The Worst One

The Worst One
Chapter 28


__ADS_3

Naruto menatap keluar dari jendela kereta kuda yang menyajikan pemandangan yang begitu indah, Naruto tersenyum kecil melihat pemandangan itu sebelum senyuman itu luntur digantikan dengan wajah datar, pikiran Naruto melayang kehari dimana ia membuat terkejut seluruh Academy dengan perkembangan miliknya yang luar biasa dan dihari itu juga Naruto mendapatkan berita yang luar biasa dari Guru pembimbing Club Penelitian Alam, Azazel-sensei.


Naruto dibuat terkejut dengan kenyataan jika ayahnya, kepala Clan Namikaze saat ini, Namikaze Minato adalah seorang mantan Lord!, itu artinya ayahnya pernah menjadi seorang petarung tingkat [White Gold], sebuah pencapaian yang luar biasa jika dilihat dari usia ayahnya yang terlihat masih muda... Tapi, ada hal yang membuat Naruto harus berjuang keras mengendalikan emosinya. Ini tentang ayah Naruto yang menjadi Mantan seorang Lord.


Ditengah keterkejutannya Naruto harus menerima kenyataan yang membuat Naruto bersumpah jika ia tidak pernah merasa semarah saat itu ketika mendengar alasan kenapa Ayahnya bisa menjadi Mantan Lord. Ia marah saat Azazel-sensei menjelaskan alasan kenapa ayahnya bisa menjadi Mantan Lord.


-FlashBack-


"Eeeeeeeehhhhhh!?."


"Tunggu!, kenapa kau malah terkejut!."


Azazel berteriak sambil menunjuk kearah Naruto yang memasang wajah terkejut, Naruto tersadar dari rasa terkejutnya sebelum ia dengan cepat maju dan mencengkram bahu Azazel dan menguncang Azazel dengan cepat.


"Sensei!, jelaskan semuanya!, apa maksudmu tentang kedua orang tuaku yang mantan seorang Lord dan Rune Breaker!."


"Oke!, akan aku jelaskan!, lepaskan aku terlebih dahulu!."


Azazel merasakan perutnya mual setelah Naruto melepaskan dirinya, Azazel menarik nafas sejenak sebelum ia mengaruk belakang kepala-nya yang tak gatal.


"Harus darimana aku menjelaskan ini?... Hah~, merepotkan saja, aku harap kodok tua itu ada disini... Uhm?, baiklah kita mulai dari sana saja."


Setelah bergumam sendiri cukup lama Azazel menatap kearah Naruto yang menanti dengan sabar. Azazel menghela nafas dan menjatuhkan pantatnya lalu iris violet miliknya menatap kearah para muridnya.


"Baik, aku akan menceritakan tentang kedua orangtuamu ini pirang, dan kalian juga harus mendengarkan hal ini dan cobalah petik pelajaran dari cerita ini, sebab mungkin hal yang akan aku sampaikan bisa merubah hidup kalian semua."


Semua terdiam mendengar perkataan Azazel-sensei sebelum mereka dengan cepat mencari posisi duduk dan menatap Azazel-sensei yang tengah memasang wajah serius.


"Baiklah, dengarkan baik-baik."


Azazel memulai cerita tentang kedua orang tua Naruto, Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina saat berada diacademy ini, ketika masih muda Minato dan Kushina terkenal tak pernah akur sebab mereka berada di Divisi yang berbeda dimana Minato berada di Divisi Wizard dan Kushina yang berada di Divisi Knight.


Minato dan Kushina akan selalu bertengkar bahkan tak jarang bertarung ketika keduanya bertemu, awal pertengkaran mereka diawali dengan saling ejek dimana Minato mengejek Kushina sebagai Perempuan Tomat dan Kushina yang kesal membalas dengan mengejek Minato sebagai Laki-Laki Duren...


Dari konflik itu mereka mulai sering bertemu dan bertarung, sangking seringnya mereka bertarung sampai-sampai mereka berdua tidak sadar jika kedua-nya ternyata dijadikan sebagai pemimpin dari Divisi masing-masing, sebab para murid dari kedua Divisi tahu jika Minato dan Kushina memiliki kemampuan yang melebihi semua murid di Academy pada masa itu...


Saat itu, Azazel dan Jiraiya yang berusia masih muda sering diperintahkan untuk menenangkan Minato dan Kushina yang sering berkelahi, Azazel mencoba menenangkan Kushina dan Jiraiya menenangkan Minato...


Namun karena keduanya sudah menjadi musuh bebuyutan Azazel dan Jiraiya sampai menyerah mengatasi kedua remaja itu, dan akhirnya atas pertimbangan para guru, para guru sepakat untuk mengadakan sebuah duel, antara Namikaze Minato melawan Uzumaki Kushina... Sebuah duel dimana jika salah satu dari mereka kalah maka pihak yang menang bebas meminta apapun pada pihak yang kalah... Mendengar tawaran yang menarik tanpa sadar kedua orang itu menerima-nya.


Singkat cerita, duel antara keduanya dimulai dan disaksikan oleh para guru termasuk Azazel dan Jiraiya, duel yang awalnya mereka prediksi hanya berlangsung sebentar ternyata mereka bertarung selama berjam-jam, disaat itu para guru mulai lelah menyaksikan pertarungan Minato dan Kushina sampai semua dibuat terkejut ketika Minato mengeluarkan sebuah Magic yang sangat luar biasa... Sebuah Magic Teleportasi instan yang melebih semua Magic Teleportasi telah diciptakan Minato dimana ia dapat dengan mudah berpindah tempat dengan instan... Minato menamakan Magic itu dengan nama [Hiraishin], berkat Magic itu Minato berhasil mendesak Kushina...


Ketika para guru sudah hampir melihat siapa pemenangnya tiba-tiba para guru dipaksa menelan Pil Pahit ketika mereka melihat Kushina mengaktifkan Ancient Magic khas dari Clan Uzumaki [Magic Chain] sebuah Magic kuno milik Clan Uzumaki dimana Clan Uzumaki dapat mengeluarkan rantai dari tubuh mereka dan menggunakannya untuk menahan atau menyerang musuh... Kemampuan berpedang dan Rantai Sihir membuat keadaan menjadi seimbang kembali...


Setelah bertarungan yang cukup lama akhirnya mereka berdua tumbang karena mereka kehabisan tenaga, sebuah hal yang menakjubkan melihat keduanya dapat bertahan dan bertarung dalam duel yang bisa dimasukan sebagai Duel paling ganas yang pernah ada...


Setelah duel itu, keduanya dinyatakan sama-sama menang dan sama-sama kalah, jadi keduanya berhak meminta apapun satu sama lain...


"Lalu?, apa yang keduanya minta pada pihak lain?."


Azazel menyesap teh buatan Miya untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering sebab bercerita cukup panjang, Azazel meletakan cangkir teh miliknya dan menatap kearah Tobio yang menatap Azazel dengan pandangan datar.


"Sejujurnya, aku juga tidak tahu apa yang mereka berdua minta satu sama lain, tapi... Setelah duel itu, baik Minato maupun Kushina terlihat sangat akrab, bahkan tak jarang para murid melihat Minato dan Kushina bersama-sama... Dan setelah lulus, keduanya mulai terkenal dimana-mana, Minato dikenal sebagai Wizard dengan julukan [Yellow Flash], dan Kushina seorang Rune Breaker dengan julukan [Red Hanabero], ada satu hal yang membuat seluruh kerajaan Alvarez terkejut... Namikaze Minato berhasil mencapai tingkat [White-Gold], dan menjadikan-nya sebagai seorang Lord... Lalu beberapa tahun kemudian aku dan si kodok Jiraiya dibuat terkejut tentang pernikahan mereka!. sesuatu yang bisa dibilang sebagai keajaiban, melihat keduanya selama ini tidak pernah akur namun sekarang mereka menjadi sebuah keluarga."


"Sebuah akhirnya bahagia, selamat untuk mereka."


Azazel terdiam sebelum ia melirik kearah Cao Cao yang memasang wajah sinis, Azazel mengambil cangkir tehnya yang baru saja di-isi oleh Miya dan menyesapnya dengan tenang, iris Violet Azazel menatap kearah Cao Cao dengan pandangan yang sulit dijelaskan.


"Ya, jika cerita-nya berhenti sampai disana maka itu akan menjadi Akhirnya yang Bahagia, Happy Ending... Tapi sayangnya bagian yang mengenaskan baru saja dimulai..."


"Apa maksudmu, Sensei?."


Azazel menoleh kesampingnya dan tersenyum menatap Miya yang nampak penasaran dengan ceritanya, iris violet milik Azazel bergulir dan menatap kearah Naruto yang juga ikut penasaran, Azazel tersenyum sebelum ia melihat keisi cangkir teh dimana disana terpantul bayangan dirinya.


"Setelah beberapa bulan Menikah, Kushina hamil... Dan Minato sangat bahagia tentang itu, ia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah, namun saat kandungan Kushina berada diusia tua sebuah musibah terjadi, saat Kushina akan melahirkan dirimu, seseorang yang tidak dikenal menyusup dan menculik dirimu, Naruto."


Semua yang ada diruangan itu terdiam dalam keterkejutan khususnya Naruto yang merupakan pihak yang paling terkejut, Azazel tersenyum miris.


"Minato yang mengetahui putranya diculik marah besar dan turun tangan sendiri untuk mengejar penculik itu, dan singkatnya Minato berhasil mengejar penculik itu sampai ketempat yang dijuluki sebagai Valley of The End, disana Minato ditunggu oleh penculikmu, Naruto... Minato dan Penculik itu bertarung dengan sangat sengit didalam sebuah Barrier Magic yang sangat kuat, pertarungan yang memakan waktu selama berjam-jam itu akhirnya dimenangkan oleh Minato, ia berhasil memukul mundur penculik itu... Namun disaat yang sama Minato terkena kutukan yang ditinggalkan oleh penculik itu, sebuah kutukan terjahat dan terkejam dari semua Curse Magic yang aku tahu... [Arcux Arietis]... Kutukan yang akan memakan jiwa seseorang secara perlahan-lahan, seseorang yang terkena Curse Magic ini akan melemah secara perlahan-lahan, dan Magic ini juga yang bertanggung jawab atas dicabutnya Gelar Lord Minato karena setelah terkena Kutukan ini, Kapasitas [Mana] Minato yang awalnya ada ditingkat [White-Gold] turun menjadi [Black-Gold], dan beberapa tahun telah berlalu sejak saat itu dan Minato mungkin saat ini berada ditingkat [Gold]... Dan jika kalian tanya darimana aku mengetahui semua hal itu, maka aku akan menjawab, aku melihat semua-nya secara langsung... Mulai dari malam penculikan sampai Minato berhasil memukul mundur penculik itu... Aku menyaksikan semuanya."


Azazel menyelesaikan ceritanya dan tanpa dirinya sadari semua yang ada disana terkejut, Lee, Cao Cao, Tobio dan Miya hanya dapat terdiam selagi mereka menatap kearah Naruto yang menundukan wajahnya hingga membuat ekspresi wajahnya tidak dapat terbaca, Azazel tersenyum miris dan menguncang pelan cangkir teh miliknya sebelum ia meminumnya dan meletakannya diatas meja.


"Azazel-sensei..."


Azazel yang tengah merenung dengan wajah rumit mendongakan wajahnya dan menatap kedepan dan seketika seluruh tubuhnya merinding hebat ketika Naruto menatapnya dengan iris mata yang menjanjikan kematian pada siapapun yang ditargetkan oleh sipirang.


"Apa... Apa kau mengetahui ciri-ciri penculik-ku itu?."


Suara dingin nan menusuk membuat Azazel, tidak... Semua yang mendengarnya bergidik ngeri, satu hal yang mereka tahu, Naruto saat ini tengah marah... Marah besar. Azazel terdiam sejenak sebelum ia menghela nafas.


"Aku tidak bisa mengingat-nya dengan jelas karena kejadian itu sudah berlalu lama sekali, dan penculik itu juga mengenakan jubah hitam dan sebuah topeng yang menutupi wajahnya, tapi... Satu hal yang tidak pernah bisa aku lupakan dari penculik itu..."


"Apa itu, Sensei..."


Azazel melirik kearah Naruto yang memancarkan aura berbahaya, Azazel memejamkan matanya mengingat ciri dari penculik itu, ciri yang tidak akan pernah ia lupakan, ciri yang menjadi harga diri sebuah clan ternama dikerajaan, Alvarez.


"Sharingan... Penculik itu memiliki Sharingan..."


Krak!


Semua yang terkejut mendengar ciri dari penculik Naruto serempak merasakan hawa dingin yang memenuhi sekitar, mereka serempak mengalihkan pandangan mereka kearah Naruto yang tengah diselimuti oleh Aura petir ganas, sebuah retakan besar tercipta diatas meja dimana tangan Naruto berada...


"Uchiha...!."


"Wow, Wow, tenanglah pirang... Aku memang melihat penculik itu memiliki Sharingan, tapi selain Sharingan ada satu ciri lagi yang dimiliki sih penculik..."


Naruto terdiam sebelum ia menatap Azazel dengan mata emas yang berkilat menakutkan, Azazel merinding melihat mata emas dengan pupil Vertikal itu.


"Dia memang memiliki Sharingan tapi, dia juga memiliki satu lagi ciri yang diberikan oleh Ayahmu... Penculik itu, memiliki bekas luka berat pada punggungnya akibat jutsu berbahaya dari Ayahmu."


Semua yang ada diruangan itu menghela nafas ketika merasakan hawa dingin nan menyesakan perlahan menghilang, Naruto terdiam sebelum ia bangkit dan meninggalkan ruangan itu dalam diam...


"Kalian, jangan kejar dia... Saat ini, Naruto butuh waktu untuk menyendiri..."


Azazel berucap ketika melihat para anak didiknya dan Lee berniat bangkit dan mengejar Naruto untuk menghiburnya... Keempat Murid itu terdiam sebelum mereka kembali duduk disana dalam diam...


'Naruto...'


Azazel terdiam sebelum ia menyesap Teh miliknya sampai habis dan menatap jauh kedepan, senyuman tipispun terpatri diwajahnya.


'Kau memiliki teman-teman yang peduli padamu, Pirang.'


-Flashback End-


Naruto menatap bayangan dirinya yang terpantul oleh kaca jendela yang memproyeksikan pemandangan diluar. Ia belum pernah semarah itu, tidak pernah ia duga jika kedua orang tua-nya menyimpan rahasia yang sangat besar darinya... Naruto mengepalkan tangannya hingga terlihat percikan petir menyelimuti tangannya.


"Uchiha..."


Setelah melalui perjalanan selama beberapa jam akhirnya Naruto sampai didaerah kekuasaan Clan Namikaze, Naruto turun didepan Mansion besar milik kepala Clan yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

__ADS_1


Naruto melangkah masuk kedalam Mansion dan saat ia memasuki halaman Mansion Naruto disambut oleh Butler yang pernah menjemputnya waktu dirinya dipanggil untuk menghadiri pertemuan dengan Tunangan-nya.


Butler itu menunduk hormat pada Naruto sebelum membuka pintu besar nan mewah itu, Naruto tersenyum tipis dan masuk kedalam Mansion diikuti oleh Butler dibelakangnya


Naruto terus melangkah kedalam Mansion dengan ditemani oleh Butler yang berjalan selangkah dibelakangnya, Butler itu terhenti ketika Naruto berhenti didepan sebuah pintu, dengan sigap Butler itu membuka-kan pintu. Naruto tersenyum dan melangkah masuk kedalam... Sesampai didalam Naruto melihat Ayah, ibu dan adiknya tengah duduk disebuah sofa dengan ditemani secangkir teh dan beberapa kue manis... Ketiga orang itu mengalihkan pandangan mereka ketika mendengar suara pintu dan mereka tersenyum melihat Naruto berdiri didepan pintu dengan senyuman tipis diwajahnya.


"Ayah, ibu, aku pulang..."


"Selamat datang, Naruto..."


.


.


.


Pagi yang indah telah datang, matahari telah naik keatas singgasana-nya, dikamar yang cukup mewah Naruto tengah tertidur dengan nyenyak, cukup nyenyak hingga sang surya mengusik tidur nyenyak-nya dengan sinar miliknya. Naruto berusaha bergerak namun entah kenapa Ranjangnya terasa begitu sesak...


Naruto nampak terganggu dan perlahan membuka matanya lalu terlihatlah iris shappire indah milik pemuda itu. Naruto menatap atap kamarnya dengan pandangan datar sebelum ia mengalihkan pandangannya keatas dadanya dimana makhluk imut nan mengemaskan tengah tertidur dengan nyenyak... Naruto melirik kekanan dimana ia melihat maklhluk berwujud transparan tertidur nyenyak, lalu iris Naruto bergulir kekiri dimana ia melihat seorang kinpatsu bishoujo tertidur dengan senyuman damai diwajahnya.


Naruto menghela nafas, sebelum ia mencolok pelan pipi gadis mungil diatas dadanya, gadis mungil itu nampak terganggu dan perlahan iris hitam kelam milik gadis itu terbuka...


"Selamat pagi, Ophis."


Ophis, bangkit dan dengan imut mengucek matanya sebelum ia menatap kearah Naruto yang tengah menatapnya dengan senyuman tipis.


"Umm... Selamat pagi, Master."


Setelah membalas salam Naruto, Ophis bergerak turun dari ranjang, Naruto tersenyum melihat Ophis sebelum ia menoleh kearah kiri dimana ia melihat sepasang iris dark blue tengah menatapnya dengan lembut tak lupa sebuah senyuman manispun terpatri disana.


"Selamat pagi, Master."


"Pagi, Jeanne."


Jeanne tersenyum sebelum ia bangkit dan berjalan menuju kearah Ophis yang tengah duduk disofa dalam keadaan masih mengantuk itu terbukti dari matanya yang terpejam dan sesekali kepala-nya bergoyang kekanan dan kekiri.


"[Hmm... Tidak ada perang lagi ya?.]"


Naruto menoleh kesamping ketika ia mendengar sebuah suara dan ia melihat Maria tengah melayang rendah dan menatap kearah Jeanne dan Ophis yang duduk disofa itu dengan senyuman indah diwajahnya... Maria yang merasa diperhatikan menoleh kearah Naruto dan tersenyum.


"[Ah, selamat pagi, Naruto-san.]"


"Pagi, Maria."


Maria tersenyum dan melayang menuju Ophis dan Jeanne yang tengah duduk disofa, Naruto bangkit dan meregangkan tubuhnya sebelum ia berjalan menuju kekamar mandi... Didalam Naruto mulai menanggalkan satu persatu pakaiannya dan mulai membasuh tubuhnya dengan air... Sebelum ia terhenti ketika mendengar suara gaduh.


"Tunggu!, apa maksudmu menghentikanku, Cebol."


"Aku tidak akan membiarkan Master dinodai olehmu!."


"Dinodai?, aku malah mau membersihkan tubuh Master!."


"Tidak, tidak, tidak!. Kau hanya akan menggoda Master dengan dua balon itu kan?."


"Hooh~, jadi kau cemburu terhadap tubuhku?, heh~, aku bisa mengerti~."


"Apa maksud dari tatapan 'aku kasihan padamu', yang aku lihat itu!."


"Ara?, kau hanya salah lihat."


"Tidak!, aku jelas-jelas melihatnya!."


"[Ufufufu~, ha'i, ha'i, hentikan. lihat Naruto-san tengah memperhatikan kalian.]"


Keduanya menghela nafas lega ketika Masternya menutup pintu dan meneruskan mandinya, Jeanne dan Ophis menatap tajam satu sama lain sebelum keduanya memalingkan wajahnya dengan 'hmph!' khas perempuan, Maria yang melihat pertengkaran keduanya hanya mengeluarkan tertawa kecil, nampaknya ia menikmati pertengkaran dari kedua teman-nya itu.


.


.


.


"Aku pergi, kalian jangan berisik mengerti?."


"Ha'i, Master."


Naruto mengangguk puas dan menutup pintu, ia menghela nafas sebelum berbalik dan meninggalkan ketiga gadis cantik dikamarnya, Naruto kini tengah memakai pakaian bangsawan yang memberikan kesan jika Naruto adalah penting, pakaian bangsawan berwarna merah gelap dengan beberapa garis emas, celana panjang dengan sepatu kulit hitam yang menyelimuti-nya membuat kegagahan dan kharisma seorang Namikaze Naruto berteriak keras.


Naruto berjalan menuju ruang makan, hari ini untuk pertama kali-nya Naruto sarapan dengan keluarganya sejak kepulangannya dari Academy, Naruto menatap kedepan dimana ia melihat sebuah pintu besar dengan seorang butler disana tengah berdiri disamping pintu itu, butler itu membuka pintu ketika melihat kedatangan Naruto...


Naruto tersenyum kecil pada Butler itu dan masuk kedalam, didalam Naruto melihat sebuah meja panjang dengan kain putih menutupi meja itu, beberapa makanan mewah tersusun dengan rapi disana... Dimeja itu terlihat ayah dan ibu dari Naruto, Namikaze Minato dan Namikaze Kushina tengah duduk dengan tenang, Naruto berjalan dan duduk dikursi yang ditarik oleh seorang butler.


Minato menatap kearah Naruto dan tersenyum kecil, "baiklah, kita mulai sarapan keluarga kita." ucap Minato dan setelah mengatakan itu para maid datang dan menyiapkan peralatan makan dan mengambil makanan yang disajikan disana.


Maid dengan surai hitam disanggul dengan kacamata tipis membingkai matanya hitam cantiknya, Naruto menatap Maid yang merupakan kepala pelayan menundukan kepala-nya.


"Silahkan, dinikmati Minato-sama, Kushina-sama, Naruto-sama."


"Terimakasih, Yuri."


Setelah mengatakan itu, Maid bernama asli Yuri Alpha, itulah yang Naruto tahu, menundukan kepalanya dan perlahan mundur kebelakang. Naruto dan kepala Maid itu saling adu tatap satu sama lain, iris shappire dan hitam beradu selama beberapa saat... Sebelum Naruto menyantap makanan-nya. Maid itu Type-ku, sekali. Naruto mengangguk dalam hati.


Setelah sarapan, para maid membereskan peralatan makan dan meninggalkan ruangan makan dalam diam, Naruto dan Kepala Maid yuri saling adu tatap sebelum keduanya memutuskan tatapan mereka...


"Baiklah, saatnya kita mulai pembicaraan keluarga."


Naruto yang menatap punggung kepala Maid itu teralihkan ketika ayahnya berucap seperti itu dengan nada bersahabat, Naruto melihat ayahnya tengah menatapnya dengan pandangan lembut namun Naruto dapat melihat dengan jelas ada sinar jahil disana, Naruto mengabaikan itu dan menyesap teh miliknya yang baru saja dituangkan oleh Butler disampingnya.


"Baiklah, Naruto... Ayah ingin menanyakan, kenapa kau menatap Yuri dengan pandangan dalam seperti itu?."


"Umm!, ibu juga penasaran tentang hal itu, nee... Apa type perempuan yang kau sukai itu seperti Yuri-san?."


"Uhuk!."


Naruto tersedak oleh teh yang berpindah jalur menuju tenggorokannya, Naruto cepat-cepat mengambil sapu tangan dan mengelap bibirnya yang basah sebelum mendelik kearah ayah dan ibunya yang hanya bisa tersenyum geli melihatnya... Naruto menghela nafas sebelum menatap datar ayah dan ibunya dengan pandangan datar.


"Ya, benar apa kata ibu, type perempuan yang aku sukai seperti Yuri-san."


Prang!


Naruto, Minato dan Kushina mengalihkan pandangannya dan melihat jika maid yang tengah dibicarakan tengah berdiri dengan wajah terkejut sebelum ia tersadar dan menatap kebawahnya dimana ia menjatuhkan nampan besi yang akan dia gunakan untuk membereskan cangkir teh diatas Meja... Yuri dengan cepat mengambil nampan itu dan segera melarikan diri setelah menundukan kepala-nya... Naruto menatap kepergian kepala Maid Yuri dengan mulut terbuka dan mata melotot...


'Dia mendengar-nya!?.'


"Naruto..."


Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Ayahnya yang tengah memasang wajah serius, Minato menatap Naruto selama beberapa saat sebelum ia tersenyum cerah dengan ibu jari terangkat.


"Berjuanglah!."

__ADS_1


"Berjuang apa-nya!?."


Minato dan Kushina tertawa pelan sebelum keduanya meminum teh yang ada didepannya, Naruto menghela nafas, bagus sekali baru saja ia kembali kerumahnya dan kini ia telah menciptakan sebuah kesalahpahaman dengan kepala maid keluarga Namikaze yang menjadi sasaran kesalahpahaman ini... Naruto terdiam selama beberapa saat sebelum ia menyeringai jahil lalu dengan pelan bergumam.


"Perempuan tomat..."


"Uhuk!."


"Pria duren!."


"Uhuk!."


Minato dan Kushina dengan kompak tersedak teh mereka, keduanya membersihkan mulut mereka sebelum menatap kearah Naruto yang nampak tenang meminum teh miliknya.


"Na...Naruto darimana kau tahu hal itu?."


Naruto meletakan cangkir tehnya dan menatap polos ayah dan ibunya yang nampak tengah mengeluarkan keringat dingin.


"Uhm?, aku tidak mengetahuinya dari siapapun, hanya saja disekolahku ada perempuan dari Divisi Wizard yang berambut merah juga berwajah bulat layaknya tomat, dia memanggilku pria duren hanya karena rambutku ini, dan akupun memanggilnya dengan sebutan perempuan tomat..."


Naruto menyeringai tipis ketika melihat ayah dan ibunya tengah berkeringat dingin, Naruto menghilangkan seringai-nya dan mengantinya dengan dahi berkerut.


"Nuu... Kami sering bertemu dan bertengkar hebat bahkan kami tak jarang akan berduel, ugh perempuan tomat itu sangat hebat, dia menguasai magic teleportasi membuatku sulit melawan-nya... Bahkan aku-,"


"Oke cukup sampai disana!?, kami meminta maaf karena sudah menjahilimu Naruto!."


Naruto menyeringai penuh kemenangan saat melihat ia telah berhasil menyudutkan ayah dan ibunya, Naruto satu, Minato-Kushina nol!.


"Baiklah, lupakan itu, mari bahas hal lain... Bagaimana sekolahmu, Naruto?."


Naruto terdiam sebelum ia menyenderkan punggungnya kekursi."Baik... Aku berhasil naik ketingkat [Silver] ayah, ibu." ucap Naruto membuat Minato dan Kushina mengulas senyuman.


"Itu hebat sekali, Naruto. Kau berkembang cukup pesat."


"Aku berjuang cukup keras untuk bisa menembus tingkat [Silver], Ibu."


Minato tersenyum kecil melihat putranya telah berhasil mencapai keberhasilan yang memuaskan namun senyuman itu luntur ketika mengingat putranya gagal bertunangan dengan Putri dari Hyuga Hiashi, Sahabatnya.


"Seandainya, putri Hiashi mengetahui hal ini, maka sudah jelas dia akan menerima mu, Naruto."


Naruto dan Kushina yang tengah saling berbicara terhenti dan menatap kearah Minato yang memasang senyuman miris, Naruto menatap Ayahnya sejenak sebelum ia menghela nafas.


"Ayah... Aku yang sekarang maupun aku yang dulu tidak akan pernah membuat Hyuga itu menerimaku, alasannya sederhana sebab dia tidak ingin hidupnya diatur oleh siapapun... Type perempuan egois yang ingin melakukan apa yang dia sukai, dan lagipula jika seandainya ia mau menerimaku karena aku yang sekarang aku akan tetap menolaknya, aku tidak bisa menerima perempuan yang telah menghina Kehormatan Clanku menjadi pendampingku."


Minato dan Kushina terdiam kendengar perkataan serius Naruto yang ucapkan, kedua suami-istri itu tersenyum tipis.


"Kau memang benar-benar anak kami, kau mewarisi sifat kami, Nak."


Naruto tersenyum sebelum ia mengangguk pelan dan mengeluarkan senyuman secerah matahari, "tentu saja, aku adalah Namikaze Naruto!, putra dari Namikaze Minato dan Namikaze Kushina!." ucap Naruto membuat hati kedua orang tuanya menghangat. Senyuman matahari Naruto tiba-tiba luntur ketika ia mengingat sesuatu.


"Ah, iya, hampir aku lupa... Ayah, bagaimana kondisi ekonomi, Clan kita?."


Tanya Naruto membuat Minato dan Kushina terdiam sebelum mereka memasang senyuman miris, Naruto yang melihat senyuman kedua orang tua-nya sadar jika ternyata kondisi ekonomi clan mereka masih buruk.


"Begitu ya?, masih buruk..., hah~, ternyata benar aku harus mencari lebih banyak coin emas ya..."


Ucap Naruto pelan, sepertinya tidak cukup pelan sebab Minato dan Kushina langsung menatap cepat Naruto.


"Ti-Tidak nak, Kondisi ekonomi Clan kita sudah stabil berkat bantuan dana yang kau berikan, Nak."


"Benar apa kata ibumu, Naruto. Kondisi ekonomi kita sudah stabil... Untuk saat ini."


Naruto mengerutkan dahinya mendengar perkataaan ayahnya, Untuk saat ini?, Naruto menatap kearah ayahnya yang tersenyum miris, Naruto terdiam sebelum menghela nafas.


"Sebenarnya kondisi ekonomi kita terjadi karena apa?, bisakah ayah menjelaskannya padaku?."


Minato dan Kushina saling lirik, Minato menghela nafas ketika Kushina menganggukan kepala-nya, Minato menatap Naruto dengan wajah serius.


"Kondisi Ekonomi Clan kita memburuk sebab Clan-Clan yang menjalin kerjasama dalam sekor perdagangan tiba-tiba memutuskan kerjasama dengan Clan kita."


"Uhm?, apa mereka mengatakan alasan yang jelas kenapa mereka tiba-tiba, Ayah?."


"Sayangnya mereka tidak mau mengatakan alasan-nya, dan itulah yang membuat Clan kita bingung..."


Naruto terdiam entah kenapa ia merasakab firasat jika dirinya ada sangkut pautnya dengan memburuknya kondisi ekonomi Clan Namikaze... Naruto menepis firasat itu dan menatap kearah Ayahnya.


"Ayah, Clan mana saja yang memutuskan kerja sama dengan Clan kita?."


Tanya Naruto, Minato terdiam sebelum ia menghela nafas panjang dan menatap Naruto serius.


"Dari Sektor industri, Clan Otsutsuki memutuskan kerjasama secara sepihak, dari Sektor tanaman Herbal, Clan Senju memutuskan kerjasama secara sepihak, dari Sektor penyediaan jasa Clan Uzumaki mematok harga yang tidak normal untuk jasa tenaga kerja, dari Jasa pengiriman barang Hyuga juga mematok harga diluar akal sehat, dan kondisi itu diperparah dengan Clan Uchiha yang bertanggung jawab menjaga seluruh keamanan kerajaan [Alvarez] tiba-tiba menarik mundur pasukan mereka dari perbatasan dan tidak melakukan patroli diperbatasan dan hal itu menyebabkan banyak sekali pencuri dan Magical Beast berkeliaran disekitar Daerah Clan Namikaze dan hal itu membuat Clan Namikaze jarang didatangi oleh pedagang yang datang dari luar karena takut diserang bandit dan Magical Beast."


Minato menghela nafas panjang, Minato memijat kepalanya yang pening akibat masalah ini, para Clan yang bekerjasama dengan Clan-nya selama bertahun-tahun tiba-tiba memutuskan hubungan kerjasama dengan alasan yang tak masuk akal... Naruto terdiam sebelum wajahnya perlahan mengeras ketika ia memahami apa yang sebenarnya terjadi... Begitu... Ini sudah pasti salah para brengsek itu, mereka tidak hanya bermain-main dan membuat dirinya menderita tapi mereka juga mempersulit ekonomi Clan-nya... Biadab!... Dan semua itu diawali oleh seorang perempuan, ya!, perempuan itulah pemicu atas semua hal pahit dihidupnya!. Naruto tanpa sadar mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku tangannya memutih.


'Gabriel...!, kau tidak hanya membuat hidupku menderita, kau juga telah membuat Clanku mengalami kesulitan... Suatu saat aku akan datang padamu, Gabriel!... Aku akan membalas semua ini, seribu kali lebih parah dari ini!... Tunggu saja!.'


Naruto membulatkan tekad-nya, Naruto bersumpah jika dirinya akan membalik keadaan ini apapun yang terjadi!...


"Ayah..."


Minato yang namanya dipanggil menoleh dan menatap Naruto yang juga menatap kearahnya dengan serius dan itu membuat bingung Minato dan Kushina.


"Ayah... Aku, Namikaze Naruto. Bersumpah demi darah yang mengalir didalam tubuhku, aku akan mengembalikan kondisi kejayaan Clan Namikaze, aku akan membalik semua keadaan ini, karena itu ayah... Bisakah aku meminta beberapa hal darimu?."


Tanya Naruto dengan tekad membara, Minato terdiam melihat keseriusan Naruto, dimata shappire itu terdapat sebuah tekad yang membara, Minato tersenyum melihat tekad putranya, ia tidak tahu bagaimana tapi ia merasakan jika anaknya akan membantu Clan Namikaze keluar dari krisis ekonomi ini...


"Baiklah!, katakan apa yang kau inginkan nak, Ayahmu pasti akan membantumu!."


Naruto tersenyum senang sebelum ia meminta alat tulis dan secarik kertas pada butler dan langsung saja dibawakan oleh butler itu, Naruto mengambil kertas itu sebelum ia menulis dengan kecepatan tinggi... Setelah beberapa saat akhirnya Naruto selesai menulis dan menyerahkan kertas itu pada ayahnya yang menerima-nya dengan pandangan bingung, Minato membaca isi kertas itu dan seketika dahinya berkerut melihat kalimat-kalimat yang ada disana, Kushina yang penasaran ikut mengintip isi kertas itu dan pipinya mengembung ketika Minato menjauhkan kertas itu dari mata Kushina, Minato menatap kearah Naruto dengan tatapan serius.


"Ayah bisa saja menyediakan semua yang kau minta. Tapi nak, untuk apa semua yang kau minta ini?."


Tanya Minato, Naruto terdiam sebelum ia menyeringai tipis, "aku membutuhkan itu semua untuk membalik keadaan ekonomi kita yang menyedihkan ini, ayah cukup mengumpulkan semua yang ada disana dan aku, Namikaze Naruto akan mengurus sisa-nya." ucap Naruto membuat Minato terdiam dan berpikir dengan keras selama beberapa saat sebelum ia membuka matanya dan tersenyum kearah Naruto.


"Baiklah, akan ayah kumpulkan semua permintaanmu, ayah juga penasaran dengan apa yang akan kau lakukan, Naruto."


Ucap Minato membuat sebuah senyuman lebar tercipta diwajah Naruto, Naruto bangkit dan menepuk dadanya dengan hormat.


"Serahkan saja padaku, Ayah... Aku tidak akan membuatmu kecewa."


.


.


.


Haripun perlahan gelap dan kini dikamar yang agak mewah terlihat Naruto tengah duduk sambil membaca buku dengan Ophis yang duduk dipangkuannya terlihat Naruto tengah serius membaca buku dan sesekali menulis disebuah buku yang tak jauh darinya, Jeanne yang penasaran mengintip dari sebelah kiri dan diikuti oleh Maria yang mengintip dari sebelah kanan, kedua perempuan jadi-jadian itu ingin mengetahui apa yang sebenarnya tengah dilakukan Master mereka... Jeanne dan Maria mengerutkan dahinya melihat apa yang tengah disalin oleh Master mereka.


"Master?, apa sebenarnya akan kau lakukan?."

__ADS_1


Naruto menghentikan kegiatannya dan menoleh kearah Jeanne yang tengah memasang wajah penasaran, Naruto berbalik sebelum ia menunjukan buku yang ia tulis tadi, dan sebuah seringai kecil dipatri diwajah tampan Naruto.


"Aku tengah menulis rencana besar untuk mengembalikan kesejahteraan Clan ku, ada banyak sekali cara yang akan aku lakukan untuk memulihkan Clanku... Aku menamakan-nya sebagai... [Grand Project: Divitiae]."


__ADS_2