
"Bukankah sudah ku bilang!, menjauhlah dari master!."
"Ara?, aku hanya ingin bisa mengenal, Naruto-kun lebih jauh lagi."
"Ta-Tapi itu bukan berarti kau bisa mengambil tempat-'ku'!. Dasar Kuso-Onna!."
"Ap-Apa!, coba katakan itu sekali lagi!."
Diruangan yang bisa disebut sebagai sebuah kamar yang agak mewah, terlihat Namikaze Naruto tengah duduk dengan wajah kikuk melihat dua perempuan yang bertengkar didepannya...
"Maa, Maa... Kalian berdua, bisakah tenang sedikit?."
"Memang kau pikir ini salah siapa!?."
Naruto langsung ciut ketika Jeanne dan Azi Dahaka berteriak serempak kearahnya dengan aura kemarahan yang besar dari kedua Makhluk overpowered itu!...
"Master, tenang saja jika mereka lelah, mereka akan berhenti."
Naruto mengalihkan pandangannya kebawah dimana terlihat Ophis tengah duduk diatas pahanya sambil memakan suatu yang sejenis dengan kue beras dengan tatapan kosong seperti biasa.
"Dan lagipula, ini semua salah, Master yang hobi mengkoleksi banyak perempuan."
Naruto tersenyum kikuk menanggapi perkataan Ophis, ingin sekali Naruto berkata 'aku juga tidak menginginkannya!', tapi ia tidak bisa berbuat banyak sebab semuanya telah terjadi, Ophis mengigit kue beras dengan kuat hingga menciptakan suara yang cukup menakutkan.
"Padahal sudah ada aku, Jeanne dan Maria-nee. Tapi itu juga masih kurang."
Ophis bergumam dengan pelan hingga membuat Naruto menatap kearah Ophis yang langsung bersikap seolah-olah tidak ada apa-apa.
"Ophis?, apa kau mengatakan sesuatu tadi?."
"Tidak, Master salah dengar."
Naruto menaikan satu alisnya atas jawaban cepat Ophis sebelum ia mengangkat bahunya tak peduli, Naruto yang tengah terdiam membuka mulutnya ketika seseorang menyodorkan kue beras kemulutnya.
"Bagaimana, Master?. Apa enak."
"Um, agak keras tapi lumayanlah."
"Ufufufu~."
Naruto terdiam ketika mendengar suara tawa yang begitu halus sebelum Naruto menoleh kesamping dengan cepat dan ia dapat melihat wajah cantik seorang perempuan yang tengah tersenyum dengan lembut kearahnya...
"I-I-Ikarus!."
"Master..."
Naruto langsung menegang ketika suara yang sangat menakutkan datang dari belakang, keringat dingin langsung membasahi punggung dan wajah Naruto, dengan gerakan pelan Naruto menoleh kesamping dan seketika rona sehat diwajah Naruto lenyap...
Dihadapan Naruto saat ini terlihat dua perempuan yang tengah mengeluarkan aura kematian disekitarnya, Naruto menelan ludah paksa ketika ia ditatap oleh dua pasang mata yang berkilat dengan tajam.
"B-Bisa kita bicarakan secara baik-baik?..."
""...Mati...""
'Malangnya nasibku!?.'
Ghaaaaaa!?
... Ya, pagi yang cukup indah bagi seorang Namikaze Naruto, Maria yang sedaritadi menjadi penonton tertawa kecil sebelum berubah bentuk menjadi sepasang belati.
.
.
.
Naruto menghela nafas panjang, pagi hari inipun sama seperti pagi-pagi sebelumnya dimana akan selalu ada dari para [Diva] sebutan khusus Naruto untuk para gadis dikamarnya yang terdiri dari Buku ketidakterbatasan Solomon, Ophis. Seorang Rune Breaker dengan julukan, [Lady of the Mist], Maria Rossfield. Magical Beast misterius yang bercita-cita menjadi seorang dewa, The Joker, Jeanne. Dua Makhluk yang pernah membuat bencana besar dibenua Britania hingga memaksa Lesser key of Solomon bangkit dan membantai kedua Makhluk itu, Azi Dahaka dan Uranus Queen, Ikarus...
Entah apa yang dipikirkan para gadis itu tapi yang jelas akan ada yang bertengkar tentang siapa yang akan mendapatkan tempat duduk didekat Naruto, Ophis tidak pernah ikut bertengkar karena singgahsana miliknya adalah dua paha empuk Naruto, sisi kiri hari ini sudah diambil oleh Ikarus, dan terjadilah perebutan tempat antara Jeanne dan Azi Dahaka untuk mengambil sisi kanannya.
Keduanya melakukan cekcok mulut yang cukup sengit sebelum berakhir dengan diperlakukannya Naruto dengan lembut(dibantai) oleh kedua Mahluk luar biasa itu. Naruto menghela nafas.
"Sudah kuduga, hidup dikelilingi para gadis itu merepotkan..."
Ya... Naruto tidak pernah habis pikir tentang para tokoh novel yang pernah ia baca, banyak sekali novel khususnya dengan Tema Fantasy seperti Isekai, akan selalu, dan selalu sang tokoh utama dikelilingi oleh para gadis highclass yang menjadi kandidat haremnya, dan pasti disalah satu gadis itu ada yang memiliki status yang luar biasa atau kekuatan yang sangat luar biasa, dan terkadang seorang maid atau budak yang awalnya tidak bisa melakukan apapun namun setelah bertemu sang tokoh utama tokoh Maid atau budak itu akan menjadi kuat bersama sang MC.
Naruto tersenyum miris, hidupnya entah kenapa berubah menjadi seperti sang tokoh utama dalam Novel-Novel Fantasy yang selalu terlibat dengan para gadis highclass... Jujur saja Naruto agak risih dengan situasi dimana dirinya dikelilingi oleh banyak gadis terlebih ketika para gadis itu bertengkar karena sesuatu yang sepele...
"Naruto-sama!."
Naruto yang tengah berjalan sendirian dilorong terhenti ketika ia melihat seorang gadis cantik dengan seragam Maid bersurai hitam diikat pony tail, dengan iris hitam indah tengah berjalan cepat kearahnya... Naruto menatap bingung Maid itu yang menangkap tangannya dengan nafas terengah-engah.
"Etto... Narberal Gamma-san?, ada apa, kenapa kau terlihat sangat tergesa-gesa seperti itu."
"A-Ada yang datang berkunjung..."
"Uhm, siapa?."
"Hosh... Hosh... Tuan putri!, datang berkunjung!."
"... Apa!?."
.
.
.
"Maaf jika kedatangan saya yang tiba-tiba membuat repot, ayah dan ibu mertua."
"Ti-Tidak apa, Shaga-hime..."
Naruto menatap kearah Shaga yang berpakaian selayaknya seorang tuan putri dari suatu kerajaan, pesona yang dipancarkan oleh Shaga saat ini sangat berbeda dengan Shaga yang berada diperpustakaan. Naruto menoleh kearah ayah dan ibunya yang tengah gugup karena kehadiran sang Ojou-sama dari kerajaan Alvarez itu, Naruto kembali menatap Shaga yang tersenyum kearah ayah dan ibunya.
'Sungguh kharisma seorang Hime-sama, ayah dan ibuku sampai gugup seperti itu.'
Naruto bergumam dalam batinnya selagi ia memasang senyuman tipis yang membuat Shaga merona merah dan menatapnya dengan pandangan malu-malu.
"Se-senang melihatmu baik-baik saja, Naruto-kun."
"Ah, terimakasih, Hime. Kau juga terlihat sangat cerah hari ini, suasana hatimu tengah bagus sekali hari ini, aku penasaran apa itu karena cuaca yang cerah ini ya?."
Shaga semakin merona mendengar nada lembut dan penuh kasih sayang yang keluar dari pemuda yang kini menjadi tunangan-nya, meskipun belum diumumkan... Naruto yang melihat Shaga merona tersenyum kecil sebelum ia terdiam dengan wajah pucat ketika sang ayah dan sang ibu menatapnya dengan tatapan tajam yang cukup gelap yang seolah mengatakan 'sopanlah pada tuan putri!.' Naruto meneguk ludah kasar ketika melihat ancaman dari Kushina yang diucapkan dengan gerak bibir.
'Jika kau berlaku tidak sopan ibu akan menghukum-mu.'
Dan itu sukses membuat Naruto langsung diam bagaikan patung ditengah air mancur ibukota kerajaan, Shaga berdehem kecil mengusir rasa malunya sebelum ia kembali menatap kearah ayah mertua dan ibu mertuanya dengan senyuman ala Hime-sama plus rona merah tipis dipipimya.
"Baiklah, saya akan mengatakan alasan saya datang berkunjung kesini, ayah mertua, ibu mertua... Saya ingin tinggal disini untuk lebih mengenal keluarga dari suami masa depanku..."
"""...Huh?..."""
.
.
.
Naruto mungkin adalah laki-laki paling beruntung diseluruh benua britania karena berhasil mengikat sebuah hubungan sebagai tunangan dengan Tuan putri kerajaan umat Manusia, Alvarez. Mungkin tidak akan terlihat begitu beruntung jika mereka hanya menjalankan pertunangan politik tapi!, mereka melakukannya karena atas dasar menyukai satu sama lain... Tuan putri yang cantik, baik, perhatian, pandai memasak dan seorang Wizard yang sangat kuat, sungguh tipikal istri idaman. Tapi itu semua bukanlah yang membuat seorang Namikaze Naruto menjatuhkan hatinya pada Shaga, ia jatuh hati pada Shaga karena Shaga tidak pernah memandang 'siapa aku' tapi 'apa aku'... Kehangatan tanpa memandang Naruto sebagai si lemah, Worst One lah yang membuat Naruto jatuh hati pada Shaga.
Dan untuk Shaga, ia merasakan kebahagian yang teramat sangat sebab ia kini bisa bersama dengan pemuda yang ia cintai, sama seperti Naruto, Shaga jatuh hati pada Naruto bukan karena Naruto tampan, ataupun seorang bangsawan tapi karena pemuda Namikaze itu mencintai dirinya apa adanya, bahkan waktu pertemuan mereka sebagai Bangsawan rendahan dan Tuan Putri kerajaan.
Naruto tidak tertarik sama sekali dengan wujud perfect seorang Tuan putri tapi tertarik pada penampilan kutu buku Shaga, kehangatan yang Shaga rasakan dari Naruto membuat Shaga merasakan kenyamanan yang misterius, tingkah konyol yang diperlihatkan Naruto membuat Shaga tersenyum dan tertawa dengan lepas, hal yang jarang terjadi dikehidupan Shaga yang menjalani semuanya menggunakan topeng palsu seorang tuan putri...
Namikaze Naruto tidak hanya berhasil menghancurkan tembok penghalang yang dibangun oleh Shaga tapi juga merebut hati Shaga bahkan tanpa dapat disadari oleh Shaga.
"Aku sangat bahagia..."
Shaga bergumam pelan selagi kepalanya ia taruh dibahu Naruto yang ada disebelahnya, Naruto tersenyum kecil melihat tingkah Shaga yang sangat manja padanya.
"Aku juga, Hime."
Kedua pasangan kekasih duduk dengan tenang selagi mereka menikmati pemandangan asri dari daerah kekuasaan Clan Namikaze, Naruto dan Shaga bersyukur mereka bisa memiliki waktu bersama seperti sekarang, hanya dengan berdekatan seperti ini saja perasaan nyaman menghinggapi hati mereka.
"Nee, Hime..."
"Uhm?..."
"Apa kau sudah memberitahu Raja jika kau akan berkunjung dan tinggal disini untuk sementara waktu?."
Naruto bertanya dengan lembut tanpa mengalihkan pemandangannya dari indahnya alam didepanya, Shaga terdiam sebelum ia menjauhkan kepalanya dan menatap kedepan dengan wajah teduh.
"Sejujurnya ayahku lah yang menyarankan agar aku berkunjung kesini untuk memperkenalkan diriku sebagai tunanganmu sekaligus mengenal lebih dalam keluarga calon suamiku ini."
Naruto terdiam sebelum sebuah senyuman tipis berkembang diwajah Naruto, ia menoleh kearah Shaga yang juga menoleh kearahnya.
"Itu terdengar seperti King Redric..."
"Ufufu, begitulah..."
__ADS_1
Keduanya saling tertawa kecil sebelum mereka memandang satu sama lain, keduanya nampak menganggumi keindahan yang dimiliki oleh pasangan masing-masing, Shaga terpesona dengan Shappire indah yang menatapnya dengan teduh sementara Naruto terhanyut dalam keindahan iris Dark-purple milik Shaga... Entah siapa yang memulai namun keduanya mulai mendekatkan wajah mereka...
"Naruto-sama!, gawat!."
Maid yang sama seperti tadi pagi, Narberal Gamma datang dan berteriak dengan kencang membuat Naruto dan Shaga langsung menjauhkan diri satu sama lain dengan wajah yang merona malu.
Naruto menoleh tajam kebelakang dan menatap kearah Narberal yang tengah mengatur nafasnya yang memburu, Naruto menghela nafas dan menatap datar Maid yang menghancurkan suasana yang sudah terbangun antara Shaga dan Naruto.
"Narberal?, ada apa... Kenapa kau terlihat panik seperti itu?."
"Na...Naruko-sama!..."
"Naruko-chan?, ada apa dengan Naruko?, apa dia menolak untuk makan lagi?."
"Ti-Tidak, Naruko-sama makan dengan lahap, bahkan porsi-nya mulai bertambah dari beberapa hari yang la-, eh?, bukan itu yang ingin aku katakan!."
Naruto dan Shaga menatap kearah Narberal yang berteriak karena kesalahannya sendiri, kedua pasangan itu sweatdrop bersama, mereka berpikir jika Narberal itu sedikit aneh...
"Ha'i, Ha'i, jadi kenapa dengan Naruko?."
"Naruko-sama... Hilang!."
"... Apa!?."
.
.
.
"Naruko!, Naruko-chan!, dimana kau!, jawab Nii-sama!."
"Ruko-chan, kau ada dimana!."
Naruto terdiam dan menoleh kearah Shaga yang berada disebelahnya dengan wajah bingung yang cukup lucu dan dibalas tatapan polos dari Shaga.
"Ruko?."
"Uhm, kenapa?, bukankah itu terdengar manis..."
"Benar juga, Ruko-chan!... Dimana kau!, jawab Nii-sama!."
"Naruko-sama!..."
"Naruko-sama!."
Sekitar Mansion Namikaze terlihat situasi yang menyibukan dimana semua penghuni Mansion tengah saling bekerjasama untuk bisa menemukan putri kecil keluarga Namikaze yang tiba-tiba hilang, disana terlihat juga Kushina dan Minato yang juga ikut mencari putri mereka, Kushina mengigit bawah bibirnya dengan cemas sementara Minato mencoba memenangkan kecemasan sang istri tercinta dengan mengelus punggung mulus Kushina yang terbalut pakaian gaun merah indah.
"Bagaimana ini, Minato. Naruko menghilang lagi..."
"Sudahlah tenangkan dirimu, Kushina... Jika kau cemas kau akan mempengaruhi yang lain, dan lagipula apa yang perlu kau cemaskan, ada aku disini semua akan baik-baik saja..."
"Minato..."
Kedua pasangan suami istri itu saling tatapan dengan pandangan romantis, bahkan kedua suami-istri itu sudah dikeliling oleh ilusi bunga mawar yang baru saja mekar, keduanya saling tatap dengan mendalam sampai entah siapa yang memulai keduanya bersiap untuk melakukan kissu namun...
"Oi!, pasangan remaja yang disana!, apa yang kalian pikirkan dengan bermesraan disaat semua orang tengah mencari adik kecilku!."
Naruto berteriak dengan kesal pada ayah dan ibunya yang langsung menjauh dan mengalihkan pandangan mereka satu sama lain, apa yang kedua orang tuanya pikirkan disaat semua orang tengah panik mencari Naruko yang hilang entah dimana!, mereka malah bermesraan!. Minato mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal untuk menghilangkan rasa malunya dan menatap kearah Naruto yang tengah memasang wajah kesal dan berusaha ditenangi oleh Shaga yang ada didekatnya.
"maaf Naruto... ayah sudah lama tidak memiliki waktu untuk berduaan dengan ibumu karena... Ya... kau tahu Clan kita sibuk akhir-akhir ini dan ayah harus mengurus semua kesibukan itu sendirian..."
"Tapi tidak harus melakukan hal itu disaat seperti ini!, baiklah!, kita buat perjanjian!, jika ayah bisa menemukan Naruko, maka aku akan melakukan pekerjaan ayah, dan dengan begitu ayah bisa berduaan dengan ibu untuk waktu yang lama!."
"Ohhho!, kau sudah berjanji anak muda, baiklah!, ayahmu tengah bersemangat!. Hiraishin!."
Naruto dan semua yang melihat Minato menggunakan kemampuan teleportasi andalannya sweatdrop kompak... Shaga menatap kepergian Ayah mertuanya dengan mata mengerjap beberapa kali.
"Ayah mertua... Dia terlihat sangat bersemangat sekali..."
"Hime, tolong lupakan itu..."
Setelah kejadian Absurd yang dilakukan Minato, semua kembali melakukan pencarian, Naruto yang semakin panik karena tidak bisa menemukan dimana adik kecil imut nan mengemaskan itu memukul pohon hingga retak dengan tinjunya membuat beberapa orang disekitarnya berjengit takut plus seekor kucing yang jatuh dari atas pohon karena terkejut!.
"Naruko-chan, dimana kau sebenarnya."
Naruto bergumam dengan putus atas Shaga menatap prihatian tunangan-nya itu, jika tunangannya yang biasanya sangat ceria tiba-tiba menjadi depresi seperti ini maka sudah jelas jika Naruto sangat menyayangi adik kecilnya yang bernama Naruko, Shaga mendekati Naruto dan meletakan tangannya dengan lembut dibahu Naruto membuat Naruto menoleh kearahnya.
"Naruto-kun, tenangkan dirimu, aku tahu kau sangat mencemaskan adikmu, tapi jika kau sampai terbawa emosi seperti ini, kau hanya akan menakuti yang lain, lihatlah sekitarmu..."
Naruto terdiam sebelum ia menatap sekeliling dimana ia melihat para maid yang menatap takut Naruto, Shaga tersenyum melihat Naruto yang mulai meredakan emosinya. Shaga menyentuh pipi Naruto dengan lembut.
Ucap Shaga dengan senyuman lembut yang membuat Naruto langsung terpaku ditempat sebelum Naruto mengulas senyuman tipis dan mencengkram lembut tangan Shaga dipipinya.
"Terimakasih, Hime... Kau membuatku tenang."
"Bukankah itu sudah menjadi tugasku, sebagai calon istrimu?."
"Nii-cama..."
Ditengah keromantisan antara Naruto dan Shaga sebuah suara yang begitu familiar ditelinga Naruto membuat Naruto menoleh keatas, dan seketika iris shappire milik Naruto membulat sempurna ketika ia melihat tepat disalah satu dahan pohon, sosok adik kecil imut nan mengemaskan tengah memeluk erat dahan pohon dengan wajah siap menangis kapan saja... Shaga yang juga melihat anak kecil itu melebarkan matanya.
"Na..Naruko!, apa yang kau lakukan disana!."
"Nii-cama... Huuu..."
"Uwwo!, jangan menangis!, kakak tampan mu ini akan segera kesana menyelamatkanmu!, tunggu dan jangan bergerak dari sana!."
Shaga menoleh kearah Naruto yang dengan cepat memanjat pohon yang cukup tinggi itu, para maid melihat dengan cemas kearah Naruko yang terus memeluk erat dahan pohon...
"Naruto-sama!, berjuanglah!."
"Naruko-sama!, jangan khawatir, Naruto-sama akan menyelamatkan Naruko-sama!."
"Naruto-sama!, berjuanglah demi Naruko-sama!."
Para Maid berteriak menyemangati Naruto yang tengah berusaha memanjat pohon dengan cepat... Perhatian para maid teralihkan ketika dari belakang mereka Kushina dan Minato muncul dibelakang mereka dengan peluh diwajah mereka.
"Apa Naruko sudah ditemukan?, aku tadi mendengar kalian meneriaki namanya, katakan dimana Naruko?."
"Kushina-chan, tenanglah lebih dulu, lihat kau membuat maid itu takut."
Kushina terdiam sebelum ia menatap kearah Maid yang bahunya tengah ia pegang, terlihat Maid itu telah kehilangan rona sehat. Kushina menjauhkan tangannya dari Maid itu membuat helaan nafas lega datang dari Minato, Minato menoleh kearah Shaga yang menatap khawatir keatas
"Hime-sama, apa Naruko sudah ditemukan?."
Tanya Minato dengan sopan, Shaga menoleh kearah sang ayah mertua terdiam sejenak sebelum dengan ekspresi cemas menunjuk keatas.
"Mereka diatas..."
Minato dan Kushina menaikan satu alis mereka dengan bingung sebelum mereka mengikuti arah tunjukan sang Hime-sama itu. dan seketika mata mereka melebar sempurna ketika melihat apa yang ada digaris pandangan mereka.
"Demi Dewi Lalatina... Naruko-chan!."
Pasangan suami-istri itu berteriak terkejut melihat bahwa putri kecil mereka tengah memeluk dahan pohon dengan erat selagi ia memasang wajah ketakutan dan akan menangis kapan saja, tak jauh dari Naruko sang kakak, Naruto tengah berusaha menjangkau sang adik...
"Naruko!, raih tangan kakak!."
Naruto menjulurkan tangannya kearah Naruko yang ketakutan, Naruko nampak ragu-ragu untuk melepaskan pegangannya pada pohon namun ia mencoba meraih tangan sang kakak...
"Ayo, Naruko-chan sedikit lagi!."
Naruto berusaha keras meraih tangan mungil Naruko yang sedikit lagi bisa ia raih!, Naruko berusaha mencapai tangan sang kakak hingga sebuah malapetaka terjadi, karena dahan pohon yang sedikit lembab karena terkena embun pagi membuat tangan mungil Naruko yang menjadi tumpuan tergelincir dan membuat Naruko tergelincir jatuh...
"Naruko-chan!?."
Semua melebarkan matanya dengan terkejut ketika melihat Naruko yang tergelincir jatuh!, jantung semua berdetak dengan cepat melihat Naruko yang melayang jatuh. Naruto mengeraskan wajahnya sebelum ia menekuk kakinya dan menghentakan kakinya untuk mencapai Naruko, dengan nice timing Naruto berhasil mendekap tubuh Naruko... Naruto memutar tubuhnya hingga membuat Naruko berada diatas tubuhnya dan memeluk Naruko dengan erat!.
'Ini akan sakit!.'
Dooom!
Suara jatuh yang cukup keras membuat semua menutup mata mereka, beberapa saat kemudian mereka membuka mata dan mereka dapat dengan jelas melihat Naruto yang tergeletak diatas tanah dengan tangan yang memeluk Naruko dengan erat...
"Naruko-chan... Apa kau baik-baik saja?."
Naruko perlahan membuka matanya dan ia melihat kedepan dimana ia melihat sang kakak yang tengah menatapnya dengan wajah lembut dan menahan sakit yang tercampur disana, iris shappire Naruko perlahan basah dan air matapun mengalir dari iris shappire dan menuruni pipi mengemaskan Naruko.
"Nii-cama... Nii-cama..."
Naruto tersenyum kecil melihat adik kecilnya yang nampak ketakutan dipelukannya, dengan lembut Naruto menaruh tangan besarnya keatas surai pirang indah milik Naruto dan mengelusnya dengan pelan...
"Usst, jangan menangis, Nii-sama baik-baik saja. Jadi jangan menangis."
"Huu... Huu... Huu..."
Shaga menatap kearah Naruto yang tengah memasang senyuman lembut pada sang adik yang menangis didada Naruto, Shaga menatap itu dengan senyuman hangat sebelum tangannya terangkat dan menyentuh dadanya yang terasa menghangat melihat Naruto yang begitu sangat menyayangi adik kecilnya...
"Syukurlah, Naruto-kun..."
__ADS_1
.
.
.
Haripun mulai malam, dan semua segera pergi untuk beristirahat, dikamar Naruto terlihat remaja Namikaze itu tengah duduk didepan disofa dengan sebuah buku ditangannya, dengan dibantu cahaya dari sebuah lampu gantung yang didalamnya diisi oleh sesuatu yang sejenis dengan lumut yang menyerap cahaya matahari dan bersinar dimalam hari...
Naruto membaca dengan serius buku ditangannya sebelum pandangannya teralih pada suara pintu yang diketuk, Naruto menutup bukunya dan meletakan buku itu diatas meja sebelum ia berjalan kearah pintu dan membukanya.
Naruto langsung terdiam melihat siapa yang ada didepan kamarnya, berbalut pakaian tidur yang terbuat dari sutra cukup tipis berwarna pink transparan, Shaga memeluk bantal dan menatap Naruto dengan malu-malu...
"Shaga-hime?, apa yang kau lakukan disini?."
"Ano... Apa boleh aku tidur berdua denganmu malam ini, Naruto-kun."
Naruro terdiam mendengar permintaan dari Shaga, Naruto menatap Shaga dari atas sampai bawah sebelum ia mengeser tubuhnya sedikit dan mempersilahkan Shaga untuk masuk.
"Silahkan masuk."
"Pe-Permisi..."
Naruto menutup pintu dengan pelan sebelum ia menoleh kearah Shaga yang duduk ditepi ranjang, Naruto berjalan mendekati Shaga yang merona dengan pandangan teralihkan kesamping. Naruto tersenyum kecil dan dengan pelan ia menyentil dahi Shaga.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Hime... Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu, lagipula ini belum saatnya untuk kita melakukan 'itu'..."
Ucap Naruto sebelum ia berjalan dan mematikan lampu lalu berjalan menuju ranjang, Naruto merebahkan tubuhnya diatas ranjang sebelum ia membuka selimut dan menatap Shaga yang menatapnya dalam diam dengan senyuman lembut.
"Ayo, kita tidur."
Ucap Naruto membuat Shaga mengangguk pelan dan masuk kedalam selimuti, Naruto tersenyum dan mulai menutup matanya namun ketika ia baru saja menutup matanya Shaga menarik pakaiannya.
"Nee, Naruto-kun..."
"Uhm, ada apa Shaga?."
"Ap... Apa aku tidak mendapatkan ciuman selamat malam?."
Ucap Shaga dengan pelan dan semakin pelan diakhirnya, Naruto terdiam sebelum ia membuka matanya dan menatap kearah Shaga yang menundukan kepalanya dengan rona merah dikedua pipinya. Naruto tersenyum tipis sebelum ia mendekatkan wajahnya dan mengecup pelan kening Shaga...
Cup~.
Shaga terdiam dengan mata melebar ketika ia merasakan sensasi benda kenyal nan lembut lagi basah dikeningnya, Naruto menjauhkan wajahnya dan tersenyum lembut pada Shaga.
"Selamat malam, Hime."
Ucap Naruto sebelum ia memejamkan matanya dan pergi menuju kealam mimpi, Shaga terdiam selama beberapa saat sebelum ia tersenyum dan menutup matanya dengan perlahan...
"Selamat malam, Naruto-kun..."
.
.
.
Malam telah berganti menjadi pagi, matahari bergerak untuk naik ketahta-nya dan melakukan tugasnya membangunkan seluruh makhluk dibenua Britania untuk beraktivitas memulai hari mereka, dan itu juga berlaku untuk seorang gadis cantik yang tengah terlelap diatas ranjang yang cukup untuk memuat 5 orang didalamnya.
Sang gadis cantik yang merupakan Tuan Putri dari kerajaan dimana Umat manusia mendominasi, kerajaan Alvarez, Putri Ayame Alvarez Shaga terlihat mengeliat pelan, tangan halus nan lembutnya bergerak kesamping dan berusaha mencari sesuatu setelah yakin tidak dapat menemukannya, Shaga membuka matanya dan menatap kesamping, tidak ada... Apa mungkin ia sudah bangun?... Shaga bangkit dari ranjang dan meregangkan sedikit tubuhnya, dengan langkah pelan Shaga berjalan kearah jendela dan membuka-nya agar udara segar dapat masuk kedalam kamar...
Tak!
Tak!
Tak!
Shaga yang tengah menikmati udara pagi yang segar mengalihkan pandangannya ketika ia mendengar suara sebuah pedang yang diayunkan dengan cepat, Shaga terdiam ketika ia nelihat pemuda yang kini telah menjadi tunangannya tengah berlatih dengan pedang kayu yang digenggam erat ditangannya.
Shaga melihat Naruto melakukan serangkaian gerakan tebasan yang menurutnya begitu cepat dan kuat, Shaga terus menatap Naruto yang menghajar sebuah Dummy didepannya dengan pedang Kayu ditangannya sebelum...
[Namikaze Style: Iai]
Shaga melebarkan melihat Naruto yang melakukan tebasan yang begitu cepat pada Dummy itu, Shaga semakin terkejut ketika melihat Dummy itu terpotong menjadi dua, pandangan Shaga beralih kearah Naruto yang memunggungi Dummy yang berhasil ia potong itu.
"Sepertinya, aku harus mencari pedang kayu yang baru lagi, hah~."
Shaga melebarkan matanya dengan sempurna ketika melihat pedang Kayu ditangan Naruto telah patah menjadi dua, itu artinya pedang kayu yang terbuat dari Rosswood tidak sanggup menahan output kekuatan yang Naruto miliki!... Naruto menatap pedang kayu ditangannya sebelum ia menhela nafas.
"Aku harap aku memiliki Bokken atau Shinai yang cukup kuat untuk menahan kekuatanku."
Gumam pelan Naruto sebelum ia melangkah pergi meninggalkan Dummy yang telah terpotong menjadi dua dan patahan pedang kayu miliknya yang tergeletak ditanah. Shaga menatap kepergian Naruto dalam diam sebelum sebuah senyuman terpatri diwajah cantik miliknya.
"Kau selalu bisa membuatku terkejut, Naruto-kun."
...
"Dan... Sang putri Snow White menikah dan hidup bahagia dengan sang pangeran selamanya, tamat."
Diruangan keluarga yang cukup luas, Naruto baru saja selesai mendongengkan sebuah kisah yang cukup populer pada sang adik yang nampaknya begitu menyukai cerita tentang Snow White and Seven's Dwarf...
"Ara, tadi itu cerita yang cukup menarik, Naruto-kun."
Ah, diruangan itu, Tuan Putri juga ikut mendengarkan kisah yang baru saja sampaikan oleh Naruto, Naruto tersenyum tipis.
"Senang jika kau menyukainya, Hime."
"Woaah, Aku tidak menyangka jika kau pandai bersyair Naruto."
Alis Naruto berkedut mendengar sebuah suara yang seharusnya tidak ada disana.
"Benar, Anata. Kau cocok menjadi seorang penyair, Naruto."
"Ibu!, jangan mendukung candaan dari ayah!... Dan ayah!, bukankah kau seharusnya menyelesaikan uruaan Clan"
"Ayolah jangan dingin begitu pada ayahmu, bagaimanapun ayah juga manusia yang membutuhkan waktu setidaknya sedikit untuk bersenang-senang."
Ucap Minato dengan cengiran Khas-nya. Naruto menghela nafas lelah, ya... Benar selain Naruko, semua keluarga besar Namikaze berkumpul disini dan mendengarkan cerita Snow White and The Seven's Dwarf... Aku tekankan sekali lagi, semua termasuk Kepala Maid, Yuri Alpha dan para Pleiades duduk dengan tenang mendengarkan cerita dari Naruto tepat dibelakang, Naruto juga melihat dibalik dinding sosok bayangan yang ia yakin adalah pasukan Unit Anbu juga ikut mendengarkan!.
Naruto yang tengah memijat pelipisnya berdenyut tiba-tiba mengalihkan pandangannya pada Naruko yang ada duduk dibawahnya, Naruko menarik baju Naruto untuk mendapatkan perhatian dari Naruto.
"Ada apa Naruko-chan?."
"Teri...ma...kasih, Ruko Sa...yang Nii-sama."
Naruto terdiam melihat Naruko yang tersenyum khas seorang anak kecil seusianya, sebelum dengan cepat Naruto mengangkat Naruko dan menatapnya dengan tatapan serius.
"Naruko-chan, coba katakan sekali lagi?."
"Terimakasih, Ruko... Sayang Nii-sama."
Naruto terdiam sebelum iris shappirenya menitikan air mata bahagia, tidak hanya Naruto bahkan Kushina, Minato dan para Pleiades menangis haru...
"Akhirnya!, adikku bisa mengatakan kalimat simpel dengan lancar!."
"Putri kecilku mulai tumbuh..."
Shaga hanya bisa mengulas senyuman tipis melihat kehangatan dari keluarga dari tunangannya itu, Shaga tidak tahu kenapa tapi ia merasa iri dengan keluarga tunangannya yang bisa mengungkapkan semua yang ada dihati mereka dengan jujur yanpa mempermasalahkan status sosial mereka, simpelnya... Tertawalah, menangislah, marahlah tanpa memikirkan hari esok... Dan itu adalah hal yang sangat terlarang bagi seorang Hime-sama seperti dirinya.
Naruto yang tengah mengangkat Naruko tinggi-tinggi melirik kesamping dan ia melihat Shaga tengah memasang ekspresi sedih, dan kesepian... Naruto terdiam sebelum ia menurunkan Naruko dan membisikan sesuatu pada Naruko dengan sangat pelan, sang adik memiringkan kepalanya dengan polos mendengar bisikan sang kakak sebelum mengangguk pelan.
Shaga yang tengah merenung tiba-tiba tersadar ketika Naruko kecil berjalan kearahnya dan menjatuhkan tubuhnya diperut Shaga. Shaga cukup terkejut melihat Naruko memeluk dirinya dengan tangan mungilnya sebelum Naruko kecil mengangkat kepalanya dan menatap Shaga dengan tatapan mengemaskan.
"Nee-sama... Mari main dengan Ruko."
"Ha'i, Mari main!."
Naruto tersenyum ketika melihat Shaga yang nampaknya terpikat dengan pesona keimutan dari sang adik, keduanya terlihat bersenang-senang... Naruto mungkin bukanlah seorang ahli psikis namun ia tahu jika Shaga yang merupakan seorang Hime dikerajaan Alvarez kesepian karena statusnya dan ia juga tidak bisa bebas mengekspresikan dirinya karena sebagai seorang yang menjadi panutan untuk setiap warga kerajaan Alvarez Shaga dituntut untuk menjadi manusia yang sempurna bahkan terkadang itu berlawanan dengan apa yang ia inginkan, Naruto mengetahui semua itu hanya dengan melihat ekspresi Shaga.
"Aku berjanji padamu, Hime... Aku akan membuatmu bahagia, meskipun kebahagiaanmu membuatku menjadi seorang penjahat didunia ini maka akan aku lakukan asalkan kau tersenyum dan tertawa seperti yang sekarang ini kau lakukan."
Gumam pelan Naruto sebelum ia berjalan dan meninggalkan ruangan itu, Naruto terus berjalan dilorong sebelum tiba-tiba ia terhenti dan terbatuk dengan keras...
'Sudah dimulai ya?.'
Sebuah suara mengema dikepala Naruto yang terbatuk dengan keras, Naruto menatap kearah tangannya dan terlihatlah darah yang cukup banyak berada disana... Naruto mengambil sapu tangannya dan mengelap darah miliknya itu.
"Ya, begitulah... Umurku mungkin tidak akan lama lagi... Dampak dari pertarungan melawan Celestial Manticore mulai mengerogoti tubuhku."
'Mau bagaimana lagi, kau terlalu banyak menimbun kekuatan dalam tubuhmu, Naruto-kun... Terlebih kekuatan ku dan kekuatan Uranus Queen saling bertentangan dan kekuatan itu mempengaruhi tubuhmu, bukankah sudah kubilang saat dicastil Avantheim, jangan kau gunakan kekuatan kami secara bersamaan karena tubuhmu belum sanggup untuk menampung kekuatan kami, terlebih kau menggunakan kemampuan dari dua makhluk 'itu', sudah jelas jika tubuhmu mengalami dampak dari kekuatan kami berempat.'
Naruto tersenyum miris mendengar perkataan Azi Dahaka yang sepenuhnya tepat sasaran, ya benar... Setelah pertarungan melawan Celestial Manticore dimana Naruto mengaktifkan kemampuan dari empat makhluk overpowered miliknya secara bersamaan tubuh Naruto terkena dampak negatif dari kekuatan yang tertimbun didalam tubuhnya, bisa dibilang tubuh Naruto saat ini tengah digerogoti secara perlahan.
"Ya, aku tahu karena itulah aku harus menemukan cara untuk mengatasi semua ini atau aku akan benar-benar mati secara perlahan..."
Ucap Naruto sebelum ia memasukan kembali sapu tangan miliknya dan berjalan menuju kamarnya dengan wajah pucat kekurangan darah, Azi Dahaka yang berada didalam Mindscape terpisah dari yang lain hanya bisa terdiam melihat Naruto yang berjalan dengan langkah lemas.
'Tidak ada cara untuk menyelamatkanmu, Naruto-kun... Sekuat apapun kau mencari cara untuk solusi ini kau pada akhirnya akan tetap mati...'
Azi Dahaka bergumam dengan pelan sebelum ia kembali berubah menjadi True Form miliknya dan tertidur dalam tubuh Naruto.
__ADS_1