
"Ma-Master... Ka-Kau tidak boleh melakukan ini..."
"Uhm?, kenapa, apa kau tidak menyukainya, Jeanne..."
"Ti-tidak, ak-aku... Yan!, Ma-Master, Hentikan atau aku... Aku akan Kya!..."
"Kau tahu?, suaramu sangat menggoda... Aku jadi ingin dan semakin ingin melakukan ini denganmu..."
"Ah~, Ma-Master... It-Itu... Ja-Jangan disana..."
"Heh~, jadi disini titik 'itu'?. Ini semakin memudahkanku..."
"Kya!, Master... He-Hentikan, ak-aku tidak sanggup jika... Nnnn~, kau memperlakukanku seperti ini!... Aku... Aku akan.. kyaaaaa~..."
Naruto tersenyum puas melihat Kearah Jeanne yang tergeletak didepannya dengan keringat yang membasahi tubuh mulusnya itu, pandangan wajah sayu, dan hela nafas yang memburu membuat kesan Seksi terpancar dari Jeanne... Naruto mendekatkan kepalanya pada telinga Jeanne dan menghebuskan nafasnya pelan pada telinga itu, Jeanne merinding ketika merasakan hembusan nafas hangat Masternya... Jeanne merasakan sensasi aneh ketika Masternya berbisik dengan lembut ditelinga-nya.
"Semua telah selesai..."
Suara lembut itu membuat tubuh Jeanne merinding sebelum akhirnya ia menyerah dan merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang kini berantakan, nafas Jeanne masih memburu, keringat juga memenuhi setiap inchi tubuh mulus itu...
Naruto mempelebar senyumannya dan perlahan mengerakan kepalanya menuju samping dimana ia melihat Ophis dan Maria tersentak ketika Naruto menatap mereka berdua, Naruto tersenyum melihat rona merah memenuhi wajah mereka...
"Saa, sekarang giliran kalian berdua... Kemarilah, kita akan bermain sampai puas..."
Ophis dan Maria menatap kerah Jeanne yang berada diatas ranjang, melihat bagaimana Naruto memperlakukan Jeanne, sudah jelas mereka tidak ingin merasakannya... Maria dan Ophis dengan kompak mengelengkan kepala mereka, Naruto yang melihatnya hanya tersenyum sebelum ia beranjak dari ranjang dan mendekati kedua Loli imut itu... Maju, mundur, maju, mundur... Duk!
Ophis melebarkan matanya ketika punggungnya telah berhimpitan dengan tembok sementara Maria, karena ia adalah hantu maka ia berhasil lolos karena tubuh Transparannya membuatnya menembus tembok, Naruto mempelebar senyumannya melihat Ophis yang sudah tersudut...
"Saa... Ophis-chan, saat-nya bermain..."
Iris Ophis mengecil ketika Masternya semakin mendekatinya dengan tangan yang dilapisi cairan berbau khas yang menyeruak dihidung, tangan Masternya yang terlumuri cairan itu bergerak secara menjijikan... Sudut iris hitam itu kini mulai mengeluarkan air mata ketika melihat Naruto sudah ada didepannya dengan senyuman lebar yang membuatnya terlihat seperti seorang pedofil yang bersiap menerkam...
"Ma-Master... Aku tidak-,"
"Saatnya Main!..."
"Kyaaaaa~."
Dan teriakan seorang gadis yang ternodai bergema dimansion Namikaze. Maria memejamkan matanya, dengan ekspresi penuh penyesalan ia terbang meninggalkan kamar dimana Jeritan Ophis terdengar...
"[Ophis-chan... Maafkan, Onee-chan mu ini...]"
.
.
.
Dikamar Naruto saat ini sang pemilik kamar telah memasabg senyuman puas melihat kearah Jeanne dan Ophis yang terkapar diatas ranjang yang berantakan dan penuh dengan cairan ditubuh kedua perempuan cantik itu, wajah sayu dengan rona merah dan deru nafas yang memburu membuat kedua perempuan itu memberikan pemandangan yang mengairahkan... Naruto beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kekamar mandi untuk membersih tubuhnya yang lengket akibat keringat dan cairan yang menempel ditubuhnya... Jeanne dan Ophis menatap kepergian Naruto dengan wajah sayu.
"Ma-Master... Mau kemana?..."
Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang dimana ia melihat Ophis dan Jeanne bergerak merangkak menuju kearahnya, Naruto tersenyum tipis.
"Aku ingin membersihkan tubuhku, dan sebaiknya kalian juga melakukannya karena tubuh kalian saat ini dipenuhi cairan 'itu'..."
"Eeeh~, nanti saja... Mari kita main lagi~,"
"Benar, Mari bermain lagi, Master~."
Naruto terdiam sebelum ia mendengus pelan dan menatap kedua perempuan cantik yang mengeluarkan suara manja itu dengan pandangan datar.
"Kalian berdua tadi menolak melakukannya dan sekarang kalian malah ketagihan dan menginginkannya lagi?."(Naruto).
"Heh~, kami tidak tahu jika 'itu' ternyata sangat nikmat~."(Jeanne).
"Benar, kami sekarang ingin merasakannya lagi, lebih dan lebih lagi!, ayo Master~, lakukan dengan kuat seperti tadi~."(Ophis).
Naruto terdiam mendengar nada manja dari kedua perempuan cantik jadi-jadian didepannya, Naruto menatap kedua perempuan yang saat ini tengah memasang pose yang bisa membuat laki-laki manapun mimisan, Naruto menatap pose erotis itu dengan pandangan datar sebelum ia menghela nafas.
"Jeanne, Ophis... Kalian tahu, Pijat Rileksasi memang nikmat namun melakukannya secara berlebihan hanya akan merusak tubuh kalian, aku ada urusan penting hari ini, jadi sudahi dulu hari ini..."
"Eeeh~, tidak, Master~."
Naruto mengabaikan teriakan merengek dari Jeanne dan Ophis dan masuk kekamar mandi, sesampai didalam Naruto menatap tubuhnya yang telah terciprat cairan licin berbau khas yang membuat rileks... Naruto tersenyum tipis.
"Clan Yamanaka, Clan yang pandai mengurus tanaman bunga ternyata bisa mengeluarkan Minyak aroma terapi dengan cepat, baru saja kemarin kami bekerja sama dan sekarang mereka bisa mengeluarkan Minyak aroma terapi bunga Lavender ini?, well... Menjalin kerjasama untuk meningkatkan penghasilan Clan berjalan Lancar, Ayah memang hebat."
Naruto berguman sebelum ia mengulas senyuman lalu dengan lembut ia menyiram air ketubuhnya, Naruto memejamkan matanya dan memulai menikmati mandi pagi-nya.
.
.
.
Setelah melakukan rutinitas pagi, Naruto kini berjalan dilorong dengan senyuman tipis diwajahnya, hari ini suasana hati pemuda yang menjadi pewaris selanjutnya dari Clan Namikaze ini tengah bagus... Naruto terus menebar senyuman disepanjang perjalanannya tanpa menyadari beberapa maid yang berpapasan dengan jadi salah fokus dan akhirnya menabrak Maid yang ada didepannya...
"Kya!."
Naruto menoleh kebelakang sebelum ia tersenyum melihat para maid tengah saling tumpang tindih satu sama lain, Naruto menatap itu sejenak sebelum ia meninggalkan para Maid yang tengah merona malu.
Naruto terus melanjutkan perjalanan-nya sampai ia berhenti tepat disebuah pintu besar, Butler yang ada disebelah pintu dengan cepat membukaan pintu itu dan mempersilahkan Naruto untuk masuk, Naruto tersenyum pada Butler itu sebelum ia melangkah masuk kedalam...
"Ah, kau sudah bangun, Nak?."
Naruto menatap kearah seorang pria yang bisa dibilang sangat mirip dengan-nya hanya saja pria itu memiliki usia yang lebih tua dari-nya. Naruto tersenyum tipis pada pria tampan yang merupakan kepala Clan Namikaze saat ini, Namikaze Minato... Disebelah Minato terdapat seorang wanita cantik bersurai merah panjang dengan iris Violet tengah mengendong seorang anak kecil berusia sekitar tiga tahun yang sangat mirip dengan Naruto, hanya saja itu versi perempuan-nya. Wanita cantik itu adalah istri dari ayahnya dengan kata lain ibunda dari Naruto... Siapa lagi jika bukan Namikaze Kushina. Naruto tersenyum tipis dan melangkah menuju sofa keluarga dan duduk disana.
"Pagi, Ayah, Ibu dan, Naruko-chan."
Naruto menyapa sebelum ia meminum teh miliknya yang baru saja disediakan oleh Butler dibelakang-nya, Minato dan Kushina tersenyum tipis.
"Sepertinya hari ini kau sangat bahagia, Nak. Apa terjadi sesuatu?."
Naruto menaikan satu alisnya menatap bingung Minato selagi ia meletakan cangkir miliknya, Naruto terdiam sejenak sebelum ia tersenyum tipis.
"Ya... Aku tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ku setelah mengetahui jika kita berhasil melakukan perubahan besar pada Clan Namikaze ini, Ayah."
Minato dan Kushina terdiam sebelum mereka mengulas senyuman kecil, "semua ini berkatmu, Nak. Semua rancangan yang kau buat telah terbukti ampuh, khususnya sistem pertanian dengan sistem Rotasi dan juga pergolakan ekonomi dalam Clan, berkat itu kini kita tidak perlu lagi bergantung pada Clan lain... Dan lagi, sesuatu yang cukup mengejutkan melihat kau berhasil menjalin kerjasama dengan [Blacksmith Tenma Works] berkat bantuan dana yang diberikannya Clan kita kini benar-benar bisa mandiri..." ucap Minato, Naruto mengulas senyuman tipis.
"Sistem tanam Rotasi akan menyuburkan tanah dan mencegah patogen serta hama yang biasa menyerang satu tanaman, dengan sistem ini kita bisa mendapatkan kualitas hasil panen yang lebih baik, lalu pergolakan ekonomi dalam Clan, jika kita membeli barang keluar maka uang itu akan mengalir begitu saja keluar, namun jika kita melakukan kegiatan ekonomi didalam Clan maka uang itu hanya akan kembali pada kita, memang ada yang mengalir keluar namun itu hanya sebatas pajak untuk keluarga kerajaan..."
Naruto menyesap teh miliknya untuk menyegarkan kerongkongannya selagi ayah dan ibunya tengah tersenyum kearahnya...
"Entah kenapa sekarang kau terlihat bisa diandalkan, Nak. Kau yang sekarang sudah memiliki pengetahuan sebagai seorang pemimpin, dengan begini aku bisa tenang dalam masa pensiunku."
Minato mengatakan itu dengan lembut sementara Kushina disebelahnya memasang ekspresi sedih, Naruto yang mendengar perkataan ayahnya terdiam dengan ekspresi rumit... Naruto menghapus ekspresi rumit diwajahnya dan memasang ekspresi seolah-olah ia tidak mengetahui apapun.
"Apa yang ayah katakan?, Ayah masih harus memimpin Clan Namikaze selama beberapa tahun kedepan, lagipula aku masih terlalu hijau untuk memegang nasib banyak orang dipundak-ku... Brrr... Memikirkannya saja sudah membuatku merinding."
Naruto memasang senyuman konyol yang melenyapkan suasana sedih disekitar tempat itu, Kushina tersenyum tipis kearah Naruto, tingkah konyol Naruto bisa membuat rumah ini terasa lebih hangat.
"Benar apa kata Naruto, kau harus terus memimpin Clan Namikaze selama beberapa tahun kedepan... Clan ini masih membutuhkanmu, Minato."
"Hahahaha~, begitu ya?, aku rasa aku harus memimpin Clan ini lebih lama lagi."
Minato tertawa renyah tanpa menyadari ekspresi rumit dari Naruto dan Kushina... Naruto mengepalkan tangannya dengan erat.
'Ayah...'
Naruto melemaskan tangannya ketika ia mendengar suara pintu terbuka, ketiga orang disana serempak menoleh kearah sampingnya dimana mereka melihat kepala Maid Yuri Alpha tengah berjalan kearah mereka dengan ekspresi datar seperti biasa.
Yuri menundukan kepalanya sebelum ia menegapkan tubuhnya dan menatap kearah Naruto yang juga menatapnya, "Naruto-sama, ada yang mencari anda." ucap Yuri membuat satu alis Naruto terangkat.
"Siapa?."
"Tenma-san."
__ADS_1
Naruto terdiam selama beberapa saat sebelum ia mengulas seringai kecil diwajah tampan-nya.
"Begitu... Aku tidak menyangka jika mereka menyelesaikannya dengan cepat... Maaf, Ayah, Ibu. Aku harus pergi menemui Tenma-san. " ucap Naruto bangkit dari duduknya dan berjalan bersama Yuri meninggalkan Minato dan Kushina yang menatap kepergian Naruto dengan bingung.
.
.
.
- Naruto Pov -
"Yo, akhirnya kau datang juga, Bocah emasku."
Orang yang menyapaku saat ini adalah orang yang dianggap sebagai Penempa besi terbaik diseluruh kerajaan [Alvarez] sebab dialah yang memperkenalkan [Katana] yang saat ini merupakan senjata paling digemari oleh para bangsawan dan para prajurit, Tenma-san. Aku tersenyum mendengar sapaan-nya.
"Kau masih sibuk seperti biasa ya, Tenma-san."
Aku berkata seperti itu selagi mataku menatap kesekeliling dimana banyak sekali blacksmith yang tengah sibuk melakukan kegiatan memproduksi senjata, hawa panas, dan bunyi dentingan palu dengan logam menjadi melodi ditempat itu, Tenma-san tersenyum padaku.
"Ya, semua ini berkat senjata-senjata barumu, kau tahu mereka semua mulai laku layaknya permen manis difestival merlin."
Tenma mengatakan itu sambil tertawa sementara aku hanya tersenyum tipis mendengarnya... Mereka, senjata-senjata yang baru saja aku buat, Naginata, Wakizashi, Kusari Kama, dan Sai. Adalah senjata yang aku ciptakan dengan kemampuanku sebagai Magieister Crafting... Dan seperti kata Tenma-san tadi, mereka mulai populer dan dipesan dengan massal, lalu hasilnya Tenma Works hampir sibuk setiap hari membuat pesanan-pesanan itu.
Meningkatnya penjualan senjata berimbas dengan Clanku yang menerima keuntungan dari penjualan senjata itu, 70-30. 70 untuk Clanku dan 30 untuk Tenma Works, itu harga yang pantas sebab kita menyangkut masalah Clan bukan personal, lagipula senjata itu adalah hasil ciptaanku, hak paten senjata itu ada padaku... Aku menyerahkan Hak paten itu untuk Tenma Works karena kami adalah rekan namun jika suatu saat ia berkhianat maka aku akan menghancurkannya... Seperti perkataan Main Character dari WN yang pernah aku baca... "Kepercayaan adalah modal utama dalam bisnis, jika kau mengkhianati-nya maka kami akan menghancurkan bisnis mereka." yaaa... Itu bisa aku terapkan didunia ini, baik pada sekutu... Tiada ampun pada musuh?, ya kira-kira seperti itu.
"Senang mendengarnya, Tenma-san. Oh ya?, bagaimana hasil project kita?, apa sudah selesai?."
Ketika aku berkata seperti itu wajah Tenma menjadi berbinar semangat, ia mengangguk cepat.
"Ya, itu sudah selesai. Dan kami akan mencobanya sekarang."
Oh... Seperti yang diharapkan dari Orang yang dijuluki pandai besi nomer satu kerajaan Alvarez, peforma kerja yang menakjubkan tidak salah aku menyerahkan Project penciptaan senjata itu pada Blacksmith Tenma Works.
"Baiklah, akan aku tunjukan bagaimana cara menggunakannya."
"Baiklah, ikuti aku bocah."
.
.
.
Dihalaman yang cukup luas aku dibuat terpukau dengan benda besar didepanku, aku terkagum melihat sebuah maha karya dihadapanku... Tenma-san yang ada disebelahku meneteskan air mata melihat betapa indahnya benda didepan kami, Yuri-san hanya bisa membuka dan menutup mulutnya seolah ia telah kehilangan kata untuk mengekspresikan keterkejutannya.
"Hiks... Sungguh karya yang indah, karya indah ini diciptakan oleh puluhan penempa besi yang merupakan kenalanku... Hiks, uwoo sungguh indah sekali!.."
Tenma-san berkata dengan mendramatisir, aku mengabaikan hal itu dan berjalan mendekati benda besar didepanku, aku menyentuh permukaan kasar benda itu, selagi mataku terkagum menatap benda didepanku. Benda berbentuk seperti sebuah Crossbow besar ini adalah senjata yang pernah menjadi terror diduniaku dulu pada abad pertengahan, [Ballista].
"Nee, Tenma-san... Kau sudah menciptakannya berdasarkan struktur gambar yang aku berikan padamu bukan?."
Aku berucap tanpa menoleh, aku mengelus permukaan kasar benda itu, tektur kasar memenuhi indra perabaku. Tenma-san nampak berpikir sejenak sebelum ia tertawa bangga.
"Kami cukup kesulitan memenuhi khayalanmu, tapi entah bagaimana kami berhasil membuatnya sesuai struktur gambarmu, Nak. Lihatlah ini..."
Tenma-san berjalan dan ia kenaiki Ballista dengan tangga yang terpasang disana, aku menatapnya sejenak sebelum mengikutinya menaiki tangga kayu itu untuk menuju keatas ballista, kini aku berada diatas tempat yang hanya memuat 2 orang berbentuk lingkaran layaknya mangkuk, aku melihat beberapa pengendali sederhana yang terbuat dari beberapa besi dan kayu... Aku melihat semua itu dengan tatapan kagum... Ini sesuai perkiraanku.
Tenma-san tersenyum melihat kekagumanku, "ya... Ini adalah benda yang hebat, aku tidak pernah berpikir disisa hidupku ini aku akan terlibat dalam pembuatan senjata termuktahir abad ini." ucap Tenma dengan nada senang didalamnya, aku tersenyum puas melihat semua benda yang aku yakin adalah alat gerak dari Ballista ini, setelah puas aku menoleh kearah Tenma-san.
"Tenma-san, apa kau sudah menyiapkan 'anak panah' yang aku minta?."
"Tentu, kami menciptakannya sehari setelah benda ini diselesaikan... Lihat mereka tengah membawanya."
Aku mengalihkan pandanganku dan melihat beberapa penempa tengah membawa anak panah besar dibahu mereka, aku tersenyum melihat anak panah yang saat ini tengah terpasang diatas Ballista, Tenma disebelahku juga ikut tersenyum.
"Baiklah, Nak. Sekarang tunjukan pada kami apa yang bisa senjata ini lakukan."
Ucap Tenma-san sambil menepuk bahuku pelan, aku menoleh kearahnya sebelum menyeringai tipis.
Setelah mengatakan itu Tenma-san melompat turun dan ini adalah saatnya aku beraksi, aku menoleh kearah pegangan dikanan dan kekiriku yang merupakan benda untuk mengarahkan benda ini kekanan maupun kekiri, aku mengeser moncong tembak kekiri dimana disana terlihat sebuah batu besar berada. Aku melirik kesampingku dimana sebuah tuas berada didekatku, tanpa menunggu waktu lagi aku mengenggam kuat dan menarik tuas itu, hal itu membuat Anak panah tertarik kebelakang secara otomatis... Suara deretan tanda dimana anak panah telah sampai pada posisi lontaran maksimal, tiba-tiba sebuah tombol merah terbuka dari ujung alat pengerak ditangan kananku.
"Yosh, kini kita lihat sehebat apa senjata ini..."
Aku menyeringai kecil dan dengan cepat menekan tombol merah didepanku dan seketika...
Clik!
Wuusssh!
Blaaaaaaaar!
Setelah menekan tombol itu anak panah berukuran besar itu terlontar dengan kecepatan tinggi dan menghancurkan batu besar yang menjadi sasarannya, dentuman besar membuat sekitar bergetar hebat... Debu yang menghalangi pandangan perlahan menghilang dan terlihatlah batu besar yang berlubang akibat lesatan anak panah logam itu, tidak sampai disana anak panah itu juga menghancurkan beberapa pohon sebelum menancap ketanah dan membentuk kawah lumayan besar.
Hening...
Tidak ada yang bersuara semua terlalu terkejut dengan daya hancur yang diberikan oleh Ballista ini... Aku terdiam selama beberapa saat sebelum perlahan menyeringai tipis dan perlahan aku bertepuk tangan.
"Sungguh!, sungguh maha karya yang luar biasa!."
Terpancing oleh ucapan kekagumanku para Blacksmith tersadar dari keterkejutan mereka dan mereka langsung bersorak meriah, mengumandangkan suara keberhasilan mereka, aku tersenyum sebelum aku melompat turun dari kendali Ballista dan akupun disambut oleh tepukan bahu dari Tenma yang tertawa keras selagi air mata mengalir membasahi pipinya. Aku hanya bisa tersenyum menanganggapi pujian yang diberikan Tenma-san. Sementara Yuri menatapku dengan pandangan lembut... Tanpa aku sadari, aku mulai dikenal sebagai Heiress yang jenius dan juga ramah...
... Ramah?, aku rasa aku tidak seramah itu... Kini hari mulai gelap dan diruangan dengan minim Cahaya aku menatap kedepanku dimana seseorang berpakaian hitam dengan rompi abu-abu yang menyelimuti tubuhnya plus sebuah topeng Gagak yang menutupi wajahnya membuat aura misterius mengeliling orang itu, Aku mendekat kearah orang itu.
"Jadi, Crow, bagaimana hasil pembersihanmu?."
"Kami sudah melakukan penyelidikan, dan benar apa yang Naruto-sama pikirkan, ada mata-mata dari Clan lain didaerah Namikaze."
Crow berkata dengan nada serius selagi ia mengeluarkan gulungan perkamen dan menyerahkannya padaku, aku terdiam sebelum menerima dan menbaca perkamen itu, alisku berkerut melihat daftar nama yang ada disana...
"20?, mata-mata yang mengawasi kita ada banyak juga ya?."
Aku berkata seperti itu dengan nada mengejek, aku menatap kearah Crow yang juga menatap kearahku.
"Crow, apa kau sudah mengetahui dari Clan mana saja Mata-Mata ini berasal?."
"Kami sudah menyelidiki-nya dan hasilnya 5 dari Clan Uchiha, 8 dari Clan Senju dan Otsutsuki, 3 dari Clan Uzumaki, dan 3 lagi dari Clan Hyuga."
Hm... Rupanya para Clan keparat itu menggunakan taktik Spionase?... Heh, taktik yang cukup bagus namun sayangnya itu tidak berlaku untukku... Eh?, tunggu sebentar... Yang baru saja dikatakan oleh Crow baru 19 orang lalu satunya berasal darimana?. Ketika aku menoleh kearah Crow ia membuka topengnya dan memasang wajah malas selagi tangannya mengaruk surai nanas-nya.
"Inilah yang merepotkan, satu mata-mata berhasil lari, lima anggotaku berusaha mengejarnya namun kemampuan mata-mata itu diluar kemampuan kami, dan hanya inilah yang berhasil kami bawa dari Mata-mata itu."
Shikamaru, itulah nama dari Ketua Anbu buatanku menyerahkan sebuah benda padaku, aku menerima benda itu dan menatapnya dengan alis bertaut.
"Topeng?..."
Ya, Shikamaru mengangguk atas pertanyaanku, topeng ini mirip dengan topeng Anbu namun bentuknya polos, aku mencoba melihat bentuk dari topeng ini, sudah kuduga aku tidak mengetahui topeng ini... Apa ada kelompok yang sama seperti unit anbu milik-ku?... Jika ia maka... Sudah pasti ini akan menjadi masalah yang merepotkan. Aku menghela nafas.
"Begitu, ini merepotkan... Kita tidak bisa mengetahui apa yang sudah diketahui oleh mata-mata itu..."
Aku berkata dengan nada lelah, ayolah aku sudah disibukan dengan perombakan besar-besaran untuk Clan Namikaze dan saat ini aku harus berurusan dengan orang yang tidak aku ketahui... Aku menghela nafas lelah dan menatap kearah Shikamaru yang menatap malas padaku.
"Shikamaru, aku ingin kau memperketat keamanan disekitar daerah Namikaze, jika ada orang dengan gerakan mencurigakan bunun dia ditempat... Ingat, lakukan secara halus, mengerti?."
Shikamaru terdiam sebelum ia memakai kembali topeng gagaknya dan perlahan menghilang dalam gelapnya ruangan, aku menatap kepergian Crow dengan pandangan datar sebelum aku melihat kearah topeng ditanganku...
"Kira-kira siapa orang yang memiliki topeng ini?."
Aku bergumam pelan sebelum aku menghela nafas, tidak ada guna-nya aku memikirkan hal ini, lebih baik aku simpan topeng ini dan melanjutkan kembali rencanaku... Namun kali ini aku harus lebih hati-hati sebab Clan lain mulai memantau Clanku.
"Heh~, tidak akan aku biarkan kalian mendapatkan informasi apapun dari Clanku, tidak sedikitpun..."
Aku menyeringai kecil sebelum aku pergi meninggalkan tempat itu dalam keheningan yang suram...
.
.
__ADS_1
.
Pagi hari berikutnya, aku kini tengah melihat para Unit spesial selain [Anbu] yaitu Unit Maid [Pleiades] tengah melakukan latihan, aku menikmati segelas teh hangat dan beberapa cemilan yang telah disiapkan oleh Kepala Maid, Yuri Alpha khusus menemaniku melihat latihan mereka... Aku tersenyum ketika para maid melihat kearahku dan mereka dengan kompak mengalihkan pandangan mereka dengan rona merah diwajah mereka... Uhm?, mereka sedang demam?.
"Baiklah!, hari ini kita akan kembali melakukan latihan salah satu dari Matrial Arts khusus [Rokushiki] yaitu [Shigan]... [Shigan] adalah serangan jarak dekat yang mengandalkan kecepatan yang sangat tinggi... Aku akan mencontohkan seperti apa menggunakan [Shigan]."
Aku menatap kearah Yuri-san yang memimpin jalan-nya latihan, Yuri berdiri didepan sebuah Dummy kayu dengan pandangan serius, Yuri membuat kuda-kuda... Hmm kuda-kuda yang bagus, aku mengangguk dalam hati selagi aku meminum tehku dan melihat Yuri-san bersiap-siap melakukan serangan...
"[Shigan]!"
Jleb!
Brrrrruuuu!
Aku menyemburkan tehku ketika aku melihat apa yang baru saja terjadi didepanku, aku melihat seorang Yuri-san menusuk Dummy dengan jari telunjuknya dengan kecepatan tinggi hingga Dummy itu berlubang layaknya baru saja terkena peluru dari senjata api!, sungguh hal yang kenakutkan mengingat jika ia melubangi Dummy itu menggunakan Jari!, Jari!?.
Bukan hanya aku yang terkejut melihat hal itu para Maid yang lain nampak terkejut melihat kepala Maid mereka bisa melakukan hal luar biasa seperti itu, Yuri-san tersenyum dan menatap kearah para Maid.
"Kalian akan berlatih menguasai teknik ini, ingat ini adalah Matrial berharga yang diberikan oleh Tuan Muda, Naruto-sama untuk kita, agar kita dapat membantu Clan Namikaze disaat terdesak!, jadi berlatih dengan keraslah dan buat Clan ini bangga karena memperkerjakan Maid hebat seperti kita!."
"Yaaaa!."
Yuri-san... Kau pemimpin yang luar biasa, aku menatap ketengah lapangan dimana para Maid tengah berlatih seperti apa yang dicontohkan oleh Yuri-san tadi, aku melihat Yuri-san tersenyum kecil sebelum ia berjalan kearahku.
"Bagaimana, Naruto-sama?. Bukankah mereka terlihat bersemangat?."
Aku menatap kearah Yuri yang berada disebelahku, aku tersenyum tipis dan mengalihkan pandanganku pada para maid yang tengah melakukan latihan dengan serius.
"Harus aku akui, mereka semua berlatih dengan semangat... Ini pasti berkat kemampuan kepemimpinan milik, Yuri-san. Kemampuan memimpinmu berhasil membuat semangat mereka berkobar-kobar, Yuri-san."
"Kata-kata anda terlalu baik untuk saya, Naruto-sama."
Aku hanya bisa mengulas senyuman tipis pada Yuri-san yang nampak muncul rona tipis dikedua pipinya, heh~, dia menyukainya... Aku mengambil cangkir tehku dan menatap Yuri-san.
"Jadi, Yuri-san... Apa kau sudah menguasai Matrial Arts [Rokushiki], aku lihat kau nampak sudah menguasainya?."
Aku mengatakan itu selagi menyesap teh milikku, Yuri-san membenarkan letak kacamatanya hingga itu tertutup oleh cahaya matahari yang memantul dilensa kacamatanya.
"Saya sudah menguasai semua teknik dari Matrial Arts [Rokushiki]."
"Uhuk!."
Aku tersedak teh yang aku minum, apa dia bilang?, semuanya telah dikuasai?... Apa kau monster!... Aku terkejut dalam hati, dengan lembut aku menolak bantuan Yuri-san yang berniat membersihkan mulutku yang basah akibat tersedak teh barusan. Aku menatap kearah Yuri-san dengan senyuman dipaksakan.
"Heh, Yuri-san... Ternyata kau berbakat juga ya?."
"Anda terlalu memuji, Naruto-sama."
Ya... Dan kau menyukainya bukan?, aku hanya bisa memasang senyuman yang dipaksakan, Yuri-san terlalu hebat dalam segela bidang, seorang maid super dan sekarang menjelma menjadi Jenius berbakat... Ada apa dengan Perempuan ini?.
Aku kembali menikmati teh milikku dan melupakan jika perempuan disebelahku ini adalah seorang jenius yang berbakaf, Aku menikmati tehku dengan ten-,
"Naruto-sama!?."
Brrruuu!
Apa lagi!?, tidak bisakah aku menikmati tehku dengan... Tenang!?, aku terbatuk ketika merasakan air teh masuk kedalam tenggorokanku, Yuri-san dengan panik menepuk-nepuk punggungku dengan pelan... Beberapa saat kemudian batukku mereda dan aku langsung saja mendelik tajam kebelakang dimana aku melihat Butler yang baru saja membuat paru-paruku hampir terisi oleh Teh!.
"Ada apa?."
Aku berkata dengan ketus, sudah tiga kali tehku hampir memasuki paru-paruku dan itu tidak menyenangkan... Butler itu mengatur nafasnya yang kacau, sebelum ia menatapku dengan sinar panik.
"Minato-sama!..."
"Ayah?, ada apa dengan ayah?."
"Minato-sama tak sadarkan diri!."
Aku terdiam selagi mataku melebar, Yuri disebelahku juga terkejut dengan berita dari Butler itu...
"Apa!?."
.
.
.
"Anata... Anata... Hiks."
Diruangan dengan interior mewah terbaring diatas ranjang seorang ayahku dengan mata tertutup, kondisi ayahku terlihat menyedihkan seluruh tubuhnya pucat tidak ada rona hidup pada tubuhnya, disebelah ayahku, Ibuku tengah menangis terseduh-seduh... Didepan kami seorang pria tua baya tengah memeriksa keadaan ayahku dengan Magic pengamat, sebuah cahaya lembut mengalir dari tangannya dan masuk kedalam tubuh ayahku... Setelah beberapa saat orang itu menghentikan cahaya magicnya dan menatap kearahku...
"Bagaimana?, bagaimana kondisi ayahku?."
"Maafkan saya, tapi nampaknya Minato-sama, ayah anda tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi, saat ini inti Mana miliknya perlahan-lahan mulai melemah, dan dalam waktu tiga hari lagi... Tidak, Seminggu lagi, Minato-sama akan mati."
Bagaikan disambar petir disiang hari aku dan ibuku begitu terkejut mendengar perkataan pria yang bisa aku sebut sebagai dokter ini, Dokter itu memasang wajah menyesal karena tidak bisa melakukan apapun, ia membereskan barang-barangnya dan meninggalkan aku dan ibuku diruangan itu.
"Anata... Anata... Hiks... Sayang..."
Aku menatap kearah ibuku yang menangis sambil mengenggam tangan ayahku yang sepertinya terasa dingin, aku mengepalkan tanganku dengan erat...
"[Arcux Arletis]..."
Ketika aku mengucapkan nama mantra terkejut itu tiba-tiba tubuh ibuku menegang dan dengan cepat ia menoleh kearahku dengan iris violet melebar sempurna.
"Naruto... Darimana kau tahu nama itu?."
Ibuku bertanya dengan nada terkejut, aku terdiam sebelum aku mengalihkan wajahku tidak berani menatap ibuku... Ibuku nampak terdiam selama beberapa saat sebelum ia memasang senyuman kecut.
"Begitu... Kau mengetahui hal ini dari Azazel-sensei, ya?, dia menceritakan semua itu padamu bukan?.."
Aku terdiam selama beberapa saat sebelum mengangguk pelan, ibuku tersenyum sedih sambil menatap kearah ibuku yang menatap ayahku dengan tatapan sedih, tatapan ibuku itu membuatku sakit hanya dengan melihatnya.
"Ya, Naruto... Ayahmu terkena kutukan Magic [Arcux Arletis], Magic terjahat dan terkejam dalam jajaran Curse Magic didunia ini, Magic ini akan melemahkan targetnya secara perlahan-lahan... Awalnya ayahmu diperkirakan tidak akan bertahan tidak lebih dari 4 tahun namun ia dapat bertahan sampai 16 tahun... Sungguh mengejutkan bukan, dia memang keras kepala... Dia... Dia tidak pernah berhenti untuk memimpin clan ini, ia berjuang demi Clan ini dengan kondisi tubuh yang melemah setiap harinya... Hiks... Ayahmu... Dia... Hiks, pria yang hebat bukan?... Hiks..."
Air mata perlahan jatuh dari iris Violet indah milik ibuku, hatiku terasa diremas melihat air mata itu, aku menundukan kepalaku hingga membuat ekspresiku tidak bisa dibaca oleh siapapun... Ini tidak bisa dibiarkan, ayahku...
Orang yang sangat berarti untukku, orang yang berjuang keras menyelamatkanku dari tangan penculik yang menculikku tepat dihari kelahiranku hingga ayahku harus menderita seperti ini... Hal ini... Hal ini...!, bagaimana bisa aku membiarkan hal ini terjadi!?... Aku harus mencari obat yang akan mematahkan Curse Magic ini, aku harus mencarinya tidak peduli dimanapun itu... Tapi bagaimana aku bisa mencarinya!, lupakan tentang mencari obat itu, aku bahkan tidak tahu obat apa yang harus aku cari!... Dan lagi waktu sangat terbatas!... Ketika aku dirundung keputusasaan sebuah harapan dijatuhkan untukku.
'Master... Maaf menganggu mu tapi aku tahu bagaimana cara mematahkan Curse Magic [Arcux Arletis] yang sedang mengerogoti tubuh ayah Master.'
Suara ini... Ophis?.
"Ophis?, apa kau tahu caranya?."
Masih ada harapan!, aku tidak boleh menyerah disini, Ophis nampak terdiam selama beberapa saat sebelum ia berbicara dengan nada serius.
'Ada satu cara untuk mematahkan Curse Magic [Arcux Arletis], ekor Manticore.'
Manticore?, tunggu bukankah Manticore berasal dari mitologi persia?, makhluk dengan tubuh besar berkepala seperti monster dengan taring tajam dimulutnya, sepasang sayap besar yang mampu membuatnya terbang diudara dan ekornya yang sangat beracun itu... Ekor itu adalah obat untuk ayahku!...
'Ekor Manticore memang beracun tapi racun itu juga memiliki fungsi lain jika digunakan dengan benar, oleskan minyak dari tanaman [Akar Cakar Naga] maka itu bisa menetrakan racun dan bisa juga digunakan untuk mematahkan Curse Magic hebat sekelas [Arcux Arletis]...'
"Aku mengerti, tapi dimana aku harus menemukan Manticore, aku yakin Makhluk ini sama langka-nya dengan Chimera yang kita temui dikota kuno Ligodorian..."
Dan juga, aku yakin makhluk ini lebih merepotkan daripada Chimera sebab selain kuat, sayap dan ekor beracun miliknya akan sangat merepotkan, Ophis terdiam selama beberapa saat sebelum ia berucap.
'Ada satu... Manticore berwarna putih yang disebut sebagai Celestial Manticore, Magical Beast Rank Black-Gold.'
Celestial Manticore!?, nama menakutkan macam apa itu!?, dan lagi dia memiliki tingkatan sama seperti Chimera!?... Tidak!, aku tidak boleh ragu, ini demi ayahku, bahkan jika aku harus menghadapi Dewa sekalipun aku tidak akan takut jika itu demi ayahku!.
"Ophis katakan dimana Manticore itu, aku akan mengalahkannya dan membawa ekornya demi, Ayahku!."
Ophis terdiam selama beberapa saat, didalam Library World Ophis terlihat memasang wajah kesulitan, sebelum ia menghela nafas panjang...
'Celestial Manticore, mendiami satu tempat selama ratusan tahun, Castil melayang... [Avantheim].'
__ADS_1