan kedua tangannya yang sesekali memercik petir keluar... Sedetik kemudian Naruto menjauhkan tangannya dan muncul lah sebuah bola petir berwarna hitam keemasan dengan pedar putih tipis yang mengunci petir itu... Naruto menatap datar kearah Shaga yang menatap takut Naruto.
"Jika seribu tidak bisa membuatmu tumbang maka bagaimana jika kita coba sepuluh ribu?."
[Kililp Astrape: Ten Thousand Lighting Bolts]
Naruto dengan cepat menghantamkan bola perwujudan evolusi dari teknik Ruin Iskhur itu ketubuh Shaga, kejutan setara 10 kali Kililp Astrape milik Ruin Iskhur meledak dan menyambar apapun yang ada disekitarnya... Sambaran petir dashyat itu terjadi selama beberapa detik sebelum akhirnya menghilang seketika... Naruto menatap kearah Shaga yang kini telah benar-benar telah kehilangan kesadarannya, tubuh Shaga telah sepenuhnya gosong dengan mata memutih sempurna.
Naruto menatap Shaga sejenak sebelum perlahan Armor emas miliknya menghilang menjadi partikel Cahaya, wujud Naruto mulai kembali seperti semula... Pandangan Naruto perlahan mengabur namun dapat ia lihat jika Shaga sudah mulai ambruk... Naruto tersenyum kecil.
"Aku menang..."
Bruk!
"Shaga! / Master!."
.
.
.
Beberapa hari telah berlalu sejak insiden Ramuan Legendaris dan hari ini festival merlin berakhir, berakhirnya Festival Merlin juga menjadi penanda berakhirnya masa belajar mereka dengan kata lain saat ini waktunya liburan untuk para Murid Academy...
"Aku pergi!..."
"Hati-Hati, Master!."
- Naruto Pov -
Sekarang aku sedang berjalan menuju kebangunan utama Academy, hari ini penutupan sekolah dan liburan musim panas para murid Academy... Rasanya melelahkan menghadapi Festival Merlin dan berbagai insiden yang terjadi selama Festival yang disebabkan oleh Ramuan legendaris, Elixir of Love dari Orochimaru-sensei...
Berkat ramuan cinta itu aku harus terlibat romance-comedy dengan empat orang gadis cantik disekolah ini yang terkontaminasi oleh ramuan yang tercampur kedalam kue Macaroon yang aku berikan pada mereka, berkat itu aku terlibat hal-hal merepotkan, mulai dari meminta penawar dari Orochimaru-sensei sampai ketahap bagaimana caranya aku memberikan penawar itu pada mereka, dan ya, sebuah ide gila muncul dikepalaku.
Aku mengajak keempat gadis yang terkontaminasi ramuan cinta untuk melakukan sparring dan hasilnya, pertarungan sengitpun terjadi dimana aku dihajar habis-habisan oleh keempat gadis itu, setelah bertarung cukup sengit aku berhasilkan mengalahkan mereka berempat...
Namun sesuatu yang mengejutkan terjadi dimana aku untuk pertama kalinya mengetahui rahasia dari teman perempuanku, yaitu Ayame Shaga... Aku masih menutup rapat tentang aku yang mengetahui rahasia tentang siapa sebenarnya Ayame Shaga. Ya... Banyak hal merepotkan yang terjadi, tapi entah bagaimana aku berhasil melalui itu, meskipun caraku mengatasinya cukup berbahaya, ya tapi aku bahagia itu semua telah selesai.
Ah... Ngomong-Ngomong mereka yang terkontaminasi Elixir of Love tidak mengingat apapun tentang mereka yang terpengaruh Elixir of Love setelah diberi penawar-nya, aku selamat karena itu, aku bersyukur karena keempatnya tidak mengingat apapun... Kyubi, Kaguya, Arthuria dan Shaga telah bisa menjalani kehidupan mereka dengan tenang, uhm... Meskipun selama ini aku tidak melihat keberadaan Arthuria dan Shaga... Mereka berdua entah berada dimana.
"Yo, Naruto."
-Naruto Pov end-
"Yo, Naruto."
Naruto yang namanya dipanggil menoleh kebelakang dan ia melihat seorang pemuda ikemen dengan surai hitam tengah berjalan kearahnya, pemuda itu adalah Taichou dari club yang Naruto masuki... Ikemen, Ikuse Tobio. Tobio juga merupakan salah satu korban dari ramuan legendaris Orochimaru-sensei dengan korban yang terkena ramuan adalah Miya Fuku Taichou yang saat ini ada disebelah Tobio, seorang yandere kelas berat.
"Yo, Tobio."
"Bagaimana keadaanmu, aku dengar kau sempat dirawat diruang pemulihan selama beberapa hari terakhir karena melakukan sparring dengan 'mereka'."
Ia menyapa dengan sopan namun entah kenapa Naruto merasa kesal pada Tobio, Naruto menghela nafas lelah.
"Ya, kau tahu aku melakukan sparring sengit dengan mereka, dan menderita luka yang cukup serius tapi beruntung aku masih bisa selamat, sebuah keajaiban aku masih bisa hidup."
"Ufufu~, satu-satunya hal mustahil didunia ini adalah melihatmu mati dalam pertarungan, Naruto-san."
Yandere... Tidak, Miya Fuku Taichou tertawa kecil, Naruto menatap kearah Fuku Taichou sebelum tertawa gugup dan mengaruk belakang kepalanya.
"Sudahlah, mari kita masuk acara penutupan akan segera dimulai."
Naruto, Tobio dan Miya mengalihkan pandangan mereka kearah samping dimana mereka melihat seorang Ikemen berambut hitam pendek tengah menatap mereka dengan mata malas, dipunggung pemuda itu terdapat sesuatu yang dibungkus oleh kain putih...
"Cao Cao?, apa yang terjadi padamu?, kau terlihat kelelahan."
"Tidak ada, Miya Fuku Taichou... Aku hanya merenung dikamarku semalaman."
"Merenung?."
"Lupakan saja... Mari pergi."
Miya menatap bingung Cao Cao yang berjalan duluan, Tobio yang melihat Cao Cao jalan terlebih dahulu mencondongkan tubuhnya kearah Naruto.
"Dia cemburu..."
"Ya, aku tahu..."
Keempat anggota penelitian alampun berjalan menuju Academy, sepanjang perjalanan mereka mendengar suara-suara kagum dari para murid, bukannya senang mereka hanya memasang wajah datar... Dalam perjalanan menuju bangunan Academy mereka berempat bertemu dengan Lee yang nampaknya ikut dengan rombongan anggota Club penelitian alam... Ketika mereka berlima memasuki gedung utama tiba-tiba mereka dihadang oleh Lima orang pemuda... Naruto menatap kearah pemuda bersurai biru dongker dengan mata hitam yang menatap datar dirinya...
"Uchiha Sasuke."
"Namikaze Naruto."
Kedua pemuda itu saling tatap satu sama lain tanpa mereka sadari para murid disekitar mereka bergumam pelan...
"The Prince dan The Unknown Knight bertemu..."
"Ini akan jadi berita hebat... Para Wizard berbakat dan para Knight yang berusaha naik kepuncak bertemu satu sama lain!, catat ini cepat!..."
"Kyaaa!, Sasuke-sama dan Naruto-sama!, mereka terlihat Gagah!."
Naruto dan Sasuke menatap satu sama lain dengan pandangan datar sebelum iris Shappire Naruto terkunci pada perempuan cantik bersurai pirang bergelombang dengan iris mata sama dengan-nya... Naruto menatap kearah Sasuke yang merangkul pundak perempuan itu.
"Ada apa, Namikaze, kenapa kau menatap kekasihku seperti itu?."
Naruto terdiam sebelum ia menatap datar Sasuke, "tidak ada, aku ucapkan selamat atas kalian yang telah menjadi sepasang kekasih, sungguh serasi." ucap Naruto dengan nada mencibir, Sasuke mengabaikan hal itu.
"Nee, Uchiha... Jika kau tidak keberatan bisakah kau membiarkan kami lewat?, kami tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni tingkah kalian..."
Naruto berkata dengan nada dingin, Sasuke terdiam sebelum ia maju dan dengan cepat melayangkan sebuah pukulan kuat kewajah Naruto... Murid-murid yang melihatnya berteriak terkejut, namun ketika pukulan itu akan mengenai wajah Naruto tiba-tiba saja pukulan itu berhenti tepat diwajah datar Naruto.
"Sebentar lagi akan diadakan Turnamen antara Divisi Wizard dan Divisi Knight, aku harap kau mengikuti-nya, Namikaze."
"Heh~, dengan senang hati aku akan mengikutinya, Uchiha... Dan bisakah kau turunkan tinjumu dan suruh anak buahmu mundur?."
Sasuke terdiam sebelum ia melirik kesekitarnya dimana situasi terlihat sangat berbahaya, dari kedua belah pihak bersiap untuk menyerang satu sama lain, Menma, Arashi, Neji dan Toneri sudah siap dengan Magic mereka sementara Tobio, Miya, Cao Cao, dan Lee sudah menyiapkan sikap bertarung... Pandangan Sasuke terarah kebawah dimana ia melihat sebuah Katana berwarna hitam siap merobek perutnya...
"Uchiha... Bisa kau tarik anak buahmu, atau... Kau ingin terjadi pertumpahan darah disini?."
Sasuke mengangkat kepalanya dan menatap kearah Naruto yang memejamkan matanya sebelum mata itu terbuka dan menunjukan iris Golden yang berkilat berbahaya. Sasuke terdiam selama beberapa saat sebelum ia menurunkan tinjunya dan menyuruh teman-temannya mundur.
Naruto yang melihat situasi telah tenang menaruh kembali katana miliknya dan menyuruh teman-temannya untuk tenang, Naruto, Tobio, Cao Cao, Miya dan Lee berjalan melewati kelima orang itu... Saat berpapasan Naruto membisikan sesuatu yang membuat seorang Uchiha Sasuke menyeringai kecil.
"Aku dengan senang hati akan melawannu diturnamen itu, jadi usahakan kau sampai difinal untuk melawanku... Uchiha."
Sasuke menatap punggung Naruto sesaat sebelum wajahnya kembali datar dan berbalik untuk pergi, namun baru saja mereka akan melangkah Naruto berucap.
"Uchiha... Jaga kekasihmu itu, jangan sampai ia tersesat digurun pasir atau terkena jebakan yang membuatnya malu..."
Sasuke menoleh kebelakang dan melihat Naruto menoleh kearahnya dengan seringai kecil diwajahnya, Sasuke menatap bingung hal itu sebelum ia mengangkat bahunya, sementara perempuan disebelah Sasuke memerah malu... Dan hal itu tidak lepas dari pandangan Sasuke.
"Gabriel?, ada apa?."
Gabriel tersadar dari rasa malunya ketika mendengar suara Sasuke, Gabriel menatap Sasuke dan mengeleng pelan.
"Tidak ada, Sasuke-kun. Mari kita pergi."
Ucap Gabriel sambil mengandeng tangan Sasuke dan pergi dari tempat itu... Sasuke hanya bisa diam ditarik oleh Gabriel pergi.
-time skip-
"Kita berpisah disini, Naruto."
"Ya, sampai ketemu semester depan, Tobio... Miya."
"Terimakasih atas waktumu selama ini, Naruto-san!... Kau bisa membuatku mengerti bagaimana menjadi Knight sejati."
"Err... Sama-sama Cao Cao."
"Naruto-kun, sampai ketemu disemester baru, aku pasti akan berlatih keras selama liburan untuk mengejarmu!."
"Aku tunggu itu, Lee."
Naruto menatap kearah teman-temannya yang pergi menuju kampung halaman mereka masing-masing, Naruto tersenyum kecil... Selama beberapa waktu ini banyak yang Naruto Alami, pahit dan manis mereka rasakan bersama... Tak lama setelah kepergian keempat Sahabatnya, Sebuah kereta Kuda berhenti didepan Naruto... Naruto naik kedalam kereta kuda.
Ditengah perjalanan Naruto tak bisa untuk tidak tersenyum, ia tengah mengingat hal-hal yang terjadi selama beberapa bulan bersekolah dihirozimon Academy... Kenangan-kenangan manis dan pahit membuat hidupnya berwarna...
"Tobio... Miya... Cao Cao... Lee... Kalian adalah Sahabat terbaik yang aku miliki, aku harap saat pertemuan kita nanti kalian akan menjadi lebih kuat dan lebih kuat lagi... Dan bersama kita akan mengukir nama kita disejarah benua ini... Sampai bertemu lagi disemester depan... Kawan."
.
.
.
Omake
.
.
.
Di istana kerajaan Alvarez, diruangan Raja terlihat Arthuria tengah bersujud ala Knight dihadapan seorang pria tua yang duduk disinggasana dengan mahkota dan jubah mantel tebal berwarna merah menawan membalut tubuh kekarnya.
"Apa Laporanmu itu benar, Arthuria."
"Ha'i, hamba berani bersumpah atas nama Clan Saya."
Sang Raja nampak terdiam sebelum ia menatap Arthuria yang bersujud ala knight didepan-nya.
"Terimakasih atas laporanmu, Arthuria. Kau boleh pergi."
__ADS_1
Arthuria mengangguk pelan dan perlahan meninggalkan sang raja yang menatap kepergiannya dengan pandangan sulit ditebak, Raja itu terdiam selama beberapa saat sebelum bergumam pelan.
"Namikaze Naruto... Pemuda yang memiliki kekuatan untuk menghentikan Shaga yang mengamuk... Pemuda yang menarik, aku harus menemuinya suatu saat nanti..."