The Worst One

The Worst One
Chapter 33


__ADS_3

Azi Dahaka... Makhluk legendaris yang pernah membuat Britania dilanda oleh bencana hebat karena pertarungannya dengan [Uranus Queen], entah apa pemicunya namun yang jelas pertarungan itu sangatlah hebat sampai King of Magic, Solomon... Mengerahkan seluruh pasukan [Lesser of Key Solomon] untuk menghentikan pertarungan kedua Makhluk itu, baik Uranus Queen dan Azi Dahaka dipaksa menderita luka yang sangat berat karena mereka dibantai oleh [Lesser of Key Solomon]... Azi Dahaka tersegel dalam sebuah Crystal besar sementara Uranus Queen entah berada dimana, menurut legenda yang berendar, Solomon menyegel Azi Dahaka dan menyembunyikan Uranus Queen ditempat yang tidak diketahui agar tidak ada yang mencoba melepaskan mereka berdua tapi...


Aku menatap kedepan dengan alis berkedut, Azi Dahaka yang ada dalam legenda saat ini tengah duduk didepanku dengan sebuah cangkir teh ditangannya...


"Ah~, sudah lama aku tidak merasakan minuman senikmat ini, terakhir kali aku melakukannya sekitar 4000 tahun yang lalu?... Uhm... Mungkin."


Dia bergumam dengan pelan selagi ia kembali menyesap teh miliknya, alisku kembali berkedut... Kenapa Azi Dahaka bisa lepas dari segel Crystal?,


"Ho-hooh... Begitukah?."


Ia mengangguk pelan dan meletakan cangkir teh diatas meja yang biasa digunakan para bangsawan untuk menikmati teh dihalaman rumah mereka, iris crimson miliknya menatapku dengan maksud didalamnya.


"Bagaimana?, apa kau mau membantuku?."


"Hah!, kau gila!, bagaimana bisa aku mengabulkan permintaanmu!."


Aku berteriak dengan kesal, Azi Dahaka hanya menatapku dengan kakinya yang ia silangkan dan bersedekap dada.


"Kenapa tidak?, bukankah kau tidak akan rugi jika kau membantuku?."


"Tidak!, Tidak!, Tidak!... Jelas itu akan merugikanku!, permintaanmu sangat berat!?."


Dia cemberut, sayang sekali!, disituasiku saat ini aku tidak akan tergoda olehmu!, masa depanku dipertaruhkan disini!... Azi Dahaka bangkit darinya dan berjalan kearahku yang duduk dibangku putih dengan keadaan terikat oleh sebuah rantai berwarna ungu yang mengeluarkan sesuatu yang menekan [Mana] milikku hingga aku tidak bisa bergerak banyak.


"Nee?, kenapa kau tidak mau membantuku?, aku hanya ingin sebuah telur..."


"Disitulah masalah!?."


Aku berteriak dengan keras. benar!, Azi Dahaka memintaku untuk memberikannya sebuah telur!, dengan kata lain!, Anak!... Uwwo, aku masih belum mau berkeluarga!, Azi Dahaka mengembungkan pipinya dengan man-, tidak!, jangan terpesona dengan dia bodoh!?.


"Kenapa kau tidak mau?, apa penampilanku kurang menarik."


Tanyanya dengan nada sedikit sedih... Aku terdiam menatap Azi Dahaka dari atas sampai bawah, Azi Dahaka jika dijelaskan secara rinci maka, ia manis sejujurnya ia sangat manis!, dia sekelas dengan Jeanne, jika Jeanne cantik Natural maka Azi Dahaka lebih ke cantik yang sehat!... Surai ungu kehitaman yang menyentuh sampai pinggul, iris mata Crimson indah, bibir pink tipis, hidung kecil dan imut... Jika aku adalah orang mesum yang tergila-gila oleh Bishoujo dan ingin mendirikan kerajaan haremku maka!, akan ku terima tawarannya!... Tapi aku tidak mau!.


"Y-Ya, sejujurnya penampilanmu menarik..."


"Kalau begitu kenapa kau tidak mau membuat telur denganku!."


"Ka-Karena... Ya... Bagaimana mengatakannya ya?."


Karena jika aku melakukannya!, maka dua orang dibelakangku yang tengah menatapku dengan pandangan dingin akan membunuhku!?, bacalah suasana sedikit!.


'Uwwa... Mereka jadi ratu es!.'


Selagi aku memasang wajah kikuk karena Jeanne dan Ophis yang baru saja sadar dari pingsannya menatap kearahku dengan pandangan seolah aku adalah musuh yang harus dimusnahkan, Azi Dahaka semakin mendekati wajahnya dengan wajahku... Keringat membasahi punggungku ketika aku merasakan nafsu membunuh yang begitu besar dari belakangku.


Aku akan mati!?, jika aku tidak segera memberikan jawaban!, aku memeras otakku memikirkan jalan dimana tidak ada pertumpahan darah{ku) disini!... Aku terdiam selama beberapa saat sebelum aku menghela nafas.


"Maaf, aku tidak bisa."


Mendengar perkataanku Azi Dahaka terdiam dengan iris mata melebar sementara dua gadis dibelakangku langsung memasang wajah bahagia meski itu tidak berlaku untuk Ophis yang hanya memasang wajah datar, tapi aku tahu dia senang sebab tanpa ia sadari dibelakangnya terlihat ilusi bunga-bunga yang bermekaran...


"Ti-Tidak mungkin... Kau menolakku?."


Azi Dahaka berkata dengan nada shock sementara ia melangkag mundur kebelakang, aku menatap Azi Dahaka sejenak sebelum aku mengalihkan pandanganku kebawah.


"Maaf, Azi Dahaka... Kau menarik dan manis, menurutku."


"Ka-Kalau begitu kenapa..."


"Tapi... Membuat sebuah keluarga tanpa ada rasa cinta diantara kita hanya akan mendatangkan penderitaan untuk kita, karena itu... Azi Dahaka buatlah telur dengan orang yang kau cintai, karena dengan begitu... Kau akan dapat merasakan kebahagia-an yang tidak pernah kau rasakan sebelumnya... Percayalah."


Ya memang benar, menjalin hubungan tanpa landasan cinta hanya akan membuat penderitaan bagi mereka, aku tertawa miris... Membahas masalah cinta padahal aku sendiri belum pernah jatuh cinta... Heh, menyedihkan... Azi Dahaka terdiam selagi ia menatapku dengan pandangan sulit diartikan, dia menundukan kepalanya membuatku tidak bisa melihat ekspresi apa yang ada disana.


"Begitu... Cinta ya?... Baiklah!, telah aku putuskan!."


Aku sedikit tersentak ketika Azi Dahaka menatapku dengan cepat, ia membuat wajah seolah ia tengah membuat keputusan akankah dia bertahan hidup tanggal tua dengan memakan mie instan atau obat maag yang lebih murah sampai waktunya gajian.


"Namikaze Naruto!... Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!, dengan begitu kita akan membuat banyak telur!."


"Hah!?."


Sebuah teriakan trio bergema diruangan itu, aku menatap Azi Dahaka yang membusungkan dadanya dengan bangga, aku menatapnya dengan panik.


"Tu-Tunggu dulu!, kenapa kau masih mau membuat Telur(Anak} denganku!."


"Uhm?, tentu saja karena kau menarik."


"Itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membuat Telur!"


"Aku tidak masalah."


Jadikan itu sebagai masalah bodoh!, jika hanya dengan alasan itu saja kau bisa memutuskan berkeluarga maka didunia ku tidak akan ada yang merana!... Azi Dahaka berjalan mendekatiku dan menangkup kedua pipiku.


Chuu~


"Waaaaaa!?."


Nuuu!... Ap-apa!... Di-Dia menciumku!, sebuah benda lembut nan basah yang aku yakin itu lidah menerobos kedalam mulutku, dan mengajak lidahku bermain... Aku sudah tidak tahu berapa lama dia menciumku, tapi aku yakin itu sangat lama... Merasa perlu mengambil nafas Azi Dahaka menjauhkan wajahnya dan terlihatlah benang saliva diantara kami.


"Ufufufu~, aku menantikan telur pertama kita~."


Azi Dahaka mengatakan itu selagi tersenyum nakal, aku menatapnya sejenak dan ketika aku mencoba mengatakan sesuatu tiba-tiba rantai yang mengikatku menyempit... Sakit!, Sakit!, Sakit!... Hey!, rantainya menyempit!... Aku menoleh kearah Ophis dengan wajah menahan sakit yang hebat, Ophis terlihat tengah menatapku dengan pandangan gelap yang menakutkan selagi tangannya mencengkram kuat rantai ungu ditangan mungilnya.


"Op-Ophis!... Hentikan!, kau akan membunuhku!, aku remuk!... Je-Jeanne, tenangkan Ophis!."


"He..."


He?, aku tidak tahu kenapa tapi Jeanne bertingkah aneh!?, dan tawa itu membuatku takut!?. dia dengan gerakan seolah ia adalah mayat hidup menjulurkan tangannya kesamping dan menarik sebuah tombak dengan bendera berkibar disana dengan kecepatan yang sangat cepat Jeanne memainkan senjatanya dan menghentakan ketanah dengan kuat!.


"Hukuman Ilahi?!."


Aku akan mati!?... Bahaya!, Bahaya!, Bahaya!, tatapan lembut yang biasa diberikan Jeanne kini berubah menjadi tatapan yang haus darah!, ada apa dengan kedua perempuan itu!. Ditengah ketakutanku Azi Dahaka meletakan tangan didepan bibirnya yang tersenyum nakal.


"Ara... Itu hebat... Hati polos seorang gadis, Ah~... Itu membuatku bersemangat~."


Tidak!, jangan mengatakan sesuatu yang menjelaskan jika kau adalah penikmat genre NTR!, bebaskan aku dari kesalahan yang telah kau perbuat!, aku yang tengah panik melepaskan diri tiba-tiba terdiam ketika kedua gadis itu sudah ada didepanku dengan mata yang sangat dingin!.


""Mati!""


Ghaaaaaaa!?


... Setelah pembantaian sepihak dari Jeanne dan Ophis, Aku menatap datar Azi Dahaka yang terlihat tertawa kecil kearahku yang berada dalam kondisi yang mengenaskan, alisku berkedut... Dia sangat menyebalkan.


Setelah beberapa saat dia berhenti tertawa dan menatapku yang tengah memasang wajah mencibir.


"Bagaimana, sudah puas?."


"Maa, Maa... Jangan marah Naruto-kun, aku hanya bercanda kau tahu?."


Ya dan bercandamu tidak lucu!, aku baru saja dihajar habis oleh dua makhluk overpowered karena kau dengan seenak jidatmu menciumku!. Aku menghela nafas entah kenapa emosiku sering tak terkendali jika aku ada didekat Azi Dahaka. Aku meletakan daguku diatas tanganku dan menatap lurus Azi Dahaka.


"Jadi, bagaimana selanjutnya... kau berencana untuk keluar dari dalam Crystal itu bukan?."


Azi Dahaka mengangguk pelan atas pertanyaanku.


"Tentu saja, sebab aku ingin membuat banyak telur denganmu."


"Jangan katakan hal berbahaya dengan nada santai seperti itu!"


Ophis, Jeanne... Jangan menatapku dengan nafsu membunuh sehebat itu!. Aku menghela nafas dan menatap kembali Azi Dahaka yang tersenyum puas... Sialan!, dia menikmati kemalangan nasibku!.


"Jadi, bagaimana caranya kau lepas dari segel itu?, aku rasa segel itu cukup kuat untuk dihancurkan..."


Azi Dahaka terdiam sebelum ia menghela nafas, uhm... ada apa?.


"Ya kau benar, aku rasa menghancurkannya cukup sulit karena itulah aku akan menggunakan cara lain."


"Cara lain?."


Azi Dahaka mengangguk pelan atas pertanyaan ku, ia tersenyum dan menunjuk kearah sebuah katana yang mengantung dipinggangnya, aku mengerutkan dahiku dan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Azi Dahaka.


"Apa yang akan kau lakukan dengan Katanaku?."


Menjawab pertanyaan bingungku, Azi Dahaka tersenyum tipis.


"Aku akan memindahkan jiwaku kedalam Katana yang dibuat dari pecahan diriku itu, dengan begitu akan bisa pergi keluar dari tempat ini."


Aku terdiam... Memindahkan jiwa dia bilang?... Apa itu sejenis dengan [Rivave Life] yang pernah hampir digunakan oleh Maria untuk memindahkan jiwa kedalam tubuh Miya, melihatku yang tengah terdiam Ophis yang berdiri disebelah kananku melirik kearahku dengan pandangan kosong seperti biasa.


"Tidak Master, ia hanya mengambil Katanamu untuk tempat jiwanya bisa dibilang ia akan hidup didalam katana milikmu, dan itu berbeda dengan Magic yang pernah ingin digunakan oleh Maria Nee-san."


Aku terdiam mendengar penjelasan Ophis, begitu jadi pada dasarnya ia hanya akan tinggal dikatanaku saja... Eh?, tunggu sebentar itu artinya!... Selagi aku terkejut menyadari maksud yang sebenarnya dari Azi Dahaka, tiba-tiba dia bersinar dengan terang dan menjadi gumpalan cahaya yang langsung melesat dan terserap kedalam katanaku yang langsung bermandikan cahaya gelap, Katanaku mulai berubah, pada bagian bilahnya mulai ternodai oleh warna merah darah, pancaran kekuatan yang besar menyeruak dari Eleanor.


"Ufufufu~, sekarang dan selamanya, Naruto-kun~."


Aku terdiam sebelum aku menatap kedepan dengan lurus, ah... Ini tidak baik, air mataku keluar... Jeanne yang ada disebelahku menepuk pundakku dan menatapku dengan pandangan iba.


"Jangan ditahan, Master."

__ADS_1


... Dan dihari itu, sebuah teriakan keputuasan mengema diruangan itu...


.


.


.


- Azi Dahaka dan Uranus Queen -


.


.


.


Naruto kini berjalan dengan langkah pelan dilorong yang minim dengan cahaya, Naruto menatap datar kedepan, setelah menjalin kontrak dengan Azi Dahaka secara sepihak Naruto melanjutkan perjalannya menyelusuri tempat yang ia tidak dimana dia berada sekarang.


Naruto terus berjalan dalam diam sebelum iris shappirenya menyipit ketika ia melihat sebuah cahaya jauh didepannya, itu jalan keluar?. Naruto mempercepat langkahnya dan akhirnya ia sampai asal cahaya yang ternyata adalah sebuah tempat dengan interior indah dengan cahaya lembut yang memenuhi setiap sudut ruangan.


Naruto terdiam ketika kulitnya merasakan sensasi dari [Mana] yang sangat lembut, entah kenapa tempat ini membuatnya nyaman, Naruto mengalihkan pandangannya kesegela arah, tempat yang cukup indah, ia mengangguk setuju.


Selagi iris shappirenya menelusuri setiap tempat tiba-tiba pandangan Naruto terkunci pada sebuah altar pengorbanan, pandangan Naruto menyipit kearah Altar itu dimana tepat diatas Altar tertidur seseorang dengan damainya. Naruto terdiam sejenak sebelum ia melangkah pelan mendekati Altar pengorbanan itu... Sesampai disana Naruto melihat seorang perempuan cantik bersurai emas indah panjang, wajah cantik yang tak seharusnya dimiliki oleh seorang manusia berada pada perempuan ini, berbalut gaun putih indah membuat penampilan perempuan ini sangatlah menakjubkan... Tanpa disadari oleh Naruto tiba-tiba Katana hitam miliknya mengeluarkan aura gelap yang berbahaya.


'I-itu...'


Naruto terdiam ketika mendengar gumaman terkejut dari Azi Dahaka, ia meringis pelan ketika Katana yang menjadi tempat bersemayamnya Azi Dahaka mulai mengeluarkan Aura dekstrusif yang membakar kulit Naruto.


"Azi Dahaka!, ada apa denganmu, Ugh..."


Azi Dahaka tersadar dari emosinya ketika mendengar suara kesakitan dari Naruto, perlahan aura dari Katana dimana jiwa Azi Dahaka tertanam disana mulai tenang... Naruto menghela nafas melihat hal itu.


"Ada apa denganmu, Azi Dahaka. Kenapa kau mengeluarkan kekuatan merusakmu ketika melihat perempuan ini?."


Tanya Naruto dengan datar, Azi Dahaka terdiam sejenak sebelum suara geraman terdengar dari Azi Dahaka, perlahan Aura Destruktif mulai menyeruak namun kali ini tidak sampai menyakiti Naruto...


'Dia... Adalah orang yang aku akui sebagai Rival, 3750 tahun yang lalu aku bertempur melawan perempuan ini dan berakhir dengan tersegelnya aku didalam Crystal oleh King of Magic, Solomon.'


Naruto terdiam mendengar perkataan Azi Dahaka, orang yang dianggap rival oleh Azi Dahaka dan pernah melakukan pertarungan besar sampai akhirnya dihentikan oleh Solomon... Itu artinya perempuan ini adalah!... Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap kearah perempuan cantik didepannya dengan tatapan terkejut, keringat perlahan membasahi wajah Naruto.


"Ja-Jangan bilang jika dia adalah..."


'Ya, Naruto-kun. Dia adalah Rivalku, [Uranus Queen]... ikarus.'


Naruto terdiam dan menatap perempuan didepanmya sebelum ia dengan cepat berbalik dan berusaha menjauh dari Atlar pengorbanan itu, melihat Naruto yang menjauh membuat Ophis, Jeanne dan Azi Dahaka yang berada didimensi yang berbeda memasang wajah bingung.


'Ano... Master. Kenapa kita menjauh dari perempuan itu?.'


"Ophis... Kita harus menjauh!, menjauh sejauh mungkin!, firasatku mengatakan jika aku akan mendapatkan masalah jika aku berada didekat perempuan itu!?."


Naruto berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan itu namun saat sebentar lagi ia sudah akan meninggalkan ruangan itu tiba-tiba Katana Oric, Byakumaru. Bersinar dengan terang memaksa Naruto menutup matanya...


Setelah beberapa saat cahaya itu menghilang, Naruto perlahan membuka matanya, iris shappire Naruto menatap kearah Katana Oric miliknya yang terlihat baik-baik saja sebelum iris shappire Naruto teralih kebelakang ketika sebuah suara yang lembut menyapa gendang telinga Naruto.


"[Aku ucapkan terimakasih padamu, wahai Manusia.]"


Naruto melebarkan iris shappire miliknya ketika melihat perempuan yang sebelumnya ada diatlar kini melayang dengan sepasang sayap besar berwarna putih lembut dengan armor hitam bergaris emas yang ia kenakan, iris mata pink indah menatap lembut Naruto yang terkejut.


"[Sudah lama semenjak kesadaranku disegel oleh Raja Magic, Solomon didalam [Heavenly Crystal] dikarenakan kesalahanku yang sangat besar... Kini aku telah tersadar dari tidur panjangku dan sesuai dengan perjanjianku yang aku buat dengan Solomon, aku akan mendampingi orang yang telah membebaskanku dari tidur panjangku dan itu adalah kau...]


Perempuan itu perlahan turun mendekati Naruto yang terpaku ditempat dengan ekspresi membeku, Naruto menatap perempuan itu yang perlahan merendahkan tubuhnya hingga menyerupai pose sujud seorang ksatria.


"[... Kini jiwa dan ragaku akan aku serahkan padamu sepenuhnya, Master...]"


Naruto yang melihat sumpah setia dari Makhluk yang menjadi Rival dari Azi Dahaka hanya bisa terdiam sebelum ia perlahan tertawa dengan hambar. Ah sial... Ia sudah menduga hal ini pasti terjadi!?, sudah beberapa kali hal ini terjadi!, dan terjadi lagi!. Azi Dahaka, Jeanne dan Ophis menatap iba Naruto yang terdiam dengan tubuh bergetar sebelum...


"Kami-sama!?, kenapa!?."


- Change Scene -


Sementara itu dilapangan halaman belakang Clan Namikaze terlihat dua orang tengah melesat dengan cepat, seorang pria dengan topeng gagak dan seorang wanita dengan seragam maid tengah melesat dan saling serang satu sama lain!.


Trank!


"Uwwo!, Maju Crow-Taichou!."


"Jangan mau kalah, Crow-Taichou!."


"Yuri-sama!, berjuanglah!."


"Yuri-sama kalahkan Crow-sama!."


"Uwwwwoooo."


Teriakan kekaguman bergema disana, Crow dan Yuri menatap satu sama lain, kedua pemimpin spesial Unit itu menatap dengan pandangan waspada sebelum keduanya melesat dengan cepat dengan kemampuan mereka dimana Crow mengaktifkan [Accel] dan Yuri yang mengaktifkan [Soru].


Kedua Spesial Unit itu mengadu kekuatan satu sama lain, Crow menghindari setiap serangan [Shigan] dari Yuri sambil sesekali melakukan serangan balasan, kedua pemimpin itu bersaing dengan sangat sengit, Crow melebarkan matanya ketika Yuri menghindari tebasan Wakizashi pada Lehernya dan dengan cepat mengambil langkah mendekatinya dengan dua tinju terkepal didepan dada Crow...


'Shimatta...'


[Rokuogan]


Vuung!


Wussh!


Blaaaar!


"Taichou!."


Para Anbu berteriak ketika mereka melihat pemimpin mereka terpental oleh kemampuan pamungkas dari Yuri Alpha yang membuat Taichou mereka terhempas cepat dan menghantam pohon dengan keras, pohon yang tidak kuat menahan momentum tubrukan tumbang kebelakang...


"Yaaa!, Yuri-sama menang!."


Para Pleiades bersorak atas kemenangan dari Yuri, namun semua langsung terdiam ketika melihat Yuri jatuh berlutut dengan ekspresi kesakitan, Yuri mengembungkan pipinya sebelum ia memuntahkan sedikit darah membasahi tanah. Yuri menatap kedepan dengan ekspresi kesakitan dimana ia melihat Crow bangkit dengan susah payah.


"Kau... Mengunakan [Reject Counter] disaat-saat terakhir... Kau sangat keras kepala Crow."


"Katakan itu pada dirimu, Yuri... Apa yang kau pikirkan dengan menyerangku mengunakan teknik Pamungkas milikmu."


A/N: Reject Counter adalah sebuah magic yang memantulkan setengah damage dari sebuah serangan pada pemilik Teknik.


Crow menghela nafas dan berjalan mendekati Yuri yang masih meringis ditanah dengan ekspresi meringis, Crow menjulurkan tangannya kedepan membuat Yuri menatapnya dalam diam sebelum menerima uluran tangan dari Crow.


"Jadi hasilnya?."


Crow menatap kearah Yuri yang bertanya membuat helaan nafas malas keluar dari topeng gagak itu.


"Seri... Kita hanya melakukan sparring untuk latihan Unit Anbu dan Unit Maid Pleiades."


Ucap Crow selagi ia membuka topeng miliknya dan terlihatlah wajah malas dari seorang Shikamaru Nara, Yuri terdiam sebelum ia menghela nafas dan memasang senyuman tipis.


"Baiklah, hasilnya seri."


Yuri mengatakan itu dengan senyuman tipis sebelum ia mengalihkan tatapannya kearah para Unit Anbu dan Unit Pleiades yang menatap kearah mereka berdua dengan pandangan kagum. Yuri membenarkan letak kacamatanya dan menatap datar dua Unit khusus Clan Namikaze.


"Baiklah!, hari ini kalian akan melakukan latihan bersama-sama, Unit Maid Pleiades kalian tunjukan kepada Unit Anbu jika kalian tidak mau kalah dari mereka!, kalian mengerti!."


"Ha'i, Madame!."


Shikamaru menghela nafas bosan melihat semangat membara dari Unit Pleiades, dengan santai Shikamaru memakai kembali topeng Crow miliknya dan menatap kearah para Unit Anbu.


"Kalian... Lakukan yang terbaik."


"Ha'i, Taichou!."


Yuri dan Crow menatap kearah Para Anbu dan Pleiades yang mulai melakukan sparring, Yuri tersenyum tipis melihat semangat para Pleiades yang terlihat sangat bersemangat melawan Unit Anbu.


"Aku rasa ini sudah saatnya untuk kita melakukannya, Yuri. Mereka mulai bergerak pergi"


Crow mengangguk pelan sebelum ia menoleh kearah samping hutan belakang Namikaze. Yuri menatap kebawah dengan pandangan gelap dan dengan aura misterius disekitarnya Yuri membenarkan letak kacamata miliknya.


"Ya aku tahu, kita tidak bisa membiarkan para tikus kotor itu mengetahui tentang Clan Namikaze yang sekarang..."


Setelah mengatakan itu Yuri dan Crow menghilang dengan cepat tanpa diketahui oleh siapapun kecuali satu orang yang menatap kegiatan dua Unit spesial ciptaan heir Clan Namikaze dengan pandangan sulit diartikan... Kushina yang menatap kearah tempat dimana Yuri dan Crow menghilang.


"Yuri, Crow... Aku percayakan keamanan Clan Namikaze pada kalian berdua."


Gumam Kushina pelan sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Minato yang tengah terbaring tak sadarkan diri diatas ranjang, ekspresi Kushina menyedu.


"Anata... Aku mohon bertahanlah demiku dan anak-anak kita."


Gumam Kushina dengan sedih selagi mencengkram tangan Minato dengan erat.


-Avantheim-


Sementara itu di Castil melayang Avantheim terlihat Hyuga Hinata tengah berada dalam situasi yang buruk, Hinata mengepakan sayap udara miliknya kebelakang menghindari duri beracun yang dilepaskan oleh Ekor Manticore kearahnya, Hinata mengatur nafasnya yang memburu, sudah cukup lama ia bertarung dengan Manticore itu, tenaganya sudah mulai habis dan itu berbahaya untuk dirinya.


'Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi, aku harus segera melarikan diri dari sini jika tidak aku akan mati.'

__ADS_1


Hinata menatap kesekeliling berharap ia dapat menemukan jalan keluar namun hasilnya nihil ia tidak bisa menemukan celah untuk bisa kabur dari Manticore didepannya, wajah Hinata sedikit mengeras ketika ia menyadari kesempatan kaburnya berada dalam kalimat Mustahil.


Hinata melebarkan matanya ketika ia melihat Manticore itu menebakan bola hitam berukuran sedang kearahnya, Hinata mengepakan sayap anginya kebelakang untuk menghindari serangan bola mematikan itu namun ia kembali melebarkan matanya ketika melihat Bola itu berbelok kearahnya bagaikan peluru kendali yang digerakan, tidak ingin mati Hinata mengerakan pedang cantiknya yang bernama Suzaku untuk menepis bola hitam itu.


Trank!


Hinata mengeraskan wajahnya ketika merasakan tekanan kuat dari Bola hitam itu namun karena tenaganya sudah hampir tidak ada lagi Hinata akhirnya mengerakan semangatnya untuk membelokan Bola hitam itu hingga Bola hitam itu berhasil dibelokan dan menabrak dinding Castil hingga menciptakan sebuah lubang besar akibat ledakan dari bola hitam itu...


Hinata jatuh berlutut, peluh membasahi wajah cantiknya.. Sial, ia tidak punya tenaga lagi sekarang, dan Manticore itu nanpaknya masih memiliki cukup banyak kekuatan, Hinata mengertakan giginya dengan frustasi ketika melihat Manticore itu berjalan kearahnya dengan langkah berat... Pada akhirnya ia akan tamat disini, ini semua karena dirinya masih sangat lemah... Cih, apanya yang jenius!, ia masih belum cukup kuat bahkan untuk menaklukan makhluk Rank Black Gold saja ia tidak sanggup!, apanya yang berbakat!... Semuanya sia-sia jika pada akhirnya dirinya akan mati... Hinata memasang senyuman mengejek, ia mengejek dirinya sendiri yang tidak bisa melawan Manticore bahkan dengan seluruh kekuatan yang telah ia latih selama ini.


Hinata mengeraskan wajahnya ketika Manticore itu berada didepannya dengan sebuah Bola Energi yang soap ditembakan, dari jarak sedekat ini kemungkinan Hinata selamat sangat mustahil... Hinata memejamkan matanya pasrah dengan senyuman miris.


'Namikaze, nampaknya pertarungan yang kita telah janjikan tidak akan pernah terjadi...'


Manticore yang melihat lawannya telah Pasrah dengan cepat menembakan bola hitam miliknya kearah Hinata yang hanya bisa pasrah ditempat. Namun ketika sebentar lagi Bola hitam itu akan menghantam Hinata sebuah riak Air berwarna Shappire muncul tepat didepan Hinata dan sedetik kemudian sebuah suara bergema diruangan itu...


[Namikaze Style: Iai]


Slash!


Blaaar


Blaaar


Sebuah tebasan cepat membelah bola hitam dua bagian yang melesat cepat melewati Hinata dan meledak hebat dibelakang, Hinata yang tidak merasakan sakit perlahan membuka matanya dan seketika iris lavender miliknya membeku melihat apa yang ada didepannya, didepannya saat ini berdiri seorang pemuda yang bisa dibilang Hinata kenal...


"Nee, Hinata-san... Apa kau baik-baik saja?."


Suara itu... Tidak salah lagi pemuda ini...


"Ha...Haruto-san?."


Naruto yang melihat Hinata menyebut nama Fake miliknya hanya mengangguk pelan, selagi iris shappire miliknya terkunci pada Manticore yang berada didepannya. Hinata tidak tahu kenapa tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Syukurlah kau masih hidup, Haruto-san..."


Naruto menoleh kearah Hinata yang berada dipelukannya, Hinata saat ini tengah memasang senyuman lembut kearahnya, Naruto terdiam sebelum ia mengeluarkan Fake Eye Smile.


"Terimakasih, dan sisanya serahkan saja padaku, Hinata-san. Aku akan menyelamatkan kita dari sini."


Ucap Naruto membuat Hinata terdiam sebelum ia mengangguk dengan pelan, entah kenapa hati Hinata tidak bisa untuk tidak memperpecayai perkataan Naruto, Hinata sudah benar-benar jatuh hati pada pemuda yang ia temui diperjalannya menuju kota [Rudret]. Ia tersenyum lemah.


"Aku serahkan padamu, Haruto-san."


Tepat setelah mengatakan itu Hinata kehilangan kesadarannya dan pingsan didalam dekapan Naruto yang hanya menatap datar kearah Hinata yang tak sadarkan diri... Naruto terdiam sebelum ia melompat menjauh dari Manticore yang berniat menjadikannya perkedel dengan cakar miliknya.


Naruto meletakan Hinata ditempat yang aman sebelum ia bangkit dan berbalik, Naruto melepas penutup wajahnya dan terlihatlah wajah tampan seorang Namikaze Naruto. Naruto menatap kedepan dimana ia melihat Manticore menatap kearahnya dengan tajam... Perlahan Aura petir menyeruak dari tubuh Naruto, surai pirang miliknya memanjang hingga menyentuh lantai, iris shappire dimata kanannya mulai berubah menjadi Emas Vertikal... Tekanan kekuatan yang besar memaksa Manticore terpaku ditempat. Naruto menatap datar kedepan dalam mode [Magia Erebea: Raiten Taiso].


"Kau nampaknya telah bersenang-senang dengan perempuan arogan ini bukan?, sekarang saatnya aku yang bersenang-senang denganmu, Celestial Manticore."


Setelah mengatakan itu Naruto menekuk lututnya sebelum ia melesat dengan kecepatan tinggi dan muncul didepan Celestial Manticore yang tidak sempat bergerak melihat kecepatan kilat Naruto. Dengan kecepatan tinggi Naruto melepaskan pukulan kuat kearah Celestial Manticore membuat tubuh besar Manticore terangkat keudara, tak sampai disana Naruto dengan cepat menekuk lututnya dan melontarkan dirinya keudara.


Naruto yang berada diudara memutar tubuhnya dan melakukan tendangan kuat kearah sisi kanan kepala Manticore membuat Manticore terbalik diudara sebelum ia kembali memutar tubuhnya dan memberikan tendangan kuat kearah Dagu Manticore yang membuat Manticore terhempas ketanah...


Naruto yang melihat hal itu langsung mengarahkab tendangan lurus kedepan dan dengan bantuan Gravitasi Naruto turun dengan kecepatan tinggi dan meremukan perut Manticore yang langsung meraung dengan keras.


Groooooaaaaar!


Naruto menatap datar kearah Manticore sebelum ia melompat menjauh ketika Manticore mencoba bangkit dari posisi terlentang miliknya, Naruto menatap kearah Manticore yang bangkit dan menatap kearahnya dengan tatapan marah, ia melihat Manticore terbang tinggi keudara dengan cepat, Manticore menjebol atap Castil dan terus terbang menjauh hingga ia berhenti tepat diudara.


'Master!, ia akan melakukan Teknik terkuat miliknya!, [Hypernova].'


Naruto terdiam mendengar perkataan Ophis sebelum ia mengalihkan pandangannya keatas dengan cepat ketika Manticore itu mengeluarkan kekuatannya yang sesungguhnya, ia bermandikan oleh Mana gelap dan perlahan membuka mulutnya lalu meng-charge Black Ball, perlahan Black Ball mulai muncul dalam ukuran kecil sebelum membesar.


Naruto yang melihat itu menatap dengan datar pada Manticore, ia dengan pelan menarik Katana Oric miliknya dan bergumam dengan pelan.


"Bangkitlah... ikarus."


Setelah mengatakan itu tiba-tiba Katana Oric milik Naruto bersinar dengan terang dan perlahan berubah menjadi sebuah busur panah yang begitu indah dan memancarkan kekuatan yang besar. Naruto kembali menarik Katana hitam miliknya dan bergumam dengan pelan.


"Berubahlah... Azi Dahaka."


Merespon perintah Naruto, tiba-tiba Katana hitam milik Naruto bersinar terang dan berubah bentuk menjadi sebuah anak panah yang mengeluarkan Aura perusak yang begitu besar, Naruto meletakan anak panah hitam itu kearah senar busur dan menariknya sampai Maksimal dan membidik kearah Manticore yang mencharger Black Ball sampai ukuran yang sangat besar.


Manticore itu mengarahkan Black Ball kearah Naruto yang membidiknya dengan ekspresi datar, Manticore melepaskan Balck Ball ukuran super itu kearah Naruto yang menatap dengan datar...


"Ophis... Hitung akurasi sasaran tembak dengan menggunakan Magic [Belial's Eye: Cardinal]. Jeanne... suplai ulang Manaku menggunakan cadangan dari tombak Petir Ruin Iskhur yang berada dalam [Kantung Perut]mu, murnikan dan berikan padaku. Azi Dahaka dan Ikarus... Aku akan memberikan kalian masing-masing setengah kapasitas Manaku jadi berikan peforma terbaik kalian... Apa kalian mengerti?."


'Ha'i, Master / Naruto-kun.'


Naruto tersenyum tipis mendengar teriakan Kuarter itu sebelum ia kembali mengarahkan pandangannya kearah Black Ball besar yang mengarah kearahnya... Iris emas vertikal itu perlahan memunculkan lingkaran magic kecil didepan matanya, lingkaran magic itu perlahan berputar pelan.


[Belial's Eye: Cardinal]


'Master... Semua telah selesai, Akurasi tembak mencapai angka Seratus persen!...'


'Cadangan Mana telah siap disuplai jika Master kehabisan Mana.'


'Aku dan Uranus Queen siap menghabisi musuh, Naruto-kun.'


Naruto memperlebar senyumannya sebelum ia perlahan mengobrakan seluruh [Mana] didalam tubuhnya, Mana milik Naruto perlahan bergerak dan menyelimuti Busur Ikarus dan Anak panah Azi Dahaka hingga membuat kedua-nya bermandikan Mana... Tekanan kekuatan dari Naruto membuat lantai dibawah kaki Naruto retak membuktikan seberapa besar tekanan kekuatan Naruto sekarang!... Naruto menatap datar Black Ball yang sedikit lagi akan menghantamnya, dengan ekspresi tak berubah Naruto dengan pelan bergumam pelan...


[Original Technique: Revolution Ballista]


Pets!


Naruto melepaskan panah miliknya yang langsung melesat dengan kecepatan tinggi, panah itu membentur Black Ball hingga kedua teknik berkuatan besar saling dorong satu sama lain namun dapat terlihat dengan jelas bahwa Teknik milik Naruto lebih kuat...


Krak!


Retakan mulai muncul pada Black Ball sebelum retakan semakin melebar dan akhirnya hancur berkeping-keping, hancurnya Black Ball membuat anak panah hitam Naruto melesat cepat kearah Celestial Manticore yang berusaha menghindar namun terlambat sebab Anak panah itu sudah terlebih Dahulu menghantam tubuh monster itu...


Blaaaaaaaaar!.


Ledakan hebat menghiasi langit, gelombang kuat dari hasil ledakan itu menghempaskan awan disekitarnya, Naruto menatap ledakan itu dengan pandangan datar sebelum ia menjulurkan tangannya kedepan...


"Kembalilah, Azi Dahaka."


Setelah mengatakan itu partikel cahaya berkumpul didepan Naruto dan membentuk sebuah Katana, hal yang sama juga terjadu pada Busur panah ditangan Naruto yang berubah kembali menjadi Katana. Naruto mengambil Katana hitam miliknya dan memasukan kembali kedua katana miliknya kedalam sarung Katana dipinggangnya.


"Berakhir sudah..."


.


.


.


Disebuah kamar yang cukup mewah terlihat seorang Hyuga Hibata tengah tertidur diranjang Queen Size dengan damai, namun kedamaian itu terusik ketika sinar matahari perlahan masuk lewat jendela dan menganggu tidur Hinata...


Hinata yang terganggu perlahan membuka kelopak matanya dan terlihatlah sepasang iris Lavender menyapa dunia, Hinata perlahan bangkit dan ia sedikit meringis ketika ia merasakan tubuhnya terasa nyeri dibeberapa bagian, Hinata bersender dijepala ranjang dan menatap lurus kedepan.


"Ini... Dimana?."


Hinata mengatakan itu selagi iris Lavender miliknya menatap kesekeliling, Hinata terdiam ketika ia tahu dinana ia berada, kini dirinya telah berada disebuah penginapan yang cukup mewah, Hinata mengalihkan pandangan kearah pintu yang terbuka, dari pintu itu terlihat tiga orang dimana satu Butler dan dua Maid tengah mendorong kereta makanan mendekati ranjangnya.


Dua Maid menyajikan makanan itu didekat Hinata sementara sang Butler menyerahkan sebuah surat pada Hinata yang menerimanya dengan bingung, Hinata menatap kearah Surat ditangannya dengan dahi berkerut.


"Surat ini dari siapa?."


Tanya Hinata pada Butler yang ada didekatnya, Sang Butler menjawab dengan nada sopan.


"Surat itu ditulis oleh orang yang mengantar anda kesini, Hyuga-sama."


Hinata terdiam mendengar perkataan Butler itu, orang yang mengantarnya kesini?, Hinata melebarkan sedikit matanya ketika ia menyadari siapa yang dimaksud sang Butler.


"Kalau begitu kami permisi, Hyuga-sama. Dan silahkan Nikmati sarapan anda."


Setelah mengatakan itu sang Butler dan dua orang maid segera pergi meninggalkan Hinata yang menatap surat ditangannya, setelah kepergian sang Butler Hinata membuka surat itu dan membacanya dengan intens.


[Jika kau sudah membaca surat ini itu artinya aku sudah kembali melanjutkan pengembaraanku, Hinata-san. Dan sesuai janjiku aku berhasil menyelamatkan kita dari Manticore itu, sekarang kau bisa senang karena masih bisa menikmati hidup. Dan Hinata-san... Terimakasih atas segalanya, semoga kita dapat bertemu lagi suatu saat nanti... Dari Haruto.]


Hinata terdiam sebelum ia menghela nafas dan tersenyum tipis tak lupa rona merah dikedua pipi putihnya.


"Haruto-san... Kita pasti akan bertemu lagi dan saat itu terjadi, aku tidak akan melepaskanmu."


Sementara itu orang yang dibicarakan tengah merinding hebat, Ophis yang melihat Masternya tiba-tiba menengang memiringkan kepalanya dengan imut.


'Master... kau kenapa?.'


"Aku tidak tahu, Ophis. Entah kenapa tubuhku terasa mengigil seolah-olah ada yang tengah mengincar hidupku."


'Ufufu~, mungkin itu hanya firasatmu, Master.'


"Ya semoga saja kau benar, Jeanne."


Naruto membalas perkataan Jeanne sebelum ia berjalan melanjutkan perjalanannya, ia saat ini tengah untuk kembali menuju Clan-nya... Ia telah mendapatkan apa yang ia cari dan sekarang saatnya menguatkan pillar utama dalam Clan Namikaze. Naruto menatap langit cerah dengan sebuah senyuman menawan diwajah tampannya.


"Ayah, tunggu kepulanganku..."

__ADS_1


__ADS_2