
" Seperti ini rasanya diperhatikan dan dikuatirkan oleh seorang wanita." ucap paman. Hendrik sambil tersenyum mengingat wajah cemas Maria melihat lengan paman Hendrik tertembak.
Setengah jam lamanya akhirnya Maria sudah membawa nampan yang berisi pisau, lilin, air hangat dan baskom kecil sesuai apa yang di minta oleh paman Hendrik.
" Kak Hendrik, ini yang tadi kak Hendrik pinta." Ucap Maria
" Tolong semuanya diletakkan di lantai." Ucap paman Hendrik
" Baik." Jawab Maria singkat.
Maria berlutut untuk menaruh semua barang - barang ke lantai kemudian berdiri kembali.
" Apalagi kak?" tanya Maria
" Tolong bantu aku turunkan aku ke lantai." Mohon paman Hendrik.
" Baik kak." Jawab Maria
Maria memeluk paman Hendrik dari arah samping. Bau harum tubuh Maria membuat adik kecil paman Hendrik perlahan menunjukkan reaksi.
( " *Aduh si*l kenapa adik kecilku jadi tegang." omel paman Hendrik dalam hati* ).
Jantung paman Hendrik berdetak kencang dan di tambah adik kecil milik paman Hendrik membuat dirinya frustasi.
" Hati - hati kak." Ucap Maria sambil menurunkan tubuh paman Hendrik secara perlahan.
" Maria." Panggil paman Hendrik setelah ke duanya duduk di lantai.
Maria langsung memalingkan wajahnya membuat bibirnya bersentuhan dengan bibir paman Hendrik. Mereka saling menatap tanpa bicara dan ke dua bibir mereka hanya menempel membuat ke dua jantung mereka berdetak lebih kencang.
cup
Paman Hendrik mengecup bibir Maria singkat karena tidak ada perlawanan paman Hendrik melu**t bibir Maria setelah agak lama paman Hendrik menghentikan ciumannya karena Maria menepuk perlahan paman Hendrik karena kekurangan pasokan oksigen.
" Manis." ucap paman Hendrik sambil menjilati bibirnya.
" Ciuman pertamaku." pekik Maria
" Sama donk, itu juga ciuman pertamaku." Jawab paman Hendrik dengan nada santai.
bugh
akhhhhh
Maria yang kesal dengan apa yang dilakukan oleh paman Hendrik memukul lengan paman Hendrik yang terkena luka tembak membuat paman Hendrik berteriak kesakitan.
" Maaf kak, tidak sengaja." Ucap Maria dengan wajah memerah karena merasa bersalah apa yang tadi dilakukan.
__ADS_1
" Sudahlah lupakan, tolong nyalakan lilin itu." pinta paman Hendrik
Maria menyalakan lilin tersebut dan di dekatkan ke arah paman Hendrik. Paman Hendrik memegang pisau dan diarahkan ke lilin yang menyala.
" Kak Hendrik lebih baik kita ke dokter untuk mengambil peluru di dalam lengan kak Hendrik." pinta Maria dengan nada kuatir.
" Aku tidak suka kalau pergi ke dokter." ucap paman Hendrik.
" Kak Hendrik aku ke bawah ya mau membuatkan bubur buat kak Hendrik." ucap Maria karena dirinya sungguh tidak tega melihat pisau itu nanti mengorek peluru di lengan kak Hendrik sambil membawa nampan.
" Ok." Jawab paman Hendrik singkat.
Maria langsung buru - buru keluar karena dirinya tidak sanggup untuk melihatnya. Maria mendengar suara teriakan paman Hendrik membuat dirinya menangis karena tidak bisa melakukan apa - apa.
Maria langsung menuruni anak tangga menuju dapur untuk memasak bubur.
" Untung ada beras dan bahan - bahan dapur lengkap jadi aku bisa membuat bubur." Ucap Maria sambil meracik bumbunya.
Maria mendengar kembali teriakan paman Hendrik membuat dirinya menangis kembali entah kenapa hatinya sangat sakit mendengar teriakan kesakitan paman Hendrik.
Setelah hampir setengah jam bubur ayam sudah jadi. Maria membawanya mangkok yang berisi bubur ayam dengan menggunakan nampan.
Maria menaiki anak tangga menuju kamar paman Hendrik dengan jantung berdebar-debar.
ceklek
" Kak Hendrik, aku bantu membersihkan luka kak Hendrik." ucap Maria sambil duduk kemudian membersihkan lukanya.
Paman Hendrik hanya mengangguk lemah dan membiarkan Maria membersihkan lukanya.
" Kak Hendrik apakah ada kotak obat?" tanya Maria.
" Ada di laci." Ucap Paman Hendrik.
Maria langsung berdiri dan berjalan ke arah laci dan mengambil kotak obat.
" Aku perban lengan kakak." Ucap Maria
Sekali lagi paman Hendrik menganggukkan kepalanya kemudian dengan hati - hati Maria mulai memperban terkadang paman Hendrik meringis menahan rasa sakit.
" Maaf pasti sakit." ucap Maria sambil meniup
" Kenapa kamu menangis?" tanya paman Hendrik melihat Maria menangis dan matanya membengkak.
" Aku tidak tega mendengar teriakan kak Hendrik dan juga melihat luka kak Kak Hendrik." Jawab Maria.
Paman Hendrik hanya tersenyum bahagia karena Maria memperhatikan dirinya.
__ADS_1
" Sudah selesai aku bantu membaringkan kak Hendrik ya?" ucap Maria.
Paman Hendrik lagi - lagi menganggukkan kepalanya tanda setuju walau dirinya rasanya ingin tertawa bahagia karena yang terluka kan lengannya bukan kakinya jadi otomatis dia bisa berjalan seperti biasanya tapi karena mendapatkan perhatian khusus dari Maria membuat paman Hendrik membiarkannya.
Apalagi paman Hendrik bisa berdekatan dengan Maria dan mencium bau harum tubuh Maria karena itulah dirinya membiarkan apa yang akan dilakukan oleh Maria atas dirinya. Paman Hendrik duduk bersandar di kepala ranjang kemudian Maria menyelimuti tubuh paman Hendrik sampai ke perutnya.
Setelah selesai Maria membereskan semua peralatannya dan menaruhnya di tempat semula. Lima belas menit kemudian Maria sudah selesai membereskannya. Maria duduk di pinggir ranjang dekat paman Hendrik.
" Kak Hendrik makan bubur dulu ya?" ucap Maria sambil mengambil mangkok di meja.
" Kak Hendrik aku suapin ya?" tawar Maria
" Aku tidak mau ngerepotin dirimu." Ucap paman Hendrik
" Akh tidak ngerepotin kok kak, mulutnya buka kak?" pinta Maria sambil menyendokkan bubur kemudian diarahkan ke mulut paman Hendrik.
Paman Hendrik membuka mulutnya, Maria memasukkan buburnya ke dalam mulut paman Hendrik dengan telaten hingga tidak terasa bubur ayamnya habis. Maria meletakkan kembali mangkoknya kemudian memberikan minum ke mulut paman Hendrik.
Paman Hendrik meminum hingga airnya habis. Maria membawa kembali mangkok yang sudah kosong ke dapur meninggalkan paman Hendrik sendiri. Sepuluh menit kemudian Maria sudah kembali ke kamar paman Hendrik.
" Kak Hendrik mau tidur?" tanya Maria
Kak Hendrik hanya menganggukkan kepalanya, Maria langsung membantu kak Hendrik untuk berbaring kemudian menyelimuti tubuh kak Hendrik sampai ke dada.
" Aku mohon temani aku tidur." mohon kak Hendrik
" Tapi aku tidak pernah tidur bareng laki - laki." tolak Maria secara halus.
" Aku tahu tapi aku hanya ingin kamu menemaniku tidur. Aku janji tidak akan berbuat macam-macam denganmu, kita hanya tidur saja tidak lebih." ucap kak Hendrik
" Baiklah." Jawab Maria singkat dan pasrah karena tidak tega menolaknya.
" Tapi aku mau mandi dulu tubuhku sangat lengket." Ucap Maria
" Ok." Jawab kak Hendrik penuh semangat.
" Kak bolehkah aku pinjam kemeja milik kak Hendrik karena aku tidak membawa pakaian?" tanya Maria
" Boleh, ambil saja di dalam lemari terserah yang mana." ucap paman Hendrik.
" Ok. Terima kasih kak." Jawab Maria sambil berjalan ke arah lemari.
Maria membuka pintu lemari dan mencari kemeja setelah menemukan Maria menunjukkan kemeja yang akan dipinjamkan dan kak Hendrik hanya mengangguk kepalanya. Maria menutup pintu lemari kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Dua puluh lima menit Maria sudah keluar dari kamar mandi.
glek
Paman Hendrik menelan salivanya melihat paha putih mulus milik Maria. Maria memutari ranjang milik kak Hendrik kemudian berbaring di samping ranjang. Maria tidur terlentang dan tidak membutuhkan waktu yang tidak lama dirinya sudah tertidur pulas karena dirinya sangat lelah.
__ADS_1
" Aduh kenapa mataku tidak bisa dipejamkan." gumam kak Hendrik.