Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 2


__ADS_3

" Bisakah aku melihat senyuman itu meski aku selalu menggoreskan luka? "


Pov Syarif


Sinar matahari menerobos masuk ke celah jendela, membuat mataku spontan membuka. Udara esok hari begitu menyejukkan hati. Melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan solat subuh seperti biasa.


Aku menengadahkan tangan meminta ampunan atas dosa-dosa ku dan dosa kedua orang tuaku. Memohon kebahagian di dunia maupun di akhirat. Aku menangkupkan tanganku ke wajah mengaminkan permintaanku.


Ting!


Bunyi notifikasi muncul dari beranda ponselku. Senyumku mengembang ketika melihat nama 'Tasya' dari layar ponsel. Dengan segera aku membuka pesanya.


[Rif, bangun solat subuh!] aku hanya cengengesan melihat pesan darinya. Bawel tapi aku sayang.


[Iya bawel!] jawabku singkat. Dengan cepat tertulis tulisan mengetik di bawah nama.


[Udah bagus dibangunin, malah ngejek aku bawel lagi!] ujarnya lagi.


[Iya maafin, yaudah aku tutup yah] pesan terakhirku dan hanya di read olehnya. Pasti merajuk.


Aku hanya tersenyum ketika melihat Tasya sedang marah kepadaku.


Tasya Berliana, wanita yang berpemikiran dewasa yang aku kenal selama ini. Meski baru beberapa bulan tapi aku mulai merasakan nyaman. Bukan hanya sikapnya yang dewasa, tetapi juga sikapnya yang murah hati dan mampu memecahkan masalah dengan sekali melangkah, tanpa ada balas dendam atau yang lainya. Hal itu yang belum aku temukan dari wanita manapun, meski hanya sekedar teman aku ingin mengubah status itu menjadi ikatan pasti.


Aku menscrool pesan-pesan di aplikasi berwarna hijau milikku. Semua bertanya kapan aku kembali ke Jogja padahal kan baru 3 hari aku pulang, masih aja ditanyaain.


Sampai aku berhenti pada chat yang ada di urutan paling bawah 'Zahra'. Tanggal terakhir chat 28 Agustus 2018, satu tahun yang lalu. Aku membukanya pelan membaca dari chat pertamanya, entah dari mana ia mendapatkan nomor ponselku tiba tiba saja dia menchatku.


Aku tidak menyalahkan dia menggunakan salam di awal pembicaraan sebenarnya bagus, hanya saja aku merasa kalau dia bersikap seperti ini hanya kepadaku. Sering sekali dia menanyakan dimana sekolahku waktu aku masih mengenyam bangku SMA, padahal dia sudah tahu aku sekolah dimana.


Jarang aku membalas pesanya bahkan sampai satu bulan baru aku membalas pesan itu, tapi dia masih mau chat kembali. Lalu kuabaikan dan hanya jadi penambah chat di whatsapp ku.


Hamid, adik kandungku pernah memiliki perasaan kepada Zahra. Namun Zahra menolak perasaan itu dengan alasan yang menurutku tidak masuk akal. Menggunakan persahabatan sebagai alasan.


Meski sempat ditolak oleh Zahra tapi dia bersikeras berjuang untuk mendapatkanya. Tapi Zahra hanya biasa saja tidak sedikitpun membalas perbuatan Hamid.


Pernah sekali adikku itu putus asa, gelang yang semula ia berikan kini ia kubur dalam tanah. Ketika aku tanya kenapa jawabnya karna ingin melupakan Zahra. Tapi kenapa akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu yang berbeda, getaran-getaran aneh selalu menyelimuti tubuhku ketika berdekatan dengan dia. Sebenarnya apa yang terjadi?


Aku melanjutkan aktivitasku membantu mengurus rumah. Berhubung sekarang aku kuliah di jogja jadi hanya sebulan sekali aku pulang. Hanya sekedar melepas rindu pada keluargaku. Juga permintaan dari kakak bawelku itu, kak Bela.


"Syarif sini bentar, tolong kakak!" aku menutup telinga cepat. Ketika teriakan itu berbunyi mampu merusakkan apa saja berada di dekatnya. Segera aku bergegas menuju ke lokasi.


"Ada apa kak?"di ambang pintu kak Bela berkacak pinggang dengan wajahnya yang masam.


"Tolong bantuin aku angkat ini"ujarnya menunjuk kardus didepan pintu. Aku mengangkat box berukuran sedang menuju ke ruang tamu. Seperti sedang mengangkat batu di dalam kardus, berat!


"Apaan sih kak ini berat banget, "gerutuku.


"Batu kali! " aku membulatkan mata

__ADS_1


"Batu kali? Kenapa batu kali dibawa pulang? " ujarku memastikan.


"Ya kali batu kali beneran percaya aja" kak Bela mengerucutkan bibir, ditanya baik-baik malah jawabnya gitu. Untung sayang.


"Yasudah aku mau ke halaman cari angin"


Ujarku seraya meninggalkanya diruang tamu. Entah apa isi kotak itu kenapa berat sekali mungkin benar batu kali.


Duduk bersandar di kursi panjang depan rumah ditemani dengan secangkir kopi membuatku semangat. Menikmati udara yang membuat nafasku lega, menghirup dan menghembuskan nya ke udara. Sekilas mataku menangkap sesuatu yang sedang menggali tanah. Siapa?


"Dek, kamu ngapain? "tanyaku, Hamid menoleh ke arahku dengan tatapan sendu. Aku jadi iba melihat kondisinya.


"Nggak papa kak, "ujarnya, sambil menggaruk tanah.


"Nyari apa sih? Nanti kakak bantu, "ujarku. Sembari membantu dia menggaruk tanah dengan batang.


"Nyari gelang itu loh kak, " dahiku berkerut tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Hamid.


"Gelang apa? " tanyaku.


"Gelang yang pernah aku kasih ke Zahra" aku menghentikan gerakan tanganku, menatap sendu ke arahnya.


"Kenapa dicariin lagi? Kan udah dikubur? " tanyaku.


"Nggak papa, cuma pengen lihat aja, " ujarnya menunduk. Aku terharu sudah 1 tahun dia masih belum bisa melupakan Zahra.


Ia hanya mengangguk pelan. Aku memeluknya erat seolah enggan untuk melepasnya, meski Hamid banyak kekurangan apa tidak bisa Zahra merubah kekurangan itu menjadi kelebihan?


***


Sodakallahul Adzim.


Aku menutup Al qur'an kesayanganku meletakkanya di atas nakas dan beringsut mengambil ponsel yang sejak tadi berdering.


[Rif, kamu udah solat belum? Terusin baca Al qur'an nya dilanjutin dzikir pagi dan petang. Jangan lupa baca solawat nabi]


Pesan dari Tasya membuat senyumku mengembang. Beda dengan wanita biasanya yang menanyakan hal-hal biasa, seperti udah makan apa belom, lagi ngapain dan lain-lain. Tapi dia malah menanyakan tentang ibadahku, benar-benar idaman.


[Kamu nanyain solat mulu, emang nggak mau nanyain kabar aku?] balasku disertai emot malu. Namun terakhir dilihatnya sudah 10 menit yang lalu. Aku berangsur membalas chat lainya. Rupanya Tomi mengirimkan pesan yang sangat banyak.


[Rif, cepet balik!]


[Tugas kita udah numpuk!]


[Kos - kosan juga kotor!]


[Cepet balik!]


Aku tertawa renyah ketika melihat isi chat dari Tomi. Betapa tersiksanya dia aku tinggal sendirian di kos an. Salah sendiri di ajak pulang nggak mau.

__ADS_1


[Sabar napa, liburan kita masih panjang, Tom] balasku.


Hanya di read, benar benar membuatku kesal.


Ting!


Tasya membalas chatku dengan sigap aku langsung membukanya


[Kalau kamu masih bisa solat, berarti kamu baik baik saja. Jadi tidak perlu bertanya jika hanya omong kosong belaka] jawabnya. Aku tersenyum simpul melihat kedewasaanya itu.


[Beruang kecilku ini rupanya sudah dewasa ya?] balasku disertai emot tertawa. Pesanku langsung berubah menjadi biru tulisan mengetikpun mengikutinya.


[Apa katamu?! Beruang? Apa aku sebesar itu hingga kamu mengataiku beruang, hah?! Oke, mulai sekarang aku nggak mau bantuin kamu ngerjain tugas lagi, titik!] jawabnya. Nampaknya dia mulai kesal sedangkan aku tertawa lepas, rupanya beruangku ini bisa marah.


[Maafin lah, kan cuma bercanda. Kamu tuh bukan beruang tapi bidadari tak bersayap] balasku. Sebenarnya aku geli menggombali wanita seperti ini. Tidak ada balasan hanya emot malu yang ia kirimkan.


[Iya bidadari, tapi jatuhnya dari genteng. ] imbuhku di sertai emot tertawa. Dengan cepat dia mengetik.


[Syarif! Udah, ke masjid sana bentar lagi maghrib!] balasnya.


Bisa kupastikan dia sedang marah sekarang. Apa gombalanku keterlaluan?


*


Jalanan nampak sepi biasanya anak kecil akan berlarian di sore hari, namun sekarang tidak ada lagi. Entah karna aku terlalu sibuk dengan urusan kuliah hingga aku lupa pada tanah kelahiranku ini atau karna yang lain.


Perlahan aku membuka pintu masjid sedikit berimajinasi tentang masa lalu. Aku masih ingat betul bagaimana Zahra terjatuh karna terlilit mukena membuatku tertawa keras saat itu. Tanpa ada niatan membantu aku hanya memaku di tempat sembari memegangi perut yang sakit akibat tertawa. Matanya berembun mungkin sebentar lagi akan ada banjir air mata namun terhenti ketika kak Bela mengusap lembut bahunya, konyol sekali.


Aku melangkah mendekat ke arah rak meja, ilusi itu kembali lagi. Suara merdu Zahra ketika bersholawat mampu menghipnotis pendengaranku. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu memberikan rasa bahagia, ditambah dengan pembawaan yang begitu sempurna. Jangan lupakan lesung di kedua pipinya yang selalu terlihat ketika ia berbicara, dan gigi depanya yang lebih besar dari gigi lainya menambah kesan lucu.


Namun akhir-akhir ini kita jarang berkomunikasi, entah karna apa aku tidak tahu. Pernah aku dengar dari sepupunya jika Zahra selalu menceritakan aku kepadanya.


Apa dia menyukaiku?


Allahu akbar! Allahu akbar!


Aku melantunkan azan mahrib, dengan rasa syukur. Tuhan masih memberiku kesempatan untuk mengajak orang-orang beribadah.


Imam berujar kepada jama'ah nya untuk meluruskan barisan, dengan jelas ia memberikan pengarahan untuk merapatkan barisan. Membaca surat Al-Fatihah memulai gerakan solat.


Saling menyalami sudah menjadi hal utama setelah melaksanakan solat. Semua berhambur mencari tempat untuk bersandar begitu juga denganku.


Aku melihat wanita itu duduk bersandar di tembok pojok. Menggenggam tangan di atas lutut dan menjadikanya tumpuan. Diam merenung menatap ke depan tanpa menghiraukan tatapan dari orang. Tidak ada senyuman terlukis dibibirmya hanya ada raut kesedihan.


Entah apa yang difikirkan saat ini tapi kenapa aku juga merasakan kesedihanya? Bukankah ini yang kumau? Melihat kesedihannya agar merasakan di posisi adikku? Tapi kenapa hati dan egoku saling bertabrakan? Disisi lain aku bahagia melihat dia seperti itu disisi lain aku juga sedih melihat dia bersedih? Apa aku menyakitinya ?


Tersenyumlah aku butuh itu.


POV END

__ADS_1


__ADS_2