
Dimalam yang dingin dan sunyi terlihat seseorang tengah berjalan keluar dari sebuah Mansion mewah dengan langkah pelan, Namikaze Naruto. Wajah tampan dengan surai pirang emas yang terlihat berantakan itu dengan dua jambang yang membingkai wajah tampannya, tak lupa Iris shappire indah miliknya menatap datar kedepan, Naruto saat ini tengah mengenakan pakaian petualang miliknya sebuah jubah yang menutupi seluruh tubuhnya dari leher sampai mata kaki berwarna putih kusam, dua katana yang tergantung aman dipinggangnya dan sebuah pakaian lengkap dengan pelindung yang terbuat dari logam yang tersembunyi dibalik jubah itu.
Malam ini... Naruto akan pergi untuk mencari Talisman yang akan mematahkan Magic kutukan yang saat ini mengancam nyawa ayahnya, [Arcux Arletis]. Magic kutukan terjahat dan terkejam yang pernah ditemukan dibenua britania ini... Tujuan Naruto saat ini adalah Castil melayang [Avantheim], di Castil itu terdapat makhluk yang bisa menyelamatkan nyawa ayahnya, Makhluk yang hanya menjadi legenda dan mitos didunianya dulu kini menjadi kunci untuk menyelamatkan ayahnya... Manticore.
Manticore Makhluk yang berasal dari legenda persia, Makhluk buas dan suka memakan manusia ini, jika ia mengingat wujud Manticore didalam Game Fantasy didunia sebelumnya, maka pasti makhluk itu memiliki wujud monster besar dengan sepasang sayap yang bisa membuatnya terbang, lalu ekornya yang memiliki racun mematikan, belum lagi gigi dan cakar setajam pedang yang siap mencabiknya... Sungguh kombinasi yang merepotkan, lebih merepotkan daripada Chimera yang pernah Naruto lawan di kota kuno Ligodorian.
Naruto yang tengah berjalan menuju gerbang tiba-tiba berhenti ketika iris shappirenya menangkap dua buah siluet berdiri didepan gerbang, dua siluet itu perlahan dapat terlihat berkat cahaya bulan yang menyinari mereka, dan dapat Naruto lihat dua orang yang kini memegang posisi sebagai pemimpin dari Unit spesial yang ia bentuk.
"Yuri Alpha, Shikamaru Nara..."
Naruto bergumam dingin melihat dua orang didepannya, Yuri yang masih menggunakan pakaian maid miliknya menaikan letak kacamatanya, sementara Shikamaru masih mengenakan pakaian [Anbu] miliknya selagi tangan kanan-nya memegang topeng gagak yang menjadi identitasnya, iris gelap Shikamaru menatap malas Naruto yang menatap kearah mereka berdua dengan datar.
"Kalian berdua, apa yang kalian lakukan disini?."
Suara datar nan dingin menusuk gendang telinga meluncur dari mulut Heiress Clan Namikaze selanjutnya itu, Yuri terdiam sebelum ia menatap kearah Naruto dengan pandangan serius.
"Maaf, jika saya lancang tapi bukankah kami yang harus mengatakan kalimat itu, Naruto-sama."
Naruto terdiam sebelum iris shappire miliknya berkilat berbahaya, "ini tidak ada hubungannya dengan kalian, jadi jangan halangi jalanku." ucap Naruto dengan datar sambil ia melangkah melewati Yuri dan Shikamaru yang memasang ekspresi yang tak dapat terbaca. Naruto yang baru saja akan melewati mereka terhenti ketika ia merasakan sebuah jari menempel dilehernya dan Wakizashi yang siap mengorok leher Naruto kapanpun.
"Maafkan kami, Naruto-sama. Tapi kami tidak bisa membiarkan anda pergi tanpa memberitahu kemana, Naruto-sama akan pergi."
Yuri berkata dengan dingin selagi ia bersiap melepaskan [Shigan] yang akan langsung mengakibatkan kematian jika dilakukan dititik dimana Jari telunjuknya menekan, sementara Shikamaru ia hanya melirik Naruto yang menundukan kepalanya hingga ekspresi-nya tidak dapat dibaca... Shikamaru menatap malas Naruto sebelum iris malas itu melebar ketika ia melihat Naruto menyeringai tipis.
Duk!
Duk!
Shikamaru meringis ketika ia merasakan sebuah hantaman kuat pada tengkuknya, Shikamaru merasakan kesadarannya menjauh namun sebelum benar-benar hilang ia melirik kearah Naruto yang sedang menatapnya dengan wajah datar, iris hitam itu melebar sempurna ketika melihat ada dua Naruto lain disebelah Naruto... Naruto ada 3!?...
Bruk!
Bruk!
Naruto menatap kearah dua orang yang pingsan didepannya, sementara dua Naruto disebelahnya perlahan menjadi transparan dan masuk kedalam tubuh Naruto... Iris shappire Naruto menatap kedua pemimpin Unit khususnya dengan datar sebelum ia berbalik dan meninggalkan kedua ketua unit spesial itu sambil bergumam pelan.
"Maaf, tapi ini urusan pribadi..."
Gumam pelan itu terhapus oleh suara angin malam yang berhembus selagi Naruto berjalan dan menghilang kedalam gelapnya malam.
Ditengah gelapnya malam, Naruto berjalan dengan langkah pelan, suara burung hantu menemani setiap langkah Naruto, keheningan itu pecah ketika sebuah suara bergema dikepala-nya.
'Master, kenapa kau tidak memberitahukan tujuanmu pada mereka?, bukankah semakin banyak orang akan semakin bagus?, kesempatan Master untuk mengalahkan, Celestial Manticore akan semakin besar.'
Suara imut nan datar bergema dikepala penuh surai pirang itu, Naruto terdiam mendengar perkataan Ophis, ia melompati akar pohon besar yang menghalangi jalan dan menatap kedepan dengan pandangan datar.
"Ophis, yang kau katakan memang benar, kesempatan aku untuk bisa mengalahkan, Manticore memang bertambah besar namun aku tidak akan bisa fokus bertarung selagi melindungi orang lain, aku lebih baik menyelesaikan masalahku sendiri tanpa campur tangan orang lain..."
Ucap Naruto dengan datar, Ophis terdiam mendengar perkataan Masternya, entah kenapa Ophis merasa jika bukan itu alasan Masternya menolak mengajak orang lain, tapi Ophis juga merasa jika bukan pilihan bijak menanyakannya lebih lanjut... Jeanne yang berada didimensi yang terpisah dengan Ophis hanya bisa memasang senyuman miris.
'Alasan kenapa Master tidak mengajak orang lain dalam urusan-nya bukanlah itu, Alasan sebenarnya adalah ia tidak ingin ada yang menjadi korban karena masalahnya...'
Jeanne memeluk lengannya selagi ia memejamkan matanya dan tersenyum dengan lembut, senyuman seindah bunga Lily mekar diwajah cantiknya, dan suara yang amat lembutpun terdengar darinya.
"Master, kau terlalu baik..."
-Other Place-
Sementara itu Istana Alvarez, Raja Alvarez saat ini tengah menatap kearah seorang pria bersurai hitam pendek berantakan tengah bersujud didepan sang raja, Raja Alvarez menatap pria itu dengan pandangan sulit ditebak.
"Uchiha Shisui, nampaknya kau berhasil dipukul mundur dari misimu ya..."
"Saya mohon maaf, karena saya tidak bisa menjalankan tugas yang diberikan anda dengan baik, Heika."
"Ya, tak apa lagipula aku melarangmu mengeluarkan seluruh kekuatanmu dan hanya memberimu misi pengamatan, tapi aku yakin kau sudah mendapatkan informasi yang ingin aku dengar, jadi, Bagaimana?."
Sang raja berkata dengan nada tegas membuat Shisui terdiam selama beberapa saat sebelum ia mengeluarkan sebuah perkamen dan menyerahkannya kedepan dimana dengan cepat seseorang dengan topeng polos muncul dan mengambil perkamen itu lalu menyerahkannya pada sang raja.
Raja membuka perkamen itu dan membacanya dengan intens, ekspresi sang raja perlahan berubah dari datar menjadi terkejut sebelum wajah terkejut itu hilang dan pandangan sang raja terarah pada Shisui yang masih bersujud disana.
"Shisui... Apa hasil pengamatanmu ini benar?."
"Ha'i!, Saya tidak berani berbohong, Heika."
Ucap Shisui dengan tegas, Raja Alvarez terdiam selama beberapa saat sebelum ia mengulung perkamen itu dan meletakannya disampingnya.
"Terimakasih, Shisui. Kau boleh kembali bertugas."
"Kalau begitu saya undur diri, Heika."
Shisui dengan kecepatan tinggi menghilang dari tempatnya meninggalkan sang raja yang terdiam menatap tempat Shisui sebelum ia mengulas senyuman tipis.
"Namikaze Naruto... Kau semakin membuatku tertarik, diusia semuda itu ia bisa melakukan perubahan besar untuk Clan Namikaze..."
Sang raja melirik kearah perkamen disampingnya dan senyuman diwajahnya berkembang.
"Baiklah. Aku telah memutuskan."
.
.
.
Naruto, pemuda yang saat ini dianggap sebagai pemuda jenius untuk Clan-nya kini sedang berjalan dengan gontai dijalan setapak yang memisahkan dua hamparan padang rumput yang memanjakan mata.
Kryuuk~
Sebuah sinyal berbunyi dari perut pemuda jenius itu, Naruto mengutuk dirinya karena ia lupa membawa perbekalan, beruntungnya ia memiliki beberapa uang disakunya yang kira-kira cukup untuk makan selama beberapa hari sehingga ia tidak perlu khawatir kelaparan lagi, tapi masalahnya... Ia tidak bisa membeli makanan sebab tidak ada kedai makanan disekitar sini hanyalah padang rumput yang begitu luas!.
Kryuuk~
"Ugh... Laparnya."
Naruto menyentuh perutnya yang mengamuk, Naruto merasakan jika lambungnya mulai terasa perih... Ini gawat jika tidak segera diisi maka ia bisa kena penyakit asam lambung. Naruto membuka [Dimension Space: Gate] dan mengeluarkan sekantung penuh buah zaitun, Naruto menatap kearah buah itu...
"Ugh... Hanya ini yang tersisa dari pembelian bahan makanan beberapa hari yang lalu, ugh... Tidak ada pilihan lain."
Naruto membuka kantung itu dan mengambil satu buah zaitun lalu memasukannya kedalam mulutnya, Naruto terdiam ketika buah zaitun yang ia makan entah bagaimana mengeluarkan Minyak yang membasahi mulutnya... Dan itu membuat semakin haus!. Naruto melepehkan buah zaitun dimulutnya.
"Ugh, buah ini sudah tua... Sialan, buah ini hanya bisa aku manfaatkan untuk dijadikan Minyak saja... Ugh, sial... Perutku tambah lapar."
Naruto menghela nafas dan memasukan kembali kantung yang berisi buah zaitun tua itu kedalam [Dimension Space: Gate]. Naruto yang tengah berjalan dengan lemas tiba-tiba memutar kepalanya kebelakang dan dari kejauhan ia melihat sebuah kereta kuda bergerak dengan cepat kearahnya, Naruto menyipitkan matanya melihat kereta kuda itu, entah kenapa ia seperti pernah melihat kereta kuda itu... Tapi dimana?.
'Master, apa Master lupa?. bukankah kereta kuda itu milik bangsawan Hyuga yang pernah berkunjung ketempat Master?.'
Naruto terdiam mendengar perkataan Ophis sebelum irisnya membulat sempurna ketika sirkuit otaknya menangkap inti perkataan Ophis... Hyuga yang pernah mengunjungi Clan-nya hanya ada satu!, dan itu adalah Heiress Clan Hyuga yang merupakan mantan tunangan-nya!, dengan katalain, Hyuga Hinata!.
Naruto dengan cepat menutupi wajahnya dengan sebuah kain yang pernah ia pakai untuk menutupi wajahnya saat mencari kota kuno Ligodorian, setelah selesai Naruto memalingkan wajahnya ketika kereta kuda itu melewatinya, Naruto menghela nafas lega melihat kereta kuda itu terus berjalan melewatinya... Namun itu tidak berlangsung lama sebab kereta kuda itu berhenti tak jauh dari posisi Naruto.
"Hey... Kau yang disana!."
Naruto yang tengah bersyukur dalam batinnya mengalihkan pandangan kedepan dan melihat seorang perempuan berwajah cantik bersurai biru gelap tengah melambai kearahnya, Perempuan cantik itu adalah mantan tunangan Naruto, Hyuga Hinata.
Naruto terdiam menatap kearah Hinata sebelum ia menoleh kekanan dan kekiri berusaha menyakinkan jika Hinata bukan melambai padanya, namun sial ia tidak menemukan siapapun... Naruto menatap kearah Hinata dengan jari menunjuk dirinya sendiri, seolah berkata "kau memanggilku?.". Hinata mengangguk.
"Ya, kau, kemarilah akan aku beri tumpangan sampai kekota didepan."
Suara lembut itu mengetuk gendang telinga Naruto yang langsung memasang wajah layaknya orang yang tertimpa musibah dibalik penutup wajah itu...
'Oh sial...'
.
.
.
Naruto tidak tahu semalam ia telah bermimpi buruk apa hingga ia harus terlibat dalam situasi berbahaya seperti ini, Naruto saat ini tengah duduk diatas sebuah bantalan lembut nan nyaman selagi iris shappire miliknya yang terlihat diantara cela penutup wajahnya menatap kearah Hyuga Hinata yang tengah memasang wajah ramah, Naruto menatap Hinata sejenak sebelum ia merendahkan kepalanya sedikit... Sebenarnya Naruto tidak ingin merendahkan kepalanya pada siapapun namun ia melakukan hal ini untuk melihat apakah Hinata mengenali-nya atau tidak.
"Maaf jika saya berlaku kurang ajar karena telah mengotori kereta mewah anda dengan saya yang kotor ini, sekali lagi maafkan saya, Hyuga-sama"
"Jangan terlalu formal, kita sedang tidak berada ditempat yang membutuhkan keformalan, dan tolong jangan memanggilku 'Hyuga-sama', itu seperti kau sedang berbicara dengan seluruh Clan Hyuga, ah!, bagaimana bisa aku lupa, kita belum berkenalan, perkenalkan namaku adalah Hyuga Hinata."
Naruto terdiam sebelum ia menatap kearah Hinata yang tengah memasang senyuman tipis yang menambah kecantikan dari seorang Hyuga Hinata, Naruto mengangguk pelan, nampaknya perempuan arogan ini tidak mengetahui dirinya, kalau begitu bagus!.
"Haruto, hanya Haruto."
Ucap Naruto pelan, Naruto kembali memperkenalkan nama palsunya yang pernah ia gunakan waktu ia secara tidak sengaja menolong Gabriel, perempuan yang paling dibenci Naruto saat digurun pasir beberapa waktu yang lalu. Hinata mengangguk pelan sebelum ia tersenyum tipis dan menatap kearah Naruto yang hanya memasang tatapan datar padanya.
"Jadi, Haruto-san?, apa kau memiliki urusan dikota [Rudret]?, kau sedang menuju kesana bukan?."
Tanya Hinata dengan nada menyelidik, Naruto terdiam sejenak, tidak mungkin Naruto akan mengatakan 'aku tengah mencari Castil Melayang, [Avantheim]!.', mati saja sana jika Naruto mengatakan hal sejujur itu.
"Aku... Aku hanya seorang pengembara, Hinata-san. Aku hanya pergi mengikuti kemana kaki ini melangkah."
Naruto mengucapkan kebohongan itu dengan mulus hingga terlihat menyakinkan, Hinata terdiam sebelum ia tersenyum tipis.
"Begitu?, pengembara ya?, pastinya Haruto-san sudah menjelajahi banyak tempat bukan?, bisa ceritakan padaku tempat mana saja yang pernah Haruto-san singgahi?."
Naruto terdiam dan menatap kearah Hinata yang tengah tersenyum tipis, entah mengapa dibalik senyuman itu terdapat niat tersembunyi, apa Hinata tengah merencanakan sesuatu padanya?, tidak, tidak, tidak... Itu mustahil mereka baru saja bertemu, dan juga Naruto yakin bukan itu alasan Hinata bertanya pada-nya.
"Sayangnya, tempat yang aku datangan hanya kota dan beberapa desa yang ada dikerajaan Alvarez, tidak ada yang menarik dari tempat yang pernah aku kunjungi, jadi maaf, Hinata-san."
"Begitu kah?, sayang sekali... Nee, Haruto-san. Apa kau tahu legenda tentang kastil melayang, [Avantheim]."
Ucap Hinata selagi iris mutiara tanpa pupil itu menatap kearah Naruto yang melebarkan matanya ketika mendengar nama [Avantheim], Naruto mencoba menekan rasa terkejutnya dan menatap kearah Hinata yang masih memasang senyuman tipis.
"Aku rasa aku pernah mendengarnya, Legenda tentang Castil itu, kenapa Hinata-san bertanya hal itu padaku?."
"Tidak ada, lupakan saja."
Naruto terdiam sebelum ia mengangguk pelan dan mengalihkan pandangan ke-jendela selagi otak miliknya berputar mencari penjelasan paling logis kenapa Hinata bisa tahu tentang Castil melayang, [Avantheim].
Setelah melewati jalan penuhi keheningan akhirnya kereta kuda mewah itu berhenti dikota pegunungan, [Rudret]. Naruto turun dari kereta kuda dengan langkah pelan, Naruto menatap kesekitar dimana ia melihat orang tengah berlalu lalang dengan santainya, Hinata tersenyum menatap Haruto yang tengah menatap sekitar.
"Kalau begitu disini kita berpisah, sampai nanti, Haruto-san."
Naruto menoleh kebelakang dan mengangguk pelan membuat Hinata tersenyum dan memberikan perintah pada kusir untuk segera pergi, Naruto menatap kepergian Hinata dengan iris datar, Naruto menghela nafas dan melepaskan penutup wajahnya dan terlihatlah wajah tampan seorang Namikaze Naruto.
"Aku tidak menyangka jika aku akan bertemu dengan mantan tunanganku, dan lagi ia juga nampaknya memiliki tujuan yang sama denganku... [Avantheim]."
'Master menurutmu apa yang dicari dari Castil melayang, [Avantheim]?.'
Naruto terdiam mendengar suara dari Ophis yang bergema dikepala-nya, Naruto perlahan berbalik dan meninggalkan tempat itu dengan langkah pelan.
"Aku tidak tahu apa yang dia cari tapi aku harap itu bukanlah Manticore yang sedang aku buru, karena jika dia memburu buruan yang sama maka sudah dipastikan aku akan memusnahkannya."
Ophis terdiam mendengar nada dingin Naruto yang saat ini tengah berjalan dan berbaur dikerumunan penduduk kota, Jeanne hanya bisa tersenyum melihat Masternya...
'Sifat yang sulit ditebak, baik dan jahat... Aku rasa Master memiliki dua sifat itu, Ufufufu~, sungguh sulit ditebak.'
-change scene-
Sementara itu dikediaman kepala clan Namikaze terlihat diruang tengah suasana tengah mencekam, semua itu disebabkan oleh seorang wanita cantik bersurai merah dengan iris violet menatap kedepan dengan dingin.
"Yuri... Kenapa kau membiarkan putraku, Naruto. Pergi begitu saja."
Namikaze Kushina, istri dari Namikaze Minato berucap dengan nada kosong dan pandangan dingin kearah kepala pelayan Yuri yang menundukan kepala-nya dalam-dalam tidak berani menatap balik Kushina.
"Sa-Saya sudah mencoba menghentikan tuan muda, tapi seseorang muncul dan membantu tuan muda."
"Siapa... Siapa yang mencoba membantu putraku itu?, apa kau melihatnya, Yuri."
__ADS_1
"Ti-Tidak, Kushina-sama. Saya tidak melihat siapa yang membantu tuan muda karena saya dibuat pingsan dengan begitu cepat bahkan tanpa saya sadari."
Kushina terdiam dan menatap kearah Yuri yang masih menundukan kepalanya, Kushina menghela nafas lelah dan memijat kepalanya yang berdenyut.
"Aku tidak percaya ini... Yuri, aku tahu sekuat apa kau ini, jadi mustahil kau bisa dikalahkan dengan mudah...*
"Saya benar-benar minta maaf, Kushina-sama... Sepertinya saya terlalu meremehkan tuan muda hingga saya berhasil dikalahkan begitu mudah."
"Sudah lupakan urusan Naruto, biarkan saja, aku yakin dia pasti akan kembali pulang kesini... Geez, ayah dan anak sama saja, suka melakukan hal-hal yang berbahaya."
Kushina bergumam dengan pelan selagi ia memijat kepalanya yang berdenyut. Kushina mengalihnya pandangannya dan menatap kearah Yuri yang juga tengah menatapnya.
"Yuri, jangan sampai ada yang tahu tentang kepergian Naruto ataupun keadaan Minato saat ini, aku tidak ingin ada kepanikan karena Clan ini telah kehilangan kedua pillar utamanya untuk sementara waktu, kau paham?."
"Ha'i, akan saya pastikan tidak akan ada yang mengetahui tentang hal itu, Kushina-sama."
"Bagus, aku percayakan itu padamu, Yuri."
Kushina tersenyum puas dan perlahan bangkit lalu meninggalkan Yuri yang masih menundukan sedikit kepalanya sebelum Yuri mengangkat kepalanya dan menatap kepergian Kushina dalam diam, Yuri membenarkan letak kacamatanya.
"[Crow], kau sudah mendengarnya bukan?."
Ucap Yuri datar dan dari balik bayangan pillar muncul seorang Anbu dengan topeng gagak yang menyenderkan punggungnya ketembok itu, [Crow]. Pemimpin dari Satuan Khusus [Anbu] menatap kearah pemimpin dari Unit Maid petarung [Pleiades].
"Tenang saja, aku sudah menyebarkan semua anak buahku untuk mengawasi seluruh Mansion ini."
"Bagus, Crow. Kita berdua harus melindungi Clan ini dari musuh-musuh yang berniat menghancurkannya, karena hanya Clan inilah yang mau menerima orang 'buangan' yang tak berharga seperti kita... Dan Crow."
Yuri menoleh kebelakang dan berjalan kearah Crow yang masih berdiri bersender pada tembok itu, Yuri menatap Crow dengan intens.
"Jika suatu saat aku berkhianat pada Clan ini aku ingin kau..."
"... Aku pasti akan membunuhmu, Yuri. Dan jika aku yang mengkhianati Clan ini maka..."
"Aku yang akan membunuhmu, Crow."
Kedua pemimpin itu terdiam dan menatap satu sama lain yang telah membuat kesepakatan tak tertulis sebelum keduanya tersenyum tipis dan meninggalkan ruangan itu dalam diam.
Sementara itu disebelah paling barat dari kota [Rudret], terlihat Naruto menatap kearah sebuah Goa yang sangat besar didepannya, Goa itu terlihat begitu suram dan menakutkan, Naruto dapat merasakan aura gelap dari Goa itu.
"Ophis, kau yakin ini Goa yang dimaksud?..."
'Ya aku yakin, Master. Didalam Goa ini ada sebuah jalan yang menghubungan tempat ini dengan Castil melayang, Avantheim.'
'Darimana kau bisa yakin disini ada jalan menuju Avantheim, Chibi.'
'Aku mengetahuinya karena aku pernah mengunjungi Avantheim bersama ayahku... Dan berhentilah memanggilku 'Chibi'!.'
'Ara?, kenapa kau marah bukankah itu fakta jika kau itu... Cebol?.'
'... Jeanne, apa kau berniat mengajakku berkelahi?.'
'Ufufufu~, kenapa tidak?.'
Naruto menghela nafas lelah mendengar suara saling ejek bergema dikepala-nya, entah kenapa Ophis dan Jeanne tidak pernah akur mereka seperti air dan api.
"Sudahlah kalian berdua, jangan bertengkar kepalaku mulai sakit mendengar kalian yang terus bertengkar setiap saat..."
'Maaf Master...'
Naruto menghela nafas sebelum ia melangkah memasuki Goa dengan pelan, setelah menghilang dari pandangan beberapa saat kemudian sekumpulan orang terlihat berjalan mendekati Goa, kelompok yang berjumlah tak lebih dari 6 orang itu dipimpin oleh seorang perempuan cantik bersurai biru gelap indah dengan mata Lavender tanpa pupil, perempuan cantik itu tersenyum melihat Goa didepannya.
"Baiklah, kita masuk."
"Ha'i, Hinata-sama!."
.
.
.
Didalam Goa, Naruto dibuat terpukau karena tempat ini ternyata luas juga, iris Shappire Naruto menatap kesekeliling dimana ia melihat stalagmite dan stalagtite yang sangat indah, seandainya Naruto bisa mengabadikan didalam kamera maka ini pasti akan menjadi kenangan yang luar biasa... Naruto tertawa kecil. Bodohnya dirinya... Didunia yang menyerupai abad pertengahan ini mana mungkin ada alat canggih seperti kamera?...
Naruto menatap sekeliling sebelum sebuah suara membuat Naruto waspada, Naruto langsung berbalik keasal suara dengan tangan mencengkram kuat gagang katana miliknya, Naruto menajamkan matanya melihat kebelakang sebuah stalagtite berukuran lumayan menancap ketanah... Naruto menatap datar stalagtite itu selama beberapa saat sebelum ia membalik badannya... Naruto terdiam... Tunggu dulu, bagaimana bisa stalagtite sebesar itu terlepas dari atas?, seharusnya stalagtite sebesar itu tidak mungkin jatuh dari atas secara tiba-tiba bukan?...
Wah... Gak beres nih.
Naruto menoleh kebelakang menatap kembali batu besar sebelum ia melihat sesuatu menetes, Naruto menatap titisan itu dan dahinya berkerut... Itu, bukankah itu air liur?.
Naruto mengangkat kepalanya dan melihat darimana tetasan itu berasal dan seketika mata Naruto melebar sempurna, tepat diatas Naruto sesuatu berukuran besar dengan kaki berjumlah puluhan, makhluk yang ia yakin sejenis dengan kelabang itu bergerak dengan menjijikan kearah Naruto.
'Ah, Master... Aku lupa mengatakan jika Goa ini dihuni oleh banyak Magical Beast berbahaya dan beracun, salah satunya adalah Magical beast didepanmu... Berhati-hatilah Master, Racun yang dimiliki bisa membuat sepuluh Rhynolizaerd mati seketika.'
Naruto terdiam dan menatap kearah Makhluk yang saat ini tengah berada didepannya dengan mulut penuh gigi kecil namun tajam dan tak lupa dua sengat besar dikedua sisi mulut itu
"Ophis..."
Slash!
Bruk!
Kepala kelabang besar itu terpotong dan jatuh ketanah bersama tubuh besarnya, Naruto mengibaskan Katana miliknya untuk membersihkan Katana miliknya yang telah ternodai oleh darah berwarna ungu yang menjijikan... Naruto menatap datar kearah Magical Beast didepannya selagi ia memasukan pedang miliknya.
"... Lain kali berikan aku informasi yang lengkap tentang apapun itu, paham?."
'Ha'i, Master.'
Naruto menatap sejenak Makhluk ia sebelum ia berbalik meninggalkan Magical Beast itu, Naruto yang baru saja mengambil langkah ketiga terhenti ketika mendengar suara teriakan...
"Arrrrrrggggh!."
Naruto menoleh kebelakang dimana ia mendengar suara penuh penderita itu, sepertinya pemilik suara itu butuh bantuan. Rasa perikemanusiaan Naruto terketuk dan dengan cepat Naruto menajamkan pendengarannya berusaha mendengar asal suara...
"Tolong aku!, Arrgh!?."
"Aaaaargh!?."
Naruto menatap kedepan dimana ia yakin disanalah asal suara, tanpa banyak waktu lagi langsung berlari menuju asal suara, setelah beberapa lama berlari Naruto sampai ditempat dimana jeritan kesakitan itu bergema... Dan yang Naruto lihat disana adalah pembantaian... Terlihat digaris pandangan Naruto saat ini banyak sekali makhluk yang sama yang ia bunuh sebelumnya tengah memakan lima orang pria dengan pakaian tempur lengkap yang telah mati dengan seluruh tubuh membiru sepenuhnya.
Jrasssh!
Naruto mengalihkan pandangannya ketika ia melihat seorang perempuan dengan balutan armor ringan yang membalut tubuhnya sepasang sayap malaikat indah bertengger dibelakang punggungnya. perempuan itu dengan anggun mengerakan pedang yang sangat indah ditangannya keatas dan seketika angin berkumpul dan membentuk wujud sebuah pedang muncul disekitar perempuan itu, tidak hanya satu melainkan puluhan, perempuan itu dengan pelan menurunkan pedangnya kebawah dan bagaikan sebuah komando pedang angin itu langsung melesat dan menusuk kearah puluhan kelabang tepat dikepala dan membuat mereka mati... Iris Shappire Naruto melebar sempurna melihat perempuan yang saat ini tengah meliuk-liuk diudara dengan anggun-nya.
Perempuan itu...
"Hyuga... Hinata?."
Ya, Hyuga Hinata. Pewaris selanjutnya Clan Hyuga dan Mantan tunangan dari Naruto... Naruto dengan cepat mengambil sebuah kain dan menutupi wajahnya dengan kain putih lusuh itu... Bisa gawat jika Hinata tahu dirinya ada disini... Naruto kembali menatap kearah Hinata yang saat ini nampak telah berhasil membunuh sebagai besar dari Magical Beast beracun itu...
"Perempuan itu kuat..."
Gumam pelan Naruto ketika melihat betapa santainya Hinata membantai para Magical Beast itu.
'Tentu saja dia kuat, dilihat dari Magic yang ia kuasai aku yakin setidaknya mantan tunangan Master itu sudah ada ditingkat [Gold] melihat bagaimana ia bisa mencapai puncak tertinggi dari Magic itu...'
Ucap Ophis membuat Naruto terdiam, Hinata sudah mencapai tingkat [Gold]?, itu artinya ia berada ditingkat yang sama dengan Arthuria?. Naruto mengerutkan dahinya ketika ia menangkap sesuatu dari perkataan Ophis.
"Ophis... Apa kau tahu Magic apa yang perempuan arogan itu kuasai?."
'Uhm...?, jika dugaanku benar ia menguasai Magic Type Heavenly, dan dilihat dari wujud itu maka aku bisa menduga jika ia menguasai Heavenly Magic kuno... [Heavenly Magic: Anemoi Thuellai]. Salah satu Heavenly Magic Type angin terkuat yang aku tahu... Selamat Master, kau akan melawan orang dengan Magic merepotkan.'
Naruto terdiam sebelum ia menatap kembali kearah Hinata yang terus melepaskan pedang angin miliknya kearah para Magical Beast yang terus menyerang seperti tidak ada habisnya...
Hinata nampaknya mulai kewalahan melawan Magical Beast yang seperti tidak ada habisnya, Hinata yang tengah menembakan puluhan pedang angin entah kenapa merasakan pandangan mulai mengabur... Naruto melihat Hinata mulai terhuyung namun ia berhasil mempertahankan tubuhnya diudara. Perempuan itu entah kenapa bertingkah aneh...
'Nampaknya ia mulai terkena efek dari racun itu...'
Naruto mengerutkan dahinya, Racun?, tapi Hinata tidak terlihat terluka sama sekali... Tidak, Naruto menyipitkan matanya ketika ia melihat goresan yang lumayan panjang dilengan kanan Hinata, Goresan itu terlihat mulai membiru... Jangan-jangan?. Ophis mengangguk pelan dalam dunia Perpustakaan miliknya.
'Ya, Master... Hanya dengan terkena sedikit saja racun dari Magical Beast, [Deadly Poison Centipede]. Akan menyebabkan kematian secara lambat, dan perempuan itu tengah berada dalam situasi yang buruk, Racun itu mulai menyebar dan sebentar lagi akan merenggut kesadaran... Dan jika itu terjadi maka ia akan terjatuh didalam lautan [Deadly Poison Centipede] itu dengan kata lain kematian untuk dia.'
Naruto terdiam, jika begitu maka baguslah ia tidak akan berurusan dengan perempuan arogan nan menyebalkan itu, Naruto menatap kearah Hinata yang terlihat terengah-engah dengan keringat membasahi wajah cantiknya, Hinata nampaknya tidak bisa mempertahankan kesadarannya lebih lama lagi... Dan benar saja secara tiba-tiba Hinata melepaskan pegangan pada pedang indah miliknya yang langsung menghilang menjadi partikel cahaya sementara Hinata ia langsung terjun bebas menuju kumpulan Magical Beast beracun itu...
Namun ketika sebentar lagi Hinata akan jatuh kedalam lautan penuh Magical Beast beracun itu, Naruto dengan kecepatan tinggi menghentakan tubuhnya pada tanah lalu melesat kearah Hinata dan dengan Nice Timing Naruto berhasil mendekap tubuh Hinata.
Naruto terkejut... Lebih tepatnya batinnya terkejut, kenapa ia melompat dan menangkap tubuh Mantan Tunangannya yang arogan ini!?, dasar bodoh!, biarkan saja dia mati dengan begitu kau akan selamat!?, Naruto mengutuk dirinya yang dengan bodohnya melompat dan mendekap Hinata!?.
Naruto mendarat ketempat dimana ia melihat hanya ada sedikit Magical Beast kelabang itu, Merasakan dekapan seseorang Hinata perlahan membuka matanya dengan berat dan ia melihat sepasang iris Shappire indah yang tengah menatap serius kedepan hanya itu yang bisa Hinata lihat sebelum ia merasakan kesadarannya menjauh...
"Ini buruk..."
Naruto bergumam dengan pelan melihat situasi dimana ia mulai didekati oleh kumpulan Magical beast beracun dari segala arah, Naruto mengangkat Hinata dibahunya dan menarik katana Hitam miliknya dengan pelan ketika melihat Magical Beast beracun itu semakin mendekat...
"Mustahil aku bisa melawan mereka sekaligus, aku harus memikirkan cara untuk lolos dari sini..."
Naruto mengalihkan pandangannya kesekeliling dan pandangannya terkunci pada sebuah jalan yang cukup jauh darinya, Naruto berdecih melihat jarak yang cukup jauh itu... Tapi tidak ada pilihan lain, Naruto membenarkan posisi Hinata dibahunya sebelum ia dengan cepat mengalirkan Mana miliknya pada Katana miliknya yang langsung diselubungi oleh pedar [Mana] tipis.
[Original Style: Great Wave]
Naruto dengan cepat menebaskan Katana miliknya secara vertikal dari atas kebawah dan tebasan Naruto melepaskan sebuah pedar energi tipis yang langsung menerjang kedepan memotong para Magical Beast itu menjadi dua... Naruto yang melihat jalan sudah sedikit aman tanpa banyak waktu lagi Naruto langsung mengaktifkan dua Magic Andalannya.
[Accel]
[Boost]
Naruto menguatkan kuda-kuda-nya dan segera melontarkan dirinya menuju kearah jalan keluar, namun nampaknya hal itu tidak bisa dibiarkan oleh para Magical Beast yang nampaknya tidak ingin mangsanya kabur, dengan cepat para Magical Beast itu menutup jalan Naruto...
Naruto menguatkan pegangan pada gagang Katana-nya ketika melihat beberapa Magical Beast melompat kearahnya, Naruto dengan refleks bagus berhasil menghindari para Magical Beast itu dan memotong tubuh mereka... Naruto terus berlari selagi ia memotong beberapa Magical Beast yang berniat menyerangnya...
'Master!. lihat didepanmu!.'
Mendengar suara peringatan dari Ophis Naruto menatap kedepan dan seketika pupil mata Naruto melebar sempurna, digaris pandangan Naruto saat ini terlihat seekor [Deadly Poison Centipede] berukuran super besar berdiri menutupi jalan keluar... Apa-apaan ukuran tubuh yang menyalahi kodrat itu!?.
'Master sepertinya dia adalah sang ratu ditempat ini.'
Naruto mengertakan giginya. Ratu!?, kelabang besar itu adalah Ratunya!?... Pantas saja ukurannya besar sekali!?, apa dia kebanyakan makan hingga tubuhnya membesar seperti itu!?, Naruto menepis pikiran Absurd-nya dan menatap kedepan dengan pandangan serius, Naruto mengaktifkan [Belial Eye] yang langsung berkilat menakutkan dan semakin mempercepat laju larinya... Ketika jarak sudah dekat Naruto dengan cepat mengalirkan Mana pada Katana Hitam miliknya hingga Katana itu terlihat diselimuti kobaran mana yang mengamuk dengan ganas.
"Minggir dari..."
Naruto menguatkan kaki untuk menghentikan laju-nya, dan melompat tinggi sebelum melepaskan tebasan kuat secara Vertikal!.
"... Jalanku!?."
Jraaaash!?
Seolah memotong sebuah tahu, Naruto membelah tubuh Magical Beast didepannya menjadi dua bagian... Naruto dengan cepat langsung saja masuk kedalam terowongan, Naruto yang merasa jaraknya sudah aman langsung berbalik dan dengan cepat menyabet udara kosong dan melepaskan pedar energi tipis yang langsung menghantam bagian atas langit-langit terowongan dan hal itu langsung menjatuhkan bebatuan yang langsung menutup jalan para Magical Beast yang berniat mengejar mereka...
Naruto menatap waspada kearah bebatuan yang menutupi jalan didepannya selama beberapa saat sebelum ia menghela nafas ketika ia yakin sudah tidak ada lagi yang akan mengejarnya, Naruto mengibaskan Katana-nya kesamping untuk membersihkan darah yang menempel dikatana miliknya sebelun ia memasukan Katana-nya kedalam sarungnya.
"Aku tidak percaya aku masih hidup."
Naruto bergumam pelan sebelum iris shappirenya menoleh kearah Hinata yang berada dibahunya, Naruto berjalan dan meletakan perempuan itu dalam posisi menyandar didinding Goa, Naruto menatap kearah lengan kanan Hinata dimana ia melihat ruam biru mulai muncul dan itu adalah tanda racun mulai menyebar.
"Ophis, apa kau tahu penawar dari racun, Magical beast itu?."
Tanya Naruto selagi ia menatap intens luka dilengan Hinata, Ophis terdiam sebelum ia mengangguk pelan. 'Racun Centipede itu memang kuat namun penawar dari Racun Magical Beast itu cukup mudah dibuat cukup memberikan minyak yang diekstra dari buah tanaman saja, semakin banyak minyak yang dapat dikumpulkan maka akan semakin baik.' ucap Ophis, Naruto terdiam, Buah yang mengandung banyak minyak didalamnya ya?. Naruto terdiam sebelum sebuah lingkaran berwarna Shappire muncul disamping Naruto dan menjatuhkan kantung kusam diatas tangan Naruto.
"Betapa beruntungnya kau, Hyuga. Kau akan selamat sekarang."
Naruto membuka kantung itu dan mengambil satu buah zaitun tua dan perlahan memerasnya hingga mengeluarkan minyak, Naruto memasukan minyak yang menetes kedalam mulutnya, Naruto kembali memeras beberapa Minyak dan memasukan tetesan Minyak yang jatuh kedalam mulutnya. Setelah yakin cukup banyak Naruto berkumur dengan minyak itu selagi tangannya mengambil sebuah pisau kecil yang ia ambil dari [Dimension Space: Gate] dan membuka Luka dilengan Hinata agar sedikit melebar, setelah dirasa cukup lebar Naruto langsung membuka mulutnya yang telah dilapisi Minyak Zaitun dan menyedot Racun dilengan Hinata...
'Begitu?, melapisi mulut dengan Minyak akan mencegah Racun yang tercampur dalam darah tertinggal dimulut... Aku tidak menyangka Master bisa memikirkan cara itu.'
__ADS_1
Ophis bergumam dengan pelan dan melihat Masternya melepehkan darah yang dipenuhi Racun kesamping, setelah beberapa kali menyedot dan melepehkan darah bercampur Racun, Naruto menghentikan kegiatannya karena merasa sudah cukup, Naruto mengambil kantumg air didalam Gate dan meminumnya sebelum berkumur lalu membuang air dimulutnya, ia melakukan itu sebanyak tiga kali sebelum ia mengelap bibirnya dengan punggung tangan-nya. Naruto melirik kearah lengan Hinata sebelum Naruto menghela nafas lega melihat ruam biru dilengan itu sudah lumayan berkurang.
"Sekarang racun dilengan-nya sudahku keluarkan, sekarang tinggal menghilangkan racun yang ada ditubuhnya... Ophis, aku hanya perlu memberikan minyak dari buah zaitun ini bukan?."
'Ya, hanya itu yang perlu Master lakukan dan dengan begitu ia akan selamat.'
"Hah~, kalau begitu baguslah."
.
.
.
Hyuga Hinata, pewaris selanjutnya dari clan Hyuga, salah Clan teratas dijajaran para bangsawan dikerajaan [Alvarez], sebagai pewaris Clan selanjutnya dari Clan ternama, Hinata sudah sedari kecil diajarkan agar lebih mementingkan dirinya dibandingkan orang lain, hal itu mutlak untuk menjadi seorang pemimpin yang akan mengatur Clannya menuju kejayaan, setiap calon kepala Clan akan diajarkan bagaimana menjadi seorang pemimpin yang tegas dan harus menganggap bahwa Clan-nya lah yang terhebat... Itu membuat Hinata tumbuh menjadi pribadi yang egois dan arogan jika berhadapan dengan calon pewaris yang lain...
Belum lama ini Hinata berbuat tidak sopan dengan Calon tunangan-nya, Heir dari Clan Namikaze, keluarga bangsawan rendah yang tidak terpandang sejak kemunduran kepala Clan saat ini, Namikaze Minato. Hinata tidak hanya menolak pemuda yang memiliki paras tampan itu, tapi juga menghina harga dirinya didepan ayah dan ibunya...
Keegoisan Hinata membutakan matanya jika pemuda itu memiliki sifat yang sama seperti dirinya, mereka berdua sama-sama menghargai dan menjunjung tinggi nama Clan mereka... hanya karena pemuda itu memiliki kecacatan dari segi perkembangan Mana Clan Hyuga mendesak Hyuga Hiashi, Ayah dari Hinata dan kepala Clan Hyuga saat ini untuk memutuskan pertunangan itu sebab mereka malu karena pewaris selanjutnya adalah Jenius yang berbakat dalam bidang Heavenly Magic kuno dan diusia yang sangat muda Hinata telah menjadi Wizard tingkat [Gold], sebuah perkembangan yang membuat nama Hinata bertengger dijajaran para jenius dari kerajaan Alvarez dan melihat Heiress mereka dijodohkan dengan seorang pecundang seperti Naruto hanya akan menimbulkan aib dikalangan Bangsawan Hyuga, dengan desakan itu akhirnya Hiashi dengan berat hati memutuskan pertunangan itu.
Keegoisan Hinata membuatnya memilih pilihan yang salah karena telah memutuskan hubungan dengan pemuda yang beberapa hari yang lalu telah membuktikan jika dirinya bukanlah pecundang dengan menunjukan keberhasilannya dalam perkembangan Mana yang sebelumnya hanya menyentuh angka 9 kini setelah 3 bulan naik menjadi Silver III, perkembangan yang cepat bahkan terlalu cepat jika dibandingan dengan Hinata yang membutuhkan latihan selama beberapa tahun untuk bisa mencapai tingkat yang sekarang berbeda dengan pemuda bernama Namikaze Naruto yang hanya membutuhkan 3 bulan untuk naik menjadi tingkat [Silver: III]...
Melihat kecepatan perkembangan Mana milik Naruto membuat nama Naruto masuk kedalam jajaran sebagai kisei no sedai, generasi keajaiban bersama beberapa heiress dan heir Clan lain. Mendengar hal itu para tertua dari Clan Hyuga entah kenapa menjadi menyesal karena memutuskan pertunangan antara dirinya dan Naruto... Mereka meminta agar Hiashi menjalin kembali pertunangan dengan Naruto namun Hinata dengan cepat menolak hal itu bahkan ia berani menentang ayahnya dengan mengatakan...
"Ini hidupku!, tidak ada satupun yang berhak mengatur dengan siapa aku akan menikah!, bahkan Ayahku sendiri tidak berhak mengatur hidupku!... Aku dan Heir Clan Namikaze itu sudah membuat kesepakatan jika kami menolak pertunangan ini!, dan berjanji akan menyelesaikan masalah pertunangan ini diatas Kuil suci Hyuga, Temple of Moon dalam beberapa bulan lagi!, jadi jangan coba-coba kalian merencanakan lagi pertunanganku dengan pemuda itu!."
Berkat semua itu para tertua langsung bungkam bahkan Hiashi tidak bisa menentang anaknya sebab bisa dibilang yang mengontrol Clan Hyuga saat ini adalah Hinata, dia mengendalikan hampir semua bisnis diclan Hyuga dan itu menjadikannya sebagai 'orang yang tidak tergoyahkan' bahkan ayah Hinata tidak berani melakukan apapun pada putrinya sebab jika Hinata melakukan gerakan memberontak maka sudah jelas dirinya akan kalah sebab Hinata juga mengendalikan para prajurit dan hal itu membuat Hinata semakin tidak tergoyahkan.
Ya... Pencapaian hebat untuk seorang Heiress yang masih muda, namun jika dilihat bagaimana kondisinya yang sekarang Hinata tak lebih dari sekedar anak gadis yang tengah tertidur pulas.
Hinata perlahan mulai tersadar, iris lavender miliknya terbuka dan menyapa dunia, Hinata mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya yang mengabur, setelah jelas Hinata menatap kedepan dimana ia melihat jika dirinya saat ini tengah digendong oleh seseorang pria, ia yakin itu sebab tidak ada perempuan yang memiliki punggung selebar dan sekokoh ini.
Hinata mengalihkan pandangannya dan menatap kearah orang yang mengendongnya dan ia melihat seorang pria dengan wajah ditutup oleh sehelai kain agar wajahnya tidak terlihat. Merasakan jika orang yang digendongannya tersadar Naruto menoleh kebelakang dan Iris Shappire indah bertemu dengan Lavender yang menawan.
"Ah, Hinata-san?, kau sudah sadar?."
Hinata terdiam melihat orang ini, jika tidak salah orang ini adalah orang yang sama yang ia berikan tumpangan kekota [Rudret], jika tidak salah orang ini bernama Haruto... Tunggu sebentar?, iris shappire?, Hinata meringis pelan ketika ia mengingat kembali apa yang terjadi... Saat ia bertarung melawan Magical Beast ia terkena racun Magical beast itu dan kehilangan kesadaran-nya saat ia kira bahwa dirinya akan mati tiba-tiba seseorang mendekapnya dan mengendongnya ala Putri, Hinata mengingat jelas sepasang iris shappire milik orang yang menolongnya... Iris Lavender Hinata melebar... Jadi orang yang menolongnya dari kematian adalah...
"Haruto-san... Apa Haruto-san yang tadi menyelamatkanku?."
Tanya Hinata, Naruto terdiam sebelum ia mengangguk pelan. " ya, begitulah, tadi itu berbahaya sekali Hinata-san, kau bisa mati jika aku tidak kebetulan mendengar suara pertarungan kau dengan para magical beast itu, beruntungnya dengan pengalamanku bertemu dengan banyak Magical Beast membuatku dapat dengan mudah membawamu bersamaku jika tidak aku yakin kau sudah mati..." ucap Naruto selagi kakinya terus melangkah kedepan, Hinata terdiam sebelum ia tersenyum tipis.
"Terimakasin, Haruto-san, kau sudah mau menyelamatkanku."
"Tidak masalah, Hinata-san. Dan lagipula... Aku juga berhutang budi padamu bukan?."
Hinata terdiam sebelum ia mengangguk pelan, Naruto memasang wajah tersenyum sebelum ia mengalihkan pandangannya kedepan.
"Ah, Hinata-san bagaimana keadaanmu?, apa kau masih merasakan pusing atau mual?."
Tanya Naruto, Hinata terdiam sebelum ia mengeleng pelan, Naruto membuat mata tersenyum. "Syukurlah, racun itu sudah benar-benar keluar." ucap Naruto membuat dahi Hinata berkerut, Racun?. Hinata yang bingung tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada lengan-nya dimana disana terdapat sebuah kain yang membalut lengannya... Jika tidak salah lengan ini terdapat luka goresan dari Magical Beast beracun itu dan berkat itu Hinata kehilangan kesadarannya dan hampir mati...
"Haruto-san, apa kau yang telah menyembuhkanku?."
Tanya Hinata, Naruto terdiam sebelum mengangguk, "maa begitulah, kau terkena racun dari Magical Beast yang mampu membunuh 10 Ryhnolizaerd dengan mudah, beruntung kau hanya terkena sedikit racun dan itu mudah disembuhkan... Aku mengeluarkan racun dari lengan mu dan memberikanmu penawar dari racun itu, sekarang kau bisa tenang Hinata-san, racun itu sudah tidak ada ditubuhmu." ucap Naruto membuat Hinata terdiam dan menatap Naruto dengan pandangan dalam.
"Haruto-san..."
"Uhm?..."
"... Kenapa Haruto-san mau menolongku?."
Hinata menatap kearah Naruto yang terdiam... Dipikiran Hinata saat ini berputar pertanyaan, kenapa Haruto-san mau menolong dirinya?, apa karena dia bangsawan penting?, atau karena dengan menolongnya ia bisa mendapatkan imbalan?. Atau-,.
"Jika kau tanya kenapa maka aku rasa, karena kau adalah seorang perempuan yang harus dilindungi."
*ba-dump*
Hinata membeku mendengar jawaban lembut dari Naruto, iris Lavender miliknya menatap kearah Naruto yang tengah menatapnya dengan Eye Smile miliknya... Hinata menutup matanya ketika ia merasakan gejolak aneh didadanya... Dadanya terasa sesak tapi entah kenapa ia merasakan kebahagian memenuhi dirinya.. Tapi Naruto tidak menyadari hal itu dan menatap kedepan.
"Aku tidak bermaksud mengatakan jika Hinata-san adalah perempuan yang lemah, aku tahu kau kuat, tapi pada akhirnya sekuat apapun seorang perempuan ia masih membutuhkan sosok laki-laki untuk melindunginya, bukan?."
*ba-dump*
Hinata semakin merasakan sesak didadanya, Naruto yang merasakan Hinata terdiam menoleh kebelakang dan ia mendapati Hinata yang menundukan kepalanya dengan rona merah diwajahnya, Naruto menatap hal itu dengan pandangan bingung, kenapa Hinata terdiam?, apa dia demam?...
"Hinata-san?, wajahmu memerah apa kau sakit?."
"ti-tidak... Aku baik-baik saja. dan Haruto-san, bisakah kau menurunkanku, aku sudah bisa berjalan sendiri."
"Eh?, baiklah."
Naruto menurunkan Hinata dengan pelan, ia menatap bingung Hinata yang langsung berjalan didepan sebelum ia mengangkat bahu dan melangkah mengikuti Hinata yang ada didepan, Ophis yang ada didalam Mindscape Naruto menghela nafas datar.
"Master... Suatu saat kemampuanmu ini akan membuatmu terlibat dalam masalah serius."
Jeanne yang ada didimensi berbeda dengan Ophis hanya bisa tersenyum miris dan mengangguk menyetujui perkataan Ophis.
Setelah berjalan selama beberapa saat akhirnya Naruto dan Hinata melihat sebuah cahaya dan tanpa banyak waktu lagi berlari menuju tempat itu namun ketika mereka sampai cahaya itu mereka dibuat terkejut karena ternyata tempat itu adalah sebuah jurang gelap tanpa dasar...
"Kyaaa!."
Hinata hampir saja terjatuh kedalam jurang itu jika saja Naruto tidak menangkap Hinata dan membawanya kedalam dekapan Naruto.
"Hampir saja..."
Naruto bergumam lega ketika ia tepat waktu menangkap Hinata, tunggu sebentar... Ia melakukannya lagi!, kenapa ia selalu menolong orang yang tidak ia sukai!, ada apa dengan tubuhnya yang bergerak sendiri ini!?. Naruto mengamuk dalam batin hingga tidak menyadari Hinata yang memerah dipelukan Naruto.
"A-Ano... Haruto-san..."
Mendengar suara lembut Hinata membuat Naruto tersadar dari Amukan batinnya dan mengalihkan pandangannya kearah Hinata yang memerah dipelukannya... Tunggu, pelukannya!?.
"Wuaaa, maaf Hinata-san, aku tidak bermaksud..."
"Ti-Tidak apa, Haruto-san."
Canggung... Naruto dan Hinata tertelan dalam keheningan, mereka berdua nampak canggung sebelum Hinata batuk umtuk menghilangkan hawa canggung diantara mereka...
"Y-Ya, aku rasa ini jalan buntu, Haruto-san... Ki-Kita kembali saja."
Ucap Hinata, Naruto yang melihat Hinata mencoba membangun suasana baru mengikuti alur itu, karena sebagai seorang pria sejati ia tidak boleh menyia-yiakan usaha perempuan.
"Y-Ya aku rasa kita kembali saj-,"
'Tunggu Master, kenapa pergi, kita sudah berada dijalan yang benar...'
Ophis memotong perkataan Naruto yang langsung mengerutkan dahinya mendengar perkataan Ophis, mereka ada ditempat yang benar?.
"Apa maksudmu, Ophis... Aku tidak melihat apapun ditempat ini kecuali sebuah jurang luas dan tanpa dasar ini."
'Memang benar ini terlihat seperti jurang luas dan tanpa dasar jika dilihat menggunakan mata biasa, coba suruh perempuan Hyuga disebelah Master untuk mengaktifkan Byakugan miliknya.'
Naruto menaikan satu alisnya mendengar saran dari Ophis, menyuruh Hinata mengaktifkan Byakugan-nya?... Apa yang sebenarnya diinginkan Ophis?, kenapa dia meminta Hinata agar mengaktifkan Byakugan miliknya?.
"Ophis, aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan tapi aku harap itu akan membawa kita menuju Castil melayang, [Avantheim]."
'Tenang saja, Master. Kau pasti akan segera melihat, [Avantheim].'
Naruto menghela nafas sebelum ia menoleh kearah Hinata yang tengah menatapnya dengan pandangan bingung yang lucu.
"Haruto-san?, kenapa kau diam saja?."
"A-Ah, tidak aku hanya tengah berpikir sesuatu, ah benar juga... Hinata-san, bisakah kau mengaktifkan [Byakugan] milikmu sebentar?."
Ucap Naruto membuat Hinata terdiam selama beberapa saat sebelum ia memiringkan kepalanya dengan lucunya.
"Kenapa aku harus mengaktifkan [Byakugan]?."
Tanya Hinata membuat Naruto mengeluarkan Eye Smile miliknya.
"Begini, Hinata-san. Aku ingin menunjukan sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh pemilik mata magic sepertimu."
Ucap Naruto membuat Hinata semakin bingung, tapi ia juga penasaran dengan apa yang ingin Naruto tunjukan, Hinata menghela nafas.
"Baiklah, Haruto-san. Aku akan mengaktifkan [Byakugan]ku, tunggu sebentar."
Setelah mengatakan itu Hinata memejamkan Matanya dan memfokuskan [Mana] miliknya kematanya, perlahan urat disekitar pelipis Hinata Menebal dan sedetik kemudian Hinata membuka matanya.
[Byakugan]
"Baiklah, jadi apa yang ingin kau tunjukan padaku, Haruto-san."
Naruto memasang eye smile dan menghadap kearah jurang luas dan tanpa dasar itu.
"Coba kau lihat kedepan, Hinata-san... Dan katakan apa yang kau lihat."
Ucap Naruto membuat Hinata menatap bingung Naruto sebelum ia mengikuti saran Naruto dan menatap kedepan, seketika Iris Lavender Hinata melebar sempurna... Apa yang dilihat Hinata saat ini merupakan sesuatu yang sangat menakjubkan, digarus penglihatan Hinata saat ini, tepat dihadapan mereka berdua terdapat sebuah jalur berwarna hijau terang yang menanjang dan menuju sebuah tempat berbentuk lingkaran yang tertutup oleh sebuah Kubah energi berbentuk bulat.
"Ha-Haruto-san, i-ini..."
"Bagaimana?, apa kau melihatnya, Hinata-san."
"Y-Ya aku melihat-nya... I-ini menakjubkan, Haruto-san."
Naruto menatap kearah Hinata yang tengah memasang wajah berbinar, perempuan ini terlihat begitu manis jika berekspresi seperti itu, tapi Naruto tahu jika perempuan manis ini adalah perempuan yang sama yang telah membuat Harga diri Clannya Malu.
"Baiklah, Hinata-san. Bisa kau jelaskan apa yang kau lihat?."
Hinata yang tengah menganggumi apa yang ia lihat langsung menoleh dan menatap kearah Naruto yang menatapnya dengan Eye Smile miliknya.
"Aku... Aku melihat sebuah jalan berwarna hijau didepan kita, Haruto-san, jalan ini terhubung pada sebuah kubah energi besar ditepat ditengah jurang ini."
"Begitu ya?, Hinata-san... Bisa kau pimpin jalan menuju kekubah energi itu?."
Tanya Naruto dibalas Anggukan dari Hinata, keduanya tanpa banyak waktu lagi melangkah diatas jalan hijau transparan itu, pada langkah awal baik Hinata dan Naruto ragu-ragu sebab jika pijakan mereka ternyata rapuh maka sudah dipastikan Naruto dan Hinata akan jatuh kedalam jurang tanpa dasar itu, langkah awal mereka aman, Hinata mengangguk dan menyuruh Naruto mengikuti langkahnya... Keduanya pun segera berjalan menuju kearah Kubah Energi yang dilihat Hinata selagi keduanya menganggumi keajaiban yang mereka alami, mereka saat ini terlihat seperti berjalan udara.
Naruto yang tengah menganggumi keajaiban ini terhenti ketika Hinata berhenti tepat didepannya dan menatap kedepan dengan pandangan ragu.
"Hinata-san?, apa yang kita sudah sampai didepan kubah energi itu?."
Tanya Naruto membuat Hinata menoleh kearah Naruto dan mengangguk pelan.
"Ya, tepat didepan kita terdapat sebuah Kubah energi... Tapi..."
"Tapi?... Tapi apa?."
"Uhm... Tapi aku tidak bisa melihat apa yang ada didalam kubah energi itu, aku takut jika apa yang ada didalam Kubah energi ini terdapat sesuatu yang dapat membahayakan kita."
Naruto terdiam selagi iris shappirenya menatap Hinata yang menbuat wajah kesulitan, Naruto terdiam selema beberapa saat sebelum mengeluarkan Eye Smile dan berjalan melewati Hinata yang menatap kearah Naruto yang berdiri tepat didepan Kubah energi didepannya.
"Haruto-san apa yang mau kau lakukan?."
"Uhm?, tentu saja masuk kedalam bukan?."
Ucap Naruto sebelum ia menjulurkan tangannya dan menyentuh kubah energi didepannya, Hinata melebarkan sedikit matanya ketika melihat tangan Naruto menebus kedalam kubah energi itu, Naruto yang melihat tangannya tertelan langsung bergerak masuk kedalam... Hinata yang melihat Naruto masuk kedalam nampak ragu namun ia tidak memiliki banyak waktu lagi, akhirnya setelah beberapa saat dalam keraguan akhirnya Hinata memutuskan untuk melompat kedalam kubah Energi...
Sesampai didalam kubah energi, Hinata dibuat terpaku oleh pemandangan didepannya dimana ia melihat sebuah Langit cerah dengan awan yang bergerak dengan lambat, tidak, bukan itu yang membuat Hinata terpaku, yang membuat Hinata terpaku adalah dihadapannya saat ini terdapat sebuah Castil besar nan megah yang berdiri dengan kokoh didepannya, bukan hanya Hinata yang terpaku tapi Naruto yang ada tepat disebelahnya juga ikut terpaku...
"Kita sampai..."
"... Kastil melayang..."
""...[Avantheim]...""
__ADS_1