The Worst One

The Worst One
Chapter 42


__ADS_3

Naruto dan Sasuke menatap datar satu sama lain, keduanya tidak bergerak dari tempat mereka, kedua belah pihak bersiap dengan sikap waspada, mereka menyiapkan diri jika situasi yang buruk akan terjadi diantara mereka. Naruto menghela nafas dan melunakan posture tubuhnya.


"Sebaiknya kita hentikan ini, Uchiha... Ini bukan tempat yang tepat untuk berduel."


Ucap Naruto membuat Sasuke mengangguk dan melunakan posture tubuhnya, ia memasukan tangannya kedalam saku dan menatap datar Naruto.


"Ya, kau benar ini bukan tempat yang cocok untuk bertarung, aku tunggu kau diturnamen nanti, Namikaze."


"Heh~, tentu saja, aku menantikan duel antara kita berdua Uchiha..."


Ucap Naruto dengan seringai diwajahnya, Menma yang ada dibelakang Sasuke berdecih pelan, ia sejujurnya muak dan kesal dengan Naruto, ingin sekali ia menghajar wajah sombong Naruto, tapi ia sadar jika ia membuat kerusuhan disini, maka sudah jelas orang yang duduk dibelakang meja itu tidak akan membiarkannya.


Menma tidaklah bodoh untuk memicu kemarahan dari Hatake Kakashi, seorang Wizard tingkat [Black Gold: I] adalah kesalahan fatal, jadi ia tahan emosinya dan hanya menatap Naruto dengan tatapan Tajam. Naruto yang menyadari tatapan tajam itu tersenyum miring membuat Menma semakin kesal.


"Ya, aku rasa saatnya aku dan teman-temanku pergi... Sampai jumpa lagi diturnamen nanti, Uchiha."


"Aku tunggu itu, Namikaze..."


Naruto dan kawan-kawannya melangkah melewati Sasuke dan para Wizard, kedua belah pihak menatap benci satu sama lain, hanya Okita saja yang nampak gelisah karena tidak nyaman ditatapan tajam seperti itu, Kakashi menatap kepergian Naruto dan teman-temannya dengan tatapan acuh miliknya.


'Uchiha dan Namikaze, entah kenapa aku merasa Deja Vu tentang hal ini?...'


Kakashi menatap Naruto dan para anggota penelitian ilmu alam plus Arthur, Lee dan Okita melangkah pelan menuju pusat tempat ini dan seketika mereka menghilang ditelan oleh lingkaran sihir teleportasi. Kakashi mengalihkan pandangannya dan kembali membaca buku ditangannya.


'Turnamen ya... Aku rasa aku akan menontonnya.'


-Naruto side-


Naruto dan para Knight yang lain kini tengah berada diruangan club penelitian ilmu alam, mereka mutuskan untuk mempererat ikatan mereka sebagai sesama Knight, Okita yang diundang(diseret) hanya dapat duduk dengan gugup.


"Ha'i~ ini dia teh kalian."


Miya keluar dari dapur dengan membawa nampan berisikan beberapa cangkir teh dan teko teh, Miya dengan telaten meletakan cangkir-cangkir itu diatas meja dan dengan anggun ia menuangkan teh kedalam cangkir-cangkir itu...


"Nah, silahkan dinikmati..."


Naruto mengucapkan terimakasih pada Miya dan meminum teh miliknya, Naruto meniup uap yang mengepul dari teh itu dan menyesapnya dengan pelan, ia mendesah nikmat.


"Enak seperti biasa, Miya-san."


"Ah~ teh buatan Fuku Taichou memang yang terbaik..."


Cao Cao mendesah merasakan nikmatnya teh buatan Miya, Arthur mengangguk pelan dan tersenyum tipis menyetujui perkataan Cao Cao.


"Benar, teh ini bahkan mengalahkan teh buatan Maid keluargaku."


"Ufufufu~, terimakasih atas pujiannya."


Ucap Miya diiringi tawa merdu, Miya mengambil satu cangkir dan memberikannya pada Okita yang sedaritadi terdiam melihat interaksi antara para pemuda diclub ini.


"Ini dia Tehmu, Okita-chan."


"A-Ah, terimakasih Miya-san."


Miya mengangguk pelan dan kembali menuju dapur untuk mengambil beberapa kue teh, Okita menatap kepergian Miya sebelum ia meminum teh miliknya namun karena teh itu masih panas Okita sedikit terkejut karena lidahnya terasa tersengat panas Teh, ia meletakan cangkirnya dan mengipasi lidahnya dengan tangannya berharap itu bisa mengurangi panas dilidahnya...


"Uuu, panas..."


"Ehem... Okita-san."


Okita yang tengah meredakan lidahnya yang kepanasan mengalihkan pandangannya dan menatap para pemuda yang mengalihkan pandangan mereka kearah lain, dengan semburat merah dipipi mereka, hanya Naruto yang dapat mempertahankan wajah datarnya.


"Bisakah kau meminum tehmu dengan normal?."


Ucap Naruto membuat Okita memiringkan kepalanya dengan bingung, ia tidak mengerti apa maksud dari Naruto, minum teh dengan normal? Memang tadi dia minum dengan cara yang aneh?, Naruto yang melihat kepolosan Okita menghela nafas.


"Lupakan saja."


Okita menatap bingung Naruto sebelum ia kembali meminum tehnya dengan normal, Okita menyesap teh itu, dan dahinya langsung berkerut dan menatap teh miliknya. Ia menyesap itu dan wajahnya berubah menjadi rileks.


"Ah, Teh ini benar-benar membuatku tenang."


"Ya, keahlian Miya dalam membuat teh memang nomer satu diclub ini..."


Ucap Tobio dengan bangga, dan sedetik kemudian ia nendapatkan sebuah Kue kering menghantam dahinya dengan telak, Tobio mengaduh kesakitan seraya memegang dahinya yang memerah. Tobio mendelik pada pelaku pelemparan yang tak lain adalah Miya yang menatap datar Tobio


"Miya! Kenapa kau melakukan hal itu!."


"Diamlah Baka! Jelas akulah pembuat teh nomer satu diclub ini sebab tidak ada lagi yang bisa membuatnya selain aku!?."


Tobio langsung diam ketika Miya mendelik kearahnya, Miya menghela nafas dan menyajikan kue teh diatas meja.


"Baiklah, silahkan dinikmati."


"Ah, terimakasih, Miya-san."


Para Knight itu menikmati acara minum teh dengan santai tanpa memikirkan apapun, namun semua hancur ketika Tobio meletakan cangkir tehnya dengan cukup keras membuat semua terhenti dan menatap kearahnya.


"Baiklah, aku rasa kini saat membahas masalah Turnamen, dari yang aku dengar pendaftaran akan diadakan besok, wali kelas akan membagikan formulir pendaftaran saat jam pelajaran pertama dimulai."


Ucap Tobio, Naruto menaikan satu alisnya menatap Tobio dengan bingung."dan, darimana kau mengetahui semua itu, Tobio?."tanya Naruto, Tobio hanya tersenyum tipis.


"Kau tahu, Naruto... Mengumpulkan informasi adalah keahlianku."


Ucap Tobio membuat Naruto memasang senyuman tertarik."jadi, apa yang kau dapatkan?."tanya Naruto, Tobio tersenyum dan mengeluarkan sesuatu dari balik seragamnya dan meletakan beberapa lembaran kertas itu diatas meja.


"Itu adalah detail informasi yang aku dapatkan pagi ini."


Naruto mengambil kertas-kertas itu dan dengan teliti ia membaca lembaran kertas itu, setelah beberapa saat sebuah seringai terpatri diwajah Naruto, ia meletakan kembali kertas itu dan menatap Tobio yang tersenyum penuh arti.


"Jika yang ada dikertas ini benar maka, sepertinya sekolah ini benar-benar meremehkan Divisi Knight."


Ucap Naruto, Tobio tersenyum tipis dan mengangkat bahunya."ya mau bagaimana lagi, system sekolah ini lebih condong ke Divisi Wizard daripada Knight..."ucap Tobio dengan santai sebelum wajah santai itu membeku.


"Tapi... Bukankah mereka terlalu meremehkan kita..."


Miya yang tidak mengerti arah pembicaraan mulai mengambil kertas itu dan membacanya, yang lain juga menjadi penasaran dan ikut membaca lembaran kertas itu, Miya membaca dengan teliti dan beberapa saat kemudian kertas itu menjadi lecek karena Miya meremas kertas itu dengan kuat.


Naruto menatap Miya dan yang lain dengan senyuman simpul, Naruto paham benar kenapa mereka bisa dibuat seperti itu, Naruto menatap kearah Tobio.


"Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, Tobio."


"Ya, aku setuju, mereka benar-benar meremehkan Divisi Knight."


Naruto menatap kearah kertas yang sudah diremas oleh Miya, ia menatap kertas itu dengan senyuman diwajahnya namun jika dilihat lebih jelas, itu bukanlah sebuah senyuman hangat, melainkan sebuah senyuman dingin, wajah setiap orang mengelap.


"Saatnya merubah pandangan mereka pada Divisi Knight."


Sepertinya Sekolah ini telah membangunkan para Monster yang seharusnya mereka hindari...


-change scene-


Keesokan harinya, diruangan kelas Naruto menatap datar kedepan, hari ini adalah awal dari pembukaan pendaftaran untuk mengikuti Turnamen, Naruto menatap Ibiki-sensei yang baru saja masuk dengan membawa setumpuk kertas.


"Baiklah, kalian duduk ditempat kalian masing-masing pelajaran pertama akan segera dimulai.."


Ucap Ibiki, para Murid langsung mematuhi intruksi Ibiki dan duduk dibangku mereka masing-masing, setelah semua sudah duduk ditempat mereka masing-masing, Ibiki menarik nafas.


"Aku tahu kalian sudah mendengar rumor jika sekolah ini akan mengadakan sebuah Turnamen antar Divisi."


Ucap Ibiki membuat kelas dipenuhi suara bisikan disana sini, Ibiki mengangkat tangannya dan membuat semua langsung hening, Ibiki mengambil selembar kertas dan menunjukan pada seluruh kelas.


"Ya, Rumor itu benar, Divisi Knight mendapatkan berkas ini dan setiap kelas diminta untuk mengirim setidaknya satu orang muridnya untuk maju dan mengikuti Turnamen... Karena itu, apa ada diantara kalian yang mau maju dan mengambil kehormatan bertarung melawan Divisi Wizard dan memenangkan Turnamen itu?."

__ADS_1


Ucap Ibiki membuat kelas jatuh dalam keheningan, para Murid yang lain langsung membisu ditempat tidak ada satupun yang mengeluarkan suara, bagi mereka yang hanya seorang Knight, mereka sadar jika hanya akan menjadi hal yang menyakitkan jika mereka melawan para Wizard, mereka berpikir jika mereka tidak akan bisa menang melawan Divisi Wizard yang mengandalkan sihir dalam hal menyerang maupun bertahan... Didalam hati mereka, hanya orang bodoh yang mau melakukan pertarungan yang sia-sia melawan Divisi Wizard, namun sayangnya dikelas itu terdapat tiga orang bodoh...


Ibiki tersenyum ketika ia melihat tiga orang bangkit dari kursinya dan berjalan kearahnya, seisi kelas dibuat membeku melihat tiga pemuda yang mengambil Formulir diatas meja Ibiki.


"Jadi kalian memutuskan ikut, Arthur, Cao Cao, Naruto."


Ibiki menatap tiga murid didepannya, mereka menatap formulir pendaftaran ditangan mereka, dan dengan cepat menulis nama mereka dan menyerahkannya pada Ibiki. Naruto menatap Ibiki dengan datar.


"Kami, akan ikut dalam Turnamen, dan pasti kami akan memenangkan Turnamen itu..."


Ibiki tersenyum lebar melihat kebulatan tekad dari mata ketiga muridnya, ia menerima ketiga Formulir itu dan memberikan stempel persetujuan diatas kertas itu.


"Kalian adalah harapan Divisi Knight, pastikan kalian menang."


"Tentu saja, Sensei."


-change scene-


Diaula Academy, para Knight dan Wizard berkumpul disana, dan seperti biasa hawa permusuhan menguar antara kedua belah pihak. suara bisik-bisik dapat didengar dari segala arah, Naruto dan yang lain juga ada disini, rupanya sesuai yang direncanakan, mereka bertujuh akan ikut andil dalam Turnamen, mata Naruto dan yang lain terarah pada mimbar diatas panggung, seketika semua menahan nafas mereka melihat seorang perempuan berparas layaknya bidadari berdiri dan menatap semua dengan senyuman ramah... Naruto menatap benci perempuan itu...


"Gabriel..."


Naruto bergumam pelan sebelum ia melihat tepat diatas Gabriel melayang sebuah Crystal Visual, yang mirip dengan yang digunakan oleh Arthuria sebagai pengeras suara saat Event Check Up Mana. Gabriel berdehem sejenak.


[Pertama, aku ucapkan terimakasih pada kalian yang mau berpartisipasi dalam Turnamen ini, namaku adalah Gabriel, aku ketua pelaksanaan Turnamen ini. Didalam Turnamen ini kalian akan dibagi menjadi enam Grup, masing-masing dari kalian harus menjadi pemenang dari setiap Grup lalu setiap dari pemenang akan menjadi mewakili Ras Manusia dalam Turnamen empat Ras! Sebagai [The Seventh of Abyss]... Dan untuk mengetahui grup mana kalian akan berada, kami sudah mengacak urutan nama dengan adil, dan inilah Para Wizard dan Knight yang akan bertanding disetiap Grup]


Naruto dan para Club penelitian Ilmu Alam Plus, Arthur, Lee dan Okita menatap perkamen berukuran raksasa yang mencantum nama para peserta yang mengikuti Turnamen, pandangan mereka terfokus pada Perkamen raksasa yang terbentang, disana terdapat nama-nama dari setiap peserta yang ikut. Naruto menatap daftar nama-nama para peserta.


-Arthur Pendragon, akan bertarung digrup A bersama dengan Wizard terkenal dari Divisi Wizard, Guren.


-Cao Cao, akan bertarung di Grup B bersama dengan Wizard berbakat dan salah satu bangsawan besar, Senju Arashi.


-Rock Lee, akan bertarung di Grup C bersama dengan salah satu Wizard berbakat dan salah satu bangsawan besar, Hyuuga Neji.


-Asama Miya, akan bertarung di Grup D bersama dengan Knight yang dijuluki sebagai [Flash], Souji Okita.


-Ikuse Tobio, akan bertarung di Grup E bersama dengan Wizard berbakat dan salah satu bangsawan besar, Otsutsuki Toneri.


Dan, Namikaze Naruto, akan bertarung di Grup F bersama dengan dua Wizard berbakat dan berasal dari Bangsawan besar, Uzumaki Menma dan Uchiha Sasuke.


Naruto menatap datar namanya yang ada disana, entah ini nasib buruk atau baik karena ia akan berhadapan dengan dua orang yang menjadi target balas dendamnya.


Gabriel menatap nama-nama yang terdapat disetiap Grup dengan senyuman ramah, ia menatap kembali para Peserta dengan hangat.


[Dan itulah nama-nama yang akan bertarung diturnamen nanti, Kalau begitu, pertandingan pertama akan diadakan 2 hari lagi! Persiapkan diri kalian!]


Naruto menatap datar Gabriel yang akan mengakhiri sesi pembukaan sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan aula dengan teman-temannya, Naruto menatap datar kedepan.


"Kalian harus menang disetiap Grup, hanya dengan begitu kita bisa membuat mereka merubah pandangan mereka pada Divisi Knight. Kita tunjukan pada mereka jika Knight tidak boleh diremehkan."


Ucap Naruto dibalas anggukan pelan dari yang lain, mereka bertujuh baru saja akan memutuskan untuk kembali kekelas masing-masing namun nampaknya itu harus terhenti ketika mereka dihadang oleh para Prince didepannya, Naruto menatap datar Menma yang berjalan kedepan dan menatap dirinya dengan seringai diwajahnya.


"Sepertinya kau dan aku berada digrup yang sama, berjuanglah untuk menang, sepupu. Jangan sampai dipercundangi oleh yang lain karena..."


Menma memajukan wajahnya hingga hampir bersentuhan dengan Naruto, tatapan merendah dan dipenuhi emosi terpancar dari sepasang Violet itu...


"... Hanya akulah yang akan mempecundangimu, Pecundang."


Ucap Menma dengan dingin dan diiringi hawa intimidasi yang cukup pekat, Naruto menatap Menma dengan datar, ia yang sudah merasakan intimidasi dari Chimera, Celestial Manticore dan Ruin Iskhur, bagi Naruto Intimidasi Menma hanya seperti angin berlalu... Naruto menghela nafas.


"Menma, kau adalah sepupuku dan sebagai sepupumu, aku meminta padamu... Minggir dari hadapanku."


Ucap Naruto dengan intensitas haus darah disetiap katanya, dan Menma merasakan itu hingga tanpa sadar tubuhnya bergerak kesamping, Naruto menatap itu dengan datar dan kembali melangkah dan meninggalkan para Wizard yang terdiam ditempat, ketika kedua belah pihak berpapasan Sasuke berbisik pelan...


"Menarik, Namikaze... Sungguh Menarik."


"Itu belum seberapa, Uchiha."


Sasuke menatap punggung Naruto yang menjauh bersama teman-temannya, berbeda dengan Sasuke yang terlihat tertarik, Menma justru menatap benci Naruto, rasa benci itu semakin membesar ketika ia merasa dipermalukan didepan teman-temannya... Tangan Menma terkepal dengan erat hingga buku-buku tangannya memutih.


.


.


.


Malam hari mulai menjelang, dikamar Naruto terlihat sang pemilik kamar tengah dalam meditasinya, terlihat aura putih bersih tanpa noda menyelimuti tubuh Naruto, disamping Naruto, Ophis melihat aura tipis itu dengan intens.


"Sudah cukup untuk hari ini, Master."


Ucap Ophis membuat Naruto membuka matanya dan terlihat sepasang shappire indah disana, Naruto meregangkan tubuhnya yang kaku, ia sudah bermeditasi selama beberapa jam dan itu membuat tubuhnya kaku, setelah cukup nyaman Naruto menatap kearah Ophis.


"Jadi, bagaimana menurutmu, Ophis."


Ophis terdiam dan dengan tanpa permisi Ophis duduk dipangkuan Naruto, mencari posisi yang nyaman sejenak lalu menyenderkan tubuhnya keperut Naruto. Naruto hanya tersenyum melihat tingkah mengemaskan Ophis.


"Menurutku, keadaan Master hampir stabil, Aliran [Mana] Master mulai kembali seperti sedia kala."


"Maa, aku rasa itu sudah bagus."


"Tapi, ada yang membuatku bingung..."


"Hmm? Apa itu?."


Naruto menatap bingung Ophis yang menghela nafas sebelum ia mengangkat kepalanya dan menatap sang Master.


"Master, benarkah kau hanya seorang Manusia?."


Tanya Ophis membuat Naruto terdiam dan mengerjapkan matanya beberapa kali, Naruto menghela nafas lalu tangannya turun dan mencubit pipi Ophis dengan gemas.


"Aku, Namikaze Naruto, dan aku seratus persen Manusia..."


"Mhasther, akhu mhengherthi, lhephas khan akhu..."


Naruto melepaskan cubitannya dan menatap Ophis yang mengelus kedua pipinya yang memerah akibat cubitan kasih sayangnya.


"Ophis, kenapa kau meragukan kemanusiaanku? Apa aku tampak tidak seperti Manusia pada umumnya?."


Tanya Naruto selagi menunjuk dirinya sendiri, Ophis menatap Naruto dengan intens, dan sedetik kemudian Ophis mengeleng pelan dengan begitu polosnya, dan itu membuat alis Naruto berkedut kesal, Ophis yang merasakan bahaya langsung melindungi kedua pipinya dengan kedua tangannya.


"Master, dengarkan aku dulu, kau memang tidak terlihat seperti Manusia pada umumnya, dalam hal perkembangan [Mana] kau bahkan menyaingi Ras [Dragon] yang dikatakan merupakan Ras dengan perkembangan Mana paling cepat."


Ucap Ophis dengan cepat karena melihat Naruto yang baru saja akan meremas pipinya, mendengar hal itu membuat Naruto terhenti dan menatap Ophis dengan pandangan serius.


"Apa itu benar? Perkembangan [Mana] ku itu Abnormal?."


Tanya Naruto dan dibalas anggukan dari Ophis, Naruto menghela nafas dan memijat pelipisnya dengan pelan... Otak cerdasnya berputar dengan cepat... Oke, jadi ia adalah Manusia yang mampu berkembang menyaingi Ras [Dragon], ras dengan kecepatan perkembangan Mana paling luar biasa. Naruto kembali menatap Ophis.


"Ophis selain aku, apa ada Orang lain yang bisa dikatakan Irreguler sepertiku?."


Tanya Naruto, Ophis terdiam sejenak dan memasang pose berpikir yang akan membuatnya diterkam oleh Lolicon karena keimutannya, sedetik kemudian Ophis mengangkat jarinya.


"Menurut rumor, ada enam orang dari Ras lain selain Master yang bisa dikatakan Abnormal... Dua dari Ras Iblis, Dua dari Ras Malaikat dan Dua dari Ras Naga."


Naruto terdiam, ada enam orang yang sama seperti dirinya, keberadaan mereka adalah anomali dari Ras mereka, jika itu menjadi rumor maka keenam orang itu tidak menyembunyikan kekuatan mereka, dengan kata lain mereka mengumbar kekuatan mereka, hal itu sangat berbeda dengan dirinya yang menyimpan semua kekuatannya, Naruto paham betul, jika ia mengumbar kekuatannya secara sembarangan maka orang-orang yang menganggap dirinya musuh akan menganalisa kekuatannya dan mencari kelemahan dari kekuatannya dan jika itu terjadi maka itu akan percuma saja, dasar bodoh... Pikir Naruto, Ophis kembali melanjutkan.


"Dan dari Ras Manusia sejauh ini, Manusia dengan keberadaan Irreguler ada 8 orang, termasuk kau, Master."


Naruto melebarkan matanya mendengar hal itu, diras Manusia ada delapan orang Irreguler sama seperti dirinya, itu luar biasa! Tidak, sangat luar biasa! Naruto menatap Ophis dengan kecepatan menakutkan.


"Ophis, apa kau kenal mereka..."


Tanya Naruto, jika keberadaan Irreguler itu ada disekitarnya maka ia harap jika mereka bukanlah musuhnya, dan sebisa mungkin Naruto akan menjadikan mereka sekutunya, karena menurut Ayahnya Naruto adalah keberadaan yang dapat membuat Knight Veteran malu karena perkembangannya yang luar biasa cepat. Ophis menatap Naruto dengan tatapan Kosong.

__ADS_1


"Beberapa dari mereka bersembunyi dan beberapa lagi dari mereka ada didekatmu, Master.."


Ucap Ophis membuat Naruto terdiam, ada beberapa Irreguler seperti dirinya didekatnya? Dan ia tidak sadar akan hal itu, Ophis menghela nafas.


"Master, kau akan mengetahui siapa mereka cepat atau lambat, karena itu untuk saat ini, aku tidak bisa memberitahumu."


Ucap Ophis membuat Naruto yang baru saja membuka mulutnya harus kembali terkatup rapat, Naruto menghela nafas... Jika Ophis sudah mengatakan itu maka tidak ada yang dapat memaksanya.


"Baiklah, aku tidak akan membahas hal itu lagi, kalau begitu bagaimana kalau sebagai gantinya aku meminta bantuanmu, Ophis.."


Ucap Naruto membuat Ophis menatap kosong dirinya, Ophis menghela nafas sebelum ia bersedekap dan menatap kedepan.


"Aku adalah pelayanmu, jadi membantu Masterku adalah kewajibanku."


"Terimakasih, Ophis... Kita masuk kedalam [Library World] milikmu."


Ucap Naruto, Ophis mengangguk dan ia mengangkat tangannya keatas dan seketika cahaya yang begitu menyilaukan memenuhi ruangan... Dan mereka berdua tertransfer kedunia milik Ophis.


-change scene-


"Sial! Sial! Sial!..."


Sementara itu diruangan yang cukup megah, terlihat Uzumaki Menma, Heir selanjutnya dari Clan Uzumaki itu menendang meja dengan kesal, emosi miliknya yang memang berkadar rendah meledak dan ia menghancurkan apapun yang bisa ia hancurkan, Menma menendang kursi hingga melayang dan membentur tembok dan hancur berkeping-keping...


"Sialan!? Naruto! Kau sudah mempermalukanku didepan para bangsawan lain dipesta kerajaan, dan kau juga sudah mempermalukanku didepan teman-temanku... Naruto! Aku akan menghancurkanmu! Aku akan membuatmu menderita! Sampai kau bersujud memohon ampun didepanku!..."


Menma terus meledak dan membuat ruangan itu selayaknya kapal pecah, semua funirute hancur berkeping-keping karena amarah dari Menma... Menma mengatur nafasnya yang memburu, amarahnya berhasil reda, meskipun hanya sedikit, Menma dengan cepat menatap kearah seseorang yang berdiri disudut ruangan... Orang itu tidak dapat dilihat karena gelapnya sudut ruangan.


"Kau, hancurkan dia disaat putaran pertama Turnamen, buat dia menderita, patahkan setiap tulang ditubuhnya... Aku harus membuatnya menderita karena telah berani mempermalukanku didepan umum... Apa kau mengerti..."


"Ha'i, saya mengerti, Menma-sama..."


Sosok itu menghilang dari tempatnya, Menma menarik nafas dan menyeringai kejam."aku akan menikmati tontonan diturnamen nanti, khukhukhu."Menma tertawa dengan keras, tawa jahat itu bergema diseluruh Mansion mewah itu.


.


.


.


-The Worst One-


.


.


.


Dipagi hari yang indah, Naruto kini tengah berjalan dengan tenang menuju Academy, ia menikmati udara pagi yang menyegarkan dan memanjakan paru-parunya, senyuman tipispun terpatri diwajah tampannya.


Naruto berjalan dipagi-pagi buta seperti ini sebab ia ingin menghindari setiap pasang mata yang menatapnya dengan tatapan kagum, Naruto bukannya tidak senang dipandang kagum oleh orang lain, karena bagaimanapun sebagai Manusia ia senang jika kerja kerasnya dipuji orang lain, yang membuat Narutp menghindari tatapan kagum disekolah ini karena, orang yang sekarang menganggumi adalah orang yang sama yang dulu pernah menghina, mencemooh dan menatapnya dengan tatapan jijik, memuakkan dan hina...


Naruto akan terserang rasa mual jika memikirkan orang-orang itu, orang-orang itu menganggumi karena dirinya yang sekarang, Naruto jijik dengan orang-orang itu, mereka telah menjilat kembali ludah yang pernah mereka ludahkan, itu menjijikan... Naruto menepis pikiran menjijikan itu mempercepat langkahnya dan masuk kedalam gedung utama Academy.


Naruto berjalan dengan tenang disepanjang lorong Academy, ia bersenandung dengan riang sampai matanya menangkap seseorang, Naruto menyipitkan matanya melihat orang itu... Surai pirang pucat dengan dikuncir rapi, hanya dengan melihat warna dan gaya rambut itu dari belakang, Naruto tahu jika perempuan itu adalah...


'Arthuria? Apa yang dia lakukan dipagi buta seperti ini, dan apa yang ada ditangannya itu bunga?.'


Rasa penasaran menyelimuti Naruto, ia mutuskan untuk mengikuti Arthuria dengan sangat hati-hati, ia menekan Mananya hingga sangat tipis agar tidak terdeteksi oleh Arthuria, Naruto juga menjaga jarak dari Arthuria.


'Arah ini... Bukankah ini menuju Ruang pemulihan?.'


Naruto mengerutkan dahinya, apa ada orang yang ingin dijengkuk oleh Arthuria, apa itu Arthur? Bah mana mungkin, Arthur sehat-sehat saja bahkan kemarin Arthur menantangnya sparring. Le fay? Apa lagi itu, jika Le fay sakit maka ia tidak mungkin dibawa ke Academy ini, dan lagipula Naruto yakin jika Keluarga Pendragon memiliki dokter pribadi yang akan menangani keluarga Pendragon yang sakit. Jika bukan Le fay dan Arthur lantas siapa yang ingin dijenguk Arthuria? Apa itu kekasihnya?


Naruto mengerutkan dahinya ketika ia merasakan perasaan jengkel ketika memikirkan hal itu, Naruto mengeleng pelan dan mengikuti Arthuria yang langsung masuk kedalam ruang pemulihan, Naruto dengan gaya seorang ninja seperti ditv berjalan tanpa menimbulkan suara berisik dan menempelkan telinga-nya dipintu untuk mendengar suara didalam... Naruto menajamkan telinganya ketika ia samar-samar dapat mendengar suara didalam.


"Maaf membuatmu menjenguk-ku pagi-pagi begini, Arthuria."


"Apa yang kau katakan, aku hanya menjenguk sahabat masa kecilku yang terbaring diruang pemulihan sekolah."


Naruto mengernyitkan dahinya, suara itu suara perempuan jadi itu sudah jelas bukan kekasih Arthuria, Naruto kembali mengerutkan dahinya, entah kenapa ia merasa lega mengetahui jika orang yang ingin dijenguk Arthuria bukan kekasihnya, Naruto mengeleng pelan dan kembali mendengarkan suara percakapan didalam.


"Hah~, aku masih bingung, kenapa kau bisa menjadi seperti ini, terakhir kali aku mengunjungimu kau tengah dalam keadaan suasana hati yang gembira sekarang setelah beberapa lama tidak bertemu kau sudah terbaring diruang pemulihan."


"Ya, banyak hal yang terjadi kau tahu, aku menjadi seperti ini karena kesalahanku sendiri."


"Hah~, aku tahu kau ceroboh karena itulah, sebagai sahabat masa kecilmu, aku selalu menjagamu setiap saat."


"Maaf ya, jika aku sering ceroboh..."


"Ya lupakan itu, aku mau menanyakan sesuatu padamu."


"Dan apa itu?."


"Kenapa kau tidak mau memakai fasilitas kesehatan kerajaan dan malah memakai Fasilitas Academy ini, bukankah kau akan lebih cepat sembuh jika memakai fasilitas kesehatan kerajaan, Shaga."


Naruto melebarkan matanya ketika ia mendengar Arthuria memanggil nama perempuan yang berbicara padanya, Shaga... Tunangannya ada didalam! Dan tengah dalam kondisi yang membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tidur!?... Naruto menajamkan kembali telinganya.


"Kau tahu, Art-chan... Aku tidak ingin membuat ayah dan kakekku khawatir akan kondisiku, terlebih ada satu orang yang benar-benar tidak boleh mengetahui kondisiku yang seperti ini, karena jika orang itu sampai tahu keadaanku ini, maka sudah jelas ia akan mengalami beban mental yang berat."


Naruto terdiam, ia bukan orang bodoh yang tidak memahami siapa yang dimaksud oleh Shaga... Shaga mementingkan kondisi dirinya daripada kondisi tubuhnya sendiri? Naruto mengepalkan tangannya dengan erat, dasar bodoh, pikirkan keadaanmu sendiri... Naruto menundukan kepalanya dengan sedih.


"... Begitu, karena itulah kau memintaku untuk tidak memberitahu keberadaanmu pada siapapun."


"Ya, aku minta maaf karena merepotkanmu, dan Gabriel... Seharusnya aku yang memberikan pidato pembukaan Turnamen itu, karena bagaimanapun akulah yang mengusulkan Turnamen itu, tapi aku tidak bisa melakukannya karena kondisiku ini, sampaikan maafku pada Gabriel..."


"Kau tidak perlu memikirkan hal itu, Shaga... Pulihkan dulu kondisimu, dan setelah itu pimpin kembali sekolah ini."


"Ya, aku usahakan..."


"... Baiklah, kalau begitu aku permisi sebentar, kita akan bertemu lagi saat jam makan siang..."


"Ya, hati-hati..."


Arthuria berjalan keluar dari ruang pemulihan, ia mengerutkan dahinya ketika ia merasakan hawa kehadiran seseorang tapi hawa itu langsung lenyap, Arthuria menoleh kekanan dan kekiri namun ia tidak melihat siapapun disekitar sini, ia mengangkat bahunya dan berjalan menuju ruang komite kedisplinan.


Tanpa Arthuria sadar, Naruto menyembunyikan dirinya dibelpkan yang tak jauh dari ruang pemulihan, Naruto menundukan kepalanya, tangannya terkepal dengan erat mengambarkan sekuat apa Naruto menahan gejolak dihatinya.


"Dasar bodoh... Khawatirkan kondisi dirimu sendiri."


Naruto bergumam pelan dan meninggalkan tempat itu dengan suasana hati yang sedikit kacau, Ophis yang ada didalam Mindscape Naruto hanya bisa memasang wajah sedih. Ophis bisa dengan jelas jika Masternya kembali menyalahkan dirinya sendiri.


"Master..."


-time skip-


Waktu tanpa terasa mulai berlalu dan hari dimana Turnamen putaran pertama akan diadakan, Turnamen ini akan diadakan ditiga Stadion berbeda yang telah disiapkan oleh para Staf Academy selama Liburan musim panas kemarin, tiga stadion ini terletak diutara, timur dan barat Academy, hanya berjarak beberapa ratus meter dari Gedung Utama Academy... Grup A dan B akan bertarung distadion yang diberinama Phoniex, Grup C dan D akan bertarung distadion yang diberinama Genbu... sementara Grup E dan F akan bertarung dipanggung yang diberinama Byakko...


[Para peserta Turnamen Great Royal, diharapkan segera menuju Stadion yang telah ditentukan.]


[Sekali lagi, Para peserta Turnamen Great Royal diharapkan segera menuju Stadion yang telah ditentukan, terimakasih.]


Didepan Gedung Utama, terlihat tujuh Knight yang berkumpul, mereka menatap kearah pengeras suara yang terpasang dibeberala spot idel. Para Knight itu adalah para Knight yang berhasil mencapai tingkat Silver dan mereka adalah Naruto, Tobio, Miya, Cao Cao, Lee, Arthur, dan Okita. Mereka berkumpul seperti ini sebab ditempat ini mereka akan memulai pertarungan yang akan mengubah hidup mereka, Naruto menatap teman-temannya sesama Knight didepannya.


"Baiklah, Turnamen telah dimulai, pastikan kalian lolos diputaran pertama, jangan sampai ada yang gagal, tunjukan pada mereka seperti apa Divisi Knight itu..."


Naruto tersenyum melihat ekspresi serius diwajah teman-temannya, Naruto mengangkat tangannya dan hal itu diikuti oleh yang lain.


"Berjuanglah dan taklukan lawan kalian, lolos dan jadilah salah satu dari [Seventh of Abyss]... Itu adalah tujuan kita, Knight! Fighting!."


""""""Ooosssuu!?.""""""


[The Great Royal Turnamen] telah dimulai, para Knight dan Wizard akan bertarung untuk memperebutkan kursi sebagai [The Seventh of Abyss] dimana tim itu akan menjadi perwakilan di Turnamen superior, Turnamen empat ras.

__ADS_1


Naruto dan para Sahabatnya akan bertarung melawan para Wizard berbakat dari Divisi Wizard... Knight yang berusaha membuktikan diri mereka akan melawan Wizard yang sudah diakui... Pertarungan panaspun dimulai...


__ADS_2