
Pagi yang indah kini telah datang, Matahari dengan sinar-nya yang lembut perlahan naik keatas singgasana-nya dan melakukan tugasnya membangunkan semua makhluk hidup untuk melakukan tugasnya. Hal itu juga berlaku pada seorang pemuda bersurai pirang yang nampaknya terganggu dengan cahaya matahari, pemuda bernama asli Namikaze Naruto perlahan membuka mata-nya dan terlihatlah iris shappire yang begitu indah.
Naruto menatap keatas dimana ia melihat atap kamarnya, Naruto mengalihkan pandangan keatas dadanya dan ia melihat wajah damai dari seorang perempuan bersurai hitam yang tertidur diatas dadanya, Naruto mengalihkan pandangannya kekanan dan ia melihat wajah damai seorang perempuan bersurai putih pendek dengan tubuh transparan tertidur dengan menjadikan lengannya sebagai bantal guling, Naruto mengalihkan pandangannya kearah kiri dan ia melihat wajah cantik seorang perempuan bersurai pirang yang tertidur dibahunya dengan menjadikan lengan-nya sebagai bantal peluk...
Cukup lama Naruto memandang wajah perempuan itu, hidung mungil mengemaskan, bibir dengan warna pink alami dan terlihat lembut yang bisa mengundang siapapun untuk merasakan bibir itu, sungguh wajah damai yang mempesona, pandangan Naruto terarah pada bibir yang entah kenapa terlihat dikerucutkan... Tunggu?, dikerucutkan?, Naruto memasang wajah datar.
"Jeanne, kau sudah bangun bukan?."
Naruto bertanya dengan nada datar, dan bibir yang dikerucutkan itu perlahan menghilang dan digantikan oleh senyuman tipis, sebelum kelopak mata itu terangkat dan memperlihatkan Dark Blue yang menatap Naruto dengan lembut.
"Ohayou, Master."
"Ohayou, Jeanne."
Jeanne tersenyum sebelum ia bangkit dan berjalan menuju meja persegi dan duduk disana, Naruto yang melihat Jeanne sudah beranjak dari ranjang dengan pelan memindahkan Ophis dari dadanya dan menaruh perempuan bertubuh mungil itu diatas ranjang... Naruto tersenyum melihat Ophis yang mengeliat seakan ia merasa terganggu namun ia menjadi tenang ketika Naruto dengan lembut mengelus surai hitam miliknya.
Naruto merengangkan tubuhnya sejenak sebelum ia berjalan kekamar mandi untuk melakukan kegiatan biasa dipagi hari, ketika didalam melepaskan pakaiannya dan terlihatlah tubuh berkulit tan yang Eksotis, Naruto duduk diatas bangku kayu disana dan langsung menyiram air ketubuhnya dan mulai mengosok tubuhnya dengan sabun...
Ketika sedang asik membersihkan tubuhnya tiba-tiba Naruto menegang ketika ia merasakan tangan halus menyentuh punggung-nya, Naruto langsung menoleh kebelakang dan iris matanya melebar ketika ia melihat Jeanne dengan tubuh tak tertutup sehelai benang sedikitpun berada dibelakangnya dengan senyuman manis diwajahnya. Naruto menatap datar hal itu.
"Jeanne... Apa yang kau lakukan disini?."
"Ufufu~, seperti yang master lihat, aku tengah mengosok punggung anda... Ada apa, Master?. Apa anda tidak suka?."
Naruto terdiam, mana mungkin ia tidak menyukai hal ini!, merasakan punggung digosok oleh seorang perempuan cantik adalah impian dari kaum pria!, sekali lagi!, Naruto mengucapkan rasa terimakasihnya pada kami-sama yang sudah memberinya kesempatan hidup untuk merasakan impian para kaum pria ini... Naruto menghela nafas.
"Lakukan sesukamu, Jeanne. Aku tidak akan melarangmu... Uwooo!, Ayah!, Ibu!, terimakasih telah melahirkanku kedunia ini... Kami-sama, Arigatou!, aku sangat berterimakasih padamu!."
Naruto memasang wajah datar dan membiarkan Jeanne membersihkan punggungnya, Naruto memejamkan matanya ketika Jeanne dengan lembut membilas punggungnya dengan air...
"Terimakasih, Jeanne. Aku merasa segar."
"Ufufu~, senang Master menyukai-nya... Ne, Master."
"Uhm?."
"Apa lain kali aku boleh membersihkan punggung Master lagi?."
Naruto terdiam mendengar hal itu, hatinya saat ini berteriak 'tentu saja boleh!?, aku malah mengharapkannya!?.' namun nampaknya Jeanne tidak tahu hal itu sebab Naruto melakukan Poker Face hingga hanya Ekspresi datarlah yang terlihat disana. Naruto mengambil handuk yang mengantung disampingnya dan mengenakannya lalu bangkit meninggalkan Jeanne yang menatap dirinya, sebelum keluar Naruto dengan ekspresi datar menoleh kearah Jeanne dan berkata.
"Aku tidak keberatan, lagipula rasanya nyaman."
Naruto pergi dengan keadaan yang ia yakini telah keren dan rasa senang yang luar biasa dihatinya, Naruto berjalan kearah lemari dan memakai Seragam Academy... Naruto mengangguk puas dan berjalan menuju Dapur, hari ini ia akan memasak sarapan yang baru... Setelah selesai sarapan, Naruto langsung mengambil tasnya dan berpamitan pada ketiga gadis yang kini nampaknya tengah berbincang-bincang dengan akrab, Naruto tersenyum melihat hal itu...
"Ophis, Maria, Jeanne... Aku pergi dulu."
"Hati-Hati, Master."
Naruto tersenyum dan menutup pintu, pandangan Naruto kini terarah pada langit cerah yang berhiasakan awan yang dengan malasnya bergerak ketimur.
"Yosh, saatnya pergi."
Sehari telah berlalu semenjak kejadian dimana Naruto membungkam seluruh orang diacademy Hirozimon, kini Naruto telah berdiri sejajar dengan orang yang mereka sebut-sebut sebagai seseorang yang jenius... Tatapan jijik, benci dan muak kini telah berubah menjadi tatapan kagum, namun bukannya senang Naruto justru merasa jijik, sebab dulu sebelum ia berhasil menjadi tingkat [Silver] dan masih menjadi Naruto si [Worst One] orang-orang yang dulu menganggapnya pecundang, sicacat dan hinaan lain-nya adalah orang yang sama yang saat ini menganggumi-nya.
"Psst, bukankah itu Namikaze-kun, lihat dia terlihat gagah ya."
"Benar, kenapa kita baru menyadari-nya ya..."
"Uhm... Apa menurutmu dia sudah memiliki kekasih?."
"Heh... Aku harap tidak, sebab aku... Kyaaa!."
Naruto yang mendengar sanjungan dan pujian itu berdecih jijik, ingin sekali dia mengatakan didepan orang-orang itu 'dasar penjilat bajingan!'. Bukankah mereka menganggumi setelah dirinya telah menjadi knight tingkat [Silver]?. Cih!, dasar penjilat, mereka menjilat lagi ludah yang telah mereka ludahkan... Naruto jijik akan hal itu. Naruto mempercepat langkah-nya ia tidak ingin memuntahkan sarapan-nya karena pujian dari seorang penjilat!.
Setelah berjalan beberapa saat Naruto berhenti tepat didepan pintu ruang kepala sekolah, Naruto mengetuk pintu itu sebelum ia membukanya ketika sebuah suara yang menyuruh-nya masuk terdengar dari dalam. Didalam Naruto dihadapkan oleh tiga pasang mata yang menatapnya dengan serius.
"Maaf menganggu kalian, kepala sekolah, wakil kepala sekolah..."
"Sudah cukup basa-basinya, Namikaze. Kami sudah menyiapkan hadiahmu."
"Hooh~, kalau begitu bagus, aku jadi tidak perlu berlama-lama disini..."
Naruto berkata datar selagi ia menatap dingin Tsunade yang menatap dirinya dengan pandangan tajam, Jiraiya yang ada disebelah Tsunade hanya bisa bersedekap dan menghela nafas, sementara Orochimaru hanya memperhatikan dalam diam perang tatapan antara Tsunade dan Naruto.
"Tsunade... Sebaiknya cepat selesaikan ini, aku sudah harus kembali ke Labku, aku masih harus melanjutkan penelitianku."
Mendengar teguran Orochimaru membuat Tsunade tersadar dan berdecih pelan, sebelum ia membuka laci meja dan mengeluarkan kotak berwarna hitam dengan aksen mewah yang menusuk mata.
"Didalam ada tanaman herbal yang sangat langka dan mahal... Apa kau tahu, tanaman [Akar Cakar Naga]?."
Tanya Tsunade seraya tersenyum remeh seolah mengatakan 'kau pasti tidak tahu'. Naruto menatap datar Tsunade yang nampaknya berusaha membuatnya terlihat memalukan didepan dua wakil kepala sekolah, Tsunade pikir dirinya terus berlatih hingga lupa belajar, tapi sayangnya tidak begitu... Naruto menyeringai tipis tanpa disadari siapapun.
"Ya, aku mengetahui, tanaman herbal yang biasa digunakan untuk memperbaiki rusaknya titik jalur [Mana] dan tanaman ini jika diolah dengan [Ginseng Sembilan Musim] maka bisa digunakan untuk mengobati orang yang terkena luka pada bagian [Inti Mana] miliknya, ya~, tanaman ini setidaknya dihargai sekitar 13 permata air Mana... Benar-benar tanaman yang mahal~."
Naruto menatap Tsunade dengan tatapan remeh seolah berkata 'hey, kau lihat kepintaranku?.' Tsunade mengepalkan tangannya kesal, ia yang berniat mempermalukan kini malah merasa jika dirinya yang sedang dipermalukan. Tsunade memberikan kotak itu pada Naruto yang menerimanya dengan seringai remeh diwajahnya.
Jiraiya yang melihat keduanya seperti itu entah kenapa kepalanya terasa sakit, Jiraiya menghela nafas sebelum ia menatap kearah Naruto yang menatap dingin kearahnya... Ugh, pandangan itu benar-benar mirip orang itu... Jiraiya menghela nafas sejenak sebelum ia bangkit dan mengambil sesuatu dari balik jubah bangsawan putih miliknya dan menyerahkan-nya pada Naruto.
Naruto menatap kearah tangannya dan ia melihat sebuah parkamen sederhana ditangannya, Naruto menatap bingung Jiraiya yang hanya tersenyum pada dirinya sebelum ia menepuk pundak Naruto dan membisikan sesuatu yang membuat Naruto membulatkan matanya, Jiraiya menjauhkan wajahnya dan duduk kembali ditempatnya tanpa menyadari tatapan tajam dari Naruto.
Naruto mengalihkan pandangannya pada Orochimaru yang berjalan kearahnya dengan tangan merogoh saku bajunya, Naruto menatap bingung Orochimaru.
"Dan... Ini hadiah dariku, gunakan dengan baik."
Naruto menatap kearah pemberian Orochimaru yang berbentuk botol Elixir dengan cairan merah muda didalam-nya, Naruto membuka tutup botol dan ia mencium bau manis dari dalam... Naruto mengerutkan dahinya, sirup?... Rasa Stroberi?. Naruto mengangkat bahunya tak peduli dan meminta ijin untuk meninggalkan tempat itu.
"Huh, dasar nenek tua menyebalkan."
Naruro bergumam pelan selagi kakinya berjalan meninggalkan ruangan kepala sekolah untuk menuju kekelas sebab sebentar lagi pelajaran akan dimulai... Setelah berjalan beberapa saat akhirnya Naruto sampai didepan kelas, Naruto masuk kedalam kelas dengan wajah datar, tanpa Naruto sadari seisi kelas terdiam dan menatap kearahnya dengan pandangan kagum.
"Yo, Namikaze-san."
Naruto menghentikan langkahnya ketika mendengar nama marganya dipanggil, Naruto menoleh kebelakang dan ia melihat seorang pemuda bersurai pirang pucat dengan kacamata tipis yang membingkai wajahnya menambah aura kecerdasan dan kebijaksanaan dari pemuda itu.
"Pendragon-san?."
Naruto berkerut dengan bingung melihat pemuda Pendragon itu menyapanya, pemuda bernama Asli Arthur Pendragon itu menatap kearah Naruto dengan senyuman tipis sebelum ia mengulurkan tangannya kearah Naruto yang menatap bingung hal itu.
"Selamat atas perkembanganmu yang menakjubkan, Namikaze-san."
Arthur berkata dengan nada bersahabat membuat Naruto terdiam selama beberapa saat sebelum ia tersenyum dan menjabat tangan Arthur.
"Ya, terimakasih, kau juga selamat atas tingkat yang kau capai, saat ini kau berada ditingkat [Silver: VII] bukan?, yaa... Perkembangan yang luar biasa."
"Jika dilihat dari sudut perkembangan [Mana] maka kau jauh lebih luar biasa, Namikaze-san."
Naruto tersenyum dan melepaskan jabatan mereka, "begitukah?, ya... Aku cukup tersanjung atas pujianmu, Pendragon-san." ucap Naruto merendah, Arthur tersenyum tipis sebelum ia menepuk pundak Naruto.
"Knight yang hebat adalah mereka yang memiliki kerendahan hati, dan Namikaze-san, lain kali apa kau mau melakukan sparring lagi denganku?."
Naruto terdiam mendengar ajakan Arthur dimatanya saat ini terlihat jelas sebuah semangat maniak petarung yang tidak bisa diam melihat lawan kuat yang ada didepannya, Naruto menyeringai tipis.
"Heh~, tentu saja, aku menantikan-nya, Pendragon-san."
"Hm... Namikaze-san, bisakah kau memanggil namaku, rasa-nya aneh jika kau memanggil margaku, rasanya kau seperti berbicara dengan Nee-samaku."
Arthur berkata selagi ia mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal, Naruto mengerjapkan matanya beberapa kali, sepertinya ia pernah mengalami hal ini... De javu?, mungkin.
"Baiklah, kalau begitu kau juga harus memanggil nama depanku, bagaimana setuju?."
"Setuju!."
Naruto mengulas senyuman tipis, sebelum pandangan-nya terarah pada Ibiki-sensei yang berjalan masuk kedalam kelas, "baiklah, sampai jumpa nanti, Arthur." ucap Naruto sebelum ia berbalik dan berjalan kearah bangku-nya. Arthur tersenyum tipis.
"Ya, sampai nanti, Naruto."
Naruto berjalan menuju bangkunya dan duduk disana dan menatap datar kearah Ibiki-sensei yang berdiri dibelakang meja guru...
"Baiklah, kita lanjutkan pelajaran kemarin, tapi sebelum itu... Namikaze Naruto, dan Cao Cao, aku secara khusus menyampaikan ucapan selamat dan terimakasih, sebab karena kalian berdua, Divisi Knight kini memiliki muka untuk menatap para Wizard itu... Terimakasih atas kerja keras kalian."
Naruto dan Cao Cao yang duduk dipojok kanan dan kiri paling belakang dikelas terdiam sebelum keduanya melirik satu sama lain dan mengangguk pelan lalu bangkit dari tempat duduk mereka.
"Terimakasih atas ucapan selamat-nya, Ibiki-sensei. Ini semua juga tak lepas karena Sensei yang mengajari kami dasar-dasar dari seorang Knight sejati."
"Benar apa yang dikatakan, Naruto-san. Tanpa anda yang melatih kami dasar-dasar menjadi Knight maka kami tidak akan bisa menjadi seperti sekarang. Karena itu ijinkan kami mengucapkan rasa terimakasih kami pada sensei."
Kedua pemuda itu perlahan meletakan tangannya diatas dada kanan mereka dan menundukan kepala mereka sebagai tanda rasa hormat mereka pada Ibiki yang hanya terdiam melihat tingkah kedua pemuda yang ia ajar itu.
"Ibiki-sensei... Terimakasih."
... Dan pelajaran itu dimulai dengan Ibiki-sensei yang meneteskan air mata dengan haru dan suara tepuk tangan dari para murid dikelas, Naruto dan Cao Cao melirik satu sama lain sebelum keduanya mengeluarkan cengiran lebar.
.
.
.
"Nee, Cao Cao..."
"Uhm?... Ada apa, Naruto-san."
Cao Cao bertanya dengan nada bingung pada Naruto yang tengah menatap kesekeliling dengan tatapan menyelidik sebelum Nsruto mengalihkan pandangannya dan menatapnya.
"Hanya perasaanku saja atau sekarang Academy ini terlihat seperti akan mengadakan sebuah Festival?."
Cao Cao mengerutkan dahinya sebelum ia menatap kesekeliling dan ia melihat banyak sekali Staf Academy yang berlarian kesana kemari, memang benar jika saat ini sepertinya Academy ini akan mengadakan sebuah Festival.
"Entahlah, Naruto-san... Aku tidak tahu tapi mungkin saja akan ada sebuah Festival yang diadakan nanti."
Naruto menaikan satu alisnya sebelum ia mengangkat bahunya tak peduli, mereka berdua terus melanjutkan perjalanan mereka menuju keruang Club yang terpisah dari gedung utama. Setelah berjalan selama beberapa saat akhirnya Naruto dan Cao Cao sampai diruang Club sesampai didalam Naruto dan Cao Cao dibuat Sweatdrop melihat tumpukan kertas yang menumpuk... Tidak, tidak, mereka bukan sweatdrop karena itu tapi karena mereka melihat Ikuse Tobio, Taichou diclub mereka tengah terkubur didalam tumpukan kertas itu, sementara Fuku-Taichou, Asama Miya-san terlihat tengah tergeletak dilantai dengan tangan memegang beberapa lembar kertas.
Naruto dan Cao Cao tak tahu harus bersikap seperti apa melihat hal itu, keduanya mengalihkan pandangan mereka ketika dari balik tumpukan kertas seekor anjing kecil berwarna hitam keluar dan berlari kearah mereka dengan mulut membawa selembar kertas. Anjing kecil bernama Jin itu duduk didepan Naruto selagi ekornya bergoyang-goyang kekanan kekiri.
Naruto yang melihat tingkah Jin tersenyum kecil dan merendahkan tubuhnya untuk mengambil kertas yang ada dimulut Jin.
"Yosh, anak pintar, Arigatou Jin."
Naruto mengelus kepala Jin dengan lembut, sebelum Jin mengongong pelan dan berlari menuju dapur, Naruto menatap lembut kearah Jin berbeda dengan Cao Cao yang terlihat menjaga jarak dari Jin, bukan hal yang baru jika Cao Cao takut dengan Jin, uhm... Bisa dibilang Cao Cao mengalami Trauma pada pandangan pertama pada Jin, saat pertama kali Cao Cao bertemu dengan Jin entah kenapa terlihat memusuhi Cao Cao dan bahkan tak jarang Jin akan menyalak galak dan tanpa segan mengigit Cao Cao.
"Sampai sekarang aku tidak bisa mengerti kenapa Anjing itu begitu membenciku."
Naruto tertawa tipis mendengar gumaman pelan Cao Cao sebelum ia bangkit dan membersihkan air liur Jin yang membasahi kertas itu.
"Maa, sudahlah jangan diambil hati, mungkin kau ditakdirkan untuk dibenci oleh Jin..."
"Ya, mungkin kau benar, dan apa itu?."
Cao Cao menatap bingung kertas yang ada ditangan Naruto, Naruto tersenyum dan melihat kearah kertas ditangannya lalu membaca tulisan dikertas itu dengan intens, sebelum ia mengangguk paham.
"Ini formulir pendaftaran untuk masuk keclub ini."
"Owh... Formulir pendaftaran club ya..."
Kedua pemuda tampan itu mengangguk-angguk pelan sebelum keduanya terdiam ketika menyadari sesuatu, dengan cepat keduanya mengalihkan pandangannya kearah kertas ditangannya Naruto.
Iris Naruto dan Cao Cao bergetar menatap kertas ditangannya sebelum pandangan mereka terarah pada Kertas yang menimbun Tobio dan Miya dengan tatapan Horor.
"Jangan bilang jika semua kertas ini adalah..."
"... Formulir pendaftaran masuk Club."
Naruto dan Cao Cao bergumam dengan nada horor sebelum keduanya memasang wajah seolah-olah mereka baru saja melihat perwujudan monster sesungguhnya... Sebelum keduanya bergumam kompak.
"Yang benar saja..."
.
.
.
"Kawan... Kau tampak berantakan."
Naruto berucap pada Tobio yang kini terlihat 'hampir' mati dengan seluruh tubuh memutih seperti tepung, Tobio menatap Naruto dengan pandangan lelah sebelum dia berdecih.
"Apa itu balas dendam?."
"Heh~, entahlah, menurutmu."
Naruto membalas Tobio dengan seringai meremehkan, Tobio terdiam dan menatap malas Naruto sebelum berdecih.
"Dasar pirang sialan."
Naruto menyeringai tipis sebelum pandangannya menoleh kearah Miya yang bernasib sama seperti Tobio nampaknya keduanya telah benar-benar dikalahkan oleh tumpukan kertas pendaftaran itu... Naruto hanya bisa mengelengkan kepala melihat kedua teman-nya itu.
"Maaf menunggu..."
__ADS_1
Naruto mengalihkan pandangan-nya kearah Cao Cao yang terlihat membawa sesuatu diatas nampan, ia meletakan nampan yang berisikan teko dan beberapa cangkir, Cao Cao menuangkan isi teko kedalam cangkir lalu memberikannya pada Tobio dan Miya.
"Maaf, Cao Cao-san, seharusnya aku yang membuat minuman untuk kalian tapi, aku tidak memiliki cukup kekuatan untuk melakukannya."
Cao Cao tersenyum tipis mendengar perkataan Miya, "tidak masalah lagipula aku senang jika bisa membantu Club ini. Sudah silahkan diminum" ucap Cao Cao, Miya tersenyum sebelum ia meminta ijin untuk minum... Naruto tersenyum melihat hal itu, ia menyenderkan tubuhnya kedinding dan memejamkan matanya. Inilah yang ia butuhkan, kehidupan yang tenang dengan teman-teman yang ceria disampingnya...
"Hey, Naruto."
"Uhm?."
Naruto bergumam untuk menjawab panggilan Tobio, "Naruto, apa kau sudah menyiapkan kue untuk Festival Merlin?." tanya Tobio, Naruto terdiam sejenak sebelum ia membuka satu matanya dan menatap kearah Tobio dengan bingung.
"Kenapa aku harus menyiapkan kue untuk Festival sekolah?."
"Eh?..."
Mendengar perkataan Naruto membuat seisi ruangan bergumam kompak dan menatap Naruto dengan tatapan tak percaya, Tobio tersadar dengan cepat sebelum ia menatap Naruto dengan tangan memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Tunggu... Naruto, apa kau tidak tahu tentang Tradisi [Give Cookie] difestival Merlin?."
" Give... Apa?."
"[Give Cookie]... Naruto-san, itu adalah Tradisi paling ditunggu oleh seluruh murid perempuan diseluruh Academy, sebab dihari itu adalah hari dimana cinta dan kasih sayang bermekaran..."
"Haah... Lalu?, apa hubungan-nya denganku?, Fuku Taichou."
"Jelas ada, Naruto-san!, sebagai seorang pemuda kita harus memberikan Kue pada perempuan yang kita anggap sebagai orang spesial untuk kita..."
"Karena itu... Apa hubungan-nya denganku?..."
"Percuma saja... Nih orang otaknya geser... Dijelaskan beberapa kalipun dia tidak akan pernah mengerti..."
Tobio berkata dengan nada blank membuat Nsruto tambah bingung, sebenarnya apa yang mereka bertiga bicarakan dirinya tidak paham, memang apa hubungan membuat Kue untuk orang spesial disaat festival... Miya menghela nafas panjang sebelum ia bangkit dan duduk didepan Naruto.
"Dengar, Naruto-san. Besok kau harus membuat kue untuk perempuan yang spesial untukmu terserah padamu kau ingin menberikannya pada siapa dan dalam jumlah berapa tapi, apapun yang terjadi tolong buatlah kue dan berikan pada satu perempuan, mengerti?."
"Haah..."
Naruto bergumam dengan kepala mengangguk pelan, ia mungkin tidak terlalu paham tapi intinya buat kue dan berikan pada orang lain bukan?. Miya yang melihat Naruto mengangguk tersenyum puas.
"Baguslah, usahakan buat kue yang enak dan berikan kue itu dengan benar, paham?."
Naruto mengangguk pelan, sepertinya malam ini ia akan benar-benar sibuk...
-Change Scene-
Setelah menyelesaikan kegiatan Club Naruto langsung berjalan pulang dan mencoba membuat kue untuk Festival besok, Naruto sebenarnya tidak mau repot-repot membuat kue tapi entah kenapa firasatnya mengatakan jika dirinya harus membuat kue untuk besok... Dahi Naruto berkerut ketika ia kembali mendapatkan firasat jika besok akan terjadi sesuatu yang menyenangkan atau mengerikan...?, Naruto mengangkat bahu tak peduli dan membawa barang belanjaan miliknya keasrama laki-laki.
"Yosh... Kita lihat apa yang bisa kita buat."
Naruto berguman pelan selagi ia melihat beberapa bahan untuk membuat kue didepannya, Naruto memasang gesture berpikir membuat Ophis, Maria dan Jeanne yang menatap Naruto dari kejauhan dibuat bingung oleh ekspresi serius Naruto.
"Uhm... Kita buat itu saja, tapi... Apakah dengan Oven didunia ini bisa membuat rasanya sama seperti menggunakan Oven diduniaku dulu... Uhm..."
Naruto melirik kearah Oven yang yang terbuat dari susunan batu menggunung tak jauh darinya, Oven ini dioperasikan menggunakan Crystal elemen api, yang akan aktif jika diberikan sedikit [Mana] pada sebuah batang silinder diluar Oven yang akan menjadi alat transisi untuk [Mana] menuju Crystal Elemen. Cukup lama Naruto berpikir sebelum ia menghela nafas.
"Kita coba buat sajalah..."
Naruto mencampurkan semua bahan dan mengaduknya setelah beberapa saat akhirnya adonan kue telah jadi, Naruto menatap kearah Adonan berwarna putih didepannya... Uhm. Warna-nya tidak menarik, haruskah ia menambahkan perwarna alami seperti Daun pandan?, atau sesuatu untuk membuat warna kue buatan-nya terlihat lebih menarik... Seandainya ia memiliki sirup maka ia bisa membuat warna dan rasa kue-nya nanti lebih enak...
"Tunggu... Sirup?... Sepertinya aku memiliki-nya dari Orochimaru-sensei, kita gunakan itu saja."
Naruto membuka [Gate] dan mengambil sebotol cairan berwarna merah muda, Naruto menuangkan isi didalam botol yang ia yakini sebagai sirup itu kedalam adonan dan mengaduk adonan hingga merata... Naruto tersenyum puas melihat adonan miliknya yang sudah terlihat lebih menarik.
"Yosh!, saatnya mulai membuat Kue..."
Setelah beberapa saat kemudian, akhirnya Naruto berhasil menyelesaikan kue buatannya yang saat ini ada didepannya, Naruto mengaruk kepalanya melihat kue buatannya.
"Sial, aku membuatnya terlalu banyak... Sekarang apa yang harus aku lakukan pada 5 bungkus kue ini?... Uhm, aaaah!, kita pikirkan itu nanti yang jelas simpan saja kue-kue ini."
Naruto membuka [Gate] dan memasukan kelima bungkus kue iru kedalam [Gate], Naruto menghela nafas lelah, ia sepertinya harus istirahat untuk memulihkan tenaga-nya untuk besok menghadapi Festival.
- Change Scene -
Festival Merlin... Sebuah Festival yang selalu diadakan setelah Event [Check Up Mana], sebuah Festival untuk merayakan kesenangan dan kegembiraan bersama-sama, Festival ini diusulkan oleh Uchiha Madara, wakil kepala sekolah pertama yang menginginkan sebuah Festival untuk melepaskan kejenuhan setelah latihan berat untuk event ujian mereka, Senju Hashirama yang saat itu menjabat sebagai kepala sekolah langsung menyetujui proposal Madara, tanpa diketahui siapapun mulai beredar kabar jika Madara-sama, orang yang mengusulkan Festival Merlin ini memiliki niat tersembunyi dan begitu juga dengan Hashirama-sama yang juga menyembunyikan niat miliknya...
Kedua orang yang dikenal sebagai pelopor Festival Merlin itu memiliki niat yaitu [Rencana melepaskan masa lajang], dengan kata lain mencari kekasih...
Suasana festival yang meriah dan kebahagian yang tersebar dimana-mana merupakan tempat yang paling tepat untuk menyatakan perasaan pada orang yang kita cintai... Dan diluar dugaan Madara-sama dan Hashirama-sama berhasil mendapatkan kekasih disaat Festival, dan pada akhirnya kedua pria paling jenius itu menikah dengan kekasih mereka dan hidup dengan tenang sampai kematian menjemput mereka... Dan konon tradisi [Give Cookie] adalah tradisi yang dilakukan kedua legenda itu untuk mencari kekasih... Menyatakan perasaanmu dalam bentuk kue dikatakan akan membuat pasangan yang tercipta dalam Festival Merlin hidup bahagia selamanya...
Dengan kata lain, Festival Merlin dan [Give Cookie] tak lain dan tak bukan adalah Tradisi yang mirip dengan Valentine Day!. Naruto mengikuti Tradisi itu tanpa tahu apapun!...
"Uhm?, kue-kue ini aku berikan pada siapa, tidak mungkin aku memberikan kue-kue ini pada satu orang kan?..."
Naruto berjalan dikeramaian Halaman Academy yang kini tengah berdiri stand-stand yang unik, makanan, pakaian, dan lain-lain dijual disana, Naruto menatap kesekeliling selagi ia membawa bungkusan kue ditangannya, ketika sedang merenung akan diberikan pada siapa kue-kue ini tiba-tiba pandangannya terkunci pada seorang perempuan cantik bersurai pirang pucat diikat rapi dengan iris emerlad yang menatap tegas siapapun yang menatap-nya. Naruto tersenyum senang melihat perempuan itu dengan cepat Naruto mendekati perempuan itu.
"Arthuria!..."
Arthuria Pendragon pewaris selanjutnya dari Clan Knight, Pendragon. Mengalihkan pandangannya kesamping ketika suara seseorang yang ia kenal memanggil namanya, digaris pandangannya saat ini ia melihat Naruto tengah berjalan kearahnya dengan langkah gagah, melihat hal itu membuat rona merah hinggap dikedua pipi Arthuria.
"Na-Naruto?, apa kau butuh sesuatu dariku?."
"Ah, kebetulan kita bertemu disini!, mungkin ini adalah takdir yang telah mempertemukan kita hari ini!..."
"E-Eh?, ta-takdir?, ap-apa maksudmu."
Sial!, kenapa Arthuria bisa menjadi gagap begini!, kenapa setiap dihadapan Naruto Arthuria selalu lemah dan kehilangan ketegasan-nya... Naruto tersenyum lebar dan mengangguk.
"Ya, hari ini mungkin ditakdirkan jika kau akan menerima hadiah dariku, ini terimalah."
Naruto memberikan pada Arthuria sebungkus kue dengan warna cantik didalamnya, Arthuria yang menerima Kue itu melebarkan mata-nya... Mungkinkah... Mungkinkah Naruto... Pada dirinya?.
"W-Wah... Arthuria!, kenapa kau menangis?, apa kau membanci makanan yang manis seperti Kue Macaroon?."
Naruto berucap dengan panik ketika melihat Arthuria meneteskan air mata selagi tangan kirinya menutup mulutnya, Arthuria mengeleng pelan selagi ia menghapus air matanya.
"Bukan itu, Baka-Naru. Aku hanya senang... Sangat senang kau mau memberikan ini padaku, terimakasih..."
Naruto merona tipis ketika melihat senyuman indah seorang Arthuria Pendragon yang terkenal tegas itu, Naruto tersadar sebelum ia mengeluarkan cengiran miliknya.
"Syukurlah kau menerima-nya aku kira kau akan menolaknya..."
"Baka, mana mungkin aku menolakmu."
Naruto menaikan satu alisnya bingung entah kenapa ia merasa jika Arthuria salah mengartikan sesuatu, dan Naruto tidak tahu apa itu, Naruto mengangkat bahu tak peduli sebelum ia berniat pergi ketempat lain.
Arthuria memerah mendengar perkataan Naruto yang saat ini telah meninggalkannya, Arthuria menatap kepergian Naruto dengan senyuman dan rona manis diwajahnya...
"Baka, aku pasti akan menghabiskan-nya terlebih kau sudah membuatnya dengan sepenuh hati..."
Arthuria membuka bungkus kue itu dan mengambil satu kue sebelum memasukan-nya kedalam mulut-nya... *krauk*. Arthuria melebarkan matanya saat merasakan Kue Macaroon itu.
-Naruto Side-
Naruto kembali dilema, ia masih memiliki empat kue, harus ia berikan pada siapa keempat kue sisa-nya?, Naruto yang tengah termenung tanpa sengaja menabrak seorang perempuan hingga membuat perempuan itu terjatuh.
"Aduh sakit..."
Mendengar suara yang fenimin Naruto tersadar dari dunianya dan menatap kebawah dimana ia melihat seorang perempuan cantik bersurai merah maroon dengan iris ruby yang sedikit terpejam menahan sakit... Perempuan ini...
"Kyubi-san?."
Senju Kyubi, anak pertama dari Clan Senju mendongakan kepalanya dan seketika iris ruby miliknya melebar karena terkejut melihat pemuda didepannya.
"Na-Naruto-kun?."
"Maafkan aku, Kyubi. Aku tidak melihatmu karena melamun tadi."
Naruto menjulurkan tangannya berusaha bersikap Gentle, Kyubi terdiam sebelum dengan wajah memerah Kyubi mengambil uluran tangan itu dan berdiri.
"Ti-Tidak seharusnya aku yang minta maaf aku juga tidak melihatmu karena aku melamun."
Naruto tersenyum melihat sikap Kyubi yang menurutnya unik ini, ia entah kenapa setiap kali Naruto bertemu dengan Kyubi selalu saja perempuan itu terlihat malu-malu dan kehilangan ketenangannya... Ah benar juga!.
"Kyubi-san sebagai permintaan maafku karena sudah menabrakmu, maka ambil lah ini!, mungkin ini bukanlah kue yang mahal tapi aku cukup yakin dengan rasa-nya!, karena itu tolong terimalah!."
Naruto menyerahkan sebungkus kue Macaroon pada Kyubi yang menerimanya dengan wajah terkejut...
"Na-Naruto-kun?, i-ini untukku?."
"Ya!, terimalah kue yang ku buat dengan sepenuh hatiku ini!."
Tidak mendapatkan respon dari Kyubi, Naruto mengangkat wajahnya dan seketika Naruto terkejut melihat lelehan air mata dari Ruby Kyubi...
"Ky-Kyubi-san!, ke-kenapa kau menangis?, ap-apa kau tidak menyukai kue buatanku?."
Tanya Naruto dan dibalas gelengan dari Kyubi, Kyubi membersihkan air matanya yang terus mengalir membasahi pipi-nya, Kyubi mengambil kue pemberian Naruto dengan erat didepan dadanya.
"Aku menerima-nya, Naruto-kun. Aku menerimanya dengan senang hati."
Naruto merona ketika melihat senyuman menawan yang dikeluarkan Kyubi, sebelum ia tersadar dari dunianya dan mengaruk belakang kepalanya.
"Be-Begitukah?, aku senang kau mau menerima-nya... Kalau begitu, sampai jumpa Kyubi, nanti kita bertemu lagi, Jaa ne!."
"Uhum, hati-hati Naruto-kun."
Kyubi melambaikan tangannya selagi ia melihat Naruto yang semakin menjauh, Kyubi menatap kearah tangannya dimana ia melihat kue dengan warna dan bentuk yang cantik disana, Kyubi membuka bungkus kue itu dan memasukan kue itu kedalam mulutnya... Dan seketika iris Ruby miliknya melebar ketika merasakan kue Macaroon itu.
.
.
.
"Baiklah, dua telah aku berikan, tersisa tiga lagi... Uhm?, siapa lagi yang mau menerima kue Macaroon ini?."
Naruto bergumam selagi ia menjelajahi lorong kelas, tanpa sadar Naruto kini telah memasuki bangunan divisi Wizard, Naruto yang tengah merenung tiba-tiba terhenti ketika ia melihat didalam kelas yang sepi seorang perempuan cantik bersurai perak indah tengah berdiri menghadap jendela dengan wajah datar, iris seindah Mutiara itu tengah menatap keluar jendela dengan pandangan datar, mata seindah mutiara itu terlihat bengkak entah karena apa.
"Otsutsuki-senpai?."
Otsutsuki Kaguya, pewaris selanjutnya dari Clan Otsutsuki menoleh kebelakang ketika namanya disebut, dan disana ia melihat seorang pemuda bersurai pirang dengan iris shappire tengah menatap dirinya dengan pandangan bingung.
"Senpai?, apa yang kau lakukan dikelas sendirian?."
"Namikaze?, uhm... Aku tidak melakukan apapun hanya melihat keramaian Festival Merlin saja."
"Begitu?."
Naruto bergumam pelan dan duduk bersandar disalah satu meja dan menatap kearah Kaguya yang tengah menatap keluar, Naruto menatap Kaguya dengan pandangan intens dan ia menemukan sembab sehabis menangis dari mata Kaguya... Mungkinkah Kaguya baru saja menangis?, karena apa?. Naruto memutar otaknya dan ia teringat tentang Kyubi yang ia temui dilorong, jika tidak salah Kyubi juga terlihat sehabis menangis... Jadi begitu?.
"Senpai... Ternyata Kau terlihat kuat tapi sebenarnya kau rapuh ya?."
Kaguya mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Naruto dengan tajam, "apa maksudmu, Namikaze. Kau menganggapku perempuan yang lemah begitu?." tanya Kaguya, Naruto tersenyum tipis.
"Memang kenyataan-nya seperti itu bukan, Otsutsuki-senpai."
Ucap Naruto membuat Kaguya mengepalkan tangannya, melihat Kaguya yang mulai kesal Naruto menghela nafas.
"Senpai, aku tidak bilang lemah dalam artian kekuatanmu, tapi aku bilang kau lemah dalam perasaanmu, kau dan Kyubi habis bertengkar bukan?."
"!... Bagaimana kau bisa tahu?."
Naruto tersenyum tipis, "itu mudah senpai, semua terlihat dari matamu... Kau tahu?, mata merupakan cerminan hati, saat hatimu terluka maka mata akan menrefleksikan-nya lewat air mata... Dan matamu memperlihatkannya padaku, Senpai." ucap Naruto, Kaguya terdiam mendengar perkataan Naruto sebelum ia tersenyum miris.
"Ya, kau benar. Aku dan Kyubi baru saja bertengkar."
"Begitu?, maa... Aku tidak akan bertanya kenapa, karena aku tidak berhak ikut campur dalam pertengkaran kalian. tapi Senpai... Jika pertengkaran kalian akibat ulahmu, bukankah lebih baik jika Senpai segera meminta maaf?."
Kaguya tersenyum sempit dan mengosong lengan-nya menandakan jika ia tengah gugup, Naruto menghela nafas.
"Senpai, aku tahu harga dirimu begitu tinggi karena status sosialmu, namun senpai jika kalian tidak segera berbaikan maka aku yakin kalian yang akan menyesal nanti-nya..."
"Ta-Tapi bagaimana jika Kyubi tidak mau memaafkan ku aku takut hal itu akan terjadi..."
Kaguya berkata dengan nada pelan, sejujurnya Kaguya takut jika Kyubi benar-benar tidak ingin berteman lagi dengan dirinya, memang benar apa kata Naruto bahwa dirinya harus meminta maaf sebab ini juga merupakan salahnya, Kaguya yang tengah gelisah tersentak sedikit ketika ia merasakan sebuah tangan besar dan kasar mengusap kepalanya, pandangan Kaguya terangkat dan menatap kearah pelaku yang mengusap kepalanya dan ia melihat Naruto tengah memasang wajah lembut.
"Senpai, kau terlalu cemas... Aku berani bertaruh kau akan dimaafkan jika kau meminta maaf pada Kyubi."
Kaguya terdiam sebelum ia menatap iris shappire indah Naruto, "kenapa kau bisa yakin aku akan dimaafkan?." tanya Kaguya dengan nada pelan, Naruto tersenyum tipis dan menurunkan tangannya dari surai perak halus itu.
"Karena kalian bersahabat."
Sebuah perkataan simpel itu membuat Kaguya melebarkan matanya, benar... Bagaimana bisa ia lupa dirinya dan Kyubi bukan pertama kali ini bertengkar hebat, dan butuh beberapa hari kemudian mereka mulai akrab seperti biasa dan melupakan pertengkaran mereka, tapi satu hal yang Kaguya beberapa hari tidak berbicara dan menjauh dari Kyubi itu tidaklah menyenangkan... Kaguya juga yakin Kyubi merasakan hal yang sama dengan dirinya... semua itu terjadi karena tidak ada satupun dari mereka yang mau meminta maaf lebih dulu. Kaguya tersenyum kecil ternyata untuk menyelesaikan pertengkaran ini hanya membutuhkan hal kecil saja. Naruto yang melihat senyuman kecil dari Kaguya ikut tersenyuman tipis.
"Sepertinya kau sudah mengerti apa yang harus kau lakukan bukan?... Maa, kalau begitu aku berikan ini untukmu, Senpai."
Naruto memberikan sebungkus kue Macaroon dan membuat Kaguya menatap kearah Kue ditangannya sebelum mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Naruto yang masih tersenyum dengan pandangan bingung.
__ADS_1
"Makanlah itu, Senpai. Makanan manis dapat membuat mentalmu pulih dan memperbaiki emosimu yang tengah kacau... Ya sudah aku masih harus mengurus sesuatu, karena itu sampai jumpa, Senpai."
"Ummu, sampai jumpa lagi, Namikaze. Terimakasih atas Kue ini."
Naruto hanya tersenyum kecil dan melambaikan tangannya selagi kakinya meninggalkan Kaguya yang menatapnya dengan senyuman tipis. Setelah kepergian Naruto, Kaguya membuka bungkus kue itu dan memasukan kue itu kedalam mulutnya... Dan seketika iris mutiara miliknya melebar ketika merasakan kue Macaroon itu.
.
.
.
Naruto berjalan dengan datar dilorong academy dia sudah memberikan tiga kue dan kini tersisa dua kue, sekarang siapa yang harus ia berikan sisa kue ini... Miya?, tidak... Miya pasti sudah mendapatkan kue dari Tobio, uhm... Siapa lagi perempuan yang ia kenal?... Gabriel?.
Naruto menghentikan langkahnya dan tanpa alasan yang jelas Naruto memukul pillar penyangga yang ada disampingnya dengan kuat hingga membuat pillar itu retak.
"Cih, kenapa aku harus memikirkan perempuan sombong itu."
Naruto bergumam dengan nada benci, Gabriel... Perempuan dengan harga diri selangit, perempuan yang begitu membencinya hingga Perempuan itu bahkan tidak sudi ditolong oleh-nya... Naruto berdecih kesal, memikirkan perempuan itu hanya akan memicu rasa kesal dihatinya.
Naruto menarik nafas untuk menenangkan emosi-nya yang hampir saja lepas, iris shappire miliknya menatap kearah dua bungkus kue yang ada ditangannya dan menghela nafas, ia masih harus menemukan dua orang lagi...
"Merepotkan..."
Naruto kembali melanjutkan perjalanan-nya menuju keperpustakaan namun saat ia baru saja akan melangkah ia melihat kearah taman Academy dimana disana ia melihat Ketua Clubnya yang tengah menatap kebawah dengan pandangan kosong.
Naruto mengerutkan dahinya dan mengikuti tatapan Tobio seketika wajah Naruto berubah jadi kosong ketika melihat apa yang ditatap oleh Tobio, kue... Tepat dibawah Tobio tergeletak beberapa keping kue kering yang telah hancur...
'Kue itu pasti untuk Fuku Taichou... Malangnya Tobio. Aku harus sedikit membantu-nya...'
Naruto memejamkan matanya dan berusaha memanggil sesuatu, 'Jin, kemarilah aku butuh bantuanmu, Tobio sedang dalam kesulitan' dan tepat setelah itu Naruto membuka matanya dan menatap kearah samping dimana dari bayangan pillar perlahan kegelapan berkumpul dan memunculkan seekor anjing kecil berwarna hitam.
"[Wufh!]"
Naruto tersenyum melihat anak anjing bernama Jin itu, Naruto merendahkan tubuhnya dan menyuruh Jin mendekat, "Jin, Tobio saat ini tengah dalam kesulitan, berikan ini padanya, ia pasti akan senang..." Naruto memberikan sebungkus kue pada Jin yabg menatap bingung Naruto sebelum ia mengangguk dan mengigit bungkusan itu dan berlari menuju kearah Tobio.
Naruto mengintip dari balik Pillar, ia melihat dimana Tobio menatap bingung kearah Jin, ia mengambil bungkusan Kue dari mulut Jin, Naruto melihat Tobio berkata pada Jin selagi tangannya menuju dirinya, Jin menjawab dengan mengangguk cepat selagi ekornya bergoyang-goyang cepat, Naruto tersenyum ketika Tobio mengeluarkan senyuman senang dan memeluk Jin dengan erat selagi mengucapkan terimakasih terus menerus.
"Kau berhutang padaku, Tobio."
Naruto berjalan meninggalkan kedua makhluk yang kini berjalan cepat menuju ruang Club.
[Libary]
Ditengah suasana hening ditempat dimana buku berjumlah jutaan berada, terlihat dimeja yang terletak dipusat tempat itu seorang perempuan bersurai pirang dikuncir rapi dengan kacamata baca tebal tengah fokus menatap buku dipegangannya, perempuan kutu buku itu terlihat menghela nafas dan menutup bukunya sebelum ia melipat tangannya dan meletakan kepalanya diatas lipatan itu.
"Hah~, tahun ini aku melewatkan festival Merlin lagi... Uhh, Aku ingin seseorang memberikanku kue saat [Give Cookie]..."
Perempuan itu menghela nafas dan memiringkan kepalanya kesamping, "aku ingin mendapatkan kue dihari [Give Cookie] dari orang itu... Tapi, bisakah orang bego dan gak peka itu memberikan ku kue?..." perempuan itu terdiam sebelum ia tersenyum miris.
"Ayame Shaga, kau memikirkan hal yang tidak mungkin terjadi, mana mungkin Naruto-kun akan memberikan ku kue..."
"Ha'i, ini untukmu, Shaga."
Shaga terdiam sejenak selagi iris Dark Purple menatap kedepan dimana ia melihat beberapa kue yang berwarna cantik didepan-nya, Shaga perlahan mengalihkan pandangannya dan seketika ia terkejut sebab Naruto tengah berdiri didepan-nya dengan senyuman tipis diwajahnya...
"Yo, Shaga-chan."
"Na-Naruto-kun!, ap-apa yang kau lakukan disini?."
Shaga mengutuk dirinya sendiri berbicara gugup begitu dirinya berada didekat Naruto yang saat ini nampaknya menertawai sikapnya. Uuhhh... Shaga ingin sekali mengubur dirinya saat ini juga.
"Maa... Shaga, aku kesini karena mendengar permintaanmu tadi, aku tidak pernah mengira kau begitu menginginkan Kue buatanku."
Naruto menyeringai jahil membuat Shaga memerah mendengarnya, sudah Shaga duga!, ia ingin mengali lubang dan masuk kedalamnya!, rasa malunya sudah mencapai batas. Naruto tidak menyadari hal itu dan terus menggoda Shaga.
"Ya~, kau tahu jika kau begitu menginginkan masakanku, maka bilang saja padaku pasti akan aku-, Guah!."
Naruto tidak menyelesaikan kalimatnya sebab buku tebal langsung hinggap tepat diwajah Naruto membuat sang empu-nya meringis sakit. Shaga yang menjadi pelaku pelempar hanya bisa mengalihkan pandangannya dengan ekspresi merenggut. Naruro perlahan bangkit dari posisi terlentang-nya dan menatap tajam Shaga.
"Kenapa kau melakukan itu, Shaga-chan."
"Pikirkan sendiri, Baka!."
Naruto menatap Shaga yang berenggut sebelum ia menghela nafas, dan menatap datar Shaga. "Ya, Ya, aku salah... Maafkan aku, Shaga-chan." Shaga melirik kearah Naruto sejenak sebelum ia menghela nafas.
"Baiklah, lupakan itu... Jadi ada apa kau kesini Naruto-kun?."
"Hah~, seperti yang kau lihat, Shaga. Hari ini adalah Festival Merlin dan tradisi [Give Cookie] tengah dilakukan, dan seperti yang kau lihat, aku membuat Cookie dan memberikannya padamu, Shaga-chan."
Ucap Naruto dengan tatapan datar, Shaga menatap kearah Naruto sebelum ia melirik kearah Kue diatas meja dan mengambilnya sebelum kembali menatap kearah Naruto selagi ia menunjuk dirinya
"Ini untukku?."
Tanya Shaga, Naruto menghela nafas sebelum ia mengangguk. "Ya, itu untukmu." ucap Naruto, Shaga terdiam sebelum ia perlahan tersenyum lembut selagi ia mendekap bungkusan Kue itu didepan dadanya, Naruto menatap kearah senyuman Shaga, senyuman itu indah sekali.
"Terimakasih, Naruto-kun... Bolehkah jika aku mencicipi-nya?."
Tanya Shaga membuat Naruto tersadar dari dunia-nya dan mengangguk pelan, Shaga tersenyum senang dan membuka lalu mengambil satu kue Macaroon... Naruto tersenyum melihat hal itu sebelum tiba-tiba ia mendengar sebuah suara mengema dikepalanya.
'Master... Ini aku, Ophis.'
"Ophis?, ada apa?."
'Master... Aku menemukan sebuah botol kecil didapur, apa itu milikmu?."
"Ya, itu milik-ku memang ada apa kau menanyakan-nya."
'Master... Apa kau tahu apa isi dari botol itu?.'
"Uhm?, sebuah pemanis buah-buahan?."
Naruto mengerutkan dahinya ketika ia dapat dengan jelas mendengar helaan nafas dari Ophis.
'Master... Botol kecil itu bukanlah pemanis dari buah-buahan tapi ramuan cinta...'
"... Huh?."
Naruto bergumam bodoh, tadi Ophis baru saja mengatakan ramuan cinta bukan?, ramuan legendaris yang dapat membuat siapapun jatuh cinta hanya dengan membuat target mengkonsumsi-nya... Perlahan wajah Naruto pucat pasi.
"Ophis... Jangan bilang jika..."
'Ya, Master... Kau telah mencapurkan ramuan cinta kedalam kue buatanmu dan siapapun yang memakan kue itu akan jatuh cinta padamu...'
Naruto langsung kehilangan rona sehat mendengar perkataan Ophis, jika yang dikatakan Ophis benar maka dalam bahaya... Bahaya yang sangat besar.
'Ilmuwan sialan!?.'
"Na~ru~to-kun~..."
Tubuh Naruto menegang ketika ia mendengar suara nakal dari belakangnya, dengan gerakan patah-patah Naruto menoleh kebelakang... Dan ia dapat melihat Shaga yang tengah menatapnya dengan tatapan seolah dirinya adalah orang paling tampan didunia ini, Naruto mengambil satu langkah mundur ketika ia melihat Shaga mulai berjalan kearahnya, Naruto dapat melihat dengan jelas Ilusi gelembung-gelembung Love melayang dari Shaga...
"Naruto-kun~, ufufufu..."
Naruto merinding hebat mendengar nada genit itu, Naruto berbalik dan berusaha untuk lari dari Shaga namun ketika ia baru saja ingin lari tiba-tiba pintu terbuka dengan keras...
"Naruto~..."
"Naruto-kun~..."
"Namikaze~..."
Iris mata Naruto mengecil ketika melihat tiga orang perempuan cantik tengah berdiri didepan pintu dengan kondisi yang sama seperti Shaga... Arthuria, Kyubi dan Kaguya perlahan melangkah mendekati Naruto yang terlihat mulai panik.
'Sial, aku terjepit!...'
Naruto melirik kesana kemari berusaha mencari jalan keluar dari situasi yang mungkin sangat berbahaya untuk Kesucian-nya!?, ya!, Naruto masih perjaka?, Masalah buat kalian!... Naruto menatap kekanan dan kekiri, sebelum ia akhirnya menemukan ide gila!.
"Yo!, Tsunade-Kouchou!, apa kau ada perlu denganku?."
Ucap Naruto selagi membuat Gesture mengangkat tangan, Keempat perempuan itu dengan kompak menoleh kearah pintu dan mereka tidak melihat siapapun disana, Naruto yang berhasil mengalihkan perhatian para gadis langsung mengaktifkan [Accel] dan [Boost] lalu dengan secepat mungkin Naruto menyelinap diantara kepungan keempat gadis itu dan melarikan diri dengan kecepatan tinggi...
"Ah!, dia melarikan diri!."
Kyubi berteriak membuat ketiga perempuan itu menatap kearah Naruto yang baru saja melesat cepat meninggalkan keempat gadis itu, Shaga tertawa tipis.
"Tidak perlu takut, dia tidak akan bisa jauh dari kita, Ufufufu~..."
Shaga membuat sihir [Observation] dan perlahan partikel air berkumpul dan membentuk bola air diatas tangan Shaga, Bola Air itu bercahaya terang sebelum memperlihatkan keadaan Naruto yang saat ini tengah berlari dengan kecepatan tinggi... Keempat gadis itu tersenyum lebar melihat gambar Naruto itu.
"Ke~te~mu..."
Naruto, tidak tahu ini harus dibilang sebagai Anugerah atau Musibah, Naruto tahu jika Ramuan Cinta itu luar biasa Legendaris sebab didunia-nya yang dulu, Ramuan ini sangatlah diimpi-impikan oleh para manusia yang belum memiliki kekasih!... Naruto mempercepat larinya, ia harus memperingati Tobio tentang kue Macaroon yang telah tercemar oleh Elixir of Love!...
"Tobio!, jangan berikan kue itu pada siapa... Pun."
Naruto terdiam ketika ia melihat apa yang ada didepannya, ia melihat Tobio tengah tertidur dengan menjadikan Paha Miya sebagai bantal...
"Ini katakan Aaaah~."
"Aaah~..."
Miya tersenyum manis hingga membuat wajah yang biasanya dingin itu terlihat sangat cantik, perlahan jari lentik Miya mengelus lembut surai hitam Tobio.
"Tobio-kun..."
"Uhm?..."
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."
"Miya... Aku juga mencintaimu."
Naruto menatap pemandangan menyakitkan itu dengan tatapan horor, Miya Fuku Taichou... Bermesraan dendan Tobio!?, ini pasti karena kue itu!, sial!, Naruto terlambat!. Dan nampaknya Tobio menikmati perhatian Over dari Miya yang terkontaminasi Ramuan Cinta!?... Oke!, Naruto pengen sekali menabok wajah Tobio yang terlihat menikmati perhatian Miya!.
"Naruto-kun~..."
Brrrr!
Naruto merinding hebat ketika mendengar sebuah suara dari sampingnya dan seketika iris Shappire Naruto membulat ketika melihat empat orang gadis cantik tengah tersenyum kearahnya... Naruto merinding ketika melihat tatapan penuh kasih sayang dari keempat perempuan itu...
"Ha-Hai, Minna-san... Da-Dan sampai jumpa!."
Naruto berbalik dan berusaha melarikan diri namun baru saja ia mengambil ancang-ancang tiba-tiba sebuah sulur yang terbuat dari air mengingat tubuhnya, Naruto melihat kebelakang dan seketika wajahnya dipenuhi keringat dingin... Shaga berhasil menangkapnya...
"Saa... Naruto-kun, jangan melarikan diri dan membuat kami mengejarmu, kau tahu sebagai seorang pria sejati kau harus bertanggung jawab terhadap perasaan kami ini, Naruto-kun..."
Naruto perlahan kehilangan rona sehat melihat pandangan penuh cinta dari keempat gadis didepannya!, rona sehat Naruto semakin berkurang ketika melihat Arthuria dan Kaguya berjalan dan dengan tanpa permisi keduanya memeluk Naruto dari kanan dan kiri... Itu mereka menyentuh lengan Naruto!?...
"Nee, Naruto... Kau kejam lari dari kami tanpa mengatakan apa-apa."
"Benar, apa kau tidak menyukai kami?."
Naruto merasakan sensasi aneh ketika Arthuria dan Kaguya menempelkan kepalanya dibahu Naruto dan dengan lembut menyentuh dada Naruto... Naruto berkeringat dingin, ia tidak bisa mengerakan bibirnya dan hanya menjerit dalam hati!.
'Kami-sama!, selamatkan aku!.'
"Ah!, kalian curang!."
Kyubi berteriak seperti itu dan berjalan cepat kearah Naruto dan memeluknya dari belakang membuat Naruto memerah merasakan benda lembut menekan punggungnya... Shaga yang melihat sisi Naruto direbut dari kanan, kiri dan belakang, kalau begitu sisi yang tersisa hanyalah bagian depan!
Grep!
"Kau yang terburuk, Naruto-kun... Kau telah men-empatkanku, tapi... Selama kau menyayangi kami sepenuh hati maka poligami aku ijinkan..."
"Kita bahkan belum memiliki hubungan apapun!?."
"Ufufu~, apa yang kau katakan, kita saat ini telah menjadi sepasang kekasih... Kau telah memberikan kami kue disaat tradisi [Give Cookie] tengah berlangsung, dan apa kau tahu ketika kau memberikan kue pada seorang perempuan saat [Give Cookie] itu sama saja seperti kau menyatakan perasaanmu pada perempuan itu dan ketika perempuan itu menerima-nya maka mereka resmi menjadi sepasang kekasih."
"Ap-Apa-Apaan itu!, aku baru mendengarnya!?."
"Ufufu, meskipun begitu, kau telah menjalankan Tradisi lalu kami menerimanya dan itu artinya kita telah menjadi sepasang kekasih!."
"Tunggu... Kalian saat ini tengah terpengaruh oleh Exilir of Love!, perasaan kalian itu palsu!, sadarlah kalian!."
"Naruto... Apa kau membenci kami?. Kenapa kau begitu bersikeras menolak kami hingga kau mengatakan perasaan tulus kami sebagai hasil dari Elixir of Love?."
Naruto menoleh kearah Arthuria yang mulai memasang wajah sedih, tidak hanya Arthuria, Kaguya, Shaga dan Kyubi juga memasang wajah sedih... Ugh!, wajah itu mengoyahkan pendiriannya, Naruto terlihat kesulitan melihat wajah sedih mereka... Naruto menghela nafas panjang.
"Sejujurnya aku tidak membenci kalian... Ba-bagaimana mengatakannya... Umm... Hah!, baiklah, baiklah kalian menang!, kita sepasang kekasih!."
Mendengar perkataan tulus(terpaksa} dari Naruto membuat Keempat gadis itu memasang wajah bahagia dan dengan cepat mengeratkan pelukannya pada Naruto.
"Terimakasih, Naruto-kun!, kami mencintaimu..."
Naruto terlihat tersenyum garing sebab sekarang ia memiliki empat kekasih yang terpengaruh oleh Elixir of Love dari Orochimaru!... Sebelum senyuman garing Naruto lenyap digantikan oleh wajah serius.
'Aku harus segera menemui Orochimaru dan meminta penyelesaian atas masalah ini sebelum keperjakaanku terancam!?.'
__ADS_1