The Worst One

The Worst One
Chapter 9


__ADS_3

Suara langkah sepatu bergema disepanjang lorong Academy, Namikaze Naruto berjalan disepanjang lorong dengan wajah datar, keheningan menemani pemuda dengan julukan [The Worst One] itu sampai sebuah cahaya crimson bersinar terang didada Naruto dan memunculkan sebuah buku Greimore yang tergantung didada Naruto.


Naruto mengernyitkan dahinya melihat kemunculan buku itu, " Ophis?, ada apa?. " tanya Naruto, Ophis terdiam sejenak sebelum Greimore didada Naruto mengeluarkan cahaya crimson redup.


' Master, kenapa kau tidak memberitahukan kebenaran yang terjadi pada wanita tua itu?, '


Tanya Ophis dengan nada pelan, Naruto menghentikan langkahnya dan menatap kearah Ophis didadanya sejenak sebelum ia menghela nafas panjang.


" aku tidak senang memberitahukan apapun tentang diriku pada orang asing, Ophis. Dan lagipula jika aku ceritakan kebenaran yang terjadi sekalipun, wanita itu tetap tidak akan percaya. "


Ucap Naruto, membuat Ophis terdiam sinar crimson didada Naruto meredup lagi, entah apa yang dirasakan Ophis, ia merasakan perasaan tidak terima ketika Masternya dihina dengan hinaan yang memang tidak ditunjukan secara langsung tapi tujuan hinaan itu jelas sekali mengarah pada Masternya..., dan Ophis benar-benar tidak menyukai hal itu!.


' ta-tapi, Master, kaulah yang seharusnya mendapatkan pujian itu bukan mereka..., '


Ucap Ophis, Naruto terdiam sebelum ia menatap Ophis dengan pandangan datar, " Ophis, aku tidak membutuhkan pujian, aku tidak membutuhkan semua pujian itu, karena bagiku pujian hanya akan membuatku besar kepala dan menjadi congkak, dan hal itu akan berakibat buruk untuk diriku sendiri. " ucap Naruto membuat Ophis terdiam, Naruto menatap kearah Ophis sebelum ia tersenyum kecil.


" sudahlah, lupakan hal itu, aku ingin segera mengistirahatkan tubuhku yang pegal semua karena perjalanan jauh, "


Ucap Naruto sambil meregangkan tubuhnya Ophis terdiam sebelum ia menghela nafas, ' hah~, Master, aku tidak mengerti jalan pikiranmu, ' ucap Ophis pelan.


Naruto tertawa kecil, " maa..., kau akan terbiasa dengan sifatku, Ophis. " ucap Naruto melanjutkan langkahnya menuju Asrama dengan senyuman kecil diwajahnya...,


Setelah beberapa saat melangkah Naruto akhirnya meninggalkan gedung utama, baru saja Naruto melangkah meninggalkan gedung Academy, pandangan Naruto teralih pada seorang perempuan bersurai ungu panjang dengan pony yang menutupi matanya hingga mata perempuan itu tidak terlihat sama sekali, perempuan itu terlihat tengah membagikan selembaran pada murid yang berlalu lalang.


Perempuan itu menghela nafas ketika tidak ada satupun murid yang mengambil selembaran yang ia bagikan, perempuan itu berjalan menuju kursi taman yang tak jauh darinya, ia mendudukan diri disana...,


Naruto mengerutkan dahinya ketika melihat seekor anjing kecil berwarna hitam berlarian disekitar kaki perempuan itu, tak jarang anjing kecil itu mengelus kaki perempuan itu membuat perempuan itu tersenyum kecil dan mengangkat anjing kecil itu yang langsung saja mendapat jilatan kasih sayang dari anjing kecil itu..., Naruto menyipitkan matanya dan menatap intens anjing kecil itu, entah kenapa firasatnya mengatakan jika ia harus waspada pada anjing itu...,


' Master?, ada apa?. '


Ucap Ophis membuat Naruto tersadar dari dunianya dan mengeleng pelan. " ah, tidak ada, Ophis. " ucap Naruto sebelum ia melanjutkan perjalanannya


" ah!, inilah hidup. "


Naruto mendesah nikmat ketika ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang empuk, sensasi lembutnya ranjang memanjakan tubuhnya yang lelah, ia memejamkan matanya menikmati sensasi yang sudah lama tidak ia rasakan.


" sepertinya kau sangat kelelahan, Master. "


Naruto membuka matanya dan menatap kearah seorang gadis mungil berpakaian loli gohtic hitam tengah duduk diatas tubuhnya, iris mata hitam kosong menatap Naruto...


Naruto menatap datar hal itu sebelum ia menghela nafas, " melihat dari beberapa kejadian di Lotus City, aku tidak bisa mengatakan jika aku baik-baik saja, Ophis. " ucap Naruto sambil kembali menutup matanya, Ophis terdiam sebelum ia memiringkan kepalanya.


" Master, setelah ini apa yang akan kau lakukan?, kita sudah mendapatkan [Heavenly Necklace], menjadi tingkat [Silver] dalam waktu tiga bulan sangatlah mudah. "


Ucap Ophis, Naruto membuka matanya dan menatap langit kamarnya sejenak sebelum ia memejamkan matanya kembali.


" entahlah, Ophis. Aku masih belum menentukan langkah selanjutnya setelah aku menjadi tingkat [Silver], mungkin aku akan mengunjungi Kampung halamanku setelah pengecekan Mana akhir semester ini..., "


Ucap Naruto, Ophis terdiam sebelum ia menatap kearah luar jendela, " begitu ya?, pulang kekampung halaman, mungkin itu hal yang bagus, Master..., "


Merasa tidak ada Respon Ophis mengalihkan pandangannya dan melihat Naruto yang mendengkur halus, sebuah senyuman tipispun terpatri diwajah imut Ophis ketika melihat Naruto terlelap dalam tidurnya, sepertinya Masternya itu memang benar-benar kelelahan.


" selamat tidur, Master. "


- Time Skip -


Perlahan malam mulai digantikan oleh pagi, disalah satu kamar dengan papan Nama Namikaze Naruto, terlihat Naruto tengah bersiap-siap untuk sekolah, ia menatap kearah cermin dilemari untuk melihat pantulan dirinya disana, setelah puas Naruto segera berjalan kearah pintu dan menuju Academy.


Naruto menatap datar kedepan disepanjang perjalanan menuju Academy entah kenapa ia mendengar banyak sekali perkataan memuakkan seperti biasa dipagi hari, namun bagi Naruto hal itu sudah biasa.


Naruto menyipitkan matanya ketika ia melihat perempuan bersurai ungu panjang yang ia lihat kemarin berdiri digerbang sambil membagikan selembaran kertas pada siswa dan siswi namun diabaikan oleh mereka, Perempuan itu menghela nafas ketika tidak ada seorangpun yang menerima lembaran itu..., Naruto menatap perempuan itu ketika ia berpapasan dengannya, Naruto melihat iris Violet indah yang tersembunyi dibalik surai ungu miliknya..., Naruto menatap hal itu sejenak sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju kelas.


" hari ini juga gagal ya~, "


Ucap perempuan itu, Naruto menghentikan langkahnya ketika mendengar gumam perempuan itu, Naruto terdiam sejenak sebelum ia berbalik dan mendekati perempuan itu.


" hey, boleh aku minta satu lembar?. "


Ucap Naruto membuat perempuan itu tersentak sebelum dengan gerakan kaku perempuan itu membalikan tubuhnya dan menatap Naruto..., ia terdiam menatap Naruto yang menjulurkan tangannya pada dirinya...,


" etto?, Ojou-san?, boleh aku minta satu lembar?. "


Ucap ulang Naruto membuat perempuan itu tersentak perlahan rona malu menghiasi pipi perempuan itu, dengan gerakan gugup perempuan itu menyerahkan satu lembar kertas pada Naruto yang menerima dengan senang hati.


" terimakasih..., "


Ucap Naruto dibalas anggukan pelan perempuan itu, Narito tersenyum tipis sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah lembaran ditangannya, dan alis Naruto berkerut.


" Club penelitian Alam?. "


Gumam Naruto sambil melihat tulisan yang mengajak untuk bergabung dengan club penelitian alam, Naruto terdiam sejenak sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap Perempuan didepannya yang terlihat malu dan menyembunyikan wajahnya dengan tumpukan kertas yang ia bawa.


Naruto terdiam, penelitian alam ya?, uhm apa itu club dengan kegiatan untuk meneliti fenomena alam sekitar..., uhm menarik...,


Ting!


Ting!


Ting!


Suara lonceng tanda masuk bergema diseluruh Academy membuat Naruto melebarkan sedikit matanya, dirinya...,


" shimatta!?, aku terlambat!?, sial!, Ibiki-sensei akan membunuhku kali ini!?..., "


Naruto berteriak panik, ia segera berbalik dan berlari meninggalkan perempuan itu yang menatap kepergian Naruto dengan pandangan bingung...,


Sementara itu Naruto terlihat tengah berlari dengan kecepatan tinggi dilorong, ia harus cepat karena kelasnya berada dibagian paling jauh dari Academy ini, letaknya ada dipaling pojok Academy ini!..., Naruto menyipitkan matanya ketika ia melihat dari arah berlawanan seorang pria dengan luka diwajahnya, mengenakan pakaian pengajar Hirozimon Academy tengah berjalan santai menuju kelas Naruto..,


Naruto membulatkan matanya ketika ia menyadari jika itu Ibiki-sensei!?, Ibiki yang tengah berjalan santai menatap kedepan dimana ia melihat Naruto tengah berlari cepat menuju kelas, Ibiki mengerutkan dahinya sejenak sebelum sebuah senyuman iblis terpatri diwajah Ibiki...,


Dengan cepat Ibiki merubah langkah santainya menjadi lari cepat dan hal itu membuat Naruto melebarkan matanya dan iris matanya melebar Maksimal ketika ia melihat Ibiki-sensei menyeringai sadis yang bisa diartikan. ' terlambat heh~, akan ku hukum kau. ',


' sial!?, tidak akan aku biarkan kau menang, Psyco-Sensei '


Naruto berteriak dalam hati dan mempercepat larinya, kedua orang itu terlihat mempercepat larinya, tidak ada satupun dari mereka yang mengalah, hingga ketika jarak mereka dengan pintu kelas tinggal sedikit lagi keduanya makin mempercepat larinya...,


Dalam gerakan lambat Keduanya menjulurkan tangannya untuk menggenggan knop pintu..., Ibiki menatap kearah Naruto dengan wajah penuh kemenangan sementara Naruto memasang wajah gak mau ngalah...,


Grep!


Grep!


Dalam waktu yang bersamaan keduanya berhasil mengenggam knop pintu, dengan nafas memburu keduanya mengadu tatapan yang bisa diartikan


' aku menang, kau akan kuhukum bocah sialan. '


' dalam mimpimu, kau tidak lihat aku yang menggenggam knop ini duluan, Pysco-sensei!. '


Keduanya tersenyum manis satu sama lain, namun hal itu berbeda dengan tangan mereka yang berebutan untuk membuka pintu..., alis keduanya berkedut melihat satu sama lain.


" terima saja kekalahmu, Namikaze dan berdiri dilorong sampai pelajaranku selesai. "


" tidak bisa, Ibiki-sensei. Aku tidak ingin berurusan dengan Squad kedisplinan. "


Ucap Naruto tidak kalah sengit, bagi seluruh murid di Academy Hirozimon berurusan dengan Squad kedisplinan merupakan mimpi buruk, semua itu karena mereka tahu siapa ketua dari Squad Kedisplinan yang tidak akan segan-segan melakukan hal yang ditidak bisa dibayangkan, contohnya mematahkan tulang?, bagi siapapun yang melanggar peraturan sekolah.


Keduanya mengadu tatapan dengan sengit, tidak ada yang mau mengalah sebelum Naruto memasang wajah terkejut ketika melihat kearah belakang Ibiki-sensei.


" ah!, selamat pagi, Tsunade-sensei. "


Ucap Naruto dengan nada penuh hormat membuat Ibiki tersentak dan buru-buru berbalik sebelum menunduk hormat dalam-dalam...,


" selamat pagi, Kouchou. "


Ucap Ibiki, merasa tidak mendapatkan balasan Ibiki menegakan tubuhnya dan ia tidak melihat Tsunade sejauh mata memandang, alis Ibiki berkedut, sial, ia dikerjai..., dengan cepat ia berbalik dan bersiap menyemprot Naruto namun si pirang sialan tidak ada disana dan hanya menyisakan pintu kelas yang terbuka...,


Alis Ibiki kembali berkedut, bocah itu..., jika tidak peraturan sekolah yang melarang guru melukai Murid didik dengan kekerasan fisik mungkin Ibiki sudah menabok wajah pemuda itu sampai bengkak..., Ibiki menarik nafas untuk menenangkan diri, sabar Ibiki-sensei, kesabaran pasti membawa berkah..., kapan?, ya sabar aja...,


- Change Scene -


Naruto menghela nafas lelah ketika ia menyelesaikan pelajaran dari The Killer Sensei, Ibiki. Sepertinya guru itu balas dendam padanya, bayangkan saja ia disuruh menulis catatan ' aku akan berlaku sopan saat pelajaran dimulai ', Naruto menghela nafas ketika ia menulis dipapan tulis sebanyak 500 kali hanya karena ia menguap dikelas...,


Naruto melemaskan tangannya ketika ia telah menyelesaikan hukumannya, Naruto menghela nafas dan segera membereskan peralatan belajarnya ketas dan berjalan pulang, ketika Naruto akan meninggalkan Academy ia mendengar suara ' duk ' berkali-kali, suara itu seperti seseorang tengah memukul sesuatu, karena penasaran Naruto mencoba mencari asal suara ini, ia terus melangkah sampai ia terhenti disebuah bangunan berukuran besar yang menyerupai dojo tradisional didepannya...,


Suara itu semakin terdengar jelas dari dalam dojo, Naruto mencoba melihat siapa yang melakukan latihan sampai sore hari begini, dan ketika Naruto mengintip lewat jendela disana, ia terkejut karena ia melihat satu-satunya orang yang ia panggil shabat tengah melakukan tendangan berkali-kali pada sebuah balok besar yang telah diberi sedikit bantalan penahan...,


Yap..., dia adalah Rock Lee, satu-satunya sahabat Naruto di Academy ini, Lee terlihat tengah melakukan latihan dengan sungguh-sungguh itu dibuktikan dengan tubuhnya yang mengeluarkan keringat dengan kapasitas Over hingga membasahi pakaian Training yang ia pakai...,


Naruto terdiam memperhatikan itu, Lee ternyata berlatih dengan keras, jika dibandingkan dirinya maka kerasnya usaha Lee layaknya sebuah gunung dengan dirinya sebagai batu didasar gunung...,


" 976..., 977..., 978..., 979..., 980..., "

__ADS_1


Lee melakukan tendangan sebanyak itu dengan semangat diwajahnya, ia tidak terlihat kelelahan sama sekali, sungguh semangat masa muda yang membara...,


Srak!


Lee menghentikan tendangannya tepat setelah 1000 tendangan, ia mengalihkan pandangannya kearah pintu yang terbuka dan ia melihat Sahabat baik Lee tengah berdiri disana dengan pandangan lembut..., Lee menenangkan deru nafasnya yang memburu dengan satu alis menatap bingung kearah Naruto yang kini berjalan kearahnya.


" Hosh..., Hosh..., Hosh..., Naruto-kun?, tidak biasanya kau masuk ketempat latihan Divisi Hand Combat?. "


Tanya Lee membuat Naruto tersenyum tipis, sebelum ia melemparkan kantung air minum kearah Lee yang langsung ditangkap oleh Lee, Lee menatap kearah kantung minum ditangannya sebelum ia membuka tutupnya dan meminum air didalamnya...,


Naruto menatap kesekitar tempat latihan Divisi Hand Combat, ia melihat banyak sekali alat latihan, sebuah dummy, bebeberapa balok untuk melatih pukulan atau tendangan, Naruto mengalihkan pandangannya pada Rock Lee yang tengah menatap kearahnya.


" Lee..., katakan padaku, kau saat ini berada ditingkat berapa. "


Tanya Naruto membuat Lee terdiam sejenak sebelum ia mengeluarkan senyuman cerah miliknya.


" aku saat ini berada ditingkat Steel bintang 10, Naruto-kun, sebentar lagi aku akan mencapai tingkat perunggu. "


Ucap Lee dengan senyuman andalannya, Naruto menatap Lee sejenak sebelum ia mengalihkan pandangannya dan menatap balok besar yang digunakan Lee untuk melatih tendangannya..., Naruto melihat bantalan penahan balok yang telah robek dibagian dimana Lee melakukan tendangan tadi, hal itu membuktikan jika Lee memang berlatih keras...,


" Lee, apa kau selalu berlatih sekeras ini, setiap hari?. "


Tanya Naruto, Lee terdiam sebelum ia mengangguk semangat, " tentu saja, demi impian kita berdua, aku berlatih keras untuk menjadi Knight Hand-Combat terhebat dibenua ini, bukankah kau juga begitu, Naruto-kun?..., menjadi Knight Sword terhebat dibenua ini?..., " ucap Lee, Naruto tersenyum sebelum mengangguk.


" tentu saja, aku akan membuat Namaku terkenal diseluruh Britania..., "


Ucap Naruto, Lee mengeratkan kepalan tangannya dengan semangat, terlihat pancaran kobaran api dimata Lee...,


" kalau begitu, kita harus berlatih lebih keras lagi, dan lagi agar kita menjadi lebih kuat lebih dari siapapun!..., "


" Ossu!. "


Keduanya berseru dengan semangat, Naruto dan Lee bertukar Brofist, sebelum keduanya menyengir lebar satu sama lain...,


" nee, Naruto-kun, kau sekarang sudah berada ditingkat berapa?. "


Tanya Lee, membuat Naruto terdiam, cukup lama Naruto terdiam sebelum ia menatap kearah Lee dengan seringai kecil diwajahnya.


" nampaknya kau harus mengejarku lebih keras lagi Lee, karena aku yang sekarang berada ditingkat Bronze bintang 7, "


Ucap Naruto membuat Lee membeku ditempat, Lee menatap kearah Naruto sebelum ia tertawa kecil, " Naruto-kun, kau berada ditingkat Bronze bintang 7?, kau bercanda?. " ucap Lee dengan tawa kecil, namun Naruto tidak mengubah Ekspresinya sama sekali dan menatap Lee dengan pandangan serius.


Lee menghentikan tawanya sebelum dengan jari telunjuk bergetar ia menunjuk Naruto, " ka-kau se-serius berada ditingkat itu?. " tanya Lee, Naruto mengangguk mantab membuat Lee membulatkan matanya.


" ba-bagaimana bisa ka-kau berada ditingkat Bronze bintang 7 dalam waktu sesingkat ini..., "


Ucap Lee, Naruto terdiam sejenak sebelum ia menatap kearah Lee dengan pandangan serius.


" aku juga berlatih sepertimu, Lee..., hanya dengan berlatihlah kita akan berkembang dengan cepat, perbedaan kau dan aku adalah, aku menemukan gaya latihan yang cocok untukku tiga bulan terakhir ini dan seperti yang kau lihat aku sudah berada jauh diatasmu. "


Ucap Naruto membuat Lee terdiam, Naruto tersenyum tipis sebelum ia meninju pelan bahu Lee, membuat Lee menatap kearahnya. " kejar aku, Lee. Kau dan aku sudah berjanji jika kita akan menjadi Knight terhebat dibritania ini, dan ingat Lee, sebagai seorang pria sejati pantang untuk mereka menarik perkataan yang sudah mereka ucapkan..., " ucap Naruto, Lee terdiam sejenak sebelum ia mengepalkan tangannya erat, terlihat dengan jelas dimata Lee semangat dan tekad yang membara.


" Yosshhh!?, aku pasti akan mengejarmu, Naruto-kun!. Aku pasti akan menjadi Knight Hand-Combat terhebat diseluruh Britania ini. "


Uca Lee Over Semangat, Naruto tersenyum tipis sebelum ia merogoh saku celananya dan melemparkan sesuatu kearah Lee yang langsung ditangkap dengan mudah oleh Lee.


Lee menatap ketangannya dimana disana terdapat sebuah kalung dengan bandul sebuah batu permata berwarna biru bening yang indah, Lee menatap hal itu bingung sebelum menatap kearah Naruto yang tersenyum kearahnya.


" itu hadiah dariku, Lee. Jika kau ingin berlatih pakailah benda itu, itu akan membantu mempercepat latihanmu hingga tiga kali lipat, "


Ucap Naruto membuat Lee membulatkan matanya, mempercepat latihan 3 kali lipat?, itu artinya jika ia melakukan Push Up 1000 kali maka itu sama dengan orang yang melakukan Push Up 3000 kali?..., tunggu dulu, bukankah itu sama saja dengan mempercepat perkembangan [Mana] ditubuhnya 3 kali lipat?.


" ti-tidak, aku tidak bisa menerima benda berharga seperti ini, Naruto-kun, ambil kembali, daripada aku kau lebih membutuhkannya. "


Ucap Lee menyerahkan kembali Kalung itu, Naruto tersenyum sebelum ia mendorong pelan tangan Lee, " kau lebih membutuhkannya, Lee. Kau harus secepatnya mengejarku, karena jika tidak kau akan mengikari janji persahabatan kita..., dan lagipula aku memiliki sesuatu yang lebih hebat daripada kalung itu, karena sesuatu itulah aku bisa berada ditingkat Bronze Bintang 7. Jadi terima kalung ini dan cepat susul aku..., mengerti Lee?. " ucap Naruto, Lee terdiam sejenak sebelum ia mengeratkan tangannya sebelum dengan cepat dia melakukan menundukan kepalanya dalam-dalam membuat Naruto terkejut.


" Arigatou, Naruto-kun!, Aku, Rock Lee, akan membantumu jika suatu saat kau berada didalam masalah, tanpa ragu!."


Ucap Lee, Naruto terdiam sejenak sebelum ia tersenyum tipis..., " Lee, seorang sahabat, tidak menundukan kepalanya untuk Sahabatnya, kita berada ditingkat yang sama, Lee. Dan juga Sebagai Seorang Sahabat saling membantu merupakan Hal yang biasa..., jika kau ingin berterimakasih, maka lakukanlah ini " ucap Naruto..., Lee yang mendengarnya mengangkat kepalanya dan menatap Naruto yang tersenyum kearahnya dengan sebuah brofist kearahnya, Lee terdiam sebelum ia bangkit dan menyambut brofist Naruto.


" terimakasih, Naruto-kun..., tunggulah aku pasti akan menyusulmu, dan kita berdua akan berdiri dipuncak bersama. "


Ucap Lee, Naruto tersenyum sebelum ia mengangguk pelan..,


" aku menunggumu, Lee. "


Setelah berbicara beberapa saat dengan Lee, Naruto memutuskan untuk kembali ke Asramanya, sementara Lee ingin melanjutkan latihan Exstream miliknya..., ditengah perjalanan Naruto terhenti ketika sebuah buku muncul didadanya.


' Master, kenapa kau memberikan [Heavenly Necklace] pada pemuda mangkok itu?, kita sudah bersusah payah untuk mendapatkan Artifak itu, sampai kita mengambil resiko hidup dan mati melawan Assassin di Lotus City demi mendapatkan benda itu dan kau memberikannya pada pemuda mangkok itu begitu mudahnya?..., ingat Master kau membutuhkan benda itu untuk mencapai tingkat perak!. '


Naruto yang mendengar Ophis mengeluh menghentikan langkahnya sebelum ia tertawa tipis membuat Ophis menatap Masternya dengan pandangan bingung...,


' Master?, '


" Ophis, aku mencari Artifak itu bukan untukku tapi untuk sahabatku, pemuda mangkok tadi, memang apa aku pernah berkata padamu jika aku membutuhkan Artifak itu untuk diriku sendiri?. "


Ucap Naruto membuat Ophis terdiam, ia memutar kilas balik dalam ingatannya dan hasilnya, memang benar jika Naruto tidak pernah berkata jika ia membutuhkan [Heavenly Necklace] untuk dirinya sendiri...,


' ta-tapi, Master, kau membutuhkannya untuk bisa mencapai tingkat [Silver] dengan cepat, jika tidak kau bisa mendapat hukuman dari orang bernama Jiraiya itu..., '


Ucap Ophis, Naruto terdiam sebelum tersenyum tipis, " memang benar aku harus mencapai tingkat [Silver] sebelum pengetesan [Mana] diakhir semester nanti, tapi Ophis, kau harus tahu satu hal, Rock Lee itu memiliki nasib yang sama sepertiku, kau ingat?, ketika setiap pagi kita berdua mendengar perkataan yang memuakan dari pada murid disini?, dia juga mengalami hal itu Ophis, kami berdua di diskriminasi oleh lingkungan Academy, tidak hanya murid tapi guru juga ikut mendiskriminasi kami..., " ucap Naruto membuat Ophis terdiam, memang benar jika setiap pagi dirinya mendengar perkataan-perkataan yang memuakkan dari para murid yang ditunjukan pada Masternya...,


Melihat Ophis yang terdiam membuat senyuman Naruto mengembang, " lagipula, Ophis. Aku memiliki sesuatu yang lebih berharga, jauh lebih berharga daripada [Heavenly Necklace] itu, dan kau tahu apa itu?. " Tanya Naruto membuat Ophis terdiam dan Naruto yakin jika saat ini, Ophis tengah mengeleng pelan.


' aku tidak tahu, apa itu Master?. '


" dirimu, Ophis..., "


Wussh~


Ophis tertegun mendengar perkataan bernada lembut dari Naruto, sebuah senyuman lembut tak luput menghiasi wajah Naruto, Ophis terdiam sebelum untuk pertama kalinya Ophis melepaskan senyuman tulus diwajahnya...,


' begitu ya..., terimakasih, aku senang mendengarnya, Master. '


Ucap Ophis dibalas cengiran Khas dari Naruto, " Yosh!, saat pulang keasrama!, hari ini aku ingin membaca beberapa buku yang ada padamu Ophis, " ucap Naruto semangat, Ophis yang mendengarnya tersenyum tipis.


' tentu saja, Master. '


- Time Skip -


Dipagi buta terlihat dibelakang Asrama putra, Naruto tengah berlatih kenjutsu dengan pedang kayu pribadi miliknya, tebasan demi tebasan, tusukan demi tusukan Naruto lakukan dengan semangat, hingga pada puncaknya Naruto melakukan tebasan dari kiri sebelum ia memutar tubuhnya dengan cepat dan melakukan tebasan kekiri kemudian ditutup dengan tebasan dari atas...,


[Namikaze Style : Turning Swallow Strike]


Tiga tebasan dalam satu gerakan menyebabkan gelombang udara yang membuat rerumputan dibawah Naruto bergoyang, Naruto menenangkan deru nafasnya yang memburu, ia menyekat keringat didahinya sebelum ia menghela nafas lelah.


' meskipun aku sudah melihat beberapa kali, namun harus aku akui jika gerakan itu bagus, Master. '


Naruto tersenyum tipis mendengar komentar Ophis, " terimakasih, Ophis, tapi ini masih jauh dari kata bagus. kau tahu, kakekku bisa melakukan 6 kali lebih hebat dariku. " ucap Naruto mendapatkan 'wow' datar dari Ophis.


' pasti kakek, Master. Orang yang sangat hebat..., '


Ucap Ophis, Naruto tersenyum dan berjalan menuju kearah pohon yang tak jauh disana, Naruto duduk bersandar disana dan meregangkan tubuhnya...,


" maa..., bisa dibilang begitu, ia sangat hebat anggap saja jika Kakekku, 6 kali lebih kuat dariku. "


Ucap Naruto, Ophis terdiam sejenak, 6 kali lebih kuat?, jika Naruto yang tingkat perunggu bisa mengalahkan tingkat perak bintang akhir, Ophis hanya bisa menerka-nerka jika Kakek Masternya yang katanya 6 kali lebih kuat dari Master merupakan seekor monster dengan kemampuan super power...,


' ugh, 6 kali lebih kuat, dia monster kah?. '


Ucap Ophis membuat Naruto tertawa kecil, " yap, dia memang monster, ia dikenal sebagai kami no keshin, karena kekuatan, kewibawaan dan ketegasaanya, kakekku sangatlah ditakuti oleh semua orang ditempatku, Ophis. " ucap Naruto sambil membayangkan ketika Kakeknya bertarung melawan sekelompok Mafia berjumlah ratusan yang berniat menginvasi kota tempat Asalnya, dengan hanya bersenjatakan katana Kakeknya menang melawan kelompok Mafia yang bersenjatakan senjata api dimana Kakeknya berhasil memukul mundur para Mafia itu.


" maa, aku rasa sudah cukup latihan pada hari ini, Ophis. Besok kita akan lanjutkan. "


Ucap Naruto dengan senyuman tipis diwajahnya sebelum ia bangkit dan menepuk pakaiannya yang tertutup debu, mengambil pedang kayunya dan berjalan menuju Asrama karena sekarang adalah waktunya untuk sekolah...,


- Change Scene -


Naruto berjalan dengan santai menuju Academy, ia terlihat seperti menikmati hidup itu terbukti dari wajahnya yang terlihat sedikit bersahabat, Naruto menghirup udara segar pagi hari sebelum ia menatap kedepan dan seketika wajah bersahabat Naruto langsung lenyap..., hal itu dikarenakan didepannya saat ini terdapat dua perempuan yang dijuluki sebagai The Four Great Onee-sama, Senju Kyubi, dan Otsutsuki Kaguya.


Naruto berjalan terus dan melewati kedua orang itu seolah-olah mereka berdua tidak ada disana, namun saat Naruto baru mengambil langkah ketiga tiba-tiba kerah baju Naruto dicekal dan hal itu membuat Naruto hampir terjungkal kebelakang, Naruto menoleh kebelakang dan menatap dua orang pelaku yang menatap Naruto dengan wajah sedikit bersalah?.


" ada apa?, apa kalian tidak lihat jika aku sedang berjalan kekelas?..., "


Ucap Naruto datar, Kaguya dan Kyubi melirik satu sama lain sebelum keduanya mengangguk bersamaan, Naruto menatap keduanya dengan pandangan datar namun tak memungkiri jika ia dibuat bingung dengan tingkah dua Great Onee-sama didepannya, Kaguya menatap serius Naruto.


" Namikaze, istirahat makan siang nanti temui kami dibelakang Academy,"


Ucap Kaguya, Naruto menaikan satu alisnya sebelum ia kembali memasang wajah datar, " untuk apa aku kesana?, " tanya Naruto datar, Kyubi memainkan rok miliknya menandakan jika ia tengah gugup.


" et-etto..., nanti kami jelaskan disana, bisakah kau datang, Namikaze-kun?, ada hal penting yang ingin kami berdua sampaikan. "

__ADS_1


Ucap Kyubi sedikir memohon, Naruto terdiam sejenak sebelum ia mengangguk pelan. " baiklah, akan aku usahakan namun aku tidak janji jika aku akan datang tepat waktu. " ucap Naruto sebelum ia berbalik meninggalkan duo Onee-sama yang menatap punggung Naruto dengan wajah sulit diartikan...,


" Kyu, apa menurutmu dia akan datang?. "


Tanya Kaguya pelan, Kyubi menatap kearah Kaguya sejenak sebelum ia menundukan kepalanya sedikit, " entahlah, Kagu-chan, setelah apa yang dikatakan, Kaa-chan. Aku ragu ia akan datang. " ucap Kyubi pelan, Kaguya menundukan sedikit kepalanya dan memasang wajah bersalah ketika ia mengingat kejadian kemarin dimana mereka berdua mendapatkan pujian dari kepala sekolah dan tak lupa sebuah hadiah yang menurut mereka berdua sangatlah berguna sementara orang yang seharusnya mendapatkan pujian malah mendapat perkataan tidak mengenakan dan jujur saja, menyakitkan untuk didengar.


Kaguya dan Kyubi menghela nafas sejenak sebelum keduanya melangkah menuju kekelas mereka karena Lonceng pertanda masuk telah berbunyi...,


- Naruto Side -


Sementara itu Naruto terlihat berjalan datar dilorong, Naruto tidak berjalan menuju kelasnya melainkan ia pergi menuju perpustakaan, ada seseorang yang ingin ia temui saat ini juga, setelah beberapa saat Akhirnya Naruto sampai didepan pintu Perpustakaan, ia membuka pintu itu dan masuk kedalam.


didalam Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap sekitar sebelum sebuah senyum tipis terpatri diwajah Naruto ketika melihat seorang perempuan bersurai pirang dikuncir rapi dengan kacamata baca tebal membingkai matanya yang tengah fokus pada buku yang ada ditangannya, terlihat perempuan itu membaca dengan serius hingga tidak menyadari hawa kehadiran Naruto, Naruto menyeringai jahil dan mendekati perempuan itu dengan langkah pelan...,


Sementara itu Shaga terlihat tengah sibuk dengan buku ditangannya namun sebenarnya tidak!, pikirannya melayang kemana-mana, saat ini ia tengah memikirkan pemuda pirang yang sudah seminggu ini melakukan latihan diluar bersama Senju Kyubi, namun kemarin Shaga bertemu dengan Kyubi, jika Kyubi telah kembali itu artinya pemuda itu seharusnya sudah kembali..., namun ketika Shaga bertanya dimana orang tengah diawasi Kyubi selama seminggu ini, Kyubi tidak menjawabnya, ia hanya memasang wajah sedih dan melangkah pergi meninggalkan Shaga ketika ia menanyakan dimana pemuda itu.


Semenjak saat itu, Shaga menjadi tidak tenang, bahkan dia tidak bisa tidur semalamam karena memikirkan Pemuda itu, ' Kyu, kenapa ia memasang ekspresi sedih seperti itu, apa sesuatu telah terjadi pada Namikaze Naruto?, hingga ia memasang ekspresi seperti itu?, ' batin Shaga risau..., Shaga menghela nafas dan menutup bukunya, dan meletakannya disampingnya, ia sedang tidak mood membaca buku hari ini, ia memutuskan untuk pergi keruang rahasia yang biasa digunakan dirinya dan ketiga sahabatnya untuk bersantai..., Shaga menghela nafas lagi sebelum ia mengalihkan pandangannya kedepan dan seketika ia langsung membeku ketika tepat dihadapannya Naruto menatapnya dengan cengiran lebar diwajahnya.


" Yo, Shaga-chan. "


Sapa Naruto, Shaga terdiam ketika melihat wajah Naruto sangat!, dekat dengan wajahnya, bahkan Shaga bisa merasakan hembusan nafas Naruto..., perlahan rona merah memenuhi wajah Shaga, tubuhnya bergetar, tangannya mengepal erat dan...,


" Kyaaa~ "


Duakh!


" brruu~!, Strike!. "


Shaga tanpa ampun memberikan Punch kewajah Naruto hingga membuat Naruto tepar dilantai dengan bekas bogeman maut Shaga diwajahnya...,


Shaga yang mendengar suara Naruto segera tersadar dari dunianya dan dengan cepat menatap Naruto yang tergeletak dilantai dalam keadaan pingsan...,


" Na-Naruto-kun!?, "


.


.


.


" itei!, Shaga lembutlah sedikit!. "


" aku sudah mencoba selembut mungkin, Naruto-kun. Tahanlah. "


" iya aku tahu tapi, itei!, Shaga pelan-pelan, perih. "


" Mou, Naruto-kun..., jangan manja, tahan sedikit lagi, sebentar lagi ini selesai. "


Shaga berucap dengan nada sedikir jengkel, namun tangannya dengan telaten membersihkan luka Naruto akibar bogem mentah miliknya, Naruto meringis sakit ketika kapas berisi cairan pembersih luka itu menyentuh pelipisnya yang terluka.


Setelah beberapa saat Shaga akhirnya selesai setelah ia menempelkan sebuah plester luka dipelipis Naruto, " Yosh, Selesai juga. " ucap puas Shaga dan membereskan peralatan P3K, Naruto menyentuh pelan plester luka dipelipisnya..., menghela nafas sebelum menatap kearah Shaga.


" aku tidak menyangka, setelah seminggu tidak bertemu, bukan sebuah pelukan hangat yang aku terima, melainkan sebuah bogem mentah yang aku dapatkan?, owh kami-sama, malang sekali nasibku ini. "


Ucap Naruto dengan nada mendramatisir, Shaga yang mendengarnya memerah, ia malu karena refleks ia memberikab bogem mentah kewajah Naruto, tapi ini juga bukan sepenuhnya salah dirinya, jika Naruto tidak mengejutkannya tadi maka inside ini gak mungkin terjadi...,


" ba-baka!, salah siapa coba menganggetkan orang yang sedang melamun?, "


Balas Shaga dengan bibir mengerucut, Naruto terdiam dan nenatap Shaga sebelum ia mengeluarkan cengiran tak berdosa, ia mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


" y-ya, aku tidak bisa berdebat dengan itu. "


Ucap Naruto dengan tawa garing, Shaga menatap Naruto sejenak sebelum ia menghela nafas, " ya sudah, lupakan itu, jadi?, ada apa kau kesini, Naruto-kun?. " tanya Shaga, Naruto terdiam sejenak sebelum ia menepuk dahinya pelan.


" ah, bagaimana bisa aku melupakannya, "


Ucap Naruto, ia mengambil tasnya dan mencari sesuatu disana, setelah menemukannya Naruto menyerahkannya pada Shaga, " aku kesini ingin mengembalikan buku-buku ini, aku sudah selesai membacanya. " ucap Naruto, Shaga terdiam sejenak sebelum ia mengangguk dan mengambil buku berjumlah empat itu dan meletakan stempel diatasnya dan menaruh buku itu dirak yang ada disampingnya.


" terimakasih, sudah mengembalikan buku ini, Naruto-kun. "


Ucap Shaga, Naruto mengangguk sebelum ia menoleh kearah buku tebal disamping Shaga, terlihat halaman dibuku itu telah berganti dari terakhir kali ia ingat...,


" sepertinya kau sudah menerjemahkan buku ini sampai memasuki Formula Magic yang baru ya?. "


Tanya Naruto dengan senyuman tipis diwajahnya, Shaga menatap Naruto sejenak sebelum ia tersenyum dan mengalihkan pandangannya menatap, ia menyentuh lembut buku itu, tekstur kasar menyentuh kulit Shaga.


" ya begitulah, aku sudah menerjemahkan 4 Formula Magic, dan sekarang aku sedang menerjamahkan Formula Magic yang kelima, ini sebuah berkatmu, Naruto-kun. "


Ucap Shaga sambil menatap Naruto dengan senyuman manis, melihat senyuman Shaga yang menurut Naruto sangat indah, perlahan rona merah tipis menghiasi pipi Naruto...,


" a-ah?, be-begitukah?, ak-aku senang bisa membantumu, Shaga. "


Ucap Naruto dengan gugup, Shaga tersenyum menatap Naruto yang terlihat salah tingkah itu, Naruto yang ditatap dengan senyuman indah seperti itu menjadi risih, ia mengalihkan pandangannya kesamping dan mengaruk pipinya yang tak gatal.


" y-ya sudah, aku ada urusan jadi aku pergi dulu, Shaga. Sa-sampai nanti. "


Ucap Naruto seraya membalikan badan dan melangkah menjauh meninggalkan Shaga yang menatap kepergian Naruto dengan senyuman diwajahnya sebelum ia tertawa tipis ketika melihat tingkah Naruto yang menurutnya Lucu sebelum tawa itu reda dan digantikan oleh senyuman tipis, dan sebuah Gumaman lembutpun terdengar...,


" sampai ketemu lagi, Naruto-kun. "


- Change Scene -


Sementara itu dengan Naruto, sih pemuda pirang itu sedang terdiam selagi kakinya melangkah menuju bangunan Divisi pembuatan senjata, hari ini Katananya seharusnya sudah selesai jika apa yang dikatakan Tenma-Ossan itu benar.


Setelah beberapa saat Naruto berjalan, ia akhirnya sampai ditempat Divisi pembuatan senjata, Naruto menatap sejenak bangunan didepannya, ini hanya perasaannya saja atau bangunan ini menjadi terlihat lebih layak huni dibandingkan seminggu yang lalu?. Naruto mengangkat bahu tak peduli dan berjalan masuk kedalam.


sesampainya didalam Naruto terpaku ketika ia melihat tempat yang sebelumnya tidak layak huni kini menjadi sebuah tempat dengan gaya hotel bintang 5!?, funiture baru?, dinding terpasang bingkai berwarna merah dengan berhiaskan senjata-senjata yang terlihat menyilaukan mata, tak lupa ia melihat para penempa terlihat seperti hidup dari terakhir kali ia ingat..., dibandingkan seminggu yang lalu tempat ini terlihat sangat hidup!?...,


" ah, apa itu, Bocah kesayanganku?. "


Naruto mengalihkan pandangannya kesamping dimana ia melihat Tenma, ketua divisi pembuat senjata berjalan kearahnya, ia mengerutkan dahinya ketika ia melihat pakaian yang dipakai oleh Tenma, tidak ada lagi pakaian lusuh dan deki miliknya, kini yang ia kenakan mirip sekali dengan pakaian seorang bangsawan...,


" Yo!, bagaimana kabarmu, Nak!. "


Sapa Tenma dengan tepukan dibahu membuat Naruto sedikit meringis merasakan tepukan kuat milik Tenma, Naruto mengelus bahunya yang nyeri sebelum ia mengalihkan pandangannya pada Tenma.


" ne, Tenma-san, sepertinya tempat ini banyak berubah dari terakhir kali aku ingat. "


Ucap Naruto, dibalas tawa nyari dari Tenma, " tentu saja, Nak. Ini semua berkat 'Katana' yang kau berikan pada kami, sesuai perkataanmu, kami memproduksi 'Katana' dalam jumlah massal dan kau tahu?, para bangsawan bahkan kerajaan menyukainya, mereka memborong semua 'Katana' yang kami miliki dan sekarang kami semua tengah sibuk membuat pesanan dari beberapa bangsawan..., dan hasil dari penjualan itu kami gunakan untuk memperbaiki Bangunan ini dan melengkapi Fasilitasnya hingga sekarang tempat ini jadi terlihat lebih hidup daripada yang dulu. " ucap Tenma, Naruto yang mendengarnya tersenyum tipis.


" begitu ya?, aku turut senang karena kalian sekarang mendapatkan tempat yang lebih layak, dengan begini kalian mungkin akan bisa merawat 'mereka' dengan gembira "


Ucap Naruto, Tenma terdiam sebelum ia tersenyum mendengar perkataan Naruto. " kau unik, Nak. Kau menganggap senjata bukan sebagai alat untuk membunuh, tapi sebagai seorang teman, mungkin karena itulah [Black Steel] jinak kepadamu. " ucap Tenma membuat Naruto mengerutkan dahinya, jinak?, memang ada apa dengan [Black Steel]?. Melihat wajah bingung Naruto Tenma segera menepuk bahu Naruto lagi.


" sudahlah, jangan dipikirkan, kau kesini ingin mengambil pesananmu kan?. Ikuti aku nak. "


Ucap Tenma, Naruto mengangguk pelan sebelum ia mengikuti Tenma, beberapa saat mereka berjalan sebelum akhirnya mereka berdua berhenti tepat didepan sebuah pajangan mewah dimana dibawahnya terdapat tulisan [Not for sale], dipajangan itu terdapat sebuah Katana hitam yang terpajang dengan sangat rapi, Tenma mengambil Katana itu dan menyerahkannya pada Naruto.


" meskipun aku dan beberapa temanku kesulitan untuk menajamkan 'Katana' itu tapi akhirnya kami berhasil mempertajamnya..., aku sudah lama menempa dan mempertajam banyak senjata tapi aku berani berkata jika ini adalah Senjata terbaik yang pernah aku lihat, "


Ucap Tenma, Naruto menatap Katana dengan sarung berwarna hitam ditangannya, ia menarik Katana itu dan melihat bilah tajamnya, Naruto menatap intens bilah tajamnya, sebelum sebuah senyuman puas terpatri diwajah.


" benar, ini sangat bagus..., Arigatou, Tenma-san. Kau sangat membantuku..., sekali lagi terimakasih. "


Ucap Naruto sambil sedikit menundukan kepalanya, Tenma teryawa sejenak sebelum ia menatap Naruto dengan lembut. " tidak, nak. Seharusnya aku, tidak, seharusnya kami yang berterimakasih padamu karena telah membantu Divisi pembuatan senjata kembali berjaya..., dan sebagai rasa terimakasih kami, ini ambilah..., " ucap Tenma seraya melempar sebuah Katana kearah Naruto, Naruto yang melihatnya langsung Refleks menangkapnya.


Naruto menatap kearah Katana ditangannya, Katana ini terasa ringan namun ia tahu jika Katana ini memiliki ketahanan dan kekerasan yang baik...,


" itulah adalah Katana yang terbuat dari Orichalcum Ore, logam yang ringan dan juga kuat, aku sendiri yang membuatnya, jadi masalah kualitas, kau tidak usah ragu lagi. "


Ucap Tenma, Naruto menarik Katana itu dan melihatnya sebelum ia tersenyum tipis dan menatap kearah Tenma sebelum ia menundukan sedikit kepalanya, " terimakasih, Tenma-san. Aku menyukai Katana ini. " ucap Naruto, Tenma terdiam sebelum ia tertawa dan menepuk bahu Naruto membuat Naruto sedikit meringis.


" hahaha, tidak apa, Nak. Aku senang jika kau menyukainya. "


.


.


.


" sekali lagi terimakasih, Tenma-san, karena telah membuatkan pesananku, dan memberiku hadiah yang sangat bagus, jika aku bisa membayar maka pasti akan aku bayar dengan harga tinggi tapi, aku tahu kau pasti akan menolaknya. "


Ucap Naruto, Tenma berkancang pinggang sebelum ia menepuk dadanya pelan. " tentu saja aku akan menolaknya, orang tua ini telah banyak dibantu olehmu, Nak. Ah, dan ini, didalam cincin itu terdapat 30% hasil dari penjualan 'Katana', terimalah. " ucap Tenma seraya memberikan sebuah cincin ruang pada Naruto, Naruto menatap kearah Tenma dengan senyuman tipis, " begitu ya?, terimakasih Tenma-san, kau orang yang menepati janjimu, suatu saat jika aku menciptakan benda lain lagi, kau adalah orang pertama yang akan aku beritahu. " ucap Naruto, Tenma tertawa.


" aku menantikan benda lain buatanmu, Nak. "


" ngomong-ngomong, berapa coin emas yang ada didalam cincin ini?. "


" uhm?, jika aku tidak salah ingat seharusnya disitu ada 3k lebih coin emas. "


" heh~, 3k ya?..., "

__ADS_1


Ucap Naruto dengan senyuman tipis sebelum ia senyuman itu luntur ketika ia menyadari sesuatu, irisnya membulat sempurna!.


" apa!?, 3k!?, Lebih!?.., "


__ADS_2