
" Dia teman sekolahku dulu dan aku menyukai wanita itu. Karena aku mendapatkan pekerjaan yang pasti aku memberanikan diri untuk melamarnya tapi ke dua orang tuanya dan dia menghinaku habis - habissan." ucap Hendrik
" Apakah darling masih mencintainya?" tanya Maria
" Tidak, aku mengatakan ini semua karena aku tidak ingin ada kesalahan pahaman di antara kita karena aku ingin jika kita memulai sesuatu hubungan harus saling mempercayai." Ucap Hendrik dengan nada tegas.
" Aku mempercayaimu darling yang pasti jika darling tidak menginginkan aku lagi aku akan pergi dari kehidupan darling untuk selamanya." ucap Maria
" Tidak darling aku laki - laki bodoh jika aku melepaskan dirimu karena aku sangat mencintaimu darling." Ucap Hendrik dengan tulus.
" Terima kasih darling." Ucap Maria
" Sama - sama darling. Darling, kini darling sudah tahu masalaluku apakah darling tidak malu menikah denganku? pria dari keluarga yang sangat miskin ini?" tanya Hendrik sambil menatap arah depan tapi pikirannya sangat takut jika dirinya harus menerima rasa kecewa untuk ke dua kalinya terlebih rasa cintanya lebih dalam pada Maria dari pada dengan Veni.
" Kenapa mesti malu darling? aku mencintai darling apa adanya bukan ada apanya." Ucap Maria sambil menggenggam tangan kiri Hendrik agar Hendrik semakin yakin dengan dirinya.
cup
Hendrik mengecup punggung tangan Maria, hatinya sangat bahagia mendengar ucapan Maria.
" Terima kasih darling." Ucap Hendrik
" Sama - sama darling." Ucap Maria sambil tersenyum bahagia.
" Dari aku kelas satu SD hidup mandiri mencuci piring dan membersihkan rumah hingga aku kelas empat SD aku mulai belajar memasak karena ke dua orang tuaku sibuk bekerja karena itulah kenapa di apartemen milikku selalu bersih dan ada bahan untuk memasak." Ucap Hendrik menjelaskan.
" Maafkan aku darling karena aku tidak tahu." Jawab Maria tidak enak hati karena sempat mencurigai kekasihnya.
" Tidak apa - apa darling yang penting kamu sudah tahu masalaluku. Bagaimana dengan kehidupan keluarga mu?" tanya Hendrik
" Seperti pada umumnya orang tuaku memberikan kasih sayang penuh padaku dan memberi kebebasan berteman dengan siapa saja asalkan jangan sampai salah melangkah." Ucap Maria menjelaskan.
" Bagaimana dengan kekasih?" Tanya Hendrik
" Orang tuaku memberikan kebebasan padaku asalkan setia, tidak ringan tangan, sayang dan tanggung jawab." Ucap Maria
Hendrik menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
" Kak Hendrik bisa berhenti di depan dekat jembatan." Pinta Maria
" Mau apa?" Tanya Hendrik dengan nada bingung
__ADS_1
" Nanti kak Hendrik akan tahu." Ucap Maria sambil tersenyum.
Hendrik menghentikan mobilnya dan berhenti pas di depan dekat jembatan. Maria membuka pintu kemudian menutup pintu mobil diikuti oleh Hendrik.
Maria membuka pintu mobil belakang pengemudi kemudian mengambil roti yang tadi dibelinya di supermarket.
" Darling tolong bantu membawakan semua roti." pinta Maria sambil membawa beberapa bungkusan plastik.
" Ok. Jawab Hendrik singkat walau hatinya bingung untuk apa semua roti itu dikeluarkan.
Setelah selesai Hendrik mengunci pintu mobil dan berjalan berdampingan dengan Maria.
" Darling di ujung dekat jembatan banyak pengemis dan gelandangan kita akan ke sana." Ucap Maria
" Ok." Jawab Hendrik singkat.
Hendrik memeluk Maria dari arah samping untuk menyebrang jalan kemudian mereka berjalan sesuai arah yang ditunjuk oleh Maria.
" Hallo kakak cantik, hallo kakak tampan." Sapa para pengemis dan para gelandangan serempak
" Hallo adik - adik semuanya, ini kakak bawakan roti buat kalian." Ucap Maria sambil tersenyum kemudian mulai membagi - bagikan roti.
Hendrik yang melihat Maria membagi - bagikan roti ikut juga membagi - bagikan roti ke mereka. Roti tadi awalnya berat ketika di bawa kini bertambah ringan karena hanya tertinggal beberapa kantong plastik. Para pengemis dan para gelandangan setelah menerima roti mengucapkan terima kasih ke Hendrik dan Maria kemudian pergi meninggalkan mereka.
" Ok, mereka sepertinya mengenal dirimu?sejak kapan darling melakukan ini?" tanya Hendrik penasaran sambil menerima beberapa kantong plastik pemberian Maria.
" Sebelum aku pergi ke negara A aku dan Paulina sebulan sekali ke sini membagi - bagi makanan ke mereka. Kemudian aku pergi ke negara A bersama Paulina enam tahun kemudian kembali ke negara ini lagi besoknya aku langsung pergi ke sini untuk membagi - bagikan makanan karena itulah beberapa dari mereka mengenalku." Ucap Maria menjelaskan.
" Pantas saja, kamu memang sungguh wanita yang sangat berbeda." Puji Hendrik
" Terima kasih atas pujiannya." Ucap Mariw sambil tersenyum.
Maria mengambil amplop berwarna putih di dalam tasnya kemudian.mengetuk pintu dan tidak berapa lama pintu langsung terbuka.
ceklek
Seorang wanita paruh baya membuka pintu sambil tersenyum. Maria memberikan amplop ke wanita paruh baya kemudian mengambil enam roti dari kantong plastik yang di pegang Hendrik untuk diberikan ke wanita paruh baya itu. Begitu seterusnya hingga roti yang berada di kantong plastik habis tidak bersisa.
" Sekarang kita kembali ke mobil." Ucap Maria sambil menggenggam tangan Hendrik.
" Ok." Jawab Hendrik singkat sambil membalas genggaman tangan Maria.
__ADS_1
Mereka berjalan dengan santai sambil mengobrol. Ketika mereka menyebrang jalan raya mata elang Hendrik melihat ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi mengarah ke mereka berdua.
" Lari, ada mobil ingin menabrak kita!!" teriak Hendrik sambil menggendong Maria kemudian berlari dengan cepat.
Maria sangat terkejut dan langsung mengalungkan ke dua tangannya ke leher Hendrik agar dirinya tidak terjatuh. Hendrik dan Maria jatuh terguling - guling membuat ke dua tangan dan ke dua kakinya lecet.
Mobil itupun langsung mengemudi dengan kecepatan tinggi seperti sebelumnya karena bagaimanapun dirinya ingin selamat dari amukan para warga. Membiarkan Maria dan Hendrik terluka karena ulah dirinya.
" Darling tidak apa?" tanya Hendrik dengan nada kuatir sambil membantu Maria berdiri
" Tidak hanya tangan dan kakiku terasa perih. Darling bagaimana ada yang terluka?" Tanya Maria dengan nada kuatir sambil berusaha berdiri dengan bantuan Hendrik karena ke dua tangan dan ke dua kakinya tergores aspal.
Beberapa warga yang berada di daerah itu mendatangi Maria dan Hendrik.
" Tuan dan nona tidak apa - apa?" tanya salah satu warga
" Tidak apa - apa, terima kasih." Jawab Hendrik
Hendrik membantu Maria berjalan ke arah mobil untuk di bawa ke rumah sakit. Singkat cerita kini mereka sudah sampai di rumah sakit di mana Paulina masih di rawat di ruang ICU.
" Suster tolong cek calon istriku." pinta Hendrik di ruang UGD.
" Baik tuan." Jawab perawat itu.
Perawat itupun membersihkan luka Maria setelah bersih barulah Maria di obati. Ke dua lutut kaki dan ke dua sikut Maria di perban.
" Suster tolong kekasihku juga di obati." Pinta Maria
" Tidak usah darling aku tidak apa-apa." Tolak Hendrik.
" Tidak ada tapi - tapian, suster tolong periksa kekasihku." Ucap Maria sambil menatap tajam ke arah Hendrik.
Hendrik yang mendapatkan tatapan tajam kekasihnya hanya bisa pasrah karena bagi Hendrik luka lecet adalah luka yang sangat kecil karena ada yang lebih parah dari luka kecil ini.
Hendrik berbaring di ranjang sebelah Maria untuk diobati. Setelah beberapa lama akhirnya selesai sudah. Hendrik turun dari ranjang dan berjalan mendekati ranjang kekasihnya. Maria berusaha turun tapi ke dua lututnya masih terasa perih membuat Maria menarik kembali ke dua kakinya.
" Suster rawat kekasihku di ruang perawatan." Perintah Hendrik
" Darling ini hanya luka kecil." ucap Maria
" Benar tuan sebentar lagi juga bisa berjalan dengan normal." ucap perawat.
__ADS_1
Hendrik menatap tajam ke arah perawat membuat perawat itu menelan salivanya dengan kasar.
" Maaf nona, nona harus di rawat di ruang perawatan." ucap perawat itu.