Tirai Kerinduan

Tirai Kerinduan
Episode 37


__ADS_3

Suara dentingan es batu memecah keheningan. Mengaduk-aduk tanpa henti es batu berbentuk balok itu. Sesekali menyesap rasa jeruk yang berasal dari minumanku.


"Gimana rasanya di lamar Hamzah, Ra?"


Gerakanku terhenti menatap sekilas wanita di sebelahku yang tak kalah menatapku.


"Sejak kapan aku di lamar?"


"Waktu ultah itu lo."


"Hamzah tuh cuma bercanda."


"Hamzah serius kok."


Bukan Siska yang menjawab melainkan sosok pria berbadan tegak dibelakang. aku memutar bola mata malas, dia segera menarik kursi dan duduk berdekatan denganmu.


"Eh, Hamzah jangan deket-deket belum sah."


Hamzah menghentikan gerakannya beralih menatap Siska.


"Nanti kalau udah sah boleh deket-deket dong."


"Jangankan deket, apapun boleh."


Aku memutar bola mata malas mendengar pembicaraan mereka. Bukan apa-apa hanya saja tengah membicarakanku di di depanku tanpa segan, kan kesel. Mereka terus saja berceloteh membicarakan soal pernikahan, padahal belum ada ikatan apa-apa.


"Udah bercandanya?"


Aku menatap kedua insan yang tengah berdebat itu dengan menopang dagu. Tidak ambil pusing dengan apa yang mereka bicarakan.


"Zahra minta langsung serius tuh Zah."


"Sabar ya, Ra. Tunggu kita lulus."


Ternyata malah semakin menjadi-jadi bicaranya. Aku menghembuskan nafas pelan karena aku tahu ini hanya sebuah candaan.


"Ekhem! Udah ada yang mau nikah nih?"


Pria beralis tebal segera menuju meja kami. Bersalaman dengan Hamzah dan menempati kursi di dekat Hamzah. Siapa lagi kalau bukan Reno.


"Apaan sih Ren."


"Btw, selamat ulang tahun ya, Ra. Maaf hari itu aku nggak bisa datang."


"Makasih, nggak papa kok," ucapku.


"Kamu gimana sis udah ada niat nikah belum?"


Siska menatap dalam mukanya di tekuk. Menggeser minumannya menyesapnya berulang kali membuat aku terheran-heran.


"Belum sih."


"Bukannya udah lengket sama Hafids?" tanya Reno.


"Iya, tapi kayaknya di nggak pernah serius." ucap Siska.


Aku mengusap bahu Siska memberikan semangat.


"Kan kita udah nggak ada kelas, gimana kalau kita ke toko buku katanya ada novel terbaru loh," ajak Hamzah.


"Boleh tuh, sekalian aku juga mau buku baru," ujarku.


"Gimana Sis?"


"Oke deh."


"Aku nggak di ajak nih?" Reno menatapku.


"Kalau mau sih."


Reno menyetujui ajakan. Kami berempat melesat dari kampus menghampiri toko buku yang berada di sebrang jalan. Untuk menghilangkan kejenuhan sekali-kali lah mampir toko buku.


Sesampainya disana aku langsung melesa tanpa menghiraukan mereka bertiga. Aku menyusuri semua rak buku, ternyata belum ada novel yang sama beberapa tahun lalu.


Aku menyandarkan kepala ke rak, menghembuskan nafas pelan harapanu untuk memiliki novel itu pupus sudah. Sudah berulang kali aku mengelilingi toko buku namun belum satupun aku menemui novel kesukaanku. Entah kenapa aku ingin melihatnya sekarang.


"Kamu cari ini?"

__ADS_1


Kepalaku langsung menyamping menatap pria yang membawa buku tebal dengan sampul kartun. Senyumku mengembang melihat novel itu ada di depan mataku.


Hamzah mendekat menurunkan novel itu. Senyumku mengembang rasanya ingin memeluk orang yang ada di hadapanku ini. Namun sayang, belum ada ikatan yang pasti.


"Makasih Hamzah."


Hamzah tersenyum memberikan novel itu kepadaku. Aku antusias membuka halaman novel itu, benar dugaanku novel ini begitu bagus. Aku bersyukur, memeluk erat novel impianku yang sudah berada di tanganku ini.


"Kamu cantik, Ra."


Netraku langsung bersibobok dengan mata teduhnya. Pria yang ada di hadaanku ini telah mencuri perhatianku, tepatnya perasaan yang sama kepada seseorang di masa laluku.


"Aku bersyukur masih bisa melhat senyum kamu, jangan pergi."


Nada bicaranya berubah menjadi sendu. Aku menatap dalam, bingung kenapa Hamzah berbicara seperti itu.


"Maksud kamu?"


Aku mengerutkan dahi, dia masih berekspresi datar menatapku.


"Ayo pulang, Siska sama Reno udah duluan tadi," ucapnya.


Aku mengangguk tanpa berniat menanyakan hal lebih. Mendengar dia yang merubah arah pembicaraan sudah menjelaskan ada hal yang di tutup-tutupi.


Hamzah mengambil motornyaa di kampus. Membelah jalanan kota, menembus angin siang. Cuaca sangat panas sampai keringat dingin membasahi tubuh. Memang baru jam 2 siang namun matahari masih sedikit meninggi.


Sepeda motor Hamzah menepi terususun rapi di parkiran. Berhenti di sebuah kedai bakso sama seperti yang kita kunjungi dulu. Hamzah menyuruhku masuk, aku pun mengekori lagkahnya dari belakng.


Sama seperti biasa memesan dua porsi bakso dan es teh menemani santainya makan siang. Pesanan telah siap, Hamzah hanya menambahkan saos saja tidak berani untuk menambahkan sambal yang berada di mangkok kecil.


Baru ingin satu suapan, dering ponsel Hamzah berdering. Entah telpon dari siapa ia segera menjauh dari meja. Ini kesempatanku untuk menjahilinya. Segera aku tambahkan dua sendok makan cabe yang ada di mangkuk dan mengaduknya rata.


Hamzah berbalik menduduki kursinya kembali. Aku melihat setiap pergerakan tidak sabar melihat ekspresi Hamzah yang kepedasan.


Satu suapan berhasil masuk ke mulutnya. Semula ekspresinya datar, namun sepersekian detik matanya melotot. Ia segera menaruh sendoknya meraih es teh yang berada di sampingnya, meneguk sampai tandas.


Suara cekikikan tidak bisa aku pendam, aku tertawa lepas. Dia merengut, tak cukup ia meminum minumanku yang belum sempat tersentuh. Niat untuk menjahili malah kena rugi.


"Hamzah kenapa kamu minum punyaku?"


"Kamu jahat, Ra! Udah tahu aku nggak betah sama yang namanya pedas, malah kamu isengin. Mana pedes banget lagi," ucapnya.


"Lagian kamu tuh lelaki harusnya berani dong sama cabe," tukasku.


"Ya tapi nggak sebanyak ini juga kali."


"Itu baru latihan."


"Kalau kamu jadi istri aku, udah aku hukum kamu karna ngisengin aku."


Netraku menatap lekat ke wajahnya. Aku nggak salah denger kan, istri?


"Hukuman apa nih?" tanyaku dengan nada menggoda.


"Nanti juga tahu."


Hamzah kembali mengibas-ibaskan tangannya. Sesekali bulir bening lolos dari pelupuk mata, keringat mulai bercucuran. Aku tertawa puas, emang enak di jahilin.


"Pak es tehnya satu lagi!"


Penjual bakso segera menyerahkan satu gelas besar es teh. Belum sempat di letakkan ke meja, Hamzah langsung merebutnya meminum sampai tandas.


Penjual bakso itu menggeleng, begitu juga denganku. Hamzah sudah habis tiga gelas es teh, padahal hanya dua sendok cabenya.


"Kamu tadi masukin cabe berapa sendok teh sih?"


"Dua sendok makan."


"Dua sendok makan?"


"Huum."


"Untung aku nggak pingsan. Tapi kalau pingsan di tolongin sama kamu nggak papa deh kalau pingsan."


"Ngarep aku tolongin, malahan langsung aku tinggalin."


"Jahat."

__ADS_1


"Biarin."


Hamzah terus mengerucutkan bibir, ingin rasa aku menampol bibir monyongnya itu.


Setelah dari warung bakso kami melanjutkan perjalanan lagi. Aku memegang ujung jaket Hamzah tersenyum melihat raut wajahnya yang kepedesan.


"Nggak mau meluk nih?"


Hamzah berbalik menatapku, aku mengerutkan dahi.


"Nanti aja kalau udah sah,"ucapku.


Hamzah melajukan motornya, suasana di sore hari semakin indah untuk di pandang. Sinar marahari redup, semburat orange tipis mulai terlihat. Suara bising kendaraan juga mulai berkurang.


Hanya ada keheningan, Hamzah fokus menyetir dan aku fokus pada khayalanku. Kapan lagi bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini. Senyumku sedikit mengembang, akhirnya setelah sekian lama aku bisa merasakan arti kebahagiaan yang selama ini aku pendam. Aku bersyukur, sosok Hamzah telah membantuku untuk melupakan masa lalu.


"Nanti kalau kita menikah, aku pengen punya rumah kayak gitu."


Jemari Hamzah menunjuk saah satu rumah di pinggir jalan yang sagat indah itu. Rumah minimalis namun berkesan sangat indah, chat yang tidak mencolok serta tata letak yang bagus membuatku juga ingin memiliki rumah impian. Tapi tinggu, menikah?


"Menikah? Kita masih kuliah Hamzah, masa udah mau mikirin nikah?"


"Kan rencana, Ra."


Suasana kembali sepi setelah melihat rumah minimalis itu tidak ada pembicaraan. Sebenarnya tidak masalah manusia untuk merencanakan sesuatu hanya saja kita perlu mengingat kepada sang pencipta yang maha mengabulkan permintaan.


"Kalau masa lalu kamu datang lagi ... kamu pilih aku atau masa lalu kamu?"


Aku sedikit memiringkan muka melihat Hamzah dari spion. Dia sedikit menoleh tersenyum kepadaku.


"Kamu lah."


"Sekatang aku tanya, kalau masa lalu kamu datang lagi kamu milih aku atau dia?" Hamzah menatapku datar.


"Kamu lah."


"Jawabannya sama 'kan?"


"Huum. Rasanya kalau kembali ke masa lalu nggak mungkin Zah."


"Kenapa?"


"Terlalu sakit untuk memulainya kembali."


Hamzah mengangguk, sedangkan aku kembali terfikir oleh kenangan masa lalu itu. Dia memang baik, maka dari itu tidak pantas bersanding denganku. Dia istimewa maka banyak yang mengejar cintanya, maka dari itu aku dihadapkan pada luka agar aku tahu bagaimana perbedaan antara aku dan dia.


Mesin motor dimatikan, pertandanya sudah berada tepat di depan rumahku.


"Tumben cemberut."


Hamzah tersenyum tipis sementara dagunya ia topang dengan satu tangan.


"Tumben nanya."


Aku melakukan hal yang sama sepertinya, menopang dagu dengan tangan tanpa mengalihkan pandangan.


"Tumben akur."


Suara ketiga membuat aku serempak menoleh ke belakang. Kak Fami tengah bersandar di pintu sembari memegang cemilan. Aku segera bangkit dari posisi dan beralih menatapnya.


"Aku pulang dulu ya, jangan lupa mimpiin aku," bisiknya.


"Ih, nggak mau," balasku.


Hamzah segera melajukan motornya tak lupa menyapa kak Fahmi yang berada di depan pintu. Sekejap langsung menghilang dari pandagan, aku berbalik menatap kak Fahmi yang masih di depan pintu.


"Kenapa nggak masuk?" tanyaku.


"Lagi liat pasangan yang lagi bahagia."


Aku mencebikkan bibir dan langsung meninggalkannya.


"Udah move on dek!" ucapnya berteriak.


"Bawel!"


Aku menaiki anak tangga tak mempedulikan ucapan kakak bawelku itu.

__ADS_1


__ADS_2