The Worst One

The Worst One
Chapter 22


__ADS_3

Disebuah ruangan yang cukup luas, tengah terjadi sebuah perang dingin antara seorang perempuan bertubuh mungil dengan seorang kinpatsu bishoujo, kedua perempuan cantik itu saling menatap tajam satu sama lain.


"et-etto..., Minna-san, bisakah kalian ak-,"


"memang kau pikir ini salah siapa!"


"Ha'i, maaf."


Seorang pemuda bersurai pirang terlihat berusaha memenangkan kedua orang itu, namun ia malah dibentak oleh kedua gadis cantik itu, disebelah pemuda itu seorang perempuan bertubuh mungil transparan dan melayang rendah udara dengan surai putih milik-nya tertawa renyah melihat nyali pemuda itu menciut karena dibentak oleh dua perempuan didepan-nya, perempuan itu nampaknya sangat menyukai hal ini.


"[Ufufu, Naruto-san. Kau sangat dicintai, Ne.]"


Pemuda pemilik nama asli Namikaze Naruto itu tertawa miris selagi matanya menatap kearah dua perempuan yang tengah mengadu tatapan tajam bahkan Naruto sampai melihat kilatan petir yang beradu diantara mereka.


"Ya, aku senang jika aku dicintai, tapi... Bukankah ini berlebihan?."


Maria Rossfield menatap kearah Naruto dari atas sampai bawah dan yap, kondisi Naruto saat ini bisa dibilang menyedihkan sebab Naruto tengah duduk dikursi belajar dengan tubuh terikat oleh rantai berwarna ungu yang mengeluarkan kekuatan Magic yang menekan aliran [Mana] ditubuhnya... Maria menatap hal itu sejenak sebelum ia menepuk pundak Naruto dan menatapnya dengan pandangan iba.


"[Bersabarlah, ini cobaan untukmu, Naruto-san]."


Naruto tersenyum kecut, bagaimana semua ini bisa terjadi?, semua hal ini bermula ketika Ophis yang baru saja sadar dari pingsan yang diakibatkan oleh kembalinya sebagian kekuatan dan ingatan-nya melihat dirinya tengah berbicara dengan Joker, Ophis melihat keduanya berbicara dan terkadang tertawa bersama dalam candaan yang diberikan Naruto... Penasaran dengan siapa perempuan cantik bersurai pirang berkepang panjang itu, yang Ophis tahu bernama Joker, Ophispun bertanya.


"Master, siapa dia?."


Naruto dan Joker yang tengah tertawa menoleh kesamping dimana mereka melihat Ophis tengah menatap merela dengan pandangan kosong.


"Ah, Ophis. Kau sudah sadar?."


"Ummu... Seperti yang Master lihat. Master siapa dia?."


Ophis bertanya selagi ia tangan mungil-nya menunjuk kearah Joker yang menatap datar Ophis... Naruto melihat arah tunjukan Ophis dan tersenyum tipis.


"Ah, perkenalkan dia adalah Joker dan dia adalah-,"


"Pengikut setia, Master Naruto."


Perkataan Naruto terpotong ketika dengan seenak jidat-nya Joker mendeklarasikan dirinya sebagai pengikut setia-nya, dan akibat dari deklarasi Joker ruangan itu jatuh dalam hawa dingin, Ophis yang menjadi sumber dari hawa dingin diruangan itu menundukan kepalanya hingga ekspresi dari perempuan loli ini tidak dapat Naruto baca.


"Master... Apa maksudnya ini, kau memiliki pengikut baru?."


Suara dingin nan menusuk menbuat tubuh Naruto merinding hebat tanpa sebab, Naruto meringis tak jelas ketika ia melihat Ophis menatapnya dengan mata hitam kosong milik-nya, Naruto sudah beberapa kali mendapatkan tatapan kosong itu tapi tatapan kosong yang ditunjukan Ophis saat ini berbeda dari yang biasa-nya, tatapan itu terlihat menakutkan!. Ophis perlahan berjalan kearah Naruto dan setiap langkah yang Ophis ambil entah kenapa terasa seperti kematian akan mendatangi Naruto.


"Selama aku tidak sadarkan diri, kau sudah memiliki pengikut baru... Sepertinya ada banyak hal yang harus kau jelaskan, Master."


"Aku rasa tidak secepat itu."


Joker berdiri didepan dan menatap Ophis dengan pandangan datar, Ophis mendongakan kepala-nya dan menatap Joker dengan pandangan kosong.


"Kenapa kau menghalangi jalanku?."


"Sudah menjadi kewajiban pengikut untuk melindungi Master-nya, dan itulah yang saat ini tengah aku lakukan."


"Jadi... Secara tidak langsung kau ingin menantangku, begitu?."


"Menurutmu..."


"Baiklah. Aku terima tantanganmu."


Ophis dan Joker menatap tajam satu sama lain, Naruto yang melihatnya entah kenapa merasa akan terjadi sesuatu yang buruk jika kedua perempuan yang notabene-nya adalah buku terkuat milik Solomon dan Magical Beast Misterius yang bisa berkembang mengikuti Kontraktor-nya bertarung.


"A-Ano... Minna-san... Bisakah kalian tenang-, hiii!."


Naruto menjerit takut ketika Ophis dan Joker mengalihkan pandangan mereka dengan cepat dan menatap tajam Naruto, Naruto merinding ketika ia melihat kilatan menakutkan dari mata Hitam Kosong dan Dark-pink milik kedua perempuan didepan-nya.


"Master, bisakah kau duduk dikursi itu sebentar?. Ada yang harus aku bicarakan dengan perempuan ini."


"Ufufu~, usulan yang bagus, Master. Bisakah kau menuruti permintaan Chibi ini?."


"Ke-kenapa?."


"Karena kami ingin Privasi!, lakukan cepat, Master!."


"Kenapa kalian jadi kompak!?."


... Dan begitulah dirinya bisa berakhir dikursi ini dan diikat oleh rantai magic ini. Naruto menghela nafas panjang, sejujurnya ia senang melihat kedua pengikut-nya merebutkan dirinya namun menilik siapa mereka maka sudah jelas jika keduanya bertarung maka Hirozimon Academy akan menjadi puing-puing bangunan, bagaimana tidak?.


Ophis yang merupakan salah satu dari buku Ciptaan Raja Magic, Solomon. Yang kini menjadi semakin kuat dikarenakan ingatan miliknya telah kembali meskipun hanya sebagian, dan Joker, dia merupakan Magical Beast dengan kemampuan yang menakjubkan [Magia Erebea] dan [Doppelganger], menyerap dan mengambil kekuatan Magic musuh dan menjadikan milikmu lalu Magic yang bisa membuat duplikat diri sendiri... Sunggu dua makhluk luar biasa.


Naruto berharap itu tidak terjadi, dan jika terjadi maka dia akan benar-benar melakukan kerja rodi untuk membenarkan kerusakan yang dibuat oleh kedua perempuan yang mengabdi pada-nya ini, Naruto menatap kedepan dimana ia melihat Ophis dan Joker tengah mengatur nafas mereka yang tersengal-sengal, sepertinya mereka baru saja menyelesaikan perang mulut yang telah terjadi selama hampir satu jam...


"Bagaimana apa kalian berdua sudah lelah?."


Naruto berucap dengan datar membuat Ophis dan Joker menoleh kearahnya sebelum mereka mengangguk kompak, Ophis menghela nafas dan berjalan kearah Naruto lalu menatap Naruto dengan pandangan kosong yang imut.


"Master, aku lapar..."


Ruangan itu mengalami keheningan selama beberapa saat, Naruto menatap Ophis dengan mata mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya menghela nafas.


"Baiklah, akan aku buatkan sarapan, tapi lepaskan rantai ini dulu"


"Tidak bisa, Master masih dihukum."


"Lalu bagaimana aku bisa memasak sarapan untuk kalian jika aku masih terikat begini!."


"Itu mudah, gunakan saja kakimu untuk memasak, Master."


Twich.


Urat pelipis Naruto perlahan menebal, wajahnya berkedut dengan kesal, apa yang perempuan polos ini katakan?, masak menggunakan kaki?, memang dirinya seorang Acrobat profesional yang tubuh yang luar biasa dan baju ketat norak yang menunjukan setiap lekuk tubuh-nya!.


"Ophis-chan... Bisa kemari sebentar?."


Naruto tersenyum dan berusaha sekuat mungkin untuk membuat suara-nya agar terdengar selembut mungkin meskipun senyuman diwajah Naruto itu terlihat berkedut, Ophis menatap kosong Masternya sebelum ia mendekati Masternya.


"Anak pintar, sekarang dekatkan telingamu ada yang harus aku katakan padamu."


Dengan polosnya Ophis mendekatkan telinga-nya, Naruto tersenyum melihat hal itu sebelum senyuman itu berubah menjadi wajah kesal dan sedetik kemudian...


"Apa kau bodoh!, Huh...!?, mana bisa aku melakukan hal seperti memasak menggunakan kaki!, cepat lepaskan Rantai Magic ini sekarang!."


Suara cetar membahana yang Naruto keluarkan memaksa Ophis untuk memprotek telinga-nya agar terhindar dari penyakit gangguan telinga dan pecahnya gendang telinga-nya.


Naruto mendengus ketika melihat Ophis melepaskan rantai Magic yang ia keluarkan, Naruto menatap Ophis yang menundukan kepala-nya takut, Naruto hal itu selama beberapa saat sebelum ia menghela nafas dan menepuk pucak kepala Ophis hingga membuat Ophis mendongakan kepalanya dan menatap Naruto yang tengah tersenyum lembut.


"Tidak usah takut, aku tidak marah kok, aku hanya sedikit kesal saja, tapi sekarang sudah tidak, jadi jangan takut oke?."


"Ummu..."


"Anak pintar."


Naruto tersenyum melihat Ophis yang begitu penurut padanya, rasa seperti ia memiliki adik kecil yang imut..., Naruto mengelus surai hitam itu sebelum berjalan menuju dapur dan memulai membuat sarapan... Didapur Naruto mengeluarkan beberapa bahan makanan seperti telur, sayuran dan daging segar dari [Dimension Space: Magic], Naruto menatap bahan-bahan yang ia beli dalam perjalanan dari kota [Trinty] menuju ibukota kerajaan [Alvarez].


Naruto tersenyum ketika ia sudah mendapatkan ide makanan apa yang akan ia buat, Naruto mengulung lengan Blaze milik-nya dan mengambil tomat.


"Yosh, saat-nya memasak."


Setelah melakukan ini dan itu, Naruto telah menyelesaikan tiga masakan yang tertata rapi diatas piring, Naruto tersenyum sebelum ia melakukan sentuhan terakhir, Naruto dengan pelan menuangkan saus keatas piring dan Naruto tersenyum puas melihat hasil masakannya.


"Yosh! Saat-nya sarapan!."


Naruto membawa nampan berisikan tiga piring makanan. Naruto menyusun makanan itu diatas meja persegi sederhana itu dan duduk disana..., Ophis dan Joker melihat makanan didepannya dengan pandangan bingung dan penasaran bercampur jadi satu, dihadapan mereka saat ini terdapat Omelet rice, makanan simpel yang mudah dibuat dan dikreasikan sesuai selera.


"Master, makanan apa ini?."


Naruto tersenyum dan tertawa kecil mendengar pertanyaan kompak Ophis dan Joker, ya, mungkin didunia ini makanan simpel seperti ini tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


"ini adalah masakan hasil kreasiku, Omelet Rice. Cobalah aku cukup yakin ini enak."


Selagi mengatakan Naruto mengambil sendok dan memasang gesture berdoa, Ophis dan Joker menatap kearah Master mereka sebelum mereka mengambil sendok dan memasang Gesture berdoa seperti Master-nya.


"Itadakimasu"


Naruto mengambil sendokan pertama sebelum ia memasukan makanan itu kemulutnya, dan senyuman tipis pun terpatri diwajah Naruto.


"Ya, ini enak. Kalian bisa mencoba-nya."


Ucap Naruto selagi ia terus memasukan Omelet Rice kemulutnya dengan tenang, Ophis dan Joker menatap kearah Master mereka sebelum dengan ragu-ragu mereka berdua mengambil sesendok Omelet Rice dan memakan-nya dengan ragu...,


Haup!


Haup!


Ophis dan Joker mengunyah makanan itu dengan mata yang terpejam sebelum mata mereka terbuka lebar ketika rasa luar biasa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya menyebar keseluruh mulut mereka, dan memanjakan lidah mereka, Ophis dan Joker menatap kearah Omelet Rice didepan mereka mulai makan dengan lahap, Naruto tersenyum melihat kedua perempuan yang mengabdi pada dirinya ini menikmati makanan yang ia buat dengan wajah gembira, bagi seorang koki melihat wajah puas dari pelanggan-nya adalah bayaran yang tak tergantikan, dan itulah yang saat ini tengah Naruto rasakan.


"[Ano... Naruto-san... Bolehkah aku?.]"


Naruto menoleh kearah Maria yang terlihat ingin sekali merasalan Omelet Rice buatan-nya, Naruto tersenyum dan mengangguk membuat senyuman senang terpatri diwajah Maria yang langsung melayang dan perlahan memasukan setengah tubuhnya kedalam tubuh Naruto... Ini adalah hal biasa yang dilakukan Maria saat dirinya yang notabene-nya adalah hantu yang tidak memiliki bentuk fisik jika ingin merasakan benda didunia nyata, dengan katalain Maria melakukan hal ini untuk berbagi pancaindra dengan Naruto.


Setelah menyelesaikan sarapan, terlihat wajah puas pada Ophis dan Joker, mereka puas dengan rasa yang diberikan oleh masakan yang dibuat Master mereka.

__ADS_1


"Tadi itu menakjubkan, aku belum pernah merasakan makanan seenak itu."


"Ummu, rasa masakan itu masih tertinggal dimulut, sungguh pengalaman yang menyenangkan."


Joker dan Ophis berkomentar layaknya seorang pencicip makanan profesional, Naruto tersenyum mendengar perkataan dari Joker dan Ophis sebelum ia mengambil tas dan pergi menuju pintu.


"Kalian bertiga, jaga tempat ini, aku pergi dulu."


"Ya! Hati-hati Master / [Naruto-san]."


-change scene-


Naruto kini tengah berjalan dengan santai selagi iris shappire miliknya menatap datar kedepan, sudah hampir tiga bulan kah... Ya, sudah hampir tiga bulan berlalu semenjak Naruto menerima tantangan dari Jiraiya, tantangan yang membuat-nya menjadi kuat dan terlibat dengan banyak hal luar biasa didunia ini.


Pergi kereruntuhan kuno untuk mencari Artifak yang bisa mempercepat latihan perkembangan [Mana] Naruto, perjalan itu tadinya berjalan mulus sampai Assassin muncul dan mengacaukan semua itu, Assassin dari serikat balam itu berniat menculik dan menjadi Senju Kyubi sebagai boneka mereka lalu mengontrol distribusi tanaman herbal yang merupakan lahan bisnis dari clan Senju.


Naruto harus turun tangan dan menderita luka yang cukup berat ketika ia berhadapan satu lawan satu dengan Leader Assassin D, yang berhasil ditutup dengan kemenangan Naruto atas pertarungan melawan D dengan menumpas D menggunakan [Namikaze Secret Technique: Seiryuu].


Lalu tepat disaat dirinya kembali tiba-tiba ia terseret oleh salah satu dari Seven Urband Legend in Hirozimon Academy yang bangkit dan meneror kembali Hirozimon, [Shadow The Ripper]. Naruto dan dua teman-nya dalam Club yang sama harus memeras otak mereka untuk memecahkan teka-teki misteri dari [Shadow The Ripper] dan hasilnya mereka hampir memecahkan teka-teki itu dan pada puncak-nya Naruto dan Tobio harus mati-matian melawan Maria demi menyelamatkan Asama Miya yang diculik untuk menjadi wadah untuk roh Maria, beruntung Naruto berhasil menang melawan Maria yang dimenangkan dengan cara [Promise].


Dan setelah itu, Naruto kembali melakukan ekspedisi untuk mencari kota kuno Ligodorian ditengah gurun panas, disana Naruto dikejar oleh [Viper Desert] Magical Beast Rank Emas yang berniat memakannya, setelah melarikan diri selama beberapa saat akhirnya Naruto menemukan jalan keluar agar terbebas dari Magical Beast itu, Naruto mengiring Magical Beast berbentuk ular kaktus itu kearah Magical Beast rank emas dan membuat kedua Magical Beast itu bertarung satu sama lain


Namun karena Nasib sial yang terus mengikuti Naruto membuat Naruto bertemu dengan perempuan yang paling dibenci olehnya, Gabriel. Pertemuan tak terduga itu membuat Naruto harus terlibat dengan Gabriel sampai dirinya menemukan Ligodorian, dimana disana mereka berdua bekerja sama untuk membunuh Magical Beast Rank Black-Gold, Chimera. Lalu keduanya menemukan ruangan harta tepat didepan mereka, namun nasib sial Naruto masih berlanjut ketika ia harus dipaksa melawan Roh Petir Level tertinggi, Ruin Iskhur... Naruto berhasil dikalahkan hanya dengan satu kali serangan dari Ruin Iskhur dan langsung tak sadarkan diri.


Ketika sadar Naruto bertemu dengan Magical Beast Rank Steel l kedua-nya menjalin kontrak setelah beberapa kali bertukar percakapan, dan Naruto harus menangis dalam hati sebab Magical Beast yang telah menjalin kontrak dan bergabung dengannya ternyata adalah seorang Kinpatsu Bishoujo bernama Joker.


Joker memberikan Naruto kemampuan yang menurut Naruto sangatlah luar biasa, dengan kemampuan pemberian Joker, Naruto berhasil mengalahkan Ruin Iskhur setelah melalui pertempuran antara hidup dan mati yang cukup alot...


Naruto tersenyum mengingat semua itu, dirinya kini telah berkembang cukup pesat, mungkin pertaruhannya dengan Jiraiya adalah takdir yang membuatnya berkembang menjadi lebih kuat, senyuman Naruto berubah menjadi seringai ketika ia mengingat percakapan dirinya dengan joker semalam.


.


.


.


'Master, ada yang ingin aku bicarakan, bisakah kita bertemu dialam bawah sadar, Master.'


Naruto yang tengah menyelimuti Ophis yang masih tak sadarkan diri akibat kepingan ingatan-nya yang dengan tiba-tiba muncul dan memberikan rasa sakit yang luar biasa untuk Ophis hingga perwujudan dari buku tanpa batas itu belum sadarkan diri.


"Boleh, baiklah aku akan segera kesana..., selamat malam Ophis-chan."


Naruto tersenyum selagi tangannya membenarkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah imut Ophis, Naruto tersenyum lagi sebelum ia berjalan menuju sudut ruangan dan segera melakukan meditasi...


-Mindscape-


"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku, Joker."


Naruto menatap Joker yang tengah tersenyum manis, well, senyuman itu sungguh manis hingga bisa menyebabkan diabetes, tapi kesampingkan tentang senyuman manis itu, Naruto penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Joker.


Naruto menaikan satu alisnya ketika melihat senyuman manis itu perlahan luntur dan berubah menjadi wajah serius yang menyeramkan.


"Master, aku harap Master tidak terlalu sering menggunakan [Magia Erebea: Raiten Taiso] milik Master."


Naruto mengerutkan dahinya dengan bingung, tidak boleh menggunakan [Raiten Taiso], apa alasan Joker mengatakan larangan ini?.


"Apa alasanmu mengatakan hal ini?, kenapa aku tidak boleh menggunakan [Magia Erebea: Raiten Taiso]?."


Tanya Naruto menyipitkan matanya menatap Joker yang terdiam sebelum menatap kearah Masternya dengan serius.


"Sebab, jika Master menggunakan [Magia Erebea: Raiten Taiso] Master akan mendapatkan banyak masalah..."


"Perlu Master ketahui, Roh yang Master lawan dikota Ligodorian, Ruin Iskhur adalah Roh dengan Kapasitas [Mana] yang setara dengan seorang Wizard Rank [Black Gold: IX]!, artinya Roh itu sangatlah kuat!... Dan satu hal lagi saat Master mengaktifkan [Magia Erebea: Raiten Taiso] Master bisa bertarung seimbang dengan Ruin Iskhur bahkan Master mampu mengalahkan-nya, katakan apa yang akan terjadi jika Master mengaktifkan [Magia Erebea: Raiten Taiso] dihadapan banyak orang?. Apa yang akan terjadi, Master pasti akan mendapatkan banyak masalah, seorang Knight memiliki kekuatan yang setara dengan Ruin Iskhur... Itu akan menjadi hal yang sangat merepotkan bayangkan itu, Master."


Naruto meringis ketika ia mendapatkan ceramah panjang Lebar dari Joker, jika dipikirkan ulang maka Naruto harus setuju dengan Joker, seorang Knight yang menyandang gelar pecundang sepanjang sejarah tiba-tiba memiliki kekuatan untuk menyeimbangi Makhluk Legendaris seperti Ruin Iskhur?, hell... Itu tidak lucu, apa yang akan terjadi?, Naruto akan diangkat menjadi jendral kerajaan?, atau malah dijadikan ksatria khusus untuk tuan purti kerajaan [Alvarez]?... Naruto tertawa miris.


"Setelah kau mengatakan itu aku rasa hal merepotkan akan terjadi aku menggunakan [Magia Erebea: Raiten Taiso], tapi... joker, apa kau yakin hanya itu alasanmu?, tidak ada hal lain yang kau sembunyikan dariku?."


Tanya Naruto dengan wajah serius selagi iris Shappire Naruto menatap penuh selidik kearah Joker yang mengalihkan pandangan-nya tidak ingin membalas tatapan Naruto.


"Katakan... Apa ada alasan lain yang kau sembunyikan dariku, Joker."


"Kuuh, aku tidak bisa menyembunyikan-nya darimu, Master. Baiklah, alasan sebenarnya adalah, tubuhmu tidak bisa bertahan lama dalam mode [Magia Erebea: Raiten Taiso], untuk saat ini batas waktu penggunaan [Magia Erebea: Raiten Taiso] hanya 32 detik dan jika Master memaksakan diri maka tekanan dari [Magia Erebea: Raiten Taiso] akan menghancurkan Inti [Mana] master dan singkat-nya Master akan mati."


Naruto melebatkan iris matanya, 32 detik?, itu terlalu singkat!, bahkan terlalu singkat dari [Limit Burst]!, dan juga Resiko-nya lebih parah daripada [Limit Burst]... Tapi, entah bagaimana Naruto paham kenapa hal itu bisa terjadi, jika Boleh jujur [Magia Erebea: Raiten Taiso] merupakan Magic yang sangat luar biasa, kekuatan, kecepatan dan ketangkasan Naruto meningkat menjadi beberapa puluhan kali lipat!, jadi jika resiko-nya adalah kematian maka itu harga yang sepadan... Naruto terdiam ketika ia tiba-tiba menyadari sesuatu dan menatap cepat Joker.


"Tunggu apa tadi kau bilang 'untuk saat ini' apa itu artinya suatu saat nanti aku bisa menggunakan [Magia Erebea: Raiten Taiso] untuk waktu yang lama, begitu?."


Tanya Naruto membuat Joker mengulas senyuman tipis, dan perlahan ia mengangguk, "ya, jika Master terus berkembang menjadi lebih kuat maka tidak menutup kemungkinan Master bisa memakai [Magia Erebea: Raiten Taiso] dalam waktu berjam-jam... Jadi berjuanglah dengan keras, Master." ucap Joker, Naruto tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai.


"Begitu, baiklah aku akan berlatih keras dan targetku adalah 5 menit!, oleh karena itu mohon bantuan-nya, Jeanne!."


Joker mengerutkan dahinya bingung mendengar nama yang diucapkan Master-nya, Naruto langsung tersadar ketika ia menyebutkan nama Jeanne hal itu membuat Naruto menjadi salah tingkah sebelum tersenyum kikuk dan mengaruk pipi-nya yang tak gatal.


"Ah, maaf, aku pikir namamu itu rada aneh untuk perempuan manis sepertimu, kau tahu nama Joker itu tidak terdengar manis jadi aku memikirkan nama lain untukmu dan Jeanne terdengar cukup manis bukan?."


Ucap Naruto dengan cengiran khasnya, tidak mendapatkan Respon dari Joker Narutopun membuka matanya dan seketika iris Naruto melebar ketika iris Dark pink Joker mengeluarkan air mata yang meluncur bebas menuruni pipinya.


"Jo-Joker... Kenapa kau menangis?, apa kau tidak suka dengan nama itu?."


Joker memasang senyuman manis sebelum ia mengeleng pelan selagi ia menghapus air mata yang membasahi pipi-nya dengan lembut.


"Tidak, Master. Aku menangis bukan karena itu, aku hanya senang ketika Master memberiku sebuah nama yang indah, Jeanne... Nama itu akan aku pakai, terimakasih Master."


Naruto tersenyum melihat wajah bahagia Jeanne, dari buku yang ia baca diperpustakaan dulu, ada teori yang mengatakan jika Magical Beast akan semakin setia ketika Master-nya memberikan sebuah nama untuk Magical Beast yang memiliki kecocokan tinggi seperti dirinya dan Joker, Naruto tidak menyangka jika hal itu benar... Sepertinya membaca buku itu tidak sia-sia.


Naruto tersenyum lembut dan menepuk surai pirang indah Joker atau sekarang bernama Jeanne membuat sang empu-nya menatap Naruto dengan mata masih berkaca-kaca.


"Mohon bantuan-nya dari sekarang, Jeanne..."


"Ha'i, aku akan berjuang, Master."


Dan hari itu, Naruto melihat senyuman yang sangat indah yang dikeluarkan oleh Jeanne.


.


.


.


Naruto mempelebar seringai-nya ketika mengingat hal itu, jika ia memasuki mode [Magia Erebea: Raiten Taiso] maka sudah dapat dipastikan diseluruh Academy dirinyalah yang terkuat... Naruto tertawa tipis sebelum tawa itu terhenti ketika seseorang menepuk bahu Naruto.


"Yo, Naruto-kun, apa kabar?."


Naruto yang mendengar suara ini terdiam, suara familiar ini sudah pasti milik... Naruto menoleh kebelakang dan senyuman tipispun terpatri diwajah Naruto ketika melihat dihadapan-nya, seorang pemuda berambut hitam dengan gaya mangkok, mata seperti coin dengan iris hitam legam, juga senyuman khas miliknya tak pernah lepas dari wajah-nya.


"Yo, Lee... Aku baik... Bagaimana dengan dirimu?."


"Seperti biasa, semangatku terus meledak-ledak!, aku berlatih dengan semangat setiap hari dan kau tahu, Naruto-kun. Kemarin aku baru saja mendapatkan seorang guru yang bersedia melatihku secara khusus."


"Wow, benarkah?, itu luar biasa Lee!."


Naruto berucap dengan kagum, ia kagum pada Lee karena kawan seperjuangan-nya itu telah mendapatkan seorang guru yang bersedia melatih pecundang seperti Lee secara sukarela, Naruto tersenyum miris, selama ini Naruto hanya berlatih secara otodidak dan dirinya yakin jika latihan yang ia lakukan selama ini memiliki kekurangan dibeberapa bagian dan itulah kenapa ia membutuhkan seseorang yang memiliki pengalaman yang lebih luas dari-nya untuk mengajari dan mengoreksi jika ada yang salah dari caranya berlatih.


"Kau beruntung, Lee. Kau memiliki seseorang yang akan menuntunmu menjadi lebih kuat, sedangkan aku?, aku selalu melakukan latihan sendiri."


Lee menatap Naruto yang tersenyum kecut dengan pandangan sedih, bisa dibilang sekolah ini sendiri memperlakukan mereka yang cacat dan tidak berbakat seperti Naruto dan dirinya dengan sangat berbeda, hanya beberapa guru yang tidak memandang mereka sebagai aib sekolah yang akan dengan senang hati mengajari mereka... Ibiki-sensei dan satu orang lagi yang sekarang Lee hormati adalah sedikit dari banyaknya guru yang tidak memandang 'siapa dirimu' melainkan 'apa dirimu'... Lee menepuk pundak Naruto dan tersenyum.


"Naruto-kun, aku berlatih keras untuk mengejarmu, untuk memenuhi janji yang telah kita buat, kau dan aku memiliki hutang yang harus kita selesaikan, karena itu hanya karena aku memiliki guru pembimbing bukan berarti kau akan lebih lemah dariku, malah kenyataan-nya Naruto-kun, kau jauh lebih kuat dariku, dan itu atas usahamu sendiri, jadi berbanggalah akan hal itu."


Naruto tertegun mendengar perkataan Lee, sahabat-nya ini rupanya bisa juga mengatakan kata-kata yang luar biasa seperti itu, Naruto tersenyum tipis.


"Ya, aku akan menjadi lebih kuat lagi, dan kita berdua pasti akan..."


"... Pasti akan..."


"berdiri dipuncak!?."


- Change Scene -


Naruto menatap dingin kedepan, ini sudah jam kelas dimulai dan saat ini guru yang mengajar telah hadir, alasan kenapa Naruto menatap dingin kedepan adalah karena guru yang saat ini mengajar adalah orang yang mengadakan perjudian dengan dirinya.


Jiraiya...


Naruto tahu jelas siapa Jiraiya ini, salah satu orang dari tiga orang yang dikenal sebagai densetsu no sannin, soal kemampuan yang dimiliki-nya tidak perlu dikatakan lagi, dia adalah seorang Knight yang sangat dihormati dinegara ini sebab dia adalah satu-satunya Knight yang sanggup bertempur melawan Wizard ditingkat yang sama dengan-nya, ya... Jiraiya sanggup melawan Wizard yang berada ditingkat [Black-Gold]. Sungguh sesuatu yang sangat membanggakan...


"Cih..."


Naruto berdecih sebelum ia melipat tangannya dan berniat untuk tidur namun saat ia akan menaruh kepala-nya dilipatan tangan sesuatu tiba-tiba melesat dengan cepat kearah Naruto... Merasakan bahaya Naruto dengan refleks bagus langsung memiringkan kepala-nya dan membiarkan sesuatu itu melesat dirinya dan menancap di dinding...


Naruto melirik kearah belakang dan ia melihat sebuah kapur tengah tertancap di-dinding, Naruto menatap datar hal itu sebelum ia menatap kearah Jiraiya yang baru saja melempar kapur itu kearahnya dengan pandangan dingin.


"Jiraiya-sensei... Apa anda ingin membunuhku?."


Suara dingin tanpa nada itu membuat orang yang ada disekitar Naruto merinding hebat, suara itu entah kenapa begitu menusuk... Jiraiya menurunkan tangan-nya dan menatap Naruto dengan datar.


"Aku hanya melakukan pendisplinan disini, dan Namikaze-kun, apa kau tidak menyadari jika kau telah berbuat salah..."


Naruto terdiam mendengar nada bicara Jiraiya yang menyimpan ancaman didalamnya, Naruto menatap Jiraiya datar.

__ADS_1


"Jika kita berbicarakan tentang kesalahan, berdasarkan peraturan academy, Guru dilarang keras untuk melukai murid secara fisik, dan yang baru saja anda lakukan adalah sebuah tindakan yang mengacu pada kekerasan fisik, jadi Jiraiya-sensei bisakah anda jelaskan siapa yang berbuat salah disini?."


Semua yang ada didalam kelas nahan nafas ketika mendengar Counter Attack Naruto dalam perang Verbal dengan Jiraiya, sih Worst One, berani menentang Wakil kepala sekolah, Naruto tidak menyadari tatapan seluruh murid dan hanya fokus pada Jiraiya yang terdiam...


"Dan... Aku yakin Tsunade-Kouchou tidak akan senang mendengar hal ini, bukankah benar begitu, Jiraiya...sensei."


Naruto memberikan tatapan yang begitu dingin pada Jiraiya yang hanya dapat terdiam melihat Naruto, Jiraiya dapat melihat dengan jelas tatapan dingin yang ditunjukan oleh Naruto... Tatapan itu sama seperti orang itu...


"Baiklah, lupakan itu, aku secara khusus meminta maaf atas caraku yang salah dalam memberikan teguran, tapi Namikaze-kun, kau juga salah karena tidak memperhatikan pelajaran yang aku berikan. Bukankah kedua orang tuamu telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk menyekolahkan dirimu disini, Namikaze Naruto-kun."


Kali ini Naruto yang dibuat terdiam, benar apa yang dikatakan Jiraiya, untuk bisa bersekolah ditempat elit ini dibutuhkan biaya yang tidak sedikit... Mungkin dirinya juga ambil andil dari memburuknya kondisi Ekonomi Clan Namikaze, Naruto mengepalkan tangan-nya selama beberapa saat sebelum melemas dan dengan perlahan Naruto bangkit dari kursinya lalu menatap datar Jiraiya.


"Maafkan aku telah berlaku tidak sopan pada anda, Sensei."


Naruto menundukan kepala-nya, sebenarnya Naruto tidak ingin melakukan hal ini tapi ia harus melakukannya, anggap saja ia melakukan ini demi Clan-nya. Jiraiya tanpa disadari siapapun tersenyum kecil sebelum senyuman itu lenyap.


"Baiklah, jangan ulangi lagi... Kalian teruskan pelajaran."


Naruto menegapkan tubuhnya sebelum ia menatap kearah Jiraiya dan duduk kembali dikursinya... Jiraiya tersenyum tipis sebelum ia berjalan menuju papan tulis yang luar biasa besar itu.


"Baiklah, kita lanjutkan bagi seorang Knight berdiri digaris depan adalah harga mati, berbeda dengan wizard yang hanya bisa lempar Magic kesana-sini, seorang Knight dituntut untuk melindungi garis depan!, oleh karena itu meskipun Knight tidak bisa menggunakan Magic tapi kita para Knight dipercayakan untuk menjaga kerajaan ini dari para musuh yang menginginkan kehancuran kerajaan ini... Apa kalian tahu kenapa?."


Jiraiya mengatakan itu selagi ia berjalan menuju meja yang terbuat dari kayu itu dan menatap kearah para Knight yang terlihat bingung. Jiraiya tersenyum tipis melihat kebingungan mereka.


"Sebab jumlah kita lebih banyak daripada Wizard... Karena jumlah kita lebih banyak dari para Wizard membuat kita dipercayakan berdiri digaris depan, sementara Wizard selalu berada digaris belakang... Dan juga hal itu berkaitan dengan kelemahan para Wizard... Apa ada yang tahu kenapa?."


Tanya Jiraiya, Naruto menatap kearah Jiraiya dan sebelum memgalihkan pandangan-nya dan sial-nya Jiraiya melihat hal itu dan menyeringai tipis.


"Namikaze-kun, bisa kau jelaskan kenapa hal itu bisa terjadi?."


Sial...


Naruto mengalihkan pandangannya sebelum menatap Jiraiya dengan tatapan datar, Naruto menghela nafas, ini akan merepotkan.


"Alasan-nya simple, Mantra... Wizard memerlukan mantra untuk mengaktifkan Magic, semakin kuat Magic yang ingin dikeluarkan oleh seorang Wizard maka akan semakin panjang dan rumit Mantra yang akan dirapalkan, dan ketika Wizard merapalkan Mantra mereka dituntut untuk fokus sebab jika sedikit saja mereka kehilangan konsentrasi maka Magic akan gagal dilakukan dan karena hal itu juga saat merapal Mantra, seorang Wizard akan menjadi santapan empuk..."


Semua yang mendengar perkataan Naruto terdiam sebelum seorang siswa berdiri dan menatap kearah Naruto, hal itu membuat seluruh perhatian tertuju pada siswa itu.


"Namikaze-san, aku ada hal yang ingin disampaikan, tadi kau menyebutkan jika kelemahan pada Wizard terletak pada saat merapalkan Mantra bukan?, tapi ada beberapa Wizard yang hanya membutuhkan waktu singkat untuk mengaktifkan Magic, dan hal itu tidak bisa dipungkiri jika Wizard adalah kekuatan yang tak bisa dikalahkan oleh mereka yang tidak bisa menggunakan Magic seperti Divisi Knight."


Naruto menatap kearah pemuda itu sebelum tersenyum remeh, Naruto menaruh sikunya diatas meja dan menaruh dagunya diatas telapak tangan-nya.


"Kau tahu, kau baru saja merendahkan derajatmu sebagai seorang Knight dengan omong kosongmu barusan... Setelah mendengar perkataanmu barusan, aku jadi semakin yakin jika sebagian besar dari murid dikelas ini menyesal karena tidak memiliki bakat pada Magic dan menjadi putus asa hingga merendahkan harga diri kalian sebagai Knight, betapa memalukan-nya..."


"Ap-Apa!."


"Be-Beraninya kau!."


Kelas itu tiba-tiba ricuh akibat perkataan Naruto yang terdengar kejam itu, Jiraiya yang melihat situasi tidak kondusif mengebrak Meja dan hal itu membuat kelas jatuh dalam keheningan. Setelah tenang Jiraiya menatap Naruto dengan pandangan datar.


"Namikaze Naruto... Apa kau memiliki alasan kenapa kau mengatakan hal itu?."


Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap kearah Jiraiya dan mendengus pelan.


"Alasan ku sederhana, karena menurutku Knight lebih hebat daripada Wizard... Seperti yang sensei tahu, Wizard unggul karena Magic, namun kita sebagai Knight unggul dalam banyak hal... Pertama kita dapat terus menyerang tanpa harus membaca mantra panjang dan rumit, kedua kita memiliki ketangkasan, kecepatan, dan kekuatan yang lebih tinggi dari Wizard buah hasil dari latihan fisik kita, ketiga kita memiliki responsif tinggi dibandingkan wizard sebab kita akan selalu berada digaris depan dimana nyawa kita bisa melayang kapan saja..., dan hal itu membuat Knight lebih diunggulkan dimedan perang."


Jawaban dari Naruto seketika membuat ruangan itu hening termasuk Jiraiya yang tidak menduga jawaban yang diberikan Naruto akan sejelas itu..., Jiraiya menatap Naruto dan kembali bertanya.


"Namikaze-kun, jika seandai-nya kau berada disituasi dimana kau akan melawan seorang Wizard kuat, maka apa yang akan kau lakukan?."


Tanya Jiraiya membuat semua murid memberikan tatapan penasaran yang terarah pada Naruto yang hanya bisa menghela nafas dan bersedekap sebelum menatap datar kedepan.


"Jawaban-nya mudah, aku akan mengalahkan-nya sebelum ia sempat merapalkan mantra dengan serangan cepat, dan jika tidak bisa aku kalahkan dengan serangan cepat, maka aku akan menganggu Wizard itu agar dia tidak bisa merapalkan mantra, dan jika tidak bisa juga maka aku akan menganalisa gaya bertarung Wizard itu, mempelajari setiap pola serangan-nya dan mencari titik lemah lalu menghabisi-nya."


Ucap Naruto selagi iris shappire-nya menatap Jiraiya yang terdiam dengan datar sebelum perlahan tubuh Jiraiya bergetar dan sedetik kemudian tawa keras meledak dari Jiraiya...,


"Menarik!, jawaban yang tidak terduga Namikaze-kun!."


Naruto yang melihat Jiraiya tertawa menatap aneh knight tua itu, tanpa Naruto sadari seluruh Murid disana menatap kagum kearah Naruto yang saat ini menganggap tawa Jiraiya tidak menarik dan lebih memilih menatap kearah jendela. Arthur yang ada dibagian depan kelas membenarkan letak kacamata-nya selagi sebuah senyum terpatri diwajahnya.


"Yare, Yare..."


Disudut kelas lebih tepatnya dibagian paling belakang sebelah kanan seorang pemuda tengah menatap Naruto dengan pandangan kagum... Namun Naruto tidak menyadari hal itu dan masih menikmati langit indah berhiasakan awan yang bergerak dengan bebas.


-change scene-


"Ha'i, ini dia Tehmu, Naruto-san."


"Terimakasih, Miya-san."


Naruto menerima cangkir berisikan teh yang diberikan oleh seorang perempuan bersurai ungu panjang dengan pony yang menutupi mata indah milik perempuan itu, Asama Miya, adalah nama asli dari perempuan itu, dan satu hal lagi,dan Miya adalah seorang Fuku-Taichou diclub yang dimasukin Naruto...


Naruto menikmati aroma menenangkan yang menguar dari cangkir teh-nya sebelum ia meniup uap panas yang mengepul dan menyesap teh itu...


"Ah~, enak seperti biasa, Miya-san."


"Ufufu~, senang kau menyukai-nya, Naruto-san... Ha'i, Tobio ini tehmu."


Miya menyerahkan cangkir berisi teh panas kepada seorang Ikemen bersurai hitam yang tengah menatap serius kearah buku didepan-nya, iris hitam itu terkunci pada buku yang sedaritadi ia baca... Naruto meletakan cangkir teh milik-nya dan menatap kearah pemuda yang menjadi Taichou dalam Club ini, seorang Ikemen bernama asli Ikuse Tobio.


"Tobio, apa yang sedang sedaritadi kau baca?."


"Uhm?... Ah, ini... Ini adalah buku yang memuat tentang tiga belas senjata pembunuh tuhan, Longinus. Aku secara kebetulan menemukan buku ini diperpustakaan sewaktu kita memecahkan teka-teki [Maria Rossfield]."


Ucap Tobio tanpa mengalihkan pandangannya dari buku, Naruto menatap aneh Tobio yang tengah membalik halaman buku itu, bukankah kau baru saja mencuri?... Naruto menghela nafas sebelum ia mengambil teh miliknya dan menyesapnya.


"Ah~, jadi?, apa yang kau dapatkan dari buku itu, Tobio."


"Tidak, banyak... Buku ini hanya menjelaskan nama-nama dari Ketiga belas Longinus yang pernah muncul sepanjang sejarah..."


"Heh~, begitukah?... Keberatan jika aku meminjam-nya sebentar?."


Tanya Naruto, Tobio terdiam sebelum ia mengangguk dan menyerahkan buku itu, Naruto menerima buku itu dan membuka-nya, iris shappire Naruto menatap setiap kalimat yang terletak disana...,


"Etto... Mari kita lihat... Uhm... [True Longinus], [Zenith Tempest], [Annihilation Maker], [Dimension Lost], [Boosted Gear], [Divine Dividing], [Regulus Nemea], [Canis Lykaon], [Sephiroth Graal], [Incinerate Anthem], [Absolute Demise], [Innovate Clear], [Telos Karma]... Well, nama-nama yang cukup indah untuk sebuah senjata yang mampu memghancurkan dunia..."


Naruto bergumam dan menutup buku itu lalu menyerahkan kembali pada Tobio yang menatap kearah Naruto dengan tatapan bingung sebelum ia mengangkat bahu tak peduli.


"Lupakan tentang [Longinus]. Naruto kau tahukan jika sebentar lagi akan ada check up [Mana]."


"Iya, aku tahu... Memang ada apa dengan hal itu?."


Tanya Naruto selagi ia menyesap teh miliknya, Tobio melirik sebentar kearah Miya yang ada disudut ruangan dalam posisi seiza sebelum Miya mengangguk pelan, Tobio mengangguk dan menatap kearah Naruto yang tengah mengelus kepala dari seekor anjing berwarna hitam dengan mata merah, Jin?... Tobio mengerutkan dahinya melihat anjing peliharaan-nya terlihat akrab dengan Naruto, biasa-nya Jin tidak bisa akur dengan orang asing namun nampaknya hal itu tidak berlaku untuk Naruto. Tobio mengabaikan hal itu dulu sebelum ia menatap serius, Naruto.


"Berdasarkan hal itu, aku dan Miya telah sepakat jika kami akan mengadakan Camp pelatihan untuk Club penelitian Alam..."


"Uhm?, lalu apa masalah-nya kita lakukan saja?."


Naruto berkata seperti itu selagi dahinya berkerut bingung, Tobio dan Miya menghela nafas kompak dan itu semakin membuat Naruto bingung.


"Masalahnya kita kekurangan orang, dibutuhkan minimal lebih dari 3 orang dan seorang pembimbing untuk bisa mendapatkan ijin untuk mengadakan Camp Pelatihan, namun seperti yang kau lihat kita kekurangan orang..."


Naruto mengerutkan dahinya, memang benar jika mereka kekurangan karena jumlah mereka hanya ada tiga orang plus seekor anjing dan hantu yang saat ini tengah melakukan hibernasi didalam cermin yang ada disudut ruangan.


"Maa... Ini masalah serius, kau tahu."


"Ano..."


Naruto, Tobio dan Miya yang tengah terlarut tiba-tiba mengalihkan pandangan mereka kearah pintu dan mereka disana melihat seorang pemuda tampan dengan rambut hitam pendek dengan iris hitam senada dengan rambutnya...


"Uhm?, ada yang bisa kami bantu?."


"Ano... Bisakah aku bergabung dengan club ini?."


Tanya pemuda itu selagi mata-nya sesekali melirik kearah Naruto yang tak menyadari hal itu, Naruto dan Miya melirik satu sama lain sebelum mereka mengangguk dengan senyuman bahagia diwajah mereka... Namun berbeda dengan Tobio yang menyeringai.


"Tentu saja, tapi untuk bisa masuk keclub ini kau harus-, Gufu!."


Tobio tidak bisa menyelesaikan perkataan-nya karena Naruto dengan cepat menghantam perut Tobio hingga membuat Tobio memuntahkan air liur...


"Uhuk, Uhuk!..., kau harus-, Miya!, apa yang kau lakukan!, leherku!, leherku patah!, patah!. *krak!*... Ghaaa!?."


Pemuda yang berdiri didepan pintu sweatdrop melihat keunikan dari ketiga orang didepan-nya... Naruto dan Miya mendengus pelan setelah berhasil melumpuhkan Tobio, mereka melakukan tos sejenak sebelum kedua orang itu menatap kearah pemuda yang berdiri didepan pintu.


"Jadi, kau ingin masuk keclub ini bukan?."


Pemuda itu mengangguk dengan sweatdrop yang masih menempel dikepalanya. Miya tersenyum dan mempersilahkan orang itu masuk.


"Kalau begitu perkenalkan namaku adalah Asama Miya, panggil saja aku, Miya. Aku adalah Fuku-Taichou diclub ini, dan dia yang tergeletak disana adalah Taichou diclub ini dan namanya adalah Ikuse Tobio...,"


"Dan aku adalah Namikaze Naruto. Panggil saja, Naruto. Aku anggota diclub ini... dan karena kami sudah memperkenalkan nama kami, bisakah kau memperkenalkan namamu dan apa alasanmu ingin masuk kedalam Club ini?."


"Ah!, maaf sebelumnya, aku lupa memperkenalkan namaku.."


Pemuda itu berdiri dengan gugup sebelum ia dengan cepat menundukan kepala-nya.


"Namaku adalah Cao Cao, dan alasanku masuk ke Club ini adalah karena aku ingin belajar jalan menjadi seorang Knight sejati dari Naruto-san!."


"... Huh?."

__ADS_1


__ADS_2