The Worst One

The Worst One
Chapter 25


__ADS_3

Aku -Namikaze Naruto- seorang pecundang yang saat ini tengah berada sejajar dengan mereka yang disebut berbakat, aku berhasil membuat orang yang dulu menghinaku kini menjadi penganggumiku.


Senang?, tidak sama sekali. Bangga?, tidak, aku tidak bisa membanggakan apa yang telah aku miliki sekarang... Puas?, aku rasa sedikit. Kekasih?, uhm... Sejujurnya aku tidak tahu maksud pertanyaan ini tapi, ya... Aku memilikinya, empat sekaligus!, luar biasa bukan?, ya!, luar biasa merepotkan!, sangking merepotkannya aku sampai akan dengan senang hati mengacungkan jari tengahku pada orang yang mengatakan memiliki banyak kekasih itu menyenangkan, jujur saja bung!, itu tidak menyenangkan sama sekali!.


"Master... Selamat kau telah memiliki kekasih, empat sekaligus."


Aku yang tengah frustasi dan menyembunyikan kepalaku dilipatan tangan ku mengangkat kepalaku dan menatap kearah seorang gadis bersurai hitam panjang dengan iris hitam yang menatapku dengan pandangan kosong seperti biasa.


"Ophis, maaf... Tapi bisakah kau diam untuk saat ini?."


Aku mengatakan itu selagi memijat pelipisku yang berdenyut, setelah insiden kue yang tercampur dengan Ramuan Legendaris, aku terkena dampak fatal dari insiden itu, kini aku telah memiliki empat kekasih yang semuanya!, menjadi kekasihku karena terkontaminasi ramuan legendaris, Elixir of Love...


Elixir of Love, Ramuan Legendaris yang aku dapatkan dari salah satu Wakil kepala sekolah sebagai hadiah atas aku yang memenangkan taruhan dengan Tiga Orang paling penting diseluruh Academy... Ya meskipun secara garis besar hanya dua saja yang bertaruh denganku dan yang satunya terkena imbas dari pertaruhan itu.


Aku menghela nafas, ini memusingkan... Aku tidak akan terlalu menanggapi-nya jika saja para kekasihku tidak memiliki status sosial yang tinggi!, namun kenyataan-nya para kekasihku adalah seorang perempuan dengan status sosial tinggi!. Otsutsuki Kaguya, Senju Kyubi, Arthuria Pendragon serta Ayame Shaga, tiga dari kekasihku adalah pewaris selanjutnya keclan ternama diseluruh kerajaan Alvarez!, akan jadi masalah yang serius jika aku ketahuan meng-empati mereka!, meski secara garis besar mereka menerimanya tapi aku yakin tidak dengan keluarga mereka!?.


Apa yang akan terjadi pada Clan Namikaze jika para kepala Clan yang anaknya menjadi kekasihku tahu tentang hal ini?, sudah jelas!, kehancuran Clan Namikaze yang dipicu oleh seorang pemuda yang meng-empati anak gadis mereka!... Uwwoooo, ini Bom waktu!, seratus persen Bom waktu!.


Demi menghindari kehancuran Clan Namikaze karena masalah kecil ini maka aku membuat perjanjian dengan keempat kekasihku. pertama!, jangan biarkan siapapun tahu tentang hubungan ini, siapapun!, tanpa terkecuali!. kedua!, bersikap seperti biasa saat berada dikeramaian, terakhir!, jangan melakukan tindakan tidak senonoh yang dapat mengancam masa depan!.


Ya syarat yang konyol tapi mereka menerimanya dengan satu syarat yaitu bahwa aku tidak akan pernah mencampakan mereka saat dimana kami memiliki waktu bersama-sama, mereka meminta juga pada jika setiap istirahat makan siang aku wajib!, datang kebelakang Academy untuk makan siang bersama mereka, dan aku menyetujuinya asalkan itu tidak menganggu gugat tiga persyarat yang aku ajukan.


"Aku harus segera menemui Orochimaru dan meminta penyelesaian untuk masalah ini."


Ya... Harus!. Ketika aku tengah membulatkan tekad aku entah kenapa merasakan tatapan tajam yang menusuk punggungku, aku perlahan menoleh kebelakang dan mendapatkan Jeanne dan Maria yang menatap tajam diriku, aku berkeringat dingin, kenapa mereka menatapku dengan tajam?, apa aku memiliki salah pada mereka?... Kapan, dan bagaimana ia melakukan kesalahan itu?.


"Ano... Jeanne, Maria... Kenapa kalian menatapku seperti itu?, apa aku telah melakukan sesuatu yang membuat kalian marah padaku?."


Mereka dengan kompak memalingkan wajah mereka dengan 'hmph!' khas perempuan ngambek.


"Pikirkan sendiri, Baka."


Are?... Kenapa mereka tambah marah?, apa salahku!, ketika aku ingin bertanya tiba-tiba keduanya menghilang dimana Maria berubah menjadi Dagger dan jatuh dibantalan lembut disamping meja belajarku dan Jeanne yang berubah menjadi partikel cahaya. Aku yang bingung menoleh kearah Ophis dan aku hanya dapat melihat Ophis yang sudah tertidur diranjang dengan punggung-nya yang menghadap kearahku. Kenapa para gadis dikamarku jadi marah seperti itu?, apa salahku pada mereka?, Aku terdiam sebelum menghela nafas lelah.


"Pada akhirnya aku tidak mengerti hati para gadis..


.


.


.


Pada pagi hari setelah sarapan aku langsung berjalan menuju Academy, tidak ada waktu untuk bersantai-santai saat masa depan keperjakaanku-, eh, maksudku masa depan Clan Namikaze sedang dipertaruhkan!.


Aku berjalan dengan langkah cepat menuju kesekolah namun seketika langkahku terhenti ketika aku merasakan seseorang dari belakang memeluk dan membenamkan wajahnya dipunggungku.


"Ohayou, Darling..."


Suara ini?, aku menoleh kebelakang dan melihat perempuan yqng suatu saat nanti akan menjadi kepala Clan Pendragon, ya... Dia adalah salah satu kekasihku, Arthuria Pendragon. Aku menatap wajah cantik-nya yang terlihat berseri-seri, aku menghela nafas dan melepaskan pelukan Arthuria dengan lembut dan hal itu langsung dihadiah wajah cemberut manis dari Arthuria... Baiklah aku harus bersikap selayaknya kekasihnya ini hanya sementara.


"Ohayou, Arthuria. Aku lihat kau terlihat sangat senang hari ini, apa ada sesuatu yang spesial terjadi?."


Tanyaku membuat wajah Cemberut Arthuria menghilang dan tergantikan oleh senyuman tipis dan rona merah diwajahnya, sesekali ia melirik kearahku lalu mengalihkan pandangannya kearah lain... Manis-nya~.


"Y-ya, aku sangat senang karena bisa bersama denganmu, Naruto."


Aku mengerjapkan mataku, apa ini... Arthuria terlihat sangat manis... Aku ingin sekali memeluknya karena sikap malu-nya sangat manis!, aku mengeleng pelan ini tidak nyata!, ini semua terjadi karena Elixir of Love!, jika bukan karena Elixir of Love mana mungkin Arthuria akan semanis ini!.


Aku mengaruk pipiku untuk menghilangkan kegugupanku, "aku... Aku juga senang bisa bersama dengan perempuan semanis dirimu, Arthuria." bagaikan Radiasi matahari dipadang gurun, Arthuria langsung memerah mendengar perkataanku, ia beberapa kali meremas ujung roknya... Setelah beberapa saat, Arthuria membuat wajah seolah ia telah membuat keputusan, dengan pandangan malu-malu Arthuria berkata.


"Ne... Naruto, bi-bisakah kita bergandengan tangan dan menuju Academy bersama-sama?."


"!"


Gawat... Sikap malu-malunya membuatku hampir mati!, untuk beberapa saat aku merasakan jantungku berhenti berdetak, aku mengeleng pelan untuk mengusir desiran dihatiku, saat ini aku mencoba menjadi kekasih yang baik agar mereka tidak melanggar perjanjian yang telah kami sepakati, aku tersenyum tipis dan mengulurkan tanganku.


"Tentu saja, lagipula tidak ada siapapun disini."


Aku memang bajingan!, apa-apaan nada gentle yang aku keluarkan itu!. Arthuria tersenyum senang dan dengan rasa bahagia yang berlebihan kami berjalan menuju Academy selayaknya sepasang kekasih... Aku tersenyum miris.


'Kami-sama... Haruskah aku anggap ini Anugerah atau hukuman darimu.'


Aku dan Arthuria berpisah dipersimpangan lorong, dia nampak kecewa karena harus berpisah denganku, aku tersenyum tipis dan menepuk surai pirang pucat miliknya membuat dia menatap kearahku.


"Jangan pasang wajah sedih, makan siang nanti kita bisa bertemu lagi bukan?."


"Ya kau benar tapikan..."


"Arthuria, dengarkan aku, kau adalah ketua dari komite kedisplinan, kau adalah panutan untuk semua murid diacademy ini karena itu jangan abaikan kewajiban untuk mendisplinkan para murid diacademy ini... Dan lagipula, melihat kau menjalankan kewajibanmu dengan tekun dan ketegasanmu yang menghukum tanpa memandang siapapun orang itu, bagian dari dirimu itulah yang aku sukai..."


Arthuria entah kenapa memerah hingga sampai kekuping, ia terlihat salah tingkah, aku menatap bingung hal itu.


"Uuhh... Baiklah, aku akan menunggu sampai makan siang ditempat yang telah kita tentukan..."


Aku tersenyum mendengar jawaban pasrahnya, ya kau tahu seperti kata salah satu heroine di LN Isekai yang pernah aku baca "yang jatuh cinta pertama kali dia yang kalah", dan ya, perkataan Heroine itu tepat sasaran.


"Baiklah, sampai jumpa saat makan siang, Arthuria."


Aku berusaha berbalik namun terhenti ketika tiba-tiba lengan Blaze ku ditahan dan mataku membulat ketika aku merasakan sesuatu yang lembut dan basah menyentuh pipiku... Arthuria... Mencium pipiku?... Aku menatap Arthuria yang menundukan wajahnya menyembunyikan rona merah yang memenuhi wajahnya.


"Ka-kalau begitu, sampai jumpa lagi, Naruto."


... Dan dia pergi dengan begitu cepat, aku terpaku menatap kepergian Arthuria dalam diam, aku menyentuh pipiku dimana disana tercetak bekas bibir tipis Arthuria...


"Aku harus segera menemui, Orochimaru atau habislah aku..."


Aku menghela nafas, dan berjalan menuju kelas, lalu memikirkan bagaimana caranya aku bertemu dengan Orochimaru.


.


.


.


"Tobio-kun, ini aaah~."


"Aaaah~."


Diruang Club aku menyaksikan pemandangan menyakitkan kedua orang yang ada didepanku yang tengah bermesraan satu sama lain, sang perempuan terlihat begitu memanjakan sang pria yang ada dipangkuan-nya, aku dan teman disebelahku menatap kosong kearah keduanya.


"Nee, Naruto-san. Bolehkah jika aku menusukan tombak-ku kewajah-nya?."


"Hentikan, Cao Cao... Jangan kotori harta mulia-mu yang berharga untuk orang seperti dia."


Aku menghentikan Cao Cao yang bersiap membuka kain yang menutupi harta mulia miliknya, Cao Cao berdecih dan mengalihkan pandangannya kesamping selagi bergumam.


"Mati saja sana!."


Aku tahu apa yang Cao Cao Rasakan, memanfaatkan Elixir of Love untuk dimanja oleh Fuku Taichou, adalah perbuatan yang tidak terhormat!. Aku menghela nafas dan menatap Tobio yang tengah menikmati potongan buah peach yang dikupas dan disuapi oleh Miya... Ugh!, akan aku hajar wajah penuh kesenangan-nya itu.


"Tobio..."


"Uhm?... Aaaah~."


Sial... Nih orang begitu menikmati perhatian over dari Fuku Taichou!, aku berusaha menenangkan gejolak emosiku, disebelahku Cao Cao sudah hampir kehilangan batas kesabarannya, tangannya sudah bergetar memegang harta mulia-nya, Cao Cao tenanglah.


"Tobio, apa kau tahu dimana Lab Orochimaru-sensei?."


"Uhm?, untuk apa kau menanyakan hal itu?."


Si sialan ini, dia nampaknya menikmati bantal paha yang diberikan Miya, aku menatap datar Tobio.


"Ada yang harus aku bicarakan dengan dia, aku sudah mencari Lab-nya tapi hasilnya nihil."


"Aku tahu, tapi Naruto... Kenapa aku harus memberitahumu?."


Dia menatapku dengan pandangan datar selagi Miya memanjakannya, aku menatap iris hitamnya dengan pandangan dingin.


"Kau harus memberitahu-nya, ini demi masa depan kita berdua."


Mendengar perkataanku membuat Tobio menaikan satu alisnya dan menatapku dengan bingung.


"Apa maksudmu, Naruto?."


Aku menatap datar Tobio sebelum menghela nafas, "Tobio, selama ini apa anggapanmu terhadap hewan peliharaanmu, Jin?." aku bertanya pada Tobio yang nampaknya jadi bingung dengan pertanyaanku.


"Anggapanku terhadap Jin?, uhm... Tentu saja aku menganggapnya sangat berharga untukku!, dan aku sangat menyayangi Jin!."


Aku tanpa disadari oleh siapapun menyeringai, Tobio menatap kearahku dengan dada membusungkan kedepan dengan bangga seolah-olah apa yang dikatakan oleh-nya patut diberikan tepuk tangan.


"Itulah tanggapanku terhadap Jin, memang ada apa kau menanyakan hal itu."


Aku menyeringai tipis sebelum mengeleng pelan, "tidak ada, hanya membuat umpan yang dengan mudah kau makan Tobio. Coba kau lihat itu. " Tobio menatapku bingung sebelum ia mengikuti arah tunjukanku dan seketika rona sehat Tobio lenyap.


Dihadapan Tobio saat ini, Miya tersenyum manis namun suasana hatinya sangat buruk, aura menyeramkan menyelimuti tubuh Miya dan tak lupa tiga Topeng Hannya berada dibelakang Miya. Miya perlahan bangkit membuat kepala Tobio berbenturan dengan lantai.


"Begitu... Setelah kasih sayang yang telah aku berikan padamu, kau masih memilih Jin daripada aku, perempuan yang sangat mencintaimu ini?. Kalau begitu aku tidak punya pilihan lain, aku harus membunuhmu disini, karena jika aku tidak bisa memilikimu maka tidak ada seorangpun yang dapat memilikimu."


Aku, Cao Cao dan Tobio menegang, Miya dengan mata haus darah perlahan menarik pedang dari pinggangnya dan terlihatlah pedang kesayangan Miya. Aku tidak percaya ini... Miya Fuku Taichou ternyata seorang Yandere!.


"Mi-Miya, te-tenanglah."


Tobio perlahan beringsut kearah aku dan Cao Cao ketika melihat Miya dalam mode Killing, keringat dingin membanjiri tubuh Tobio. Tapi nampaknya Miya tidak mengidahkan perkataan Tobio dan melangkah dengan berat membuat Image malaikat kematian hinggap pada Miya.


"Aku telah mencurahkan semuanya padamu, kasih sayangku, cintaku, perhatianku, dan kau lebih memilih Jin daripada aku?...Aku akan mencincangmu dan menjadikanmu makanan untuk Jin, Tobio-kun~."


Aku merinding hebat melihat senyuman pyscho diwajah cantik Miya, tidak hanya aku bahkan Cao Cao juga bergetar ketakutan!, Tobio yang yakin nyawa-nya tidak akan selamat jika Miya tidak dijinakan menoleh kebelakang dan menatapku dengan tatapan seolah berkata.

__ADS_1


'Aibo!, selamatkan aku!.'


Aku yang melihat tatapan itu mendelik tajam kearah Tobio delikan yang bisa diartikan. 'Urus, urusanmu sendiri.' Tobio yang mengerti arti delikanku memasang wajah memelas dan tatapan memohon.


'Jika kau menolongku aku akan mengantarmu ketempat Orochi!.'


'Kau akan melakukan-nya?.'


'Ya!, aku akan melakukan-nya!, karena itu selamatkan aku!.'


Aku terdiam menatap Tobio yang nampaknya memang benar-benar membutuhkan bantuan, ya ampun... Mau bagaimana lagi, aku mengalihkan pandanganku dan menatap kearah Miya yang tengah dalam kondisi haus darah!.


"Miya..."


Aku memanggilnya dengan hati-hati, bulu kuduk-ku berdiri ketika Miya menatapku dengan cepat, menyeramkan!, kau sejenis Ibliskah!?. Aku menghela nafas dan memainkan poker faceku.


"Aku rasa kau tenang saja, Tobio tidak akan menduakanmu, kau tahu dia memang menyayangi Jin sebab Jin adalah sahabat yang sudah lama menemani Tobio dari kecil, lagipula kau tidak perlu cemburu karena bagaimanapun dihati Tobio saat ini hanya ada namamu, Miya."


Nyawa kami dipertaruhkan disini karena itu Aku mohon!, percayalah!. Miya nampak terdiam dalam mode haus darahnya, aku menatap kearah Tobio yang terdiam dan mengirim kode lirikan.


'Cepat rayu dia!, dia dalam keadaan Skak!.'


Menyadari kode lirikanku, Tobio dengan wajah menyakinkan menatap kearah Miya dan seolah dia adalah pangeran dinegara ini Tobio memegang tangan Miya dan berkata dengan nada lembut.


"Miya... Apa yang dikatakan Naruto benar, satu-satunya yang ada dihatiku ini hanyalah dirimu, kau percaya padaku kan?."


Wusssh!


Seolah perkataan Tobio adalah Pemurnian untuk jiwa yang dipenuhi dendam, Aura haus darah Miya lenyap dan digantikan oleh Ilusi bunga bermekaran disekitar-nya... Dengan wajah merah merona, Miya menatap kearah Tobio dengan malu-malu lalu bertanya.


"Benarkah... Benarkah hanya ada aku dihatimu, Tobio-kun?."


Dan... Inilah saat Tobio meng-checkmate Miya!, lakukan Taichou!, ini demi nyawamu!, dengan wajah melembut Tobio menatap Miya dan berkata.


"Ya, hanya kau lah yang ada dihatiku."


Bluuush!


"Ka-Kalau begitu, ak-aku permisi dulu aku akan membuat minuman spesial sebagai tanda maaf dariku karena sudah menuduhmu selingkuh dengan Jin."


Kami bertiga menghela nafas lega, Miya telah berhasil dikalahkan!, Tobio menjatuhkan tubuhnya kelantai dan menatap langit-langit dengan lelehan keringat diwajahnya.


"Aku pikir... Aku akan mati tadi, siapa sangka jika Miya yang dingin bisa menjadi seorang pembunuh hanya karena cemburu."


"Ya, untuk sekarang kau selamat, Tobio."


Mendengar perkataanku Tobio segera bangkit dan dengan cepat ia mengambil sebuah kertas dan alat tulis yang ada dimeja, dengan kecepatan yang menakutkan Tobio menulis sesuatu, tak lama kemudian Tobio menatapku dengan pandangan serius selagi ia menyerahkan kertas ditangannya padaku.


"Naruto, apapun yang terjadi kau harus segera meminta obat penawar pada Orochimaru-sensei!, jika terus begini aku akan mati muda!."


Ya benar kau akan mati jika terus berada didekat Miya Fuku Taichou yang ternyata seorang Yandere kelas berat!, aku menatap kearah kertas ditanganku serius dan mengangguk pelan lalu kenatap Tobio.


"Serahkan saja padaku, jika berhasil maka umurmu akan panjang, kawan."


"Ya, aku mengandalkanku, Aibo."


Aku dan Tobio melakukan jabat tangan yang menandakan kerjasama antar para korban Elixir of Love.


"Ara, ternyata kau disini, Naruto."


Tubuhku merinding ketika mendengar sebuah suara yang sangat aku kenali, dengan gerakan cepat aku menoleh kearah pintu dan terlihatlah ketua komite kedisplinan tengah berdiri dan tersenyum kearahku.


"Sudah waktunya?."


Dia mengangguk dengan senyuman diwajahnya, aku menghela nafas dan bangkit dari tempatku lalu berjalan mendekatinya dan meninggalkan ruangan dalam keheningan.


"Cao Cao... Kau lihat itu.*


" ya, aku melihatnya... Ketua kedisplinan tersenyum."


.


.


.


Kini aku dan Arthuria tengah berjalan menuju halaman belakang Academy, tempat dimana kami akan makan siang dengan para kekasihku yang lain, dari sudut pandanganku aku melihat Arthuria ingin sekali menggandeng tanganku namun selalu tidak jadi, aku tersenyum tipis saatnya menjadi kekasih yang baik.


"Ayo kita pergi..."


Arthuria nampak terdiam melihatku yang menjulurkan tanganku padanya, awalnya Arthuria nampak ragu tapi akhirnya ia mengandeng tanganku dan kami berdua berjalan melewati jalan sepi menuju belakang Academy. Selama perjalanan Arthuria nampak bahagia membuatku tersenyum miris... Ini hanya efek dari Elixir of love jadi ini hanyalah kepalsuan dari perasaan mereka.


Setelah beberapa saat berjalan akhirnya kami sampai dibagian belakang Academy, disana... Dibawah pohon dengan dedaunan lebat terlihat tiga perempuan dengan sibuk menata makanan yang mereka keluarkan dari cincin ruang dijari mereka, ketiga perempuan itu tersenyum puas melihat makanan yang telah berjajar dengan rapi. Kyubi, yang merasakan kehadiran kami menoleh kearah aku dan Arthuria lalu melambaikan tangan.


"Naruto-kun!, Arthuria-chan!, cepat kemari."


"Wah!, semuanya kelihatan enak!."


Arthuria berkomentar seperti itu selagi ia menatap berbinae makanan yang ada didepannya, aku hanya bisa tersenyum kecil dan menatap kearah makanan yang tertata dengan rapi, uhm... Semua rata-rata terdiri dari daging, uhm... Maa, makanan Clan Bangsawan memang rata-rata berbahan dasar daging, Shaga yang melihatku terus berdiri membersihkan tempat yang akan aku duduki dengan tangannya yang halus.


"Silahkan duduk disini, Naruto-kun."


"Ah, terimakasih."


Aku menjatuhkan pantatku dan duduk menghadap kearah empat gadis yang berstatus sebagai kekasihku ini, aku tersenyum miris dalam hati, Elixir of Love... Sungguh ramuan yang mengerikan, memainkan perasaan sampai seperti ini?, benar-benar Elixir legendaris... Ini tidak akan lama lagi, setelah aku menemui Orochimaru kalian semua akan kembali seperti semula, karena itu aku akan berperan sebagai kekasih yang baik untuk kalian.


Aku menatap kearah makanan didepanku dan tersenyum tipis, "jadi siapa yang memasak semua makanan ini?." tanyaku dengan nada lembut yang membuatku menangis karena membohongi diriku sendiri. Shaga yang duduk disebelahku menyodorkan padaku sepiring daging sapi yang dilumuri oleh saus kecokelatan.


"Yang menyiapkan semua ini adalah kami, kami harap kau menyukainya, Naruto-kun."


Shaga mengatakan itu dengan wajah merona tipis, aku tersenyum sebelum aku berniat mengambil seiris daging namun saat garpu yang aku pegang menyentuh daging itu tiba-tiba tanganku ditahan oleh Shaga membuatku menatap bingung Shaga.


Dengan lembut tanganku dijauhkan dari makanan itu dan Shaga memotong daging itu dengan halus, menusuknya dengan garpu dan menyodorkan padaku.


"Katakan Aaaah."


Aku sedikit kesulitan melihat Shaga tengah ingin menyuapiku, aku melirik takut kearah tiga perempuan yang lain, dan mereka hanya tersenyum dan menganggukan kepala mereka!?, apa itu!, apa kalian setuju tentang hal ini?!...


"Naruto-kun katakan aaaah~."


Aku membuka mulutku dengan ragu sebelum memasukan daging itu kedalam mulutku dan mengunyahnya perlahan, rasanya lumayan... Memanjakan lidahku. Shaga menatap kearahku seolah meminta komentar dariku, aku menelan daging dimulutku dan tersenyum kearahnya.


"Enak, masakanmu enak, Shaga."


... Dan senyuman seindah bunga mawarpun mekar diwajah Shaga. Aku mengalihkan pandangan kearah tiga gadis yang lain yang nampak tengah kesulitan, ah... Begitu kah?.


"Arthuria, Kyubi, Kaguya... Bisakah kalian menunjukan padaku mana saja makanan yang menurut kalian paling enak?."


Aku bertanya seperti itu dan membuat ketiga kekasihku memasang wajah ceria mereka mengangguk dengan semangat dan mulai menusuk makanan yang menurut mereka paling enak dan menyodorkannya padaku, aku tersenyum dan memasukan satu persatu makanan itu dan mengunyahnya dengan pelan.


Mereka menunggu tanggapanku atas masakan mereka, aku terdiam dan menelan makanan dimulutku sebelum menatap mereka dengan wajah lembut.


"Aku tidak menyangka, ternyata kalian pandai sekali memasak, kalian type istri yang sempurna."


Bluusssh


Dan wajah mereka meledak dalam warna merah, dan mulai melanjutkan makan mereka dengan gugup, ugh... Mereka manis sekali... Mungkinkah mereka akan tambah senang jika merasakan masakan buatanku?, uhm... Tidak ada salahnya mencoba.


aku tanpa diketahui oleh siapapun menyembunyikan tanganku dibelakang punggungku dan membuka Gate yang menjatuhkan kotak obento tepat diatas tanganku.


Aku membuka Obentoku dan dari dalam obentoku menyeruak bau yang mengelitik hidung, mencium bau yang enak keempat kekasihku menoleh kearahku dan menatap kearah Obentoku. Aku tersenyum melihat rasa penasaran mereka. Obentoku hanyalah Omelet Rice simpel tidak ada hal khusus dalam Omelet Rice ini namun karena bentuk-nya yang unik mengundang mereka untuk menyicipinya.


"Kalian mau?."


Tanyaku menawarkan, keempat kekasihku itu nampak ragu sebelum mengangguk pelan, aku tersenyum dan mengambil sesendok Omelet Rice dan mengarahkannya pada Shaga yang nampaknya terkejut melihatku berniat menyuapinya.


"Kalian sudah memanjakanku tadi sekarang giliran aku yang memanjakan kalian, hora katakan Aaah~."


Shaga memerah mendengar ucapanku sebelum dengan malu-malu ia membuka mulutnya dan memasukan Omelet Rice kemulutnya, dan sedetik kemudian Ekspresi seolah ia memakan makanan yang sangat lezat meledak.


"Ak-Aku tidak pernah merasakan masakan seperti ini, i-ini sangat lezat."


Melihat Shaga yang menikmati masakanku membuat yang lain juga tertarik mencobanya dan menatap kearahku dengan ekspresi lucu, aku tersenyum kecil.


"Baiklah, sekarang aku akan memanjakan kalian satu persatu..."


Aku-pun menyuapi mereka satu persatu dengan penuh perhatian, sampai omelet riceku habis, aku tersenyum melihat keempat kekasihku menikmatinya.


Kamipun menyelesaikan makan siang kami dengan menyenangkan, aku merebahkan diriku disana, perutku sudah kenyang sekali, kemampuan masakan mereka mungkin masih dibawahku tapi jika mereka terus berlatih memasak aku yakin mereka akan menjadi istri idaman... Hoooaamm... Entah kenapa rasanya mengantuk...


.


.


.


Oya... Apa aku baru saja tertidur?, aku membuka mataku dengan malas dan menatap langit yang sudah mulai sore, aku bangkit dari posisiku dan meregangkan tubuhku yang agak kaku, tadi itu menyenangkan... Aku menoleh kekanan dan kiriku dan aku tidak bisa untuk tidak tersenyum ketika melihat keempat kekasihku tengah tertidur dengan wajah damai, nampaknya mereka juga mengalami kekenyangan dan tidur disekitarku.


"Tunggulah, Shaga, Kyubi, Kaguya, Arthuria... Aku akan segera menyembuhkan kalian dan mematahkan efek Elixir of Love."


Aku membulatkan tekadku, keempat kekasihku mengeliat kesamping dan tangan mereka bergerak seolah mereka mencari sesuatu, setelah yakin sesuatu itu tidak ada keempatnya dengan kompak membuka mata mereka dan bangkit dengan keadaan setengah sadar...


"Oya, kalian sudah bangun para putri tidur?."


Mereka berempat dengan kompak mengalihkan pandangan mereka kearahku dan seketika mereka tersadar sepenuhnya dan dengan lembut mereka membenarkan penampilan mereka yang agak kusut.


"Baiklah, saat kita pergi dari sini."

__ADS_1


Ucapku dibalas anggukan patuh dari mereka, aku tersenyum miris, mereka sangat manis dan penurut... Elixir of Love, memang benar-benar mengerikan.


.


.


.


"Uhm... Disinikah?."


Aku bergumam selagi pandanganku terkunci pada sebuah bangunan tua didepanku, aku mengalihkan pandanganku kekertas ditanganku.


"Dikertas yang Tobio berikan padaku menujukan jika ini adalah tempatnya."


Aku mencoba mengetuk pintu yang terbuat dari kayu yang telah lapuk itu dan suara sahutanpun terdengar dari dalam, tak lama aku mendengar suara derapan langkah dan sedetik kemudian pintu terbuka dan menampilkan seorang pria/wanita bersurai hitam panjang dengan mata seperti mata ular tengah menatapku dengan ekspresi kelelahan. Jubah putih panjang khas ilmuan terlihat kotor... Satu hal yang terlintas dikepalaku saat ini adalah [tidak terurus].


"Kau... Namikaze Naruto?."


Aku tersadar dari lamunanku dan mengangguk pelan, dia nampak tengah menatapku dari atas sampai bawah sebelum ia mempersilahkanku masuk.


"Maaf jika tempat ini berantakan."


Aku mengangguk, tempat ini memang benar-benar berantakan dengan berbagai macam alat tergeletak dimana-mana, aku berjalan mengikuti Orochimaru-sensei.


"Silahkan duduk, aku akan membuatkan minuman."


Aku menatap kearah Orochimaru-sensei dan mengangguk pelan, setelah kepergian Orochimaru-sensei aku menatap benda-benda yang ada diruangan ini, disatu sisi aku merasa tempat ini nampak seperti tempat sampah namun disisi lain aku merasa tempat ini dipenuhi benda-benda yang menganggumkan.


"Maaf membuatmu menunggu."


Aku tersadar dari kekagumanku ketika Orochimaru-sensei kembali dengan membawa sebuah nampan berisikan dua cangkir teh yang diletakan didepanku. Orochimaru-sensei mempersilahkanku Minum dan aku dengan senang hati meminum sedikit teh itu... Uhn... Tidak seenak buatan Miya Fuku Taichou tapi lumayanlah.


Aku meletakan cangkir tehku dan menatap kearah Orochimaru yang tengah menyesap teh buatan-nya sendiri.


"Ano... Orochimaru-sensei."


"Uhm?."


"Apa anda tinggal ditempat ini sendirian?."


Orochimaru-sensei nampak terdiam sebelum ia meletakan cangkir teh miliknya dan menatapku dengan pandangan datar.


"Tidak, aku memiliki dua orang Asisten namun mereka sedang tidak ada disini, mereka tengah melakukan perjalanan untuk menemukan bahan yang akan melengkapi penelitian kami."


Uwa... Datar-nya, entah kenapa dia nampak tidak tertarik pada apapun kecuali penelitian-nya. Orochimaru-sensei menatapku dengan tatapan intens.


"Jadi?, Namikaze-san?... Apa kau membutuhkan sesuatu dariku hingga kau harus repot-repot datang ketempat yang jauh dari Academy ini?."


Aku menatap kearah Orochimaru-sensei yang menatapku dengan mata ularnya. Aku menghela nafas sebelum aku menatap dirinya dengan pandangan datar.


"Seperti yang sensei katakan, aku datang kesini hanya ingin meminta penawar dari Ramuan yang pernah sensei berikan padaku."


Orochimaru nampak terdiam sebelum ia menatap kearahku dengan datar.


"Maksudmu Ramuan X/E-Love5?."


Aku mengangguk cepat meskipun dia menyebut ramuan itu dengan nama yang berbeda tapi karena disana ada kata Love-nya maka itu sudah pasti benar!, Orochimaru nampak terdiam dan menatap kearahku.


"Katakan padaku bagaimana efek dari ramuan itu?."


Tanya Orochimaru-sensei, akupun tidak memiliki pilihan selain menjelaskannya pada Orochimaru semua yang menjadi efek dari ramuan itu setelah mendengar penjelaskanku Orochimaru nampak berpikir sejenak sebelum ia menghela nafas.


"Begitu... Efek-nya terlalu kuat ya?."


"Aku tidak tahu apa yang kau katakan, Sensei. Tapi aku harap kau memiliki ramuan penawar-nya sebelum aku benar-benar berada dalam masalah yang serius."


"Ya... Aku memiliki penawar-nya, berapa banyak yang kau butuhkan?."


Aku mengangkat tanganku dan menunjukan lima jariku..."lima, aku butuh lima penawar." ucapku membuat Orochimaru terdiam sejenak sebelum bersiul menggoda dan menyeringai kearahku.


"Tidak aku sangka kau bisa menjerat lima perempuan sekaligus, kau memiliki potensi memiliki banyak keturunan kau tahu? "


Alisku berkedut mendengar perkataan sialan dari Ilmuwan gila ini, banyak keturunan dia bilang?, hey!, aku masih muda!, masih banyak hal yang harus aku lakukan sebelum memutuskan berkeluarga!. Aku berucap dengan nada kesal.


"Sensei... Bisakah anda menyerahkan penawarnya segera?."


Orochimaru-sensei tertawa, sepertinya dia sangat senang melihatku kesal, orang ini... Setelah beberapa saat ia berhenti tertawa dan kembali menatapku dengan mata ular miliknya.


"Siapa saja yang berhasil terpikat olehmu, Namikaze?."


Twich!


"Sensei... Kau benar-benar ingin mengetahuinya?."


Aku berusaha menahan rasa kekesalanku hingga membuat suaraku terdengar sedikit mengeram, Orochimaru-sensei menatapku dengan seringai diwajahnya.


"Tentu, kenapa tidak?."


"Hooh~, baiklah... Pastikan kau tidak terkejut... Lima orang yang terkontaminasi ramuan adalah, Asama Miya, Senju Kyubi, Otsutsuki Kaguya, Arthuria Pendragon, dan Ayame Shaga.."


Tanpa aku sadari ketika aku menyebutkan nama siapa saja yang terkontaminasi seringai diwajah Orochimaru-sensei perlahan luntur dan menjadi sebuah wajah terkejut yang lucu, aku menatap bingung kearah Orochimaru-sensei yang membuka mulutnya dan melebarkan matanya selagi keringat dingin membasahi wajahnya.


"Ka-Kau serius... Mereka semua terkena efek Ramuanku?."


Aku mengangguk pelan, "ya, sensei... Dan kau akan terkena masalah yang serius jika kau sampai ketahuan membuat putri-putri dari Clan ternama itu menjadi kelinci percobaan." ucapku membuat Orochimaru bangkit dan dengan cepat langsung berlari menuju belakang, sementara aku, lebih memilih meminum tehku, uhm... Teh buatan Fuku Taichou lebih enak.


Setelah beberapa saat menunggu dengan ditemani suara-suara gaduh dari belakang akhirnya Orochimaru-sensei kembali dengan lima buah tabung berisi cairan berwarna hijau dan menyerahkannya padaku... Sensei?, kau baik-baik saja?, kau terlihat kehabisan nafas, dan keringatmu banyak sekali, sebenarnya apa yang kau lakukan dibelakang tadi?.


"Ini, penawar dari ramuanku... Hosh... Hosh... Hosh, aku mohon padamu, Namikaze!, apapun yang terjadi pastikan!, pastikan kau berhasil memberikan penawar ini pada mereka!, terutama pada perempuan bernama Ayame Shaga, berjanjilah padaku kau akan melakukannya!."


Hanya perasaanku saja atau Orochimaru-sensei terlihat sangat ketakutan?, aku menatap aneh Orochimaru-sensei dan menerima kelima ramuan itu dari Orochimaru-sensei...


"Namikaze-san!, nyawa kita berdua sekarang ada ditanganmu!, pastikan kau berhasil melakukan tugasmu dengan benar!."


Aku hanya bisa melambaikan tanganku meninggalkan Orochimaru-sensei yang nampaknya sangat ketakutan ketika mendengar nama Ayame Shaga?, memang siapa sebenarnya Shaga hingga bisa membuat Ilmuwan terpintar(gila) diseluruh kerajaan Alvarez ketakutan seperti itu...


"Jika dipikir-pikir lagi, aku tidak tahu apapun tentang, Shaga. Selain dia yang menjaga perpustakaan."


Aku sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Shaga, siapa dia, siapa keluarganya dan apa status sosial-nya?, aku sama sekali tidak mengetahuinya... Ada apa ini?, kenapa aku merasa seolah-olah ada yang disembunyikan oleh Shaga dariku?.


Aku mengeleng pelan, ini bukan saatnya memikirkan hal itu aku harus segera memberikan penawar ini pada Semua yang terkontaminasi Elixir of Love.


"Tapi... Bagaimana caranya?... Uhm, ah!, kita gunakan cara itu saja!."


.


.


.


"Huum?, Naruto-kun?, untuk apa kau mengajak kami kesini?."


Shaga berucap dengan nada bingung selagi matanya menatap kesekeliling, aku tersenyum dan berbalik menghadap keempat perempuan yang kini berstatus sebagai kekasihku itu, aku hari ini akan mematahkan pengaruh dari Elixir Of Love dan menyadarkan mereka.


"Maa, aku mengajak kalian ke Stadiun ini hanya untuk sparring dengan kalian... Aku dengar kalian sangat hebat dibidang kalian masing-masing, jadi apa kalian keberatan jika kalian melakukan sparring denganku?."


Aku bertanya dengan ekspresi bersahabat, keempat kekasihku menatap satu sama lain sebelum Kyubi menatapku dan berkata.


"Maksudmu, kami berempat melawanmu sendiri begitu, Naruto-kun?."


Aku mengangguk pelan, "ya kalian berempat melawanku sendiri, bagaimana?." tanyaku, Kaguya menatap kearahku dengan pandangan cemas dan gelisah.


"Ta-Tapi apa kau yakin?, Naruto-kun... maksudku kami tahu jika sekarang kau telah berada ditingkat [Silver: III] tapi melawan kami berempat sekaligus apa itu tidak gegabah?."


Aku terdiam, begitu... Mereka mengkhawatirkanku, uuh... Betapa manisnya mereka!, mengkhawatirkan seorang pria yang telah meng-empati mereka!. Aku menghela nafas.


"Kalian tahu, aku meminta sparring dengan kalian agar aku tahu seberapa kuatnya aku sekarang, karena jika aku belum cukup kuat untuk mengalahkan kalian dalam sparring bagaimana mungkin aku bisa melindungi kalian dari bahaya nanti, terlebih kalian adalah kekasihku jadi sudah sewajibnya bagiku untuk nelindungi kalian!, jadi karena itu kabulkanlah permintaan Egois kekasih kalian ini."


Mulut manis sialan!?, bagaimana bisa aku mengeluarkan rayuan super manis itu dengan begitu lancarnya!, apa ini!, apa aku memiliki bakat untuk merayu...


"Naruto/Naruto-kun/darling..."


Shaga menatapku yang tengah menundukan kepalaku dengan senyuman lembut. "Baiklah, kami menyetujui-nya, Naruto-kun. Kami akan dengan senang hati melakukan sparring denganmu." aku mengangkat kepalaku dan melihat keempat kekasihku tengah menatapku dengan lembut.


"Kalian... Terimakasih!."


"Ufufu~, melihat tekadmu, kami mana bisa menolaknya."


"Umu, aku juga akan menjawab tekadmu, Naruto."


"Aku akan menghunuskan pedangku dengan serius, jadi bersiaplah, Darling."


Aku tersenyum senang, rencanaku awalku untuk mematahlan efek Elixir of Love berjalan lancar!, aku menatap keempat kekasihku dengan lembut.


"Sebelum kita memulai sparring, bagaimana jika kita bertaruh, yang menang boleh meminta apapun pada yang kalah, bagaimana?."


Mendengar syarat yang aku tambahkan keempat kekasihku itu menatap satu sama lain sebelum mereka mengeluarkan senyuman yang membuatku merinding hebat, senyuman... Tidak, seringai itu terlihat sangat menakutkan!.


"Ufufu~, sebaiknya kau tidak menarik perkataanmu, Naruto-kun. Karena setelah mendengar syarat tambahan itu kami akan melawanmu dengan serius, sangat serius."


Shaga mengatakan itu dengan nada penuh ambisi, tidak hanya Shaga namun ketiga perempuan yang lain juga terlihat sangat ambisius!... Mereka berempat mengambil posisi siap bertarung, Kyubi mengambil sarung tangan berwarna hitam miliknya disaku-nya dan memakai-nya dengan perlahan, Kaguya memejamkan matanya sejenak sebelum perlahan mata itu terbuka dan menunjukan sebuah kelopak bunga yang begitu indah, itu adalah Magic Eye's spesial dari Clan Otsutsuki yang hanya dimiliki oleh Kaguya yang dikatakan sebagai keturunan termurni dari Clan Otsutsuki, Magic Eye's, [Tenseigan]. Arthuria menjulurkan tangannya kesamping sebelum perlahan cahaya berwarna emas muncul dan bergerak melewati tubuhnya dan terlihatlah Armor perang yang membalut dress berwarna biru yang terlihat mewah itu, terlihat sebuah pedang perlahan muncul dari lingkaran Magic dibawah Arthuria yang dengan cepat mengambil pedang itu, lalu tanpa alasan yang tidak aku ketahui tiba-tiba pedang itu terselimuti sesuatu yang membuatnya transparan...


"Ufufu~, bersiaplah, Naruto-kun. Kau akan kami kalahkan disini..."


Shaga mengatakan itu selagi dari atasnya tercipta puluhan lingkaran sihir berbeda warna yang mengarah padaku!, apa... Apaan ini!?, bukankah mereka nampak sangat ambisius untuk mengalahkanku!. Aku segera menyiapkan fighting stance milik-ku, ini gawat.


... Dan beberapa saat kedepan nanti, aku sadar jika keempat kekasihku bukanlah orang sembarangan.

__ADS_1


__ADS_2