
Naruto dan Tobio tidak bisa menyembunyikan keterkejutan mereka, Maria Rossfield ternyata pernah membunuh seorang siswi di Asrama perempuan, Tobio mengalihkan pandangannya dan menatap Mary yang menundukan wajahnya...,
" jadi, kau adalah salah satu korban dari [Maria Rossfield]..., "
Ucap Tobio, Mary mengangguk pelan, Naruto terdiam sebelum ia menatap Mary yang melayang diudara dengan posisi Seiza, " jika tidak keberatan, bisakah kau ceritakan tentang bagaimana kau mati, Mrs Mary?. " tanya Naruto selembut mungkin agar tidak melukai perasaan Mary, Mary terdiam sebelum ia menatap kearah Naruto dan mengangguk.
- FlashBack -
- Mary POV -
Waktu itu, aku baru saja kembali dari setelah menyelesaikan latihan rutin Divisi Wizard dan mengurus beberapa berkas yang dilimpahkan organisasi yang aku masuki padaku, aku sampai di Asrama tepat tengah malam dan semua siswi perempuan telah terlelap dikamar mereka masing-masing, awalnya semua normal-normal saja sampai aku melewati kamar milik salah satu Siswi Knight, pintu kamar itu sedikit terbuka...,
Aku mencoba mengabaikan kamar itu dan berjalan menuju kamarku, namun ketika aku sudah cukup jauh dari kamar itu, tiba-tiba aku mendengar sebuah tawa, tawa seorang perempuan tepat dibelakangku, aku berbalik dan aku melihat seorang perempuan masuk kedalam kamar yang aku lewati tadi, karena penasaran aku mencoba mendekati kamar itu lagi, kali ini aku mencoba mengintip kamar itu dan yang aku lihat hanyalah sebuah kamar gelap gulita...,
" Halo..., apa ada orang?, "
Aku melangkah dan masuk kedalam, pandanganku terarah kesekeliling kamar berusaha mencari pemilik kamar, namun yang aku temui hanyalah sebuah kamar kosong, aku terdiam menatap kamar itu, bukankah tadi ada perempuan yang masuk kedalam kamar ini?, lalu dimana dia...,
Aku mencoba melangkah kedalam, pandanganku terkunci pada kain putih yang menutupi sebuah benda, aku berjalan mendekati benda yang tertutupi kain itu dan menarik kain penutup itu, lalu aku melihat sebuah cermin besar didepanku...,
Aku mengerutkan dahiku melihat cermin itu, untuk apa seorang siswi membawa cermin sebesar ini keasrama?, bukankah Academy sudah menyediakan cermin dibalik lemari?...,
Brak!
Aku terkejut ketika secara tiba-tiba pintu kamar ini tertutup keras, aku mencoba untuk tidak terkejut dan menganggap jika hal itu terjadi karena angin, namun siapa yang aku bodohi?, itu jelas-jelas bukan angin!..., aku menyentuh dadaku berusaha untuk menenangkan detak jantungku yang berdegub...,
Setelah sedikit tenang aku mengalihkan pandanganku dan menatap kearah cermin, disana terlihat pantulan diriku dan..., sosok selain aku..., tak jauh dibelakangku berdiri seorang perempuan berwajah pucat dengan surai putih pendek dan iris hijau lime menatap kosong diriku...,
Sejak kapan perempuan itu ada disana?, bukankah tadi dia tidak ada disana?, Aku mencoba berbalik cepat dan..., aku terkejut ketika tidak mendapati perempuan itu tidak ada dibelakangku, jantungku berpacu cepat, segala pemikiran negatif memenuhi kepalaku, aku mencoba menatap kembali kearah cermin dan seketika mataku membulat ketika dicermin terlihat perempuan itu berada selangkah lebih dibelakangku..., ditangan perempuan itu terlihat sebuah Dagger(belati).
Aku kembali menatap kebelakang dan perempuan itu tidak ada disana!, Jantungku semakin berdegub cepat, aku kembali menatap kearah cermin dan kali ini ketakutanku mencapai batas maksimal ketika dicermin itu aku melihat perempuan itu sudah ada tepat dibelakangku dan bersiap menikamku dengan Dagger ditangannya, wajah mengerikan perempuan itu membekas diingatanku, aku segera menatap kebelakang dan..., perempuan itu tidak ada, aku menghela nafas lega dan menenangkan detak jantungku dan tertawa untuk menghilangkan rasa takutku...,
" hahaha, aku pikir aku akan mati tadi, "
Aku tertawa dan kembali menatap kearah cermin..., dan seketika aku merasakan jika detak jantungku berhenti, perempuan yang sebelumnya ada dibelakangku kini menatapku dengan wajah mengerikan miliknya, wajah penuh luka dan mengalirkan darah berbau busuk membuat aku tersadar jika perempuan yang aku lihat sebelumnya bukanlah manusia melainkan hantu...,
Aku membuka mulut untuk berteriak namun dengan cepat hantu itu mencengkram wajahku dengan kuat, aku mencoba melawan ketika hantu itu menyeret wajahku, namun aku tahu usahaku sia-sia karena entah kenapa tenagaku tiba-tiba hilang dan disaat itu aku hanya bisa melakukan satu hal... aku menjerit kuat dengan kuat...,
" Kyaaaaa!?, "
- Flashback end -
- Mary POV end -
" dan ketika aku sadar aku sudah menjadi arwah penasaran, "
Ucap Mary mengakhiri ceritanya, Miya, Tobio, dan Naruto yang mendengar cerita Mary terdiam sebelum mereka melirik satu sama lain dan mengangguk pelan.
" Mary, kau bilang kau dibunuh oleh Maria Rossfield, bukan?, darimana kau tahu jika kau dibunuh oleh Maria?, " tanya Naruto, Mary memiringkan kepalanya dan menatap bingung Naruto.
" kenapa aku bisa tahu?, bukankah kamar ini milik Maria?, dan hantu perempuan yang membunuhku sangat mirip dengan wujud Maria Rossfield..., jadi aku mengambil asumsi jika Marialah yang membunuhku, "
Ucap Mary, membuat ketiga orang disana terkejut sebelum Tobio dan Naruto langsung berlari dan mengecek nama yang ada didepan pintu, Naruto dan Tobio menatap sesuatu yang samar-samar dari balik tumpukan sarang laba-laba, Tobio mencoba membersihkan sarang laba-laba itu dan setelah beberapa saat terlihat sebuah papan nama, dan keduanya terkejut melihat nama siapa yang ada dipapan nama itu..., [Maria Rossfield]..., Tobio dan Naruto menatap satu sama lain sebelum keduanya tersenyum lebar.
" kita menemukan kamarnya!, ini hebat!. "
Ucap Tobio, Naruto mengangguk pelan, " ya, dengan begini kita selangkah lebih dekat dengan Misteri [Shadow The Reaper]. " ucap Naruto, keduanya mengangguk dan berjalan kembali kedalam...,
" jadi, kau tewas ditempat yang sama seperti Maria?, bisa kau jelaskan bagaimana kejadian kematian Maria?. "
Tanya Miya, Mary mengerutkan dahinya, " aku tidak tahu, aku hanya mendengar jika kamar ini dulunya ditempati Maria, aku juga baru mengetahui hal itu setelah jasadku diangkat untuk dimakamkan, " ucap Mary, Naruto menatap kearah Mary dengan pandangan datar sebelum ia berjalan menuju cermin yang dikatakan menjadi saksi terbunuhnya Mary...,
" cermin ini keberatan jika aku memeriksanya, Mrs Mary?. "
Tanya Naruto tanpa menoleh, Mary menatap Naruto bingung sebelum ia mengangguj, " silahkan aku tidak keberatan. " ucap Mary, Naruto mengangkat tangannya dan menyentuh permukaan cermin yang dingin..., dahi Naruto berkerut ketika ia melihat bayangan tangannya yang memantul dicermin...,
' cermin ini?, mungkin kah..., '
Naruto mencoba meraba permukaan cermin itu, dengan hati-hati, melihat tingkah Naruto membuat Tobio dan Miya menatap bingung Naruto..,
" err..., Naruto?, apa yang kau lakukan?. "
" mencari sesuatu..., ah, dapat!. "
Naruto berucap semangat ketika ia menemukan sesuatu, Naruto meraba tempat itu lalu perlahan menekan hingga terdengar suara 'cklek', Naruto menoleh kebelakang dengan senyuman diwajahnya, Tobio dan Miya yang mendengar suara itu terdiam dan hanya menatap Naruto dengan pandangan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata...,
Cermin itu perlahan terbuka sedikit, Naruto mengalihkan pandangannya kedepan dan membuka cermin itu, Naruto mengerutkan dahinya ketika melihat apa yang ada didalam..., Tobio dan Miya berjalan mendekati Naruto.
" Naruto?, apa yang kau temukan?. "
Naruto mengambil benda didalam cermin itu dan menunjukannya pada Tobio, Miya dan Mary dibelakangnya, " buku?. " tanya Miya melihat sebuah buku cokelat dengan garis emas dibeberapa bagian, Naruto mengangguk sebelum ia membalik buku itu dan menatapnya intens..., Tobio yang melihat temuan Naruto memutar mata bosan.
" sudah beberapa jam kita mencari petunjuk dan yang kita dapatkan hanya sebuah buku?..., "
" sayangnya, Tobio..., buku ini adalah kunci kita untuk memecahkan misteri Maria Rossfield. "
Ucap Naruto dengan nada serius, Miya dan Tobio terdiam sebelum menatap Naruto bingung...,
- change scene -
Setelah menemukan sebuah buku dikamar milik Maria, Naruto, Miya dan Tobio memutuskan untuk melanjutkan penyelidikan mereka besok, kini dikamar, Naruto tengah duduk sambil menatap buku yang ia temukan sebelumnya didepannya...,
Dipangkuan Naruto, Ophis duduk san memperhatikan buku didepannya, " Master, apa kau akan membacanya?. " tanya Ophis, Naruto terdiam sebelum ia mengangguk pelan.
" begitulah, Ophis. [Maria Rossfield] menarik minatku, aku ingin memecahkan kasus aneh ini..., "
Ucap Naruto sebelum ia membuka buku itu dan ketika ia melihat halaman pertamanya Naruto mengerutkan dahinya, halaman pertama dibuku itu kosong, tidak ada tulisan sama sekali, Naruto menatap bingung buku didepannya..., sebelum pandangan Naruto terarah pada Ophis dipangkuannya.
" Ophis, apa jangan-jangan buku ini, terkena Amnesia?. "
Tanya Naruto, Ophis yang duduk dipangkuan Naruto terdiam sebelum ia mendongak dan menatap Naruto dengan pandangan kosong.
" Master, itu tidak lucu kau tahu..., "
" hehehe, Gomen, tapi Ophis apa kau tahu kenapa buku ini kosong?, "
Tanya Naruto, Ophis terdiam sebelum tangan mungilnya bergeral dan menyentuh buku, perlahan pedar tipis berwarna putih menyelimuti tangan Ophis, sementara Naruto hanya melihat tingkah Ophis dengan mata tanpa kedip..., setelah beberapa saat pedar tipis itu menghilang, Ophis menghela nafas sebelum menatap kearah Naruto.
" Bagaimana, apa kau menemukan sesuatu yang aneh, Ophis?. "
" ya, setelah aku mencoba membaca [Aksara Semesta] pada buku ini, aku mendapatkan tiga buah [Illusion Magic] tingkat tinggi yang menyelimuti buku ini dan hal itulah yang menyebabkan buku ini kosong, "
Ucap Ophis datar, Naruto menatap kearah buku itu sebelum menayap kearah Ophis dipangkuannya, " jadi?, apa yang harus kita lakukan sekarang?, " tanya Naruto, Ophis terdiam sebelum ia menyenderkan punggungnya kebadan Naruto.
" tentu saja kita harus mematahkan [illusion Magic] dibuku ini untuk mengetahui apa yang tertulis dibuku ini..., Master. "
Ucap Ophis, Naruto terdiam sebelum ia mengerutkan dahinya, " apa ada orang yang bisa mematahkan [illusion Magic] yang menyelimuti buku ini?, bukankah [Illusion Magic] dibuku ini termasuk tingkat tinggi?. " tanya Naruto, Ophis yang sudah menatap kedepan sebelum ia menatap kearah Masternya.
" ada satu orang yang bisa kita mintai tolong untuk mematahkan [illusion Magic] ini..., "
" siapa?. "
" Otsutsuki Kaguya..., "
Ucap Ophis membuat ruangan iti langsung sunyi, Naruto yang mendengar mengedipkan matanya berkali-kali sebelum ia memasang wajah terkejut dan pekikan 'Hah!?' dengan keras.
" tunggu dulu, kenapa Otsutsuki Kaguya?, kenapa kita tidak minta bantuan sama orang lain!, kenapa harus dia!?. "
Ucap Naruto dengan cepat membuat Ophis menutup telinganya sebelum ia menatap Naruto dengan pandangan datar, " sejauh ini menurut perhitunganku, Otsutsuki Kaguya, adalah orang yang paling tepat untuk membantu kita mematahkan [Illusion Magic] ini, " ucap Ophis.
" hah?, kenapa!, apa alasanmu mengatakan itu. "
Ucap Naruto yang menentang keputusan Ophis, jelas saja dia menentang keputusan Ophis, ia sudah tidak ingin berurusan dengan The Four Great Onee-sama!, karena berususan dengan The Four Great Onee-sama akan membuatnya terjerumus dalam masalah yang merepotkan terlebih ada orang itu...,
Ophis menghela nafas mendengar penolakan Masternya, " Master, sayangnya kita tidak memiliki pilihan lain, sejauh ini dialah orang yang bisa kita mintai tolong, lagipula dia nampaknya masih merasa bersalah pada Master karena kejadian diruangan wanita tua itu, jika kita minta bantuannya ia tidak akan menolaknya dan aku yakin ia akan menerimanya sebagai usaha untuk mendapatkan maaf dari Master, " ucap Ophis membuat Naruto terdiam, Ophis menghela nafas dan melanjutkan.
" dan apa Master lupa?, ketika kita melawan Assassin bernama D, apa master ingat perempuan bernama Senju Kyubi?, dia terkena [Illusion Magic] tingkat tinggi, dan yang mematahkan [Illusion Magic] itu adalah Otsutsuki Kaguya.. , "
Naruto bungkam mendengar Alasan Ophis, sial ia tidak bisa menemukan alasan yang tepat untuk membalik Alasan Ophis, Naruto menghela nafas, ini akan benar-benar sangat merepotkan...,
" baiklah, aku akan mencoba meminta tolong padanya, tapi jangan terlalu berharap dia mau membantu kita, Ophis. "
Ucap Naruto dengan nada datar, Ophis tersenyum sebelum ia mencari posisi yang nyaman dipangkuan Naruto dan perlahan memejamkan matanya.
" tenang saja, Master dia tidak akan menolak permintaanmu, aku bisa jamin itu..., "
Ucap Ophis membuat satu alis Naruto terangkat, " kenapa kau bisa yakin dia mau membantu kita?. " tanya Naruto...,
" Zzzzzz "
" Hah~, dia malah tidur..., "
Hela Naruto sebelum ia tersenyum dan perlahan ia mengangkat Ophis dengan hati-hati dan menaruh Ophis diatas ranjang dengan pelan, Naruto membenarkan beberapa hela rambut yang menghalangi wajah imut Ophis, Naruto tersenyum sebelum ia mengecup pelan dahi Ophis.
" Oyasuminasai, Ophis..., "
- Skip Time -
__ADS_1
Dipagi hari yang cerah Naruto berjalan dengan langkah gontai, ia semalaman tidak bisa tidur dengan nyenyak karena semalaman ia masuk kedalam [Library World] dengan Mind Link miliknya yang sudah bersatu dengan Ophis, hal itu memberikannya Akses kedalam [Libary World] disana Naruto membaca buku yang [Isi]-nya sudah kembali..., Naruto tertarik dengan buku [Tanaman] dan [pengobatan]..., Naruto sudah sedikit menguasai tentang [tanaman] mulai dari tanaman herbal sampai tanaman racun...,
Naruto menghela nafas dan berjalan memasuki Academy, dilorong Naruto mendapatkan tatapan memuakkan daripara Murid, ya itu bukan hal baru bagi Naruto apa lagi sekarang ia berada disarang para 'jenius'(Wizard), jadi mendapatkan tatapan memuakkan dan jijik seperti itu merupakan hal biasa...,
Kenapa Naruto berada dibangunan Divisi Wizard?, ya itu karena ia ingin menemui seseorang yang penting, atau lebih tepatnya sangat penting, Naruto menghentikan langkahnya tepat didepan kelas [XI-B], Naruto menghela nafas sebelum ia membuka pintu dan melangkah kedalam...,
Didalam Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap kesekitar berusaha mencari seseorang yang ia cari, sampai pandangan Naruto terkunci pada seorang perempuan bersurai putih panjang, iris mutiara indah miliknya terlihat dengan menatap keluar dengan kebosanan luar biasa yang terpancar dari matanya...,
Naruto yang melihatnya berjalan kearah perempuan itu namun baru saja ia akan melangkah tiba-tiba ia dihadang oleh tiga orang laki-laki didepannya..., " ano..., bisakah senpai memberiku jalan?, " ucap Naruto dengan nada sedikit hormat, tiga laki-laki yang menghadang Naruto menatap satu sama lain sebelum mereka membukakan jalan untuk Naruto, Naruto yang melihatnya menundukan sedikit kepalanya dan berjalan melewati mereka namun baru saja ia lewat salah satu dari tiga orang itu menyeringai dan dengan cepat mengarahkan pukulan kearah Naruto...,
Naruto yang merasakan bahaya langsung memiringkan tubuhnya membuat orang yang berniat mengenai angin dan kehilangan sedikit keseimbangannya, Naruto yang melihatnya segera memberikan tendangan kecil hingga membuat keseimbangan orang itu hancur dan akhirnya terjatuh dengan keras...,
Bruk!
Semua yang ada dikelas mengalihkan pandangan mereka dan menatap orang yang tadi berniat memukul Naruto dengan pandangan bingung sebelum mereka tertawa.
" are?, senpai?, kau kenapa?, apa kau sakit, jika benar segera pergi keruang pemulihan dan beristirahatlah, mungkin beberapa jam kemudian kau akan kembali sehat..., "
Ucap Naruto dengan wajah datar, orang yang dipanggil senpai oleh Naruto segera bangkit dari jatuhnya dan menatap Naruto dengan pandangan marah...,
" te-teme!, beraninya kau membuatku malu!. "
Naruto memutar matanya bosan melihat tingkah senpai didepannya, dia jatuh sendiri malah menyalahkan orang lain, " etto, senpai..., kenapa kau menyalahkanku?, aku tidak melakukan apapun?, " ucap Naruto polos atau lebih tepatnya pura-pura polos.
" kau tadi menyelengkat kakiku hingga membuatku terjatuhkan!, "
" are?, senpai..., sepertinya kau benar-benar harus beristirahat, aku sedaritadi tidak melakukan apapun, lantas kenapa aku yang harus disalahkan. " ucap Naruto membuat Senpai didepannya ditertawakan oleh seisi kelas, wajah senpai itu memerah menahan malu dan amarah..., perlahan tangan senpai itu mulai terbentuk sebuah lingkaran sihir...,
" ka-kau..., "
" cukup sampai disana!, "
Semua yang ada disana terhenti ketika mendengar sebuah suara yang lembut namun begitu tegas, mereka mengalihkan pandangan mereka pada perempuan bersurai putih yang merupakan salah satu dari orang penting disekolah ini, salah satu The Great Onee-sama..., Otsutsuki Kaguya.
Kaguya berjalan dengan anggun, aura kebangsawanan berteriak keras dari tubuhnya, Naruto yang melihatnya hanya masang wajah datar...,
" kau, apa yang coba kau lakukan?, menggunakan Magic tanpa seijin guru dilarang keras di Academy ini..., kembali ketempat kalian atau kalian akan berurusan dengan [Squad Discipline]..., "
Ucap Kaguya dengan nada tegas membuat ketiga orang itu menegang sebelum mereka dengan cepat langsung kembali ketempat mereka, Kaguya menatap ketiganya dengan pandangan datar sebelum mengalihkan pandangannya pada Naruto yang menatapnya dengan datar...,
" jadi, Namikaze-kun?, apa yang kau lakukan dikelasku, tentunya kau tidak sedang jalan-jalan bukan?. "
Tanya Kaguya dengan senyuman manis diwajahnya membuat seisi kelas berteriak gaje, Naruto menatap Kaguya dengan datar. " Ano..., Otsutsuki-senpai, bisakah aku meminta tolong padamu?, " tanya Naruto, dan samar-samar Naruto dapat mendengar suara-suara yang memuakkan.
' sampah itu, berani sekali ia meminta bantuan pada Kaguya-sama..., '
' dasar sampah tak tahu diri, dia pikir dia siapa meminta tolong pada Kaguya-sama..., '
' aku yakin setelah ini, Kaguya-sama akan menolak mentah-mentah sampah itu dan mengusirnya keluar. '
Naruto mengabaikan semua suara yang menyakitkan itu dan menatap Kaguya yang juga menatapnya sebelum mengangguk dan tersenyum manis
" tentu, Namikaze-kun. bantuan apa yang kau inginkan dariku..., "
Ucap Kaguya mengundang tatapan tak percaya dari seluruh orang disana, perlahan gumam-gumaman samar terdengar dari para murid yang ada disana.
' Ka-Kaguya-sama tersenyum pada sampah itu!. '
' mu-mustahil!, Ka-Kaguya-sama mau membantu sampah itu!. '
' in-ini mimpi!, '
Dan masih banyak yang lain, Naruto mengabaikan semua itu dan mengambil sesuatu didalam tasnya dan menyerahkan sebuah buku bersampul cokelat dengan garis emas dibeberapa bagian pada Kaguya.
" etto..., bisakah Senpai membantuku memecahkan sesuatu yang ada dibuku ini?. "
Tanya Naruto, Kaguya mengambil buku itu dan menatap bingung Naruto, Naruto yang ditatap seperti itu menghela nafas sebelum ia berjalan dan membisikkan sesuatu ditelinga Kaguya, Kaguya yang tidak siap terkejut sebelum perlahan wajahnya memerah maksimal, melihat hal itu membuat semua yang ada disana berteriak keras dan tak jarang ada yang mengeluarkan sumpah serapah yang ditunjukan untuk Naruto...,
Naruto mengabaikan sumpah serapah itu, dan tersenyum kearaj Kaguya yang memerah, " jangan lupa apa yang aku katakan, Sen~pai~. " ucap Naruto sedikit nakal dan dibalas anggukan dari Kaguya yang masih memerah akibat bisikan Naruto dan sekali lagi kelas itu dibuat heboh dan sumpah serapah melayang kemana-mana...,
- skip time -
Setelah pelajaran selesai, Naruto kini memutuskan untuk berjalan keperpustakaan, entah kenapa tapi hari ini ia ingin kesana untuk melihat Shaga, uhm..., apa ini yang dinamakan merindu?, ah yang benar saja?, pecundang sepertinya merindukan seseorang..., itu tidak pantas...,
Setelah beberapa saat kemudian Naruto sampai didepan perpustakaan dan tanpa banyak waktu lagi Naruto langsung masuk kedalam, didalam Naruto mengarahkan perhatiannya kesekeliling sebelum pandangannya terkunci pada seorang perempuan bersurai pirang dikuncir rapi dengan kacamata baca tebal yang membingkai wajahnya, perempuan itu terlihat fokus dengan buku ditangannya, melihat hal itu membuat ide jahil hinggap diotak Naruto, dengan langkah pelan Naruto berjalan mendekati perempuan itu yang nampaknya tidak merasakan kehadirannya...,
Shaga menatap buku ditangannya dengan pandangan serius, buku ini adalah buku pemberian dari Gabriel, dan ia dianjurkan untuk membaca ini, dan jika tidak salah disini tertulis [langkah-langkah untuk menaklukan pria], karena terlalu fokus Shaga tidak menyadari kehadiran Naruto didepannya, Shaga menghela nafas sebelum ia menutup buku ditangannya dan menatap kedepan...,
" Yo, Shaga. "
" Ohayou, Namikaze-kun. "
Ucap Shaga membuat Naruto melunturkan cengirannya dan menatap bingung Shaga yang kembali membaca buku yang sebelumnya ia baca tadi...,
" jadi, ada apa kau kesini, Namikaze-kun. "
Ucap Shaga membuat Naruto terdiam sebelum ia menghela nafas, " apa aku melakukan hal yang salah, Shaga-chan?. " tanya Naruto, Shaga melirik Naruto sejenak sebelum ia kembali membaca buku ditangannya, Naruto yang diabaikan hanya bisa menghela nafas.
" Shaga, aku tidak akan tahu apa salahku jika kau tidak mau memberitahukannya. " ucap Naruto, Shaga menghela nafas dan menatap Naruto dengan pandangan datar.
" kemarin..., "
" ...? "
Shaga mengigit bawah bibirnya melihat kebingungan Naruto, kenapa pemuda itu gak peka juga sih?, bukan kah kejadian yang membuatnya seperti ini terjadi kemarin!...,
" kemarin..., perempuan yang mengandengan tanganmu, si-siapa dia?. "
Tanya Shaga berusaha untuk menahan suaranya agar tidak bergetar, Naruto terdiam sejenak dan memasang pose berpikir, perempuan kemarin?..., uhm..., apa maksud Shaga itu Miya?. Naruto menatap Shaga.
" apa maksudmu, Miya?. "
Ucap Naruto membuat Shaga merasa jantungnya sempat terhenti, Shaga menatap Naruto dengan pandangan sulit diartikan.
" Mi..., ya..., "
" ya..., Miya, dia adalah Fuku-Taichou diclub yang aku masuki, kau tahu Shaga, Miya Fuku-Taichou sangat pandai membuat teh, teh Buatan Miya sangat enak!, lain kali kau akan aku kenalkan dengan Miya. "
Ucap Naruto dengan senyuman tipis diwajahnya, Shaga terdiam dan entah kenapa mendengar perkataan Naruto membuat hatinya ini terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum..,
" o-oh begitu, se-selamat ya Namikaze-kun, ka-kau memiliki ke-kekasih yang ca-cantik..., "
" hah?, apa yang kau kata-, "
Naruto menghentikan perkataanya ketika ia melihat dipipi porselen Shaga meluncur deras air mata.
" Shaga..., kau menangis?. "
" e-eh..., a-are?..., ke-kenapa aku..., air mataku tidak mau berhenti..., ap-apa yang terjadi padaku..., "
Shaga berusaha menghapus air matanya namun hal itu tidak banyak membantu, air mata miliknya terus mengalir menuruni pipinya, Naruto yang melihat hal itu entah kenapa hatinya serasa seperti dicubit...,
" ay-ayolah..., hiks..., berhentilah..., hiks..., kenapa tidak mau berhenti..., hiks..., "
Grep!
Shaga yang sedang berusaha menghapus air matanya terhenti ketika ia merasakan seseorang membawanya kedalam dekapan hangat...,
" hey..., kenapa kau menangis?, apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu menangis?. Apa ini soal Miya "
Naruto berucap dengan selembut mungkin agar ia tidak melukai Shaga lebih jauh lagi, tubuh Shaga menegang ketika mendengar pertanyaan Naruto, dan hal itu sudah cukup membuat Naruto paham dimana letak kesalahannya...,
Naruto tersenyum tipis dan perlahan mengelus punggung Shaga dengan lembut, " Shaga..., kau salah paham, aku dan Miya hanya sebatas teman, tidak lebih..., jika kau takut aku akan melupakanmu karena Miya, maka kau salah besar, aku tidak akan pernah melupakanmu karena bagiku kau.., " Naruto menjeda kalimatnya melepaskan pelukannya dan dengan lembut menghapus lelehan air mata dipipi Shaga...,
" ..., sangatlah berharga..., "
Ucap Naruto dengan senyuman lembut..., Shaga terpaku mendengar semua yang dikatakan oleh Naruto entah kenapa rasa sakit dihatinya kini digantikan oleh rasa senang yang luar biasa...,
" oleh karena itu, berjanjilah padaku, jangan pernah kau menangis lagi didepanku, melihatmu sedih membuatku juga ikut sedih, " ucap Naruto, Shaga tersenyum dan menikmati sentuhan Naruto pada pipinya, dengan gerakan pelan Shaga memeluk tubuh Naruto membuat Naruto sedikit terkejut.
" Mou..., kau bisa dengan mudah membuatku menangis, dan kau juga bisa dengan mudah membuatku tersenyum..., Naruto-kun, kau yang terburuk..., "
" Heh?, begitukah aku selama ini?. "
Ucap Naruto dengan wajah gugup, Shaga memperat pelukannya dan bisa Shaga cium wangi citrus dan jeruk menguar dari tubuh Naruto, Shaga mendongakkan wajahnya dan Menatap Naruto dengan senyuman manis diwajahnya.
" ya..., Kaulah yang terburuk, Naruto-kun. "
Naruto hanya bisa menghela nafas mendengar perkataan Shaga, sebelum ia tersenyum tipis dan membalas pelukan Shaga, " Ha'i, Ha'i, terserah apa katamu, Ojou-sama..., " ucap Naruto membuat Shaga tertawa kecil..., tak lama kemudian keduanya melepaskan pelukan mereka...,
" jadi?, ada apa kau kesini, Naruto-kun?. "
Tanya Shaga dengan mood yang sudah pulih kesedia kala, Naruto terdiam sejenak sebelum ia menepuk dahinya pelan.
" ya ampun, aku lupa..., Shaga, bisakah kau memejamkan matanya sejenak?, "
Ucap Naruto mendapat tatapan tanya dari Shaga namun Shaga mengangguk dan memejamkan matanya, Naruto yang melihat Shaga sudah benar-benar tidak bisa melihat tersenyum tipis sebelum ia merogoh sakunya dan perlahan berjalan mendekati Shaga...,
__ADS_1
" Ha'i, sekarang kau boleh membuka matamu, Shaga. "
Ucap Naruto, Shaga perlahan membuka matanya dan menatap kearah Naruto yang tersenyum kearahnya, Shaga terdiam sebelum ia merasakan sesuatu dikepalanya, dengan pelan Shaga menyentuh surai pirang dan ia merasakan sesuatu seperti jepit rambut dikepalanya...,
" ini..., "
Naruto mengaruk pipinya yang tak gatal dan mengalihkan pandangannya berusaha menghindari tatapan Shaga..., " y-ya, itu adalah jepit rambut untuk mu, Shaga. Ma-maaf aku hanya bisa memberikanmu jepit rambut murah itu, ak-aku harap kau senang menerimanya. " ucap Naruto gugup, cikuso!, ia tidak pernah tahu jika memberikan sesuatu pada perempuan itu ternyata sangat memalukan!?..., Shaga terdiam sebelum menatap Naruto yang masih mengalihkan pandangannya kearah lain...,
" Nee..., Naruto-kun. "
" uhm?..., "
" Arigatou..., aku sangat menyukainya..., "
Naruto seketika membeku ditempat ketika melihat senyuman Shaga yang menurutnya Sangat indah!, Naruto dapat merasakan wajahnya memanas hebat sebelum ia mengalihkan pandangannya kearah lain...,
" y-ya sy-syukurlah ka-kau menyukainya..., "
Ucap Naruto gugup dan mendapatkan tawa kecil dari Shaga, Ophis yang memperhatikan dari [Libary World] tersenyum tipis sebuah senyuman yang sangat jarang ia keluarkan...,
" Master, kau sangat beruntung..., "
- skip time -
Sudah tiga hari sejak Naruto menyerahkan buku yang ia temukan dikamar milik [Maria Rossfield], dan sekarang diruangan Club penelitian alam, Tobio menjatuhkan kepalanya diatas meja dan bergumam bosan, berbeda dengan Miya yang sedang menyiapkan teh, dan Naruto yang tengah melihat Katana Orichalcum Ore miliknya..., atau Mrs Mary yang tengah melayang diudara dengan posisi tertidur...,
Mrs Mary?, ah dia ada diclub ini karena Miya sudah berjanji pada Mary untuk membuatnya mendapatkan tempat yang menyenangkan dibandingkan tempatnya yang dulu, hitung-hitung sebagai rasa terimakasih Miya pada Mary yang mau membantu memberikan informasi sehingga mereka bisa selangkah lebih dekat dengan [Maria Rossfield]..., jadi disinilah Mary ditempat Club penelitian Alam..., tentu dengan sedikit perjuangan~
" Bosan~, hey..., Naruto, apa tidak ada yang bisa kita lakukan sampai buku itu selesai ditangani oleh temanmu..., "
Tanya Tobio membuat Naruto yang tengah melihat Katana miliknya mengalihkan perhatiannya dan menatap Tobio dengan pandangan polos sebelum mengeleng pelan...,
" tidak ada "
Ucap Naruto, Tobio membenturkan kepalanya kemeja dan menghela nafas malas...,
" sial, seseorang tolong bunuh kebosanan ini..., "
Gumam Tobio dengan nada menderita tak lupa aura suram disekitarnya, Miya menghela nafas mendengar gumam Tobio..., ia mengangkat nampan berisikan beberapa cangkir teh dan membawanya kemeja diruang tengah, Miya meletakan cangkir teh itu dan menuangkan teh diatasnya lalu menyerahkannya pada Naruto yang langsung menghentikan kegiatannya dan menerima cangkir teh itu...,
" ah~, enak seperti biasa, Miya-san. "
" ufufufu, sejak kapan kau boleh memanggil nama depanku, Namikaze-kun?. "
Ucap Miya dengan nada menggoda membuat Naruto tersedak teh yang ia minum..., " uhuk!..., uhuk!..., eh?, ja-jadi aku tidak boleh memanggilmu dengan nama depanmu?. " tanya Naruto dengan ekspresi yang membuat Miya tertawa...,
" ufufu~, tentu saja boleh, malahan aku mengharapkannya, Naruto-san~..., "
Ucap Miya membuat Naruto menghela nafas lega, bisa gawat jika ia berlaku tidak sopan dengan perempuan yang menjabat sebagai Fuku-Taichou itu...,
" hah~, Miya-san kau membuatku terkejut saja..., "
Ucap Naruto sambil menyesap kembali teh miliknya, namun baru saja teh itu masuk kedalam jalur kerongkongannya sebuah suara membuat Naruto menyemburkan teh miliknya...,
" Namikaze-kun!..., "
Brrruuuu!
Dan sialnya semburan Naruto langsung menghujani wajah Tobio yang langsung mengumpat pelan dan mengambil sapu tangan disakunya lalu membersihkan wajah yang terkena hujan lokal dari Naruto...,
Naruto terbatuk ketika hampir saja teh yang ia minum pindah jalur kesaluran pernafasannya, Naruto mengelap bibirnya dengan punggung tangannya dan menoleh kebelakang dan tepat didepan pintu Kaguya tengah berdiri dan memasang wajah serius..., pandangan Naruto langsung berubah menjadi datar ketika ia melihat seorang gadis bersurai merah keorangean, iris mata ruby menawan menatap Naruto dengan pandangan sedikit takut?...,
" Namikaze-kun!, kita harus bicara sekarang!..., "
Ucap Kaguya dengan nada serius, Naruto terdiam sebelum menatap datar Kaguya dan menepuk lantai disebelahnya...,
" duduklah..., "
Ucap Naruto menepuk-nepuk lantai disebelahnya...,, Kaguya terdiam sejenak dan ia melangkah masuk dan duduk tak jauh didepan Naruto dibelakang Kaguya, Kyubi menundukan sedikit wajahnya sambil sekali-kali melirik kearah Naruto..., Naruto menyesap teh miliknya dan menatap Kaguya dengan pandangan datar...,
" jadi, apa kau sudah berhasil mematahkan [Illusion Magic] yang ada dibuku itu, Otsutsuki-senpai..., "
Tanya Naruto, Kaguya terdiam sebelum ia menyentuh cincin perak ditangannya dan seketika sebuah buku muncul, Naruto menatap datar hal itu, Ring Storage, sungguh alat yang benar-benar praktis...,
" aku sudah mematahkan ketiga [Illusion Magic] dibuku ini..., "
" ya, kerja bagus, Senpai~, dengan begini kesepakatan kita selesai..., "
Ucap Naruto menjulurkan tangannya untuk mengambil buku itu namun saat sedikit lagi buku itu ada ditangan Naruto, Kaguya cepat-cepat menarik buku itu hingga membuat Naruto hanya mengenai angin..., Naruto yang tidak mendapatkan bukunya menatap datar Kaguya...,
" apa maksudnya ini?..., "
Tanya Naruto, Kaguya membuka matanya dan menatap tajam Naruto, " tidak secepat, Namikaze, aku ingin kesepakatan kita diubah!, " ucap Kaguya datar membuat Naruto terdiam dan menatap Kaguya dengan tatapan tak kalah datar.
" kenapa kau tiba-tiba ingin mengubah kesepakatan awal kita, "
Tanya Naruto membuat Kaguya terdiam sebelum ia menghela nafas dan melempar buku itu pada Naruto yang langsung ditangkap oleh dia dengan refleksnya yang menganggumkan...,
" tiga hari yang lalu, aku bertemu dengan [Shadow The Reaper] dan kau tahu?, dia mencoba membunuhku, beruntungnya Ayahku datang dan mengusir Roh jahat itu dengan sebuah [Talesman](jimat) untuk mengusir roh jahat dan berkat itu aku selamat..., "
Kaguya menjeda perkataannya dan menyesap teh yang sudah disediakan oleh Miya untuknya sebelum ia menatap Naruto dengan pandangan serius...,
" Namikaze, apa kau sedang mencoba mencari penyebab kematian [Maria Rossfield]?. "
Tanya Kaguya dengan nada serius, Naruto terdiam sebelum ia tersenyum seperti anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen dilemari ice, " aku ketahuan ya?..., ya kau benar, aku..., atau lebih tepatnya kami memang tengah menyelidiki misteri kematian [Maria Rossfield]..., " ucap Naruto mendapat tatapan bingung dari Kaguya.
" kenapa kau, ehem!, maksudku kalian ingin mengungkap misteri kematian [Maria Rossfield], "
Tanya Kaguya, Naruto melempar-lempar rendah Buku ditangannya beberapa kali sebelum ia menatap datar Kaguya...,
" entahlah, mungkin karena aku tertarik?. "
" tertarik?. "
" yap..., aku tertarik, apa kau tidak merasa aneh?, sekolah mengatakan jika [Maria Rossfield] tewas akibat ingin menjadi seorang [Rune Breaker], jika memang itu yang terjadi, dia tidak akan menjadi apa yang kau sebut Roh Jahat dan meneror bahkan sampai membunuh seorang siswa Wizard..., dan Kaguya, apa kau merasakan kebencian dan dendam yang terpancar oleh [Maria Rossfield] saat ia mengunjungimu?..., "
Tanya Naruto membuat Kaguya terdiam, memang benar apa yang dikatakan Naruto, saat Maria Rossfield mengunjunginya dan mencoba membunuhnya, ia merasakan kebencian dan dendam yang begitu pekat dari Maria Rossfield..., Naruto tersenyum melihat Kaguya terdiam dan itu membuktikan jika perkataannya benar...,
" jadi, Otsutsuki-senpai..., apa kau mengerti dengan apa yang aku maksud..., "
Ucap Naruto dengan seringai kecil diwajahnya, Kaguya menatap Naruto sejenak sebelum ia menghela nafas...,
" ya kau benar, sepertinya ada yang aneh dengan kematian [Maria Rossfield], "
Ucap Kaguya, Kyubi yang sedaritadi memperhatikan akhirnya memulai berbicara...,
" An-Ano..., Namikaze... -kun. La-lalu jika menurutmu, apa penyebab kematian [Maria Rossfield]?. "
Tanya Kyubi, Naruto mengalihkan pandangannya dan menatap Kyubi yang menatap bingung kearahnya, " sejauh ini aku hanya punya dua asumsi... " ucap Naruto membuat semua yang ada disana menatapnya tertarik..., Naruto yang ditatap seperti itu menghela nafas...,
" alasan pertama, [Maria Rossfield] dibunuh karena ada yang dendam padanya, karena berdasarkan perkataan kepala sekolah, [Maria Rossfield] adalah seorang Knight berbakat yang mampu pertanding imbang melawan seorang Wizard ditingkat yang sama dengannya atau lebih kuat darinya..., mungkin dari sekian banyaknya Wizard ada yang menyimpan dendam pada Maria..., dan mungkin tidak hanya satu tapi lebih dari satu..., "
Ucap Naruto, semua terdiam mendengar alasan pertama Naruto, apa yang dikatakan Naruto benar apa adanya, Manusia pada dasarnya adalah Makhluk yang mewarisi Seven deadly sins, iri hati dan dendam selalu membuat Manusia terjerumus dalam hal-hal yang sangat berat dosanya..., dan dalam kasus ini iri hati berubah menjadi dendam dan ketika ia melihat banyak orang yang membenci hal yang sama maka orang yang memiliki dendam paling kuat akan menghasut orang yang memiliki dendam yang sama dan akhirnya sebuah kelompok berisikan para pendendam akan tercipta...,
" lalu yang kedua?. "
Naruto yang sedang membaca buku ditangannya mengalihkan pandangannya dan menatap Miya disebelahnya...,
" ah, dan yang kedua, adalah [Maria Rossfield] mengetahui rahasia yang seharusnya tidak boleh diketahui oleh siapapun..., coba kalian lihat ini... "
Ucap Naruto sambil menunjukan sebuah halaman dimana disana terdapat sebuah tulisan yang terlihat seperti ceker bebek namun masih bisa dibaca..., semua menatap buku itu dan mengangguk pelan...,
" lalu lihatlah halaman sebelumnya ini..., "
Ucap Naruto membalik halaman dan terlihatlah sebuah tulisan yang berbeda dari halaman sebelumnya, tulisan kali ini rapi dan bisa dibaca dengan jelas..., semua menatap buku itu dan mengangguk...,
" nah, apa kalian mengerti perbedaan dari kedua halaman ini?. "
Tanya Naruto, semua terdiam sebelum mengeleng pelan, Naruto menghela nafas, sudah ia duga..., " begini, ketika seseorang tengah terburu-buru maka ia akan cenderung melakukan kesalahan, dan seperti yang ada dibuku ini, dihalaman ini tulisan dari orang yang menulis ini sangat rapi karena ia menulis disaat keadaan hatinya tengah tenang, sementara halaman ini..., " Naruto membalik halamannya dan terlihat bahwa tulisan disana kurang rapi dan agak sulit dibaca...,
" orang yang menulis disini tengah terburu-buru, apa kalian lihat coretan disini, dia seperti orang yang tengah dikejar oleh sesuatu, dan ia tengah dalam keadaan panik, bahkan ia sampai meneteskan keringat disini, hora disini ada bekasnya..., "
Ucap Naruto menunjukan daerah dimana warna pada kertas itu sedikit berbeda dan buku itu sedikit lebih layu dari permukaan kertas yang lain..., Naruto menutup buku itu dan menatap kedepan dengan datar.
" apa kalian mengerti?. "
Tanya Naruto semua terdiam sebelum mengangguk, Kaguya mencubit dagunya dan menatap Naruto.
" jadi yang ingin kau katakan adalah bahwa [Maria Rossfield] tengah diincar oleh seseorang karena ia mengetahui sesuatu yang tidak boleh diketahui oleh orang lain, begitu?. "
Tanya Kaguya, Naruto mengangkat bahu dan tersenyum aneh, " ya manaku tahu?, ini asumsiku saja, bisa saja asumsiku salah dari yang sebenarnya terjadi, " ucap Naruto mendapatkan tatapan aneh dari semua yang berada disana, Naruto tersenyum dan mengambil cangkir teh miliknya lalu menyesap teh nikmat itu sebelum ia menatap kedepan...,
" namun, hanya satu kebenaran yang pasti, kita semakin dekat dengan misteri Kematian [Maria Rossfield]..., dan hanya tinggal beberapa keping lagi misteri ini akan terpecahkan "
Ucap Naruto dengan senyuman misterius sebelum ia kembali meminum teh miliknya, dan satu alis Naruto terangkat dan menatap kearah cangkir teh miliknya...,
" ah, Tehku habis, Miya..., tambah lagi?. "
__ADS_1