
"Kepadamu aku bersujud, kepadamu aku meminta dan kepadamulah aku menyerahkan hidupku"
.
Fajar telah menyembunyikan wujudnya, berganti dengan senja yang mengganti posisinya. Memancarkan sinar yang mampu membuat mata takjub akan keindahan. Hembusan angin menerpa seakan memberikan salam kepada sang penerima. Setengah berbisik di dekat telinga 'Iklaskan saja' membuatku sadar akan sesuatu.
Namaku Azzahra Anastasya. Kelahiran Bandung, 19 Maret 2002. Kakakku bernama Fahmi Fadilah, ibuku bernama Mirna dan ayahku bernama Deni. Aku masih mengenyam bangku pendidikaan di SMA Garuda kelas 11.
Kupandangi setiap sudut ruangan masjid. Tempat dimana kisah dimulai berawal dengan senyuman diakhiri dengan perpisahan. Tempat yang jadi saksi sebuah kisah yang penuh keceriaan dan derai air mata, kini semua hanyalah kenangan saja. Begitu banyak keceriaan ada diruangan ini dan kini hampa tanpa kehadirannya.
"Zahra! " usapan lembut di bahu menyadarkan dari lamunan panjangku. Segera aku berbalik menatap penuh arti ke arahnya dibalas dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya itu.
Kak Bela, dia sudah aku anggap seperti kakak sendiri karna disaat terpuruk pun dia masih setia disampingku, memberikan semangat untuk terus meneruskan hidup. Dia juga kakak kandung dari orang yang pernah aku kagumi sebelumnya, tepatnya satu tahun yang lalu.
" Kak Bela, udah lama?" tanyaku sedikit malu, pasalnya di pergoki ketika aku sedang melamunkan hal yang tidak penting.
"Lumayan sih, kenapa tadi ?" tanyanya.
"Enggak kok," ujarku singkat.
"Masuk gih, udah waktunya solat" aku mengangguk, mengekori langkahnya menuju masjid.
Suara azan menggema seruan untuk menunaikan kewajiban bagi umat islam telah di lantunkan. Memanggil umatnya untuk segera melaksanakan ibadah menyembah sang maha kuasa meminta petunjuk jalan hidupnya. Suara iqomah mengirinya tanda waktu solat dilaksanakan.
Imam pun membimbing jamaah nya untuk melakukan kewajiban solat Mahrib. Bersujud kepada ALLAH meminta ampunan bagi segala dosa segala perbuatan yang menyalahi aturan. Aku menghayati setiap gerakan menyerahkan diri pada sang ilahi. Melebur dosa dosaku dengan menyebut namamu, selalu mendoakan kedua orang tuaku agar senantiasa tetap bersamaku.
Tap Tap Tap!
Suara langkah kaki menyeruak telinga memanggilku untuk mengetahui siapa pemilik langkah kaki itu. Ada sesuatu yang bergejolak di sana seperti perasaan yang sama seperti 1 tahun silam.
Aku segera menepis pemikiran aneh itu melanjutkan gerakan solat yang sempat terbengkalai akibat suara langkah kaki itu.
Assalamualaikum warahmatullah
Aku menolehkan kepala ke kanan sembari mengucapkan kata salam begitu pun sebaliknya. Menautkan kedua tangan memohon agar doa ku di kabulkan. Sambutan pertama dari tangan kanan kak Bela segera aku raih dan menciumnya singkat. Begitu pun dengan jama'ah yang lain saling menyalami setelah solat guna mempererat silahturahmi.
Pikiranku kembali muncul memaksaku berfikir keras untuk mengetahui pemiliknya. Aku menatap ke depan, laki laki berperawakan jangkung duduk bersila berlawanan arah denganku. Memakai baju koko putih lengkap dengan sarung kotak kota berwarna hitam dan peci yang bertengger manis di kepalanya.
Aku sedikit memiringkan kepala melihat jelas wajah aslinya. Posisi yang tidak mendukung membuatku sulit untuk melihatnya apalagi tertutup oleh jama'ah lainya. Dia sedikit memiringkan wajahnya kumis tipis dan alis tebal membuatku memperkirakan sesuatu.
Astagfirullah!
__ADS_1
Refleks aku memegang dadaku, jantungku berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya ketika dia berbalik menunjukkan wajahnya. Perasaanku berkecamuk antara bahagia atau sebaliknya pasalnya dia orang yang selama ini aku sebut dalam doa namun nyatanya tidak sesuai dengan realita.
Kak Syarif, sebutanku untuknya. Meski terkesan lancang menghubunginya duluan tapi itu yang terfikirkan olehku waktu itu. Dan sekarang aku sadar bahwa tidak ada gunanya, usahaku tidak pernah di balas. Jangankan di balas bertegur sapa saja tidak pernah.
Sekarang dia mengenyam pendidikan kuliah nya di Jogja, meski tidak tahu betul dimana tempatnya itu sudah memberiku sedikit penjelasan. Kabar itu juga samar samar aku dengarkan dari orang lain. Niat untuk bertanya langsung aku urungkan, karna percaya pasti tidak akan pernah dia balas. Pernah dulu waktu aku kirim pesan ke dia jawabnya satu bulan kemudian jadinya nyerah sampai sekarang.
"Zahra kamu kenapa?" aku menoleh ke sumber suara, menatap penuh tanya ke arahnya.
"Kenapa kakak nggak bilang kalau kak Syarif pulang hari ini?" tanyaku to the point.
"Kamu aja nggak tanya buat apa aku kasih tahu?" jawabnya.
"Bener juga sih lagian bukanya aku memutuskan untuk berhenti," ujarku menunduk.
"Kalau ambil keputusan jangan terburu buru nanti menyesal loh," kata kak Bela.
"Tapi ini udah sesuai bukti kak, kalau kak Syarif nggak punya perasaan apa apa ke Zahra," ujarku.
"Kan kita nggak tahu isi hati orang kedepanya ra, mungkin nanti perasaanya berubah," ujarnya.
"Mungkin. Tapi kak Bela nggak cerita kan ke kak Syarif? Jangan cerita apa apa ya kak," ucapku dengan nada memohon.
"Nggak kok, tenang aja," jawabnya. Aku menghembuskan nafas lega. " Tapi kakak nggak janji," imbuhnya. Aku mengernyitkan dahi.
"Kita nggak akan tahu hal apa yang akan terjadi di kemudian hari jadi untuk sekarang kakak nggak janji. Tapi insyallah kakak usahain ya," ujarnya tersenyum.
Lantunan surat Ar-Rahman membuatku berpaling dari percakapan hangatku dari kak Bela. Masih orang yang sama yang mengajariku membaca Al qur'an waktu kecil, kak Syarif. Satu persatu ayat dibacakan dengan hukum tajwid yang benar dengan bacaan yang nyaris sempurna. Makna dari surat Ar-Rahman ini memiliki banyak makna menjelaskan tentang bagaimana ciptaan tuhan tentang kesempurnaan alam semesta. Namun kerap kali kita mendustakan nikmat yang ia berikan dan tidak mensyukuri apa yang tuhan beri. Karna memiliki makna yang berarti tidak sedikit orang yang menjadikan surat Ar-Rahman menjadi mahar pernikahan mereka. Jadi berkhayal kapan akan dimahari surat Ar-Rahman, pikiranku terlalu panjang. Belum waktunya!
Surat Ar-Rahman telah usai di lantunkan. Subhanallah, aku kagum dengan ciptaanmu ya ALLAH.
Tegang itu yang kurasakan, bertatapan muka dengan jarak yang lumayan dekat membuat nafasku sedikit tersenggal. Tidak berani untuk menatap mata hazel miliknya. Hanya memilin ujung gamis sembari mengumpat dalam hati.
"Zahra gimana laporan administrasi keuangan anggota?" kak Bela memulai pembicaraan.
"Baik" ucapnku sedikit gugup.
"Baik gimana orang belum di lihat " suara bariton itu menyapaku, aku mendongak menatap ragu ke arahnya.
Benar juga apa yang dia katakan. Aku belum melihat data data secara jelas hanya menyimpulkan secara sepihak. Dengan segera aku mengambil dokumen yang berada di sebelahku namun susah aku temukan.
"Kamu cari ini ra?" Imron memberikan berkas itu. Dia adalah salah satu anggota yang bertugas mengawasi administrasi keuangan sama seperti aku dan kak Bela. Aku membuka berkas itu membacanya secara seksama.
__ADS_1
"Sejauh ini pengeluaran kita normal kak, pemasukan kita bulan ini juga meningkat. Jadi minggu depan kita bisa mengadakan penyuluhan sesuai dengan rancangan yang diajukan," kataku.
"Sudah di pastikan kalau tidak ada kelebihan dana?" kak Syarif menatapku membuat nyaliku ciut.
"Sudah kak, semua sudah di data. Mulai dari tempat, konsumsi, dan juga hal hal lainya sudah di rinci sedemikian rupa. Insyaallah, tidak ada dana tambahan" aku menatapnya dia pun mengangguk.
"Apa boleh aku meminjam uang anggota?" pertanyaan itu sukses membuat aku menoleh begitu juga kak Bela dan kak Syarif.
"Buat apa Imron?" tanyaku.
"Aku butuh sekali," ujarnya. Bisa kulihat raut kesedihanya namun aku tidak mengerti apa sebabnya.
"Maaf Imron, bukanya menolak tapi dana sudah di gunakan untuk acara minggu depan dan kegiatan lainya. Kalau secara pribadi aku bisa meminjaminya," ucap kak Bela.
Wajah Imron berubah menjadi memerah, tanganya mengepal di samping badan membuatku sedikit bergidik ngeri. Entah apa yang terjadi namun aku harap tidak terjadi hal yang buruk.
Malam mulai larut bulan saja sudah hampir mencapai titik tengahnya. Udara malam seakan menusuk ke celah pori pori tubuhku. Melipat mukena dan memasukkanya ke dalam tas dan mengambilnya. Namun baru selangkah menuju pintu gerakanku terhenti melihat kak Syarif yang sedang membaca Al qur'an dengan khusyuk. Betapa beruntungnya wanita yang mendapatkanya kelak pasti dia mampu membimbing pendamping hidupnya sampai ke Janah.
"Kok nggak bilang mau nungguin aku?" tanyaku. Melihat Laila yang berdiri di samping pintu sembari memegangi ponselnya.
"Lagian tadi di kode kode nggak peka," ujarnya singkat.
"Hehe, maklum,"kataku menggaruk tengkuk yang tidak gatal. Laila hanya mencebikkan bibir pasti merajuk ini.
"Harapan kamu agak tinggi ra, apa bisa terwujud?" ujarnya. Aku mengangguk mengetahui kemana arah pembicaraan Laila.
"Maka dari itu karna terlalu tinggi dan mungkin nggak akan pernah terwujud, aku memutuskan untuk berhenti. Dia baik, soleh, murah hati mungkin tidak pantas jika bersanding denganku yang penuh kekurangan ini," ujarku.
Uhuk!Uhuk!
Refleks aku menoleh ke kanan. Mulutku sedikit menganga tak percaya pada apa yang ada dihadapanku sekarang. Laila juga melakukan hal yang sama pasti terkejut melihat kak Syarif sudah berdiri di ambang pintu. Apa mungkin dia mendengar semua pembicaraanku yang jelas jelas membicarakan dia?
Ya tuhan aku malu!
Aku menatapnya datar mulutku kian menutup tidak ada pembicaraan hanya ada tatapan kosong. Ekspresinya yang datar membuatku bersikap seperti dia bersikap. Tanpa aba aba dia melangkah pergi menuju masjid. Meninggalkan aku yang mematung di depan pintu.
"Apa mungkin tadi kak Syarif mendengar obrolan kita?" tanya Laila dengan nada berbisik.
"Dia mendengarnya atau tidak percuma saja. Dia kan tidak peka orangnya," ujarku santai. Dan melangkah pergi meninggalkan Laila.
" Ra tunggu!" Laila menyamai langkahku.
__ADS_1
Memang hari ini kali pertama aku melihatnya setelah 2 bulan lamanya. Tidak istimewa lagi kehadiranya karna aku memutuskan untuk berhenti mengaguminya. Meski sempat terlintas di benakku untuk memulai kembali kisah yang belum pernah terjadi.