
Didepan sebuah gerbang dari sekolah terkenal, terlihat seorang pemuda bersurai pirang mengenakan seragam Academy, tak lupa sarung tangan hitam yang menyembunyikan tangannya, ia menatap kearah bangunan super megah Academy didepannya.
"Akhirnya aku kembali lagi kesekolah terkutuk ini..."
Ucap datar pemuda itu, ia perlahan mengangkat Tas miliknya dan berjalan masuk kedalam, iris shappire pemuda itu menatap sekeliling dengan datar, sudah beberapa minggu berlalu dan tempat ini masih busuk seperti biasa, Pemuda itu melanjutkan langkahnya dengan pelan menuju Asrama pria milik Academy ini.
Setelah beberapa saat melangkah, ia berhenti didepan sebuah pintu kayu dengan papan bertuliskan [Namikaze Naruto], tersenyum tipis sebelum ia masuk kedalam kamar itu... Naruto, menatap sekeliling ruangan dengan senyuman, ruangan ini tidak pernah berubah.
Ia berjalan dan meletakan barang bawannya didalam lemari sebelum ia akhirnya duduk dipinggir ranjang, Naruto menatap kedepan dimana ia melihat sebuah meja kecil berbentuk persegi didepannya, ia menatap meja itu cukup lama tanpa menyadari seorang perempuan bertubuh mungil muncul disebelahnya dan dengan lembut meletakan tangannya dibahu Naruto...
"Master..."
Naruto tersadar dari lamunannya sebelum ia menoleh kesamping dan mendapati Ophis tengah menatapnya dengan pandangan khawatir dimata kosongnya, Naruto memejamkan matanya sebelum ia mengenggam tangan mungil Ophis yang ada dibahunya.
"Aku tidak apa-apa, Ophis. Maaf membuatmu khawatir."
Ucap Naruto dengan senyuman diwajahnya, Ophis yang melihat senyuman itu mengangguk pelan dan duduk disebelah Naruto dengan pandangan tanpa ekspresi yang bagi seorang lolicon sangatlah imut. Ophis menatap kearah sesuatu yang berbentuk panjang sekitar satu setengah meter yang dibalut oleh kain dan di ikat dengan rapi yang ada disudut ruangan.
"Setelah kembali ke Academy busuk ini, apa yang akan Master lakukan?"
Naruto tersenyum tipis sebelum ia menepuk pelan surai hitam Ophis dan mengelusnya dengan pelan membuat Ophis memejamkan matanya menikmati elusan lembut dari Sang Master.
"Aku sudah memiliki rencana tentang itu, kau akan melihatnya nanti."
Ucap Naruto menatap kearah benda yang sebelumnya dilihat oleh Ophis, ia bangkit dari ranjang dan mengambil benda itu dan menentengnya layaknya tas.
"Ophis, kita pergi... Kita harus menghadiri upacara pembukaan."
Ucap Naruto, Ophis mengangguk pelan dan melompat dari atas ranjang dan berubah menjadi sebuah Gremoire kecil dengan hiasan rantai tipis dan melayang menuju tangan Naruto.
Naruto tersenyum dan memakai Gremoire kelehernya, ia menatap Gremoire miliknya sebelum ia berkalan kearah pintu, ia hari ini harus menghadiri ucapara pembukaan tahun ajaran baru, Naruto berjalan dengan tenang melewati jalan setapak yang dhiasi batu paving putih yang tersusun dengan rapi.
Naruto terus berjalan dengan wajah datar-nya tanpa menghiraukan bisikan-bisikan kagum dari para Murid Academy yang lain, Naruto berdecih pelan mendengar pujian kagum itu dan mempercepat langkahnya.
"Selamat pagi, Namikaze-kun."
Naruto menghentikan kaki-nya yang baru saja akan memasuki gedung utama Academy dan menoleh kesamping ketika ia mendengar suara yang begitu familliar ditelinga-nya. Dan disana ia melihat seorang perempuan bersurai putih panjang dengan iris Lavender tanpa pupil, bibir seindah buah peach itu tersenyum kearahnya. Naruto menatap datar perempuan cantik itu.
"Selamat pagi, Otsutsuki-senpai."
"Ara, dingin-nya."
Naruto memutar mata bosan mendengar nada cukup sedikit genit dari salah satu The Great Onee-sama didepannya, Otsutsuki Kaguya... Pewaris selanjutnya dari Clan Otsutsuki, ahli dalam membongkar dan merangkai Formula Sihir, serangan utama, Elemental Magic type Thunder dan memiliki pemikiran yang pintar dalam mengambil keputusan... Dia adalah Type perempuan yang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai keingin-nya, bisa dibilang dia sangat licik...
"Senpai, jika kau tidak ada keperluan denganku maka aku akan pergi, ada upacara pembukaan yang menantiku..."
"Ufufu~ kebetulan sekali, aku juga ingin keupacara pembukaan."
Ucap Kaguya dengan senyuman mengoda dibibir peach miliknya, Naruto menatap hal itu seakan tak tertarik, ia mengangguk pelan.
"Hmm... Ya sudah..."
"Kebetulan, aku juga ingin pergi..."
"Err... Ya baguslah..."
"Kebetulan. Aku juga ingin PE-RGI..."
Naruto berkeringat dingin ketika Kaguya mengulangi perkataan yang sama seraya memotong jarak dengan dirinya, Naruto semakin berkeringat dingin melihat Wajah Kaguya yang semakin dekat dengan wajahnya, senyuman manis itu dimata Naruto, Kaguya memang tersenyum manis tapi ia sama sekali tidak merasakan 'senyuman' dari wajah Kaguya...
"Err... Apa kau ingin pergi bersama, Senpai?."
"Ara, jika kau memaksa sampai sebegitunya maka mau bagaimana lagi, ayo kita pergi bersama."
Naruto sweatdrop melihat Kaguya menjauh darinya dengan senyuman agak genit seperti biasa, sepertnya Mood kembali membaik, sudah ia duga sampai hari ini Naruto masih tidak pernah bisa menebak isi pikiran dari Makhluk berbahaya bernama perempuan disebelahnya, ia menghela nafas dan berjalan memasuki gedung utama, namun baru saja ia akan melangkah tiba-tiba ia merasakan seseorang memeluk lengannya, secara refleks Naruto menoleh dan mendapati Kaguya yang memeluk lengannya, dengan ekspresi tanpa emosi Naruto berkata.
"Etto... Senpai?."
"Huum? Ada apa, Namikaze-kun?."
"Bisa tolong lepaskan tanganku?."
"Dan kenapa aku harus melakukan hal itu?."
"Karena... 'Itu'mu menyentuh-ku."
"Ara, Namikaze-kun Me~sum~."
Naruto menghela nafas melihat Kaguya yang tertawa dengan menggoda, ia melirik kesamping dimana ia melihat sudah banyak sekali siswa maupun siswi yang memerah melihat mereka, Naruto menghela nafas lagi, entah kenapa dihari pertama ia kembali ke Academy ini ia sudah mendapatkan kesialan seperti ini...
"Dasar merepotkan."
"Kau mengatakan sesuatu?."
"Tidak..."
-change scene-
"Dan... Untuk itulah, aku mengharapkan kalian kembali belajar dan berkembang untuk semester ini, sekian terimakasih."
Naruto menatap datar kepala sekolah yang baru saja mengakhiri acara pembukaan, ia meluangkan waktunya hanya untuk mendengar ucapan bodoh dari kepala sekolah itu, jika saja ini bukan kewajiban disekolah ini maka ia tidak akan pernah sudi berdiri dan mendengarkan ucapan tidak berguna dari Kepala sekolah itu, Naruto melangkah kakinya pergi meninggalkan Aula besar itu bersama para murid-murid yang lain.
Naruto melangkah dengan wajah datarnya menuju kelas, disepanjang perjalanan Naruto ditatap dengan tatapan kagum namun ia tidak memperdulikannya dan melanjutkan perjalannya.
"Selamat pagi, Naruto-san."
Naruto menghentikan langkahnya lalu menoleh kebelakang dan terlihatlah seorang pemuda bersurai hitam dengan iris senada dengan warna rambutnya, pemuda itu membawa sesuatu yang memiliki panjang satu meter lebih yang dibungkus oleh kain berwarna putih dibahunya, Naruto tersenyum melihat pemuda itu yang berjalan kearahnya.
"Selamat pagi, Cao Cao."
"Bagaimana liburanmu, Naruto-san?."
Naruto berbalik dan tersenyum selagi ia mengangkat bahunya."ya aku rasa tidak begitu buruk."ucap Naruto pelan, Cao Cao terdiam ketika ia melihat setitik ekspresi kesedihan diwajah Naruto namun itu hanya sesaat sebelum ekspresinya kembali seperti semula.
"Ah, apa kau mau pergi kekelas bersama?."
"Tentu saja..."
Naruto tersenyum sebelum ia kembali melangkah menuju kelasnya dengan Cao Cao yang mengikuti dari belakang, tanpa Naruto sadari Cao Cao menatap Naruto dengan tatapan sulit diartikan...
Keduanya berjalan dengan pelan dan setelah beberapa saat mereka berdua sampai dikelas, didalam mereka ditatapan oleh banyak pasang mata namun ia mengabaikannya dan duduk dibangku mereka.
Naruto menaruh benda bawaannya dan menyenderkan benda itu ditembok disebelahnya lalu ia meletakkan sikunya diatas meja dan menatap kedepan dengan pandangan datar.
"Ano... Namikaze-kun."
Naruto yang tengah menatap kedepan menanti jam pelajaran pertama mengalihkan pandangannya kesamping dan ia melihat beberapa perempuan teman sekelasnya berdiri dengan wajah gugup, Naruto mengangkat sebelah alisnya menatap bingung para gadis itu.
"Ya... Ada apa?."
"A-Ano... Ap-Apa boleh kami menjabat tanganmu?."
"Hmm? Tentu..."
Naruto dengan bingung menjabat tangan para perempuan itu yang langsung berteriak senang membuat Naruto semakin bingung. Cao Cao yang sedaritadi melihat interaksi Naruto dan para perempuan dikelas hanya memasang senyuman tipis sebelum ia mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara pintu dibuka dan disana ia melihar wali kelas mereka, Guru killer, Ibiki-sensei.
"Baiklah, duduk ditempat kalian masing-masing."
Ucap Ibiki berjalan menuju meja miliknya dan menatap kedepan dengan tatapan datar, tanpa diperintah dua kali para murid langsung duduk ditempat mereka masing-masing.
"Pertama, aku ucapkan selamat datang kembali ke kelas ini, untuk semester ini kita akan masuk kedalam materi selanjutnya yaitu tahap menegah dari seni berpedang."
Ucap Ibiki, ia menatap para murid dengan datar sebelum ia menangkap Naruto dan Cao Cao yang menatap dirinya dengan datar. Ia tersenyum kecil.
"Ah, untuk Cao Cao dan Naruto, karena kalian berdua sudah mencapai tingkat [Silver] kalian diminta untuk pergi kebagian [Treasurer] untuk mengambil hadiah atas pencapaian kalian, Arthur sudah disana."
Naruto dan Cao Cao saling menatap seolah mereka berkata'kau tahu soal ini?', keduanya terdiam sebelum mereka bangkit dari tempat mereka dan menatap kearah Ibiki.
"Kalau begitu, kami permisi dulu, Ibiki-sensei."
Setelah mengatakan itu keduanya langsung pergi meninggalkan kelas, Ibiki menatap kepergian kedua pemuda luar biasa itu sebelum ia menatap kearah para murid yang lain.
"Baiklah, kita mulai pelajaran pertama kita hari ini..."
"Ha'i~."
-Change Scene-
Ditengah berjalanan menuju pembendaharaan Academy, Naruto dan Cao Cao berjalan dengan tenang, hanya suara langkah sepatu yang menemani keduanya disepanjang lorong, sampai Naruto membuka percakapan.
"Cao Cao, apa kau berniat untuk mengikuti Turnamen antar Divisi?."
"Heh~, bukankah itu sudah pasti, Naruto-san. Bukankah ini adalah panggung yang tepat untuk membuktikan pada mereka apa arti Knight sejati."
Naruto melirik kearah Cao Cao yang tersenyum miring padanya, ia tersenyum tipis."begitu ya... Maa, aku harap kita tidak bertemu diturnamen nanti, karena jika kita bertemu sudah jelas aku tidak akan mengalah."ucap Naruto.
"Begitu juga denganku, aku harap kita tidak bertemu dalam turnamen... Tapi, aku memiliki firasat jika kita akan bertemu dengan kelompok Uchiha itu diturnamen nanti."
Naruto mengangguk pelan."ya, aku juga berpikir seperti itu. Kau tentu tahu bagaimana system sekolah ini bekerja bukan?."ucap Naruto menoleh kearah Cao Cao yang mengangguk pelan.
"Ya, System dimana bakat lebih dihargai daripada Usaha... Menjijikan."
Naruto tersenyum melihat ekspresi jijik dari Cao Cao, ia dan Cao Cao, tidak... semua anggota penelitian ilmu alam pasti memiliki pemikiran yang sama, sebuah peraturan yang lebih mementingkan bakat daripada usaha sangatlah menjijikan karena bagaimanapun yang namanya bakat itu tidak ada dan tidak akan pernah ada...
"Ya, aku setuju denganmu, Cao Cao. Saat Turnamen nanti, kita akan menunjukan pada mereka apa itu 'kerja keras'..."
Ucap Naruto dengan seringai tipis diwajahnya, Cao Cao yang melihat seringai Naruto juga ikut menyeringai, benar inilah saatnya mencolok mata orang yang menatap para Knight dengan sebelah mata.
Setelah berjalan selama beberapa saat akhirnya mereka sampai dipembendarahan Academy tanpa menunggu waktu lagi keduanya langsung saja masuk kedalam, didalam mereka berdua disambut oleh ruangan yang cukup luas namun kosong, hanya ada sebuah meja resepsonis ditengah-tengah ruangan, pandangan Naruto terarah kedepan dimana ia melihat tepat didepan meja resepsonis berdiri beberapa orang, Naruto yang melihat orang-orang itu tersenyum tipis, tanpa banyak waktu lagi ia melangkah kakinya mendekati orang-orang itu.
"Yo, Minna!."
Mendengar suara yang begitu familliar secara serempak empat orang itu menoleh kebelakang, dan mereka melihat Narutp tengah berjalan kearahnya dengan senyuman lebar dan lambaian tangan.
"Kalian juga disini?."
"Sudah jelas bukan? Sebagai Murid yang mencapai tingkat [Silver] kita akan diminta untuk kesini."
Naruto mengangguk pelan atas perkataan Tobio, ia menatap kearah Lee yang tersenyum melihat dirinya.
"Yo, Naruto-kun."
Naruto tersenyum dan menyambut Brofirst dari Lee, namun baru saja ia akan menyentuh Brofirst itu tiba-tiba Naruto merasakan bahaya dan dengan cepat menahan sebuah tendangan yang mengarah kepelipisnya.
Duakh!
Semua yang melihat Lee melancarkan serangan pada Naruto bersiaga namun mereka menurunkan kewaspadaan mereka ketika Lee dan Naruto memasang senyuman diwajah mereka, Lee melunakan posture tubuhnya.
"Sepertinya Libur panjang tidak membuat kemampuanmu tumpul, kau masih gesit seperti biasa, Naruto-kun."
"Ya begitupula denganmu, Lee. Sepertinya kau sudah berlatih dengan keras selama liburan."
"Hahaha, begitulah."
Kedua sahabat itu tertawa kecil sebelum Naruto mengalihkan pandangannya pada Tobio, Miya, Cao Cao dan Arthur yang menatap Lee dan dirinya dengan senyuman tipis.
"Ufufu, bukankah sudah pernah kubilang, ia tidak akan mengecewakan kita."
"Hah~ ya aku tahu, aku akan mentraktirmu makan siang."
__ADS_1
Naruto menatap sweatdrop Miya dan Tobio, apa... Mereka baru saja bertaruh dengan menjadikan dirinya objek taruhan, dan reward dari taruhan itu hanya makan siang? Naruto yang tengah sweatdrop mengalihkan pandangannya kesamping ketika ia mendapatkan sebuah tepukan dibahunya.
"Lama tidak bertemu, Naruto."
"Ah, Arthur. lama tidak bertemu, bagaimana keadaanmu."
"Aku baik, ya lebih tepatnya sangat baik karena melihat sesuatu yang menarik..."
Ucap Arthur selagi menatap Naruto dengan mata seolah ia telah mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, Naruto yang melihat hal itu mengambil sedikit jarak dari Arthur. Meskipun Naruto tahu tatapan Arthur bukanlah tatapan dalam artian kata romantis melainkan tatapan buas dari seorang maniak bertarung tapi tetap saja itu membuat bulu kuduknya berdiri!.
Keenam orang itu saling bercakap-cakap sejenak sebelum sebuah suara keras mengalihkan pandangan mereka.
"Kyaaa!."
Bruk!
Keenam orang itu sweatdrop serempak ketika melihat seseorang terjatuh diatas lantai dengan rok yang tersikap dan memperlihatkan ****** ***** miliknya yang berwarna pink.
"Uuu... Kenapa ini selalu saja terjadi..."
Perempuan itu meringis dan mengangkat tubuhnya, dan terlihatlah seorang perempuan cantik dengan surai sakura pendek sebahu, iris golden pucat miliknya terlihat mengambarkan jika ia terjatuh dengan sangat keras. Perempuan berwajah cantik itu bangkit dari jatuhnya dan membersihkan debu dari roknya.
"Aku harus cepat mengambil hadiahku dan per-,"
Perempuan itu menghentikan perkataannya ketika pandangannya menangkap enam pasang mata menatapnya dengan pandangan aneh, ia memiringkan kepalanya dengan bingung dan keenam orang itu juga memiringkan kepalanya mengikuti perempuan itu...
"Ano... Kenapa kalian memperhatikanku?."
Naruto yang pertama kali tersadar dari kebingungannya mengeleng pelan dan menatap perempuan itu dengan datar.
"Tidak ada, hanya saja... Beruang yang lucu."
""""Prrrffft""""
Tobio, Cao Cao, Lee, dan Arthur menahan diri mereka untuk tertawa ketika mendengar ucapan frontal dari Naruto berbeda dengan perempuan itu yang langsung memerah malu karena mendengar perkataan Naruto yang menyinggung ****** ********.
"Naruto-san... Apa yang kau katakan tadi adalah pelecehan seksual."
Ucap Miya selagi ia menatap tajam Naruto yang berkeringat dingin mendapati tatapan tajam dari Miya, Naruto mengaruk pipinya selagi ia mengalihkan pandangannya. Miya mendengus pelan sebelum ia menatap perempuan didepannya dengan ramah.
"Maafkan para pria disini, mereka tidak diajarkan untuk menghargai perempuan."
"Ummu..."
Miya tersenyum melihat gadis itu yang mengangguk pelan, perempuan itu berusaha menghilangkan rasa malunya alibat insiden yang baru saja menimpanya.
"Namaku, Miya... Asama Miya."
"Ah, Okita... Souji Okita."
Naruto terdiam dan menyabet kepalanya menatap perempuan yang menyebutkan namanya, Souji Okita dia bilang!? Bukankah itu nama Kapten dari kepolisian Shinsengumi jepang yang terkena!?. Naruto menatap intens perempuan yang bernama Souji Okita itu, seharusnya Souji Okita itu seorang pria gagah nan tampan yang sering difilmkan dijepang!? Sedangkan Souji Okita didepannya adalah...
"Senang berkenalan denganmu, Souji-san."
"A-ah, pa-panggil saja aku, Okita... Asama-san."
"Ufufu, kalau begitu panggil aku, Miya."
"Ba-Baik, Mi-Mi-Miya-san..."
Miya tertawa kecil melihat betapa kikuk-nya Okita, ia tersenyum tipis dan menatap Okita dengan ramah sebelum ia menoleh kebelakang dan mendapatkan ekspresi bodoh dari para pria disana, Miya menghela nafas dan berdehem keras.
"Ehem!."
"Miya, apa tenggorokanmu tengah mengalami radang?."
Miya menepuk dahinya dengan keras mendengar jawaban bodoh dari Tobio yang menatapnya dengan polos, ia berjalan dengan menghentakan kakinya kearah Tobio, dengan penuh kasih sayang ia menarik telinga Tobio membuat Tobio mengaduh kesakitan.
"Mi-Miya apa yang kau lakukan! Telingaku! Telingaku melar!..."
Naruto, Arthur, Cao Cao dan Lee menatap ngeri Miya yang menarik telinga Tobio dengan penuh kasih sayang, mereka bereempat berjengit ngeri ketika Miya menatap mereka dengan tatapan tajam yang seolah mengartikan 'apa!?'. Naruto mengaiihkan pandangannya dan menatap Okita yang melihat mereka dengan tatapan bingung bercampur aneh, Naruto berjalan mendekati Okita dan mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
"Namaku, Naruto... Namikaze Naruto."
Okita tersentak melihat perkenalan mendadak dari Naruto sebelum ia dengan kikuk, ia menjabat tangan Naruto.
"O-Okita... Souji Okita."
Naruto tersenyum tipis, melihat Naruto yang memulai perkenalan yang lainpun mulai berkenalan dengan Okita yang dengan gugup berkenalan dengan mereka, Tobio mengelus telingannya yang memerah akibat perlakuan kasih sayang dari Miya.
"Perkenalkan, namaku Tobio, Ikuse Tobio salam kenal Okita-san."
"Sa-Salam kenal, To-Tobio-san."
Tobio mengangguk pelan selagi tangannya masih mengelua telinganya yang memerah, Miya yang ada disebelahnya hanya memasang wajah cemberut pada Tobio.
"Ayolah Miya, jangan marah seperti itu, akukan sudah melakukan apa yang kau minta."
"Hmph! Kau tidak pernah peka, Tobi-kun."
Naruto hanya dapat tertawa kecil melihat Interaksi dari Tohio dan Miya ia tidak pernah bosan melihat keduanya bercengkramah dengan begitu uniknya, sama halnya dengan Naruto yang lain juga menikmati pemandangan Tobio dan Miya.
"Hah~ kalian, bisa tolong hentikan drama itu."
Semua yang ada disana langsung terkejut ketika entah darimana seseorang dengan tampang malas muncul diantara Tobio dan Miya, orang itu berjalan dengan malas menuju kearah meja resepsonis dan duduk disana, ia duduk dengan santainya dan mengeluarkan sebuah buku dari saku bajunya dan membacanya dengan tenang...
Semua sweatdrop melihat orang itu yang dengan santainya muncul dan duduk diresepsonis lalu membaca dengan seenak jidatnya, Naruto yang pertama kali sadar dari Sweatdropnya mendekati orang itu...
"Anda tidak pernah berubah dari sejak pertama kali bertemu, Kakashi-sensei "
Orang berwajah malas itu mengalihkan pandangannya dari buku dan menatap Naruto dengan mata malas, ia menutup buku miliknya begitu ia melihat Naruto.
Ucap Kakasih dengan acuh tak acuh, Naruto tersenyum melihat sikapnya, sungguh sejak pertama kali ia bertemu dengan Kakashi, ia mengira Kakashi adalah type orang Hidup-segan-mati-tak-mau, hingga ia menganggap Kakashi tidak memiliki semangat hidup.
"Aku, atau lebih tepatnya kami diminta oleh sekolah untuk datang ketempat ini untuk mengambil [Reward] kami."
Ucap Naruto, Kakashi terdiam sebelum ia menatap Naruto dan enam orang dibelakang Naruto, ia menatap satu-persatu wajah dibelakang Naruto sebelum ia memasang senyuman tertarik dari balik maskernya.
"Heh~ nampaknya Divisi Knight mulai diberkahi dengan tujuh Knight yang bisa mencapai tingkat [Silver]... Baiklah, ikuti aku, kita akan mengambil [Reward] kalian..."
Ucap Kakashi, Naruto dan Keenam orang yang lainnya hanya menatap bingung Kakashi yang tidak berpindah dari tempatnya dan hanya tersenyum pada mereka.
"A-Ano... Sensei? Kapan kita pergi?..."
Kakashi tersenyum pada pertanyaan dari Okita yang langsung menunduk malu ketika ia mendapatkan tatapan dari yang lain.
"Kita pergi sekarang..."
Kakashi mengangkat tangannya keatas dan dalam satu kali jentikan, tiba-tiba ruangan tempat mereka terdistorsi dan dalam sekejap mereka sudah berada ditempat lain, Naruto, Tobio, Cao Cao, Lee, Arthur, Miya dan Okita menatap ruangan yang kini sepenuhnya berubah...
Mereka kini berada disebuah ruangan dengan nuansa seperti didalam Kastil abad pertengahan yang terbuat dari batu marmer yang begitu indah, dikastil itu terdapat banyak sekali tangga yang menghubungkan lantai satu dengan lantai yang lain... Naruto menatap keatas dan ia dibuat terpukau oleh banyaknya lantai diruangan ini.
Ruangan ini sama seperti [Libary World] milik Ophis. Yang membedakan hanyalah ditempat ini terdapat banyak sekali sesuatu semacam ruangan kecil seperti kamar yang dilapisi oleh pintu yang terbuat dari cahaya. Kakashi tersenyum melihat ekspresi para Knight didepannya dan melempar cincin ruang kualitas rendah pada mereka semua yang ditangkap dengan baik.
"Gunakan cincin itu untuk menyimpan benda yang kalian inginkan. Kalau begitu, silahkan pilih hadiah yang kalian inginkan. Waktu kalian hanya dua jam."
Ucap Kakashi membuat Naruto dan yang lain mengalihkan pandangannya pada Kakashi yang kembali membaca buku miliknya.
"Sensei, Maaf sebelumnya... Tapi semua ruangan dilapisi pelindung?."
Kakashi mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Cao Cao yang menatap dirinya dengan bingung, Kakashi menghela nafas dan menutup bukunya.
"Memang begitu, kalian harus menghancurkan pelindung itu untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan, bisa dibilang ini adalah sebuah ujian yang diciptakan oleh Hashirama-sama untuk mengajarkan pada kalian tentang... [jika kalian ingin mendapatkan sesuatu maka berjuanglah untuk mendapatkannya], dan ingat pelindung itu kuat, sangat kuat karena itu diciptakan oleh Madara-sama dengan memanfaatkan salah satu kemampuan andalannya, [Susano'o]."
Semua kecuali Naruto membulatkan mata mereka mendengar perkataan dari Kakashi, mereka dengan jelas tahu apa yang dibicarakan oleh Kakashi, Tobio tertawa dengan Sarkastik.
"Yang benar saja? Apa sekolah ini memang benar-benar waras meminta kami untuk menghancurkan pertahanan Absolute dari [Susano'o] milik Legenda, Uchiha Madara?."
Tobio tahu dengan jelas, pertahanan Absolute milik Clan Uchiha adalah sebuah Magic yang mampu menahan serangan Magic kelas Low-Tier seolah menahan terpaan angin dan mereka diminta untuk menghancurkannya? Heh~ sekolah ini memang benar-benar pelit pada Divisi Knight yang mengandalkan kemampuan fisik saja...
"Yosh! Ini membuatku bersemangat! Bukan begitu Naruto-kun?."
"Ya, kau benar Lee."
Tobio dan yang lain menatap kearah Naruto dan Lee yang berjalan menuju tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai lainnya.
"Na-Naruto-san, kau serius ingin menghancurkan pelindung itu? I-itu dibuat oleh salah satu legenda yang berhasil mencapai tingkat [Diamond]."
Ucap Cao Cao membuat Naruto menoleh kebelakang lewat bahunya, dengan sebuah senyuman menantang ia berkata.
"Ya, aku serius, sangat serius... Bukankah ini bisa dijadikan pengukur sejauh mana kita telah berkembang?..."
Ucap Naruto dengan Senyuman yang semakin melebar.
"Dan bukankah akan menjadi hal yang hebat jika kita berhasil menghancurkan pelindung yang diciptakan oleh Legenda Uchiha... Itu akan membuktikan jika kita memiliki potensi untuk bisa mencapai tingkatan seperti Legenda Uchiha itu..."
Ucap Naruto selagi ia menaiki tangga dengan tawa bersemangat, mendengar semua itu membuat Tobio dan yang lain terdiam, entah darimana asalnya tiba-tiba saja mereka menjadi bersemangat..
"Yosh! Benar apa yang dikatakan Naruto, kita juga akan mencobanya!."
"Ufufu~ benar kita juga akan membuktikan sejauh mana perkembangan kita."
"Uwwwoo!?, Naruto-san. Kau memang benar-benar Knight sejati!?."
"Yare, aku akan mencemari nama Pendragon, jika menyerah hanya karena hal seperti ini."
Kakashi tersenyum dari balik Maskernya melihat semangat dari para Knight tingkat [Silver] didepannya, ia menatap kearah Naruto yang masih memasang senyuman diwajahnya.
'Dia memang benar-benar anakmu, Sensei... Ia bisa membangkitkan semangat dari rekan-rekannya sama sepertimu...'
Kakashi tersenyum dan mengalihkan pandangannya kembali pada buku ditangannya, Okita menatap Naruto dengan pandangan Kagum.
'Dia berbeda denganku, dia sangat keren...'
"Okita-chan! Apa yang kau lakukan disana! Cepat kemari!."
"A-Ah, ya aku kesana!..."
Okita berlari matanya menatap kearah Naruto yang terus menaiki tangga dengan senyuman diwajahnya yang hangat, ia seperti matahari... Begitu hangat...
'Aku ingin menjadi seperti dia...'
Naruto berjalan dengan tenang dilantai yang ia yakin lantai 27, ia berhenti dilantai ini sementara Lee, ia berkata jika ia akan menaiki Lantai yang paling atas dan ia melakukan itu dengan mata terbakar semangat...
"Hmm... Aku berharap aku dapat menemukan sesuatu yang menarik disini."
Naruto bergumam pelan selagi menatap ruangan satu persatu, ia dapat dengan jelas melihat berbagai macam benda didalam ruangan itu, ada berbagai macam senjata, gulungan sampai berbagai macam perhiasan dan alat magic...
'Tidak ada yang menarik.'
"Ya, aku tahu... Karena itulah aku merasa dilantai ini hanya berisi sampah "
'Meskipun tidak ada yang menarik, tapi tetap saja mereka semua ada diperingkat Gold keatas, contohnya Gulungan diruangan 1327 itu.'
Naruto mengalihkan pandangannya pada ruangan yang dimaksud Ophis dan ia melihat sebuah Gulungan berwarna cokelat dengan aksara rumit dibagian titlenya mengambang diatas bantal mewah berwarna putih mencolok mata.
"Ophis, Gulungan apa itu?."
'Mmm... Menurut penglihatan [Aksara Semesta] milikku itu adalah sebuah Gulungan Elemental Magic Type:Tanah, [Rock Crush]...'
__ADS_1
"Heh, gulungan Magic Type Tanah kah? Maa, sayangnya aku tidak tertarik."
'Ya, aku juga tidak begitu peduli pada hal itu, didalam ingatanku yang lengkap aku memiliki Elemental Magic Type: Tanah yang bahkan sanggup membuat satu Kota menghilang dalam sekejap...'
"... Ophis, itu menyeramkan..."
'Ya aku tahu...'
Naruto menghela nafas pelan sebelum ia kembali berjalan menaiki tangga, ia terus menaiki tangga menuju lantai selanjutnya sampai ia berhenti dilantai 32, ia berjalan dilantai itu dengan pandangan datar, ia kembali dibuat bosan ketika tidak dapat menemukan benda yang menarik, sampai ia terhenti didepan sebuah pelindung dimana didalamnya ia melihat sebuah benda berbentuk sebuah perhiasan cincin...
Naruto menatap cincin emas dengan tahta yang hilang pada cincin itu, Naruto entah kenapa mendapatkan kembali Firasat yang sama seperti saat ia mendapatkan Ophis dan Jeanne, ia mendapatkan firasat seolah-olah cincin itu memanggilnya.
'Master... Jangan-jangan kau...'
"Ya, Ophis aku akan mengambil Cincin itu..."
'Master... Sekarang aku meragukan kewarasanmu, apa yang kau lihat dari cincin dengan tahta kosong?.'
"Entahlah Ophis, aku hanya merasa jika aku harus memiliki cincin ini..."
'Hah~ terserahlah.'
Naruto membuat kuda-kuda kuat, ia menjauhkan tangannya kebelakang, ia memusatkan semua kekuatannya pada tangannya, ia harus menghancurkan pelindung didepannya untuk bisa mendapatkan benda itu...
Duakh!
Krak!
Naruto menatap kearah tangannya yang berhasil membuat retakan pada pelindung itu, ia menjauhkan tangannya dan seketika iris shappirenya melebar melihat Retakan pada pelindung itu mulai kembali seperti semula.
"Yang benar saja, ini memiliki kemampuan Regenerasi sendiri!."
'Aku rasa pelindung ini sama sepetri sayap milik Celestial Manticore dimana itu akan langsung tumbuh kembali begitu sayap itu terpotong.'
Naruto terdiam mendengar penjelasan Ophis, Celestial Manticore... Makhluk itu memang benar-benar tangguh, ia dapat meregenarasikan sayapnya yang telah dipotong oleh Hyuuga Hinata dengan pedang cantik miliknya, dan regenerasi itu lumayan cepat karena ketika ia kembali setelah membuat kontrak dengan Azi Dahaka dan Ikarus ia melihat jika sayap milik Celestial Manticore telah tumbuh kembali dan melihat itulah Naruto memutuskan untuk menghabisi Manticore itu tanpa membiarkannya meregenerasi anggota tubuhnya.
"Hah~ ini akan merepotkan."
Naruto mengaruk belakang kepalanya dan menatap kearah cincin itu, sebelum ia terdiam ketika ia teringat sesuatu, Ophis yang melihat wajah Masternya lewat layar proyeksi didunianya berdehem pelan.
'Master... Aku sangat memperingati kau untuk tidak menggunakan [Limit Burst] disaat kondisi tubuhmu tengah dalam masa pemulihan.'
"Acha! Kenapa kau bisa menebak arah pikiranku!"
'Hmph! Aku adalah pelayan pertamamu jadi aku sudah tahu apa yang akan kau lakukan dan lagipula apa kau lupa jika Master dan aku saling terhubung?.'
Naruto menepuk dahinya ketika ia mengingat hal itu, ia dan Ophis terhubung secara batin, jadi apa yang ia pikirkan maka Ophis bisa mendengarnya... Hah~ ini menyebalkan.
'Master! Aku tidak menyebalkan!.'
Tuhkan... Naruto hanya menghela nafas dan menatap kearah cincin didepannya, ia memejamkan matanya sejenak, dahinya berkerut dengan jelas menandakan jika Naruto tengah memakai Otak super jenius miliknya, dan tak butuh waktu lama sebuah ide melintas dikepalanya.
"Umm, aku rasa aku akan menggunakan cara itu."
Naruto sebelum ia memajukan tangannya kedepan, ia dengan cepat membuka sarung tangan hitam miliknya dan terlihatlah lambang hewan buas dengan tiga kepala berwarna hitam pekat, Naruto menatap lambang itu dengan pandangan seduh.
'Master...'
"Ya, Ophis. Aku tahu..."
Naruto menarik nafas pelan sebelum ia berkonsentarsi penuh dan mengalirkan [Mana] tangan kanannya, perlahan lambang dipunggung tangan Naruto bersinar redup, merasa cukup Naruto membuka matanya dan mengarahkan tangannya kedepan, dan dengan pelan ia menyentuh pedar energi itu.
[Nullify]
Pyaaaaar
Lapisan pelindung hancur begitu menyentuh tangan Naruto, itu seolah tangan Naruto menghapus segala macam rangkaian Aksara yang membentuk lapisan pelindung itu, Naruto mengatur nafasnya yang memburu... Sepertinya menggunakan kemampuan yang ditinggalkan Azi Dahaka memakan banyak sekali energi hanya menggunakan sekali Naruto merasa seperti ia baru saja memakai teknik Martial Arts miliknya [Seiryuu] yang begitu membebani tubuhnya.
'Master... Kau hanya bisa menggunakan teknik itu satu kali dalam sehari, jika kau memaksakan dirimu dengan memakainya lebih dari satu kali maka kau bisa pingsan karena [Mana]-mu terkuras habis atau lebih buruk kau bisa koma.'
"Ya, aku tahu... Ini begitu memakan banyak sekali stamina dan tenaga, dan lagipula aku tidak ingin selalu bergantung dengan kemampuan kalian, aku ingin menjadi kuat dengan caraku sendiri, mengalahkan setiap rintangan dengan kekuatanku sendiri itu memberikan kepuasaan tersendiri..."
Naruto tersenyum ditengah kelelahan yang ia derita, Naruto menghela nafas dan berjalan masuk kedalam, ia menatap cincin didepannya dengan pandangan intens, ia tidak tahu kenapa tapi ia begitu menginginkan cincin ini.
Naruto mengangkat bahunya dan mengambil cincin lalu menyimpannya disakunya, Naruto tersenyum dan kembali ketempat Kakashi.
Dalam perjalanan turun Naruto terhenti ketika ia melihat perempuan bersurai seindah bunga sakura itu tengah kesulitan menghancurkan pelindung untuk apa yang ia inginkan, beberapa kali perempuan yang jika tidak salah bernama Souji Okita itu menebas pelindung itu dan meninggalkan goresan yang langsung tertutup kembali.
"Kenapa... Kenapa tidak hancur juga..."
Okita bergumam dengan putus asa, ia sudah mencoba berbagai macam seni berpedang yang ia kuasai namun ia tetap tidak bisa menghancurkan pelindung didepannya, ia sangat membutuhkan benda yang ada didalam pelindung itu, Okita memejamkan matanya.
"Tidak, aku tidak boleh menyerah disini."
Okita kembali mengatur nafasnya dan kembali memasang posture menyerang, ia menjajarkan pedang gaya inggris miliknya dan menatap tajam kedepan. Ia menguatkan kuda-kudanya dan bersiap menyerang namun baru saja ia akan menyerang sebuah suara menghentikannya.
"Jika dengan serangan seperti itu maka kau tidak akan bisa menghancurkannya."
Okita melunakan Posturenya dan menoleh kesamping dan terlihatlah Naruto yang tengah berjalan kearahnya dengan senyuman tipis diwajahnya.
"Kau membutuhkan satu serangan kuat atau beruntun pada area yang sama untuk bisa menghancurkannya, selebih dari itu akan sia-sia... Nee, Okita-san... Jika boleh tahu kau mempelajari aliran berpedang apa?."
"U-Umm? A-Aku mempelajari aliran Tennen Rishi-Ryu."
Naruto terdiam, Tennen Rishi-Ryu... Bukankah itu gaya berpedang pasukan Shinsengumi?, apa ini sebuah kebetulan atau...
"N-Namikaze-san?."
Naruto tersentak sedikit ketika mendengar suara Okita, ia sepertinya hanyut dalam pemikirannya, ia menghapus wajah berpikirannya dan memasang senyuman tipis.
"Begitu, Tennen Rishi-Ryu ya... Apa itu diutamakan kedalam type kekuatan atau kecepatan?."
"Umm... A-Aku rasa itu lebih utama ke kecepatan."
Sudah ia duga, Aliran Tennen Rishi-Ryu yang dibilang Okita adalah teknik yang sama seperti pasukan Shinsengumi, apa ini kebetulan atau sesuatu seperti teknik samurai didunia sebelumnya bisa sampai kesini atau mungkin...
"Okita-san, jika boleh tahu darimana kau mempelajari Seni itu."
"A-Ah... A-Aku tidak mempelajari Seni berpedang itu dari siapapun..."
"Uhm? Tidak mempelajari dari siapapun... Apa itu artinya kau..."
Naruto berucap dengan nada ragu tapi keraguan itu langsung hancur ketika Okita menganggukan kepalanya.
"Y-Ya... A-Aku menciptakannya sendiri..."
Ucap Okita pelan sambil menundukan kepalanya karena malu, Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya ia tersenyum tipis.
"Begitu, kau menciptakannya sendiri... Kau sangat hebat."
Ucap Naruto lembut membuat Okita dengan cepat mengangkat wajahnya dan menatap Naruto yang tersenyum kearahnya. Seketika Rona merah memenuhi wajah Okita.
"A-Aku ti-tidak sehebat itu... La-Lagipula Seni itu belum sempurna."
"Tidak, kau sangat hebat... Menciptakan seni berpedang tidaklah semudah membalikan telapak tangan banyak hal yang harus diperhatikan jika ingin menciptakan Seni berpedang, dan kau telah melakukannya, kau menciptakan seni berpedang, Tennen Rishi-Ryu... Menurutku itu sangat hebat."
Ucap Naruto membuat Okita semakin merona, ia merona karena malu menerima pujian dari Naruto, ini adalah pertama kali dalam hidupnya ia menerima pujian secara tulus... Itu sangat berharga untuknya.
Naruto tersenyum melihat wajah manis Okita yang merona, ia merasa jika ia harus memberikan sesuatu pada Okita, baginya yang seorang pendekar pedang, ia begitu menghargai seorang pendekar pedang yang mencintai pedangnya... Sama seperti kakeknya... Naruto, tanpa diketahui oleh siapapun membuka [Dimension Space Magic: Gate] miliknya dan mengambil sesuatu dari dalamnya, itu adalah sebuah Katana yang indah.
"Tangkap!."
Naruto melempar rendah membuat Okita sedikit terkejut karena sesuatu dilempar kearahnya dengan tiba-tiba, Okita menatap kearah tangannya dimana ia melihat sebuah katana dengan sarung katana berwarna hitam sedikit cokelat indah.
"Na-Namikaze-san i-ini..."
"Aku memberikan salah satu 'teman'-ku padamu, tolong terimalah."
"Ti-Tidak, aku tidak bisa menerima benda super mahal seperti [Katana] ini!, aku mohon ambil kembali!."
Okita berusaha mengembalikan Katana itu ketangan Naruto namun Naruto menghindar dari Okita, mereka terlihat seperti sepasang adik-kakak jika dilihat lebih jauh, seorang adik perempuan yang ingin memberikan kembali Mainan Gundam kakaknya sampai akhirnya Okita menyerah.
"Ak-Aku tidak bisa menerima ini, aku mohon ambil kembali... Uuu."
"Oi, Oi, jangan menangis hanya karena kau tidak bisa mengembalikan Katana Mithril dariku!."
Okita terdiam mendengar perkataan Naruto sebelum ia menarik Katana ditangannya dan menatap kilauan loga Mithril, Okita menyarungkan kembali Katana itu dan menatap Naruto dengan mata berkaca-kaca.
"Uuuuuuuu..."
"Oi!? Kenapa jadi makin keras!?."
"Ak-Aku tidak menerima benda mahal ini secara gratis... Tolong ambil-lah, aku mohon..."
Naruto terlihat kesulitan melihat Okita yang menangis sambil mengembalikan benda pemberian miliknya, jujur saja meskipun Katana Mithril itu Naruto Akui sangat mahal bahkan untuknya yang hanya mendapatkan uang bulanan sebesar 10 coin emas, harga tidak waras dari Katana Mithril itu setara dengan 10 kali uang bulanannya!, Naruto akan menjadi orang bodoh jika membeli katana Mithril! Tapi sayangnya itu gratis!? Itu diberikan Tenma-san untuk dirinya secara cuma-cuma! Lagipula didalam [Gate] masih ada ratusan senjata yang dikirim oleh Tenma-san setiap minggunya! Jadi memberikan satu Katana Mithril tidak akan berpengaruh untuk dirinya!?.
Naruto mengaruk belakang kepalanya, ia menatap Okita yang terus berusaha mengembalikan Katana Mithril ditangannya padanya sambil menangis, ah merepotkan... Naruto menghela nafas.
"Baiklah, begini saja aku tidak jadi memberikannya padamu! Kau harus membelinya dariku!."
Okita berhenti ditempatnya dan menatap Naruto dengan mata berkaca-kaca, sebelum ia dengan pelan ia merogoh sakunya dan mengeluarkan satu coin perak... Naruto yang melihat Coin itu dengan seenak jidatnya mengambil Coin perak itu dari tangan Okita.
"Terjual!? Sekarang katana itu milikmu, dan sampai jumpa!?."
Ucap Naruto seraya menjauh dari Okita yang menatap bingung Naruto, orang itu... Menjual Katana Mithril yang sangat Mahal dengan harga satu coin perak?... Okita menatap Naruto yang menuruni tangga dengan tenang sebelum ia menatap Katana ditangan-nya dan senyuman terpatri diwajahnya, sebuah senyuman kebahagian...
"Namikaze-san... Terimakasih."
Dimeja Resepsonis, Kakashi yang tengah asik membaca buku bersampul orange itu menoleh kesamping ketika ia merasakan seseorang datang kearahnya, ia melihat para Knight yang sebelumnya telah selesai dari urusan mereka, Kakashi tersenyum kecil.
'Heh... Mereka memang benar-benar menjanjikan... Berhasil selesai hanya dalam waktu sejam?... Divisi Knight sangat hebat ya?.'
"Kami sudah mendapatkan apa yang kami mau, sensei."
Kakashi tersenyum pada Naruto, ia menutup bukunya dan menghadap para Knight jenius didepannya.
"Ya, aku cukup terkejut melihat kalian berhasil mengatasi pelindung Madara-sama dengan cepat, aku ucapkan selamat untuk itu."
Ucap Kakashi membuat para Knight bersuka cita dengan cara masing-masing, namun baru saja mereka bersuka cita sebuah lingkaran berlambang Clan Uchiha tercipta ditengah ruangan membuat perhatian semua diruangan itu mengarah pada lingkaran Magic itu...
"Hah~ kenapa kita harus mengambil [Reward] sampah itu? Kenapa tidak diabaikan saja."
"Menma, kalau tidak mau kesini sebaiknya tadi kau tidak usah ikut."
"Benar apa yang dibilang, Toneri... Suara cemprengmu itu bisa membuatku tuli..."
"Apa!? Beraninya kalian! Toneri! Arashi!."
"Maa, Maa, tenanglah Menma, kita kesini hanya menemui Kakashi-sensei dan meminta-nya untuk membatalkan pemberian [Reward] untuk kita..."
"Tapi tetap saja ini menyebalkan, Neji."
"Menma... Diamlah..."
Menma langsung bungkam ketika Heir dari Clan Uchiha menatapnya dengan mata kutukan, [Sharingan]. Menma berdecih dan mengalihkan pandangannya. Sasuke menonaktifkan matanya dan menatap kedepan, ia menyipitkan matanya begitu ia melihat beberapa orang yang nampak familiar. Sasuke menyeraingai tipis dan menatap orang didepannya.
"Aku tidak pernah menduga kau akan datang kesini. Namikaze."
"Heh~ begitu juga denganku, Uchiha..."
__ADS_1