
" Pelayan itu harus mendapatkan hukuman yang tidak pernah dia pikirkan." ucap opa dengan kilatan penuh amarah.
" Benar tuan dia pantas mendapatkan hukuman yang sangat berat." ucap paman Hendrik dengan kilatan penuh amarah juga karena telah tega melakukan itu terhadap majikannya dan juga istri majikannya.
Paman Hendrik juga menyayangi nyonya Paulina karena nyonya Paulina sangat berbeda dengan wanita lain tidak sombong dan baik terhadap semua orang.
Dua jam menunggu akhirnya pintu ruang UGD terbuka tampak dokter itu sangat lelah. Opa dan paman Hendrik langsung berdiri dan mendekati dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan putra dan menantuku dok?" tanya opa
" Tuan muda sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan lukanya tidak terlalu serius." ucap dokter tersebut.
" Lalu bagaimana dengan menantuku?" tanya opa.
Dokter itu hanya menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian menatap mata opa.
" Menantu tuan besar mengalami koma dan akan dipindahkan ke ruang ICU karena ada beberapa tulang yang patah dan retak karena menantu tuan besar memeluk putra tuan besar." Ucap dokter tersebut menjelaskan.
" Apa??" teriak opa terkejut.
Tubuhnya terhuyung mendengar ucapan dokter dan untunglah paman Hendrik menahan tubuh tuan besar kalau tidak bisa dipastikan tuan besar akan terjatuh.
" Tolong selamatkan menantu saya dokter." mohon opa
Baru kali ini dirinya memohon dengan seseorang karena keluarga besarnya mengajarkan untuk tidak memohon dengan orang lain. Hal itu membuat dokter dan paman Hendrik sangat terkejut mendengar ucapan daddynya Paulinus tersebut.
" Baik tuan besar, kami akan berusaha agar dapat menyembuhkan menantu tuan besar. Maaf tuan saya permisi dulu." ucap dokter tersebut dengan hormat.
Opa dan paman Hendrik hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Tidak berapa lama pintu ruang ugd terbuka dua orang perawat mendorong brankar di mana tuan muda besar Paulinus sedang berbaring dengan beberapa tubuh berbalut perban dan masih memejamkan matanya dan di dorong di ruang perawatan VVIP kemudian di susul nyonya muda besar Paulina dengan tubuh berbalut perban seperti mumi hanya mulut, lubang hidung dan mata yang tidak di tutup.
Tubuhnya di penuhi alat selang membuat opa dan paman Hendrik hatinya terasa sesak dan marah secara bersamaan. Sesak karena mommy Paulina melindungi suaminya agar tidak terluka dengan cara merelakan dirinya untuk terluka sedangkan marah ditujukan untuk pelayan dan orang yang menyuruhnya.
" Aku akan melihat menantuku setelah itu kita ke markas." Ucap opa dengan aura membunuh.
" Baik tuan." Jawab paman Hendrik patuh.
" Kamu hubungi dua orang bodyguard kepercayaan untuk menjaga menantu kesayanganku." Ucap opa
__ADS_1
" Baik tuan." Jawab paman Hendrik patuh.
Walau dirinya juga mempunyai menantu dari istri anak bungsunya tapi entah kenapa opa lebih sayang dengan menantu sulungnya padahal baru mengenalnya.
Opa berjalan menuju ke ruang ICU dan melihat menantu kesayangannya masih setia memejamkan matanya.
" Walau aku baru mengenal dirimu tapi aku bahagia kamu menjadi menantuku karena kamu berhasil membuat putraku tersenyum bahagia dan juga kamu memberikan tiga cucu kembar yang sangat tampan dan genius. Terima kasih telah melindungi putraku tapi aku mohon cepatlah sadar karena aku tidak ingin putraku sedih jika melihatmu belum sadar. Aku berjanji akan memberikan perhitungan untuk orang - orang yang telah berani menyakiti putraku dan juga putri kesayanganku karena kamu sudah kami anggap sebagai putri kami." ucap opa menatap wajah menantunya dengan sendu.
Opa memegang tangan menantunya dengan dada terasa sesak karena melihat sekujur tubuh menantunya terbalut perban dan banyak selang yang menempel di tubuh menantu kesayangannya.
Setelah agak lama opa meninggalkan ruangan ICU dan mendekati Paman Hendrik.
" Kita berangkat sekarang tapi sebelumnya kita ke ruang perawatan." Ucap opa dengan tatapan tajam penuh amarah.
" Baik tuan." Jawab paman Hendrik patuh.
Mereka berdua berjalan menuju ke ruang perawatan untuk melihat keadaan putra pertamanya.
ceklek
Opa melihat ke tiga cucunya sedang tertidur pulas dengan di temani Maria sedangkan istrinya duduk di samping ranjang putra pertamanya.
" Belum sadar dad." Ucap istrinya.
" Bagaimana keadaan menantu kita dad?" tanya istrinya
Suaminya menghembuskan nafasnya dengan berat sambil menahan rasa sesak di hatinya.
" Menantu kita mengalami koma ada beberapa tulang yang patah dan retak karena menantu kita memeluk putra kita." ucap suaminya menjelaskan.
" Seandainya menantu kita tidak memeluk putra kita bisa dipastikan putra kitalah yang tulangnya retak dan patah." Sambung suaminya.
Istrinya hanya bisa menutup mulutnya dan tidak berapa lama air matanya mengalir dirinya tidak menyangka menantunya sangat baik tidak memperdulikan nyawanya. Dirinya berjanji untuk lebih menyayangi menantunya dan berharap menantunya cepat sadar dan bisa berkumpul kembali.
" Aku pergi dulu." ucap suaminya
" Daddy mau kemana?" tanya istrinya.
" Aku ingin menyelesaikan suatu masalah yang tidak bisa di tunda." Ucap suaminya dengan nada dingin dan menahan amarahnya.
__ADS_1
Istrinya menatap suaminya dan tahu kalau suaminya menahan amarah.
" Apa ini berkaitan dengan kecelakaan putra dan menantu kita?" tanya istrinya
" Ya, aku pergi dengan Hendrik." ucap suaminya yang tidak bisa berbohong dengan istrinya.
" Siapa dia?" tanya istrinya dengan tatapan tajam hatinya juga dipenuhi amarah karena telah berani menyakiti putra dan menantu kesayangan.
" Saat ini baru aku baru tahu pelayan, aku pergi dulu." pamit suaminya sambil mengecup kening istrinya.
" Pergilah dad, berikan dia hukuman yang sangat menyakitkan." Ucap istrinya
" Baik mommy." Jawab suaminya
Suaminya pergi meninggalkan istri, putra sulungnya, ke tiga cucunya dan Maria.
" Jaga putra kita dan sekali - kali lihat kondisi menantu kesayangan kita. Aku sudah menyuruh Hendrik agar dua bodyguard menjaga menantu kesayangan kita. Kabarin daddy kalau ada apa-apa." ucap suaminya sambil melanjutkan langkahnya.
" Baik daddy, hati - hati." Ucap istrinya.
Suaminya hanya menganggukkan kepalanya kemudian menutup pintu kamar perawatan VVIP. Opa berjalan diikuti oleh paman Hendrik keluar dari rumah sakit menuju markas.
Tidak semua orang tahu bahwa Axelo Alexander William adalah mantan ketua mafia sedangkan penerusnya adalah putra pertamanya Paulinus Alexander William sedangkan putra ke duanya tidak mau terlibat dengan dunia mafia.
Singkat cerita kini mereka sudah sampai di markas. tuan besar Axelo atau daddynya Paulinus berjalan dengan gagah penuh kharisma dan matanya yang tajam penuh aura kemarahan membuat para anak buahnya bergedik ngeri. Paman Hendrik dengan setia mengikuti tuan besar Axelo hingga mereka berhenti di ruang penyiksaan.
Tuan besar Axelo menatap tajam ke arah pelayan yang sudah babak belur dipukuli oleh anak buahnya.
" Sudah siapa tahu pelakunya?" tanya tuan besar Axelo dengan nada dingin
" Dia tidak mau mengaku tuan." ucap bodyguard.
" Walau kamu seorang perempuan aku tidak perduli karena kamu telah berani mengusik keluargaku." ucap tuan besar Axelo dengan nada dingin sambil menatap tajam.
xxxxxxx
Ayo donk vote, like, hadiah dan komentar agar author semangat menulisnya. Novel ini ikut lomba anak genius tolong banyakin hadiahnya ya.🥰🥰🥰
Terima kasih atas vote, like, hadiah dan komentarnya 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1