
Dihalaman belakang Clan Namikaze terlihat Naruto tengah duduk dengan menyesap secangkir teh yang dituangkan oleh Kepala Maid Yuri yang tengah memasang senyuman bahagia diwajahnya.
"Naruto-sama... Terimakasih."
Naruto menatap Yuri sejenak sebelum ia meletakan cangkir tehnya dan tersenyum tipis pada Yuri yang tak henti-hentinya meluapkan kebahagiaannya.
"Kau tidak perlu berterimakasih, Yuri. Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan."
Ucap Naruto dengan senyuman diwajahnya, Yuri mengangguk pelan sebelum ia mengelap air mata yang berada disudut matanya dan mengalihkan pandangannya kearah lapangan luas yang biasa digunakan untuk latihan Unit Pleiades dan Unit Anbu dimana disana Yuri melihat kepala Clan Namikaze Minato tengah dikeroyok oleh Unit Anbu dan Unit Pleiades.
Ya... Namikaze Minato telah berhasil disembuhkan oleh kemampuan dari Naruto, masih segar diingatan Yuri bagaimana Tuan muda Namikaze itu menyembuhkan sang Ayah dengan sebuah bahan yang sangat berbahaya dan langkah itu, Ekor Manticore yang telah diolesi minyak yang diekstra dari tanaman langka [Akar Cakar Naga], Yuri tidak mengetahui jika Tuan Muda-nya ternyata memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang cara pembatalan kutukan kelas tinggi yang diderita Minato...
Yuri sedikit meringis ketika mengingat bagaimana cara pencabutan Kutukan itu, Tuan muda, Naruto. Menusukan ekor Manticore pada sebuah simbol tengkorak didada Minato dan itu membuat semua merasakan sakit hanya dengan melihatnya namun setelah proses itu selesai simbol kutukan menghilang dan tak lama kemudian Minato tersadar dan seketika kebahagiaan meledak disana, para Maid menangis haru atas sembuhnya Minato dirinya juga menitik air mata bahagia atas sembuhnya Minato... Dan semua itu terjadi berkat, Heir selanjutnya Clan Namikaze. Yuri mengalihkan pandangannya pada Naruto yang menikmati teh hangat buatannya dan sebuah senyuman terpatri diwajah cantik Yuri.
"Saya tidak pernah melihat pemandangan dimana Minato-sama sebahagia itu, karena itulah saya berterimakasih, Naruto-sama. Anda telah membuat Clan Namikaze kembali mendapatkan kebahagiaannya."
Naruto tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya kearah Ayahnya yang tengah terlihat kesulitan melawan Unit Pleiades dan Unit Anbu, Naruto bangkit dan berteriak.
"Ayah!, apa usiamu yang tak muda lagi membuat kemampuanmu tumpul!. Sudahlah kemari dan duduk disini lalu kita nikmati teh hangat ini!."
"Apa katamu!, ayah masih berusia kepala tiga jangan mengatakan perkataan yang menunjukan seolah-olah ayahmu adalah seorang kakek-kakek!."
"Tapi memang benar ayah sudah tak muda lagi, gerakan ayah saja sudah terlihat kaku!."
"Anak sialan!, kemarilah kau!, akan ayah hajar kau!."
"Hohoho... Saran yang menarik!, baiklah aku akan kesana dan membuatmu sadar jika kau sudah tidak muda lagi!."
Yuri tersenyum ketika melihat Naruto mengambil pedang Kayu miliknya dan melesat kekerumunan para spesial Unit yang tengah mengeroyok Minato, dan terlihatlah pertarungan antara ayah dan anak, Yuri mempelebar senyumannya ketika melihat senyuman kebahagiaan terpatri diwajah Minato dan Naruto yang tengah saling serang... Melihat hal itu membuat semangat Yuri terpancing dan diapun berteriak!.
"Para Pleiades!, apa yang kalian lakukan cepat bantu Naruto-sama dan kalahkan Minato-sama."
"Ha'i, Madame!."
"Oi!, Yuri!, kenapa kau malah membuat mereka bertambah semangat!."
Yuri tersenyum atas protes Minato, ia membenarkan letak kacamatanya dan tersenyum polos kearah Minato yang berjuang mati-matian menghindari serangan gabungan Naruto dan Unit Pleiades.
"Ara, bukankah Minato-sama yang meminta dilatih dengan serius untuk kembali mengasah kemampuan Minato-sama?, saya hanya membantu keinginan Minato-sama saja, tidak ada maksud lain kok."
"Tapi wajahmu menunjukan maksud yang sebaliknya!."
"Anda salah lihat, Minato-sama."
"Ah!, baiklah!, majulah kalian semua akan aku tunjukan kenapa aku dijuluki sebagai [Yellow Flash]."
"Bersiaplah ayah akan menggunakan kemampuan merepotkan miliknya!."
Naruto berteriak memperingati selagi ia terus menyerang sang ayah yang tengah bersiap melakukan Teknik pamungkas miliknya, Yuri tersenyum ketika melihat para Pleiades dan Naruto kini dibuat Kesulitan oleh kecepatan teleportasi milik Minato... Sampai ia mengalihkan pandangannya kesamping ketika ia mendengar suara langkah kaki dan disana ia melihat Kushina tengah berjalan kearahnya dengan Putri kecilnya yang bernama, Namikaze Naruko.
"Yuri-san, apa kau melihat Minato, aku tadi mencari dikamarnya tapi ia tidak ada, apa kau melihatnya?."
"Hmm... Jika anda Mencari Minato-sama maka dia ada disana."
Yuri menunjuk kearah Minato yang telah menyingkirkan setengah dari pasukan spesial dengan kecepatan tinggi miliknya, Minato kembali dengan cepat menghilang dalam kilat kuning dan menghabisi setengah pasukan lagi dan meninggalkan Naruto sendirian.
"Sekarang giliranmu, Anak nakal... Berani sekali kau mengatakan jika ayahmu adalah seorang kakek-kakek."
Naruto berkeringat dingin melihat Minato yang tengah menatapnya dengan wajah mengerikan dan wajah Naruto pucat pasi ketika mendengar suara dari buku-buku tangan Minato.
"Ay-Ayah... Bisakah kita berdamai?."
"..."
"Tidak bisa ya?... Maa!, majulah kau Oyaji!."
Naruto menggunakan panggilan tak hormat pada Minato membuat pelipis Minato berkedut, kedua ayah dan anak itu saling menatap satu sama lain sebelum mereka melesat dan saling serang.
Kushina yang ada dipinggir lapangan hanya menatap kedua ayah dan anak itu dengan pandangan sulit diartikan, Kushina berjalan mendekati Yuri.
"Yuri... Bisa aku titip, Naruko sebentar."
Yuri mengangguk pelan selagi ia menerima Naruko dari Kushina, wajah Yuri pucat pasi saat melihat ekspresi dari Kushina yang melangkah pergi menuju kearah Minato dan Naruto yang melakukan sparring dengan sengit. Yuri menatap Kushina dengan keringat yang menuruni pelipisnya.
"[Red Hanabero]... Akan mengamuk."
Yuri bergumam selagi ia melihat kearah Kushina yang berjalan mendekati Minato dan Naruto, aura merah perlahan menyelimuti tubuh Kushina, rambut merah panjang miliknya perlahan terangkat dan melambai-lambai mengancam.
"Minato... Naruto..."
Naruto dan Minato yang tengah saling mencengkram dan mendorong satu sama lain tiba-tiba tubuh mereka menegang ketika mendengar suara yang sangat menakutkan dari samping mereka... Keduanya dengan kompak menoleh dan seketika rona sehat diwajah mereka lenyap.
"Ku-Kushina / i-ibu."
"Minato... Bukankah sudah kubilang kau harus istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhmu, lalu apa yang kau lakukan disini?."
Kushina bertanya pada Minato yang langsung berkeringat dingin, Naruto melirik kearah ayahnya yang tengah berkeringat dingin, ayahnya sepertinya ketakutan pada ibunya... Naruto menegang ketika Kushina menatapnya dengan cepat... Tatapan ibunya sangat menakutkan!.
"Dan kau, Naruto. Kenapa kau malah mendukung ayahmu?... Bukankah kau yang paling tahu kondisi ayahmu setelah proses penyembuhan ayahmu dari kutukan..."
Ayah dan Anak itu terdiam dengan wajah ketakutan sebelum mereka dengan kompak langsung melakukan bersujud sembah didepan Kushina yang menatap mereka dengan tatapan gelap.
"Ampuni kami, Kushina-sama!."
Yuri langsung sweatdrop melihat kedua ayah dan anak yang menjadi pillar utama Clan Namikaze dibuat tidak berdaya oleh Kushina hanya dengan menggunakan tatapan, berbeda dengan Yuri, Naruko hanya tertawa polos melihat ayah dan kakak-nya yang bersujud didepan ibunya.
Kushina menatap dingin Minato dan Naruto yang bersujud didepannya, Kushina menghela nafas sebelum ia memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Ayah dan Anak sama saja, sama-sama pandai membuat emosi orang terpancing."
Kushina menghela nafas berat sementara Minato dan Naruto saling lirik satu sama lain sebelum mereka mengeluarkan cengiran yang sama persis. Cengiran itu langsung lenyap dan digantikan wajah bersalah ketika Kushina kembali menatap mereka berdua.
"Sudahlah, sekarang kalian bersihkan diri kalian sebab ada seorang utusan yang datang berkunjung kemari."
Ucap Kushina membuat Naruto dan Minato menatap satu sama lain dengan pandangan yang seolah mengatakan. 'Kau tahu soal ini?.' keduanya mengeleng pelan dan mengalihkan pandangan mereka pada Kushina.
"Kushina-chan, darimana utusan yang berkunjung?."
Tanya Minato dan didukung oleh anggukan Naruto, Kushina terdiam sebelum ia bersedekap dan menatap serius Naruto dan Minato.
"Kerajaan Alvarez..."
.
.
.
"Yaa, maaf atas sambutannya yang kurang berkenan."
"Tidak masalah, Minato-sama."
Diruangan keluarga Namikaze, terlihat Minato dan Kushina duduk menghadap seorang pria tua bersurai putih dengan mata setajam elang tengah duduk dengan tenang, pakaian tuxedo hitam dengan sarung tangan putih ditangannya menandakan jika ia adalah seorang Butler yang handal.
"Jadi, ada apa sampai Butler yang melayani Heika datang ke kediaman bangsawan rendah, Namikaze."
"Saya datang kesini hanya ingin memberikan undangan pada anda dan keluarga anda, saat ini Heika tengah mengadakan pesta atas kepulangan Tuan Putri."
Butler itu menyerahkan sebuah surat undangan dengan lambang perisai dan bunga mawar disana, Minato menerima undangan itu, setelah memastikan segel-nya Minato membuka surat itu dan membaca isinya, setelah beberapa saat Minato mengangguk pelan dan menatap kearah Butler didepannya.
"Baiklah, kami akan datang, terimakasih sudah mau menyampaikan pada kami."
"Tidak masalah, sudah kewajiban saya untuk melaksanakan tugas yang diberikan pada saya, kalau begitu saya ijin pamit, Minato-sama, Kushina-sama, dan... Naruto-sama."
Naruto yang berdiri dibelakang ayahnya terdiam melihat tatapan tajam dari Butler itu, Naruto dapat dengan jelas melihat dengan jelas maksud dari tatapan tajam Butler itu. Keduanya saling tatap satu sama lain sebelum Butler itu memutuskan tatapan mereka dan berjalan pergi.
'Master... Kau merasakannya?.'
"Ya, Ophis... Butler itu, bukanlah orang sembarang. Aura yang dipancarkannya membuatku takut... Dan yang lebih buruk lagi... Butler itu mengingatkanku pada kakekku."
Ucap Naruto dengan nada suram diakhir kalimatnya membuat keempat gadis didalam Mindscape yang terbagi sweatdrop secara kompak.
__ADS_1
Minato dan Kushina yang melihat Naruto diselimuti Aura suram berdehem membuat Naruto tersadar dari masa kelamnya didunia sebelumnya dan mengalihkan tatapan Naruto pada Ayah dan Ibunya dengan satu alis terangkat.
"Ada apa, Ayah, Ibu. Apa tenggorokan kalian sakit?."
"Bukan bodoh!, kita akan pergi keistana kerajaan jadi berpakaianlah dengan benar karena kita akan bertemu langsung dengan Heika."
Naruto terdiam sebelum ia mengangguk pelan atas perkataan ayahnya, mereka bangsawan jadi saat ada pesta formal maka ia harus berpakaian dengan rapi agar tidak mempermalukan dirinya dan keluarga serta nama Clan dimata Clan yang lain... Naruto tersenyum tipis.
"Jika ayah mengkhawatirkan itu maka ayah tenang saja aku sudah menyiapkan semuanya, untukku, untuk ayah dan untuk ibu."
Ucap Naruto membuat Minato dan Kushina terdiam dengan satu alis terangkat menatap bingung Naruto yang melebarkan senyumannya.
.
.
.
- Bangsawan dengan Gelar Duke -
.
.
.
Malam hari datang dengan cepat namun itu tidak berlaku untuk kemeriahan yang tengah terjadi di Istana dimana Umat Manusia mendominasi, Istana Alvarez.
"Yo, Sasuke... Aku tidak menyangka kau datang juga kepesta ini, aku kira kau tengah bersenang-senang dengan Gabriel."
Uzumaki Menma, Heir dari Clan Uzumaki menyapa seorang pemuda dengan penampilan super cool yang tengah berdiri sambil menatap kedepan dengan segelas minuman Wine ditangan.
"Kau berisik seperti biasa, Dobe."
Ucap Heir Clan Uchiha dengan datar selagi iris hitam miliknya menatap kearah pemuda berambut merah didepan yang hanya bisa berdecih dengan kesal.
"Ya, kita bertemu lagi, Sasuke... Menma."
Mendengar sebuah suara yang menyapa Sasuke dan Menma mengalihkan pandangan mereka kesamping dimana mereka melihat Toneri, Arashi dan Neji tengah berjalan kearah mereka dengan langkah mempesona.
"Yo/ Hn."
"Masih cempreng dan datar seperti biasa."
Ucap malas Arashi yang langsung meminum Wine ditangannya dalam sekali tengak, Neji hanya bisa tersenyum melihat kemalasan Arashi yang sudah biasa ia lihat sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Sasuke.
"Sasuke, dimana Gabriel?, bukankah seharusnya ia juga datang bersamamu?."
Sasuke mengoyang gelasnya dengan pelan dan meminumnya dalam sekali tengak dan meletakan Gelas itu diatas meja didekatnya.
"Entahlah, dia berkata dia akan datang dengan para sahabatnya."
Ucap Sasuke datar, Neji mengangguk pelan, kelima Prince yang berasal dari Clan ternama itu saling berbincang satu sama lain sebelum pandangan mereka teralih ketika para tamu dipesta itu bergumam kagum pada apa yang mereka lihat, kelima Prince itu terdiam ketika mereka melihat apa yang ada digaris pandangan mereka.
Digaris pandangan mereka terlihat tiga orang perempuan dengan kecantikan luar biasa dibalut gaun indah berwarna tosca, orange, dan putih pucat membuat kecantikan mereka bertambah, ketiga perempuan itu mengambil semua perhatian para tamu pesta akan kecantikan dan keanggunan mereka, bahkan Uchiha Sasuke terpaku melihat kecantikan perempuan bersurai pirang bergelombang, iris shappire indah yang dimiliki perempuan itu membuat Sasuke terpaku akan keindahan yang diberikan Shappire itu.
"Selamat malam, Sasuke-kun.",
Sasuke tersadar dari lamunannya dan menatap perempuan cantik yang tadi menyapanya, Sasuke merona tipis melihat kecantikan yang sempurna dari perempuan itu.
"Gabriel... Malam ini kau sungguh mempesona."
"Ufufu~, terimakasih, Sasuke-kun."
Gabriel tertawa dengan halus atas pujian dari Sasuke, keempat teman Sasuke hanya memutar mata bosan, melihat Reaksi kampungan Sasuke... Mereka berbincang-bincang dengan Gabriel yang ikut dalam obrolan para prince terlihat sesekali mereka tertawa karena Menma yang tiba-tiba menjadi Emosional karena balasan pendek dan datar dari Sasuke... Tawa dan canda menemani dipesta itu, kemeriahan pesta terus berlanjut sampai pintu istana terbuka lebar dan membuat senua perhatian terpusat disana.
Mereka semua terdiam ketika mereka melihat siapa yang datang, kepala Clan Namikaze, dan keluarganya, mereka semua terdiam bukan tanpa alasan mereka terdiam karena melihat gaya berpakaian Keluarga Clan Namikaze yang terlihat sangat aneh namun memancarkan pesona yang tak bisa dipungkiri.
Minato menatap kedepan dengan datar, ia saat ini mengenakan pakaian seragam jendral perang Germany berwarna emas dengan balutan Armor emas ringan dibeberapa bagian, Aura kebijaksanaan dan ketegasan berteriak keras dari Minato. Kushina yang ada disebelahnya mengenakan Gaun cantik dengan warna merah dan garis emas dibeberapa bagian membuat Kushina terlihat bagaikan remaja berusia 17 tahun...
Dan para Prince membeku ketika melihat penampilan Putra dari pasangan itu, pakaian seragam militer Germany berwarna hitam dengan sebuah topi diatas kepalanya membuat kegagahan Naruto bertambah besar, terlebih dua buah Katana dipinggangnya membuat ketampanan pemuda berdarah Namikaze itu berteriak. Naruto berpisah dari orang tuanya dan berjalan menuju tempat yang agak sepi yaitu tengah-tengah pesta.
Melihat ketampanan dari Naruto membuat Kaguya dan Kyubi yang datang bersama Gabriel merona tipis, mereka terjerat oleh pesona Naruto, ditambah wajah datar tanpa ekspresi dan Shappire indah itu membuat hampir perempuan yang ada disana merona tipis.
"Terimakasih."
Ucapan terimakasih dari Naruto membuat pelayan perempuan itu merona merah dan perlahan mundur kebelakang, Naruto menatap lucu perempuan itu sebelum ia mengoyangkan Wine miliknya dan meminumnya sedikit sebelum tatapan Naruto teralih ketika ia mendengar seseorang mendekat kearahnya, Naruto tersenyum melihat para bangsawan datang kearahnya.
"Selamat atas naiknya kau ketingkat [Silver], Namikaze-san."
"Benar selamat atas itu, kau memiliki bakat yang luar biasa, Namikaze-san."
"Terimakasih."
Naruto menjawab singkat pujian-pujian dari para bangsawan didepannya dengan senyuman palsu, bukan hal yang baru lagi jika Naruto sudah mulai dikenal sebagai pemilik bakat yang luar biasa sebab ia yang awalnya adalah pecundang sepanjang sejarah yang hanya memiliki kapasitas Mana 9 bisa berkembang sampai tingkat Silver bintang 3 hanya dalam waktu singkat yaitu 3 bulan...
Naruto menjawab pujian-pujian yang berterbangan dari para penjilat itu dengan senyuman palsu, sebenarnya Naruto merasa Jijik dengan mereka namun ia juga tidak boleh berlaku tidak sopan pada para bangsawan yang lain karena bisa berbahaya jika Naruto salah ucap dan mempermalukan nama Clannya.
Menma yang melihat Naruto menjadi pusat perhatian berdecih kesal, dan menatap benci Naruto, seharusnya dirinya dan teman-temannya lah yang menjadi pusat perhatian tapi Naruto merebut semua itu.
"Cih, dasar tukang pamer, hanya karena dia bisa mencapai tingkat Silver ia sudah menjadi sesombong itu, padahal dia hanyalah seorang Knight."
Suara besar dari Menma membuat para bangsawan terdiam sebelum entah dimulai dari siapa para bangsawan yang tidak menyukai Naruto mulai mengunjingnya dengan bisikan menyakitkan Naruto hanya terdiam sebelum ia menegak minumannya dan meletakan gelas itu diatas Meja.
"Ya, setidaknya dia bukanlah seorang anak manja yang hanya bisa berlindungi dibalik nama Clannya dan merengek ketika ia tidak bisa mendapatkan apa yang ia inginkan."
Naruto mengatakan itu dengan nada cukup keras membuat para Bangsawan yang lain menahan tawa atas ucapan Naruto, Menma yang tahu siapa sasaran dari perkataan itu mengepalkan tangannya dengan erat... Ia yang berniat mempermalukan Naruto malah dipermalukan balik.
'Naruto...!.'
Naruto hanya melirik kearah Menma selagi ia mengambil Minumannya, ia menyeringai tipis sebelum meminum wine ditangannya. Gabriel yang ada disebelah Sasuke menatap kearah Naruto dengan pandangan sulit diartikan.
Didalam pikiran Gabriel, Naruto yang sekarang sangat berbeda dari Naruto yang dikenal orang banyak, kemampuan miliknya tidak perlu diragukan lagi sebab ia sendiri sudah pernah melihat seberapa hebatnya kemampuan berpedang dari Naruto. Terkejut?... Ya mungkin itu, beberapa bulan yang lalu ia hanyalah seorang pecundang yang menjadi aib ditempatnya bersekolah namun tiga bulan kemudian dia mematahkan gelar yang diberikan oleh orang lain pada dirinya.
Kini sang aib telah berubah menjadi seseorang yang disebut berbakat...
Gabriel menatap kearah Naruto yang terlihat dihampiri oleh sang ujung pedang divisi Knight, Arthur Pendragon, keduanya terlihat saling menyapa satu sama lain, mereka terlihat akrab, pandangan Gabriel teralihkan pada seorang anak kecil yang ada disebelah Arthur, Anak kecil itu jika tidak salah adalah putri kecil keluarga Pendragon... Anak itu terlihat sangat akrab dengan Naruto, bahkan Gabriel dapat dengan jelas mendengar jika Anak kecil bernama Le Fay Pendragon itu memanggil Naruto dengan panggilan Nii-chan. Ada hubungan apa Namikaze Naruto dengan Bangsawan keluarga Pendragon?. Itulah yang dipikirkan Gabriel saat ini.
"Wah, Nii-chan kau terlihat tampan dengan baju itu..."
Le Fay berkata dengan nada kagum, Naruto hanya tersenyum dan mengelus surai emas Le Fay, sementara Arthur yang ada disebelah Le Fay hanya menatap interaksi mereka dengan senyuman tipis. Ia terlihat senang melihat adik tersayangnya bisa berinteraksi dengan orang lain... Namun senyuman itu luntur ketika Le Fay berkata.
"Nee, Nii-chan kapan, Nii-chan akan menikahi Nee-sama?."
Naruto dan Arthur serta beberapa bangsawan yang tak sengaja mendengarnya terkejut dan menatap Le fay yang menatap Naruto penuh harap. Naruto terlihat berusaha mencari alasan untuk pertanyaan penuh harap dari Le fay, cukup lama Naruto terlihat kesulitan sebelum ia akhirnya tersenyum kecil dan mengelus surai pirang Le fay dengan lembut.
"Le fay-chan, Le fay masih ingat tentang perjanjian kita bukan?.."
Le fay mengangguk pelan membuat Naruto tersenyum dan mengelus surai itu dengan lembut.
"Nii-chan sekarang belum cukup kuat, untuk saat ini Nii-chan harus membuktikan pada semuanya bahwa Nii-chan sudah cukup kuat untuk mengalahkan orang terkuat ditempat Nii-chan..."
Naruto berkata dengan nada lembut namun iris matanya menoleh kearah Uchiha Sasuke yang juga menatap kearahnya dengan datar, Sasuke terdiam melihat tatapan Naruto sebelum ia menyeringai tipis ketika paham maksud dari perkataan Naruto, ia dengan pelan mengerakan bibirnya tanpa diketahui siapapun.
'Akan kutunggu, Namikaze.'
Naruto menyeringai tipis menyadari perkataan tanpa suara dari Sasuke itu sebelum seringai itu lenyap dan digantikan tatapan lembut kearah Le fay yang terdiam menatapnya.
"... Jadi sampai saat itu, Nii-chan belum bisa melamar Nee-sama mu, tapi setelah Nii-chan berhasil mengalahkan orang itu dan menjadi yang terkuat maka Nii-chan akan langsung melamar Nee-samamu, itupun jika Nee-samamu mau dengan Nii-chan. Jadi Le fay mau menunggu Nii-chan sampai Nii-chan menyelesaikan urusan Nii-chan?."
Ucap Naruto dengan senyuman menawan miliknya, Le fay menatap Naruto sejenak sebelum ia mengangguk pelan dan tersenyum untuk anak seusianya.
"Umu!, Le fay akan bersabar menunggu Nii-chan."
Arthur yang melihat senyuman adiknya langsung refleks memegang dadanya yang entah kenapa terasa sakit, keimutan adiknya membuat Arthur serasa terkena serangan jantung, Naruto yang melihat tingkah Arthur hanya bisa sweatdrop.
'Dasar siscon.'
"Pada para hadirin sambutlah Yang mulia, Alvarez. Redric Atrux Alvarez III."
Semua tamu yang tengah saling berinteraksi langsung mengalihkan pandangan mereka kearah Balkon dimana disana Sang Raja tengah muncul dengan gagahnya, Naruto menatap raja itu dengan tanpa ekspresi, Naruto mengerutkan dahinya ketika ia merasa sang raja tengah menatap kearahnya namun Naruto memutuskan jika itu hanya firasatnya saja, sang raja menatap kearah para tamu dengan gagahnya.
__ADS_1
"Aku ucapkan terimakasih pada kalian yang hadir dalam pesta penyambutan kepulangan Putri kesayanganku, seperti yang kalian tahu putriku satu-satunya tengah dikirim kesuatu tempat untuk melakukan pelatihan intensif dan sekarang pelatihan itu telah selesai... Dan biar aku perkenalkan pada kalian semua putriku... Ayame Alvarez Shaga."
Setelah sang raja mengatakan itu seorang perempuan dengan kecantikan tak terlukiskan berjalan dan menampakan dirinya tepat disebelah sang raja, Naruto terpaku ketika melihat perempuan cantik bersurai pirang lembut dibiarkan tergerai, iris seindah permata Violet menatap kedepan dengan ramah, pakaian gaun berwarna biru muda dengan beberapa hiasan cantik membuat kecantikan sang putri kerajaan itu semakin terpancar.
Semua tamu yang melihat kecantikan sang putri tunggal raja Alvarez berdecak kagum akan kecantikan sang putri sementara Naruto menatap sang Hime-sama dengan pandangan sulit diartikan, Hime-sama menatap kearah para tamu sebelum tanpa sengaja pandangan miliknya beradu dengan Naruto, keduanya saling tatapan sejenak, Hime-sama tersenyum kearah Naruto namun Naruto menghindari tatapan itu dan menurunkan topi miliknya agar tidak beradu tatap dengan Hime-sama itu.
Sang Hime-sama terlihat sedih melihat Naruto yang memutuskan tatapan-nya, namun ia segera menganti wajah sedih itu dengan sebuah ekspresi senyuman palsu, sang raja yang ada disebelah putrinya hanya bisa tersenyum tipis, sang raja melirik kearah salah satu tamu yang berdiri dibelakang Naruto.
"Naruto-sama, maaf tapi setelah ini anda harus ikut dengan saya."
Naruto terdiam mendengar perkataan orang dibelakangnya, Naruto melirik kebelakang dan ia melihat seorang pria berusia sekitar dua puluh tahunan dengan rambut hitam senada dengan warna matanya, wajah datar itu mengingatkan Naruto pada Clan Uchiha.
"Aku tidak bisa mengikuti seseorang tanpa alasan yang jelas, katakan siapa yang mengutusmu."
Ucap Naruto dengan pelan, berusaha agar orang lain disekitarnya tidak mendengar percakapan mereka, pria itu terdiam sebelum ia membisikan sesuatu pada Naruto.
"Heika..."
Naruto melebarkan matanya mendengar siapa yang mengutus pria itu, Naruto menoleh kebelakang dengan cepat namun orang itu sudah tidak ada, Naruto menatap sekeliling namun ia tidak bisa menemukan orang yang ia cari, ia mengalihkan pandangannya dan menatap sang Heika yang mengangguk pelan merespon tatapannya, Naruto terdiam sebelum ia menghela nafas.
"Merepotkan."
tanpa diketahui siapapun Naruto segera berjalan memisahkan diri dari kemeriahan pesta...
-change scene-
"Maaf memanggilmu kesini, Namikaze-kun."
Naruto menatap kedepan dimana sang raja, Redric Atrux Alvarez III duduk didepannya, disebelah sang Raja, Tuan putri menatap kearahnya dengan pandangan sulit diartikan, Naruto terdiam menatap sang putri yang mengalihkan pandangannya menghindari kontak mata dengan Naruto sebelum Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap sang raja.
"Jadi apa yang baginda inginkan dariku?."
Naruto bertanya dengan sopan membuat sang raja tersenyum tipis melihat Naruto yang langsung menuju pokok pembicaraan tanpa basa-basi.
"Namikaze-kun, apa kau mengenal putriku, Shaga?."
Naruto terdiam dan melirik kearah Shaga yang menundukan kepalanya tak ingin melakukan kontak mata dengannya, Naruto menatap kembali sang raja.
"Maafkan saya, Heika. Saya tidak mengenal putri anda, sejujurnya saya baru kali ini bertemu langsung dengan Tuan Putri, Shaga."
Ucap Naruto membuat Shaga terkejut dan menatap kearah Naruto yang memasang wajah tanpa ekspresi, Raja terdiam mendengar jawaban dari Naruto.
"Begitu?, aku pikir kalian saling mengenal karena kalian bersekolah disatu sekolah yang sama."
"Ya, mungkin kami bersekolah disatu tempat yang sama tapi aku tidak pernah melihat putri anda, Heika."
Sang raja kembali terdiam mendengar jawaban Naruto yang terlihat tidak menyimpan kebohongan, Shaga menundukan kepalanya mendengar jawaban dari Naruto, Shaga dapat merasakan dadanya mulai sesak dan ia sudah mulai hampir menangis namun itu tidak terjadi sebab Naruto kembali berucap.
"Tapi... Aku mengenal seseorang yang memiliki nama yang hampir sama dengan putri anda, ia adalah seorang penjaga perpustakaan yang dingin dan ketus, ia akan menjawab pertanyaan dengan singkat jika menganggapnya tidak penting, ia sering membuatku kesal dengan sikap dingin dan ketusnya, tapi ia juga baik setelah saya mengenalnya lebih dekat, ia penyayang dan baik, hangat serta sifat polosnya terkadang membuatku sangat ingin menjahilinya, sejujurnya dia adalah perempuan yang menyebalkan..."
"... Ia tidak jujur dengan dirinya sendiri, menyimpan semua rahasianya sendiri, Ia juga egois karena tidak mau membagi masalahnya denganku yang merupakan temannya dan itu membuatku kesal, aku terkadang bertanya-tanya apakah aku dianggap teman baginya?..., dan beberapa waktu yang lalu aku mengetahui semua rahasia-nya, dan itu membuatku terkejut, aku tidak menyangka jika perempuan yang selama ini aku kenal adalah seseorang yang sangat penting dinegara ini... Bahkan setelah aku menyadari jika aku jatuh hati padanya, ia terlalu jauh untuk aku capai..."
Ucap Naruto dengan senyuman miris diwajahnya, Shaga yang mendengar semua itu menatap kearah Naruto dengan iris violet yang melebar, sementara Sang raja tersenyum penuh arti pada Naruto.
"Lalu, jika seandainya kau memiliki kesempatan untuk mengapainya maka apa yang akan kau lakukan?. Namikaze-kun."
Naruto terdiam, sebelum ia tersenyum tipis.
"Jika itu terjadi, mungkin aku akan mencoba mencapainya dan mengatakan padanya jika aku mencintainya."
"Kau mendengarnya sendiri bukan, Ayame Shaga."
Heika tersenyum kecil dan menoleh kearah putrinya yang tengah menguncir rambutnya dengan ikatan yang rapi, ia mengambil kacamata tebal dan memakainya, iris violet itu mulai mengalirkan air mata yang menuruni pipi porselen miliknya. Shaga menatap kearah Naruto yang tersenyum kearahnya.
"Ak... Aku senang mendengar pernyataanmu... Naruto-kun... Aku tidak menyangka jika kau memiliki perasaan yang sama denganku..."
"Jadi, bisakah aku mendengar jawaban darimu, Shaga."
"Uhm... Aku menerimanya."
Sang raja tersenyum lebar dan dengan pelan menepuk tangannya membuat perhatian kedua orang didepannya menatap kearahnya.
"Baiklah jika begitu, kalian akan bertunangan mulai sekarang, aku akan mengurus masalah pengumuman pertunangan antara kalian secepatnya..."
Ucap Sang raja membuat Naruto dengan cepat menghentikannya.
"Maaf, Heika. Tapi aku memiliki satu permintaan."
"Uhm?, katakan apa yang kau inginkan, putra menantu."
Ucap sang raja membuat Naruto merona tipis karena digoda oleh Calon ayah mertuanya, Naruto berdehem sejenak sebelum ia menatap sang raja dengan serius.
"Maaf, Heika. Tapi bisakah pertunanganku dengan, Shaga-Hime disembunyikan dulu, aku tahu ini kurang sopan tapi ada beberapa hal yang harus aku lakukan sebelum aku menyatakan diriku sebagai tunangan dari Shaga-Hime."
Ucap Naruto membuat Shaga dan King Redric menatap Naruto yang serius dengan tatapan bingung dan penasaran.
"Memang ada urusan apa sampai kau meminta pertunangan ini disembunyikan, Putra Menantu."
Tanya Sang Raja, Naruto terdiam sebelum ia menatap lurus kedepan.
"Aku memiliki masalah yang harus aku selesaikan diturnamen antar Divisi di Academy nanti, lalu beberapa bulan setelahnya aku harus berhadapan dengan mantan tunanganku, Hyuga Hinata dipuncak Temple of Moon, untuk mengembalikan kehormatan Clan Namikaze yang diinjak-injak oleh Heiress Clan Hyuga itu."
Ucap Naruto dengan serius membuat Shaga dan sang raja menatap Naruto sejenak sebelum sang raja mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan mengabulkan permintaanmu, Putra menantu, sampai masalahmu selesai aku akan menutupi pertunangan ini, bagaimana putriku, kau setuju."
"Ya, aku setuju, aku juga masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan dengan kakek."
Ucap Shaga setuju, Naruto tersenyum lembut kearah Shaga membuat sang Hime-sama merona malu.
"Terimakasih, Hime."
.
.
.
"Tu-Tunggu apa?... Kau sudah apa tadi?."
Diperjalanan pulang dari pesta dikereta kuda yang dipakai oleh keluarga Namikaze terlihat Kushina tengah menatap sang putra yang bersedekap selagi menyenderkan punggungnya kebantalan tempat duduknya.
"Aku sudah bertunangan..."
Naruto mengatakan itu dengan nada malas sementara tak menyadari sang ayah dan sang ibu yang menatapnya dengan mata berkedip-kedip. Naruto menghela nafas melihat ketidak percayaan orang tuanya.
"Naruto, dengan siapa kau bertunangan?."
Naruto menatap kearah sang ayah, sebelum Naruto menghela nafas melihat ketidak percayaan orang tuanya.
"Aku bertunangan dengan Tuan Putri, Shaga-hime... Hey!, ada apa dengan tatapan meragukan itu!."
"Naruto... Setelah ini, kau pergi kekamarmu dan istirahatlah, ibu akan membuatkan Soup panas kesukaanmu dan besoknya kau akan merasa lebih baik."
"Benar apa yang dikatakan ibumu, Naruto. Kau harus beristirahat besok... Serahkan masalah Clan pada ayah."
Naruto sweatdrop melihat ayah dan ibunya yang mengira jika dirinya tengah sakit demam hingga berhalusinasi bertunangan dengan tuan putri Shaga. Naruto menghela nafas, sudah ia duga ini akan terjadi, Naruto mengeluarkan gulungan perkamen dan membukanya didepan mata ayah dan ibunya yang langsung terdiam melihat tulisan diperkamen itu..
Minato dan Kushina dengan cepat menyambar perkamen ditangan Naruto dan membacanya dengan intens, keduanya membaca dengan ekspresi serius sebelum iris mata Minato dan Kushina melebar sempurna.
"I-Ini serius..."
Kushina bertanya dengan nada aneh, Naruto menghela Nafas sebelum ia menatap serius kearah ayah dan Ibunya.
"Ya, itu seratus persen benar, segel dan tanda tangan disana sudah jelas milik Yang Mulia, King Redric."
Kushina dan Minato terdiam melihat Naruto yang memasang ekspresi serius sebelum mereka mengalihkan pandangan mereka pada perkamen ditangan mereka.
[Dengan kuasaanku sebagai Raja Alvarez, Aku, Redric Atrux Alvarez III memberikan gelar kebangsawanan [Duke] pada Putra Menantuku, Namikaze Naruto. Aku juga menyerahkan sebuah wilayah didaerah Utara kerajaan Alvarez untuk wilayah kekuasaan Duke, Namikaze Naruto. Gelar dan wilayah ini diberikan pada Namikaze Naruto atas resminya Namikaze Naruto menjadi bagian anggota kerajaan dengan pertunangan Resmi dengan Putriku, Ayame Alvarez Shaga Semoga dengan gelar ini, Duke Namikaze Naruto bisa memberikan kemakmuran dan kesejahteraan pada Kerajaan Alvarez.]
Minato dan Kushina menatap kearah Naruto yang memejamkan matanya.
__ADS_1
"Anakku..."
"... Telah menjadi seorang Duke."