The Worst One

The Worst One
Chapter 16


__ADS_3


Naruto Point Of View -



" Oke..., dimana ini?. "


Aku bergumam pelan selagi celingak-celinguk kesana kemari, aku berada ditempat bernuansa putih sejauh mata memandang, aku mengaruk belakang kepala-ku, sebenarnya aku berada dimana, itulah pikiranku saat ini...,


Oke, sekarang bagaimana aku bisa berada disini?, mengurutkan semua kejadian yang ada didalam kepalaku dan aku mendapatkan asumsi jika aku berada ditempat yang disebut alam bawah sadar atau setidaknya itulah yang aku baca dinovel fiksi dan manga-manga Fantasy. Aku mengangkat bahuku tidak tahu.


Biasanya aku tidak percaya hal seperti ini jika itu masih diduniaku yang dulu, sekarang berbeda aku hidup didunia yang penuh dengan hal diluar akal sehat... Sihir, Magical Beast, Assassin, Magical Beast dan terakhir hantu gentayangan yang memiliki dendam kesumat.


" hah~, Reinkarnasi kedunia lain, sesuatu yang tidak bisa diduga sama sekali. "


Aku menghela nafas dan melangkahkan kaki kedepan, aku berharap menemukan seseorang atau sesuatu disini, cukup lama aku berjalan hingga aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, mengistirahatkan kakiku yang agak letih karena berjalan tabpa tujuan yang pasti ditempat bernuansa putih dengan luas yang tak tertandingi ini.


" ya ampun, seluas apa sebenarnya tempat ini, tidak ada apapun selain putih sejauh mata memandang..., hah~. "


Aku merebahkan tubuhku diatas lantai kaca yang merefleksikan bayanganku dan menatap kelangit putih disana, aku memejamkan mataku, ini akan menjadi percuma jika aku berjalan kesana kemari ditempat ini tanpa arah tujuan, akan lebih baik jika aku..., hoam..., oyasumi.


" seperti yang diharapkan dari diriku yang lain. "


Mendengar sebuah suara aku langsung membuka mataku dan bangun dari tidurku, aku menatap kesekeliling mencari siapa pemilik itu...,


" etto, aku ada disini. "


Suara itu berasal dari..., aku menatap kebawah dan terlihat bayanganku tengah sambil melambaikan tangan, aku mengerutkan dahiku melihat hal ini, bayanganku berbicara padaku?.


" siapa kau?. "


Dia tertawa mendengar pertanyaanku, aku cukup serius tentang ini, selagi ditertawa dia perlahan mulai muncul kepermukaan dan itu cukup membuatku terkejut dan menjauh darinya, ia yang melihat reaksiku hanya tersenyum tipis dan berdiri dengan tegap.


" aku ulangi, siapa kau, kenapa kau mirip sepertiku?. "


" hahaha, jangan mengeluarkan intimidasi yang tidak perlu, dan siapa aku?, lalu kenapa aku mirip denganmu maka jawabannya mudah. "


Dia mengatakan selagi ia membuat wajah ramah, aku memasang sikap waspada dan tidak akan segan-segan menghajarnya jika dia menyerangku.


" aku adalah kau, dan kau adalah aku.., "


Apa?. Melihat wajah bingungku dia terdiam dan berpikir.


" ya, aku adalah kau, dan kau adalah aku, ehem!, bagaimana mengatakannya ya?, uhm..., ah!. Mungkin jika begini akan menjadi lebih mudah. "


Dia membuat jeda dan bergumam beberapa saat sebelum menatapku dengan tatapan yang menunjukan jika dia sudah menemukan jalan keluar dari situasi ini.


Ia merendahkan tubuhnya dengan gaya ala bangsawan, aku mengerutkan dahiku melihat ia yang menunduk seperti bangsawan.


" perkenalkan namaku ada Namikaze Naruto, anak dari Namikaze Minato dan Namikaze Kushina, dengan kata lain, aku adalah Naruto dari dunia ini..., "


Aku membulatkan mataku mendengar perkataannya, Namikaze Naruto..., dia adalah Naruto yang ada didunia ini, dengan kata lain, aku, didunia ini!..., ia yang melihatku terkejut tersenyum.


" ka..., kau!, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu!..., "


" jika begitu kita sama, aku juga memiliki banyak hal yang ingin aku sampaikan padamu, tapi..., ini belum saatnya, kita akan bertemu lagi suatu saat nanti, sampai jumpa, diriku yang lain. "


" he-hey!, tunggu!. "


Aku berlari kearahnya yang perlahan menghilang, aku menjulurkan tanganku berusaha mengapai diriku didunia ini namun saat aku sedikit lagi menyentuhnya cahaya menyilaukan muncul dan menyedot kesadaranku.


- Naruto Point of View End -


Sepasang iris shappire menatap kosong keatas langit atap berwarna putih tua, Naruto mengedipkan matanya berkali-kali sebelum ia menatap kearah tangannya yang terjulur keatas.


" mimpi..., tapi terlihat nyata?. "


Naruto bangkit dari ranjangnya dan melihat kearah tangannya, Naruto terdiam sejenak, entah kenapa setelah semalam bertarung dengan Maria Rossfield diruang rahasia milik Academy dan menderita luka yang cukup serius, Naruto berhasil mengalahkan Maria dengan cara berjanji padanya...,


Naruto terdiam ketika ia menyadari sesuatu, bukankah dia terluka cukup parah?, Naruto menatap kearah tubuhnya sebelum merabah dimana ia yakin jika disana terdapat luka, Naruto menyentuhnya dengan hati-hati.


" tidak sakit?. "


Naruto bergumam pelan sebelum ia memutuskan membuka bajunya dan melihat tubuhnya, seketika wajah Naruto dipenuhi keterkejutan dan kebingungan disaat yang sama, ditubuh kekar itu tidak terdapat luka sama sekali!, ya!, hanya kulit tan eksotis saja yang ia lihat, Naruto menatap kedepan dengan pandangan berpikir, bagaimana luka ditubuhnya menghilang?, apa dia memiliki kemampuan regenerasi?, mengingat ia berada didunia fantasy dimana hal yang mustahil sering terjadi?, lama Naruto berpikir sebelum akhirnya ia menyerah dan berjalan menuju kamar mandi, ia masuk kekamar mandi tanpa menyadari sesosok perempuan tengah duduk dilantai dan memperhatikan dirinya yang masuk kedalam kamar mandi...,


Setelah beberapa saat Naruto keluar dari kamar mandi dan melangkah menuju lemari pakaian, dengan santainya Naruto melepaskan handuknya dan mengambil satu set seragam miliknya lalu mengenakannya dengan santai, setelah berkaca dan yakin dia telah tampan, Naruto berjalan menuju meja persegi kecil ditengah ruangan dan duduk disana, dengan santainya Naruti membuka [Gate] miliknya dan mengeluarkan beberapa makanan dari dalam [Gate] dan segelas susu lalu menata-nya diatas meja itu...,


Makanan yang ia letakan dimeja itu adalah makanan yang ia beli dari kantin sekolah beberapa hari yang lalu dan ia simpan didalam [Gate] miliknya, Naruto menemukan fakta bahwa jika memasukan benda mati kedalam [Gate] maka waktu benda itu akan berhenti ketika memasuki [Gate], dengan kata lain, jika Naruto memasukan semangkuk sup panas kedalam [Gate] maka saat ia ambil kembali maka sup itu akan tetap panas sama seperti saat dimasukan, sihir yang sangat praktis bukan?.


Naruto mengambil sumpit dan mengambil posisi berdoa, Naruto melakukan hal itu tanpa menyadari seorang perempuan manis yang sedang menatapnya sedaritadi.


" Itadakimasu!. "


" [selamat makan!] "


Naruto yang baru mau mengambil daging cincang asam manis didepannya menghentikan gerakannya, Naruto terdiam, suara perempuan?, apa itu Ophis?, Naruto menoleh kebelakang dan menatap kearah Ophis yang tertidur dengan damai, jika suara itu bukan milik Ophis lalu milik siapa?..., Naruto mencoba mengabaikan suara itu sebelum ia mengambil satu daging cincang Asam manis dan memakannya dengan tenang.


" [ mmh~!. ini enak!. Sudah lama aku tidak merasakan rasa ini!]. "


Naruto yang tengah mengunyah daging dimulutnya terdiam, suara itu kembali muncul terdiam, sebelum ia menoleh kekanan dan kekiri namun ia tidak menemukan apapun disekitarnya, Naruto mencoba kembali mengambil satu potong daging itu lagi dan memasukannya kedalam mulutnya dan mengunyah-nya dengan perlahan.


" [mmh~, daging ini memang yang terbaik!] "


Naruto terdiam, suara itu entah kenapa terasa sangat dekat dan itu seperti berada di..., Naruto menoleh kebelakang lewat bahunya dan ia terdiam ketika melihat seorang perempuan bersurai putih pendek dengan iris lime tengah menatapnya dengan senyuman indah dipagi hari.


" [Ya~, kita bertemu lagi!.] "


Suara imut nan manis itu menyapa gendang telinga Naruto yang hanya bisa terdiam melihat perempuan dibelakangnya, Naruto terdiam selama beberapa saat sebelum ia menatap datar kearah perempuan dengan tubuh tembus pandang itu.


" Maria Rossfield..., "


- time skip -


Setelah beberapa saat kemudian, Naruto duduk berhadapan dengan Maria Rossfield, perempuan yang dikatakan tewas karena iri hati satu bangsawan yang menginginkan balas dendam terhadapnya kini menatapnya dengan pandangan ramah, Naruto menghela nafas dan memijat pelipisnya yang berdenyut.


" Maria, bukankah kau seharusnya sudah termurnikan?. "


" [uhm, memang benar aku telah termurnikan, namun itu hanya dendamku saja, alasan kenapa aku masih ada disini itu karena aku memastikan kau akan menepati janjimu, Naruto-san.] "


Naruto terdiam mendengar balasan itu, sebelum Naruto memijat batang hidungnya dan menghela nafas panjang.


" biar aku perjelas lagi, inti dari perkataanmu adalah kau tidak bisa pergi kealam selanjutnya karena kau tidak bisa menyerahkan dendam mu pada orang yang baru kau kenal begitu?. "


" [ummu!, seperti yang diharapkan dari orang yang berhasil mengalahkanku, kau bisa mengerti maksudku, dan seperti katamu tadi, aku tidak bisa menyerahkan dendamku pada orang lain yang baru aku kenal, jadi maaf, mulai sekarang aku akan ada sini sampai, janjimu terpenuhi.] "


Naruto menghela nafas mendengar hal itu, Ophis yang tengah tertidur perlahan membuka matanya dan mengambil posisi duduk, Ophis mengucek matanya dengan imut sebelum ia menoleh kekanan dan kekiri dengan setengah sadar...,


" Master..., kau dimana?..., "


Naruto yang mendengar suara Ophis menoleh kebelakang dan melihat Ophis yang bergerak kekanan dan kekiri akibat kantuk yang masih menyerangnya, Naruto bangkit dari duduk dan berjalan kearah Ophis, mengangkat gadis kecil itu dan meletakannya diatas pangkuannya.


" umu, Master..., ohayou. "


" Selamat pagi juga, Ophis. "


Naruto tersenyum dan merapikan surai hitam indah milik Ophis yang berantakan, Ophis hanya menyenderkan tubuhnya keperut Naruto selagi memejamkan matanya menikmati perlakuan Masternya itu, Naruto tersenyum puas setelah merapikan mahkota hitam milik Ophis.


" maaf jika aku mengabaikanmu, Maria. "


Maria mengeleng pelan, " [tak apa, lagipula aku melihat sesuatu yang menarik disini.] " ucap Maria dengan senyuman tipis, Naruto menaikan satu alisnya bingung sebelum ia mengangkat bahu tak peduli.


Naruto memposisikan Ophis untuk tidur dipangkuannya, setelah mendapatkan Posisi nyaman, Naruto kembali menatap Maria dengan pandangan serius.


" Maria, ada hal yang ingin tanyakan padamu. "


" [oh?, apa itu?.] "


" menurut legenda yang aku dengar, kau pernah menghilang tepat setelah kau berhasil membunuh 9 murid dan itu terjadi sekitar 5 tahun yang lalu, bisa kau jelaskan kenapa kau tiba-tiba menghilang setelah membunuh 9 murid Wizard yang tidak bersalah?. "


Tanya Naruto dengan wajah serius, Maria terdiam sebelum ia menghela nafas, tidak ada pilihan lain. Ia harus bercerita. " [baik, akan aku ceritakan, kau tahukan jika semua yang ada didunia ini memiliki Mana sebagai inti kehidupan mereka?], " tanya Maria, Naruto mengangguk, ya~, itu adalah pelajaran paling dasar didunia ini, bahkan hal itu diajarkan ketika kau masih berumur 3 tahun oleh kedua orang tuamu...,


" [dan begitu juga denganku, meskipun aku adalah hantu, aku masih membutuhkan Mana untuk bisa mempertahankan wujudku didunia nyata, dan Mana yang aku butuhkan tidaklah sedikit, oleh karena itu ketika aku berhasil membunuh 9 murid divisi brengsek(Wizard) itu, tepat setelah-nya aku mencapai batasan kapasitas Mana yang aku miliki dan mau tidak mau aku harus mengisi ulang Manaku dengan cara tidur..., ] "


" tunggu, jadi kau tertidur selama 5 tahun hanya untuk mengisi kapasitas [Mana] milikmu?, "


" [aku benci mengakuinya tapi itulah kenyataan-nya, aku tertidur selama 5 tahun untuk mengisi kapasitas [Mana]ku sampai maksimal...,] "


" 5 tahun untuk mengisi [Mana]?, sebenarnya seberapa besar kapasitas [Mana] yang kau miliki?. "


Naruto bergumam pelan selagi ia menatap Maria yang menatapnya dengan pandangan bingung, Maria terdiam sebelum ia tersenyum.


" [kapasitas Mana yang aku miliki berada ditingkat [Gold: V], jika aku masih hidup aku hanya perlu berisitirahat selama 5 hari untuk bisa mengisi kembali [Mana] milikku namun karena aku sekarang adalah hantu maka dibutuhkan waktu yang jauh lebih lama untuk mengisinya kembali dibandingkan saat aku masih hidup. ] "


Ucap Maria, Naruto terdiam selagi iris shappire miliknya membola sempurna, [Gold: V]..., pantas saja sangat sulit menang melawan Maria, bahkan meskipun dia dan Tobio bertarung dengan kekuatan penuh tetap saja sulit, karena sejak awal menang melawan Maria adalah hal yang mustahil!, Naruto tertawa hambar..., Naruto bersyukur dapat memenangkan pertempuran tanpa harus kehilangan nyawa.


Setelah memenangkan dirinya Naruto kembali menatap Maria, " jadi alasan kenapa legenda itu dikatakan 'menghilang' lalu 'bangkit kembali', itu semua karena kau pergi tidur selama 5 tahun untuk mengisi ulang Mana milikmu?. Sungguh kenyataan yang mengejutkan, kau tahu?. " ucap Naruto, Maria tertawa tipis.


" [ya aku tahu, aku juga cukup terkejut..., ah, ini sudah waktu ku beristirahat..., kita akan berjumpa lagi, Naruto-san. Sampai nanti...,] "


Maria mengatakan itu selagi tubuhnya perlahan-lahan mengeluarkan cahaya lembut, Naruto menatap hal itu sampai cahaya yang menyelimuti Maria akhirnya menghilang dan kini terlihatlah diatas meja dua buah dagger berwarna ungu kemerahan yang terlihat tajam, Naruto menatap kedua dagger itu sejenak dengan dahi berkerut, Naruto mengambil sepasang dagger itu dan menatapnya dengan pandangan intens.

__ADS_1


" dia..., berubah jadi senjata?. "


- Change Scene -


Naruto kini tengah berjalan dilorong dengan wajah datar, ia baru saja menyelesaikan jam pelajaran Ibiki-sensei yang menurutnya membosankan, bagaimana tidak, Ibiki-sensei memberikan teori tentang standar yang harus dipenuhi oleh seorang knight, atau biasanya para Knight menyebutnya sebagai [Martabat Knight] yang terdiri dari kejujuran, keteguhan, keberanian, semangat juang dan dedikasi, itu semua adalah lima martabat yang harus dimiliki oleh seorang Knight..., yang membosankan dari itu bagi Naruto itu karena Naruto sudah mempelajari-nya, namun jika disini hanya ada 5 maka, dia diajarkan 7 Martabat, yaitu [Kasih sayang] dan [Tekad] oleh sang kakek.


Naruto menghela nafas dan akhirnya berhenti tepat didepan sebuah pintu yang bertuliskan [Ruang pemulihan], Naruto membuka pintu dengan pelan dan selanjutnya yang ia lihat menbuatnya membeku.


" Tobio, katakan Aaaaa~. "


" Aaaaa~ Ada apa Naruto!?. "


Tobio yang baru saja akan memakan makanan suapan Miya terhenti dan berteriak terkejut ketika ia mendapati Naruto berdiri didepan pintu dan menatap kearahnya dengan tatapan kosong, Miya juga menoleh kebelakang dan ia terkejut melihat Naruto berdiri disana..., Naruto menundukan kepala sopan.


" maaf menganggu, permisi "


Blam!


" ini tidak seperti yang kau lihat!?..., "


Setelah beberapa saat Naruto akhirnya kembali kedalam ruangan pemulihan setelah Miya mengejarnya dengan kecepatan penuh dan mengucapkan sederet kalimat panjang dalam satu kali tarikan nafas untuk meluruskan kesalah pahaman itu.


" ya~, tadinya aku mengira kau mengambil KESEMPATAN dari sakitmu sebagai alasan untuk dimanja oleh Miya Fuku-Taichou, tapi nampaknya aku yang salah, maaf. "


Baik Tobio dan Miya memerah mendengar kalimat frontal dari Naruto, melihat hal itu Naruto menyeringai jahil, " aku terkejut melihat kalian semesra itu, 'ini katakan Aaaa~' sungguh sesuatu yang romantis sekali..., jadi tolong jangan lakukan lagi karena bisa ada yang serasa mati melihat kalian bermesraan, oke?. " ucap Naruto dengan cengiran khas miliknya, wajah Tobio dan Miya langsung merona hebat, bahkan sampai terlihat ilusi uap panas mengepul diatas kepala mereka.


" Keparat kau, Naruto!, kau menggodaku!. "


" ak-aku akan pergi, ad-ada hal yang harus aku lakukan!. Permisi!..., "


Blam!


Miya yang tidak sanggup menahan godaan dari Naruto pergi dengan cepat, Tobio dan Naruto menatap kepergian Miya sebelum Naruto mengalihkan pandangannya menatap Tobio yang juga menatapnya dengan datar..., rupanya Tobio mengetahui maksud dari Godaan Naruto..., Tobio tidak sebodoh yang Naruto kira.


" jadi, Naruto..., bisa kau ceritakan apa yang terjadi setelah aku dikalahkan?, apa yang terjadi pada Maria dan bagaimana tubuhku yang seharusnya terluka parah bisa sembuh dalam sekejap?. "


" banyak hal yang terjadi, aku tidak bisa mengatakannya untuk sekarang karena bagaimanapun ini terlalu sulit untuk dijelaskan..., suatu saat nanti aku akan menceritakan semua padamu, Tobio. "


" begitu?, kalau begitu ya sudahlah..., jadi, ada apa kau menemuiku?. "


Tanya Tobio selagi ia menyandarkan tubuhnya ke kepala kasur dan menatap Naruto dengan pandangan datar, Naruto terdiam sejenak sebelum ia menatap Tobio serius.


" Tobio, kenapa kau tidak pernah bercerita padaku jika kau memiliki Artifak Kuno itu?. "


Tanya Naruto, Tobio terdiam sebelum menatap bingung Naruto, " Artifak Kuno?, apa yang kau bicarakan?. " tanya Tobio, Naruto terdiam sejenak, jadi begitu ya?..., Naruto menghela nafas dan bangkit dari tempat duduknya.


" tidak, lupakan saja, aku hanya sedang melantur..., ya, kalau begitu aku pergi dulu dan semoga lekas sembuh, Tobio. "


Ucap Naruto meninggalkan Tobio yang menatap bingung kepergiannya, Tobio mengangkat bahu tidak peduli dan kembali merebahkan dirinya diatas kasur dan memejamkan matanya.


' Master, nampaknya dia tidak menyadari tentang [Canis Lykaon] yang selama ini ada didekatnya. '


Ditengah perjalanan pulang menuju Asrama Ophis muncul dan mengatakan itu dengan nada datar nan kosong, Naruto mengangguk membenarkan.


" ya, nampaknya begitu, Tobio hanya menganggap Jin sebagai peliharaan miliknya saja, ini rumit jika Tobio tidak mengetahui hal ini secepatnya maka [Canis Lykaon] bisa direbut orang lain. "


' lantas kenapa, Master tidak menyadarkan dia tentang [Canis Lykaon], bukankah itu lebih mudah?. '


Naruto menghela nafas mendengar perkataan Ophis yang seakan mengatakan jika itu mudah dilakukan, " Ophis, jika aku mengatakan hal itu langsung maka, Jin tidak akan puas, kau tahu jika Jin ingin memberitahu Tobio jika dirinya adalah Longinus maka sudah sejak lama ia memberitahu Tobio, namun nyatanya tidak. Jin sepertinya ingin agar, Masternya. Menyadari keberadaan Jin sebagai Longinus dengan sendirinya, jadi aku tidak akan ikut campur tentang hal ini..., " ucap Naruto, Ophis terdiam mendengar perkataan Masternya.


' lalu, Master. Bukankah itu akan memakan banyak waktu?. '


" aku tidak bisa berdebat dengan itu namun jika begitu Jin bisa puas, maka aku akan melakukan-nya..., "


' nampaknya kau sangat menyayangi senjata ya, Master. '


Naruto tersenyum selagi ia keluar dari bangunan utama Academy, " aku lebih suka menyebutnya 'teman' daripada 'senjata'..., bagaimanapun Jin adalah teman yang membantu kita lolos dari kematian, ingat?. " ucap Naruto, Ophis terdiam sebelum menatap hangat masternya.


' begitu, Master. Aku paham sekarang kenapa kau melakukan sering melakukan penghormatan pada pedang kayu yang rusak ditengah latihanmu, kau menghargai mereka sebagai seorang teman. '


Naruto tertawa tipis, " maa, begitulah. " Naruto terus berjalan sampai ia berhenti ketika digaris pandangan-nya ia melihat seorang perempuan bersurai pirang pucat dengan iris emerlad menawan menatap kearahnya dengan datar...,


" selamat siang, Naruto-san. "


Naruto terdiam memdengar sapaan dari gadis cantik didepannya, " selamat siang, Arthuria. " perempuan itu tersenyum tipis sebelum berjalan dan menatap iris shappire menawan milik Naruto.


" apa kau mempunyai waktu sebentar, Naruto-san?. "


Naruto terdiam dan ia menatap emerlad indah itu sebelum...,


" Nii-chan!, "


Naruto terdiam ketika Le fay, adik dari Arthuria berlari kearahnya dan memeluk kakinya, Naruto menatap kearah Arthuria yang memasang wajah memelas, dan meletakan tangan didepan wajahnya sebagai isyarat minta maaf..., Naruto menghela nafas dan merendahkan tubuhnya dan mengelus surai emas Le fay dengan lembut.


" jadi, bagaimana kabarmu hari ini, Le fay-chan?. "


" aku baik, Nii-chan!..., ne, ne, Nii-chan!, mari kita main!. "


" baiklah, karena Nii-chan sedang senggang dan diundang(seret) kesini, jadi mari kita bermain!, apa yang ingin Le fay mainkan?. "


" uhmm..., Le fay tidak tahu, apa Nii-chan punya sesuatu untuk dimainkan?. "


Tanya Le fay, Naruto terdiam sebelum ia tersenyum dan merogoh sakunya mengambil satu coin emas disana, " baiklah, Nii-chan akan memainkan sebuah sulap kecil, lihat Coin emas ini..., " ucap Naruto menunjukan satu coin emas ditangannya, Le fay menatap Coin itu dan mengangguk.


Naruto tersenyum tipis, mengenggam coin emas itu lalu menunjukannya pada Le Fay, " coin ini ada disini bukan?, lalu..., ia menghilang..., " ucap Naruto dengan senyuman tipis menunjukan kedua tangannya seakan menyatakan jika coin itu menghilang..., Le fay yang melihat terkejut, sungguh gadis yang polos


" dimana Coin itu, Nii-chan!..., "


Naruto tersenyum melihat kepolosan yang murni, " Coin itu ada di..., " Naruto menjeda kalimatnya dan menyentuh sisi kanan kepala Le fay lalu tak lama menariknya dan kini terlihatlah coin emas ditangan Naruto.


" telinga Le fay-chan..., "


Ucap Naruto membuat Le fay menatap Naruto dengan pandangan berbinar kagum, " hebat!, Nii-chan bisa melakukan sihir!, Le fay juga bisa melakukannya, Lihat ini Nii-chan..., " Le fay memejamkan matanya dan berkonsentrasi, ditangan kecil Le fay perlahan terbentuk lingkaran sihir dan dari lingkaran sihir itu tercipta bola-bola cahaya kecil berjumlah tiga yang berputar dengan tenang..., Ophis yang melihat Sihir itu melebarkan sedikit pupil matanya...,


' it-itukan, '


Sama hal-nya dengan Ophis, Naruto dan Arthuria juga melebarkan mata mereka melihat bola-bola Cahaya yang berputar pelan diatas tangan Le fay.


" I-ini / di-dia..., "


Naruto yang mendengar suara yang ikut terkejut menoleh kesamping dan mendapati Arthuria tengah terkejut, Naruto menatap hal itu, jadi dia baru tahu hal ini?!.


Le fay membuka matanya dan menunjukan senyuman pada Naruto yang membeku menatap kearah tangan Le fay, " bagaimana Nii-chan, Le fay juga bisa menggunakan sihir bukan?. " tanya Le fay dengan nada takut-takut, Naruto tersadar dari keterkejutannya dan tersenyum tipis sebelum mengelus surai emas Le fay dengan lembut.


" heh~, Le fay-chan..., itu tadi hebat!, suatu saat nanti kau akan menjadi Wizard yang hebat, Nii-chan percaya itu..., "


Ucap Naruto dengan nada lembut, Le fay yang mendengarnya mengembangkan senyuman diwajahnya sebelum ia menerjang dan memeluk Naruto dengan erat, Naruto tersenyum dan membalas pelukan Le fay.


Tanpa terasa hari mulai sore, dan Naruto memutuskan untuk pulang, Naruto-pun berpamitan dengan Arthuria dan Le fay yang saat ini tengah mengantarnya sampai depan pintu.


" Nii-chan..., kau akan datang dan bermain lagi dengan Le fay kan?.


Le fay bergumam selagi matanya menatap kebawah, Naruto tersenyum tipis, ia menyentil pelan hidung Le fay membuat sang empu menatap kearah Naruto yang tengah tersenyum.


" tentu saja, Nii-chan pasti akan sering berkunjung untuk bermain denganmu..., "


" benarkah?, janji!..., "


" hahaha, ya Nii-chan berjanji..., kalau begitu, Nii-chan pulang dulu..., sampai jumpa. "


Naruto berbalik dan berjalan meninggalkan kedua gadis cantik yang menatap kepergiannya, saat sudah mengambil langkah keempat tiba-tiba Le fay Berteriak.


" Nii-chan!, jadilah kuat dan cepat Nikahi Nee-chanku!..., "


Bruk!


" L-L-L-Le fay!, apa yang kau katakan!..., "


Arthuria berteriak malu selagi ia menatap Naruto yang entah bagaimana tersandung dan jatuh dengan komikalnya, Naruto bangkit dan menepuk pakaiannya sebelum menoleh kebelakang dan tertawa agak dipaksakan plus ibu jari yang diangkat keatas.


' selamat, Master. Kau mendapatkan restu dari adik iparmu. '


" Ophis, diamlah..., kau membuat kepalaku tambah sakit. "


- change scene -


Naruto kini berjalan dengan pelan ditengah hiruk pikuk distrik perbelanjaan, Naruto menatap kekanan kekiri dimana banyak sekali toko-toko mewah yang menjajakan segala sejenis benda mulai dari dapur bahkan sampai toilet ada disini, ada juga toko-toko yang menjual beberapa alat magic namun itu terlihat agak mahal, meskipun sekarang Naruto bisa dibilang memiliki banyak coin emas namun ia lebih memilih menyimpannya...,


Naruto terus berjalan hingga pandangannya terarah pada seorang perempuan bersurai merah keorangean, mengenakan pakaian biasa berwarna orange gelap tengah dikerubungi oleh beberapa cowok dengan gaya ala preman, Naruto menyipitkan matanya, bukankah itu..., Senju Kyubi?.


" hey, gadis manis, darimana kau berasal?, dan siapa namamu?. "


Cowok dengan rambut cokelat pucat itu menatap wajah Kyubi dengan gaya ala preman, Kyubi yang melihat preman itu mendekat mengambil satu langkah mundur.


" sungguh rambut yang indah, wajahmu juga manis..., nee, Ojou-san, bagaimana jika kau ikut kami, kami janji akan memberikanmu kesenangan yang belum pernah kau rasakan sebelumnya, mari ikut kami..., "


Wajah preman cokelat itu semakin mendekat wajah Kyubi yang nampaknya terganggu dengan preman cokelat ini..,


" me-menjauhlah-, "


" Kyubi!..., "

__ADS_1


Sebuah suara yang agak nyari mengalihkan perhatian para preman berjumlah tiga orang itu dan Kyubi kesamping dan diaana mereka melihat seorang pemuda bersurai pirang berjalan kearah mereka dengan ekspresi tak terlihat karena ia menundukan wajahnya...,


Melihat pemuda yang tak lain adalah Namikaze Naruto, tiga preman itu membuat ekspresi sesangar mungkin, preman bersurai cokelat melangkah kedepan.


" apa mau mu kesini, brengsek?, apa kau tidak lihat kami sedang sibuk?, pergi sana sialan. "


Naruto tidak menjawab wajahnya tetap menunduk preman bersurai cokelat itu mendekati Naruto dengan langkah berani.


" apa?, apa kau memiliki hubungan dengan perempuan ini, atau semacamnya?, kau tidak terlihat cukup berguna untuk perempuan ini, pecundang. "


Naruto tetap tidak menjawab kalimat provokasi itu, preman bersurai cokelat itu semakin mendekati Naruto dengan wajah sangar miliknya, Naruto yang sedaritadi diam membuka mulutnya...,


" menjauhlah dari perempuan itu, "


" Huh?, hati-hati dengan apa yang kau katakan brengsek, apa kau tidak tahu situasi yang kau lihat sekarang?. "


Dua preman teman dari preman cokelat itu mengepung Naruto dari sisi kanan dan kiri namun Naruto tidak menunjukan sikap takut dan tetap berdiri disana...,


" diam..., "


" huh?..., apa yang baru saja kau katakan sialan!?, coba katakan itu sekali lagi!?. "


Preman bersurai cokelat itu mengenggam kerah baju Naruto dan berteriak tepat diwajah Naruto, namun Naruto tidak bereaksi, Kyubi yang melihat kejadian itu menatap khawatir Naruto, karena berdasarkan peraturan Academy mengenakan pakaian Academy maka segala bentuk kekerasan dilarang..., jika dilanggar maka hukumannya sudah jelas, yaitu dikeluarkan dari Academy..., Naruto terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan ia mengangkat wajahnya.


" aku tidak yakin jika bisa menjamin kalian setelah ini, tapi..., aku bilang, Menjauhlah dari gadis ini..., "


Naruto mengenggam balik keras preman bersurai cokelat itu, dan memaksa preman itu mendekati-nya, dan terlihatlah ekspresi marah seorang Namikaze Naruto yang bisa dibilang sangat menakutkan, plus aura haus darah yang pekat menyeruak dari tubuh Naruto, ketiga preman berjengit ngeri ketika mereka melihat sepasang mata berbeda warna antara Shappire dan golden berkilat menakutkan...,


" ..., itulah yang aku katakan tadi!. "


" hiii!, "


Naruto melepaskan cengkraman kerah preman itu yang langsung saja lari secepat kilat menjauh dari Naruto yang melihat datar hal itu, Naruto menghela nafas lelah.


" hey, Senju-san, apa kau baik-baik saja?. "


" ... "


Naruto yang tak mendapatkan jawaban mengerutkan dahinya dan menoleh kesamping, ketika ia menoleh ia sudah mendapati Kyubi yang bergerak kesamping-nya dan mengaet lengan Naruto dengan erat, Naruto cukup terkejut melihat tingkah Kyubi yang agak berani.


" he-hey, Se-Senju-san apa yang-, "


" Kyubi..., panggil namaku, Kyubi. "


Kyubi mengatakan itu dengan wajah memerah, Naruto membeku melihat ekspresi malu-malu Kyubi yang menurutnya manis, Naruto mengeleng pelan..., ini bukan saatnya untuk terpesona!, Naruto yang sedang menenangkan detak jantungnya akibat pesona malu Kyubi dan sensasi lembut yang menekan lengannya tiba-tiba ditarik oleh Kyubi.


" sen-, Ky-Kyubi-san..., ap-apa yang kau lakukan?. "


" bi-bisakah kau menemaniku hari ini?, Naruto-kun. "


Kyubi mengatakan itu dengan suara lembut nan halus, wajah malu dan memerah itu membuat Naruto terpesona hingga tanpa sadar Naruto mengangguk pelan..., dibalik [Library World], Ophis menghela nafas melihat Masternya yang dengan jantannya menaklukan gadis senju itu.


" Master, suatu saat kemampuan mu ini akan membuatmu kerepotan..., "


- Time Skip


" sial, aku tanpa sadar menemani Kyubi-san mengelilingi distrik herbal milik keluarga Senju..., "


' bukankah itu bagus?, setidaknya Master mendapatkan hadiah yang menakjubkan..., '


Naruto menghela nafas, memang benar setelah jalan-jalan menemani Kyubi, Naruto mendapatkan sebuah kotak hitam mewah dari Kyubi disaat mereka berpisah, Naruto yang penasaran dengan isi kotak itu membuka kotak itu, dan yang ia dapati didalam kotak adalah tanaman herbal yang luar biasa...,


[Ginseng Sembilan Musim]


Ginseng berusia seribu tahun itu dikatakan bisa menyembuhkan penyakit [keretakan inti meredian utama] dan [Kerusakan Inti Mana], tanaman super langka ini sangatlah mahal bahkan Ophis berkata bahwa tanaman ini jika dijual dipasar lelang maka Naruto bisa memiliki kekayaan setara bangsawan tingkat Viscount...,


" hah~, tapi tetap saja..., "


Naruto berjalan dan berhenti tepat didepan sebuah pimtu dengan tulisan nama miliknya disana, Naruto memutar knop dan masuk kedalam, Naruto meregangkan tubuhnya yang lelah, hari ini cukup melelahkan, Naruto berjalan kedalam dan sesampai didalam Naruto melihat sebuah kotak bingkisan diatas meja persegi..., Naruto mengerutkan dahinya melihat hal itu sebelum ia mengambil kotak itu dan menatapnya intens.


" untuk Namikaze Naruto..., dari ibu?. "


Naruto membuka kotak itu dan melihat isinya didalam itu Naruto melihat pakaian mewah berwarna putih dengan garis emas dibeberapa bagian membuat pakaian itu luar biasa bagus, Naruto mengerutkan dahinya melihat ketika diatas pakaian itu terdapar sebuah surat...,


Naruto mengambil surat itu dan melihat siapa pengirimnya, disana tertulis nama Namikaze Minato, dengan kata lain ini surat dari Ayah Naruto..., tunggu, Ayah!?.., Naruto membuka surat itu dengan cepat dan membaca isinya dengan teliti.


[ Putraku, Naruto..., bagaimana kabarmu, nak?. Apa kau senang disekolah itu?, ayah harap kau senang disana..., ayah menulis surat ini untuk mengabarimu bahwa kau telah ditunangkan dengan anak perempuan Sahabat ayah, oleh karena itu Ayah meminta ijin pada sekolah untuk membiarkanmu pulang kembali Ke Clan dan menemui Tunanganmu, besok utusan ayah akan datang dan menjemputmu, pastikan kau mengenakan pakaian yang sudah ayah kirim berserta surat ini..., kami menunggu kepulanganmu, Putraku..., dari ayahmu, Namikaze Minato..., ]


Naruto terdiam melihat isi surat itu, " aku..., ditunangkan?, jaman apa sekarang?, Era Tokugawa?..., " Naruto menghela nafas lelah dan melipat surat dari ayahnya itu lalu menatap kearah pakaian didalam kotak itu..., Naruto menghela nafas lagi.


" ditunangkan, ya?..., "


- time skip -


Keesokan harinya, Naruto berdiri didepan pintu gerbang keluar Academy, hari ini Naruto akan kembali kekampung halamannya, ia mendapatkan ijin selama beberapa hari, dan ia juga sudah menyiapkan beberapa keperluan termasuk dua katana miliknya yang mengantung manis dipinggangnya..., tak lama kemudian sebuah kereta kuda yang sedikit mewah berhenti didepan Naruto, pintu itu terbuka dan memperlihatkan seorang butler paruh baya yang menundukan kepalanya sedikit, Naruto menyerahkan barang bawaannya dan masuk kedalam kereta kuda...,


Naruto duduk dengan nyaman didalam, pandangan Naruto terarah keluar dan ia melihat bangunan Academy Horizimon..., sebuah senyuman terpatri diwajahnya.


" Namikaze Clan, aku akan segera pulang..., "


Setelah bergumam itu, kereta kuda itu berjalan dengan cepat meninggalkan ibukota [Viulium] dan menuju ke Namikaze Clan dibagian Utara Kerajaan Alvarez...,


Beberapa jampun telah berlalu dan Narutopun sampai didaerah Clan Namikaze, Butler yang menemani Naruto membuka pintu dan mempersilahkan Naruto keluar, Naruto turun dari kereta kuda dan meregangkan tubuhnya sebelum menatap kedepan dimana ia melihat sebuah bangunan yang agak megah berdiri didepannya, bangunan yang entah kenapa seperti Mansion yang agak mewah, Naruto mengabaikan hal itu dan melangkah masuk...,


Sesampai didalam Naruto disambut oleh halaman luas yang diasumsikan sebagai tempat berlatih larena ia melihat boneka Dummy disana..., Naruto terus melanjutkan lankahnya mengikuti Butler itu yang berhenti didepan pintu, Naruto menatap Butler itu yang membuka pintu dan menyuruh Naruto masuk kedalam...,


Didalam Naruto disambut oleh dua orang yang tengah duduk diruang keluarga, seorang wanita bersurai merah dengan wajah bulat dan Iris Violet miliknya yang indah menatap kearah Naruto dengan senyuman manis, disebelah wanita itu, terlihat seorang pria tampan yang sebelas dua belas mirip dengan-nya tengah tersenyum lembut, dipangkuan wanita bersurai merah itu terlihat anak perempuan berusia 2-3 tahun yang juga mirip dengannya yang menatap dirinya dengan pandangan polos...,


Naruto tersenyum melihat ketiga orang itu, tidak diragukan lagi mereka adalah ayah, ibu dan mungkin adik-nya...,


" aku pulang, Ayah, Ibu..., "


" selamat datang, Naruto-kun / Naru-chan. "


Naruto tersenyum dan berjalan lalu duduk didepan kedua orang tuanya, " bagaimana keadaan kalian, ayah, ibu?. " tanya Naruto, pasangan bernama Namikaze Minato dan Namikaze Kushina iti tersenyum.


" kami baik, Naruto. Bagaimana denganmu, apa sekolah itu menyenangkan?. "


Minato bertanya selagi teh didepannya dan meminumnya dengan bermartabat, Kushina disebelah Minato hanya tersenyum dan bermain dengan gadis kecil dipangkuannya..., Naruto tersenyum.


" aku baik, dan sekolahku juga tidak begitu buruk..., "


" kalau begitu bagus..., sekarang, tentang pertunanganmu, kau akan ditunangkan dengan anak perempuan sahabat sahabat lama ayah, kau sudah membaca surat yang ayah kirim bukan?. "


" ya, aku sudah membacanya..., tapi, ayah..., pertunanganku ini ditentukan atas dasar apa?, Politik atau bagaimana?. "


" ah, kau tidak tahu ya?, sebenarnya pertunangan ini terjadi karena ayah dan sahabat lama ayah mambuk berat karena kami bahagia atas kehamilan pertama istri kami, saat itu sahabat ayah mengatakan 'hey, Minato..., jika anakku laki-laki dan kau perempuan atau hic!, sebaliknya bagaimana jika kita jodohkan?' lalu ayah tanpa berpikir panjang menjawab 'baiklah, dengan begitu kita bisa menjadi keluarga, Hic!.', dan begitulah kalian bertunangan hahaha~. "


Minato tertawa setelah menjelaskan iti, dan mendapat cubitan kasih sayang dari Kushina, " mou, Anata, bukankah sudah ku bilang, jangan mengatakan hal sembrono ketika kau mambuk!. " ucap Kushina, Naruto hanya diam memperhatikan tingkah ayah dan ibunya dengan senyuman kecil diwajahnya, Naruto menuangkan teh kecangkirnya dan meminumnya dengan pelan...,


" begitu ya?, maa..., kapan dia datang?, tunanganku itu. "


Ucap Naruto mendapatkan tatapan dari Kushina dan Minato, " Naruto, kau menerima pertunangan ini?. " tanya Kushina, Naruto terdiam sebelum menghela nafas.


" aku akan melihat dulu seperti apa calon tunanganku, jika ia memenuhi kriteriaku, maka mungkin aku akan menerima-nya tapi maaf, jika ia tidak memenuhi kriteriaku maka aku akan menolaknya ayah..., "


Ucap Naruto datar, Minato terdiam sebelum ia menghela nafas dan tersenyum, " itu keputusanmu, Naruto. Apapun itu kami menghargai keputusanmu, " ucap Minato, Naruto tersenyum tipis.


" terimakasih, ayah..., "


Kushina tersenyum melihat anak dan ayah itu sebelum tatapannya terarah kebawah dimana anak perempuan yang mirip dengan Naruto bergerak turun dari pangkuannya, Kushina membantu anak perempuan itu turun, anak kecil itu berjalan dengan langkah sempoyongan mendekati Naruto..., Naruto yang melihat anak kecil itu kearahnya tersenyum dan dengan lembut Naruto mengendong anak kecil itu yang langsung tertawa bahagia digendong oleh Naruto.


Kushina dan Minato tersenyum melihat Naruto dan anak kecil itu, " sepertinya adikmu, Naruko menyukaimu, Naruto. " ucap Kushina, Naruto yang tengah mengangkat Naruko yang tertawa bahagia tinggi-tinggi Naruto mengulas senyuman lembut.


" heh~, Naruko-chan, kah?..., Hallo, Naruko-chan, aku adalah Nii-sama mu, Namaku Naruto..., "


Minato tertawa melihat Naruto yang mengajak berbicara adik kecilnya,


" hahaha, Naruko belum bisa berbicara jadi-, "


" Nii...,-cama?.., "


Naruto, Kushina dan Minato terdiam ketika mendengar Naruko mengeluarkan kata pertamanya, Naruto menurunkan Naruko dan menatapnya serius.


" Naruko-chan?, katakan sekali lagi?. Naruto Nii-sama?. "


" Na..., Naluto, Nii-cama?..., "


Naruto yang mendengarnya menoleh kearah ayah dan ibunya yang terpuruk disana, Naruto sweatdrop kecil ketika mendengar gumaman ayah dan ibunya.


" kata-kata pertama Naruko yang kami tunggu-tunggu adalah Naruto Nii-sama?, tuhan ini tidak adil. "


Naruto menghela nafas sebelum ia memangku Naruko yang nampaknya senang sekali dengan Naruto, Naruto menatap ayah dan ibunya selagi tangan-nya membelai rambut Naruko.


" jadi, ayah..., ibu?, jika boleh tahu?, siapa nama tunanganku itu?. "


Tanya Naruto, Kushina dan Minato tersadar dari keterpurukannya dan menatap Naruto..., Minato mengambil cangkir teh miliknya dan meminumnya sebelum menatap Naruto.


" Tunanganmu adalah anak pertama dari Hyuga Hiashi, pewaris selanjutnya Clan Utama Hyuga, dan namanya adalah Hyuga Hinata..., "


" Hyuga Hinata..., Huh!?, Hyuga!?. "

__ADS_1


__ADS_2