
Seseorang pernah berkata jika sesuatu yang terlalu berlebihan itu tidaklah baik, dan harus diakui jika apa yang dikatakan itu benar, sesuatu yang berlebihan akan membawa dampak buruk entah itu untuk lingkungan atau diri sendiri dan... Itulah yang saat ini dirasakan oleh seorang Namikaze Naruto.
Heir dari Clan Namikaze itu terlihat tengah tersiksa diatas ranjangnya, ia beberapa kali berguling kekanan dan kekiri dengan ekspresi kesakitan yang tergambar jelas diwajahnya... Itu semua diakibatkan oleh tertimbunnya kekuatan para makhluk luar biasa yang biasa disebut Naruto sebagai [Diva's] miliknya.
Para [Diva's] adalah julukan khusus yang Naruto berikan pada keempat gadis jadi-jadian yang bersemayam didalam tubuhnya, mendapati keempat gadis itu didalamnya membuat Naruto tidak hanya menjadi tuan rumah untuk mereka namun tempat penampungan dari kekuatan luar biasa dari para [Diva's]...
Bruk!
Naruto jatuh dari atas ranjangnya dan meringkuk kesakitan diatas lantai, ia merasakan rasa sakit yang teramat sangat diseluruh tubuhnya, rasa sakit itu seolah-olah ia dilempar langsung diatas api yang menyala-nyala.
Ditengah kesakitan yang Naruto rasakan empat buah cahaya keluar dari dalam tubuh Naruto dan langsung mengambil wujud perempuan yang memiliki kecantikan dari dunia yang berbeda, mereka nampak menatap prihatin Naruto yang meringkuk dan mengerang kesakitan, perempuan yang memiliki postur tubuh paling mungil diantara ketiga perempuan yang lain mendekati Naruto dan dengan pelan tangan mungil itu menyentuh kening penuh keringat dingin Naruto.
Sebuah pedar energi tipis perlahan menyelimuti tangan perempuan mungil bersurai sehitam malam itu, tak lama pedar energi itu hilang.
"Ophis, bagaimana keadaan Master?."
Perempuan bersurai hitam itu terdiam sebelum ia menoleh kebelakang dan menatap seorang perempuan bersurai pirang pendek dengan kunciran panjang dibelakangnya, iris hitam perempuan bernama Ophis itu beradu dengan Dark Blue milik perempuan yang bertanya sebelumnya. Ophis terdiam selama beberapa saat sebelum ia kembali menatap Naruto yang terlihat kesakitan.
"Master... Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi, kekuatan dari kita berempat mulai merusak tubuh Master."
Ucap Ophis dengan nada datar namun tidak dapat dipungkiri jika mata sehitam langit malam itu menyimpan kesedihan didalamnya, tiga perempuan dibelakang Ophis memasang ekspresi sedih.
"Apa... Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan, Master?."
Ikarus, perempuan bersurai pirang pucat digerai itu bertanya dengan nada pelan membuat ruangan itu jatuh dalam keheningan, Azi Dahaka yang ada disebelah Ikarus hanya bisa memasang ekspresi tersenyum miris atas pertanyaan dari Rival-nya itu, Master mereka bukan terkena penyakit atau kutukan yang bisa membawa seseorang kedalam pintu kematian namun Master mereka, Namikaze Naruto yang saat ini berada semakin dekat dengan pintu kematian diakibat oleh tubuhnya yang tidak sanggup menampung kekuatan yang sangat besar didalam tubuhnya...
"Ada... Ada cara menyelamatkan Master."
Ditengah keheningan yang menyedihkan, sebuah harapan muncul, ketiga gadis cantik itu mengalihkan pandangan mereka dengan kompak dan menatap kearah Ophis yang berdiri dengan wajah tertunduk hingga membuat ekspresi salah satu dari tiga buku ciptaan Solomon itu tidak terlihat...
"Ada tiga cara untuk menyelamatkan, Master. Pertama adalah melatih tubuh Master untuk menembus tingkat [Gold] dan membuatnya mendapatkan [Mystic Armor] yang biasa didapatkan setelah seseorang mencapai tingkat [Gold], dengan [Mystic Armor] yang dimiliki Master maka itu bisa menahan tekanan besar dari kekuatan kita berempat..."
"Jaa, kalau begitu mari kita-,"
"Tapi... Apa itu bisa dilakukan? Kondisi Master saat ini tidak memungkinkan tubuhnya untuk menerima beban berat dari latihan..."
Ikarus menutup rapat mulutnya setelah mendengar penjelasan lanjutan dari Ophis, benar... Master mereka tidak akan bisa menahan beban dari latihan sebab saat ini tubuhnya tengah masuk kedalam Fase berbahaya. Ophis menatap Ikarus sejenak sebelum ia kembali menatap lurus kedepan.
"Cara yang kedua adalah sebuah artifak bernama [Libra], Artifak yang memiliki fungsi untuk mengatur semua dalam keadaan seimbang, jika kita memiliki Artifak ini maka akan aku gunakan untuk menyeimbangkan kekuatan dari Azi Dahaka dan Ikarus yang bertentangan didalam tubuh Master... Tetapi, Artifak yang merupakan salah satu dari dua belas lingkaran langit, Santuary, [Zodiak] ini sampai sekarang belum diketahui keberadaannya sehingga cara kedua ini hampir mustahil diwujudkan."
Ucap Ophis dengan datar, Azi Dahaka terdiam mendengar perkataan Ophis sebelum iris Ruby miliknya menatap Ophis yang terus menundukan kepalanya. Entah kenapa Azi Dahaka memiliki firasat buruk tentang kelanjutan dari 3 rencana yang akan dikatakan Ophis. Azi Dahaka menepis firasat itu dan bertanya...
"Lalu cara yang ketiga?."
"Yang ketiga adalah..."
Ophis terdiam sebelum perlahan ia mengangkat wajahnya dan terlihatlah wajah yang penuh dengan kehampaan menakutkan didalamnya... Ophis dengan pelan menjentikan jarinya yang langsung diikuti dengan kemunculan sebuah Kekkai transparan yang menyebar menyelimuti kamar yang cukup luas itu... Dan suara yang begitu kosong yang menakutkan meluncur dari bibir Ophis.
"...membunuh kalian..."
Dooom!
Tepat setelah mengatakan itu sesuatu kekuatan yang dashyat menyeruak dari tubuh Ophis membentuk selubung putih yang menyelimuti tubuh mungil Ophis. Jeanne, Azi Dahaka dan Ikarus menegang ketika kulit mereka merasakan sensasi dari kekuatan yang dikeluarkan Ophis, tanpa mereka sadar mereka bertiga mengambil satu langkah mundur.
Ketiga perempuan yang merupakan Makhluk Overpowered itu waspada ketika mereka melihat dikedua tangan mungil Ophis tercipta lingkaran sihir berwarna putih tanpa noda dengan aksara rumit disana, Ophis menatap kosong kedepan.
"Maaf, tapi tidak ada cara lain lagi, dengan membunuh kalian maka Master akan selamat..."
Suara datar itu terdengar menyimpan tekad didalamnya, Ophis perlahan mendekatkan kedua lingkaran Magic ditangannya...
[Ancestor Magic: Ourobo-]
"Ophis!, hentikan!."
Saat kedua lingkaran Magic itu sedikit lagi akan bersentuhan sebuah suara membuat Ophis menghentikan gerakannya dan menoleh kebelakang, dan ia melihat Masternya tengah mencoba bangkit dari posisi-nya. Wajah itu terlihat kesakitan dengan keringat yang mengalir menuruni wajahnya yang kesakitan.
"Aku...tidak ingin...melihat kalian semua...saling membunuh hanya demi diriku..."
Suara putus karena nafas yang tersengal-sengal terlihat begitu menyiksa bagi keempat gadis didepan Naruto, Naruto mencoba berdiri dengan kakinya yang bergetar karena tidak memiliki cukup kekuatan untuk berdiri.
"Ophis...apapun yang ingin...kau lakukan demi menyelamatkanku...aku menentang kalian semua bertarung...dan saling membunuh satu sama lain hanya...demi diriku..."
Karena tubuh yang lemah, Naruto terhuyung kebelakang namun dengan semangat Naruto berhasil menahan dirinya agar tidak terjatuh dengan menjadikan lututnya sebagai tumpuan!.
"Ma-Master!?."
Melihat sang tuan tengah berusaha bangkit, Ophis dengan cepat bergerak kearah sang Master dan membantu tubuh lemah itu agar bisa berdiri, tak hanya Ophis namun Jeanne, Azi Dahaka dan Ikarus juga ikut membantu sang Master bangkit.
"Ophis...berjanjilah padaku satu hal...apapun yang terjadi padaku nanti...apapun itu...aku ingin agar kalian semua tidak saling menyalahkan diri kalian atas...apa yang nantinya akan terjadi padaku...Ophis berjanjilah..."
Ophis terdiam dan membuat wajah yang kesusahan, ia yang saat ini ditatap oleh Masternya dengan tatapan memohon yang menyedihkan membuat bibir Ophis tidak bisa bergerak untuk menolak perkataan sang Master, terjadi keheningan selama beberapa saat sebelum Ophis dengan pelan mengangguk.
"Aku berjanji, Master..."
Naruto menyungging senyuman diwajah-nya yang kesakitan sebelum wajah itu menegang dan seketika Naruto membungkukkan tubuhnya dan terbatuk dengan keras.
"Chough!."
"Master!."
Keempat gadis itu berteriak panik ketika Naruto kembali terbatuk dan mengeluarkan darah, keempat gadis itu dengan panik membungkus tangan mereka dengan Mana yang begitu murni dan menyalurkannya pada Naruto untuk menekan rasa sakit pada tubuh sang Master. Ophis mengigit bawah bibirnya melihat keadaan Naruto yang semakin memburuk, jika dibiarkan lebih lama lagi maka Naruto...Masternya bisa...
Ditengah kekhawatiran yang melanda perasaan Ophis, sebuah tangan menepuk surai hitam Ophis membuat Ophis mendongak keatas dan terlihatlah sang Master yang tengah memasang sebuah senyuman...senyuman yang seolah mengatakan 'tenang, semua akan baik-baik saja', Ophis memejamkan matanya sejenak sebelum ia mengangguk paham. Naruto tersenyum atas anggukan Ophis sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap ketiga gadis yang menatapnya dengan khawatir.
"Kalian...kembalilah, aku sekarang sudah lebih baik, jangan khawatirkan aku dan beristirahatlah, kalian membutuhkan istirahat untuk memulihkan kekuatan murni kalian yang kalian gunakan sepanjang waktu untuk menekan sakit ditubuhku."
Keempat gadis itu menatap Naruto dengan pandangan Khawatir, memang benar jika mereka berempat sudah hampir kehabisan [Mana] mereka yang mereka gunakan untuk menekan dampak negatif dari tertimbunnya kekuatan besar didalam tubuh Master mereka.
Sejujurnya bisa dikatakan jika sekarang [Mana] murni ditubuh mereka hampir tidak bersisa, mereka juga sudah mulai merasakan yang namanya kelelahan namun karena mereka mengkhawatirkan keadaan Naruto, mereka berempat memaksakan diri untuk menjaga dan memantau keadaan sang Master.
Dan sekarang sang Master telah menyuruh mereka untuk beristirahat, mereka ingin sekali menolak namun mereka juga tahu Naruto... Master mereka juga mengkhawatirkan mereka hingga mau tak mau Keempat perempuan itu mengangguk pelan dan berubah menjadi partikel cahaya lalu masuk kedalam tubuh Naruto.
Melihat para [Diva's] miliknya telah kembali ketempat mereka, Naruto menghela nafas sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah jendela dimana bulan purnama bersinar dengan indahnya.
"Sekarang... Apa yang harus aku lakukan?."
.
.
.
-Segel dan Awal dari kebangkitan-
.
.
.
"Jadi, apa yang ingin kita lakukan hari ini?."
Shaga bertanya dengan nada bingung pada Naruko yang ada dipangkuannya, Naruko mengerutkan dahinya dengan bingung dan mengeleng dengan pelan.
"Naruko... Tidak tahu, biasanya, Nii-sama selalu mengajak Naruko bermain."
"Begitu?, apa yang biasa Naruko mainkan dengan Naruto-kun?."
Shaga bertanya dengan lembut, Naruko tersenyum lebar dan dengan semangat ia menjelaskan pada Shaga.
"Nii-sama selalu menunjukan pada Naruko sesuatu yang menakjubkan."
"Oh dan sesuatu yang seperti apa itu."
Shaga kembali bertanya, ia nampaknya mulai penasaran dengan sesuatu yang dikatakan Naruko, jika Naruto yang disebutkan disini maka sudah jelas apapun itu pasti merupakan sesuatu yang mengejutkan sebab Naruto sendiri sudah terlalu sering melakukan hal yang mengejutkan, berhasil imbang dalam duel melawan Arthur yang dikatakan memiliki keahlian berpedang yang menganggumkan, sampai mencapai tingkat Silver : III hanya dalam waktu 3 bulan suatu perkembangan yang mengejutkan melihat orang yang melakukan itu dulunya dikatakan sebagai Generasi terburuk karena perkembangan Mana-nya yang sangat buruk.
__ADS_1
Naruko tersenyum dan mengangkat tangannya dengan semangat yang sesuai dengan anak seusianya. "Nii-sama bisa membuat benda-benda yang menyenangkan!, seperti benda ini." ucap Naruko selagi ia mengeluarkan sebuah benda yang membuat Shaga mengerutkan dahinya melihat itu.
"Naruko-chan, benda apa ini?."
"Ini Yoyo!, begitulah Nii-sama menamakannya."
"Bagaimana cara memainkan benda itu?."
Shaga menatap benda yang bernama Yoyo itu dengan tatapan tertarik, ia baru kali ini melihat benda itu, benda bulat dengan ukiran cantik itu terlihat seperti benda yang menyenangkan. Naruko tersenyum dan dengan semangat ia menunjukan pada Shaga bagaimana cara memainkan Yoyo, Naruko kecil bangkit dari pangkuan Shaga dan berjalan menuju halaman.
Setelah mengambil jarak yang cukup, Naruko mulai memainkan Yoyo itu, dan Shaga yang melihat cara memainkannya cukup tertarik, ia melihat bagaimana Naruko memainkannya, Naruko menunjukan beberapa gerakan untuk pemula yang diajarkan oleh Naruto padanya, setelah melakukan beberapa gerakan dasar Naruko menghentikan permainan Yoyonya dan Shaga yang melihatnya memberikan tepukan tangan.
"Hebat, Naruko-chan. Apa Naruto-kun yang mengajarkan padamu cara memainkan benda itu."
"Ya, Nii-sama yang mengajarkan Naruko, Nii-sama bisa memainkan Yoyo ini lebih hebat dari Naruko, Nii-sama bisa melakukan Wuuuush, wiiiisssh. Seperti itu."
Shaga hanya bisa tersenyum melihat betapa lucunya Naruko yang mencoba memperagakan Naruto yang ada dipikirannya, Shaga menatap Naruko yang kembali duduk dipangkuannya dan menatap pemandamgan halaman belakang keluarga Namikaze, Shaga dan Naruko tengah menikmati hari mereka dengan bermain dihalaman belakang keluarga Namikaze.
"Nee, Naruko-chan. Kau bilang Yoyo ini dibuat oleh Naruto-kun, bagaimana cara dia membuatnya?."
Shaga bertanya pada Naruko, ia ingin mengetahui apapun itu tentang Naruto sebab bagaimanapun, menurut pandangan Shaga Naruto sedikit misterius dan sulit ditebak, ia tidak bisa mengetahui dengan tepat dari sifat Naruto kecuali dia itu orangnya gak peka sama perasaan perempuan dan juga konyol, namun dibalik itu semua entah kenapa Shaga merasa ada hal lain yang disembunyikan oleh Naruto dan apa itu Shaga ingin mengetahuinya. Naruko tersenyum lebar dan menatap Shaga.
"Nii-sama melakukannya dengan sihir."
"Eh...? Sihir."
Shaga bergumam tanpa sadar, tunggu sebentar apa Naruko baru saja mengatakan sesuatu tentang Naruto yang menggunakan Sihir?, itu bukannya tidak mungkin... Naruto yang Shaga tahu mengabdikan hidupnya untuk menjadi seorang knight bahkan Shaga pernah mendengar dari bagian pengcheck-an Mana jika Naruto, merupakan siswa yang tidak memiliki harapan untuk bisa melakukan Sihir sebab bakat miliknya didiagnosa tidak menyimpan warna sihir, dengan katalain... Putih.
"Sihir?... Naruto-kun membuat Yoyo ini dengan Sihir?."
"Ya!, Nii-sama memakai Sihir, dan Nii-sama juga bisa menggunakan-,"
"Naruko-chan."
Sebuah suara memotong perkataan Naruko kecil, Shaga yang mendengar suara yang ia kenal menoleh kebelakang dan ia melihat Heir clan Namikaze selanjutnya tengah berdiri dibelakangnya dengan senyuman diwajahnya yang terlihat pucat. Naruko yang melihat sang kakak tanpa banyak waktu langsung turun dari pangkuan Shaga dan berlari menuju Naruto.
"Nii-sama!."
Naruko dengan cepat melompat pada Naruto yang nampaknya sedikit terhuyung kebelakang akibat terjangan mendadak Naruko, sementara Shaga mengerutkan dahinya melihat wajah pucat Naruto entah bagaimana Naruto terlihat sedang tidak sehat.
"Hey, bukankah sudah Nii-sama bilang agar jangan melompat mendadak seperti itu, Naruko-chan."
Naruto menatap adik kecilnya yang ada digendongan, Naruko tidak mengubris perkataan Naruto dan hanya memasang senyuman lebar dan memeluk leher sang kakak dengan erat. Naruto menghela nafas sebelum ia menoleh kearah Shaga yang sedaritadi menatapnya dengan intens membuat satu alis Naruto terangkat.
"Hime, ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?."
Shaga sedikit tersentak ketika mendengar Naruto menegurnya, ia dengan cepat mengeleng pelan dan tersenyum ala Tuan putri pada Naruto yang berjalan kearahnya dan duduk disampingnya.
"Tidak ada, aku hanya merasa kau terlihat sedikit kelelahan, apa kau baru saja melakukan sesuatu sampai terlihat kelelahan seperti ini, Naruto-kun."
Naruto terdiam sesaat sebelum tersenyum kecil dan mengangguk pelan. "Ya, aku baru saja selesai berlatih jadi aku merasa sedikit kelelahan." ucap Naruto, Shaga menatap Naruto yang tersenyum kearahnya, Shaga entah kenapa merasa jika Naruto tengah menyembunyikan sesuatu darinya namun Shaga menahan diri untuk menanyakannya sebab ia merasa Naruto tidak akan mau menjawabnya.
"Begitu... aku tahu sebagai seorang Knight, berlatih adalah hal yang penting, tapi berlatih secara berlebihan bukanlah hal yang baik untuk tubuhmu, Naruto-kun. Dan juga aku jangan membuatku khawatir."
Ucap Shaga membuat Naruto terdiam dan menatap sepasang dark-purple yang menatapnya dengan sinar khawatir, Naruto menghela nafas dan mengalihkan pandangannya menuju langit.
"Hime, jika aku tidak berlatih sekeras mungkin seperti yang sering aku lakukan, maka aku tidak akan menjadi aku yang sekarang, aku pasti masih menjadi Namikaze Naruto, Si Worst One. Karena bagaimanapun bakat perkembangan [Mana]ku sangatlah buruk, bukankah kau tahu hal itu, Hime."
Ucap Naruto mengalihkan pandangannya dari langit dan menatap Shaga yang terdiam dengan wajah merenung, memanh benar apa yang dikatakan Naruto, jika tunangannya itu tidak berlatih dengan keras maka Naruto akan tetap dilihat sebagai, pecundang terburuk sepanjang sejarah, The Worst One.
"Hanya dengan berlatihlah aku bisa menjadi diriku yang sekarang, menjadi Namikaze Naruto yang sekarang, aku yang sekarang disebut sebagai salah satu [Generation of Miracle] karena berhasil menembus tingkat [Silver] dari yang sebelumnya [Steel: I] hanya dalam kurun waktu 3 bulan."
Benar... Naruto sekarang adalah seorang Knight tingkat [Silver] dan itu menjadikan Naruto sebagai salah satu Orang yang dijuluki sebagai Generasi keajaiban, bahkan sekarang mulai beredar rumor yang mengatakan jika Namikaze Naruto suatu saat nanti akan menjadi seorang Knight tingkat [White-Gold] yang baru.
Sejauh ini dikerajaan Alvarez baru ada 3 orang tingkat [White-Gold], Ayah Shaga, King Redric. Lord Hiruzen, dan satu orang lagi yang saat ini tengah melakukan ekspedisi kedaerah Kegelapan yang berada dikerajaan Ras Demon, [Velorum]. Sebenarnya dahulu ada 4 orang yang berada ditingkat [White-Gold] namun karena suatu alasan yang aneh, orang itu mengalami kemunduran dan membuat ia turun dari tingkat [White-Gold], dan ya, orang itu adalah Namikaze Minato, ayah dari Naruto.
kerajaan Alvarez juga memiliki satu orang tingkat [Diamond] yang merupakan puncak dari kekuatan didataran benua Britania, dan orang itu adalah Kakek Shaga. Shaga menghela nafas dan menatap Naruto.
"Aku tahu itu, Naruto-kun. Aku juga tidak bisa melarangmu untuk berlatih karena bagaimanapun, kita sebagai salah satu dari Empat Ras dibenua Britania ini harus tetap menjaga keseimbangan kekuatan dengan tiga Ras yang lain. Meskipun Ras Manusia adalah yang terlemah kita harus tetap menjaga muka kita dihadapan tiga Ras yang lain."
Shaga menatap Shappire indah Naruto yang menatapnya dalam diam, Shaga mengangkat tangannya kepipi Naruto dengan lembut sebelum berucap dengan rasa cemas dan khawatir didalamnya.
"Tapi, Hime. Aku..."
"Naruto-kun, aku mohon padamu, berjanjilah."
Naruto terdiam ketika Shaga menatapnya dengan ekspresi yang penuh dengan khawatirnya, Naruto menatap Shaga selama beberapa saat sebelum ia memejamkan matanya. Perlahan tangan Naruto terangkat dan menggenggam lembut tangan mulus Shaga yang berada dipipinya.
"Aku mengerti, Hime. Aku berjanji padamu, aku tidak akan memaksakan diriku berlatih dengan keras."
Ucap Naruto yang tidak bisa menolak keinginan tunangannya itu, jika yang mengatakan ini adalah orang lain maka Naruto akan mengabaikannya tapi yang mengatakan ini adalah, Shaga. Hati kecil Naruto tidak bisa menolak keinginan dari tunangannya itu, bagi Naruto, Shaga adalah segalanya, bahkan Naruto bersedia memerangi ketiga Ras yang lain hanya jika Shaga yang memintanya, itulah bukti sedalam apa, Namikaze Naruto mencintai Ayame [Alvarez] Shaga.
Shaga yang mendengar janji Naruto tersenyum tipis, kekhawatiran yang ada dihatinya entah bagaimana berkurang, jika Naruto sudah berjanji maka ia pantang untuk melanggarnya, Shaga mengetahui hal ini dari ibu mertuanya, Namikaze Kushina. Ibu mertuanya berkata jika Minato dan Naruto adalah dua pria yang tidak akan pernah menarik apa yang sudah mereka katakan, jadi jika Naruto sudah berjanji maka ia tidak akan pernah melanggar janji itu.
"..."
"..."
Kryuuuuk~
Shaga dan Naruto terdiam ketika mereka mendengar suara perut yang tengah berdemo, pandangan keduanya terarah pada pangkuan Naruto dan terlihat Naruko yang tengah memegangi perutnya.
"Uhm... Nii-sama, Nee-sama. Naruko lapar."
Mereka melupakan Naruko, keduanya tersenyum kikuk dan segera membawa Naruko menuju ruang keluarga, mereka berdua tidak sadar jika sekarang waktunya makan siang.
.
.
.
"Apa yang kalian lakukan!?, hanya segini kemampuan kalian Hah!?."
Dilapangan yang biasa dijadikan tempat latihan dua unit spesial Clan Namikaze, Pleiades dan Anbu terlihat kepala Clan Namikaze saat ini, Namikaze Minato tengah melakukan pelatihan rutin pasukan Pleiades dan Anbu, terlihat Minato melatih mereka dengan sedikit -sangat- keras dari dua unit spesial yang berjumlah 50 lebih itu hampir semuanya tidak ada yang bisa mendaratkan serangan pada Minato.
"Aku tidak menyangka, Minato-sama ternyata sudah mulai berkembang, dia bisa mengalahkan para pasukan Pleiades dan Anbu yang sebentar lagi akan menjadi petarung tingkat [Silver]. Bagaimana menurutmu, [Crow]-san."
Dipinggir lapangan, pemimpin Unit spesial, Pleiades. Yuri Alpha membenarkan letak kacamatanya menyaksikan latihan rutin yang dipimpin oleh Minato sendiri, disebelahnya, atau lebih tepatnya dibalik batang pohon, pemimpin Unit Spesial, Anbu. [Crow] tengah bersandar dan mengangguk dengan ekspresi malas dibalil topengnya.
"Ya, aku tidak terkejut lagi, Yuri. Bagaimanapun Minato-sama adalah mantan seorang Lord, ia dulunya adalah satu dari empat orang yang mencapai tingkat [White-Gold], tingkat terkuat kedua dibawah [Diamond]."
Crow keluar dari balik pohon dan berjalan mendekati Yuri sambil melepaskan topeng gagak miliknya, dan terlihatlah wajah seorang dari Clan Nara, wajah dibalik topeng itu adalah milik dari Shikamaru Nara.
"Jadi, daripada mengatakan jika Minato-sama berkembang aku rasa lebih tepat mengatakan jika Minato-sama mulai kembali kedirinya yang dulu, sedikit demi sedikit."
Ucap Shikamaru, Yuri mengangguk setuju, kedua pemimpin Unit spesial itu menyaksikan pelatihan kedua Unit yang mereka pimpin dengan seksama dari pinggir lapangan sebelum pandangan mereka terarah pada dua orang yang baru muncul dari dalam Mansion.
Yuri dan Shikamaru langsung bersujud ketika Naruto dan Shaga berdiri didepan mereka. Naruto yang melihat kedua bawahannya bersujud seperti itu mendesah.
"Hormat kami pada Tuan Putri dan Paduka, Duke Naruto-sama."
"Berdirilah kalian berdua, berhentilah bersikap formal yang tidak pada tempatnya."
"Maafkan atas kelancangan saya, tapi sekarang ini, Naruto-sama adalah tunangan dari Tuan Putri, dan itu menjadikan Naruto-sama sebagai seorang Duke, jadi kami yang merupakan rakyat jelata harus bersujud dihadapan anda atau itu akan menjadi tidak sopan dilihat oleh bangsawan lain nanti."
"Benar apa yang dikatakan, kepala Maid, Yuri. Naruto-sama sekarang memiliki status tinggi akan jadi masalah jika kami Ralyat jelata tidak menunjukan rasa hormat kami pada paduka, Duke Naruto-sama. Kami tahu ini berat untuk anda yang menganggap kami sebagai teman anda tapi aku mohon terimalah hal ini, karena jika tidak Paduka, Duke Naruto-sama akan mendapatkan kritikan dari bangsawan lain."
Naruto menghela nafas dan memijat pelipisnya yang berdenyut, semenjak semua penghuni Mansion mengetahui tentang pertunangannya dengan Shaga -meski belum diumumkan- para penghuni Mansion langsung memberikan rasa hormat yang menurut Naruto berlebihan, bahkan rasa hormat yang mereka berikan padanya melebihi rasa hormat mereka pada kepala clan saat ini, dengan kata lain ayah Naruto.
Shaga yang ada disebelah Naruto tersenyum melihat dua bawahan dari tunangannya itu sebelum ia menatap Naruto yang ada disebelahnya.
"Naruto-kun, kau memiliki bawahan yang luar biasa, mereka mengerti tata cara bagaimana memperlakukan seorang bangsawan kelas atas dengan baik."
Ucap Shaga membuat Naruto menghela nafas dan mengangguk pelan, dan menoleh kearah Shaga dengan wajah malas. "ya mereka memang luar biasa, sangat luar biasa keras kepala!." ucao Naruto sebelum ia menatap cepat kedua bawahannya yang masih bersujud disana dan berucap dengan nada tegas.
__ADS_1
"Yuri Alpha, Shikamaru Nara!. Ini adalah perintahku sebagai seorang Duke, mulai sekarang jangan bersikap Formal padaku jika bukan ditempat-nya!."
"Ta-Tapi, Paduka-."
"Aku tidak menerima penolakan!."
"... Baiklah, jika itu keinginan anda, Paduka-, maksud kami, Naruto-sama."
Shaga tertawa kecil ketika melihat Yuri Alpha dan Shikamaru Nara, dua orang yang Shaga tahu adalah pemimpin dua Unit spesial dibawah komando Naruto langsung mengubah cara bicara mereka ketika Naruto memberi mereka tatapan tajam.
Naruto mengangguk puas melihat Yuri dan Shikamaru mulai menegapkan tubuh mereka, jujur saja meskipun ia adalah orang yang berada ditingkat status Sosial tinggi tapi ia merasa kurang nyaman jika orang yang dekat dengannya bersikap formal seperti tadi.
Naruto menoleh kearah lapangan latihan dan ia melihat Unit Pleiades dan Anbu tengah menenangkan deru nafas mereka yang memburu sambil menatap tajam, ayahnya, Minato yang menatap mereka datar. Kedua Unit kembali menyerang Minato dengan cepat namun Minato dengan mudahnya menghindari semua serangan itu dengan kemampuan andalan miliknya.
"Wow... Aku memang pernah mendengar jika, Ayah mertua adalah seorang mantan Lord karena suatu hal, tapi aku tidak tahu jika kemampuan ayah mertua sangat hebat."
Shaga tanpa sadar bergumam ketika ia melihat kemampuan Magic teleportasi super cepat milik Minato, Naruto mengulas senyuman tipis mendengar kekaguman dari Shaga.
"Ya, ayah memang mengalami penyakit yang membuat tingkatannya turun drastis tapi kini penyakit itu telah sembuh dan kini ayah tengah memulihkan kekuatannya lagi."
Ucap Naruto mendapatkan tatapan cepat dari Shaga."itu artinya, Minato-sama akan kembali menjadi seorang Lord?." tanya Shagaz Naruto mengangguk pelan.
"Ya, ayah akan kembali menjadi Lord, namun itu membutuhkan waktu yang aku yakin tidak sebentar, tapi aku percaya ayah akan kembali menjadi seorang Lord."
Ucap Naruto dengan senyuman diwajahnya, Shaga berdecak kagum dan kembali menatap latihan dua Unit spesial melawan, Minato. Jika Minato bisa kembali menjadi seorang Lord maka itu artinya kekuatan kerajaan Umat Manusia akan bertambah, dan itu berita bagus untuk Ras Manusia dengan kembalinya Minato menjadi seorang Lord maka Ras Manusia akan memiliki muka untuk menatap Ras yang lain.
Setelah beberapa saat akhirnya kedua Unit spesial tumbang, mereka telah benar-benar dikalahkan okeh Minato, Minato yang melihat kedua Unit tumbang menghela nafas, sejujurnya ia masih belum puas untuk melatih dirinya, tapi melihat para Pleiades dan Anbu yang terkapar ditanah membuat Minato tidak punya pilihan lain selain menyudahi latihan mereka. Minato menghela nafas lagi, ia secepatnya ingin kembali ketingkatannya semula, karena dengan begitu, Clan Namikaze tidak hanya akan mendapatkan kembali kehormatannya diantara para bangsawan besar namun Clan juga akan mendapatkan Perhatian penuh dari kerajaan Alvarez. Itu semua akan terjadi jika dirinya kembali menjadi tingkat [White-Gold].
"Hah~, aku rasa aku harus menyudahi-,"
Minato menghentikan perkataannya ketika matanya menangkap Naruto yang tengah memperhatikannya dengan wajah datar, Minato terdiam sejenak sebelum ia menyeringai kecil ketika ia mendapatkan sebuah ide melintas dikepalanya.
"Oi!, Naruto! Kemari."
Naruto yang melihat ayahnya memanggilnya menaikan satu alisnya, Naruto hanya membutuhkan beberapa detik untuk menyadari maksud dari ayahnya, ayahnya pasti akan mengajaknya...
"Naruto! Mari lakukan Sparring dengan ayah!."
... Itulah yang ayahnya minta, Naruto terdiam, jika Naruto adalah Naruto beberapa hari yang lalu maka Naruto akan dengan senang hati menerima tawaran dari ayahnya namun dirinya yang sekarang tengah dalam keadaan yang... Tidak, ia tidak boleh menunjukan keadaannya ia harus menyembunyikannya dari keluarganya tentang keadaannya. Naruto menghela nafas sebelum ia menatap kearah Shaga.
"Shaga, maaf tapi bisakah kau menunggu disini sebentar? Aku tahu aku telah berjanji padamu untuk menemanimu sepanjang hari ini, tapi kakek tua yang ada disana-,"
"Oi! Siapa yang kau panggil kakek tua!, ayah masih berusia kepala tiga!."
Naruto mengabaikan teriakan protes dari Minato dan kembalu melanjutkan dengan wajah datar. "...menginginkan sebuah sparring denganku... Jadi bisa kau tunggu disini sebentar?." tanya Naruto, Shaga memiringkan sedikit kepalanya dengan bingung.
"Untuk apa bertanya padaku? Lakukan saja."
"Terimakasih, Hime. Ini tidak lama."
Naruto tersenyum lembut pada Shaga sebelum wajah itu berubah menjadi datar ketika menoleh kearah Minato, Shaga menatap Naruto yang berjalan menuju Minato, Shaga melihat Naruto dan Minato membuat kesepakatan dalam sparring yang biasa diucapkan saat akan melakukan sparring.
Setelah keduanya setuju, Naruto mengambil salah satu pedang kayu yang ada dipinggir lapangan dan menatap Minato yang tengah bersiap, keduanya terpisah dengan jarak 50 meter, baik Naruto maupun Minato saling menatap satu sama lain sebelum keduanya melesat dengan kecepatan tinggi.
- Shaga POV -
Naruto-kun, dan Minato-sama tengah saling serang sstu sama laon, keduanya memiliki ekspresi serius yang melukisan tekad menjatuh lawan mereka, Naruto-kun menghindari pukulan dan tendangan dari Minato-sama dengan cepat, melihat celah Naruto-kun menghunuskan pedangnya kearah tulang rusuk Minato-sama.
Namun ketika sedikit lagi akan mengenai tubuh Minato-sama, sebuah kilatan kuning membungkus Minato-sama dan membuat tebasan Naruto-kun hanya mengenai angin. Naruto-kun menatap datar hal itu sebelum ia menegapkan tubuhnya dan berbalik menatap Minsto-sama yang berdiri tak jauh darinya.
"Ayah, kau sungguh memiliki Magic yang benar-benar merepotkan."
"Heh~, kau adalah orang kesekian kalinya yang mengatakan itu padaku, Naruto."
Minato-sama berkata dengan wajah mengejek, memprovokasi lawan, Huh... Dalam pertarungan, memprovokasi lawan merupakan hal yang sangat wajar namun sepertinya itu tidak berhasil pada Naruto-kun yang hanya memasang wajah datar.
Naruto mengabaikan hal itu dan meletakan pedang kayu dipelipisnya dan memasang kuda-kuda kokoh, aku menatap penasaran Gestur pedang Naruto yang baru pertama kali aku lihat, itu terlihat tenang namun memberikan perasaan yang kuat terlebih iris Shappire yang menatap sedingin ice itu... Tidak hanya aku bahkan para Anbu dan Pleiades yang ada dibelakangku menahan nafas mereka melihat posture tubuh Naruto mereka rupanya merasakan hal yang sama. Ditengah kekagumanku, Minato-sama menatap serius Naruto.
"Kau sepertinya menaikan Level sparring ini, Nak. Baiklah, akan ayah terima."
"Datanglah, ayah. Aku akan menerima semuanya."
Aku menahan nafasku ketika mendengar suara yang dingin dari kedua pria penyandang nama Namikaze itu, keduanya menatap satu sama lain sebelum Naruto dan Minato memotong jarak mereka dengan cepat.
Aku memfokuskan mataku melihat pergerakan super cepat didepanku, untuk segi kecepatan aku bisa mengatakan bahwa Naruto-kun dan Minato-sama lebih cepat dari Rival serta Sahabat masa kecilku, Arthuria dalam kondisi [Normal]-nya. Keduanya bahkan jauh melampaui batas kecepatan Wizard dan Knight [Normal].
Naruto-kun dan Minato-sama melakukan pertukaran serangan dengan cepat, aku dapat mendengar suara kekaguman dari belakangku.
"Naruto-sama, dia... Dia bisa menahan kecepatan gila Minato-sama."
Begitulah rata-rata mengumamkan kekagumannya, ya, Naruto-kun dapat menahan serangan super cepat Minato-sama. Keduanya saling menjaga jarak setelah melakukan serangan. Aku mengerutkan dahiku ketika melihat Naruto-kun, ia menatap Minato-sama, Gesture tubuh Naruto-kun kembali melunak untuk sesaat.
"Ayah, aku rasa sudah saatnya mengakhiri Sparring ini, aku masih memiliki waktu kencan bersama Shaga."
Minato-sama menaikan satu alisnya sebelum ia menatap kearahku, ia nampak terdiam sejenak sebelum ia menyeringai, seringai yang mengingatkanku pada Naruto-kun, aku merasakan firasat buruk.
"Begitu, ayah mengerti~. Baiklah kita selesaikan ini, Naruto."
Minato-sama memasang gesture bertarung, Naruto-kun menatap datar Minato-sama sebelum ia melirik kesampaing dan menunjuk kearah salah satu [Anbu].
"Kau... Bisa kau berikan pedang kayu milikmu itu."
"Eh?, baiklah."
Anbu itu awalnya cukup terkejut tapi tak lama ia segera melempar pedang kayu itu pada Naruto yang menangkapnya dengan santai, Naruto yang telah mendapatkan satu lagi pedang kayu, menarik nafas.
"Ayah, aku akan menunjukan padamu, kekuatan berpedangku yang sebenarnya."
Momen saat Naruto-kun mengatakan itu, sebuah kesunyian mengunci suasana disekitar, Naruto-kun memejamkan matanya dan berkonsentrasi penuh, ia mengubah gesture tubuhnya dan menyilangkan kedua pedang kayu itu didepannya. Aku menahan nafasku ketika kulitku dapat merasakan hawa menusuk dari Naruto, itu terasa lembut namun disaat yang bersamaan terasa mengancam sekitar.
Tidak hanya aku, bahkan Minato-sama langsung meningkatkan kewaspadaannya hingga maksimal, ia mungkin merasakan bahaya dari posture Naruto. Ditengah keheningan, Naruto perlahan membuka matanya dan disaat itu aku tanpa sadar mengambil satu langkah mundur, mataku melebar dalam ketakutan melihat Naruto-kun... Tidak salah lagi itu...
"Oi... Yang benar saja."
"Tuan muda, anda..."
Para Anbu dan Pleiades berkeringat dingin ketika mereka menatap Atmosfir yang ada disekitar Naruto, kepala Maid, Yuri yang menatap Naruto dengan keringat dingin dipelipisnya menaikannya dan berucap dengan nada terkejut.
"Tidak salah lagi, ini adalah [Spirit Realization]."
Disaat Yuri-san mengatakan itu, pemimpin pasukan Anbu [Crow] melepaskan topeng yang tengah ia kenakan, dan terlihatlah senyuman ketidak percayaan dari wajah yang biasanya terlihat malas itu.
"Sungguh hawa membunuh yang luar biasa, Hanya mereka yang benar-benar pernah melewati pertarungan hidup dan mati melawan musuh yang Mustahil mereka menangkan yang bisa mengeluarkan hawa membunuh sepekat ini bahkan itu sampai ter-realisasikan melewati garis Horizon."
Aku terdiam, aku hanya mampu membisu dan menatap kearah Naruto-kun yang diselimuti Aura membunuh yang begitu luar biasa namun disaat yang sama itu terasa sangat sunyi. Minato-sama hanya menatap Naruto dengan serius.
"Nak, aku benar-benar tidak tahu apa yang sudah kau alami tapi apapun itu, aku rasa itu bukanlah sesuatu yang menyenangkan, sebab hawa membunuh ini..."
Aku menatap Minato-sama dan aku dapat melihat sebulir keringat menuruni pelipisnya, lalu sebuah gumaman pelan terdengar ditelingaku.
"... Sangat luar biasa."
Naruto-kun terus mengobarkan hawa membunuh murni miliknya dan menguatkan kuda-kudanya, sebelum ia mengumamkan tekniknya.
[Namikaze Style: Oni-,]
Pada momen disaat aku, para Anbu, Pleiades dan Minato-sama menegang bersama tiba-tiba hawa membunuh yang menyesakan diruangan itu lenyap bersama dengan Naruto-kun yang menegang dan bergetar, dua pedang kayu ditangan Naruto-kun mendadak terjatuh disaat Naruto-kun membungkukan tubuhnya.
"Chough!."
Aku melebarkan mataku ketika melihat Naruto-kun memuntahkan sesuatu keatas tanah, sesuatu yang kental berwarna merah membasahi tanah, itu... Darah.
Naruto-kun kembali memuntahkan darah cukup banyak sebelum ia jatuh diatas kedua lututnya, ia mengambil nafas berat dapat terlihat keringat membasahi seluruh wajah Naruto-kun, Naruto-kun meringis sebelum perlahan ia jatuh diatas genangan darahnya sendiri, Naruto-kun mengambil Nafas berat lalu ia menatap kearahku dengan mata hampir terpejam, aku merasakan nafasku terhenti ketika aku mendengar Narutokun bergumam pelan.
"Sial... Ini sudah mencapai batasnya."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, mata Naruto-kun tertutup sepenuhnya, dan seketika kesadaranku pulih, aku dapat merasakan dadaku yang menyempit dan mataku mulai memanas, tanpa aku sadari aku mulai berlari kearah Naruto-kun.
"Naruto-kun!?."