The Worst One

The Worst One
Chapter 39


__ADS_3

Ditengah gelapnya malam, setitik cahaya bersinar dalam gelap, setitik cahaya itu berwujud seorang perempuan bersurai pirang panjang dengan mata heterochromia, emas disebelah kanan dan violet disebelah kiri yang menatap lembut seseorang yang mengenakan Full Armor berwarna hitam dengan beberapa Crystal putih yang mengeluarkan sinar redup. Perempuan itu diselimuti aura petir yang memercik dengan ganas, aura dan tekanan kekuatan besar menyeruak dari perempuan itu.


'Shaga, wujud ini tidak akan bertahan lama, jangan buang-buang waktumu dan kalahkan Namikaze Naruto.'


"Aku mengerti, terimakasih atas penjelasannya, Jeanne-san."


Shaga, nama perempuan itu menatap kearah orang berarmor hitam itu yang bernama Namikaze Naruto. Shaga merendahkan tubuhnya dan dalam sekejap itu menghilang dari tempatnya dan muncul didepan Naruto, melihat musuh sudah ada didepannya, Naruto melepaskan serangan dan disaat yang bersamaan Shaga juga berniat melakukan tebasan.


Trank!


Gauntlet hitam dan sepasang Katana berbenturan satu sama lain, menyebabkan gelombang kejut diantara Naruto dan Shaga, keduanya saling mendorong satu sama lain sebelum dengan cepat Shaga mementalkan tangan Naruto dan memberikan tebasan kuat secara horizontal. Namun Naruto berhasil menahan tebasan itu.


Trank!


Benturan dua kekuatan menciptakan gelombang kejut, keduanya menatap satu sama lain sebelum menghilang dari pandangan mata, kecepatan yang keduanya hasilkan hanya membuat bayangan mereka saja yang tertangkap mata.


Trank!


Trank!


Trank!


Suara benturan terus terdengar dihalaman itu, Minato dan Kushina yang menyaksikan dari pinggir lapangan hanya bisa terdiam, baik Minato dan Kushina tidak dapat mengatakan apapun pada apa yang mereka lihat, kecepatan Shaga dan Naruto saat ini begitu luar biasa hingga kedua legenda kerajaan [Alvarez] itu tidak sanggup berkata apapun dan hanya dapat diam disana.


Trank!


Shaga dan Naruto kembali berbenturan, terlihat keduanya telah menerima serangan dari satu sama lain, Armor Naruto terlihat retak dan goresan dibeberapa bagian sementara Shaga, ia menderita luka lebam dibeberapa bagian tubuhnya, darah mengalir dari sudut bibirnya.


Gauntlet Naruto dan Katana Shaga saling bergesekan satu sama lain, Naruto yang melihat serangan berhasil ditahan mengeram marah dengan suara yang menakutkan sebelum ia dengan cepat mengangkat tangan kirinya yang tersisa dan perlahan aura putih-hitam berkumpul membentuk bulatan kecil yang berputar dengan kecepatan tinggi, Minato yang melihat hal itu melebarkan matanya.


"Itu... Rasengan!?."


[Rasengan]


Sebuah Magic yang diciptakan oleh Minato, Magic ini tidak memerlukan lingkaran Magic atau Mantra, bisa dibilang ini adalah salah satu dari sedikit Magic yang tidak menggunakan Mantra dan lingkaran sihir dan termasuk kedalam Magic Class [Tier]. Daya hancur dari Rasengan sangat tergantung dari [Mana] seseorang semakin kuat [Mana] seseorang maka daya hancur yang dihasilkan akan semakin besar.


Naruto mengarahkan Rasengan pada Shaga yang melebarkan matanya, dari jarak sedekat ini sudah dipastikan menghindar adalah hal yang Mustahil! Minato, Kushina dan para Pleiades yang melihatnya membulatkan mata mereka sebelum dengan putus asa mereka mencoba menyelamatkan Shaga.


Naruto yang merasakan gangguan, menyampingkan tangan kesamping dan seketika sesuatu seperti kaca mengurung diri-nya dan Shaga dalam radius luas, memanfaatkan kelengahan Naruto, Nobu mengaktifkan magicnya.


'Tidak akan kubiarkan!.'


[Nullify]


Sebuah suara bergema dihalaman itu dan dengan ajaib Rasengan ditangan Naruto lenyap tanpa bekas, memanfaatkan Naruto yang nampak bingung dengan apa yang terjadi, Shaga dengan cepat mendorong Naruto dan memutar tubuhnya memberikan tendangan pada Armor Naruto, pada momen itu sebuah suara bergema dihalaman itu.


[Supremacy]


Duk!


Wussssh!


Blaaaaaaaaaaaar!


Sebuah suara dentuman besar bergema dihalaman itu, Naruto baru saja terpental dengan kecepatan tinggi dan membentur gundukan tanah dengan keras, Shaga menatap hal yang baru saja terjadi dengan pandangan berkedip, ia hanya melakukan tendangan ringan yang mungkin hanya akan membuat penyokan diarmor itu tapi yang terjadi justru Naruto terpental dengan cepat, ditengah kebingungannya sebuah suara bergema dikepala Shaga.


'Tidak perlu bingung, itu adalah kemampuan kami.'


"Nobu-san? Itu tadi..."


'Kita tidak memiliki waktu untuk membahas itu karena, Naruto telah bangkit kembali.'


Shaga yang tengah berbicara dengan salah seorang -yang menurutnya- kenalan Eneas, mengalihkan pandangannya kedepan dan ia melihat Naruto bangkit dengan susah payah, sepertinya tendangan berkuatan super tadi berdampak cukup fatal pada Naruto, itu terbukti dari Armor hitam diperutnya yang hancur.


Shaga dalam mode [Magia Erebea: Raiten Taiso] menyiapkan posisi bertarung ketika Naruto bangkit dengan nafas berat, Shaga menyipitkan matanya ketika samar-samar melihat aura putih-hitam muncul disekitar Naruto dan dengan ajaib Armor Naruto yang sebelumnya mengalami kerusakan mulai kembali seperti sedia kala. Shaga melebarkan matanya dalam terkejutan.


'Cih, dia memperbaiki Armor-nya.'


Shaga mengerutkan dahinya mendengar suara dari Nobu, ia memang pernah mendengar sihir yang biasa digunakan untuk memperbaiki benda, tapi itu memerlukan waktu yang cukup lama, tapi yang Naruto lakukan itu berada ditingkatan yang berbeda, sampai itu bisa dikatakan sebagai 'instan'!.


Shaga langsung waspada ketika Naruto kembali mencopot berlian diarmornya dengan brutal sebelum berlian itu bersinar dengan terang dan dalam sekejap sebuah halbard besar berada digenggaman Naruto.


Dengan suara geraman yang menakutkan Naruto melesat dengan kecepatan tinggi, Shaga yang melihat hal itu mengeratkan genggamannya pada dua katananya dan melesat.


Trank!


Naruto menusuk halbard kedepan namun Shaga berhasil menepisnya dengan menyilangkan kedua katana-nya namun sesuatu yang luar biasa membuat Shaga melebarkan matanya, Naruto dengan kecepatan tinggi memutar pegangan Halbard dan dengan brutal menusukan Halbard dengan kecepatan tinggi.


Trank!


Trank!


Trank!


Shaga mengeraskan wajahnya menahan serangan bertubi-tubi dari Naruto, ia memang berhasil menepis semua serangan halbard Naruto berkat mata mistic pemberian Ophis, namun tetap saja ia merasakan stamina-nya perlahan dikuras karena menahan tekanan dari serangan beruntun Naruto..


'Kuh! Jika bukan karena mata ini, tubuhku sudah pasti dipenuhi lubang!.'


Shaga menuangkan semua yang ia punya dan menahan serangan Naruto, sampai ia dibuat terkejut ketika Naruto yang tadinya berniat menusuk-nya berubah arah dan menyerangnya dari samping kanan... Ophis, dan Jeanne yang melihat gerakan itu melebarkan matanya... Gerakan itu! Tidak salah lagi!.


[Namikaze Style: Turning Swallow Strike]


Tiga tebasan datang dengan beruntun, itu adalah signature move dari seorang Namikaze Naruto. Shaga melebarkan matanya ketika melihat tiga tebasan didepannya, hanya dalam satu kali gerakan Naruto bisa melepaskan tiga serangan berkecepatan tinggi! Ada apa dengan kemampuan tidak wajar ini!.


Shaga yang terkejut dengan serangan Naruto yang menurutnya tidak bisa dihindari tiba-tiba menundukan tubuhnya dan dengan gerakan yang tidak bisa diikuti mata Shaga langsung menebas Naruto.


Slash!


Goresan silang panjang tertoreh pada dada Naruto, Shaga yang berhasil selamat dari serangan khas Naruto terdiam dan menatap kearah dua katana ditangannya yang bersinar redup, sebelum ia tersenyum tipis menyadari apa yang baru saja terjadi.


"Terimakasih, Nobu-san, Mayuri-san jika tanpa kalian mungkin aku sudah..."


'Rasa terimakasihnya nanti saja, serangan itu tidak akan mampu mengalahkan Naruto-kun.'


'Benar, masih terlalu awal untuk berterimakasih, Shaga-san.'


Shaga tersenyum mendengar balasan yang sedikit kasar dari Nobu dan lembut dari Mayuri sebelum ia berbalik dan menatap tajam Naruto. Memang benar jika pertarungan masih berlanjut dan tidak akan selesai sebelum ia berhasil menumbangkan Naruto.


Naruto berbalik dengan pelan dan menatap Shaga dari garis merah pada helm yang berkilat dengan menakutkan, Naruto mengeram marah sebelum dengan cepat ia melempar Halbard ditangannya.


Shaga yang melihat datangnya serangan langsung menyiapkan kedua katana-nya untuk menebas Halbard itu namun sekelebat bayangan muncul dibelakang Shaga yang telah menghancurkan Halbard didepannya dengan dua katana yang bersinar redup.


'Dia datang dengan Halbard!? Kecepatan macam apa itu!?.'


Shaga yang terkejut dengan Naruto yang ada dibelakangnya harus merasakan sebuah rasa sakit yang menyerang punggungnya, Naruto melayangkan sebuah tendangan bertenaga penghancur yang langsung mengirim Shaga terbang dan menghantam beberapa pohon sebelum berhenti ketika menabrak gundukan tanah!.


Blaaaaar!


Dentuman besar bergema dihalaman itu, Naruto melunakan sikapnya dan menatap kepulan debu dari balik garis merah pada helmnya, debu perlahan menghilang dan terlihat Shaga yang tergeletak dengan tubuh tertutupi debu, mode [Raiten Taiso] miliknya telah lenyap, Shaga mencoba bangkit dengan wajah meringis, Shaga mengalihkan wajah-nya kesamping dan seketika pipi porselen itu bergelembung dan tak lama cairan kental berwarna merah membasahi tanah.


Serangan yang Naruto berikan nampaknya melukai organ dalamnya cukup serius, Shaga bernafas dengan berat, serangan itu benar-benar telah melukainya...


Shaga mengalihkan pandangannya dan menatap Naruto yang ada didepannya, serangan Naruto sangatlah berbahaya, tidak hanya mampu menembus pertahanan Aura petir dari [Magia Erebea: Raiten Taiso] dan melukai dirinya, kekuatan, kecepatan dan pertahanan Armor miliknya yang mampu memperbaiki sendiri juga merepotkan!.


'Itu belum seberapa, Shaga. Selama ia berada dalam keadaan-nya yang sekarang, Naruto... setiap detik waktu berlalu setiap itu juga kekuatannya akan berlipat ganda...'


Shaga melebarkan matanya mendengar suara Nobu dikepalanya, setiap detik waktu berlalu setiap itu juga kekuatannya akan bertambah... Bukankah itu hal yang Mustahil...


'Sayangnya, itu tidak mustahil, Shaga-san. Faktanya memang seperti itu, apa kau tidak sadar, diawal kita mampu melawannya namun sekarang ia bahkan bisa memukul balik kita...'


Mayuri berkata dengan lembut, membuat Shaga terdiam, jika dipikirkan lebih jauh apa yang dikatakan oleh Mayuri dan Nobu ada benarnya, diawal memang ia sanggup melawan Naruto karena support yang diberikan para kenalan Eneas namun setelah beberapa menit berlalu, Naruto mampu mengeimbanginya bahkan mampu membalikan keadaan...


'[Release Soul: Primal Abyss]... Kekuatan penghancur yang mampu berkembang dengan menakutkan seiring berjalannya waktu...'


Ucap Nobu dengan suara pelan, Shaga kembali melebarkan matanya mendengar ucapan Nobu, Release Soul dia bilang... Bukankah itu adalah sebuah kemampuan yang biasanya didapatkan oleh orang yang berhasil melakukan pengabungan dengan Magical Beast!, dan baru saja Nobu berkata Naruto telah berada dalam mode [Release Soul]!?... Itu mustahil!, Naruto baru saja mencapai tingkat Silver jadi seharusnya ia belum memiliki Magical Beast type jinak yang akan diberikan oleh sekolah pada Murid yang berhasil mencapai tingkat Silver!...


"Na-Naruto-kun, bagaimana ia bisa *cough* melakukan Release Soul, dia belum memiliki Magical Beast..."


Shaga bergumam pelan, Nobu atau bernama Asli Azi Dahaka tersenyum miris, ia mengelus lengannya dengan pelan, ia sangat ingin berteriak pada Shaga jika Naruto, memiliki Magical Beast, terlebih Magical Beast adalah salah satu dari [Classer Ruler of World], tapi ia tidak bisa melakukannya karena bagaimanapun Naruto tidak ingin keberadaan para Diva miliknya diketahui oleh siapapun, bahkan orang tuanya sendiri.


Azi Dahaka mengalihkan pandangannya dan menatap layar didepannya dimana ia melihat Naruto yang memakai Full Armor hitam dengan aura putih-hitam tipis yang menyelimutinya, Azi Dahaka memejamkan matanya, ia tidak pernah menyangka jika kekuatan dari dirinya dan ketiga makhluk yang lain yang tertinggal didalam tubuh Naruto mengubah Naruto menjadi seorang monster...


'Tidak ada cara lain ya...'


Azi Dahaka menarik nafas pelan sebelum ia membulatkan tekadnya, hanya cara itu satu-satunya yang bisa menyelamatkan Naruto, namun resiko yang akan terjadi bisa... Tidak, ia tidak boleh ragu, ia harus memiliki keyakinan seperti Ophis, ia harus melakukan apapun demi [Mate] pilihannya... Ya harus!.

__ADS_1


Jika demi dia, aku akan melakukan apapun bahkan jika aku harus menghancurkan benua ini, akan aku lakukan jika itu demi, Master... Azi dahaka tersenyum mengingat perkataan Ophis, ya... Hanya demi dia aku rela mengorbankan apapun, demi [Mate]-ku, Namikaze Naruto...


Azi Dahaka sekali lagi menguatkan tekadnya, dan dengan cepat ia membuka matanya lalu memunculkan lingkaran Magic kecil berwarna hitam didepannya yang berputar dengan pelan.


'Ikarus... Dengarkan aku, kita akan menjalankan rencana [itu].'


'Azi Dahaka... Begitu ya... Aku rasa memang tidak ada pilihan lain... Memang hanya dengan cara itu, master kita bisa selamat.'


'... Jadi apa kau setuju?.'


Mayuri, atau Ikarus menatap lingkaran Magic hitam yang muncul didepannya selama beberapa saat, ia tampak merenungkan segala kemungkinan yang akan terjadi jika ia menjalankan rencana yang dibuat oleh Azi Dahaka sebelum Naruto mengalami [Berserk]... Memejamkan matanya sejenak, jika itu demi Naruto, Masternya... Maka tidak ada kata [Tidak] untuknya... Membulatkan tekadnya lalu menatap Lingkaran Magic didepannya.


'Aku ikut, tidak ada alasan untuk menolak jika itu demi, Master.'


'Fuu, aku sudah duga kau akan setuju... Kalau begitu, Mari kita lakukan bersama, Ikarus... Tidak, [Uranus Queen].'


'Heh~, sudah lama aku tidak mendengar kau memanggil gelarku itu, Azi Dahaka... Tidak, [The Diabolism Thousand Beast].'


Azi Dahaka tersenyum tipis mendengar ucapan dari Makhluk yang menjadi Rivalnya dulu, ia menghapus senyumannya dan dalam sekejap ia memunculkan beberapa lingkaran magic yang sama didepannya.


Shaga berdiri diatas kakinya yang gemetar, ia sudah benar-benar berada dalam keadaan yang membuat sulit untuk berdiri, iris hetechromia miliknya menatap Naruto yang berada didepannya.


Naruto menatap Shaga yang dalam keadaan kacau sebelum ia berjalan kedepan dengan langkah berat, perlahan Naruto menjulurkan tangannya kedepan dan seketika dari sekeliling Shaga muncul riak Shappire yang langsung mengeluarkan sebuah rantai emas kehitaman, Shaga yang melihat rantai yang melesat kearahnya berusaha menghindar namun percuma kekuatan serta stamina-nya sudah hampir terkuras bahkan Shaga tidak bisa mengaktifkan aura petir dari mode [Magia Erebea: Raiten Taiso]...


Rantai dengan cepat membelit Shaga dan mengangkatnya dari tanah dengan pose [T], Shaga sedikit meringis merasakan rasa sakit ketika rantai-rantai itu membelitnya dengan kuat.


Shaga menatap kedepan dimana ia melihat Naruto yang tengah berjalan kearahnya, iris Shaga menatap Naruto yang juga menatapnya dalam diam.


Keduanya menatap satu sama lain sebelum Naruto dengan pelan mengangkat tangannya keatas dadanya dan dengan cepat sebuah energi berkumpul dan berputar dengan kecepatan ganas... Itu...


"Rasengan... *cough*."


Shaga terbatuk darah selagi ia menatap Rasengan ditangan Naruto, dijarak sedekat ini dan dengan kondisi terikat sudah jelas jika Shaga tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah dalam nasibnya... Naruto memundurkan rasengan dan dengan gerakan cepat ia menghantamkan rasengan miliknya.


Minato dan Kushina serta Unit Pleiades melebarkan matanya, mereka dengan cepat berusaha menghancurkan kaca transparan didepan mereka untuk menyelamatkan Shaga namun kenyataan yang menyakitkan mengatakan jika mereka tidak akan sempat untuk menyelamatkan Shaga...


Shaga memejamkan matanya dengan pasrah... Mati ditangan orang dicintai?, Shaga tidak menyesali jika ia mati ditangan Naruto, ia tidak pernah menyesalinya tidak sedikitpun... Satu-satunya hal yang ia sesali hanya kenyaaan jika ia mati maka ia tidak akan pernah bisa bertemu dengan orang yang dicintainya... Hari-hari yang dijalani Shaga membuatnya dapat kembali merasakan apa yang selama ini hilang dalam kehidupannya, kebahagiaan... Ya itulah yang selama ini hilang dalam hidupnya, sebagai seorang Hime-sama dari kerajaan [Alvarez] Shaga harus bersikap layaknya seorang pemeran drama dalam acara bangsawan besar, dimana ia diatur, dikendalikan hanya untuk membuatnya layak disebut sebagai [Bangsawan]...


Menjadi seorang hime-sama, bukanlah sesuatu yang menyenangkan, karena ia harus terus menggunakan topeng palsu ala seorang bangsawan, ia muak dengan semua yang bangsawan lakukan, ia muak dengan semua penjilat yang memujinya dengan maksud tertentu didalamnya, ia muak dengan mereka yang bertindak seolah-olah mereka memiliki hak akan dirinya, ia muak dengan semua itu hingga ia menganggap jika semua orang itu sama...


Menjijikan...


Shaga hampir saja menjadi manusia tanpa perasaan, jika ia terus berada dalam lingkungan bangsawan, ia akan menjadi boneka politik jika salah satu bangsawan yang memiliki kekuatan yang besar dan pencapaian yang besar, jika bangsawan seperti itu muncul maka ia sudah pasti akan dijadikan hadiah untuk bangsawan itu untuk mengikat bangsawan hebat itu kedalam kerajaan...


Shaga ingin sekali berteriak dengan keadaannya, namun apa? Tidak ada yang mampu menyelamatkanya dari keadaan yang menurut sebagai-an besar orang, tidak semua orang sebagai sesuatu yang diimpikan, tapi percayalah itu tidak seindah kenyataan yang dihadapi...


Ingin sekali Shaga menangis melihat keadaannya yang menyedihkan, ia putus asa dalam hidup hingga ia memutuskan untuk bersembunyi disuatu tempat dan tempat itu adalah perpustakaan Hirozimon, disana ia mengurung diri, merenungkan semua hal yang ia lakukan selama ini, dan ketika ia mengingatnya ia merasakan perasaan mual yang menyerang perutnya... Namun ketika ia tengah merenungi keadaannya seseorang datang...


'Ano... Permisi... Bisa kah kau menunjukan letak buku-buku sejarah?.'


Pemuda itu bertanya padanya, ia melihat pemuda itu dengan ramah, namun dimatanya pemuda itu 'hanya' bersikap ramah karena dibalik sikap ramahnya itu pasti ada maksud tertentu... Ia menatap dingin orang itu dan membiarkannya pergi menuju tempat yang ia minta.


'terimakasih... Etto...'


'Ayame...Shaga...'


Shaga menahan dirinya yang ingin menyebutkan identitasnya sebagai hime-sama kerajaan [Alvarez]... Shaga tidak pernah menduga Pertemuannya dengan pemuda itu adalah sebuah benang takdir yang akan mengikatnya dalam sebuah pertunangan... Dan sekarang pemuda yang selalu menemani hari-harinya dengan sifat ceria, jahil, dan konyolnya akan mencabut nyawa...


'Naruto-kun... Selamat tinggal, Aku mencintaimu.'


Setitik air mata mengalir lewat sudut mata Shaga yang tertutup. Naruto menghantamkan rasengannya kearah perut Shaga... Minato, Kushina, Serta Unit Pleiades melebarkan mata mereka melihat hal itu...


"Tuan Putri!?..."


Blaaaar!


Ledakan hebat menelan Shaga, debu membumbung tinggi keudara, Minato dan Kushina serta Pleiades menghentikan usaha mereka dan menatap kepulan debu dengan wajah tak percaya, Minato jatuh berlutut dan memukul tanah dengan kuat sementara Kushina menutup mulutnya dengan Shock.


Putra mereka... Namikaze Naruto... Baru saja membunuh permata dari kerajaan Alvarez... Dengan kejadian ini, maka sudah jelas Naruto akan dieksekusi karena membunuh Ayame [Alvarez] Shaga...


Perlahan debu yang menutupi pandangan menghilang, Yuri Alpha menatap kedepan dan seketika ia terkejut dengan apa yang ada digaris pandangannya...


"Mi...Minato-sama."


Minato yang tengah dalam keadaan putus asa, menoleh kearah Yuri yang memanggilnya, ia menaikan satu alisnya melihat ekspresi terkejut Yuri sebelum ia mengikuti garis pandangan Yuri, dan ekspresi Minato langsung berubah...


Melihat serangan datang Naruto melompat kebelakang dan menghindari dua katana yang menyerangnya dengan cepat dan terarah.


Shaga yang tak merasakan sakit datang membuka matanya dan ia melohat dengan jelas jika Dua katana-nya, Nobu dan Mayuri tengah menyerang Naruto, ia yang tidak memahami apa yang terjadi tiba-tiba mendengar suara muncul dikepalanya.


'Shaga, saatnya kita memasuki akhir dari semua ini...'


Mengakhiri semua ini?, apa maksud dari Jeanne, apakah Jeanne tidak melihat jika ia sedang dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk bergerak, bagaimana bisa Jeanne meminta untuk bertarung?...


'Jika kau mengkhawatirkan kondisi tubuhmu maka... Aku akan menyembuhkannya...'


Shaga mengerutkan dahinya. Menyembuhkan kondisi tubuhnya yang sudah babak belur ini? Lupakan tentang lukannya yang ia permasalahkan disini adalah stamina-nya yang telah habis, sihir [Refresh] miliknya hanya bisa memulihkan kelelahan ringan tidak berat seperti ini, apa artinya lukanya sembuh jika ia tidak memiliki tenaga untuk bertarung...


[Ufufu~, kau tidak perlu khawatir tentang itu, Aku akan mengambil semua rasa lelahmu dengan [Connection] milik-ku, dan menyalurkan staminaku untukmu.]


Shaga terdiam jika begitu yang terjadi maka ia tidak akan mengeluh, dan akan bertarung kembali dengan semua kekuatannya...


"Baiklah, aku akan berjuang kembali dan kaki ini aku harus benar-benar mengakhiri pertarungan ini..."


'Kalau begitu... Kita lakukan bersama, Eneas...'


'[Ufufu~ rasanya sudah sangat lama sekali kita tidak bekerja sama, terakhir kali kita melakukan adalah saat kita melawan ******"]


Shaga meringis pelan ketika ia mendengar suara kaset rusak bergema dikepalanya, Jeanne yang melihat Shaga kesakitan mendelik kearah Eneas yang langsung memasang wajah tanpa dosa 'opss'. Jeanne memutar matanya melihat tingkah lama Eneas.


'Shaga dengar, aku akan menyembuhkanmu setelah ini aku ingin kau mengikuti semua intruksi dari, Ophis... Ia akan membimbingmu untuk menyelamatkan Namikaze Naruto.'


'... Aku akan membantumu, karena itu dengarkan arahanku dan jangan pernah membantah kau paham?.'


Shaga merenung sejenak sebelum ia mengangguk, jika ini demi menyelamatkan Naruto maka ia akan mengikutinya, Ophis mengangguk pelan melihat respon Shaga sebelum ia melirik kearah Eneas.


"Lakukan tugasmu, Eneas... Kemampuan unik milikmu akan benar-benar menjadi kunci kemenangan kita."


[Heh... Aku tahu itu, dan sekarang aku tengah melakukannya...]


Ophis menatap sekitar Eneas, ia menyipirkan matanya ketika ia melihat benang tipis bergerak halus disekitar Eneas, Jeanne yang melihatnya tersenyum tipis, ia jadi teringat kenangan masa lalu, masa lalu ketika ia dan 7 saudaranya bekerja sama dalam sebuah pertempuran... Menghapus senyumannya, Jeanne dengan pelan menyampingkan tangannya dan seketika sebuah lingkaran emas muncul dan mengeluarkan sebuah tombak dengan bendera yang berkibar indah... Menarik tombak itu sebelum menghentakannya ketanah dengan kuat. Eneas yang melihat Jeanne mengeluarkan harta mulia-nya menyeringai.


[Sudah lama aku tidak melihat kau mengaktifkan salah satu dari dua kemampuan Sakral milikmu itu, Joker.]


Jeanne yang mendengar perkataan Eneas menoleh kebelakang lewat bahunya,"Eneas, namaku bukan lagi, Joker. Namaku sekarang adalah Jeanne, nama itu diberikan oleh orang yang aku akui sebagai Masterku..."ucap Jeanne membuat Eneas membeku ditempat dan menatap Jeanne yang mulai berkonsentrasi mengaktifkan salah teknik Sakral miliknya.


[Begitu... Kau telah berubah, Joker... Apa orang itu yang melakukan ini padamu?...]


Eneas tersenyum, bukan senyuman menyeringai yang memamerkan gigi tajam miliknya, tapi sebuah senyuman yang bisa disebut sebagai senyuman tulus...


[Orang itu... Ia terlalu misterius...]


Eneas memejamkan matanya sebelum ia memasang tatapan serius, ia tengah bersemangat! Jadi dia tidak akan membiarkan rencana ini gagal!...


[Connection]


Jeanne tersenyum samar ketika ia merasakan tekanan energi dari Eneas, nampaknya Eneas tengah serius, jika begini maka ia juga harus serius. Aura emas perlahan menyeruak dari tubuh Jeanne, sinar keemas-an yang begitu lembut mengeliling Jeanne, sinar keemasaan itu semakin berlimpah dan perlahan suara gumaman terdengar diruangan itu...


[Luminosite Eternelle]


Deg!


Shaga tersentak ketika ia merasakan kekuatan miliknya mulai terisi kembali, ia menatap kesekujur tubuhnya dan ia dapat melihat aura emas yang menyelimutinya, Aura itu terasa begitu hangat dan menenangkan, lebih dari itu aura itu menyembuhkan semua rasa sakit ditubuhnya, Shaga kini telah kembali menjadi seperti semula.


"Tubuhku, kembali seperti sedia kala..."


'Bagus, sekarang giliranku, aku akan membebaskanmu...'


Ophis yang melihat tubuh Shaga telah pulih sedia kala, mengangkat tangannya dan seketika lingkaran Magic dengan simbol ular yang mengigit ekornya muncul dan mengambang ditangan Ophis.


Menatap lingkaran Magic ditangannya, dengan ajaib simbol Ular yang mengigit ekornya berputar dengan cepat dan menjadi aksara magic kuno, lingkaran sihir ditangan Ophis perlahan tapi pasti berputar dengan kecepatan penuh, simbol-simbol kuno yang sebelumnya ada berputar cepat sebelum bersinar terang dan akhir pecah menjadi partikel cahaya.


Klaaaaang!


Shaga terkejut ketika rantai yang membelit tubuhnya tiba-tiba saja hancur berkeping-keping, Shaga mendarat dengan mulus, ia nampaknya bingung dengan apa yang terjadi, namun suara bergema dikepalanya.

__ADS_1


'Aku telah melepaskanmu, sekarang ikuti intruksi dariku.'


Shaga terdiam, ini suara Ophis, jadi yang menghancurkan rantai yang membelit tubuhnya adalah Ophis? Bagaimana cara dia melakukan hal itu... Sihir apa yang ia gunakan?... Shaga mengeleng pelan, ini bukan saatnya memikirkan itu, ia harus memproitaskan tujuannya untuk menyelamatkan Naruto.


"Mohon bantuannya, Ophis-san."


'Baik, aku harap kau tidak akan memprotes apa yang aku katakan, lakukan dan aku menjamin keselamatan, Namikaze Naruto.'


Shaga terdiam, entah kenapa ia mendapatkan firasat buruk, Shaga mengeleng pelan untuk menepis firasatnya, ini bukan saatnya ragu ia harus bisa menyelamatkan Naruto apapun yang terjadi.


"Katakan apa yang harus aku lakukan, Ophis."


'Jawaban yang bagus, kalau begitu dengarkan ini...'


Sementara Shaga mendengarkan rencana Ophis, Minato menatap dari luar lapisan tranpasan yang mengurung Shaga dan Naruto dengan pandangan sedih. Ia yang seorang mantan Lord, penyihir paling jenius diseluruh kerajaan Alvarez hanya dapat terdiam dan menatap putra dan calon menantu-nya tanpa bisa berbuat apa-apa?... Sial! Minato memukul pelindung yang kuat yang diciptakan oleh Naruto dengan begitu mudahnya.


"Minato..."


Minato sedikit tersentak ketika ia mendengar suara yang begitu lembut dari sebelahnya, ia juga merasakan jika tangannya diremas pelan oleh Kushina yang menatap khawatir pada dirinya. Minato terdiam sebelum ia menghela nafas, ia ceroboh tidak seharusnya ia meluapkan amarahnya disaat seperti ini, mengambil nafas untuk menenangkan emosinya sebelum tersenyum miris.


"Maaf, aku lepas kendali."


"Aku mengerti apa yang kau rasakan, aku... Tidak kami semua merasakan apa yang kau rasakan."


Minato menatap kearah Kushina dan para Pleiades, dapat Minato lihat dengan jelas jika mereka semua juga merasakan apa yang disebut sebagai seseorang yang tidak berguna, mereka tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya menyaksikan tuan putri bertarung melawan calon tunangannya...


Minato mengalihkan pandangannya pada lapisan pelindung dimana ia melihat putranya tengah bertarung dengan dua katana milik Shaga, entah sihir apa yang dipakai oleh Shaga hingga bisa mengontrol kedua katana miliknya tanpa bergerak dari tempatnya, Minato yang tengah memperhatikan tidak menyadari sehelai benang yang begitu tipis berwarna biru muda melayang kearahnya.


"... Ophis... Apa memang harus cara itu?."


'Hn... Aku benci mengatakan tapi hanya inilah satu-satunya cara. Ada apa Shaga? Kau takut?.'


Shaga terdiam, memang benar apa yang dikatakan oleh Ophis akan benar-benar berhasil menyelamatkan Naruto tapi resiko dari rencana itu sangatlah berat... Tidak, ia tidak boleh ragu disaat seperti ini... Menarik nafas pelan, Shaga membenarkan letakan kacamatanya dan menatap kearah Naruto yang disibukan oleh dua katana itu.


"Kita lakukan."


Ucap Shaga dengan yakin, Ophis yang ada didalam Minscape yang sama dengan Jeanne, dan Eneas tanpa ada seorangpun yang tahu ia mengulas senyuman tipis., sangat tipis hingga orang lain tidak dapat membedakan ia tengah tersenyum atau tidak.


'Sepertinya, Master telah menemukan pilihan yang paling tepat.'


Shaga mengerutkan dahinya mendengar perkataan Samar dari Ophis sebelum ia mengabaikan hal itu dan memfokuskan dirinya, ia memejamkan matanya dan sekali lagi ia merapalkan [Mantra] yang diberikan oleh Jeanne.


[Magia Erebea: Raiten Taiso]


Dengan cepat aura petir berkobar menyelimuti Shaga, tekanan kekuatan yang dikeluarkan oleh Shaga sekarang setara dengan seorang Wizard tingkat [Black Gold: IX]. Shaga mengangkat tangannya kedepan dan bergumam pelan.


"Kemarilah, Eleanor... Byakumaru!."


Seolah menanggapi perintah dari Shaga, Katana hitam dan putih yang menyerang Naruto melayang dengan cepat kearahnya dengan anggun Shaga mengangkap kedua katana-nya dan memasang posisi bertarung...


"Mari kita mulai... Ronde terakhir kita, Naruto-kun..."


Iris dimata kanan Shaga berkilat dengan menakutkan, Shaga memaksimalkan semua kemampuannya karena bagaimanapun ini adalah Ronde terakhir, semuanya ditentukan disini...


Naruto yang melihat Shaga mengeluarkan tekanan kekuatan super terdiam, dari balik armornya ia dapat merasakan tekanan yang berbeda dari pada yang sebelumnya, Naruto menatap sejenak sebelum ia mencopot satu lagi berlian putih miliknya dan seketika cahaya putih bersinar disana dan tak lama sebuah pedang katana berwarna putih dengan garis yang menyerupai retakan berwarna hitam menjalar memenuhi katana itu... Shaga menajamkan matanya melihat hal itu.


"Ini nampaknya akan menjadi sulit, Naruto-kun akhirnya memutuskan memakai [Katana]..."


Gumam Shaga pelan, Shaga tidaklah bodoh untuk tidak menyadari jika Namikaze Naruto adalah seorang Knight yang menguasai pedang, terlebih katana, sudah tidak diragukan jika Naruto adalah pengguna Katana terbaik diseluruh benua Britania ini...


Naruto dan Shaga menatap satu sama lain sebelum keduanya melesat dengan kecepatan tinggi, Naruto dan Shaga bertukar serangan, kecepatan keduanya membuat mereka tidak terlihat, dentingan logam bergema disana.


Trank!


Shaga dan Naruto berbenturan satu sama lain, Shaga mengeraskan sedikit wajahnya ketika Naruto memberikan tekanan pada katana miliknya, Shaga mengerahkan setiap inchi kekuatan yang miliki dan mendorong Katana Naruto.


"Oryaaaaa!?..."


Shaga mementalkan Katana Naruto membuat Naruto kehilangan sedikit keseimbangannya, Shaga yang melihat hal itu entah kenapa ia tiba-tiba teringat dengan salah satu teknik milik Sahabat-nya... Shaga merendahkan tubuhnya sedikit sebelum ia menghunuskan kedua katana-nya kedepan.


Dengan cepat Shaga mengalirkan Energi miliknya hingga sebuah pedar energi memenuhi dan membungkus Kedua katana-nya, dengan satu kali hentakan tiba-tiba sebuah gelombang energi meledak dan menghantam Naruto dengan keras hingga membuat tubuh Naruto terhempas kebelakang. Melihat hal itu sebuah Suara berteriak dikepalanya...


'Shaga! Sekarang kesempatanmu! Lakukan!?...'


Shaga menatap kedepan dengan tajam sebelum ia merendahkan tubuhnya, kilatan dari mata [Belial Eye] tampak semakin intens, dan detik selanjutnya sebuah suara yang begitu pelan bergema ditempat itu...


[Magia Erebea: Raiten Taiso Overburst]


Blaaaaaar!?


Sebuah gelombang aura kekuatan besar bergema ditempat itu, Shaga kini terlihat berbeda, petir yang sebelumnya berwarna emas kini mulai berubah warna menjadi crimson...


'Waktumu hanya satu menit! Selesaikan semua dengan satu pukulan telak!."


"Aku mengerti!."


Shaga menguatkan lututnya dan melontarkan tubuhnya, dan dalam sekejap ia sudah ada disebelah Naruto yang masih melayang akibat ledakan [Shockwave] yang baru saja ia lakukan, melihat musuhnya muncul naruto mengeram marah, Shaga menatap datar hal itu sebelum ia dengan kecepatan super melakukan tendang kuat membuat Naruto terbang cepat dan membentur tembok Mansion Namikaze dengan keras!.


Blaaaar!


Shaga tidak membiarkan sampai disitu ia dengan cepat menghilang dari tempatnya dan dengan cepat muncul didepan Naruto yang baru saja ingin bergerak, Shaga menatap dingin Naruto sebelum ia dengan cepat menusukan katana hitam miliknya hingga menembus perut sampai punggung Naruto.


Jleeeb!


Shaga menatap Naruto yang masih bergerak meskipun ia sudah tertusuk oleh katana hitam miliknya, Naruto mengeram marah sebelum ia menjulurkan tangannya berusaha mencapai Shaga, ketika Gauntlet itu ingin menyentuh Shaga, tiba-tiba Shaga menghilang dari pandang dan seketika suara sesuatu daging tertusuk bergema disana...


Jleeeeb!


Naruto terhuyung kedepan dengan sebuah katana yang tertusuk dipunggung sampai tembus keperut, ia menatap kebelakang dimana ia melihat Shaga tengah berdiri dengan wajah tanpa ekspresi miliknya.


Shaga perlahan membentuk segel tangan, selagi ia membaca mantra yang tidak dapat dijelaskan apa artinya...


"Cum autem dominus..."


Perlahan dua katana milik Shaga yang tertancap dtubuh Naruto mengeluarkan pedar energi, energi itu perlahan semakin bersinar terang saat Shaga melanjutkan mantra kedua.


"fortitudinem quam ego nunc ostendo vobis..."


Dari Kedua Katana yang bercahaya itu keluar berbagai Rantai dengan berbagai macam warna layaknya pelangi, Rantai-Rantai itu dengan cepat membelit tubuh Naruto.


"GGRRRRROOOOOOAAAAAARRRR!?"


Suara kesakitan bergema ditempat itu, Shaga menatap Naruto yang jatuh diatas lututnya, Naruto nampaknya berusaha menghancurkan rantai yang mengunci dirinya namun percuma, Rantai-Rantai itu tidak hanya mengunci pergerakannya namun juga mengambil kekuatannya, itu terbukti dari Aura yang menyelimuti Full Armor hitam itu semakin menipis... Shaga menatap Naruto yang tersungkur didepannya, ia mendengar suara geraman rendah dari Naruto, Shaga memejamkan matanya sebelum ia mengakhiri Mantra-nya


"Signat se!?."


Setelah ayat mantra terakhir terlafalkan tiba-tiba muncul kembali Rantai namun kali ini Rantai itu berwarna Ungu gelap, rantai-rantai itu memiliki simbol-simbol kutukan yang akan mengutuk siapapun yang terjerat didalamnya...


Jleb!


Jleb!


Jleb!


Jleb!


Delapan belas tusukan diterima Naruto ketika Rantai-Rantai itu menikamnya dengan cepat...


"GRRRROOOOAAAAaaaaaaaaaaaaaaarrrrrrrr."


Shaga memejamkan matanya dengan kuat, ia tidak ingin mendengar suara kesakitan yang hanya dengan mendengarnya saja kau akan merinding hebat...


"..."


Seelah tidak mendengar suara yang menyakitkan dari Naruto, Shaga dengan pelan membuka matanya dan ia dapat melihat Naruto dalam keadaan full Armor terkelungkup diatas tanah dan tidak bergerak sedikit pun, rantai yang sebelumnya membelit tubuhnya lenyap tanpa sisa... Perlahan Full Armor Naruto bercahaya dan berubah menjadi partikel Cahaya, dan lenyap tanpa bekas...


Shaga menatap Naruto yang terbujur didepannya, apa ini sudah berakhir? Apa ini benar-benar telah usai?...


"Hime-sama!?..."


Shaga yang tengah menatap Naruto yang tergeletak didepannya menoleh kebelakang dan ia dapat melihat keluarga besar Namimaze berlari kearahnya... Shaga tersenyum melihat keliarga besar Namikaze...


"Sisanya... Aku serahkan padamu... Ayah mertua..."


Shaga bergumam pelan sebelum perlahan ia terhuyung kesamping, aura petir crimson Shaga lenyap diikuti dengan suara *bruk*! Yang cukup nyaring... Semua melebarkan mata mereka melihat Shaga tumbang disebelah Naruto...

__ADS_1


"Hime-sama!?..."


__ADS_2