The Worst One

The Worst One
Chapter 32


__ADS_3

Suatu hari aku pernah bermimpi... Mimpi itu tidak bisa dibilang sebagai Mimpi yang buruk dan tidak bisa juga dibilang indah, didalam mimpi itu aku bertemu dengan seseorang yang diselimuti aura yang berpaduan antara hitam dan putih yang berkobar dengan lembutnya dalam gelapnya malam.


Orang itu duduk diatas puing-puing bangunan dengan lautan api dibelakangnya, disebelah orang itu terdapat dua pedang yang bersender dipuing-puing didekatnya, orang itu tidak bisa aku lihat dengan jelas wajahnya sebab ia tertutup oleh bayangan cahaya kobaran api, tapi... Entah kenapa perasaan ku mengatakan jika aku dan dia sangat dekat. Aku menatap orang itu berusaha mencari tahu siapa dia?, tapi percuma saja sebab wajah itu tertutup bayangan hitam.


Aku terpaku ditempat ketika ia perlahan membuka matanya dan memperlihatkan sepasang iris mata indah dengan warna yang berbeda biru shappire disebelah kiri dan emas Vertikal disebelah kanan yang berkilat menakutkan... Mata itu entah kenapa aku merasa pernah melihatnya tapi aku tidak dapat mengingatnya.


Aku melihat perlahan orang itu mengambil pedang yang aku yakin sebuah katana itu dan menarik katana itu keluar dari sarungnyq, suara gesekan antara katana dengan sarung-nya mengintimidasi sekitar, dan terlihatlah sebuah katana berwarna hitam pekat yang mengeluarkan aura hitam menakutkan yang mencemari udara dengan jeritan dan suara teriakan keputuasaan dari pedang katana itu. Orang itu mengangkat pedang katananya tinggi-tinggi dan dengan pelan ia berguman, suara gumaman yang hampir menyerupai bisikan itu entah bagaimana bisa aku dengar...


"Mengamuklah, Azi Dahaka."


Orang itu langsung menebas udara kosong dengan pelan dan sedetik kemudian sebuah kekuatan yang teramat besar yang melaju dengan kecepatan tinggi menghempaskan apapun yang ada disekitarnya, aku membulatkan mataku melihat Aura hitam bergerak cepat memotong apapun yang ada didepannya, Aura hitam itu perlahan mereda dan terlihatlah sebuah garis tebasan yang melebar sejauh ratusan meter...


Kekuatan yang menakutkan... Dia mampu membuat kerusakan sebesar itu hanya dengan ayunan ringan dari Katana hitam itu?... Dia berada dilevel yang setara dengan orang terkuat dikerajaan [Alvarez], tidak mungkin lebih kuat lagi...


Orang itu menurunkan Katana miliknya dan menatap datar kedepan tanpa mengucapkan apapun, orang itu terdiam selama beberapa saat sebelum ia menoleh kearahku membuat tubuhku menegang ketika mata berbeda iris itu menatap datar kearahku sebelum tatapan itu berubah menjadi tatapan lembut.


"... Ini sudah cukup, kita pulang... Hime."


Orang itu menjulurkan tangannya kearahku seolah mengajakku untuk ikut dengannya, selagi aku menatap bingung uluran tangan itu tiba-tiba dari belakang muncul tangan yang menyambut uluran tangan orang itu, dan itu membuat aku terkejut, tangan itu menembus tubuhku rasanya aku seperti Roh yang tidak memiliki wujud fisik


"Ha'i, Anata."


Aku terdiam mendengar suara itu, entah kenapa itu mirip sekali dengan suara... Aku menoleh kebelakang berusaha melihat siapa pemilik suara itu namun saat aku sedikit lagi akan melihat pemilik suara itu, sebuah cahaya yang menyilaukan tiba-tiba muncul dan menyedot kesadaranku.


... Dan aku tersadar dari mimpiku... Aku terbangun dari mimpi itu dan menatap atap dengan datar.


"Mimpi itu... Entah kenapa terasa sangat nyata."


Aku bangkit dari ranjang tidurku dan berjalan menuju kearah seorang Maid yang sudah berdiri didekatku, Maid itu melepaskan piyamaku dan membawaku menuju kekamar mandi... Setelah membersihkan tubuhku aku langsung mengenakan pakaian untuk hari ini, Maid dengan telaten memakaikan pakaian berdress mewah padaku... Setelah selesai berpakaian Maid itu meminta ijin untuk meninggalkanku dan aku mengiyakan-nya.


Aku menatap pantulan diriku didepan cermin, aku menatap datar diriku, aku bisa dibilang memiliki wajah yang cantik, bahkan sangat cantik menurut sahabat-sahabatku tapi aku tidak merasakan perasaan bangga saat kecantikan wajahku dipuji, sudah terlalu banyak orang yang memujiku cantik tapi aku hanya membalas pujian itu dengan senyuman palsu...


Aku membenci mereka yang memujiku karena aku tahu mereka hanya sekedar menjilat kearahku, tidak satupun dari mereka yang memujiku dengan tulus, mereka selalu menyimpan niatan pribadi mereka terhadapku dan itu membuatku muak... Tapi, diantara banyak orang yang memujiku ada satu orang yang berhasil membuatku jatuh hati, bukan dari status sosialnya atau paras tampannya tapi dari sifatnya yang tidak membeda-bedakan siapapun itu, entah dari bangsawan elit atau kalangan rakyat biasa, ia selalu ceria dan membuatku merasakan berbagai macam emosi yang selama ini telah lama tidak kurasakan tersenyum, menangis, tertawa dan... Cemburu.


Aku tersenyum mengingat waktu kebersamaan yang telah kami lalu bersama sebelum pandanganku teralih kesamping dimana tepat diatas meja yang biasa aku gunakan untuk belajar tergeletak kacamata baca tebal, aku menatap kacamata itu sejenak sebelum mengambilnya.


'Kau terlihat manis, aku menyukainya...'


Wajahku memanas ketika salah satu kepingan manis antara aku dan dia melintas dikepalaku, aku menyentuh dadaku yang berdegub dengan cepat... Pemuda itu, benar-benar telah mencuri hati ini.


"Maaf menganggu, Ojou-sama. Tapi yang mulia sudah menunggu anda."


Aku mengalihkan pandanganku dan menatap kearah pintu dimana seorang Butler yang terlihat sudah tua berdiri membungkuk kearahku, aku menatap Butler itu dan mengangguk pelan.


"Baiklah. Aku akan segera kesana, Jii-san."


Butler itu mengangguk dan meninggalkan ruangan ku, aku menghela nafas sebelum kembali menatap kacamata tebal milikku, aku tersenyum kecil dan berbalik meninggalkan kamarku dengan pelan.


- Change Scene -


Disebuah pulau terapung yang tak begitu luas dengan sebuah Castil besar yang memakan hampir sepertiga pulau itu terlihat dua orang tengah menatap kagum keindahan buatan tangan didepan mereka, orang pertama merupakan seorang pemuda yang akan menjadi Heir selanjutnya Clan Namikaze, Namikaze Naruto. Sementara orang kedua merupakan seorang perempuan cantik yang akan menjadi selanjutnya dari Clan besar Hyuga, Byakugan no Hime, Hyuga Hinata.


Naruto dan Hinata saat ini tengah berada ditempat yang ada dalam legenda, Castil Melayang... [Avantheim]. Kedua pewaris selanjutnya dari Clan bangsawan itu telah berhasil menemukan Castil ini dan membuktikan jika Legenda tentang [Avantheim] memang benar-benar ada.


"Ini... Sangat indah."


Hinata bergumam tanpa sadar sangking terpukaunya dia dengan Castil didepannya, Naruto melirik kearah Hinata yang terpukau, melihat wajah itu Naruto jadi menganggap jika Hinata adalah gadis yang polos, namun kenyataan tak seindah khayalannya.


Hinata dan Naruto perlahan melangkah masuk kedalam Castil, didalam Hinata kembali dibuat kagum oleh kemegahan Castil itu, iris Lavender miliknya menatap kesekeliling dengan kagum berbeda dengan Naruto yang menatap kesekeliling dengan waspada...


'Dimana Makhluk itu.'


Naruto menatap sekeliling selagi tangannya mengenggam gagang katana dipinggangnya, Hinata yang tengah menatap sekeliling tiba-tiba menjadi bingung ketika ia menatap kearah Naruto ada disebelahnya, Hinata merasa jika Naruto tengah dalam sikap waspada, ia yakin itu sebab ia melihat Naruto menatap tajam sekeliling selagi tangannya mengenggam gagang pedang dipinggangnya.


"Haruto-san, ada apa?."


Naruto tersentak sedikit sebelum ia menoleh kearah Hinata yang menatap bingung pada dirinya, Naruto terdiam sejenak sebelum mengeluarkan eye smile dan mengaruk belakang kepalanya yang tak gatal.


"Ti-Tidak ada, aku hanya bersiaga saja, Hora... Kita saat ini sedang berada ditempat kuno bukan?, siapa tahu saja ada jebakan yang tidak kit-,"


Clek


Naruto menghentikan perkataannya ketika ia mendengar sebuah suara yang familiar ditelinganya, Naruto menatap kearah Hinata yang tengah menatap kakinya dimana keramik berbentuk persegi amblas kebawah...


"Hinata-san... Itu..."


Naruto dan Hinata terdiam sebelum keduanya mendengar firasat berbahaya dan benar saja dari sekeliling mereka tiba-tiba muncul ratusan anak panah yang melesat cepat kearah mereka, Naruto yang melihatnya langsung melebarkan kuda-kuda untuk mengeluarkan salah satu kemampuan pedang miliknya namun saat ia hendak mengeluarkan kedua katana-nya Hinata tiba-tiba maju kedepan dan dengan cepat memutar tubuhnya yang diselimuti Mana, perputaran cepat Hinata menciptakan sebuah Kubah yang menentalkan semua anak panah.


Naruto yang melihat hal itu dalam diam, kubah itu nampaknya berbahaya, pertahanan mutlak yang dapat mementalkan serangan dalam lingkup 360°, dengan katalain itu merupakan pertahanan yang sempurna.


Kubah biru itu perlahan menghilang dengan semakin memelannya putaran Hinata, Naruto menatap Hinata yang nampaknya tidak bergeming ditempatnya... Perempuan ini berbahaya. Hinata menarik nafas sebelum ia menoleh kearah Naruto yang menatap kearahnya dalam diam.


"Haruto-san, kenapa kau melihatku seperti itu?, apa ada yang salah denganku?."


Hinata bertanya selagi ia tersenyum tipis, Naruto tersadar dari lamunannya dan mengeleng pelan sambil memasukan kembali kedua katananya yang tertarik sedikit.


"Tidak, aku hanya menganggumi betapa hebatnya dirimu, Hinata-san."


Ucap Naruto dengan eye smile membuat Hinata merona, Hinata menundukan kepalanya menyembunyikan rona merah diwajahnya tanpa menyadari Naruto yang mengirimkan menatap penuh permusuhan pada perempuan itu.


"Te-Terimakasih..."


'Lidahku... Terbakar.'


Naruto memasang senyuman dipaksakan dibalik penutup wajahnya... Setelah kejadian jebakan sebelumnya Naruto dan Hinata kini berjalan dengan hati-hati. Kedua heir dan heiress selanjutnya itu sampai disebuah tempat yang bisa dibilang sangat luas, keduanya dibuat terkejut oleh apa yang mereka lihat.


Dihadapan mereka berdua saat ini terdapat sebuah ruangan yang sangat luas, tidak ada apapun diruangan itu kecuali sebuah singgasana yang telah rusak seperempat namun masih bisa diduduki.


"Ini... Ruang raja?."


Naruto bergumam dengan pelan dibalas anggukan pelan dari Hinata disebelahnya. "Sepertinya begitu, Haruto-san. Tempat ini mungkin merupakan tempat dimana raja mengadakan pertemuan dengan para bangsawan dimasa lalu." ucap Hinata, Naruto terdiam selagi iris shappirenya menatap sekeliling dengan tajam, alis Naruto bertautan.


"Ini aneh, aku sama sekali tidak melihat buruan yang aku cari, Ophis apa benar ini tempatnya."


Naruto bertanya lewat Mind Link pada salah satu keberadaan terkuat didunia ini, salah satu dari 3 buku ciptaan Solomon. [Infinite Magic of Solomon Book], Ophis.


'Benar, Master. Aku dan kedua saudariku pernah mengunjungi Castil ini bersama ayahku yang ingin bertemu dengan kenalannya.'


"Jika yang kau katakan benar, maka dimana buruan kita?."


'Aku tidak tahu, Master. Apa mungkin dia sudah meninggalkan tempat ini?.'


Naruto terdiam, jika begitu ia akan pulang dengan tangan kosong?, setelah ia berjuang mati-matian dari banyaknya cobaan yang ia alami untuk bisa datang kesini?, yang benar saja!?, mana mungkin ia pulang tanpa hasil!?.


"Aku rasa ia masih ada disini, aku akan mencari buruan kita dan mendapatkan apa yang aku cari... Hinata-san, sebaiknya kita-, are?, Hinata-san."


Naruto menatap bingung kesamping dimana disana seharusnya Hinata berada tapi yang ia dapatkan hanyalah udara kesendirian disebelahnya, Naruto mengalihkan pandangannya kedepan dan seketika ia sweatdrop... Hinata ternyata sedang berada didepan singgasana ia tengah menatap polos singgasana itu.


'Sejak kapan ia berada disana?.'


Naruto menghela nafas sebelum ia berjalan kearah Hinata yang tengah menatap singgsana dengan intens, Hinata menatap intens ukiran unik yang ada disinggasana itu, entah kenapa ia seperti perah melihat ukiran ini, tapi dimana?. Hinata yang tengah mengira-gira dimana ia pernah melihat ukiran unik itu menoleh kesamping ketika ia merasakan hawa kehadiran seseorang dan terlihatlah Naruto yang tengah berada disebelahnya dan ikut menatap ukiran unik disinggasana itu.


Naruto mengerutkan dahinya melihat ukiran itu, ukiran ini... Kanji?, kenapa bahasa negara-nya didunia sebelumnya bisa ada didunia ini?, apa maksudnya ini. Naruto yang tengah menatap intens huruf kanji didepannya tidak menyadari jika Hinata tengah menatapnya dengan rona merah tercetak dikedua pipinya..


'Haruto-san... Terlalu dekat.'


Hinata merasakan detak jantung-nya menjadi cepat, ia yakin sast ini wajahnya sudah memerah sebab ia bisa merasakan wajahnya menghangat... Hinata dapat mendengar suara hembusan Naruto dari sini, dan samar-samar Hinata dapat mencium bau citrus dan rumput dari badan Naruto dan itu membuatnya Nyaman.


"A-Ano... Haruto-san... Terlalu dekat."


Naruto mengalihkan pandangannya kesamping ketika ia mendengar suara Hinata yang mengecil dan ia dapat melihat Hinata yang mengalihkan wajahnya yang memerah kesamping, Naruto terdiam sejenak sebelum ia melebarkan matanya ketika menyadari jarak mereka terlalu dekat!, berkat refleks seorang knight Naruto langsung melompat kebelakang dengan panik.


"Ma-Maaf, Hinata-san!. Aku tidak bermaksud tidak sopan padamu, aku hanya... Aku hanya, Argh!, maafkan aku, Hinata-san."


Naruto berojigi dalam-dalam, Hinata menyentuh dadanya untuk menenangkan detak jantungnya, wajah Hinata sudah sangat memerah dan jika mereka berdekatan sedikit lebih lama lagi Hinata yakin ia akan kehilangan kesadarannya dan jika itu terjadi maka kehormatannya sebagai pewaris selanjutnya Clan Hyuga akan rusak dimata H(N)aruto-san.


"Ti-Tidak apa, Haruto-san. Aku juga tidak keberatan."


Mendengar perkataan Hinata, Naruto perlahan mengangkat wajahnya dan melihat kearah Hinata yang masih terlihat sedikit malu, Naruto menghela nafas lega, bisa jadi hal yang tidak lucu jika Hinata tersinggung dan berniat membunuhnya untuk menghilangkan rasa malu pada dirinya, seandainya itu terjadi maka Naruto harus melawannya dan kemungkinan besar Hinata akan tahu siapa dirinya yang sebenarnya dan akhirnya pertempuran tak terelakan akan terjadi, Naruto tidak mau dirinya kehabisan Mana untuk hal bodoh seperti 'bertarung mati-matian hanya karena Hal sepele', terlebih ia tidak memiliki banyak waktu. Naruto menegapkan tubuhnya dan kembali berjalan mendekati Hinata namun kali ini Naruto agak sedikit jauh dari Hinata dan kembali menatap kearah Kanji tidak menyadari Hinata yang kembali merona tipis.


Naruto menajamkan matanya melihat ukiran kanji disana, sudah ia duga ini memang benar-benar huruf kanji, ketika Naruto tengah serius membaca kanji itu tiba-tiba sebuah suara mengalihkan pandangan mereka.


Roar~


Naruto dan Hinata menoleh kesamping, dan kedua Heiress Clan bangsawan itu melihat hewan?, seperti seukuran anak anjing tengah duduk dengan mengemaskan didepan pintu masuk ruang singgasana ini, bulu putih tebal nan lembut, wajah mengemaskan, sepasang sayap kecil dibelakangnya punggungnya dan tak lupa ekor berwarna hitam yang bergerak kekanan dan kekiri dengan mengemaskannya... Kedua Heir/Heiress itu menatap kearah hewan itu dan satu hal yang melintas dipikiran keduanya..


'Mengemaskan sekali...'


Hinata yang tak tahan dengan benda mengemaskan tanpa sadar merendahkan tubuhnya dan merentang tangannya kedepan.


"Kemarilah, aku tidak akan menyakitimu."


Naruto yang melihat tingkah Hinata yang terhipnotis oleh hewan mengemaskan itu, Naruto berusaha menahan diri agar tidak mengatakan betapa lucunya Hinata saat ini, berbeda dengan Ophis yang terlihat terkejut melihat hewan mengemaskan itu... Aura ini tidak salah lagi...


'Ma-Master... Buruanmu telah muncul.'


Ucap Ophis membuat Naruto langsung meletakan tangannya diatas gagang katananya, iris shappire milik Naruto menatap sekitar dengan waspada.


"Ophis... Dimana dia?."


Naruto bertanya dengan nada dingin, Ophis terdiam sebelum ia menatap kedepan dengan pandangan datar namun keringat meluncur dipelipisnya.


'Dia... Ada didepanmu.'


Naruto mengarahkan pandangannya kedepan dimana ia melihat hewan mengemaskan itu tengah berjalan dengan kaki kecilnya kearah Hinata, Naruto terdiam sebelum ia mendengus mengejek.

__ADS_1


"Ophis... Kau tahu, aku mungkin akan tertawa jika kita sedang dalam keadaan santai, jadi jangan bercanda disaat seperti ini. Mana mungkin hewan kecil nan mengemaskan seperti itu adalah buruan kita."


Ucap Naruto tanpa menyadari jika Hinata perlahan memasang wajah terkejut melihat apa yang ada didepannya, Ophis terdiam sebelum ia berkata dengan datar..


'Lalu... Kau sebut apa hewan kecil nan mengemaskan itu sekarang, Master.'


"Hah?, tentu saja hewan kecil yang mengemas-,"


Naruto tidak bisa menyelesaikan kalimatnya ketika ia menoleh kearah Makhluk kecil nan mengemaskan, ia tidak menemukan hewan mengemaskan itu melainkan ia melihat tepat didepannya seekor monster menyeramkan dengan kepala berbentuk singa, mulut dipenuhi gigi tajam yang meneteskan air liur, bulu putih yang terlihat berantakan dan sepasang sayap besar yang terbentang lebar, ekor berwarna hitam dengan duri-duri tajam yang terlihat mengeluarkan cairan berwarna hijau kental. Iris berwarna merah pekat vertikal menatap Naruto dan Hinata dengan tajam.


'Aku perkenalkan padamu, Master... Celestial Manticore, makhluk kecil nan mengemaskan.'


Naruto terdiam mendengar nada datar Ophis yang menyimpan ejekan didalamnya, Naruto dengan pelan mencondongkan tubuhnya kearah Hinata.


"Hinata-san... Apapun yang terjadi jangan buat gerakan tiba-tiba, kita mundur secara perlahan-lahan."


Hinata menoleh kearah Naruto sebelum ia mengangguk pelan, Naruto dan Hinata dengan pelan melangkah mundur berusaha untuk tidak membuat gerakan tiba-tiba agar tidak memicu pertarungan brutal dengan makhluk didepan mereka.


'Bagus... Ia tidak merasa terancam... Jika begini maka kami bisa kabur lewat pintu yang ada tepat dibelakang ka-,'


Krak!


Naruto terdiam, keringat dingin memenuhi wajah Naruto ketika mendengar suara sesuatu yang patah, Naruto menatap kearah Hinata yang ada didepannya sebelum pandangan Naruto turun kekaki Hinata, mata Naruto melebar ketika melihat Hinata tengah menginjak pecahan kaca hingga hancur... Naruto menatap Hinata yang juga menatapnya dengan pandangan polos.


"Te-hee~."


Roaaaaaaar!?


'Perempuan sialan!?.'


Naruto langsung menarik katana miliknya ketika melihat Manticore itu mengarahkan cakar tajamnya pada Hinata yang hanya terpaku melihat cakar yang siap membuatnya menjadi perkedel...


Trank!


Kraaak!


Naruto mengeraskan wajahnya ketika merasakan tekanan super berat dari cakar manticore itu, Hinata yang melihat Naruto menahan cakar manticore melebarkan matanya... Kuat sekali... Naruto meringis ketika merasakan manticore itu semakin menekannya.


"Hi-Hinata-san!, jangan diam saja, serang dia!."


Hinata tersentak ketika mendengar teriakan dari Naruto, Hinata menatap kearah Naruto yang semakin terlihat kesulitan menahan tekanan dari kekuatan Manticore, Naruto butuh bantuan!, Hinata dengan cepat membuat kuda-kuda dan sedetik kemudian Hinata mengalirkan [Mana] ketelapak tangannya sebelum dengan cepat Hinata memukul udara seraya bergumam.


[Hakke Kusho]


Sebuah energi mana melesat dari telapak tangan Hinata dan menghantam telak wajah Manticore membuat Magical Beast itu terhuyung kebelakang dan jatuh membentur lantai dengan keras.


Doom!


Naruto mengatur nafasnya yang memburu, ia berhasil selamat dari tekanan kekuatan Manticore itu, jika ia terus berada dalam tekanan cakar kuat hewan itu sudah dapat dipastikan Naruto akan benyek.


"Haruto-san!, apa kau baik-baik saja?."


Naruto menoleh kebelakang dimana ia melihat Hinata yang menatapnya dengan khawatir, Naruto terdiam sebelum ia mengangguk pelan, Hinata menghela nafas lega.


"Syukurlah..."


"Masih terlalu awal untuk bersyukur, Hinata-san... Lihatlah."


Naruto menarik katana hitam miliknya dan memasang sikap bertarung ketika melihat Manticore didepan mereka perlahan bangkit, Hinata yang melihat kemunculan Manticore itu juga ikut memasang sikap bertarung... Manticore menatap Naruto dan Hinata dengan tajam sebelum hewan itu berteriak keras hingga membuat gendang telinga Naruto dan Hinata terasa bergetar. Manticore itu mengangkat tubuhnya keatas dan dengan cepat menghentakan kedua kaki depannya hingga menyebabkan lantai retak hebat... Ophis melebarkan iris hitamnya melihat posture tubuh Manticore itu...


'Master!, menghindar!, dia akan mengeluarkan kemampuan miliknya!.'


Naruto melebarkan matanya sebelum ia menatap kearah Manticore yang perlahan menghentakan tubuhnya dan terbang keatas, Naruto semakin terkejut ketika melihat Manticore membuka mulut dan memunculkan lingkaran magic, didepan lingkaran magic itu muncul Bola hitam muncul didepan mulut makhluk itu.


Naruto merasakan firasat buruk ketika melihat bola hitam itu dan benar saja Manticore itu dengan cepat menembakan bola hitam itu yang langsung membesar dengan kekuatan menakutkan kearah Naruto dan Hinata... Tidak ingin mati, Naruto dan Hinata langsung melompat kesamping dan membuat bola hitam itu menghantam lantai...


Zorrrrrsh!


Naruto dan Hinata tidak rasa keterkejutan mereka ketika melihat bola hitam itu tiba-tiba membesar dan menghancurkan apapun disekitar. Bola itu berhenti membesar dan menciut dengan cepat dan menghilang tanpa bekas meninggalkan sebuah kawah besar disana.


'[Black Zero], kemampuan untuk meniadakan segala sesuatu tanpa bekas, itu adalah kemampuan dari Celestial Manticore.'


Naruto terdiam sebelum ia menatap kearah Manticore yang masih melayang diudara dengan tenang, iris merah miliknya menatap rendah Naruto dan Hinata seolah mereka berdua tak lebih dari sekedar sampah... Naruto mengeraskan wajahnya, ia mengeratkan pegangan pada gagang katana miliknya... Hewan ini kuat, Naruto tahu itu dan karena itulah ia harus melawan Manticore dengan serius... Naruto mengalirkan Mana pada Kedua Katananya, [Mana] Naruto perlahan menyatuh dengan kedua katana Naruto, aura biru kehitaman dan biru keputihan berkobar berbahaya.


Hinata yang berada sedikit jauh dari Naruto menundukan kepalanya, perlahan sebuah pedang indah dengan sebuah batu permata berwarna pada pangkal gagang pedang itu bersinar terang, Hinata mengambil pedang itu dan seketika energi Hinata meluap-luap, nampaknya perempuan Heiress selanjutnya Clan Hyuga itu juga akan bertarung dengan serius.


Naruto dengan cepat menebas udara kosong dan melepaskan Cross Slash kearah Manticore yang langsung menghindari Cross Slash berwarna hitam dan putih itu membuat Cross Slash Naruto menghantam atap Castil.


Blaaar!


Puing-puing batu perlahan jatuh kelantai, Manticore menatap kearah Naruto yang mulai berlari dan melompat kearah puing-puing batu yang berjatuhan, Naruto menjadikan puing-puing yang jatuh sebagai tumpuan untuk melompat, Naruto mengalirkan [Mana] kekakinya dan melompat setinggi mungkin setelah sudah lebih dekat dengan Manticore Naruto langsung menebaskan katana oric miliknya keudara dan melepaskan sebuah Pedar mana Tipis yang dihandari oleh Manticore itu yang langsung terbang kesamping, Naruto menyeringai tipis...


"Lakukan, Hinata-san."


Naruto bergumam selagi ia melayang jatuh, iris shappire Naruto menangkap sosok Hinata yang terbang disamping Manticore dengan sebuah lingkaran Magic yang menyelimuti pedang indah miliknya. Hinata terbang diudara dengan menggunakan sayap malaikat yang tercipta dari [Mana] yang dipadatkan dan hal itu dibentuk Hinata hingga menjadi sebuah sayap yang membuat Hinata dapat terbang layaknya Malaikat.


"Sayat dia, Suzaku..."


Hinata dengan cepat mengayunkan pedangnya secara horizontal dan melepaskan gelombang angin tajam yang melesat kearah Manticore.


Jraasssh!


Gelombang angin yang dilepaskan Hinata berhasil memotong salah satu sayap dari Manticore dan hal itu membuat Manticore meraung dan melayang jatuh kebawah, Manticore itu menatap kearah Hinata yang telah memotong sayapnya dengan tatapan benci sebelum Manticore itu mengalihkan tatapannya pada Naruto yang melayang jatuh, Manticore yang melihat Naruto dibawahnya dengan cepat membentuk bola hitam namun kali ini dalam ukuran lebih kecil dari pada sebelumnya dan menembakan bola hitam itu kearah Naruto yang melebarkan matanya melihat bola hitam yang melesat kearahnya...


'Master!, aktifkan Magic pertahanan yang pernah kau pelajari dariku saat diperpustakaan!.'


Naruto terdiam mendengar perkataan Ophis sebelum sirkuit otaknya bergetar ketika ia mengetahui Magic yang dimaksud Ophis, Naruto mengertakan giginya ketika melihat Bola hitam berbahaya itu sudah dekat dengannya, Hinata yang melihat H(N)aruto akan terkena Bola Hitam itu mengepakan sayapnya berharap ia masih bisa menyelamatkan Naruto namun...


Duakh!


Wusssh!


Blaaaaaar!?


Naruto terhempas ketanah dengan cepat dan langsung tertelan oleh ledakan hebat, Hinata yang melihat Naruto tertelan dalam ledakan melebarkan matanya...


"Haruto-saaan!?."


''Master!?.''


.


.


.


- Celestial Manticore -


.


.


.


Disebuah tempat yang lumayan gelap terlihat Naruto tengah tergeletak tak sadarkan diri, perlahan Naruto mulai menunjukan tanda akan sadar dan benar saja perlahan kelopak matanya terbuka dan memperlihatkan iris shappire indah.


Naruto menatap keatas dimana ia melihat kegelapan yang pekat, Naruto menatap keatas selama beberapa saat sebelum ia bangkit dalam posisi duduk dan mengalihkan pandangan kesekitar selama beberapa saat lalu terdiam.


"Ini... Dimana?."


Naruto bergumam pelan sebelum ia meringis ketika sebuah ingatan melintas diotaknya, setelah beberapa saat rasa nyeri dikepala Naruto mereda...


"Begitu, aku telah terkena serangan dari Manticore itu dan setelah itu aku tidak ingat apapun lalu berakhir disini."


Naruto bergumam pelan sebelum ia menghela nafas dan bangkit lalu menepuk pantatnya yang sedikit kotor oleh debu, iris shappire milik pemuda tampan itu menatap kedepan.


"Baiklah, sekarang berada dimana kita?."


Naruto bertanya pada dirinya sendiri selagi iris shappire miliknya menatap lurus kedepan, Naruto berpikir selama beberapa saat tentang dimana ia berada sekarang sebelum ia menyerah dan memutuskan untuk mencari tahu dimana ia berada.


Naruto berjalan lurus kedepan selama menit sebelum terhenti ketika sebuah suara yang begitu lembut bergema dikepalanya.


'Master, apa kau baik-baik saja?.'


Naruto mengerutkan dahinya mendengar suara lembut itu sebelum Naruto kembali melanjutkan langkahnya kedepan ketika ia telah mengetahui siapa pemilik suara itu.


"Aku baik-baik saja, maaf sudah membuatmu khawatir, Jeanne."


'Master tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang meminta maaf sebab aku tidak bisa membantu Master sama sekali dalam pertarungan tadi.'


Naruto terdiam mendengar nada rasa bersalah dari suara Jeanne, Naruto membayangkan jika Jeanne tengah membuat wajah sedih, Naruto menghela nafas.


"Tidak, Jeanne. Kau bukan tidak bisa membantuku tapi kau belum bisa membantuku... Untuk saat ini kau memang tidak bisa berbuat banyak, tapi percayalah jika suatu saat nanti akan ada saatnya dimana aku membutuhkan bantuanmu dan saat itu tiba, aku harap kau mau membantuku, Jeanne."


Ucap Naruto dengan nada lembut membuat Jeanne yang berada didalam Mindscape miliknya tertegun mendengar perkataan lembut dari orang yang menjadi masternya, Jeanne terdiam selama beberapa saat sebelum ia tersenyum lembut.


'Master... Kini hidup dan mati, raga dan jiwaku. Aku serahkan sepenuhnya padamu. Aku, Wild of Rulers. Mulai sekarang aku bersumpah atas nama gelarku, aku akan melayanimu, aku akan menjadi perisai dan pedang hanya untukmu, My Lord.'


Naruto terdiam sebelum ia mengulas senyuman tipis mendengar perkataan atau harus disebut sebagai sumpah itu, Jeanne baru saja mengucapkan sumpah setia padanya dan dengan begitu Jeanne akan selalu berada dipihaknya dan takkan pernah berkhianat.


"Jeanne, mulai sekarang layani aku dengan baik."


'Ha'i, My Lord.'


Naruto tersenyum sebelum ia melanjutkan langkahnya dengan pelan menyelusuri tempat yang gelap itu tanpa menyadari sumpah apa yang baru saja diucapkan oleh Jeanne, sumpah dengan mengatasnamakan gelar sama saja bertaruh dengan nyawanya sendiri karena jika orang yang bersumpah melanggar janjinya maka sebuah kutukan mematikan akan menimpa orang yang melanggar sumpahnya sendiri...

__ADS_1


.


.


.


Sudah beberapa saat yang lalu Naruto berjalan menyelusuri tempat gelap itu hingga membuat Naruto sendiri mulai sedikit lelah karena berjalan tanpa henti ditempat yang tidak ia ketahui,


"Dasar tempat merepotkan..."


Naruto menghela nafas lelah sebelum pandangannya terkunci kedepan, Naruto menyipitkan matanya melihat setitik cahaya didepannya... Itu jalan keluar!.


Naruto mempercepat langkahnya menuju sumber cahaya iti dan setelah beberapa saat akhirnya Naruto sampai ditempat yang menyerupai sebuah kuil besar dengan sebuah piramida Aztec yang dikelilingi oleh batu crystal yang sangat indah dengan warna yang sangat indah yang memanjakan pandangan.


Naruto menatap kagum tempat itu yang dipenuhi Crystal cantik itu, .. Naruto berjalan mendekati salah satu Crystal indah dan menatapnya dengan pandangan kagum.


"Crystal yang sangat indah... Aku penasaran apa nama Crystal."


Naruto bergumam pelan selagi ia menatap pantulan dirinya dicrystal itu. Jeanne yang berada didalam mindscape terdiam melihat Crystal-Crystal cantik itu.


'Moonstone.'


Naruto mengerutkan dahinya mendengar gumaman dari Jeanne dikepalanya, alis Naruto bertautan.


"Moon... apa?."


'Moonstone, Master... Moonstone adalah sebuah Crystal unik yang mampu menyegel aura negatif dan positif secara bersamaan tanpa masalah sama sekali, Crystal ini dikatakan sangat langka hingga menjadi sebuah mitos di Era sekarang namun... Lihatlah disekelilingmu, Master. Tempat ini dipenuhi oleh Crystal yang melegenda itu...'


Naruto terdiam sebelum matanya menatap kesekitar dimana benar apa kata Jeanne banyak sekali Crystal Moonstone yang tersebar dimana-mana... Naruto menatap Crystal-Crystal Moonstone yang terhampar luas sejauh mata memandang, Crystal ini dikatakan sebagai legenda karena sangat langka bukan?, kalau begitu harganya juga pasti sangatlah mahal~. Naruto menyeringai tipis... Ini bisa digunakan untuk kepentingan Clannya, Naruto dengan pelan mengerakan tangannya untuk menarik katana dipinggangnya


Jeanne didalam Mindscape tengah memasang wajah cemas, kinpatsu bishoujo itu sepertinya merupakan sesuatu tapi apa?. Naruto mengenggam katana hitam miliknya dan mengambil posisi bertarung...


"Namikaze Sty-..."


Naruto menghentikan gerakan tekniknya ketika ia merasakan sesuatu yang aneh, Naruto melunakan posture bertarungnya sebelum iris matanya menatap kearah katana hitam miliknya dengan intens.


Naruto menyipitkan matanya melihat Katana miliknya terlihat bergetar pelan, sangat pelan bahkan hampir tidak bisa dilihat jika tidak teliti.


"Katana ini... Bergetar."


Deg!


Naruto tersentak kaget ketika katana dipegangannya bergerak secara tidak beraturan, Naruto mencoba menahan gerakan liar dari Katana hitam miliknya.


"Ugh, ada apa dengan Eleanor?. Kenapa dia seperti mencoba pergi kesuatu tempat..."


Naruto bergumam pelan selagi ia mencoba menahan gerakan Katana hitam miliknya, namun karena kuatnya gerakan katana hitam itu akhirnya terlepas dari genggaman Naruto dan melesat cepat menuju keatas piramida...


'Master aku rasa ada baiknya jika Master mengikuti kemana, Eleanor pergi.'


Jeanne mengungkap sarannya membuat Naruto yang menatap katana miliknya memompa mana miliknya untuk mengaktifkan Magic andalannya.


"Itulah yang ingin aku lakukan..."


[Accel]


Naruto menghentakan kakinya dengan kuat dan melesat dengan kecepatan tinggi, tatapan Naruto terkunci pada katananya yang terus bergerak cepat diudara, Naruto mempercepat lajunya ketika melihat Katana miliknya menungkik turun dan menancap disebuah Crystal Moonstone raksasa


Jleb!


Naruto menghentikan lajunya ketika ia melihat pedang katana miliknya kini telah tertancap disebuah Crystal Moonstone yang memiliki warna transparan yang begitu indah, ia dengan pelan berjalan menuju pedang katana miliknya dan mengambilnya dari batu Crystal besar itu... Naruto menatap kearah katana hitam miliknya dengan pandangan datar, kelihatannya katana ini sudah terlihat tenang, Naruto menghela nafas lelah dan berjalan meninggalkan tempat itu tanpa menyadari Jeanne yang tengah melebarkan matanya dengan sempurna


'Tidak... Mungkin...'


Naruto terus berjalan tanpa menyadari jika sepasang mata berwarna merah tengah menatapnya dengan tatapan menakutkan.


"[Hey manusia...]"


Naruto yang baru saja mengambil langkah ketiga tiba-tiba terhenti ketika sebuah suara mengetuk gendang telinga-nya, Naruto menatap kekanan dan kekiri namun tidak dapat menemukan siapapun, Naruto terdiam sebelum ia mengaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Sepertinya kekurangan tidur membuatku berhalusinasi mendengar sebuah suara aneh."


Naruto bergumam pelan sebelum ia mengangkat bahunya tak peduli dan melanjutkan langkahnya tanpa menyadari tatapan tajam dibelakangnya yang mulai tercampur oleh niat membunuh.


"[Manusia... Berani sekali kau mengabaikanku!.]"


Naruto kembali menghentikan langkahnya sebelum ia menghela nafas dan menatap datar kesekeliling, "aku tidak tahu siapa kau tapi maaf saja aku tidak ingin bermain-main denganmu, jadi keluarlah dan tunjukan dirimu padaku." Naruto terus mencari dimana asal suara itu sebelum ia tersentak ketika merasakan tatapan membunuh yang begitu pekat menusuk punggungnya, Naruto dengan pelan menoleh kebelakang dan melebarlah iris shappirenya ketika garis pandangan Naruto menangkap sepasang mata merah yang bersinar dari dalam Crystal raksasa didepannya.


Didepan Naruto saat ini terdapat sesosok raksasa dengan tubuh penuh luka disetiap inchi tubuhnya, bentuk dari sosok itu menyerupai sosok naga jahat yang menjadi sebuah legenda dimitologi persia...


"[Akhirnya kau menyadari keberadaanku, Manusia.]"


Suara berat nan menakutkan bergema diruangan itu, Naruto terdiam sebelum ia menatap kearah makhluk yang berada didalam crystal itu dengan gesture berpikir selama beberapa saat sebelum Naruto memiringkan sedikit kepalanya


"Etto... Dare?."


"[...]"


"...?."


Keheningan melanda ruangan itu, Naruto dengan polosnya bertanya pada sosok makhluk yang tersegel didalam batu Crystal moonstone itu yang hanya terdiam menatap kearahnya Naruto.


"[Kau... Tidak tahu siapa aku?.]"


Naruto terdiam sejenak sebelum ia bersedekap dada dan menatap datar kearah makhluk didalam Crystal itu, "tidak tahu dan aku tidak peduli tentang siapa kau, lagi pula memang siapa kau hingga aku harus mengetahui dirimu?." perkataan pedas itu dengan mulusnya dari mulut Naruto, Makhluk itu terdiam sebelum sepasang mata merah itu bersinar terang dan dilanjutkan dengan tempat itu yang tiba-tiba bergetar hebat.


"[Aku adalah sosok yang pernah menebar teror dibenua Britania, dan namaku adalah-, oi!?, mau kemana kau!?.]"


Makhluk itu mengubah topik pembicarannya ketika melihat Naruto yang berjalan menjauh darinya, Naruto menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang dengan pandangan datar..


"Maaf, aku tidak tertarik mendengar cerita dari makhluk yang terperangkap didalam Crystal itu."


"[Tu-Tunggu sebentar!?... Hey!, aku bilang tunggu sebentar!?. Aku peringatkan kau untuk berhenti sekarang juga!, atau aku akan... Aku akan... Hiks...]"


Naruto yang baru saja akan menuruni tangga untuk turun kebawah menghentikan langkahnya ketika ia mendengar makhluk itu mulai terisak.


"[Pa-Padahal aku... Hiks... hanya ingin mengobrol setelah sekian lama tidak ada yang datang kesini... Hiks...]"


Naruto menghela nafas dan berbalik sebelum ia duduk tepat didepan Makhluk itu dengan posisi tangan menyilang didepan.


"Baik, Baik. Aku akan menjadi teman obrolanmu, jadi berhentilah menangis..."


Ucap Naruto membuat suara isak tangis perlahan berhenti, Malhluk itu nampak menatap Naruto sejenak sebelum ia sesungguhan pelan.


"[Be-Benarkah?, kau mau menjadi teman mengobrolku?.]"


Tanya Makhluk itu, Naruto terdiam sebelum memgangguk pelan. "Ya, aku akan jadi teman mengobrolmu, jadi kau ingin membicarakan tentang apa?." tanya Naruto dengan datar.


Makhluk itu terdiam sejenak sebelum ia berdehem sejenak. [Ja-Jaa... Bolehkah jika aku bertanya sesuatu padamu... Etto...]" melihat Makhluk itu kesulitan memanggil namanya membuat Naruto menghela nafas.


"Naruto... Namikaze Naruto, dan kau?."


"[Aku?... Namaku Azi Dahaka.]"


Naruto terdiam dengan dahi berkerut... Azi Dahaka?, bukankah itu nama naga jahat dari Mitologi Irlandia, Naga yang melambangkan segala hal jahat Mitologi itu. Berbeda dengan Naruto yang bingung, Jeanne didalam Mindscape melebarkan matanya dengan terkejut.


'Azi... Dahaka... Bagaimana mungkin... Seharusnya dia sudah...'


Naruto kembali mengerutkan dahinya ketika mendengar gumaman dari Jeanne, "Jeanne?, apa kau mengenal siapa Azi Dahaka ini?." tanya Naruto lewat kontak batin yang langsung menyadarkan Jeanne dari keterkejutannya dan memasang wajah serius meskipun ia tahu jika Naruto tidak bisa melihat ekspresi wajahnya.


'Ya, aku mengenalnya lebih tepatnya sangat mengenalnya, dia... Azi Dahaka adalah Makhluk yang dikatakan menentang [Uranus Queen] dalam sebuah pertarungan... Aku tidak tahu dengan jelas seperti apa pertarungan antara mereka tapi legenda mengatakan bahwa pertarungan mereka menyebabkan bencana yang sangat besar, dan setelah pertarungan itu baik Azi Dahaka dan Uranus Queen tidak pernah terlihat lagi... Dan kenapa aku bisa mengenal Azi Dahaka karena ya... Bagaimana mengatakannya ya... Memikiki hubungan yang sedikit rumit?..'


Naruto terdiam sebelum ia mengangguk pelan mengalihkan pandangannya menatap kearah Azi Dahaka yang tengah menatapnya dengan mata merah menusuk, menyebabkan bencana besar hanya karena dua makhluk dengan nama menakutkan ini?, well dari perkataan Jeanne bisa dikatakan Azi Dahaka berada dilevel yang sama dengan seorang Black Gold atau bahkan White Gold... Entahlah.


"Baiklah, Azi-san. Kau ingin menanyakan hal apa padaku?.."


"[Umm?, Ah... Benar juga, bagaimana aku bisa lupa... Naruto, bisakah kau jelaskan bagaimana kau bisa memiliki pecahan dari diriku?.]"


Naruto terdiam dan menatap bingung Azi Dahaka. "Bagian dari dirimu?."beo Naruto.


"[Benar, bukankah pedang hitam itu kau buat dari bagian diriku, lebih tepatnya dari patahan taringku?.]"


Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap Eleanor dipinggangnya sebelum ia menarik keluar dan memperlihatkan pada dunia kegagahan dari Eleanor.


"Maksudmu, katanaku ini terbuat dari bagian taringmu?."


Naruto bergumam pelan sebelum ia menatap kearah Eleanor dengan intens, Naruto dapat merasakan pancaran energi Eleanor yang hampir, tidak sangat mirip dengan pancaran Energi dari Azu Dahaka... Naruto terdiam ketika ia mengingat perkataan Tenma-san saat pertama kali...


'ini adalah logam yang aku temukan ketika aku masih remaja, logam ini unik karena memiliki kekerasan yang sangat baik, aku menyebutnya sebagai [Black-Steel].'


... Jadi, logam hitam yang ditemukan oleh Tenma-san saat masih remaja dulu adalah bagian dari tubuh Azi Dahaka... Begitu, jadi itu menjelaskan bagaimana bisa Katana miliknya bersikap aneh ketika ia berada disekitar Azi Dahaka karena pada dasarnya bagian Katana miliknya ini ingin kembali ketempat dia berasal.


"Aku mendapatkan Katana ini dari seorang penempa besi yang merupakan kenalanku, aku tidak menyangka jika ternyata katana ini terbuat dari bagian tubuhmu, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?, apa kau akan merebut bagian tubuhmu ini dariku..."


Azi Dahaka terdiam selagi iris merahnya menatap kearah Naruto yang menatap kearahnya dengan senyuman menantang selagi tubuhnya sesekali memercikan kilatan petir yang menakutkan.


"[Tidak, aku tidak akan merebut bagian tubuhku darimu... Kau tahu, aku tidak memiliki niat tentang hal itu justru aku ingin meminta bantuanmu.]"


Ucap Azi Dahaka membuat Naruto terdiam sebelum ia melunakan posture waspada miliknya dan memasukan kembali Katana miliknya lalu iris shappirenya menatap serius Azi Dahaka.


"Bantuan apa yang kau minta?."


Tanya Naruto selagi ia menatap Azi Dahaka yang terdiam menatap Naruto dengan mata merah bersinar terang, aura gelap memenuhi ruangan itu.


"[Aku ingin kau membantuku untuk...]"

__ADS_1


Naruto terdiam mendengarkan permintaan Azi Dahaka sebelum iris mata Shappire Naruto membulat sempurna dan menatap tak percaya kearah Azi Dahaka.


"Kau... Bercanda kan?."


__ADS_2