
"Semoga kebahagiaan melekat padaku dan kesedihan menghilang dari hidupku"
.
Memang sakit bila di benci seseorang. Tapi aku salah membenci seseorang karena telah menyakitiku? Rasa sakit itu terus terasa apalagi jika saat ini aku di hadapkan langsung olehnya tanpa ragu aku akan pergi tanpa kata. Jangankan bertemu bertatap muka saja aku enggan.
Aku hanya menatap jengah jendela kamar, sesekali menggeliat kesana kemari mencari posisi ternyaman. Bukannya apa-apa perasaan bersalah terus menyelimutiku. Sudah genap 3 hari aku tidak saling beradu ucapan dengan Hamzah dia diam dan aku hanya merutuki diriku sendiri.
Hari ini pun aku tidak masuk kuliah rasanya susah harus meninggalkan ranjang. Lelah bila hadus meminta maaf namun tidak di pedulikan. Dulu ada yang membenciku berkepanjangan apa sekarang Hamzah akan melakukan hal yang sama?
"Dek diluar ada tamu, temuin gih."
Aku menoleh ke sumber suara, lesu bila harus menjawab pertanyaan kak Fahmi tapi tumben hari ini kak Fahmi rapi.
"Aku lagi nggak enak badan kak, "ujarku.
"Nggak usah alasan pokoknya kakak tunggu disini."
Dengan langkah lesu aku berjalan ke kamar mandi membersihkan diri.
Memakai baju berwarna biru laut di bawah lutut dengan celana longgar berbahan satin berwarna biru dongker dengan hijab senada memoles sedikit make up untuk menutupi wajah pucatku. Senyuman terbit di bibirku melihat wajah yang kini tampak bahagia meski menutupi luka.
" Aduh cantiknya adik kakak, "ujar kak Fahmi menoel pipiku, aku geram tidak tahu kalau adiknya ini sedang sariawan.
"Yaudah kita turun ya semuanya udah nungguin tuh, tapi sebelum itu tutup mata dulu, "ujar kak Fahmi.
"Tutup mata? Buat apa? "tanyaku.
"Udah deh nurut saja."
Kak Fahmi mengaitkan kain hitam ke mataku, membuat pandanganku memburam.
Dia memegang pundakku memberi arah kemana kaki ini harus melangkah. Memang sedikit susah untuk berjalan apalagi dengan mata tertutup seperti itu. Otakku berfikir keras sebenarnya apa yang terjadi dengan hari ini. Semuanya terasa aneh.
Menuruni anak tangga satu persatu meski hampir tergelincir namun segera ditangkap oleh kak Fahmi. Setelah dirasa menuruni anak tangga terakhir, permukaan sudah datar bisa dipastikan aku sudah berada di lantai bawah. Kak Fahmi menghentikan langkahku.
"Sekarang buka matamu."
Kak Fahmi melepaskan kain hitam dari mataku. Aku mengerjap beberapa kali menormalkan pandanganku.
"Selamat ulang tahun Zahra! "
Seketika tubuhku menegang, haru melihat pemandangan indah di depanku semua orang telah datang memenuhi ruang keluargaku.
Aku beralih menatap laki laki yang berada di barisan paling depan membawa sebuah kue tart yang berukuran besar. Tidak ada raut kebencian di wajahnya hanya ada senyum yang selalu menghiasi wajah tampanya. Aku jadi curiga apa semua ini hanya rekayasa?
"Selamat ulang tahun ya sayang, semoga tambah baik, tambah pinter, brrbakti pada orang tua dan tentunya bisa menggapai cita cita kamu, "ujar mama di sampingku mengecuk puncuk kepalaku dan memelukku.
"Makasih ya ma, "ujarku membalas pelukanya.
"Ini kado dari papa meski tidak seberapa kamu terima ya. Tapi jangan dibuka sekarang, " ujar papa. Aku antusias menerima dan mengucapkan terimakasih.
"Maafin kakak juga ya dek udah cuekin kamu beberapa hari ini, ya demi kelancaran rencana, " ujarnya cengengesan. Aku hanya cemberut.
"Selamat ulang tahun Zahra semoga panjang umur, sehat selalu, berbakti pada orang tua. Kurangin bucin nya jangan cengeng jadi wanita yang kuat jangan mudah menyerah. Maaf ya aku udah bersikap buruk sama kamu ya ngikutin rencana sih, " ujarnya menyerahkan kue ulang tahun kepadaku, aku menatap tajam ke arahnya.
"Makasih, kamu jahat Zah udah bohongin aku kayak gitu. Aku kesel! " ujarku memukul pelan dada bidangnya itu.
"Maafin ra aku juga nggak bakalan kayak gini kalau nggak ngikutin kemaunya kakak kamu. "
Gerakanku terhenti dan menatap tajam ke arah kak Fahmi dia hanya cengengesan. Sudahlah aku akan memberikan pembalasan nanti.
Aku melangkah menuju meja yang sudah dihiasi sedemikian rupa. Meletakkan kue ulang tahun dan memohon sebuah doa diiringi dengan lagu selamat ulang tahun. Potongan pertama aku berikan ke bunda, potongan ke dua aku berikan ke ayah, potongan ke tiga aku berikan kepada kak Fahmi yang menjengkelkan itu, dan potongan ke empat ...
Aku memandang ke arah Hamzah dia tersenyum, tidak-tidak! Ada yang lebih membutuhkan. Aku mengedarkan pandangan mencari keberadaan orang itu apa dia tidak datang ke acara ulang tahunku?
Dia berada di barisan belakang aku menghampirinya melewati kerumunan melangkah menuju ke arahnya. Dia sedikit bingung kenapa aku mendekatinya, tapi ini cara terbaik untuk membalas kebaikanya.
"Makasih ya udah datang, ini sebagai ucapan terimakasih karna kamu telah menolongku hari itu. "Aku menyodorkan kue ke arahnya dengan senang hati dia menerima.
"Terimakasih,"ujarnya aku tersenyum.
Acara dilanjutkan setelah potong kue dilanjutkan dengan beberapa game dan juga melakukan dansa. Dengan alunan musik klasik menambah suasana menjadi lebih romantis.
Aku duduk di salah satu kursi menikmati makanan penutup yang penuh kenikmatan ini. Hamzah mendekat menduduki kursi yang sama namun berbeda arah.
"Ceritanya masih ngambek nih?"tanyanya.
"Enggak, "ujarku singkat.
Aku beranjak dari kursi melihat semua tamu menikmati pesta kecil kecilan ini. Aku melihat seseorang yang duduk sendirian tidak ada teman sama sekali mungkin temanya sibuk berdansa dengan yang lain.
"Hey, sendirian aja. "
"Iya."
"kenapa nggak ikutan dansa? "
"Nggak minat. "
"Makasih ya bantuanya hari itu."
"Tidak masalah. Lain kali kalau ada masalah selesaikan baik-baik jangan mengambil keputusan tergesa gesa."
"Akan aku ingat nasihatnya, hubungan kamu dengan Siska?
"Biasa biasa saja, " ucap Hafids.
"Cepat ambil keputusanmu jangan digantungin, Siska rela lo nolak cowok yang nembak dia demi kamu, " ujarku.
"Siapa? "
"Kak Fahmi, " Matanya membulat tak percaya sedangkan aku biasa saja.
"Kak Fahmi? Jadi kak Fahmi juga suka sama Siska? " Suaranya seperti kaleng pecah membuat semua orang menoleh kearah kami.
"Ngomongnya jangan kenceng-kenceng bisa denger nanti, "lirihku.
__ADS_1
"Heheh, maaf. "
"Yaudah aku tinggal dulu ya " Aku melangkah pergi dari meja itu.
Sepanjang jalan Hamzah hanya memandangiku, memang aku tidak mau berbicara saat ini. Cuma balas dendam aja lagian nge prank segala kan sebel.
"Mau dansa?"
Uluran tangan membuatku mendongak ingin sekali aku membalas uluran tangannya namun egoku menghalanginya.
"Dansa aja sendiri," ujarku melangkah pergi.
Aku menghampiri kak Fahmi yang duduk termenung di meja. Melihat sendu kearah Hafids dan Siska yang berdansa berdua sedangkan dia hanya sendirian.
"Kak dansa mau?"
"Oke dek."
Aku dan kak Fahmi berdansa berdua, sesekali melirik Hamzah yang menggerutu kesal. Biarkan dia merasakan rasanya di cuekin.
Acara dansa selesai aku menghampiri teman-temanku di meja makan termasuk Siska. Merangkul erat dengan penuh senyuman.
"Makasih ya kejutannya aku suka," ujarku.
"Sama-sama. Btw selama ulang tahun ya ra, moga cepet jadian sama Hamzah," Nara terkekeh.
"Jadian? Nggk mau ah."
"Loh kenapa? Ide ulang tahun ini juga dari Hamzah loh. "
"Aku kesel aja sama dia, masa aku di bohongin kayak gitu."
"Kan demi kelancaran rencana ra. Ya wajarlah."
Meski sedikit kesal tetap saja mereka merencanakan ulang tahunku sedemikian rupa. Aku lupa hari sampai tidak mengira hari ini usiaku genap menginjak 19 tahun. Perasaan haru itu timbul lagi mengingat bagaimana mereka membohongiku dengan acting nya yang bagus.
Aku memandangi setiap sudut ruangan. Semua di hias dengan sangat cantik. Balon-balon memenuhi lantai, rangkaian bunga juga terpasang di setiap sudut. Aku hampir tidak percaya apakah ini mimpi atau nyata.
"Zahra selamat ulang tahun ya, semoga kedepannya menjadi lebih baik."
Tante Desi menghampiriku spontan aku memeluknya erat.
"Makasih ya tante," ujarku.
"Nih, kado buat kamu."
Tante Desi menyerakan box hitam kepadaku. Dengan senang aku menerimannya.
"Mama Zahra, Ara juga punya kado sama mama."
Ara bergelahut manja di tanganku, aku mengangkat tubuhnya dan mendudukkanmya di pangkuanku.
"Makasih Ara,"ucapku.
"Papa jahat ma, masa Ara nggak boleh ketemu mama kemarin. Katanya mama lagi sibuk," ujar Ara.
Mungkin demi menjalankan aksinya Hamzah berbohong kepada Ara. Aku mencubit gemas pipinya mengecupnya pelan.
"Gitu ya?"
"Huum."
"Ara ayo makan jeli kesukaan Ara."
Tante Desi menjulurkan tangan langsung disambut segera oleh Ara.
"Zahra, tante kesana dulu ya."
Aku mengangguk menepikan bingkisan kado tersebut. Bahagia terus menyelimuti perasaanku melihat orang-orang telah bergerumul ria di ruang tamu. Hanya satu orang yang belum memberikan kado hari ini.
"Zahra."
Aku mendongak menatap sekilas wajahnya. Wajah yang selama ini aku rindukan keberadaannya. Yang sempat menghilang beberapa hari ini.
Aku beralih dari sofa, bagaimanapun aku masih kesal dengan sikapnya yang membohongiku. Namun tanganku segera di cekal olehnya.
"Tunggu, aku mau bicara," ucapnya.
Alhasil aku meburut dan mendudukan berat tubuhku di sofa begitupun dia. Wajahku cemberut bila masih berdekatan dengan dia.
"Masih marah nih?"
Aku meliriknya, dia menaikkan satu alisnya seraya mengerling nakal. Gimana nggak marah coba?
"Menurut kamu?" tukasku.
"Udah dong, kan cuma bohongan," jawabnya.
"Tetep aja sakit, triplek!" ketusku.
"Maafin aku ya, janji deh nggak bakalan gitu lagi. Emang mama nggak rindu sama papa?"
Pletak!
Satu jitakan keras tepat mengenai kepalanya. Dia meringis sedangkan aku tertawa keras telah membalas rasa kesalku.
"Aduh, sakit ra," ringis Hamzah.
"Biarin, emang aku istrimu manggilnya mama?" jawabku.
"Kan calon."
Blush, pipiku merona dengan sekali ucapan. Kenapa sih mudah luluh kalau di rayu?
"Kenapa pipi merah gitu?"
"Digigit nyamuk tadi," ucapku.
__ADS_1
"Ini kado dari aku di terima ya."
Hamzah menyerahkan kotak berukuran kecil berwarna moca kepadaku. Dengan antusias aku menerimanya.
"Makasih."
"Mana tangan kamu?"
"Buat apa?"
"Siniin."
Hamzah menarik tanganku, mengeluarkan benda di saku celananya. Mengaitkan benda itu dengan erat di pergelangan tanganku. Aku tersenyum simpul melihat perhatian Hamzah kali ini.
"Makasih. Kenapa kamu kasih aku gelang?"
"Biar kamu selalu inget sama aku," jawabnya.
Meski gelangnya tidak seberapa aku bahagia mendapat darinya. Hamzah tersenyum ke arahku, pipiku merona entah kenapa aku sangat senang hari ini.
"Kesana yuk," ajaknya.
"Kemana?"
Tanpa menjawab Hamzah menarik tanganku. Di ruang tengah semua orang telah duduk dengan santainya sedangkan aku masih berada di genggaman Hamzah. Aku malu ketika semua memandagku aneh.
Aku memposisikan duduk disebelah kak Fahmi berada dalaam posisi depan. Kak Fahmi menyenggol bahuku, aku heran dengan semua orang yang berubah menjadi aneh.
Hamzah menyita pandanganku, dia duduk di kursi sembari memegangi gitar di tangannya. Mengambil mic untuk di letakkan di sebelahnya.
"Perhatian untuk semuanya, sebelumnya maaf menyita waktu kalian. Saya disini meminta maaf atas sikap saya yang tidak menyenangkan kepada Zahra tempo hari. Ini saya lakukan demi membuat acara ini berhasil. Dan untuk Zahra, selamat ulang tahun semoga kedepannya bisa menjadi lebih baik."
Teriakan dari orang di belakangku membuatku malu, apalagi di pandangi Hamzah dengan seperti itu.
"Untuk menebus rasa bersalah saya, saya akan menyanyikan satu lagu untuk Zahra," ungkap Hzah.
Aku tersipu malu, sedangkan semua orang telah meneriaki namaku.
'Bila nanti saatnya tlah tiba'
Baru satu baris lirik saja sudah membuat geger satu kampung. Rona merah di pipi tidak bisa lagi aku sembunyikan. Menggigit bibir bawah dan menunduk, padahal dalam hati ingin menjerit.
'Kuingin kau menjadi istriku'
Penuh penekanan di kata terakhir membuat insan di belakangku semakin ricuh.
"Cie ... Zahra baper nih."
"Romantis banget."
"Ceritanya Hamzah melamar Zahra nih?"
"Pengen gitu juga deh."
Kurang lebih seperti itu teriakan dari mereka. Aku hanya menoleh sekilas tidak kuat berlama-lama terus di sanjung.
'Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian ke sana kemari dan tertawa'
Aku menghayati setiap lirik lagu, entah akan jadi kenyataan atau tidak aku tidak mengharapkan lebih.
"Huwa ... Kapan papa halalin mama."
Suara tangisan Ara menganggu Hamzah yang ingin melanjutkan lagu. Aku menoleh, Ara tengah menangis dan berusaha di tenangkan namun dia terus saja menangis.
Aku menepuk jidatku sendiri, kali ini Ara menggagalkan acara romantisan. Sementara yang lain tengah cekikian, mungkin mendengar sebutan mama dan papa dari Ara.
Gagal sudah acara, Hamzah segera beranjak dari kursi dan menggendong Ara mencoba untuk menenangkannya.
"Huwa ... Kapan papa nikah sama mama? Ara pengen tidur sama mama sama papa huwa ...."
"Udah-udah Ara jangan nangis, nanti kita tidur bertiga sama mama."
Tidur palanya. Sah aja belum, aku hanya mencoba menahan malu dihadapan semua orang.
"Eh Hamzah, orang belum sah juga udah mau tidur bareng." Tante Desi mengerling nakal.
Sontak mengundang gelak tawa semua orang. Sedangkan aku hanya menunduk malu, dengan santai Hzah berkata seperti itu tanpa memikirkan nasibku.
"Mama sini," panggil Ara.
"Mama disini aja ya Ra," ucapku.
"Nggak! Mama pokoknya harus disini!"
Dengan pasrah aku mendekati Hzah dan Ara. Hamzah tersenyum simpul, sedangkan aku mengumpat dalam hati karena tengah di permalukan.
"Kakak ganteng, tolong fotoin dong."
Ara menunjuk kak Fahmi. Kak Fahmi mengerutkan dahi menunjuk dirinya sendiri. Ara mengangguk, kak Fahmi langsung mengambil handphone dan memotret kami bertiga.
"Aduh, udah kayak keluarga aja."
Bunda menatapku seraya tersenyum, aku hanya tersenyum kikuk menanggapinya.
Ara langsung turun dari gendongan menuju kearah kak Fahmi untuk melihat hasil foto tadi. Ara berjingkrak senang, Hamzah menyenggol bahuku tertawa lepas. Nggak tahu apa orang lagi malu juga.
Setelah penggagalan acara romantisan, kini semua sudah meninggalkan rumah. Begitu juga dengan Hamzah yang membuatku malu dan mati kutu.
Aku segera beranjak dari ruang tamu membawa semua kado kedalam kamar. Aku penasaran dengan kado yang diberikan Hamzah. Aku mengerutkan dahi, buku?
Ada selucuk surat yang terjatuh dalam boxs, dengan pelan aku membukanya.
Dear Zahra
Selamat ulang tahun Zahra maaf aku bikin kesel kamu kemarin. Aku ngasih buku ini buat kamu supaya kalau kamu lagi sedih, bisa nulis semua perasaan kamu di buku ini. Dan tolong, suatu saat jangan tinggalin aku meski aku pernah nyakitin kamu.
__ADS_1
Aku sedikit terharu membaca surat kecil dari Hamzah seolah dia tahu suatu saat aku akan pergi. Aku membuka kotak kecil di dalam boxs, ternyata sebuah liontin kecil namun sangat indah. Aku merebahkan diri menatap langit-langit kamar.
Tuhan, aku bahagia.