Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 12


__ADS_3

"Jika kamu takdirku tetaplah disini dan terus bersamaku"


.


Aku mengerjapkan mata silau dari teriknya matahari pagi memaksaku untuk bangun dari mimpi panjangku. Mimpi yang tak pernah aku harapkan tentang dia. Aku beranjak dari kasur hangatku, menyambar handuk di gantungan menyelonong masuk ke kamar mandi. Membersihkan tubuh dan pikiran ini yang terus mengingat namanya.


"Pagi Bund, " ucapku menyapa, segera aku menyeret kursi disampingku, mengambil sepotong roti yang sudah tertata rapi dipiring.


"Rencana mau kuliah dimana dek? "tanya kak Fahmi disela sarapanku.


"Belum kepikiran sih kak? "kataku.


"Bentar lagi kamu lulus loh, masa belum kepikiran kuliah dimana? "katanya.


"Iya sih, tinggal berapa menghitung hari," ujarku singkat.


"Kenapa nggak satu kampus aja sama Fahmi dek? Kan bisa sekalian berangkatnya," ujar ayah.


"Zahra pikir-pikir ya, Yah," ujarku.


Aku kembali menyantap roti dipiringku. Melahap habis tanpa menyisakan potongan roti sedikit pun.


Panasnya terik matahari membuatku sedikit kegerahan. Sinarnya langsung menerobos masuk menusuk kulit. Aku mengelap keringat bagaimana bisa aku kepanasan padahal sedang di dalam kelas.


Tidak terasa ujian nasional semakin dekat. Hatiku semakin mantap untuk terus belajar mengejar ketertinggalan. Meski sempat kewalahan tapi ini adalah salah satu cara menuju kesuksesan.


Materi materi sedikit demi sedikit masuk kepikiranku. Kali ini aku belajar lebih giat dari biasanya untuk mendapatkan nilai yang bagus. Karna menurutku tawaran kak Fahmi itu menarik jadi aku harus mengejar nilai tertinggi jika mau masuk univeraitas yang sedang kak Fahmi singgahi.


Guru dengan telaten mengajarkan bab per bab. Permasalahan hingga pemecahan soal ia jelaskan secara rinci bahkan nyaris bicaranya tanpa jeda membuat air liurnya terbang kemana-mana. Aku hanya kasihan pada teman yang duduk di barisan paling depan pasti basah menerima semprotan dari pak Bani.


"Tadi hampir aja sesak nafas gara-gara liat pak Bani ngajar," ucap Dara ngos ngosan.


"Pak Bani tuh ngebut ngejar materi yang masih banyak. Kan bentar lagi kita ujian," ujarku.


"Ra disuruh ke ruang kepsek tuh, " kata Ardi, ketua kelas.

__ADS_1


"Kenapa?"tanyaku.


"Nggak tau, disuruh cepet katanya," timpal Ardi.


Aku segera menuju ruang kepala sekolah yang Ardi maksud. Aku masih bingung kenapa aku dipanggil langsung oleh pak Joko, kepala sekolah. Perihalnya kalau dia memanggil muridnya berarti ada hal yang sangat penting ia bicarakan.


Tok Tok Tok!


Mengetuk pintu tiga kali namun belum ada sahuta dari dalam. Aku masuk keruangan itu pak Joko tengah berkutat dengan berkas berkas yang menumpuk pantas saja tidak dengar.


"Assalamualaikum pak," ujarku.


" Waalaikumsalam, eh Zahra sini duduk," titahnya.


" Ada apa bapak memanggil saya ?" tanyaku penasaran.


"Jadi gini tahun ini sekolah kita mengirimkan murid untuk mengikuti olimpiade matematika, jadi bapak mohon kamu bisa membantu murid dari SMA kita menjadi juara," kata pak Joko.


"Bukanya saya menolak tapi ilmu saya tidak setinggi itu pak," ujarku.


"Insyaallah pak, soalnya ujian saya semakin dekat. Tapi saya usahakan," ujarku.


"Kalau begitu tunggu disini ya, saya panggilkan muridnya dulu," ujar pak Joko.


Aku hanya menatap sekeliling ruangan kepsek. Beberapa minggu lagi aku tidak akan bisa melihat semua ini. Perpisahan sudah menungguku di sana. Kenangan-kenangan di sini akan aku abadikan dalam sebuah cerita. Tentang aku dan dia.


"Kak Zahra di sini juga?"


Aku menoleh ke arah pintu, Ahmad tengah berdiri sembari memegang buku. Dahiku berkerut seolah bertanya kenapa dia ada disini.


"Ahmad udah dateng, sini duduk ," titah pak Joko.


Ahmad duduk di sebelahku seraya tersenyum menatapku.


"Ahmad kamu akan di ajari sama kak Zahra. Jadi kamu belajar yang bener ya, biar bisa menangin lomba,"kata pak Joko.

__ADS_1


Aku hanya menghela nafas kasar, merutuki diri sendiri kenapa tadi harus mengiyakan ucapan pak Joko. Kalau begini tadi aku tidak akan menerimanya. Pak Joko meninggalkan ruangan menyisakan aku dan Ahmad.


"Kamu ikut lomba?" tanyaku.


"Iya kak, aku nggak nyangka bisa di ajarin sama kakak,"jawabnya.


"Sekarang buka buku kamu," titahku.


Aku mulai menjelaskan tentang pengalamanku berhadapan dengan soal-soal olimpiade tahun kemarin. Dia memperhatikan dengan seksama. Tidak kusangka ternyata selain suaranya merdu dia juga memiliki otak yang cerdas.


***


"Kak, aku mau kuliah di tempatnya kakak aja," ucapku.


"Boleh tu dek, sekalian kakak kenalin sama teman-teman kakak barangkali cocok," ucap kak Fahmi disertai kekehan kecil.


"Bisa aja, aku ke kamar ya mau belajar," ujarku.


Membuka pintu kamar mengambil buku dari meja belajar dan duduk di atas kasur. Mengingat ujianku tinggal menghitung hari aku harus segera mempersiapkan semuanya. Aku ingin nilai ujianku sempurna tanpa ada cela. Karna syarat masuk universitas sangat sulit aku mempersiapkannya mulai dari sekarang.


Lelah mataku memandang tulisan yang ada di buku. Semua materi telah aku baca namun sekitar sepuluh persen saja yang masuk ke dalam pikiranku. Aku menghela nafas kasar, bagaimana bisa masuk universitas kalau belajar saja malas.


"Rajin nya anak bunda. "


Aku mendongak menatap penuh sayang ke arah bunda yang membawa segelas susu dan sepotong roti. Meletakkan diatas nakas dan mengusap surai panjangku.


"Makasih, Bund," ujarku.


"Kamu belajar yang rajin ya biar nilai nya bagus," ucap bunda.


"Siap Bund!" kataku sembari menghormat ke arahnya dengan selamat 45.


"Yaudah, bunda pergi dulu ya. Jangan lupa susu nya di minum," kata bunda, aku mengangguk.


Aku menatap punggung bunda yang kian menjauh. Sebelum menutup pintu bunda tersenyum ke arahku. Aku bersyukur masih memiliki keluarga yang utuh dan menyayangiku apa adanya. Semoga kebahagiaan ini selalu bersamaku, ya ALLAH.

__ADS_1


__ADS_2