The Worst One

The Worst One
Chapter 6


__ADS_3

Sudah dua hari berlalu semenjak Naruto dan Kyubi meninggalkan Hirozimon Academy, selama dua hari itu merupakan neraka untuk Naruto, kenapa?, tanyakan saja pada perempuan berbadan bombastis yang disetiap kesempatan selalu menggoda Naruto dengan tubuhnya, mulai dari pakaian yang sengaja ia buka dan seolah mengundang Naruto untuk melihat tubuhnya...,


Tidak hanya itu!, bahkan Kyubi pernah menggodanya saat ia tengah mandi disungai yang tak jauh dari tempat mereka beristirahat, perempuan sableng itu juga ikut mandi dan mengajak Naruto mandi bareng!...,


Ada lagi, ketika sedang beristirahat untuk berkemah karena hari sudah malam, perempuan itu dengan seenak jidatnya tidur diatas pangkuan Naruto dan menjadikan dada Naruto sebagai bantal..., dekatnya wajah Kyubi dengan dirinya membuat Naruto dapat dengan jelas mencium bau harum dari surai merah Kyubi..., dan karena tak kuat menahan godaan aroma tubuh Kyubi, akhirnya Naruto menyerang tub-,


Cubit!


" Ma-Master!, Sa-Sakit..., am-ampun!. "


Ophis mengaduh kesakitan ketika Naruto menarik kedua pipi Ophis dengan kuat, Naruto tersenyum manis namun hal itu berbeda dengan alis dan urat dipelipisnya yang berkedut sejak tadi...,


" apa yang kau narasikan, Ophis..., "


" Am-Ampun Master!, ak-aku tidak akan mengulanginya lagi!.., "


Ucap Ophis, Naruto menatap intens Ophis sebelum ia menghela nafas dan melepaskan cubitannya lalu kembali duduk dan menyandarkan dirinya kepohon, iris matanya menatap kesamping dimana disana seorang perempuan bersurai merah keorangean tengah terlelap dengan damainya...,


Naruto kembali menghela nafas, Ophis menatap Masternya yang tengah menatap kelangit malam, kedua tangan mungilnya tak henti-hentinya mengosok kedua pipinya yang memerah akibat cubitan maut Naruto...,


" nee, Ophis. Kau dulu pernah bercerita tentang Saudarimu kan?, Apa kau bisa ceritakan padaku tentang Saudarimu yang pernah kau bilang padaku dulu. "


Tanya Naruto tanpa mengalihkan pandangannya, Ophis terdiam sejenak sebelum ia berjalan kearah Naruto dan dengan tanpa permisi Ophis duduk dipangkuan Naruto dan menyenderkan tubuhnya didada Naruto...,


" Saudariku, ya..., "


Gumam Ophis pelan, tangan kecilnya menjulur kelangit seolah-olah ingin mengambil salah satu bintang yang menghiasi malam..,


" mereka adalah dua buku yang tercipta setelah aku..., [ The Dream Magic Of Solomon Book] dan [The Destroyed Magic of Solomon Book]..., mereka tercipta dari impian dan keinginan menghancurkan ayah..., "


" Aku mewakili ketidakterbatasan pengetahuan Ayah tentang sihir. Red, mewakili sihir impian Ayah, dan Trihexa, mewakili keinginan Ayah untuk menghancurkan..., kami diciptakan oleh ayah untuk saling melengkapi..., namun karena suatu hal kami terpisah, aku kehilangan ingatan dan sebagai besar kekuatanku, Red dan Trihexa, aku tidak tahu dimana mereka sekarang, aku terjebak didalam perpustakaan itu selama lebih dari ratusan tahun sampai aku bertemu dirimu Master... "


Ucap Ophis, Naruto terdiam dan mendengarkan dengan seksama, sesekali Naruto mengelus lembut surai hitam panjang Ophis..., Ophis memejamkan matanya menikmati elusan Naruto..., Naruto tersenyum tipis.


" kau pasti menyayangi mereka, Ophis. "


Tanya Naruto, Ophis membuka sedikit matanya sebelum ia mendongakan kepalanya dan menatap kearah Naruto yang tersenyum kearahnya.


" tidak, aku malah membenci mereka berdua..., "


Ucap Ophis datar, Naruto menaikan satu alisnya sebelum ia tersenyum dan menepuk surai Ophis...,


" aku rasa kau itu buruk dalam hal berbohong, Ophis. "


Ucap Naruto, Ophis menatap kearah Masternya dengan pandangan bingung...,


" kenapa?. "


" karena, kau merindukan mereka..., kau merindukan setiap hari yang kau jalani bersama mereka, entah itu pertengkaran atau kesenangan yang kalian lalui..., dan ketika kau mengatakan tentang kedua saudarimu, dimata kosongmu itu terpancar setitik ekspresi sedih, dan itu menjadi tanda jika kau sangat merindukan mereka. "


Ucap Naruto membuat Ophis terdiam, rindu ya..., sekelebat ingatan perlahan melintas dipikiran Ophis, dan perlahan senyuman tipis sangat tipis hingga orang lain yang melihatnya tidak akan bisa membedakan jika ia tengah tersenyum..., namun Naruto dapat melihatnya perlahan ia memeluk Ophis dan membawanya jauh kedalam dekapannya...,


" tidurlah, besok aku akan mengandalkanmu untuk menemukan Reruntuhan Kota Lotus yang kau bilang tak jauh lagi dari sini..., "


Ucap Naruto dengan senyuman lembut, Ophis terdiam sejenak sebelum ia mengangguk paham, perlahan ia mengeliat pelan mencari posisi yang nyaman sebelum ia menutup matanya dan terlelap..., Naruto tersenyum tipis sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap langit malam dan perlahan senyuman tipis itu berubah menjadi senyuman pahit.


" Saudari kah?, sayangnya aku hanya pernah sebentar merasakan rasanya memiliki, Saudari..., "


- Time Skip -


" jadi..., disini tempatnya..., "


Gumam Naruto sambil melihat kota yang telah hancur, berantakan, puing-puing yang terbuat dari tumpukan batu bertebaran dijalan, bahkan pilar yang menjadi pintu masuk Kota Lotus salah satunya telah tumbang dan satunya lagi telah patah setengahnya...,


' ya, ini tempatnya, aku tidak menyangka bahwa kota makmur seperti seperti Lotus City akhirnya hancur juga..., sangat disayangkan..., '


Ucap Ophis lewat Mind Link mereka, Naruto mengangguk dan berjalan lalu menyentuh pilar didepannya dengan lembut..., dilihat dari struktur tempat ini sepertinya kota Lotus telah hancur beberapa ratus tahun yang lalu, pandangan Naruto terarah pada Kyubi yang terlihat terpukau dengan reruntuhan Kota Lotus, iris ruby miliknya terlihat berbinar menatap sekeliling...,


" wow..., aku tidak pernah tahu jika ternyata ada reruntuhan kota dikerajaan [Alvarez]..., "


Gumam Kyubi, Naruto tersenyum tipis melihat Kyubi, ia bertingkah selayaknya gadis kecil yang baru diajak pertama kali pergi ketaman hiburan..., namun tak lama senyuman itu luntur ketika mengingat Kyubi bukanlah gadis sepolos itu, dia berbahaya, untuk dirinya serta...,


' Master, aku merasakan hawa kehadiran sejauh tiga kilometer dari sini..., '


Ucap Ophis, Naruto mengerutkan dahinya, ada yang mengejar mereka berdua?, musuh?...,


" berapa lama kira-kira mereka sampai disini?. "


Tanya Naruto dengan serius, Ophis terdiam sejenak sebelum ia berkata dengan serius.


' dilihat dari kecepatan mereka, mereka akan sampai dalam waktu 5 menit lagi, mereka mungkin berada ditingkat perak atau emas..., '


Ucap Ophis Serius, Naruto terdiam sejenak, sial dilihat dari kecepatannya, mereka sudah pasti memiliki tujuan tertentu, dan jika Asumsi Ophis jitu maka melawan tiga orang dengan tingkat perak hanya akan membuat mereka dalam masalah...,


Naruto berjalan kearah Kyubi dan dengan cepat menarik tangan Kyubi dan membawanya untuk bersembunyi disalah aatu bangunan kosong, Kyubi menjerit pelan ketika Naruto menarik tangannya dan membawanya kesalah satu dinding tembok yang tak jauh dari posisi mereka...,


Perlahan pikiran Negatif muncul dibenak Kyubi, bayangkan saja, berduaan dan dibatasi oleh dinding, lelaki dan perempuan berada dibelakang dinding?, apa yang biasa mereka dilakukan disana?..., perlahan rona merah menghiasi wajah Kyubi, ia bisa merasakan jika kedua pipinya mulai terasa panas...,


" Na-Namikaze-kun, ki-kita tidak boleh melakukan ini..., "


Gumam pelan Kyubi, Naruto menaikan satu alisnya melihat wajah Kyubi yang memerah, nih perempuan sakit?, dan tidak boleh melakukan apa..., baru saja Naruto akan menyahut tiba-tiba ia terdengar suara langkah kaki yang membuat Naruto secara Refleks menarik Kyubi yang ingin melihat asal suara kedalam pelukannya...,


" Na-Na-Namikaze-kun!, ap-apa yang kau-, uhmph! "


Kyubi tidak bisa melanjutkan perkataannya karena bibirnya ditutup oleh tangan Naruto, Naruto memberikan kode untuk jangan berisik...,


" usst~, turunkan tekanan [Mana] milikmu sampai titik terendah, jika kau ingin selamat Senju-san, kau mengerti?. "


Ucap Naruto dibalas Anggukan dari Kyubi, Naruto melepaskan bekapannya dan mengintip dengan hati-hati untuk melihat siapa yang mengikuti dirinya...,


Naruto menyipitkan matanya ketika melihat tiga orang dengan jibah berwarna hitam tengah berdiri tak jauh dari mereka...,


' Assassin?..., untuk apa mereka disini?. '


Gumam Ophis, Naruto mengerutkan dahinya, Assassin?, didunia ini juga ada yang nama pembunuh bayaran..., Naruto menatap serius kearah tiga Assassin yang tak jauh darinya..., apa yang dinginkan Assassin ditempat seperti ini..., apa mereka juga mengincar Artifak?, tidak..., mereka bahkan baru tahu Reruntuhan ini, dirinya?, apa lagi itu, untuk apa orang mengincar dirinya?, dia hanya pecundang yang berasal dari clan miskin..., jika begitu hanya ada satu kemungkinan...,


' mereka mengincar Senju-san..., '


Batin Naruto serius, ia mengalihkan pandangannya kearah Kyubi yang menatapnya dengan pandangan bingung..., ia menghela nafas, tuhan sepertinya membencinya...,


" dengar, Senju-san. Disana ada tiga Assassin jika dilihat dari postur tubuh mereka, aku menduga mereka ada ditingkat perak atau emas, dan sepertinya mereka mengikuti kita sejak kita keluar dari ibukota, jika Asumsiku benar maka mereka tengah mengincarmu, Senju-san..., kau adalah pewaris sah Clan Senju selanjutnya..., mereka pasti akan menangkapmu dan memeras clan Senju, dan jika Clan senju sudah tidak bisa diperas lagi maka kau akan..., "


Ucap gantung Naruto sambil membuat isyarat leher ditebas membuat Kyubi menelan ludah kasar.


" la-lalu apa yang harus kita lakukan, "


Tanya Kyubi dengan panik, mungkin ia bisa saja melawan mereka bertiga karena dia juga berada ditingkat perak namun minimnya info tentang kekuatan musuh dan kurang berpengalamannya ia dalam pertempuran hidup dan mati bisa membuatnya tewas...,


Naruto mengintip kembali sebelum ia berdecih pelan, jika saja ia berada ditingkat yang sama maka mungkin ia bisa menahan mereka dan pergi dari sini, namun itu mustahil..., tidak ada pilihan lain mereka harus mundur dan berusaha mencari artifak dengan meminimalisir tingkat kemungkinan mereka berdua bertempur dengan ketiga Assassin itu...,


" kita mundur secara perlahan, kita tidak akan menang melawan mereka tanpa resiko terluka parah, bersembunyi dan menghindari pertarungan dengan mereka merupakan pilihan terbaik..., "


Ucap Naruto pelan, Kyubi terdiam sebelum ia mengangguk itu pilihan terbaik mereka, mundur dan menunggu tiga Assassin itu pergi dan kembali menyelusuri reruntuhan kota kuno ini...,


Naruto dan Kyubi segera meninggalkan tempat itu dengan langkah pelan, namun tuhan sepertinya tidak mengijinkan hal itu karena entah apes atau apa Kyubi menendang sebuah batu hingga batu itu membentur tembok dan menciptakan suara yang cukup keras...,


Duk!


Naruto dan Kyubi tersentak ketika mendengar suara yang cukup keras, dengan gerakan patah-patah Naruto menatap kearah Kyubi yang terdiam sambil menatap kearah kakinya, seketika wajah keduanya langsung dibasahi keringat dingin...,


" ah, sial..., "


Ketiga Assassin yang mengikuti Naruto berhenti dan nenatap kesamping ketika mereka mendengar sebuah suara, sang Leader yang berada ditengah menatap salah satu Assassin dan memberikan Kode untuk mengeceknya, Assassin itu mengangguk dan perlahan menghilang dalam asap hitam lalu tak lama muncul didekat dinding..., ia berusaha mengintip kedalam dengan perlahan...,


Naruto dan Kyubi bisa melihat dengan jelas tangan dari Assassin itu, keringat dingin mengalir membasahi wajah mereka, jantung keduanya berdegub dengan cepat saat wajah Assassin itu sudah hampir terlihat..., namun sebuah suara membuat Assassin itu langsung mengalihkan pandangannya kebelakang...


" Kyaaa!?..., "


Ketiga Assassin itu langsung mengalihkan pandangannya dengan cepat kesamping, mereka bertiga menatap satu sama lain sebelum mereka menghilang dalam asap hitam, Naruto dan Kyubi menghela nafas lega..., Naruto tersenyum menatap kearah buku yang muncul didadanya.


' Arigatou, Ophis. '


' bukan masalah, Master. '


Naruto menghela nafas lega, beruntungnya ia ingat jika Ophis bisa muncul dimana saja ia mau, dan tadi Naruto menyuruh Ophis untuk mengalihkan para Assassin itu dari mereka dan berhasil.


" kita selamat..., "


Gumam Kyubi pelan, Naruto mengangguk pelan.


" kali ini kita berhasil selamat tapi untuk selanjutnya kita tak akan tahu, "


Ucap Naruto serius, Kyubi terdiam sebelum mengangguk, ya mereka berhasil selamat kali ini tapi jika mereka bertemu lagi maka..., Naruto menghela nafas sebelum ia bangkit dan menepuk-nempuk pantatnya yang berdebu...,


" kita harus segera pergi setelah menyelidiki reruntuhan kota ini, dari yang aku dengar kota lotus dulunya merupakan kota yang makmur, jadi siapa tahu kita bisa menemukan harta karun yang berguna untuk kita..., "


Ucap Naruto, Kyubi terdiam sebentar, Lotus City?..., ia sepertinya pernah mendengar nama kota ini tapi dimana?, selagi Kyubi tenggelam dalan pikiran, Naruto mengeluarkan Ophis dan menatapnya dengan senyuman tipis.

__ADS_1


" baiklah, Ophis. Bisa kau tunjukan jalannya, "


' baiklah, meskipun tempat ini sudah hancur lebur dari terakhir kali aku ingat, namun aku masih tahu tempat dimana ruang harta disimpan..., pergi kearah barat 500 meter dari sini, disana ada sebuah patung dari penguasa kota ini, dibawah patung itu ada sebuah pintu rahasia yang langsung menuju keruang Harta. '


Ucap Ophis lewat mind link, Naruto terdiam sebelum ia mengangguk paham, ia menoleh kesamping dimana Kyubi masih berkutat dengan pikirannya..., Naruto menghela nafas dan menaruh kembali Ophis kedalam pakaiannya...,


" Senju-san, kita harus segera pergi..., "


Ucap Naruto, Kyubi tersadar dari lamunannya dan mengangguk paham..., Naruto mengintip keluar setelah yakin aman, barulah keduanya pergi menuju ketempat yang dikatakan Ophis..., setelah beberapa saat akhirnya keduanya sampai ditempat yang dikatakan Ophis..., dihadapan Naruto dan Kyubi terlihat patung seorang pria dengan pakaian gagah berdiri menatap kearah matahari terbit...,


" patung ini..., apa dia penguasa kota ini?, "


Gumam Kyubi sambil menyentuh patung yang telah berlumur itu, Naruto menatap intens patung didepannya, sepertinya ia familiar dengan bentuk patung ini...,


' Master, sebaiknya kau cepat, aku merasakan tiga Assassin tadi berada tak jauh dari sini..., '


Ucap Ophis, Naruto mengangguk, dan berjalan mendekati Patung besar itu..., Kyubi menatap tingkah Naruto dengan satu alis terangkat, apa yang dia inginkan?..., batin Kyubi..., Naruto melihat patung itu sebelum ia mencari posisi yang nyaman lalu mendorong patung itu sekuat tenaga...,


perlahan iris ruby Kyubi membulat ketika melihat patung itu tergeser dari tempatnya dan terlihatlah sebuah tangga untuk turun kebawah tanah..., Naruto mendengus puas sebelum ia melirik kearah Kyubi.


" ikuti, aku Senju-san. "


Ucap Naruto datar, Kyubi tersentak sebelum ia mengangguk pelan dan mengikuti Naruto turun, setelah kepergian Naruto dan Kyubi patung itu menutup dengan sendirinya...,


Beberapa saat setelah tertutupnya jalan, tiga Assassin yang sebelumnya mengejar Kyubi muncul..., sang leader menatap sekeliling dengan pandangan yang tidak bisa diketahui akibat tudung yang menutupi penglihatannya...,


" sepertinya kita kehilangan jejak mereka, "


Gumam salah satu dari mereka, Sang leader terdiam sebelum pandangannya terkunci pada sebuah patung, ia mendekati patung itu dan menatapnya dengan intens sebelum tatapan teralihkan kebagian bawah patung..., ia merendahkan tubuhnya dan menyentuh permukaan tanah..., salah satu Assassin yang melihat leadenya seperti itu menaikan satu alisnya.


" boss, apa yang sedang kau lakukan..., "


Tanya Assassin itu, sang boss tidak menjawab dan menjulurkan tangannya kedepan dan seketika sebuah lingkaran sihir muncul dan menembakan petir yang langsung menghancurkan patung itu...,


Blaar


Kepulan asap membumbung tinggi, setelah asap menghilang sang leader menoleh kebelakang menatap dua anak buahnya dengan pandangan datar...,


" menemukan mangsa kita..., ayo cepat kita susul mereka. "


Ucap Sang Leader yang dibalas Anggukan dari kedua anak buahnya, ketiga Assassin itu menuruni tangga dengan cepat.


- Change Scene -


Sementara itu di Hirozimon Academy Ayame Shaga tengah membaca sebuah buku, terlihat beberapa kali ia membalik-balik halaman dengan pandangan yang menyiratkan jika ia tidak sedang membaca melainkan tengah melamunkan sesuatu...,


Shaga menutup bukunya dan menghela nafas, ia tidak tahu apa yang terjadi padanya namun tiga hari terakhir ini ia serasa tidak bersemangat melakukan apapun, bahkan ia tidak memiliki semangat untuk menerjemahkan buku tebal itu..., Shaga meletakan kepalanya diatas meja dan menatap kearah lipatan kertas yang tak jauh darinya..., ia mengambil lipatan kertas itu dan membukanya...,


perlahan senyuman kecil terpatri diwajah Shaga..., hanya dengan membaca catatan kecil ini ia bisa merasakan rasa senang dihatinya...,


' kau manis..., aku menyukainya..., '


Perlahan rona merah muncul dikedua pipi Shaga, ia merasakan kedua pipinya memanas ketika ingatan tentang pemuda yang beberapa hari ini menghiasi harinya dengan keisengannya maupun senyumannya..., Shaga dapat merasakan jika degub jantungnya semakin kencang ketika memikirkan pemuda bersurai pirang yang saat ini tengah berada entah dimana bersama sahabatnya..., berduaan dengan sahabatnya..., berduaan saja...,


" Gha!?, ada apa denganku!?..., "


Shaga berteriak dengan frustasi, ia meremas rambutnya pelan, kenapa ia merasa senang ketika memikirkan pemuda itu, kenapa ia merasa rindu ketika pemuda itu tidak ada disini, dan kenapa..., kenapa ia merasa sakit ketika memikirkan pemuda itu bersama dengan sahabatnya entah dimana...,


Shaga perlahan menurunkan kedua tangannya dan menatap kearah kertas yang tergeletak dimeja..., tangan Shaga perlahan menyentuh dadanya...,


" mungkinkah aku..., aku jatuh cinta padanya?..., "


Gumamnya entah pada siapa, Shaga merenung sejenak, apakah ia jatuh hati pada pemuda itu?, ia merasa senang ketika memikirkan pemuda itu, ia merasa kesepian saat pemuda itu tidak ada disini, dan ia merasa sakit dihatinya ketika mengetahui pemuda itu bersama dengan Sahabatnya...,


Shaga menghela nafas, ia tidak mengerti apa yang terjadi padanya, ia perlu berkonsultasi pada seseorang untuk meminta pendapat atas apa yang terjadi padanya...,


" Ara, Shaga-Hime, kau ada disini rupanya?. "


Sebuah suara membuat Shaga mengalihkan pandangannya dan menatap kearah perempuan cantik bersurai pirang yang berdiri tak jauh darinya..., Gabriel, nama perempuan itu..., Shaga yang melihat Gabriel bangkit dan menarik sahabatnya itu untuk duduk saling berhadapan.


" Kebetulan kau ada disini, Gabriel. Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan padamu dan meminta tanggapanmu atas ceritaku "


Ucap Shaga dengan serius membuat Gabriel sedikit berkeringat dingin dan takut, jujur saja ia jarang melihat Shaga serius seperti ini, kecuali apapun yang ingin dikatakan oleh Shabatanya itu sangatlah teramat penting atau darurat.


Gabriel mengangguk, " coba kau jelaskan secara perlahan, Shaga-Hime..., " ucap Gabriel, Shaga terdiam sejenak sebelum ia memantabkan hatinya dan bercerita pada Gabriel tentang hal yang terjadi padanya akhir-akhir ini, sesekali Gabriel mengangguk mendengar cerita Shaga.


" begitulah, Gabriel..., ketika ia ada aku merasakan rasa senang dihatiku, ketika ia tidak ada aku merasa kesepian, dan ketika aku melihat ia bersama perempuan lain aku merasa perasaan sakit dihatiku..., kau tahu apa yang terjadi padaku, Gabriel. "


Tanya Shaga dan mendapatkan tatapan tak percaya dari Gabriel, Shaga menaikan satu alisnya melihat ekspresi Sahabatnya, Gabriel mengeleng pelan untuk menyadarkan dirinya dari dunia fantasynya dan menatap Shaga dengan senyuman ramah.


" ufufu~, nee, Shaga-Hime, itu artinya kau sedang jatuh cinta, senang saat ia ada, kesepian saat ia tak ada, dan cemburu saat melihat ia bersama perempuan lain, semua itu sudah menandakan jika kau jatuh cinta pada pemuda yang kau bilang tadi..., "


" nee..., Shaga-Hime, katakan padaku, apa kau ingin dia berada didekatmu?, apa kau ingin diperhatikan olehnya?, apa kau ingin dia hanya ada untukmu?, "


Tanya Gabriel beruntun membuat wajah Shaga perlahan merona yang semakin lama semakin memerah disetiap pertanyaan yang diajukan Gabriel, namun Shaga menjawabnya dengan anggukam pelan.


Gabriel tersenyum tipis, " itu sudah cukup menjadi bukti jika kau memang menyukai pemuda itu, " ucap Gabriel, Shaga terdiam sebelum ia menyentuh dadanya yang menghangat dan tersenyum tipis...,


Shaga menatap kearah Gabriel dan memasang senyuman manis. " terimakasih, Gabriel. Aku akhirnya mengerti sekarang apa yang terjadi padaku. " ucap Shaga, Gabriel tersenyum sebelum ia mengangguk pelan.


" senang bisa membantu, Shaga-hime "


- Change Scene -


Sementara itu, Naruto dan Kyubi kini tengah berjalan menuruni tangga yang gelap, kedua mengambil langkah dengan hati-hati, namun karena gelap Kyubi tersandung dan kehilangan keseimbangan hingga menubruk punggung Naruto beruntung Naruto berhasil menyeimbangkan tubuhnya yang sedikit oleng akibat tubrukan Kyubi, Naruto menoleh kearah Kyubi dengan datar.


" berhati-hatilah jika melangkah, Senju-san. "


Ucap Naruto, Kyubi langsung menjauh dari Naruto dan mengangguk pelan..., Naruto menghela nafas sebelum melanjutkan langkahnya menuruni tangga, namun lagi-lagi Kyubi tersandung dan menabrak tubuh Naruto lagi...,


Naruto menghela nafas sebelum berbalik dan menjulurkan tangannya kearah Kyubi yang menatap bingung dirinya. " pegang tanganku, akan menjadi malapetaka jika kau terus tersandung dan menabrakku..., " ucap Naruto dengan wajah datar, Kyubi terdiam sebelum dengan ragu-ragu ia menyambut tangan Naruto.


Naruto menghela nafas namun baru beberapa menuruni anak tangga sebuah suara 'clek' membuat Naruto terdiam dan mengalihkan pandangannya kebelakang dimana ia bisa melihat Kyubi menatap kearah kakinya dengan wajah pucat pasi..., Naruto berkeringat dingin..., sumpah, nih perempuan bawa sial banget!...,


Dan sedetik kemudian tangga dibawah kaki mereka menjadi bidang datar yang membuat keduanya langsung meluncur turun dengan cepat!...,


" wuaaa!?, "


Bruk!


" Ughak!?, "


Ophis menatap datar Masternya yang kini tergeletak diatas tanah dengan Kyubi yang dengan polosnya duduk diatas perut Masternya...,


' Master..., Daijoubu?. '


Alis Naruto berkedut mendengar pertanyaan Ophis yang seharusnya tak usah ditanyakan," Ophis, apa kau buta?..., kau tidak lihat keadaanku?. " ucap Naruto, pandangan Naruto teralih kearah Kyubi yang terlihat masih belum ngeh dengan apa yang terjadi, bibir Naruto berkedut melihat Kyubi yang menatapnya dengan pandangan polos tak berdosa sama sekali.


" Senju-san, sampai kapan kau mau berada diatas tubuhku?. "


Tanya Naruto, Kyubi menatap Naruto sejenak sebelum ia menatap kebawah dan seketika ia tersadar bahwa ia tengah menduduki perut Naruto, sontak iris matanya melebar sedikit sebelum ia langsung berdiri dan mengucapkan maaf dengan nada gugup...,


" Maaf, Namikaze-kun ak-aku tidak tahu jika sesuatu yang lunak itu adalah kau yang berada dibawahku..., sekali lagi maaf. "


Ucap Kyubi, Naruto yang melihatnya terdiam sejenak sebelum ia bangkit dan menepuk pakaiannya yang berdebu sebelum ia menatap Kyubi dengan pandangan datar...,


" tidak masalah, Senju-san. Lagipula kau tidak berat. "


Ucap Naruto sebelum melangkah meninggalkan Kyubi yang menatapnya dengan pandangan berbinar, entah kenapa tapi ia senang saat Naruto bilang bahwa ia tidak berat..., dengan langkah ringan Kyubi mengikuti Naruto yang sudah melangkah duluan...,


Disepanjang perjalanan Naruto dan Kyubi hanya keheninganlah yang menemani langkah kaki mereka, keduanya tidak ada yang berbicara, Naruto?, ia lebih memilih berbicara dengan Ophis daripada Kyubi, sementara Kyubi?, ia tidak tahu harus memulai pembicaraan apa dengan pemuda pirang disampingnya dan lebih memilih diam saja, namun disitulah masalah Kyubi yang biasanya Hyperaktif tidak biasa dengan yang namanya hening dan itu membuatnya gelisah...,


' Master, apa kau tidak mengajak mengobrol perempuan disebelahmu itu?, aku lihat sepertinya dia terlihat gelisah. '


Ucap Ophis, Naruto mengerutkan dahinya sebelum ia melirik kesamping dan benar apa kata Ophis, postur tubuh Kyubi terlihat seperti orang yang gelisah..., Naruto menghela nafas, ia tidak percaya ia akan melakukan hal yang seharusnya ia hindari.


" Nee, Senju-san. Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu. "


Ucap Naruto datar membuat Kyubi menatapnya dengan pandangan bingung, apa.., apa dia sedang mengajak dirinya mengobrol?.


" uhm?, apa yang ingin kau tanyakan padaku, Namikaze-kun?. "


Tanya Kyubi, Naruto terdiam sebelum ia menghela nafas, dan menatap kedepan dengan datar.


" kenapa kau tertarik menjadikanku sebagai bawahanmu. "


Tanya Naruto membuat Kyubi langsung terdiam, Naruto melirik kearah Kyubi yang terdiam sebelum kembali menatap kedepan.


" aku tidaklah menarik, Senju-san, aku tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk membuatmu tertarik padaku, perkembangan kapasitas [Mana]ku buruk, dan aku merupakan pecundang diseluruh Academy, bahkan diseluruh dataran kerajaan [Alvarez]. Jadi tak ada satupun alasan yang bisa membuatmu tertarik padaku bahkan sampai kau berniat menjadikanku bawahanmu. "


Ucap Naruto dengan suara datar, Kyubi terdiam, alasan satu-satunya ia ingin menjadikan pemuda itu sebagai bawahannya karena pemuda itu bisa menandingi kenjutsu Arthur dan mematahkan teknik andalan Arthur...,


" jadi katakan, Senju-san. Apa yang membuatnu tertarik padaku?. "


Tanya Naruto, namun Kyubi tetap diam membuat Naruto menghela nafas, sepertinya perempuan ini tidak ingin mengatakan alasannya menginginkannya.


" jika kau tidak memiliki alasan kenapa kau tertarik padaku, maka jangan harap aku mau menjadi bawahanmu, Senju-san. "

__ADS_1


Ucap Naruto, Kyubi hanya bisa terdiam lalu menundukan kepala sedikit dan mengikuti Naruto beberapa langkah dibelakangnya...,


Setelah beberapa saat berjalan akhirnya Naruto dan Kyubi menemukan setitik cahaya yang berada lumayan jauh dari mereka, tanpa banyak waktu lagi mereka berdua segera mempercepat langkah kaki mereka..., dan ketika mereka sampai disana mereka hanya menemukan sebuah ruangan gelap gulita dimana disana hanya ada satu cermin berukuran lumayan besar yang terterpa sinar matahari...,


Naruto menaikan satu alisnya, bukankah ini ruang harta?, lantas dimana hartanya?, Naruto menatap intens cermin yang diterpa sinar matahari itu dengan intens..., tunggu sebentar?, Sinar matahari?, pandangan Naruto langsung terarah keatas dimana disana ia bisa melihat sebuah lubang berukuran cukup besar yang ia yakin terhubung dengan permukaan..., Naruto mengukir senyuman tipis...,


" Nee, Senju-san?, apa kau punya Magic jarak jauh yang bisa mengerakan cermin itu?. "


Tanya Naruto sambil menunjuk kearah satu-satunya cermin disana, Kyubi menaikan alisnya sebelum ia mengangguk pelan.


" aku ada tiga Magic jarak jauh, memang ada apa, Namikaze-kun?..., "


" gunakan salah satu Magic milikmu untuk mengerakan cermin itu, dan kau akan melihat sebuah keajaiban..., "


Ucap Naruto dengan senyuman tipis, Kyubi menaikan satu alisnya sebelum ia mengikuti perkataan Naruto, ia membuka telapak tangannya dan mulai merapal mantra.


[ Elemental Magic : Daitoppa ]


Seketika lingkaran sihir berwarna hijau muda muncul dan menghembuskan angin cukup kuat membuat Cermin itu bergerak dan memantulkan cahaya matahari..., dan benar apa kata Naruto, keajaiban terjadi, Cermin itu memantulkan cahaya matahari kearah cermin-cermin lain yang tersembunyi dikegelapan, dan singkat cerita kini ruangan itu penuh dengan cahaya hingga kini ruangan itu terlihat seluruh isinya...,


Kyubi mngerjapkan matanya untuk menyesuaikan intensitas cahaya dan setelah pandangan jelas, iris ruby Kyubi seketika membulat karena dikejutkan dengan tumpukan harta diruangan yang kira-kira hampir sebesar ruangan keluarga seorang bangsawan.


" wow, banyak sekali..., ini pasti milik penguasa kota ini. "


Gumam Kyubi sambil melihat sekeliling dimana harta yang mungkin tak terhitung jumlahnya menumpuk..., Naruto menatap hal itu dengan datar sebelum ia mengalihkan pandangan menatap sekeliling sebelum pandangannya terkunci pada tiga buah peti yang tak jauh dari tengkorak seseorang yang duduk diatas tahta.


' master, salah satu dari ketiga peti itu menyimpan benda yang kita cari..., "


Ucap Ophis lewat Mind Link, Naruto mengangguk pelan dan berjalan mendekati ketiga peti itu sebelumnya Naruto memberikan penghormatan pada Skeleton didepannya sebelum ia mencoba melihat ketiga peti batu itu.


" uhm?, ini terkunci..., "


Gumam Naruto, ia melirik kearah Skeleton dibelakangnya, Naruto berbalik dan mencoba menatap Skeleton itu dengan intens, sampai pandangan Naruto terkunci pada tiga buah kunci yang tergantung dileher Skeleton itu..., mungkikah ini?, Naruto menjulurkan tangannya dan mengambil kunci itu, Naruto menundukan kepalanya lagi meminta maaf atas kelancangannya sebelum ia berjalan dan membuka ketiga peti itu...,


Dipeti pertama Naruto menemukan sebuah gulungan perkamen berwarna merah, Naruto menatap gulungan itu sejenak sebelum ia mengangkat bahu tak peduli dan menyimpannya kedalam [Dimension Space : Gate] dengan tanpa sepengetahuan Kyubi yang masih sibuk melihat-lihat tumpukan harta..., dipeti kedua Naruto menemukan sebuah kalung dengan batu permata indah berwarna biru bening pada bandulnya...,


' inilah yang kita cari, Master..., Heavenly Necklace, jika Master memakai kalung ini maka perkembangan kapasitas [Mana] Master akan bertambah 3x lipat. '


Ucap Ophis membuat Naruto menyeringai tipis, ia menempatkan kalung itu disakunya dan menatap kearah peti ketiga, Naruto terdiam sejenak dan menatap intens peti batu ketiga itu, dan ketika Naruto akan membuka peti batu ketika sebuah suara membuat Naruto terhenti.


" Kyaaa!?. "


Naruto langsung menoleh kebelakang dan seketika iris Shappirenya membulat ketika melihat Kyubi yang kini tengah merontah dari bekapan Assassin yang mereka temui diatas sebelumnya...,


" wah, wah, wah..., terimakasih, Nak. Kau telah sangat membantu kami, tidak hanya membawa putri bangsawan Senju ini keluar sarangnya namun kau juga telah memberikan kami harta yang sangat banyak ini, Nak. "


Ucap Leader Assassin, Kyubi meronta dari dekapan Leader Assassin itu namun karena besarnya tenaga Leader Assassin itu membuat Kyubi tidak berdaya. Naruto menatap datar ketiga Assassin didepannya dengan pandangan datar...,


" lepaskan dia, kau tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika dia terluka..., "


Ucap Naruto datar, ketiga Assassin itu terdiam sebelum mereka bertiga tertawa terbahak-bahak..., namun ekspresi Naruto tidak bergeming sama sekali...,


" kau?, apa yang bisa kau lakukan?, kau hanyalah anak Academy?, sedang kami?, kami sudah banyak bertarung dan membunuh orang-orang kuat, dan kami berada ditingkat perak bintang 5 sekarang..., bahkan Boss kami berada ditingkat perak bintang 10 dan akan menjadi tingkat emas..., sementara kau?, kau paling hanya sampai ditingkat perunggu!..., hahaha..., "


" hahaha!, kucing yang ingin melawan singa?, kau hanya mengantarkan nyawamu saja, Nak. "


Ucap kedua Assassin yang berada berdiri disisi kanan dan kiri sang Leader, Naruto masih mempertahankan ekspresinya seakan tak terganggu dengan apa yang baru saja dikatakan dua Assassin itu sementara Kyubi hanya bisa menatap sedih Naruto, seandainya tangan dan mulutnya tidak terkunci maka ia bisa merapalkan mantra dan melepaskan diri dari para Assassin dan pergi..., menyelamatkan diri..., Sang leader berhenti tertawa dan menatap Naruto dengan pandangan merendah..., sebelum ia menoleh kearah kedua anak buahnya.


" kalian berdua, cepat bereskan anak ini, dan setelah selesai kalian bawa semua harta karun yang ada disini..., "


" Ha'i boss..., / serahkan pada kami..., "


Ucap kedua Assassin itu sambil menyeringai, Sang leader Assassin menyeringai tipis dan melangkah sambil mengeret Kyubi yang masih meronta...,


Setelah kepergian sang leader, kedua Assassin itu kini menatap Naruto dengan seringai kejam dan dibalas oleh Naruto dengan tatapan datar sebelum ia menarik Nafas dan menghembuskannya sejenak...,


" Ophis, berapa kemungkinan kita menang melawan mereka?. "


Tanya Naruto lewat Mind Link, Ophis terdiam sejenak sebelum ia melakukan perhitungan super cepat dikepalanya...,


' 10%, jika kita melawan mereka berdua secara terang-terangan. '


Jawab Ophis sambil menghela nafas, Naruto terdiam sebelum ia menyeringai tipis, perlahan tangan Naruto terjulur kesamping dan seketika disebelah kanan dan kiri Naruto tercipta sebuah portal berwarna biru yang mengeluarkan dua buah Short-Sword...,


" 10% kah?, kau tahu Ophis?, aku suka ketika aku mencapai sesuatu yang diluar perhitungan orang lain dan akan aku buktikan jika kesempatan menang kita lebih tinggi dari pada 10%..., "


Ucap Naruto, Ophis menaikan satu alisnya dan menatap bingung Masternya yang tengah menyeringai tipis. ' memang menurut perhitunganmu, kesempatan kita menang ada berapa persen, Master. ' tanya Ophis, Naruto tersenyum tipis sebelum melihat kebawah dimana tepat disebelah kakinya terdapat sebuah guci kecil...,


" menurutku, kesempatan kita menang adalah..., "


" hey, bocah?, kenapa kau diam saja?, apa kau sudah pasrah mati ditangan kami?. "


" hahaha, mungkin saja, lihat dia sedaritadi hanya diam saja, hahaha!..., "


Naruto tidak mengubris perkataan dua Assassin didepannya, ia hanya Fokus dengan guci kecil didekat kakinya..., dengan gerakan cepat Naruto mengangkat guci itu dengan kakinya sebelum melakukan tendangan layaknya seorang pemain bola profesional...,


Duakh!


Wush!


Prak!


Tendangan Naruto melesat cepat dan memecahkan cermin utama ditempat itu, dan akibat pecahnya cermin itu perlahan ruangan itu mulai gelap gulita..., kedua Assassin itu terkejut ketika Naruto menghancurkan cermin utama yang menjadi penerang ruangan itu, Naruto tersenyum dan mengarahkan pandangannya pada kedua Assassin yang terkejut.


" kesempatan kita menang adalah 92%..., "


Ucap Naruto sebelum tertelan oleh kegelapan diruangan itu, kedua Assassin itu tersadar dari keterkejutannya dan menoleh kesegala arah dan hanya kegelapanlah yang mereka dapat...,


" sial!, disini gelap!, aku tidak bisa melihat apapun. "


Ucap salah Satu Assassin dengan geram, sementara Assassin yang berada disebelahnya mencoba menatap sekeliling namun nihil ruangan ini terlalu gelap, ia jadi tidak bisa menemukan keberadaan bocah itu...,


" Heh..., kalian tidak bisa melihat apapun ya?..., "


Sebuah suara membuat kedua Assassin itu bersiaga, mereka saling memunggungi satu sama lain dan meningkatkan kewaspadaan mereka...,


" keluarlah Bocah!?, tunjukan dirimu!?, jangan jadi pengecut!. "


Teriak salah satu Assassin itu, Naruto menyeringai tipis mendengar suara yang sedikit diisi rasa takut itu...,


" heh~, pecundang?, kalian berdua adalah Seorang Assassin tingkat perak berusaha mengeroyok seorang murid Academy?, dan kalian berani mengatakan aku pengecut?..., Hina sekali..., atas Hinaanmu itu aku akan memotong salah satu kakimu..., "


Ucao Naruto dengan nada yang sangat~, dingin..., kedua Assassin itu meningkatkan kewaspadaan mereka..., namun sekelebat bayangan langsung melesat ditengah kegelapan dan mengayunkan Short-Sword ditangannya dan memotong Kaki Assassin itu dengan cepat...,


Slaaash!?


" Wuaaaakhh!? "


Bruk!


Assassin yang satunya tersentak ketika mendengar temannya berteriak kesakitan dan terjatuh...,


" hey!, kau kenapa!?..., "


Tanya Assassin itu, dan hanya erangan kesakitan saja yang bisa ia dengar..., Assassin itu mulai panik dan meraba-raba sekitar sebelum ia mengernyitkan dahinya ketika ia merasakan sebuah cairan hangat membasahi tangannya.., tunggu ini...,


" ka-kakiku!, "


Kaki?, tunggu bukankah tadi pemuda itu berkata akan..., dan jika begitu maka ini..., darah..., mata Assassin itu melebar dan seketika rasa takut menyelimuti Assassin itu dengan cepat ia bangkit dan berusaha lari dari tempat itu namun...,


Jleeeb!


" Ohok!?..., "


Assassin itu merasakan rasa sakit dibagian perutnya, ia memegang perutnya dan ia merasakan sebuah benda dingin yang ia yakin sebuah pedang menembus perutnya..., Assassin itu langsung jatuh bersujud ketika pedang itu ditarik dengan kasarnya..., pandangan Assassin itu mendongak dan seketika Pupil matanya mengecil ketika melihat iris mata berwarna emas dengan garis vertikal menatapnya dengan pandangan datar...,


" Ohok!..., ka-kau..., "


Jrasssh!?


Naruto dengan tanpa perasaan langsung menebas Assassin itu dan langsung mengirimnya kealam kubur..., ia menatap datar Assassin yang tergeletak tak bernyawa didepannya...,


" orang yang meninggalkan temannya, tidak pantas untuk hidup. "


Gumam Datar Naruto, ia melirik kesamping dimana ia melihat satu Assassin lagi tengah berusaha melarikan diri merangkak dengan menyedihkannya..., Naruto berjalan mendekati Assassin itu yang semakin mempercepat gerakannya ketika mendengar suara langkah kaki Naruto..,


" to-tolong, am-ampuni aku!, ak-aku akan memberikan apapun padamu!, aku mohon ampuni ak-..., "


Jleb!


Jleb!


Kedua pedang ditangan Naruto menembus kearah dada Assassin itu hingga membuatnya tewas seketika, Naruto menatap datar hal itu..., meninggalkan teman dan memohon ampun atas kesombongan, dua hal itu merupakan hal yang paling dibenci Naruto.


" aku membenci dua hal itu, jadi tidak ada alasan untuk kalian berdua hidup..., "


Gumam Naruto, ia memejamkan matanya sejenak sebelum ia mengingat kehidupannya didunia sebelumnya, dan ya..., ini bukan pertama kalinya seorang Namikaze Naruto membunuh, meskipun awal dia membunuh karena Faktor tak sengaja namun itu sudah menjadi pengalamannya untuk membunuh orang, ia menghela nafas sejenak sebelum ia berbalik dan melesat dengan kecepatan tinggi kearah pintu keluar, tujuan Naruto hanya satu, yaitu menyelamatkan, Senju Kyubi.

__ADS_1


Ophis yang melihat semua itu dari buku didada Naruto terdiam seribu bahasa, Masternya ternyata sangat hebat dan Ahli dalam seni membunuh orang, ia membutakan penglihatan kedua Assassin itu dengan menghancurkan cermin utama, tak hanya itu setelah itu Masternya langsung mengaktifkan [Accel] dan [Boost] untuk mempercepat gerakan dalam kegelapan, dan tentang bagaimana Naruto dapat melihat dalam gelap, itu semua karena Magic [Belial Eye's] dimata kanan Naruto..., iris yang sebelumnya Blue Shappire kini menjadi Golden..., ahli dalam Magic, kenjutsu dan membunuh, Satu pertanyaan langsung Muncul dikepala Ophis.


' siapa sebenarnya kau Master?..., '


__ADS_2